1228 JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Implementasi Kegiatan Proyek Profil Penguatan Pelajar Pancasila dalam mewujudkan Sekolah Inklusif di SDN RANGKAH VI/168 Irna Helvianti1. Nur Asyah2. Ade Nur Zaqqiyah3. Rama Liyya4. Ifan Hidayatullah5. Izzatul Nazwa Ussolehah6 1,2,3,4,5,6 Universitas Muhammadiyah Cirebon. Indonesia E-mail: irnahelvianti10@gmail. com1, nurasyahm@gmail. com2, adenz03@gmail. ramaliyya8@gmail. com4, ifanhidayatullah48@gmail. com5, izzatulnazawaa@gmail. Article History: Received: 04 Januari 2025 Revised: 30 Januari 2025 Accepted: 05 Februari 2025 Keywords: Kegiatan P5. Sekolah Dasar Inklusif Abstract: Kegiatan Proyek Profil Penguatan Pelajar Pancasila yang memfokuskan kepada karakter peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kegiatan proyek profil penguatan pelajaran pancasila dalam mewujudkan sekolah inklusif di SDN RANGKAH VI/168. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan jenis fenomolgi. Subyek dalam penelitian ini adalah SD Negeri RANGKAH VI/168. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Triangulasi teknik dilakukan untuk menguji keabsahan data. Hasil analisis menunjukkan bahwa SD Negeri RANGKAH VI/168 telah mengimplementasikan kegiatan proyek profil penguatan pelajaran pancasila. Implementasi kurikulum merdeka mencakup Perencanaan pembelajaran telah disusun dengan baik seperti pembuatan modul ajar. pembuatan asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif. pembuatan modul P5. Pelaksanaan kurikulum merdeka selama pembelajaran telah berjalan dengan baik melalui kegiatan puncak tema dalam kegiatan penguatan proyek profil pelajar pancasila (P. Evaluasi yang telah dilaksanakan seperti menganalisis hambatanhambatan yang muncul selama implementasi kurikulum merdeka, seperti kurangnya fasilitas dalam mengembangkan potensi anak yang beragam. Khususnya fasilitas pengembangan potensi bagi anak berkebutuhan khusus masih sangat minim, tidak adanya guru pendamping khusus anak berkebutuhan khusus sehingga menyulitkan guru kelas dalam mengembangkan potensi anak berkebutuhan khusus. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 PENDAHULUAN Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Bab I, pasal 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan didefinisikan sebagai upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk menciptakan lingkungan belajar serta proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengembangkan potensi diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sementara itu, yang tertera dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (Tap MPR No. II/MPR/1. , menyatakan: pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dengan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Berdasarkan berbagai definisi tersebut, pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi individu secara optimal dalam berbagai aspek, baik intelektual, emosional, sosial, maupun pengetahuan akademik. Pendidikan juga berperan dalam mempersiapkan peserta didik melalui pembinaan fisik, pengembangan jiwa, pengasahan daya pikir, serta internalisasi nilai-nilai budaya dan agama yang berkembang dalam masyarakat. Dalam dunia pendidikan nasional, memahami karakteristik peserta didik merupakan aspek penting dalam kompetensi pedagogis. Seorang pendidik harus menguasai karakteristik peserta didik, karena hal ini menjadi indikator profesionalisme seorang guru. Oleh karena itu, pemahaman mendalam terhadap peserta didik sangat diperlukan agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Dalam merancang pembelajaran, guru perlu memahami karakteristik serta kemampuan awal peserta didik. Pemahaman ini akan berpengaruh terhadap persiapan guru dalam menentukan materi ajar, metode pembelajaran, media yang digunakan, waktu yang diperlukan, serta evaluasi yang akan dilakukan. Untuk memperoleh informasi mengenai jumlah peserta didik dan karakteristik mereka, guru dapat bekerja sama dengan bagian akademik guna memastikan proses pembelajaran berjalan dengan maksimal. Menganalisis kemampuan awal peserta didik merupakan langkah penting dalam mengidentifikasi kebutuhan serta karakteristik mereka. Tujuan dari analisis ini adalah untuk menentukan standar perubahan perilaku, tujuan pembelajaran, serta materi yang akan diajarkan. Karakteristik peserta didik sendiri dapat mencakup berbagai aspek, seperti kecakapan akademik, usia, tingkat kedewasaan, motivasi dalam belajar, pengalaman, keterampilan, kemampuan motorik, kerjasama, hingga kemampuan sosial (Atwi Suparman, 2. Oleh karena itu, seorang pendidik harus memahami ciri-ciri umum peserta didik agar dapat menyusun strategi pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Setiap individu pada dasarnya memiliki keunikan dan perbedaan antara satu dengan Salah satu bentuk perbedaan tersebut adalah gaya belajar yang dimiliki peserta didik. Gaya belajar mengacu pada cara peserta didik menyerap, mengolah, serta mengelola informasi. Menurut DePorter & Hernacki . dalam Dirman & Cicih Juarsih melalui buku Karakteristik Peserta Didik terdapat tiga jenis gaya belajar utama, yaitu . visual, . auditif, dan . Klasifikasi gaya belajar ini tidak membatasi peserta didik pada satu gaya belajar saja, melainkan menunjukkan kecenderungan yang dominan dalam proses belajar mereka. Pengelompokan ini lebih sebagai pedoman untuk memahami bahwa setiap peserta didik memiliki kecenderungan terhadap salah satu jenis gaya belajar tersebut. Dengan memahami karakteristik gaya belajar peserta didik, guru dapat merancang metode pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Pendidikan inklusif adalah konsep yang sangat kuat dan penuh arti, terutama dalam memastikan bahwa semua anak, tanpa terkecuali, mendapatkan kesempatan yang setara untuk a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 belajar dan berkembang. Seperti yang dijelaskan oleh Direktorat Pembinaan SLB . , pendidikan inklusif mengutamakan keberagaman dan kebutuhan individu setiap anak. Ini berarti, anak-anak dengan keterbatasan fisik, intelektual, atau emosional diberi kesempatan untuk belajar di sekolah umum bersama dengan anak-anak lainnya, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Semangat utama dari pendidikan inklusif adalah menciptakan akses yang luas bagi semua anak, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus, untuk mendapatkan pendidikan yang Hal ini tidak hanya tentang menempatkan anak-anak dengan kebutuhan khusus di sekolah umum, tetapi juga tentang menyediakan layanan yang tepat agar mereka bisa berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar, sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka masingmasing. Kurikulum Merdeka Belajar dapat menjadi instrumen untuk mewujudkan pembelajaran Pembelajaran inklusif tidak hanya memenuhi kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus, namun juga berkontribusi terhadap penyelenggaraan pendidikan yang kondusif. Pembelajaran inklusif merangkul perbedaan ras, sosial, budaya, agama, dan suku, sehingga tercipta lingkungan yang harmonis. Penghargaan terhadap sesama peserta didik menjadi tujuan utama yang harus dicapai agar tidak ada resistensi akibat perbedaan identitas. Oleh karena itu, pembelajaran inklusif dapat diwujudkan melalui penerapan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila merupakan gambaran lulusan ideal yang diharapkan mampu menunjukkan karakter generasi milenial yang berjiwa pancasilais (Rusnaini et al. , 2. Tujuan Profil Pelajar Pancasila adalah menguatkan lulusan yang sesuai nilai luhur Pancasila (Anggraena et. al, 2. Implementasi nilai-nilai profil pelajar pelajar Pancasila dimuat dalam kegiatan intrakurikuler dimuat di dalam pembelajaran dan kegiatan penguatan project pelajar Penerapan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila sangat penting untuk menguatkan karakter peserta didik. Nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila membuat peserta didik dapat lebih kompetitif sesuai dengan perkembangan kompetensi global perlu ditanamkan dalam pembelajaran agar peserta didik mampu bersaing di kancah internasional. Penerapan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum Merdeka Belajar sangat penting untuk meningkatkan literasi. Salah satu permasalahan yang cukup signifikan dalam dunia pendidikan saat ini adalah menurunnya minat baca dan tulis . Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan pilar utama dalam peningkatan literasi karena mencakup empat kompetensi utama, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Semangat terhadap cita-cita Profil Pelajar Pancasila sangat penting dalam memecahkan permasalahan pendidikan Indonesia saat ini. Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar harus mampu meningkatkan kompetensi peserta Dalam konsep Merdeka Belajar, guru maupun peserta didik dapat secara mandiri mengeksplorasi keterampilan dan mengembangkan pembelajaran sesuai tingkat kompetensi masing-masing (Daga, 2. Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa prinsip merdeka belajar dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mengembangkan kompetensi diri berdasarkan kepribadian peserta didik, sekaligus mempertahankan moral dan sikap mereka dalam menerapkan nilai - nilai pendidikan karakter (Ainia, 2. Dengan karakter pendidikan yang kuat, diharapkan akhlak dan moral generasi bangsa dapat lebih berkembang (Albaburrahim, 2. Oleh karena itu, konsep pendidikan dalam Merdeka Belajar harus disesuaikan dengan kebutuhan sistem pendidikan 4. Ahmad et al . , 2. Dalam pelaksanaannya. Kurikulum Merdeka Belajar pada dasarnya dimaksudkan untuk menumbuhkan kreativitas, inovasi, dan kemandirian dalam belajar. Namun demikian, terdapat tantangan yang melekat dalam pengintegrasiannya dengan sistem pendidikan yang berfokus pada a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 keberlanjutan dan kesejahteraan sosial. Oleh karena itu, penerapan Profil Pelajar Pancasila merupakan aspek fundamental agar peserta didik mampu menghayati nilai - nilai kebangsaan dan bersatu dalam kehidupan sehari - hari. Implementasi Profil Pelajar Pancasila dalam pembentukan lingkungan sekolah yang damai sangat relevan dengan aplikasi Kurikulum Merdeka Belajar. Profil Pelajar Pancasila difokuskan pada pendidikan karakter yang menanamkan nilai - nilai Pancasila sebagai landasan moral dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan Kurikulum Merdeka Belajar dimaksudkan untuk memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mencapai potensi dan minatnya secara mandiri sehingga kita dapat mengembangkan ekosistem pembelajaran yang inklusif, inovatif, dan berorientasi pada METODE Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif partisipatif. Dalam pendekatan ini, tim pelaksana berperan langsung sebagai fasilitator kegiatan sekaligus pengumpul data di lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai bagian dari strategi triangulasi untuk memperoleh data yang valid dan komprehensif (Sugiyono, 2. Data yang dihimpun bersifat deskriptif kualitatif, yang kemudian dianalisis secara induktif untuk mengungkap makna, mengonstruksi fenomena, serta mengevaluasi proses pelaksanaan kegiatan secara holistik. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah: . menjelaskan implementasi kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. di sekolah inklusi, . mendeskripsikan pelaksanaan Kurikulum Merdeka di sekolah inklusi, serta . menganalisis secara mendalam kontribusi kegiatan P5 dalam mendukung terwujudnya sekolah inklusif, dengan studi kasus di SDN Rangkah VI/168. Selama kegiatan berlangsung, tim pengabdi melakukan pendampingan intensif terhadap guru dan peserta didik, serta mengidentifikasi tantangan dan praktik baik yang muncul dalam konteks pembelajaran inklusif berbasis nilai-nilai Pancasila. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakter peserta didik di Indonesia saat ini mencerminkan Profil Pelajar Pancasila. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah inisiatif pembelajaran yang melibatkan berbagai disiplin ilmu untuk mengamati, menganalisis, dan mencari solusi terhadap permasalahan yang ada di sekitar kita. Menurut Ayi Suherman. Profil Pelajar Pancasila merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, dengan fokus utama pada pembentukan karakter. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan globalisasi, pendidikan nilai dan karakter menjadi sangat krusial agar ada keseimbangan antara perkembangan teknologi dan perkembangan manusia itu sendiri. Sementara itu. Rahayuningsih dan Rijianto berpendapat bahwa Penguatan Profil Pelajar Pancasila juga menekankan pada penanaman karakter dan keterampilan yang relevan dalam kehidupan sehari-hari. Ini tidak hanya ditanamkan melalui pembelajaran intrakurikuler, tetapi juga melalui kegiatan ekstrakurikuler dan budaya sekolah yang mendukung penguatan karakter peserta Dengan demikian. P5 tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga membentuk peserta didik yang berkarakter kuat dan siap menghadapi tantangan kehidupan. Salah satu bentuk implementasi Profil Pelajar Pancasila di sekolah adalah penerapan budaya sekolah yang positif. SDN Rangkah VI/168 Surabaya, konsep ini diwujudkan melalui keyakinan kelas ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam penilaian sikap. Keyakinan kelas juga akan membuat proses pembelajaran khususnya pada pembelajaran menjadi lebih kondusif dan maksimal. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Salah satu pendekatan baru yang diterapkan oleh pemerintah untuk menanamkan nilai kepada peserta didik adalah Profil Pelajar Pancasila. Pendekatan ini bertujuan untuk membangun karakter peserta didik di Indonesia dengan berlandaskan pada nilai-nilai moral Pancasila. Dengan Profil Pelajar Pancasila. Pancasila dijadikan sebagai pedoman untuk menanamkan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ada enam komponen utama yang membentuk profil seorang siswa yang menganut prinsip Pancasila: Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. Berkebinekaan global Bergotong royong Mandiri Bernalar Kritis Kreatif Profil pelajar Pancasila merupakan muatan pendidikan dan pembentukan karakter yang perlu ditanamkan dan dibiasakan dalam pembelajaran. Secara khusus, ditujukan bagi sekolah yang ditunjuk sebagai pengguna kurikulum merdeka belajar. Profil pelajar Pancasila fokus pada penanaman karakter dan kemampuan berkehidupan yang ditindaklanjuti dalam budaya sekolah, pembelajaran intrakulikuler dan ekstrakurikuler. P5, serta budaya kerja (Rahayuningsih, 2. Profil pelajar pancasila memuat kapabilitas, karakter, dan kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik pada abad 21 (Irawati. Iqbal. Hasanah, & Arifin, 2. Menurut Kemendikbudristek No. 56/M/2022. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. adalah kegiatan kokurikuler berbasis proyek yang bertujuan untuk meningkatkan pencapaian kompetensi dan karakter peserta didik sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Proyek ini disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), sehingga kegiatan dan materi yang diberikan bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing sekolah. Dengan begitu, waktu pelaksanaan dan jenis kegiatannya bisa fleksibel, memastikan bahwa setiap siswa bisa mengembangkan kemampuan dan karakter yang sesuai dengan prinsip Pancasila. Proyek ini dirancang berbeda dari pelajaran intrakurikuler. Tujuan, muatan, dan kegiatan pembelajaran dalam proyek tidak harus selalu berkaitan langsung dengan materi pelajaran yang diajarkan di kelas. Profil Pelajar Pancasila sendiri dibuat untuk menjadi acuan belajar bagi guru dan peserta didik, dengan harapan generasi berikutnya di Indonesia akan tumbuh menjadi individu yang berkarakter dan mampu menghadapi berbagai tantangan hidup. Oleh karena itu. Profil Pelajar Pancasila harus ditetapkan dan dikuatkan lebih luas lagi di sekolah. Kurikulum Merdeka adalah kurikulum terbaru yang diterapkan dalam pendidikan di Indonesia, sebagai penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. Kurikulum ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi. Nadiem Anwar Makarim. Dirancang untuk berfokus pada materi dasar yang disesuaikan dengan kemampuan dan perkembangan peserta didik. Kurikulum Merdeka memberikan lebih banyak fleksibilitas bagi guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran (Rahayu et al. , 2. Dengan adanya Kurikulum Merdeka, pembelajaran menjadi lebih interaktif dan menyenangkan, karena memberi kesempatan kepada peserta didik untuk lebih aktif dalam mencari dan menggali isu-isu aktual yang ada di sekitar Hal ini memungkinkan peserta didik untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga belajar secara mandiri dan kritis, serta menghubungkannya dengan kehidupan nyata. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada guru untuk menciptakan dan merancang pembelajaran yang lebih menyenangkan dan kreatif. Tidak hanya itu, siswa juga diberi keleluasaan untuk mencari dan mendapatkan informasi atau ilmu dari berbagai sumber, sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Kehadiran kurikulum ini tidak hanya merespons tantangan a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 dalam dunia pendidikan, tetapi juga perkembangan teknologi yang semakin pesat. Teknologi yang berkembang pesat menuntut agar sumber daya manusia, terutama siswa, lebih kompeten dan mampu berpikir kritis untuk menghadapi perubahan yang terus terjadi (Indarta et al. , 2. Berdasarkan wawancara dengan guru implementasi kurikulum merdeka di sekolah memiliki tema gaya hidup berkelanjutan dan kewirausahaan. Topik yang dikembangkan P5 adalah pengelolaan sampah untuk tema gaya hidup berkelanjutan dan pemanfaatan barang bekas untuk tema kewirausahaan. Pemilihan topik ini didasarkan pada kemudahan akses peserta bagi didik sehingga kegiatan P5 dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Modul ajar P5 yang disusun oleh guru dikembangkan berdasarkan karakteristik peserta didik dan sekolah. Artinya, guru mengembangkan modul ajar lebih fleksibel. Kemudian guru juga tidak memaksakan bahwa anak berkebutuhan khusus harus mampu memiliki pengetahuan yang sama dengan anak pada umumnya. Guru memiliki kriteria sendiri dalam mengukur pemahaman anak berkebutuhan khusus sesuai dengan pedoman yang diberikan oleh dinas pendidikan. Namun, meskipun fleksibel, modul ajar yang disusun oleh guru memiliki cakupan modul ajar, sama seperti modul ajar pada umumnya, meliputi deskripsi dan tujuan, pencapaian target proyek, alur proyek, dimensi dan elemen, tahap pencapaian target, tahap pengenalan, tahap kontekstualisasi, tahap aksi, tahap tindak lanjut, dan tahap asesmen. Selain itu, pelaksanaan P5 di sekolah juga melibatkan kerjasama antara sekolah dan orang tua. Kerjasama tersebut berdampak positif terhadap perkembangan anak, terutama dalam mendukung pembelajaran yang lebih optimal dan berkarakter. Ketika sekolah memahami pendidikan anak dalam keluarga, upaya mengembangkan minat, bakat dan karakter peserta didik. Kemendikbud dalam panduan petunjuk teknis kemitraan menegaskan bahwa keluarga memili peran sangat penting dalam perkembangan anak. Dalam dunia pendidikan, keterlibatan keluarga dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti: Menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan di rumah dan mendorong kreativitas Membangun interaksi dan komunikasi penuh cinta dan kasih sayang dengan anak. Memberikan motivasi dan menumbuhkan rasa percaya diri agar anak berprestasi. Mengembangkan hubungan dan komunikasi yang aktif dengan sekolah untuk menciptakan budaya belajar yang positif. Partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan sekolah. Dengan kerjasama yang baik antara keluarga dan sekolah, maka proses pembelajaran akan semakin optimal, mendukung tumbuh kembang anak secara holistik. (Kemdikbud, 2. Pengembangan P5 di sekolah juga melibatkan deklarasi Sekolah Ramah Anak sebagai bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka. Deklarasi ini bukan sekadar seremoni, namun merupakan bentuk nyata komitmen sekolah dalam mewujudkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik, selaras dengan program pemerintah. Di sekolah inklusi, deklarasi Sekolah Ramah Anak telah diterapkan dengan tujuan utama menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman. Deklarasi ini tidak hanya sekadar slogan, melainkan langkah - langkah konkret dalam mencegah tindakan perundungan serta memastikan setiap peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus, dapat belajar dengan nyaman dan penuh Kesuksesan kegiatan P5 di sekolah inklusi sebagai bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Peran serta pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan menjadi faktor utama dalam keberhasilan program ini. Seperti yang dikemukakan oleh Chasanah et al. dan Suhartono et al. , kemitraan yang solid antara keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Selain dukungan dari berbagai pihak, faktor sarana dan prasarana juga sangat berpengaruh dalam mendukung a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 kegiatan P5. Sekolah inklusi masih memiliki tantangan dalam menyediakan fasilitas yang aman dan nyaman bagi siswa disabilitas. Dengan demikian, upaya perbaikan infrastruktur menjadi salah satu tugas pokok yang harus dilaksanakan. Selain itu, kehadiran guru pendamping di sekolah inklusif sangat membantu guru kelas dalam mengembangkan potensi anak berkebutuhan khusus, sehingga mereka dapat belajar dengan optimal sesuai dengan kebutuhan mereka. KESIMPULAN Hasil analisis menunjukkan bahwa di SD Negeri Rangkah VI/168, pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. meliputi tiga tahap utama: perencanaan, pelaksanaan, dan Pada tahap perencanaan, sekolah telah merencanakan pembelajaran dengan baik, seperti pembuatan modul ajar, asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif, serta modul khusus untuk P5. Selama pelaksanaan. Kurikulum Merdeka telah berjalan dengan baik, dengan berbagai kegiatan puncak mata pelajaran tematik dalam proyek P5 memberikan pengalaman belajar yang berharga bagi peserta didik. Tahap evaluasi dilaksanakan dengan menganalisis hambatan yang muncul selama implementasi, salah satunya adalah keterbatasan fasilitas dalam mengembangkan potensi anak yang beragam. Terutama bagi peserta didik berkebutuhan khusus, masih terdapat kendala berupa minimnya fasilitas pendukung serta belum tersedianya guru pendamping khusus. Hal ini membuat guru kelas menghadapi tantangan dalam mengakomodasi kebutuhan belajar siswa berkebutuhan khusus secara optimal. Sebagai tindak lanjut, penelitian ini merekomendasikan pentingnya kehadiran guru pendamping di sekolah inklusi agar semua peserta didik, terutama mereka yang memiliki kebutuhan khusus, dapat berkembang sesuai dengan potensinya. Selain itu, peningkatan sarana dan prasarana yang lebih ramah bagi peserta didik disabilitas menjadi langkah penting agar mereka dapat belajar dengan nyaman dan tanpa hambatan. DAFTAR REFERENSI Amir. Nursalam. , & Mustafa. Tantangan implementasi nilai-nilai profil pelajar Pancasila dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada kurikulum merdeka belajar. GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 204. Dewi. Dewi. , & Warniti. Pengukuhan profil pelajar pancasila menggunakan pembelajaran bahasa indonesia. Dirman. Juarsih Cici . Karakteristik Peserta Didik. PT. Rineka Cipta Fatimah. Trisnawati. Rinawati. Nurhidayah. , & Fauziah. Analisis implementasi kurikulum merdeka di sekolah dasar inklusi. In Prosiding Seminar Internasional Peluang dan Tantangan Perguruan Tinggi di Era Industri 4. 0 dan Society 0 (Vol. No. 1, pp. Istianah. Maftuh. , & Malihah. Konsep Sekolah Damai: Harmonisasi Profil Pelajar Pancasila Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar. Jurnal Education and Development, 11. , 333-342. Sastra, 2. , 46-49. Janawi. Memahami karakteristik peserta didik dalam proses pembelajaran. Tarbawy: Jurnal Pendidikan Islam, 6. Kahfi. Implementasi profil pelajar Pancasila dan Implikasinya terhadap karakter siswa di sekolah. DIRASAH: Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Dasar Rahayu. Rosita. Rahayuningsih. Hernawan. , & Prihantini. Implementasi kurikulum merdeka belajar di sekolah penggerak. Jurnal basicedu, 6. Pedalitra: Prosiding Pedagogi. Linguistik. Dan Satria. Adiprima. Wulan. , & Harjatanaya. Panduan pengembangan projek a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 penguatan profil pelajar pancasila. PANDUAN PENGEMBANGAN Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Islam, 5. , 138-151. Taufik. Analisis karakteristik peserta didik. El-Ghiroh: Jurnal Studi Keislaman, 16. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. ISSN : 2828-5700 .