CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 8 | Nomor 2 | Desember . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Psychoeducation Self-Awareness melalui Aplikasi Digital Reconnect Untuk Mendukung Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Ainurizan Ridho Rahmatulloh1*. Luky Kurniawan2. Natri Sutanti3. Nur Sholehah Dian Saputri4. Cindy Okta Melinda5. Anggie Kurniawati6 Kata Kunci: Psychoeducation. Self-awareness. Reconnect. Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Keywords : Psychoeducation. Self-awareness. Reconnect. Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Corespondensi Author Psikologi. Universitas Mercu Buana Yogyakarta Yogyakarta Email: ainurizan. ridho@mercubuanayogya. Article History Received: 10-09-2025. Reviewed: 22-10-2025. Accepted: 25-11-2025. Available Online: 18-12-2025. Published: 28-12-2025. Abstrak. Banyak siswa belum memiliki kesadaran diri dalam menerapkan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, padahal hal ini penting bagi mereka. Sekolah lebih menekankan pencapaian akademik dibandingkan penguatan karakter. Kurangnya keterlibatan keluarga dalam pembentukan karakter, akibat kesibukan orang tua bekerja, turut memperlemah proses ini. Lingkungan dan teknologi dapat memberikan pengaruh negatif sekaligus positif terhadap siswa. Oleh karena itu pengabdian ini bertujuan untuk menggunakan aplikasi reconnect dalam bentuk psychoeducation self-awareness untuk pengembangan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Metode pelaksanaan pengabdian ini terdiri dari 5 tahapan yakni tahap koordinasi dan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi serta keberlanjutan Mitra dalam pengabdian ini adalah salah satu SMP di Kabupaten Sleman dengan jumlah peserta 54 Hasil pengabdian menunjukkan bahwa kegiatan telah memenuhi target yakni lebih dari 80% siswa memiliki skor post-test lebih dari 70. Bahkan rata-rata nilai dari 54 siswa yang mengikuti kegiatan juga termasuk sangat baik yakni 8,78 dan diharapkan pengabdian ini dapat dikembangkan pada topik yang sama atau yang lebih luas. Hal ini menunjukkan bahwa psikoeducation self-awaress melalui aplikasi Reconnect dapat mendukung program tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Abstract. Many students still lack self-awareness in implementing the seven habits of great Indonesian children, even though this is crucial for them. Schools emphasize academic achievement over character building. The lack of family involvement in character building, due to parents' busy work schedules, also weakens this process. The environment and technology can have both negative and positive influences on students. Therefore, this community service aimed to use the Reconnect application in the form of self-awareness psychoeducation to develop the seven habits of great Indonesian children. The implementation method of this community service consisted of five stages: coordination and socialization, training, technology application, mentoring and Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 evaluation, and program termination. The partner in this community service was a junior high school in Sleman City with 54 participants. The results of the community service program showed that the program met its target, with over 80% of students achieving a post-test score of over 70. The average score of the 54 students participating in the program was also excellent, at 8. It is hoped that this program can be expanded to include similar or broader This self-awareness psychoeducation through the Reconnect application can support the seven habits of great Indonesian children This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. @2025 by Author penguatan karakter seperti kemampuan selfawareness. Kedua, masih terbatasnya program maupun dukungan layanan bimbingan dan Ketiga, kurangnya keterlibatan keluarga dalam pembentukan karakter. Keempat, banyak siswa yang memiliki ponsel, namun penggunaannya belum diarahkan untuk hal-hal produktif atau mendidik, sehingga memperbesar risiko terhadap perilaku yang tidak konstruktif. Oleh karena itu, mitra pengabdian memerlukan intervensi permasalahan-permasalahan tersebut. Pemerintah Indonesia. Kementerian Pendidikan Dasar Menengah memilki strategi penguatan karakter sumber daya manusia unggul melalui Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Tujuh kebiasaan tersebut antara lain Bangun Pagi. Beribadah. Berolahraga. Makan Sehat Bergizi. Gemar Belajar. Bermasyarakat, dan Tidur Cepat (Pawestuti et , 2. Program ini bertujuan untuk meperkuat karakter bangsa melalui kebiasan sehari-hari. Meskipun Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat merupakan insiatif nasional, implementasinya di berbagai daerah masih menghadapi banyak tantangan. Berdasarkan penelitian kebiasaan dapat terbentuk dari faktor internal seperti selfawareness (Gardner et al. , 2. Self-awareness memiliki peran sentral dalam keberhasilan implementasi Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, karena kesadaran diri menjadi landasan bagi siswa untuk PENDAHULUAN Self-awareness atau kesadaran diri merupakan salah satu kompetensi penting dalam perkembangan sosial-emosional anak usia remaja, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, dalam Indonesia, pengembangan self-awareness masih sering terabaikan, sehingga membuat banyak siswa SMP memiliki self-awareness yang tergolong rendah (Anggraini & Putri, 2. Rendahnya self-awareness berdampak langsung pada berbagai aspek perkembangan remaja seperti kesulitan menciptakan identitas diri yang positif (Pfeifer & Berkman, 2. , kurang mampu dalam berperilaku social (Tendolkar et , 2. dan kesulitan dalam pengambilan keputusan (Riba & Goswami, 2. Situasi ini diperburuk oleh penggunaan teknologi digital yang intens pada generasi saat ini. Gadget menjadi hal yang akrab dalam kehidupan sehari-hari remaja, namun penggunaan yang tidak terarah dapat mengalihkan perhatian internal mereka dan berkontribusi pada menurunnya self-awareness (Herwana & Primanita, 2. Kondisi tersebut menegaskan perlunya intervensi pendidikan untuk menumbuhkan self-awareness sejak dini khusunya bagi siswa SMP, demi mencegah menurunnya kualitas generasi emas Indonesia. Berdasarkan wawancara dengan mitra pengabdian pada jenjang SMP, ditemukan beberapa permasalahan utama, antara lain: Rahmatulloh, et al. Psychoeducation Self-Awareness melalui Aplikasi. bermakna dan konsisten. Sedangkan faktor eksternal seperti dukungan sosial dapat membantu individu untuk memelihara perilaku yang sudah dibentuk (Hartatik et al. Interkasi antara faktor internal dan eksternal tersebut sangat diperlukan dalam membangun kebiasaan yang kuat. Namun, ekosistem sekolah yang cenderung fokus pada pencapaian akademik membuat siswa kesulitan dalam mengembangkan karakter dan kebiasaan baik. Hal ini semakin diperkuat dengan minimnya program pengembangan karakter dari guru BK. Selain itu, karakter siswa tidak hanya dibentuk di dalam sekolah, namun juga dari kebiasaan di rumah. Orang tua siswa yang mayoritas bekerja membuat mereka tidak memiliki waktu bersama anakanaknya, hal itu membuat siswa mencari pelarian dengan bermain gadget secara Gadget menjadi teknologi yang tidak bisa dipisahkan dengan para siswa. Minimnya aplikasi teknologi yang berbasis pembelajaran membuat Gadet menjadi sarana hiburan semata alih-alih menjadi sarana pengembangan diri. Penggunaan aplikasi mobile sebagai media psikoedukasi menghadirkan potensi besar dalam menjangkau remaja secara lebih personal, adaptif, dan berkelanjutan. Berbagai teori belajar dan perubahan perilaku menunjukkan bahwa remaja memerlukan pendekatan yang interaktif, mudah diakses dan relevan dengan kehidupan sehari-hari (Bress et al. , 2024. Hygsdal et al. , 2. Aplikasi reconnect merupakan mobile apps berbasis android yang dapat menjadi platform untuk memberikan intervensi dan edukasi pada penggunanya (Kurniawan et al. , 2. Penggunaan aplikasi berbasis Android menanamkan self-awareness dan penerapan Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat secara lebih menarik dan berkelanjutan. Selain itu, aplikasi reconnect telah terbukti mampu menjadi sarana intervensi dalam peningkatan literasi Kesehatan mental (Kurniawan et al. , 2. Penggunaan aplikasi berbasis android untuk edukasi pada remaja terbukti dapat meningkatkan motivasi untuk belajar (Kusuma et al. , 2. Selain itu, berbagai penelitian menunjukan penggunaan aplikasi android memiliki beberapa kelebihan dibandingkan edukasi pada umumnya, seperti siswa dapat belajar secara lebih fleksibel (Iskandar et al. , 2. , dapat mendukung prinsip experiential learning (Osorio & Aliazas, 2. dan lebih bisa mempertahankan retensi pengetahuan serta perubahan perilaku dibandingkan edukasi tatap muka tradisional (Linardon et al. , 2. Penggunaan aplikasi mobile untuk (Hygsdal et al. , 2025. Hugh-Jones et al. , 2022. Lu et al. , 2. , namun riset tentang intervensi self-awareness berbasis aplikasi mobile yang terintegrasi dengan Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat masih sangat terbatas. Melalui aplikasi ini, siswa diarahkan untuk mengenali diri, memahami potensi dan kelemahannya, serta membangun kebiasaan positif secara bertahap. Kemudian, melakukan upaya pendampingan pengembangan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat dengan psychoeducation self-awareness kepada siswa melalui pemanfaatan aplikasi reconnect. Selanjutnya, melakukan pelatihan dan pendampingan pemanfaatan aplikasi reconnect kepada siswa agar teknologi dapat digunakan dengan bijak dan positif. Dengan, demikian kombinasi antara penggunaan aplikasi reconnect dan proses pendampingan yang terarah diharapkan mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa SMP. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah agar siswa mampu menunjukkan peningkatan keterampilan self-awareness yang berkaitan dengan pemahaman dan penerapan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat melalui pemanfaatan inovasi teknologi digital berupa aplikasi Reconnect. Target post-test yang ditentukan adalah 80% siswa memiliki selfawareness dalam melakukan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat dengan minimal skor di atas 70 untuk post-test. Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa tidak hanya mengenali dirinya secara lebih mendalam tetapi juga mampu mengaitkan kesadaran diri tersebut sehari-hari mencerminkan kebiasaan positif. Penggunaan aplikasi digital sebagai media intervensi diharapkan dapat memfasilitasi proses belajar yang lebih menarik, reflektif, dan kontekstual, sehingga siswa lebih termotivasi untuk menginternalisasi nilai-nilai tujuh kebiasaan Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 inovasi teknologi digital aplikasi reconnect. Secara spesifik, siswa dikenalkan dengan aplikasi tersebut guna mengakses informasi mengembangkan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. METODE Desain pengabdian ini mengacu pada Participatory Action Research (PAR) yang mendokumentasikan, menafsirkan, serta mengatasi masalah sistemik yang kompleks (Cornish et al. , 2. PAR ini sangat sesuai digunakan dalam pengabdian ini karena fokus pada mitra yang mengalami langsung masalah sosial yang terlibat aktif dalam proses Pengabdian ini dilakukan secara kolaboratif sejak perencanaan tindakan. Adapun pelaksanaan pengabdian ini terbagi menjadi 5 Masing-masing tahapan dirumuskan dengan tujuan untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan. Adapun uraian tentang kegiatan pada masing-masing tahapan dijabarkan sebagai berikut: Tahap koordinasi dan sosialisasi Tahapan paling awal pada pengabdian ini adalah koordinasi dengan tim dan pihak Kegiatan ini dilakukan untuk menyusun rencana pelaksanaan kegiatan pengabdian secara internal dengan tim dan perumusan serta penandatanganan surat pernyataan kesediaan kerja sama yang disepakati kedua belah pihak. Hasil koordinasi kemudian ditindak lanjuti dengan sosialisasi rencana kegiatan yang dilakukan di sekolah kepada kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru bimbingan dan konseling, serta perwakilan Kegiatan dilaksanakan selama 8 bulan dengan penerapan teknologi yakni aplikasi reconnect dan pendampingan. Tahap pelatihan Tahapan penting selanjutnya adalah pelatihan dengan 54 siswa yang terbagi menjadi dua sesi. Bagian pertama ceramah dan diskusi bertujuan untuk menjawab permasalahan tentang siswa yang belum memiliki kesadaran diri yang memadai untuk menerapkan pola hidup sehat dan tanggung jawab sebagai pelajar. Kegiatan yang dilakukan berupa upaya peningkatan self-awareness atau kesadaran diri dalam mengembangkan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat melalui pemanfaatan Sementara bagian kedua demonstrasi dan diskusi bertujuan untuk memperbaiki fasilitas layanan bimbingan dan konseling di sekolah melalui pemanfaatan media digital yakni aplikasi reconnect. Selain mendapatkan panduan di sekolah siswa dapat secara mandiri mengakses aplikasi mengembangkan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Langkah yang ditempuh memberikan informasi pengenalan cara penggunaan aplikasi Pada tahapan ini dilakukan pelatihan penggunaan aplikasi dan pendampingan materi peningkatan selfawareness untuk pengembangan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Tahap penerapan teknologi Tahapan penerapan teknologi adalah saat dimana aplikasi reconnect digunakan oleh siswa untuk mengakses materi tentang bagaimana meningkatkan self-awareness untuk pengembangan tujuh kebiasaan anak Indonesia Adapun penerapan teknologi yang dilakukan yakni: tutorial pembuatan pada aplikasi . penggunaan berbagai fitur yang ada pada aplikasi reconnect untuk peningkatan self-awareness kepada siswa untuk internalisasi dan pengembangan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. refleksi secara mandiri berdasarkan materi yang disajikan pada aplikasi. Tahap pendampingan dan evaluasi Tahap selanjutnya adalah pendampingan yang dilakukan oleh tim pengabdi secara simultan kepada mitra selama penerapan inovasi teknologi aplikasi reconnect. Kegiatan pendampingan ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian siswa dalam pemanfaatan inovasi teknologi aplikasi support group reconnect. Guna membuktikan efektivitas dan saran perbaikan program maka dilakukan evaluasi yakni formatif berupa tes Rahmatulloh, et al. Psychoeducation Self-Awareness melalui Aplikasi. pemahaman tentang self-awareness untuk meningkatkan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat yang bersumber dari aplikasi Reconnect. Model yang digunakan adalah single post-test one group design dengan target capaian 80% siswa memiliki skor post-test lebih dari 70. Selain itu dilakukan dilakukan evaluasi sumatif bersama dengan tim monitoring internal LPPM UMBY untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan keberlajutan program. Tahap keberlanjutan program Tahapan akhir dalam pengabdian ini keberlanjutan program yang diberikan. Hal ini dilakukan dengan cara monitoring secara berkala aktivitas pengguna melalui firebase . atabase aplikas. khususnya memantau kegiatan secara mandiri melalui WhatsApp Group. (Kurniawan et al. , 2. Kegiatan yang akan dilaksanaan, dikoordinasikan kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru bimbingan dan konseling serta siswa berupa pelatihan, penerapan teknologi dan pendampingan. Pelatihan Tahap pelatihan diberikan kepada siswa dalam bimbingan lintas kelas dengan memanfaatkan aplikasi reconnect. Kegiatan berupaya meningkatkan self-awareness dalam mengembangkan tujuh kebiasaan anak Indonesia Kegiatan dilaksanakan pada Kamis, 16 September 2025 Ainurizan Ridho Rahmatullah. Luky Kurniawan. Natri Sutanti, dan Nur Sholehah Dian Saputri. Adapun detail kegiatan dan materi yang diberikan diuraikan sebagai berikut. Materi mengenal Diri: Siapa Aku. Pada mengenal diri, terdapat dua hal yang disampaikan oleh pemateri yaitu tentang pengenalan aplikasi digital Reconnect dan mengenal diri sendiri. Pada tahap awal, aplikasi dikenalkan secara umum berupa empat fitur utama yakni counseling videos, news & articles dan event (Kurniawan et al. Siswa dijelaskan fitur utama yang dapat mereka manfaatkan seperti fitur counseling sebagai media konseling online, fitur video untuk melihat video edukasi yang telah disesuaikan terkait selfawareness, fitur news & artikel yang berisi berita atau artikel yang berhubungan dengan self-awareness dan tujuh kebiasaan anak hebat Indonesia dan yang terakhir fitur event untuk melihat kegiatan yang akan dilaksanakan tim reconnect. Seperti terlihat pada gambar 1, pemateri mengajak siswa untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya yang merupakan bagian dari mengenal diri. Seorang yang mengenal dirinya merupakan seseorang yang memiliki resiliensi yang tinggi dan dapat mengelola stress dalam dirinya (Verhaeghen, 2. Dengan mengenali melakukan tujuh kebiasaan anak hebat Indonesia secara sadar. Sebagai penguat, fasilitator menunjukkan beberapa artikel dalam aplikasi digital reconnect agar dapat dibaca secara mandiri oleh siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian dilakukan dalam lima tahap pelaksanaan yaitu tahap koordinasi teknologi, pendampingan dan evaluasi serta keberlanjutan program. Kegiatan yang telah dilaksanakan pada tiap tahapan diuraikan sebagai berikut: Tahap Koordinasi dan Sosialisasi Pada tahap koordinasi dan sosialisasi, tim pengabdi melakukan kegiatan survei ke sekolah untuk melihat kebutuhan dan pelaksanaan program terkait tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat yang telah berlangsung. Tim Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan secara internal dan merumuskan kegiatan yang akan dilaksanakan pada delapan bulan berdasarkan target kegiatan. Selanjutnya, tim melaksanakan koordinasi dan sosialisasi dengan Kepala Sekolah dan tim guru. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal Kamis, 4 September 2025 dan menghasilkan nota kesepahaman yang dituangkan dalam surat pernyataan kesediaan kerjasama sebagai dasar dalam pelaksanaan pengabdian untuk siswa di SMP Muhammadiyah 2 Prambanan. Tim pengabdi memperkenalkan aplikasi digital reconnect yang merupakan produk yang dikembangkan melalui penelitian sebelumnya Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 Gambar 2. Materi strategi membangun selfawareness untuk mengaplikasikan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat Gambar 1. Materi pengenalan aplikasi dan mengenal diri Pada tahap ini, fasilitator memberikan contoh penerapan self-awareness dalam membentuk kebiasaan positif sesuai dengan nilai-nilai anak Indonesia hebat, salah satunya melalui kebiasaan bangun tidur. Siswa diajak untuk menyadari bahwa tubuh akan terasa lemas apabila terbiasa bangun siang. Selanjutnya, fasilitator memberikan beberapa contoh penerapan self-awareness, antara lain dengan tidak tidur terlalu malam agar dapat bangun dalam kondisi segar, serta memasang alarm dan menyadari bahwa kebiasaan menunda bangun dengan alasan Aulima menit lagiAy hanya akan menumbuhkan rasa malas. Penerapan kebiasaan tersebut memberikan dampak positif bagi siswa, yaitu meningkatkan semangat serta memungkinkan mereka memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan aktivitas yang produktif. Untuk lebih lanjut, fasilitator memberikan informasi lebih lanjut melalui fitur video dan articles yang ada dalam aplikasi digital reconnect. Tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Dalam sesi kedua, siswa diajak mengenal lebih dalam tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat dan dilanjutkan dengan materi strategi membangun self-awareness untuk mengaplikasikan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memilki strategi membangun siswa unggul melalui program tujuh kebiasaan anak Indonesia Tujuh kebiasaan tersebut antara lain bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2. Dalam penerapannya, tujuh Kebiasaan Anak Hebat Indonesia perlu didukung dengan peningkatan selfawareness atau kesadaran diri. Self-awareness mencakup dimensi kognitif . emahaman pikira. , afektif . esadaran emos. , dan evaluatif . enilaian dir. Peningkatan selfawareness berkontribusi pada pengambilan keputusan yang lebih baik, pengelolaan emosi, peningkatan hubungan, dan performa kerja yang lebih baik (Harley. London et al. , 2023. Westover. Westover, 2. Penerapan Teknologi. Tahap awal penerapan teknologi, difokuskan pada pemberian tutorial pengunduhan aplikasi dan pembuatan akun pada aplikasi digital reconnect kepada siswa. Selanjutnya, fasilitator mengenalkan beberapa fitur yang ada dalam reconnect sekaligus cara Hasil pengamatan menunjukkan 90% siswa telah berhasil membuat akun dengan pendampingan fasilitator. Beberapa siswa keterbatasan device yang dimiliki siswa. Selain itu beberapa device siswa terhubung Rahmatulloh, et al. Psychoeducation Self-Awareness melalui Aplikasi. dengan orang tua, sehingga memerlukan izin orang tua dalam proses instal. Tahap ini meningkatkan motivasi siswa dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai media pengembangan diri. Selanjutnya, siswa diajak memanfaatkan seluruh fitur dalam aplikasi reconnect. Siswa dapat menggunakan fitur counseling dengan memilih konselor yang diinginkan dan memulai melakukan percakapan dengan live chat. Selanjutnya, siswa diajak memanfaatkan fitur news & article untuk membaca artikel terkait tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Beberapa video yang mendukung seperti senam anak hebat Indonesia juga telah ada dalam aplikasi Siswa dapat mengakses seluruh fitur sebagai salah satu langkah untuk menerapkan kebiasaan anak Indonesia Pendampingan dan Evaluasi. Secara kepada mitra selama penerapan teknologi yaitu aplikasi reconnect. Sebanyak 54 siswa diarahkan untuk dapat memanfaatkan Pendampingan dilakukan pada rentang waktu September-Oktober 2025 secara langsung dan melalui grup whatsapp. Efektivitas kegiatan, diberikan evaluasi berupa post-test. Instrumen evaluasi yang digunakan bertujuan untuk mengukur pemahaman siswa terkait self-awareness dan penerapan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Instrumen yang digunakan adalah skala pengetahuan yang terdiri dari 10 butir soal pilihan ganda yang dikembangkan berdasarkan tiga indikator utama: . kesadaran diri dasar, . pemahaman konsep tujuh kebiasaan, dan . kemampuan refleksi sederhana. Validitas isi instrumen diperoleh melalui expert judgment oleh satu dosen psikologi dan satu dosen bimbingan konseling, untuk menilai kesesuaian butir dengan indikator teoretis. Berdasarkan penilaian tersebut dinyatakan seluruh butir layak Reliabilitas instrumen dikaji melalui analisis konsistensi internal pada tahap pengembangan butir. Evaluasi menunjukkan bahwa keseluruhan item memiliki stabilitas yang memadai antarindikator, sehingga instrumen dapat dinyatakan reliabel untuk digunakan dalam evaluasi hasil program. Rentang skor berada pada 1Ae10, dengan interpretasi: 1Ae3 kategori rendah, 4Ae6 sedang, dan 7Ae10 tinggi. Skor yang lebih tinggi mencerminkan tingkat pemahaman yang lebih baik terhadap materi Hasil evaluasi dianalisis dengan single posttest one group design dan menunjukkan bahwa rata-rata nilai post-test peserta adalah 8,78 seperti pada Tabel 1. Nilai rata-rata 78 menunjukkan bahwa secara umum tingkat kemampuan, pemahaman, atau perilaku yang diukur pada saat post-test masuk dalam kategori tinggi. Terdapat 81,48 % siswa yang memiliki nilai di atas target yakni skor post-test lebih dari 70. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian besar siswa memperoleh skor yang baik setelah mengikuti perlakuan atau intervensi yang diberikan serta target pengabdian ini tercapai. Sebaran nilai post-test menunjukkan kecenderungan yang kuat pada kategori tinggi, di mana sebagian besar siswa memperoleh skor antara 7 hingga 10. Hal ini psychoeducation melalui aplikasi Reconnect berhasil meningkatkan pemahaman mayoritas Standar deviasi sebesar 2,15 menunjukkan adanya variasi capaian antar Variasi ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, seperti keterbatasan perangkat yang menyebabkan beberapa siswa tidak dapat mengakses aplikasi secara optimal, variasi literasi digital siswa dan motivasi individu juga berkontribusi terhadap perbedaan hasil. Tabel 1. Hasil Single Post-test One Group Design Post_ Valid N . Minimum Maximum Mean Std. Deviat Selain itu, evaluasi dari kegiatan ini adalah desain single post-test one group memiliki pengukuran pra-intervensi maupun kelompok Dengan demikian, desain ini tidak dapat menilai perubahan secara langsung ataupun memastikan hubungan kausal antara Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 intervensi dan hasil yang diperoleh. Keterbatasan ini penting dipertimbangkan untuk studi lanjutan. Desain preAepost test akan memberikan gambaran yang lebih kuat terkait dampak intervensi. Sebagai upaya melengkapi evaluasi yang telah dilakukan tim pengabdi juga melakukan evaluasi sumatif bersama dengan tim monitoring internal. Monitoring dilaksanakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan keberlanjutan program yang telah dilaksanakan. UCAPAN TERIMAKASIH