Analisis Dampak Faktor Internal a. AA. Hidup M Sumbangan Sektor Pariwisata Terhadap Pendapatan Asli Daerah (Pa. Kabupaten Pacitan Hidup Marsudi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Atma Bhakti Surakarta e-mail: hidup. marsudi@stie-atmabhakti. Abstract Pacitan Regency is a small regency that has various tourism potentials in it, ranging from natural tourism to cultural tourism. This study aims to determine the effect of the number of tourist visits, the number of hotel rooms and the number of tourist attractions on the original regional income of the tourism sector of Pacitan Regency for the period 2019-2024. The object of this study is income in the tourism sector of Pacitan Regency. The data used in this study are secondary data taken from the Central Statistics Agency (BPS) and the Pacitan Regency Tourism Office. This study uses multiple linear regression data analysis. Based on the analysis that has been carried out, the results obtained show that together the three variables have a significant effect with the results of the Adjusted R square test of 90. 1% on the original regional income of the tourism sector, while the remaining 9. 9% is influenced by variables outside those studied. Partially, only the variable number of tourist visits shows a positive and significant effect on the original regional income of the tourism sector of Pacitan Regency, while the variables number of hotel rooms and number of tourist attractions have a positive but not significant effect on the original regional income of the tourism sector of Pacitan Regency. Keywords: Tourism. PDRB. Original Regional Income (ORI) PENDAHULUAN Pariwisata alam Pacitan, termasuk Pantai Klayar. Pantai Srau, dan Pantai Watu Karung, menarik wisatawan domestik dan asing. Retribusi dan pajak daerah dirancang untuk membantu pariwisata meningkatkan PAD. Namun, kontribusi sektor ini terhadap PAD belum ideal dan telah berubah-ubah selama beberapa tahun terakhir. Pemerintah daerah Pacitan mengharapkan pendapatan sebesar Rp12,55 miliar dari sektor pariwisata pada tahun 2023. Namun realisasi PAD hanya mencapai Rp9,6 miliar hingga akhir tahun, kurang Rp3,1 miliar. Dengan 1,5 juta wisatawan yang berkunjung pada tahun 2022, industri pariwisata dalam PAD menghasilkan pendapatan Rp11,2 miliar. Namun pada tahun 2023, jumlah wisatawan menurun sekitar 300. 000 menjadi 1,2 juta. Alasan utama tidak tercapainya target PAD industri pariwisata adalah penurunan jumlah kunjungan wisatawan. Jumlah kunjungan wisatawan ke Pacitan turun pada tahun 2023 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini berdampak langsung pada pendapatan yang dihasilkan dari retribusi pariwisata dan industri terkait. Meskipun demikian, jumlah wisatawan yang mengunjungi Pacitan selama liburan Tahun Baru 2024 meningkat, menunjukkan bahwa mungkin ada ruang untuk peningkatan pariwisata pada waktu-waktu tertentu. Pemerintah daerah Pacitan telah menetapkan target PAD sektor pariwisata sebesar Rp12,9 miliar pada tahun 2024. Namun, hingga semester I tahun 2024, realisasi PAD baru mencapai 38,48% dari target, yakni sebesar Rp4,96 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa capaian PAD sektor pariwisata masih jauh dari target. Pemerintah Kabupaten Pacitan melakukan penyesuaian target PAD sektor pariwisata tahun 2024 mengingat realisasinya yang belum maksimal. Target awal sebesar Rp12,9 miliar diturunkan menjadi Rp10 miliar. Perubahan target ini dilakukan dengan mempertimbangkan situasi dan prospek pariwisata Pacitan saat ini. Anggaran pemasaran yang kecil menjadi salah satu penyebab rendahnya kinerja pendapatan pariwisata. Anggaran promosi pariwisata Kabupaten Pacitan hanya sebesar Rp200 juta pada tahun 2024. Anggaran yang minim ini berdampak pada kurang efektifnya pemasaran dan promosi Pacitan sebagai destinasi wisata. Perlu dilakukan evaluasi dan perbaikan strategi agar kontribusi pariwisata terhadap PAD dapat ditingkatkan. Disparbudpora Pacitan berencana melakukan penilaian terhadap masing-masing destinasi wisata untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan atau penurunan jumlah pengunjung. Selain itu. Riset Manajemen Dan Akuntansi Volume 16 Nomor 2 November 2025 Analisis Dampak Faktor Internal a. AA. Hidup M konektivitas antar destinasi juga akan ditingkatkan agar semakin menarik minat Penyediaan infrastruktur dan fasilitas yang memadai menjadi kunci utama dalam meningkatkan retribusi sektor pariwisata. Fasilitas yang nyaman dan memadai akan meningkatkan kepuasan wisatawan dan mendorong mereka untuk mengunjungi destinasi wisata lebih lama. Hal ini akan berdampak positif pada peningkatan PAD dari sektor pariwisata. Meskipun tantangan dalam mencapai target PAD sektor pariwisata cukup besar. Pemkab Pacitan tetap optimistis. Dengan perbaikan strategi promosi, peningkatan fasilitas, dan evaluasi destinasi wisata, diharapkan kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD dapat meningkat. Keberhasilan ini akan mendukung pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Pacitan Tiga sumber penerimaan dari sector pariwisata yang menyumbang PAD diantaranya jumlah pengunjung, tingkat hunian dan jumlah kamar hotel serta banyakya jumlah obyek destinasi wisata, dari tiga sumber penerimaan tersebut masalah seberapa besar sumbangan masing-masing jumlah kunjungan wisatawan, jumlah kamar hotel, jumlah obyek wisata terhadap pendapatan asli daerah sektor pariwisata Kabupaten Pacitan? TINJAUAN PUSTAKA Sektor pariwisata memiliki peran strategis dalam perekonomian daerah, termasuk dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sektor pariwisata dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap PAD melalui berbagai saluran, seperti pajak hotel, restoran, retribusi objek wisata, dan sektor pendukung lainnya. Namun, kontribusi tersebut seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti jumlah wisatawan, kualitas fasilitas, dan efektivitas promosi. Pariwisata adalah kegiatan melakukan perjalanan dengan tujuan mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olah raga atau istirahat, menunaikan tugas, berziarah, dan lain-lain, bukanlah merupakan kegiatan yang baru saja dilakukan oleh manusia masa kini. Menurut definisi yang luas pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu. Seseorang dapat melakukan perjalanan dengan berbagai cara karena alasan yang berbeda-beda pula. Suatu perjalanan dianggap sebagai perjalanan wisata bila memenuhi tiga persyaratan yang diperlukan, yaitu : Harus bersifat sementara Harus bersifat sukarela . dalam arti tidak terjadi paksaan Tidak bekerja yang sifatnya menghasilkan upah ataupun bayaran KBBI. Pariwiata. Pelancongan. Turisme adalah kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan untuk rekreasi. Undang-undang no 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Pariwisata adalah "Berbagai macam kegiatan wisata dan didukung fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah dan Pariwisata adalah aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh sementara waktu dari tempat tinggal semula ke daerah tujuan dengan alasan bukan untuk menetap atau mencari nafkah melainkan hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu, menghabiskan waktu senggang atau libur serta tujuan-tujuan lainnya. Meyers . Pariwisata adalah fenomena kompleks yang melibatkan pergerakan orang dari tempat tinggal biasa ke tempat lain untuk tujuan selain menetap atau Definisi pariwisata bervariasi menurut berbagai ahli, mencakup aspek sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan. Secara umum, pariwisata dapat dipahami sebagai aktivitas perjalanan sementara yang dilakukan oleh individu atau kelompok ke luar tempat tinggal biasa, dengan tujuan untuk rekreasi, bisnis, atau tujuan lainnya. Aktivitas ini melibatkan interaksi antara wisatawan, masyarakat setempat, dan lingkungan, serta memiliki dampak sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan yang signifikan. Pariwisata itu sendiri merupakan industri jasa yang memiliki mekanisme pengaturan yang kompleks karena mencakup pengaturan pergerakan wisatawan dari daerah atau negara asal, ke daerah tujuan wisata, hingga kembali ke negara asalnya yang melibatkan berbagai komponen seperti biro perjalanan, pemandu wisata . , tour operator, akomodasi, restoran, artshop. Riset Manajemen Dan Akuntansi Volume 16 Nomor 2 November 2025 Analisis Dampak Faktor Internal a. AA. Hidup M money changer, transportasi dan yang lainnya. Pariwisata juga menawarkan jenis produk dan wisata yang beragam, mulai dari wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, wisata buatan, hingga beragam wisata minat khusus. Menurut Salah Wahab dalam bukunya AuTourism ManagementAy pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam penyediaan lapangan kerja, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktivitas lainnya. Selanjutnya sebagai sektor yang kompleks, ia juga meliputi industri-industri klasik yang sebenarnya seperti industri kerajinan tangan dan Penginapan dan transportasi secara ekonomis juga dipandang sebagai industri (Salah, 2. Menurut Spillane . , peranan pariwisata dalam pembangunan negara pada garis besarnya berintikan tiga segi, yaitu segi ekonomis . umber devisa, pajak-paja. , segi sosial . enciptaan lapangan kerj. , dan segi kebudayaan . emperkenalkan kebudayan kita kepada wisatawan-wisatawan asin. Para pakar ekonomi memperkirakan sektor pariwisata akan menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang penting pada abad ke-21. Dalam perekonomian suatu negara, bila dikembangkan secara berencana dan terpadu, peran sektor pariwisata akan melebihi sektor migas . inyak bumi dan gas ala. serta industri lainnya. Keberhasilan pengembangan sektor kepariwisataan, berarti akan meningkatkan perannya dalam penerimaan daerah, dimana kepariwisataan merupakan komponen utamanya dengan memperhatikan juga faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti: jumlah wisatawan yang berkunjung baik domestik maupun internasional, jumlah biro perjalanan dan jumlah hotel. Pariwisata dan pendapatan daerah merupakan dua variabel yang tidak dapat dipisahkan bagi Kabupaten Pacitan. Hal ini disebabkan karena pariwisata merupakan pendukung pendapatan ekonomi suatu daerah tersebut. Suatu daerah tentu tetap akan mendapatkan pendapatan dari sektor Namun disini hal yang berdampak besar terhadap pendapatan daerah ialah dari sektor Pasalnya Kabupaten Pacitan sendiri merupakan sebuah kota kecil yang tidak hanya kaya dengan limpahan hasil pertaniannya namun juga kaya akan tempat-tempat wisata yang cukup mampu mendongkrak perekonomian Kabupaten Pacitan. Dari beberapa tahun terakhir dan berkat kemajuan suatu teknologi serta antusiasme pemuda Pacitan dalam memajukan pariwisata dirasa sudah cukup membuat pariwata kabupaten Pacitan mengalami kemajuan. Baik dari jumlah wisatawan yang datang, lapangan pekerjaan dari berbagai sektor seperti akomodasi, restaurant dan lain-lain hingga dari pembangunan fasilitas di tempat wisata itu sendiri. Hal tersebut sudah cukup membuktikan bahwa sektor pariwisata memiliki peran penting dalam memajukan perekonomian daerah. Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang mendapat prioritas utama dalam rangka memperbaiki struktur ekonomi daerah serta dapat meningkatkan kemandirian dan daya saing, dengan demikian diharapkan mampu memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap PAD. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah penerimaan yang diperoleh oleh pemerintah daerah dari sumber-sumber yang berasal dari potensi daerah itu sendiri, bukan dari pemerintah pusat. PAD merupakan salah satu komponen penting dalam struktur keuangan daerah, karena digunakan untuk membiayai pelaksanaan otonomi daerah dan pembangunan di wilayah tersebut. Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, sumber PAD terdiri dari: Pajak Daerah Retribusi Daerah Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah PAD memiliki peran strategis dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan memastikan kemandirian daerah dalam pembiayaan urusan pemerintahannya. Dengan memiliki PAD yang cukup, daerah dapat mengurangi ketergantungan pada transfer dana dari pemerintah pusat, seperti Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Selain itu. PAD juga digunakan untuk membiayai pembangunan daerah, terutama dalam bidang infrastruktur, pelayanan publik, dan kesejahteraan masyarakat. Riset Manajemen Dan Akuntansi Volume 16 Nomor 2 November 2025 Analisis Dampak Faktor Internal a. AA. Hidup M Kerangka Pemikiran Teoritis Variabel-variabel yang digunakan dalam pemikiran penelitian AuAnalisis faktor Ae faktor yang mempengaruhi pendapatan daerah sektor pariwisata Kabupaten PacitanAy adalah antara lain variabel jumlah kunjungan wisatawan, variabel jumlah hunian hotel dan variabel jumlah obyek wisata yang dapat dijabarkan sebagai berikut: Jumlah Kunjungan Wisatawan Jumlah Kamar Hotel Jumlah Obyek Wisata Pendapatan Asli Daerah Sektor Pariwisata Hipotesis Ferry Pleanggra. Edy Yusuf A. G . Variable Jumlah Obyek Pariwisata (JO). Jumlah Wisatawan (JW), dan Pendapatan Perkapita (PP) berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat pendapatan retribusi obyek pariwisata, artinya peningkatan jumlah obyek pariwisata, jumlah wisatawan dan pendaptan perkapita akan menaikan tingkat pendapatan retribusi obyek Hipotesis dalam penelitian ini adalah: H1 Variabel Jumlah Kunjungan Wisatawan diduga memiliki hubungan positif dan pengaruh signifikan terhadap pendapatan daerah Kabupaten Pacitan Riska Arlina. Evi Yulia Purwanti . Hasil output regresi menunjukkan bahwa keempat variabel independen yaitu jumlah wisatawan, investasi di Industri Pariwisata. Kurs USD dan faktor keamanan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap penerimaan daerah dari industri pariwisata di Provinsi DKI Jakarta. Hipotesis dalam penelitian ini adalah H2 Variabel Jumlah Kamar Hotel diduga memiliki hubungan positif dan pengaruh signifikan terhadap pendapatan daerah Kabupaten Pacitan Femy Nadia Rahma. Herniwati Retno Handayani . Variabel jumlah kunjungan wisatawan (X. berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan sektor pariwisata Kabupaten Kudus (Y) Variabel jumlah obyek wisata (X. berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan sektor pariwisata Kabupaten Kudus (Y) Variabel Pendapatan Perkapita (X. berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan sektor pariwisata Kabupaten Kudus (Y) Hipotesis dalam penelitian ini adalah H3 Variabel Jumlah Obyek Wisata diduga memiliki hubungan positif dan pengaruh signifikan terhadap pendapatan daerah Kabupaten Pacitan. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan asosiatif, karena bertujuan untuk mengetahui hubungan dan pengaruh antara sektor pariwisata . ebagai variabel independe. terhadap Pendapatan Asli Daerah . ebagai variabel depende. Penelitian dilakukan di Kabupaten Pacitan. Provinsi Jawa Timur. Waktu penelitian diperkirakan antara FebruariAeJuli 2024, dengan pengumpulan data sekunder dari kurun waktu 2018Ae2023. Populasi: Seluruh data tahunan terkait sektor pariwisata dan PAD Kabupaten Pacitan dari lima tahun terakhir. Sampel: Data yang diperoleh dari Dinas Pariwisata. Bappeda, dan Badan Keuangan Daerah Kabupaten Pacitan . 9Ae2. , termasuk: o Jumlah wisatawan o Jumlah objek wisata o Jumlah hotel dan restoran o Jumlah retribusi pariwisata o Total PAD per tahun Jenis dan Sumber Data : Data Primer: Wawancara dengan pejabat Dinas Pariwisata atau Bappeda Pacitan . ika dilakuka. Data Sekunder: o Laporan realisasi PAD Kabupaten Pacitan o Statistik pariwisata daerah Riset Manajemen Dan Akuntansi Volume 16 Nomor 2 November 2025 Analisis Dampak Faktor Internal a. AA. Hidup M Data BPS Kabupaten Pacitan Dokumen APBD. RPJMD, dan Renstra Pariwisata Teknik Pengumpulan Data: Dokumentasi: Mengumpulkan laporan resmi dari instansi terkait (BPS. Dinas Pariwisata. BKD). Wawancara . : Mendalami strategi pemerintah daerah dalam mengelola sektor pariwisata. Teknik Analisis Data: Analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda . ika ada lebih dari satu variabel independe. , atau analisis regresi sederhana . ika hanya ada satu variabel independe. Langkah-langkah: A Uji asumsi klasik . ormalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, autokorelas. A Uji statistik . ji F, uji t, koefisien determinasi RA) A Interpretasi hasil Hasil Analisis dan Pembahasan Uji Asumsi Klasik Descriptives Descriptive Statistics Jumlah Kunjungan Wisatawan . Jumlah Kamar Hotel . Jumlah Obyek Wisata . Valid N . Minimum Maximum Mean Std. Deviation Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa variabel jumlah kunjungan wisatawan dengan jumlah data . sebanyak 17 mempunyai jumlah kunjungan wisatawan rata Aerata 6. 8451E5 dengan jumlah minimum 2. 45E5 dan maximum 1. 75E6, sedangkan standar deviasinya sebesar 92431E5. Variabel jumlah kamar hotel dengan data . 17 mempunyai rata-rata jumlah kamar hotel sebanyak 2. 8541E2 dengan minimum 200. 00 dan maximum 400. 00 dengan standar deviasi Dan variabel jumlah obyek wisata dengan jumlah data sebanyak 17 memiliki rata-rata 7059 dengan minimum 5. 00 dan maximum 16. 00 dengan standar deviasi 3. Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak. Dalam pembahasan ini akan digunakan uji one sample Kolmogorov Smirnov dengan menggunakan taraf signifikansi 0. 05, data dinyatakan berdistribusi normal jika signifikansi lebih besar dari 5% atau 0. NPar Tests One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parametersa Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Riset Manajemen Dan Akuntansi Volume 16 Nomor 2 November 2025 Analisis Dampak Faktor Internal a. AA. Hidup M Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai dari Kolmogorov Smirnov Z adalah 0. yang artinya nilai tersebut lebih besar dari 5% atau 0. 05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data pada variabel tersebut berdistribusi normal. Multikolinearitas Uji Multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan asumsi klasik multiolinearitas yaitu adanya hubungan linear antar variabel independent dengan model regresi. Prasyarat yang harus dipenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya multikolinearitas. Ada beberapa metode pengujian yang bisa digunakan. Diantaranya . dengan melihat nilai inflation factor (VIF) pada model regresi . dengan membandingkan nilai koefisien determinasi individual . A) dengan nilai determinasi serentak (RA) dan . dengan melihat nilai eigenvlue dan condition index. Pada pembahasan ini akan dilakukan uji multikolinearitas dengan melihat nilai infation factor (VIF) pada model regresi. Apabila nilai VIF lebih besar dari 10. 00, maka variabel tersebut mempunyai multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya. Apabila nilai VIF lebih kecil dari 10. 00, maka variabel tersebut tidak mempumyai multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya. Coefficientsa Collinearity Statistics Model Tolerance VIF Jumlah kunjungan wisatawan . jumlah kamar hotel . jumlah obyek wisata . Dependent Variable: Pendapatan Asli Daerah sektor Pariwisata . Sumber : hasil pengolahan data dengan SPSS 16. Dari tabel diatas dapat diketahui nilai variance inflation factor (VIF) yaitu 4. 200 pada jumlah kunjungan wisatawan, jumlah kamar hotel memiliki nilai VIF 4. 172 dan 7. 155 pada jumlah obyek wisata, sehingga bisa diduga bahwa antar variabel independen tidak terjadi persoalan multikolinearitas. Hal terebut dapat dilihat dari nilai VIF di ketiga variabel yang lebih kecil dari nilai 10. Heteroskedassitas Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya asumsi klasik heteroskedastisitas, yaitu adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Prasyarat yang harus dipenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas. Pada pembahasan ini akan dilakukan uji heteroskedastisitas dengan menggunakan Uji Glesjer. Apabila sig. >0. 05 maka tidak terjadi Dan apabila sig. <0. 05 maka terjadi heteroskedastisitas. Tabel 4. Kesimpulan Gejala Heteroskedastisitas Variael Sig. Kesimpulan Jumlah Kunjungan Wisatawan . Sig. > 0. Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Jumlah Kamar Hotel . Sig. > 0. Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Jumlah Obyek Wisata . Sig. > 0. Tidak Terjadi Heteroskedastisitas Riset Manajemen Dan Akuntansi Volume 16 Nomor 2 November 2025 Analisis Dampak Faktor Internal a. AA. Hidup M Dari output diatas dapat di simpulkan sebagai berikut : Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model Standardized Coefficients Std. Error Beta Sig. (Constan. Jumlah Kunjungan Wisatawan . Jumlah Kamar Hotel . Jumlah Obyek Wisata . Dependent Variable: RES2 Autokorelasi Uji Autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik autokorelasi, yaitu korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Pembahasan kali ini akan dilakukan pengujian dengan uji Durbin Watson (DW) dengan ketentuan sebagai berikut: Jika d < dL atau d > . -dL) maka Hipotesis nol ditolak yang berarti tidak terdapat Jika d terletak antara dU dan . -dU), maka hipotesis nol diterima yang berarti tidak ada Jika d terletak dL dan dU atau diantara . -dU) dan . -dL) maka tidak menghasilkan kesipulan yang pasti. Model Summaryb Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson Predictors: (Constan. Jumlah Obyek Wisata . Jumlah Kamar Hotel . Jumlah Kunjungan Wisatawan . Dependent Variable: Pendapatan Asli daerah Sektor Pariwisata . Dari hasil output diatas didapat nilai DW yang dihasilkan dari model regresi adalah 1. Dari tabel DW dengan signifikansi 0. 05 dan jumlah data . sebanyak 17 serta k 3 . adalah jumlah variabel independen. diperoleh nilai dL sebesar 0. 8968 dan dU sebesar 1. 7101 dan 4-Du 2899 dan 4-dL sebesar 3. Berdasarkan hasil output nilai DW 1. 345 berada pada daerah keragu-raguan maka hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. Riset Manajemen Dan Akuntansi Volume 16 Nomor 2 November 2025 Analisis Dampak Faktor Internal a. AA. Hidup M Gambar 4. Penjelasan Daerah Penerimaan pada Uji Durbin Watson Menolak Ho bukti autokorelasi positif Daerah Menerima Ho tidak ada Darah keraguraguan Menolak Ho bukti autokorelasi negatif 4-dL 4-dU 345 (DW) Berdasarkan data output tersebut yang menyatakan bahwa nilai DW berada di daerah keragu-raguan, maka diambil langkah dengan menggunakan asumsi uji Cochrane Orcutt. Dimana uji tersebut merupakan metode transformasi untuk menghilangkan masalah autokorelasi. Dari hasil output uji ini maka di dapat hasil sebagai berikut : Model Summaryc,d Std. Error of the Estimate Change Statistics R Square Change F Change df1 df2 Sig. F Change 334 3 13 Predictors Lag_X3. Lag_X1. Lag_X2: For regression through the origin . he no-intercept mode. R Square measures the proportion of the variability in the dependent variable about the origin explained by regression. This CANNOT be compared to R Square for models which include an intercept Dependent Variable: Lag_Y Linear Regression through the Origin Durbin Watson Dari hasil tersebut masih didapat masalah autokorelasi jika menggunakan uji Durbin Watson. Maka dengan itu, akan dilakukan dengan menggunakan uji Run Test untuk lebih meyakinkan ada atau tidaknya masalah autikorelasi tersebut dengan menggunakan data regresi Lag Y yang tentunya berdistribusi normal. Pengambilan keputusan menggunakan Uji Run Test ini ialah apabila nilai Asymp. Sig. -taile. lebih kecil dari 0. 05 maka terdapat masalah gejala Apabila nilai Asymp Sig. -taile. lebih besar dari 0. 05 maka tidak terdapat masalah gejala autokorelasi. Hasil dari uji Run Test ialah sebagai berikut. Runs Test Unstandardized Residual Test Value Cases < Test Value Cases >= Test Value Total Cases Number of Runs Asymp. Sig. -taile. Median Dari hasil output Uji Run Test tersebut dapat dilihat bahwa nilai Asymp. Sig. 796 dimana nilai tersebut lebih besar dari 0. 05 sehingga dapat di pastikan bahwa tidak terdapat gejala autokorelasi. Riset Manajemen Dan Akuntansi Volume 16 Nomor 2 November 2025 Analisis Dampak Faktor Internal a. AA. Hidup M Hasil Analisis Data Regresi Linear Berganda Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1 (Constan. Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. Jumlah Kunjungan Wisatawan . Jumlah Kamar Hotel . Jumlah Obyek Wisata . Dependent Variable: Pendapatan Asli daerah Sektor Pariwisata . Didapat dari hasil output, dengan menggunakan SPSS 16. 0, maka diperoleh hasil estimasi model regresi Linear Berganda, yaitu: Y = -2. 845E9 5008. 793X1 4. 304E6X2 6. 977E7X3 Persamaan tersebut dapat di interprestasikan sebagai berikut : a= -2. 845E9 artinya apabila jumlah kunjungan wisatawan, jumlah kamar hotel dan jumlah obyek wisata menurun maka pendapatan pariwisata juga menurun. b1= 5008. 793 variabel jumlah kunjungan wisatawan berpengaruh positif terhadap pendapatan asli daerah sektor pariwisata Kabupaten Pacitan. b2= 4. 304E6 variabel jumlah kamar hotel berpengaruh positif terhadap pendapatan asli daerah sektor pariwisata Kabupaten Pacitan. b3= 6. 977E7 variabel jumlah obyek wisata berpengaruh positif terhadap pendapatan asli daerah sektor pariwisata Kabupaten Pacitan. Berdasarkan hasil regresi tersebut apabila dilihat dari nilai koefisiennya bahwa ketiga variabel tersebut bersifat elastis karena nilai koefisiennya > 1. Diantara ketiga variabel yang bersifat elastis terdapat variabel yang paling elastis yaitu variabel X1 ini berarti peningkatan jumlah kunjungan wisatawan (X. sebesar 1 persen maka akan meningkatkan penerimaan daerah sektor pariwisata (Y) sebesar 500 persen. Uji Statistik Untuk mengetahui kebenaran hipotesis, maka dilakukan pengujian secara statistik yang meliputi uji t, uji F, dan uji RA. Uji t Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel independent secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Uji t dilakukan dengan melihat hasil Sig. yang tertera dalam Output Coefficients. Apabila nilai Sig. lebih besar dari 0. 05 maka variabel tersebut tidak berpengaruh secara signifikan dan apabila nilai Sig. lebih kecil dari 0. maka variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap dependen. Riset Manajemen Dan Akuntansi Volume 16 Nomor 2 November 2025 Analisis Dampak Faktor Internal a. AA. Hidup M Coefficientsa Model 1 (Constan. Jml Kunjungan Wisatawan . JML Kamar Hotel . Jml Obyek Wisata . Standardized Unstandardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta Sig. Dependent Variable: Pendapatan Asli daerah Sektor Pariwisata . Tabel 4. Signifikansi variabel penjelas pendapatan pariwisata Variabel Sig. Kesimpulan Jumlah kunjungan wisatawan . 001 Signifikan pada a 5% Jumlah kamar hotel . 590 Tidak signifikan pada a 5% Jumlah obyek wisata . 728 Tidak signifikan pada a 5% Hasil pengujian selengkapnya dapat dilihat secara lengkap sebagai berikut: Variabel Jumlah Kunjungan Wisatawan mempunyai nilai signifikansi 0. 001 atau lebih kecil dari 0. 05, maka dapat diketahui bahwa variabel independen Jumlah Kunjungan Wisatawan berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Pendapatan Asli Daerah Sektor Pariwisata. Variabel Jumlah Kamar Hotel mempunyai nilai signifikansi 0. 590 atau lebih besar dari 05, maka dapat diketahui bahwa variabel independen Jumlah Kamar Hotel tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Pendapatan Asli Daerah Sektor Pariwisata. Variabel Jumlah Obyek Wisata mempunyai nilai signifikansi 0. 78 atau lebih besar dari 05, maka dapat diketahui bahwa variabel independen Jumlah Obyek Wisata tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Pendapatan Asli Daerah Sektor Pariwisata. Uji F Uji F ini digunakan untuk menguji variabel independent secara keseluruhan dan bersama-sama, apakah variabel independent mempengaruhi variabel dependen secara Pengujian ini dilakukan dengan cara melihat tabel ANOVA pada kolom sig. Hal tersebut mengikuti taraf sig. 05 sebagai nilai cut off dari nilai signifikansi. Artinya jika nilai probabilitas atau signifikansi dibawah 0. 05 maka seluruh variabel independen berpengaruh terhadap variael dependen dan begitupun sebaliknya. Riset Manajemen Dan Akuntansi Volume 16 Nomor 2 November 2025 Analisis Dampak Faktor Internal a. AA. Hidup M ANOVAb Model Regression Sum of Squares Mean Square 384E20 Residual 528E19 Total 537E20 Sig. 613E19 175E18 Predictors: (Constan. Jumlah Obyek Wisata . Jumlah Kamar Hotel . Jumlah Kunjungan Wisatawan . Dependent Variable: Pendapatan Asli daerah Sektor Pariwisata . Diketahui bahwa nilai F-statistic hasil estimasi pada model sebesar 39. dengan signifikansi 0. 000 maka berarti nilai signifikansi lebih kecil dari 0. 05 sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel independen berpengaruh secara bersama-sama terhadap variael dependen. Uji RA Uji R2 digunakan untuk mengetahui berapa persen variasi variabel dependen dapat dijelaskan oleh variasi variabel independent. Model Summaryb Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constan. Jumlah Obyek Wisata . Jumlah Kamar Hotel . Jumlah Kunjungan Wisatawan . Dependent Variable: Pendapatan Asli daerah Sektor Pariwisata . Tabel tersebut menerangkan besarnya korelasi (R), koefisien determinasi (RA), koefisien determinasi yang disesuaikan . djusted RA) dan standar error. Koefisien korelasi sebesar 0. 949 menunjukkan hubungan yang kuat antara variabel independent dengan Y. Koefisien determinasi (RA) sebesar 0. memberi pengertian bahwa 90. 1% penerimaan pariwisata ditentukan oleh jumlah kunjungan wisatawan, jumlah kamar hotel dan jumlah obyek wisata. Sedangkan 9 % dijelaskan oleh variasi dari variabel di luar model. Intepretasi Ekonomi Asumsi klasik telah terpenuhi dalam estimasi model regresi linier berganda ini yaitu asumsi non- heteroskedastisitas pada semua variabel, non- multikolinearitas antara ketiga variabel, dan non-autokorelasi. Hasil pengujian statistik juga menyimpulkan bahwa estimasi regresi linear berganda tersebut telah menghasilkan taksiran- taksiran yang berarti secara statistik. Intepretasi selanjutnya dilakukan terhadap koefisien regresi dari variabel- variabel independen dan dependen dalam model regresi linear berganda ini baik. Intepretasi data dari hasil regresi linear berganda untuk masing - masing koefisien regresi, akan diuraikan berikut ini : Tabel 4. Koefisien Hasil Regresi Variabel Koefisien Riset Manajemen Dan Akuntansi Volume 16 Nomor 2 November 2025 Signifikan Analisis Dampak Faktor Internal a. AA. Hidup M Jumlah Kunjungan Wisatawan . Jumla Kamar Hotel . Jumlah Obyek Wisata . Pengaruh Jumlah Kunjungan Wisatawan terhadap Pendapatan Pariwisata Koefisien elastisitas variabel jumlah kujungan wisatawan sebesar 5008. 793 mempunyai hubungan positif yang sesuai dengan hipotesis, artinya bila laju jumlah kunjungan wisatawan naik sebesar 1% maka dalam pendapatan pariwisata akan naik sebesar 500% dan mempunyai pengaruh 1% secara signifikan terhadap pendapatan asli daerah sektor pariwisata di Kabupaten Pacitan. Hal ini menjelaskan bahwa semakin banyak jumlah kunjungan wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Pacitan maka pendapatan daerah yang diterima akan semakin meningkat, sebaliknya jika jumlah kunjungan wisatawan yang berkunjung mengalami penurunan maka pendapatan daerah yang diterima akan semakin menurun sesuai dengan teori . dalam Ida Austriana, 2005 semakin lama wisatawan tinggal di suatu darah tujuan wisata, maka semakin banyak pula uang yang dibelanjakan di daerah tujuan wisata tersebut, paling sedikit untuk keperluan makan, minum dan penginapan selama tingga di daerah tersebut. Berbagai macam kebutuhan wisatawan selama perjalanan wisatanya akan menimbulkan gejala konsumtif untuk produk-produk yang ada di daerah tujuan wisata. Dengan adanya kegiatan konsumtif baik dari wisatawan mancanegara maupun domestik, maka akan memperbesar pendapatan dari sektor pariwisata di Kabupaten Pacitan. Variabel jumlah kunjungan wisatawan signifikan 5 % terhadap pendapatan pariwisata di Kabupaten Pacitan selama kurun waktu tahun 2001 sampai dengan 2017. Hal ini sesuai dengan pendapat Spillane . yang menyatakan bahwa kunjungan wisatawan secara langsung dapat mendatangkan sekaligus meningkatkan jumlah pendapatan yang merupakan penerimaan daerah. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Riska Arlina dan Ei Yulia Purwanti . yang menunjukkan bahwa variabel jumlah wisatawan mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan daerah dari sektor pariwisata Provinsi DKI Jakarta. Pengaruh Jumlah Hotel Terhadap Pendapatan Pariwisata Pengaruh Jumlah Kamar Hotel terhadap Pendapatan Pariwisata Koefisien elastisitas jumlah kamar hotel yang mempunyai tanda positif tampaknya sesuai dengan hipotesis yaitu 304E6 artinya apabila laju jumlah kamar hotel naik 1% maka pendapatan pariwisata hanya akan 3%, tetapi dengan melihat tingkat pengaruh variabel tersebut terhadap pendapatan pariwisata tidak berpengaruh pada tingkat keyakinan sebesar a= 5%, jelas menolak hipotesis. Hal tersebut dikarenakan minimnya jumlah wisatawan yang menginap di hotel karena adanya kamar yang sudah tidak layak pakai atau sedang tahap renovasi. Jika minimnya wisatawan yang menginap dihotel maka akan menjadikan pengusaha hotel tidak menambah kamar hotel ataupun akan beralih usaha dengan tidak mendirikan hotel sehingga jumlah pajak yang disetorkan kepada dinas Pariwisata juga tidak maksimal. Hal ini diperkuat dengan teori Badrudin . yang mengatakan bahwa dengan tersedianya kamar hotel yang memadai, para wisatawan tidak segan untuk berkunjung ke suatu daerah, terlebih jika hotel tersebut nyaman untuk disinggahi. Sehingga mereka akan merasa lebih aman, nyaman dan betah untuk tinggal lebih lama di daerah tujuan Oleh karena itu industri pariwisata terutama kegiatan yang berkaitan dengan penginapan yaitu hotel, baik berbintang maupun melati akan memperoleh pendapatan yang semakin banyak apabila para wisatawan tersebut semakin lama menginap. Pengaruh Obyek Wisata Terhadap Pendapatan Pariwisata Koefisien elastisitas variabel jumlah obyek wisata mempunyai positif tampaknya sesuai dengan hipotesis yaitu 6. 977E7 dengan artian apabila obyek wisata bertambah 1% maka pendapatan pariwisata akan naik 6. 9%, namun tampaknya tidak berpengaruh secara nyata pada Riset Manajemen Dan Akuntansi Volume 16 Nomor 2 November 2025 Analisis Dampak Faktor Internal a. AA. Hidup M tingkat keyakinan a= 5%, ini tidak sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa jumlah obyek wisata mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pendapatan pariwisata. Artinya penambahan atau penurunan jumlah obyek wisata di Kabupaten Pacitan memiliki pengaruh yang sangat kecil terhadap pendapatan asli daerah sektor pariwisata Kabupaten Pacitan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Roerkaerts dan Savat (Spillane, 1987:. juga menjelaskan bahwa manfaat yang dapat diberikan sektor pariwisata adalah menambah pemasukan dan pendapatan, baik untuk pemerintah daerah maupun masyarakatnya. Penambahan ini dilihat dari meningkatnya pendapatan dari kegiatan usaha yang dilakukan oleh masyarakat, seperti penginapan, restoran, dan rumah makan, pramuwisata, biro perjalanan dan penyediaan Bagi daerah itu sendiri kegiatan usaha tersebut merupakan potensi dalam menggali PAD. Pengaruh yang kecil ini dikarenakan jumlah obyek wisata di Kabupaten Pacitan tidak sepenuhnya di kelola oleh pemerintah. Saat terdapat obyek wisata baru, maka pendapatan tiket masuk obyek wisata akan masuk pada pendapatan kas desa. Sehingga walaupun banyak wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Pacitan belum tentu wisatawan tersebut mengunjungi obyek wisata yang dikelola oleh pemerintah melainkan kepada obyek wisata yang dikelola oleh masyarakat desa dimana hasilnya akan masuk pada kas desa itu sendiri. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pengujian hipotesis serta pembahasan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai Variabel jumlah kunjungan wisatawan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan asli daerah sektor pariwisata Kabupaten Pacitan. Variabel jumlah kamar hotel memiliki pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap pendapatan asli daerah sektor pariwisata Kabupaten Pacitan. Variabel jumlah obyek wisata memiliki pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap pendapatan asli daerah sektor pariwisata Kabupaten Pacitan. Saran dan rekomendasi Dari hasil kesimpulan di atas maka dapat dikemukakan saran Ae saran sebagai berfikut: Variabel jumlah kunjungan wisatawan berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan pariwisata di Kabupaten Pacitan, pengaruh antara variabel independen jumlah kunjungan wisatawan dengan variabel dependen pendapatan pariwisata adalah positif. Maka dengan ini jumlah kunjungan wisatawan harus ditingkatkan dengan mengadakan promosi tentang potensi wisata yang ada di Kabupaten pacitan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan berbagai promosi melalui sosial media ataupun melalui iklan. Adanya kemudahan bagi calon wisatawan mengakses informasi wisata yang ada di Kabupaten Pacitan juga sangat Selain itu, adanya event budaya yang dipertunjukkan di tempat Ae tempat wisata juga sangat membantu untuk menarik wisatawan yang sebagian sangat cinta dengan budaya dan bosan dengan pemandangan pantai yang itu-itu saja. Variabel jumlah kamar hotel tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan pariwisata, hal itu berarti harus ditingkatkannya pengelolaan manajemen hotel menjadi lebih baik lagi. Bagaimanapun wisata dan hotel memiliki hubungan yang sangat erat. Wisatawan membutuhkan akomodasi agar wisatanya menjadi lebih nyaman. Namum apabila kondisi akomodasinya kurang ataupun tidak layak tentu akan membuat calon wisatawan tersebut berfikir dua kali untuk berkunjung. Sehingga perbaikan manajemen dan kondisi hotel perlu diperbaiki agar pajak hotel terhadap pendapatan pariwisata menjadi maksimal. Variabel jumlah obyek wisata terhadap pendapatan pariwisata Kabupaten Pacitan juga tidak berpengaruh secara signifikan. Hal ini dapat terjadi karena obyek wisata yang dikelola pemerintah belum maksimal artinya masih banyak obyekobyek wisata yang dikelola oleh masyarakat desa. Oleh karena itu pemerintah harus pandai mencari potensi-potensi wisata yang ada di Kabupaten Pacitan terlepas dari obyek yang dikelola oleh masyarakat desa. Misalnya dengan membuka desa wisata ataupun membuka obyek wista yang baru dan bernuansa berbeda. Pemerintah terus menggali potensi Ae potensi wisata yang berbeda tanpa menghilangkan keaslian alamnya. Riset Manajemen Dan Akuntansi Volume 16 Nomor 2 November 2025 Analisis Dampak Faktor Internal a. AA. Hidup M Mengadakan paket wisata yang lebih menarik minat wisatawan. Mempermudah akses menuju obyek wisata serta mengembangkan fasilitas-fasilitas yang sudah ada menjadi lebih baik dan lebih lengkap lagi. Seperti ATM, tempat oleh-oleh yang lengkap khas Kabupaten Pacitan dan lainnya. DAFTAR PUSTAKA