Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 Progressive of Cognitive and Ability http://journals.eduped.org/index.php/jpr Karakteristik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di Kelas Rendah Sekolah Dasar Nasrul Umam Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali, Cilacap, Indonesia Info Artikel Riwayat Artikel: Diterima 2 September 2022 Direvisi 23 September 2022 Revisi diterima 29 September 2022 Kata Kunci: Hierarkis, integratif, konkrit, pembelajaran PAI. Concrete, hierarchical, integrative, PAI and Budi Pekerti learning ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana karakteristik pembelajaran PAI dan Budi pekerti di kelas rendah Sekolah Dasar. Penelitian ini termasuk penelitian studi pustaka. Peneliti terlebih dahulu melakukan studi terhadap beberap buku, jurnal, prosiding, dan sebagainya. Kemudian menghubungkan teori dengan pembelajaran PAI pada kelas rendah yang memiliki karakteristik berbeda. Hasil penelitian menunjukkan, a) Pembelajaran PAI dan Budi Pekerti bersifat imani yang harus dipercayai setiap pemeluknya; b) pembelajaran dimulai dengan mengaitkan benda-benda konkret untuk mengantarkan pemahaman ajaran Islam yang abstrak; c) Materi pembelajaran PAI sebaiknya disusun secara integratif dalam satu tema yang memuat mata pelajaran rumpun PAI; d) Pembelajaran dilakukan dengan materi pembelajaran yang sederhana ke materi yang kompleks. ABSTRACT This study aims to determine how the characteristics of PAI and Budi Pekerti learning in the lower grades of elementary school. This research includes literature study research. Researchers first conducted a study of several books, journals, proceedings, and others. Then connect the theory with PAI learning in low grades that have different characteristics. The results of the study, a) PAI and Budi Pekerti learning is faith-based which every adherent must believe; b) learning begins by linking concrete objects to deliver an understanding of abstract Islamic teachings; c) PAI learning materials should be arranged in an integrative way in one theme that includes PAI cluster subjects; d) Learning is carried out with simple learning materials to complex materials. This is an open access article under the CC BY license. Penulis Koresponden: Nasrul Umam Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Jl. Kemerdekaan Barat No.17, Gligir, Kesugihan Kidul, Kec. Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia nasrulumam@unugha.id 68 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 68 - 78 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 How to Cite: Umam, Nasrul. (2022). Karakteristik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di Kelas Rendah Sekolah Dasar. Progressive of Cognitive and Ability, 1(2) 68-78. https://doi.org/10.56855/jpr.v1i2.31 PENDAHULUAN Islam adalah agama samawi yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw untuk ummat manusia. Agama diartikan sebagai sesuatu yang diyakini kebenarannya sehingga seseorang memeganginya dengan erat serta merelakan dirinya untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan ataupun dilarangnya. Ajaran agama Islam bersifat universal tidak untuk umat tertentu saja bahkan semua umat manusia. Islam sendiri mengatur bagaimana hubungan manusia kepada Allah swt, antar sesama manusia, dan makhluk ciptaan lainnya. Dalam Islam, kepercayaan adanya Allah swt menjadi mutlak dimiliki oleh setiap muslim. Allah swt lah yang menciptakan manusia dan alam seisinya. Tidak ada sekutu baginya dan satu tidak ada duanya. Kunci seseorang dalam beragama Islam adalah akidah yang lurus. Kepercayaan muslim kepada Allah swt beserta ciptaan Nya perlu dijaga dengan sebaik-baiknya. Banyak hal-hal yang dapat mengotori keimanan seseorang. Menyekutukan Allah swt (syirik), kufur, nifaq, murtad, dan sebagainya perlu dihindari oleh seorang muslim tanpa ada kompromi apapun. Ruang lingkup pembahasan agama Islam sekitar akidah, syariat, dan akhlak. Sebagai kunci utama dalam beragama, akidah harus dimiliki seorang muslim dengan sesungguhnya. Keraguan berakidah dalam diri seorang muslim sudah selayaknya dibuang jauh-jauh dengan selalu memperbaharui iman dimanapun dan kapanpun. Keyakinan tersebut melahirkan sikap ta’ah atas syariat Allah swt dengan setulustulusnya. Sehingga segala perintah Allah swt dan larangan Nya dilakukan dengan keikhlasan hanya karena Nya. Dan pada akhirnya muncul komitmen berbuat baik kepada Allah swt, manusia, dan makhluk ciptaan Nya. Melihat deskripsi di atas Islam mempunyai salah satu pendekatan dalam pengkajiannya yaitu pendekatan berdasarkan kepercayaan ( imany). Pendekatan berdasarkan kepercayaan kepada Allah swt menjadi corak pemikiran dan disiplin ilmu tersendiri yang menjadi ciri khas kajian keislaman. Al-Qur’an dan Hadits menjadi sumber utama dalam pengkajian disiplin ilmu keislaman. Dari situlah teks dikaji dengan berbagai ilmu dan melahirkan pemahaman-pemahaman yang baru dan kontemporer. Tidak terkecuali pendidikan Islam yang komponen-komponennya saling terkait. Dalam upaya mensyiarkan agama Islam, nilai-nilai kajian keislaman perlu ditransformasikan kepada generasi-generasi pasca lahirnya Islam. Pendidikan merupakan salah satu sarananya. Pendidikan adalah transformasi nilai, budaya, adat istiadat, dan sebagainya. Dalam pendidikan ada komponen-komponen yang saling terkait diantaranya tujuan, materi, media, metode, evaluasi, pendidik, dan peserta didik. Tujuan memiliki peran terpenting dimana pendidikan akan diarahkan. Pertimbangan dalam menentukan tujuan harus melibatkan peserta didik. Peserta didik sebagai subjek pendidikan memiliki peranan penting sebagaimana tujuan pendidikan. Peserta didik memiliki sejumlah karakteristik yang unik dan berbeda 69 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 68 - 78 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 sesuai usia dan tahapan perkembangannya. Hal ini merupakan fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah swt yang paling sempurna. Fitrah ini diartikan sebagai potensi yang harus dikembangkan sedemikian rupa agar terpenuhi hak-haknya dengan baik. Ada aspek fisik/jasmani, rohani, akhlak, akal, sosial, seni, dan keberagamaan yang dimiliki manusia. Sebab itu manusia juga dinamakan sebagai makhluk multidimensional yang berbeda dengan makhluk lainnya. Pendidikan Islam diberikan kepada peserta didik sedini mungkin. Di Indonesia sendiri pelajaran agama Islam diberikan dari jenjang PAUD hingga perguruan tinggi. Pada lembaga pendidikan anak usia dini dikenal dengan Nilai Agama dan Moral. Pada tingkatan Sekolah Dasar dinamakan dengan mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti. Jumlah jam mata pelajaran ini juga dilebihkan sesuai dengan tingkatan usia. Melihat dasar negara Indonesia Pancasila, pendidikan agama menjadi hal penting diberikan pada semua lembaga pendidikan. Pembentukan manusia yang utuh harus didasari dengan pendidikan agama yang kuat. Sehingga ada keterkaitan yang erat antara pengalaman keagamaan dengan aktivitas manusia. Kemampuan berpikir manusia akan berkembang sesuai dengan tingkat usia masing-masing. Peserta didik pada tingkat pra sekolah dalam kemampuan berpikirnya sangat berbeda dengan tingkatan berikutnya. Di jenjang pendidikan Sekolah Dasar saja dibedakan menjadi kelas rendah dan tinggi. Kelas rendah bagi siswa yang duduk di kelas 1, 2, dan 3. Adapun kelas 4, 5, dan 6 tergolong kelas tinggi. Klasifikasi tersebut berdasarkan bahwa aspek-aspek perkembangan peserta didik berbeda sehingga stimulasinya pun berbeda. Peserta didik pada kelas rendah dan kelas tinggi sekolah dasar mempunyai perbedaan. Walaupun keduanya dalam lingkup sekolah dasar akan tetapi perbedaanperbedaan tersebut harus diketahui guru sebagai pendidik. Masa transisi dari pembelajaran pra sekolah ke dalam pembelajaran usia sekolah sangat berbeda. Khususnya dalam pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Seperti disebutkan di atas pendekatan pembelajaran Islam dipengaruhi oleh kepercayaan yang bersifat abstrak. Dihubungkan dengan peserta didik usia prasekolah dan sekolah yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Maka penelitian ini diarahkan kepada karakteristik pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti pada kelas rendah jenjang Sekolah Dasar. METODOLOGI Penelitian ini adalah studi pustaka (library research) yang mengkaji berbagai sumber dari buku, jurnal, artikel, dan bahan bacaan lain. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada jenjang Sekolah Dasar pada kelas rendah. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembelajaran Pembelajaran dengan akar kata “belajar” yang artinya berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu (Kemendikbud, 2021). Secara istilah pembelajaran menurut Abdul 70 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 68 - 78 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 Majid dalam Umam adalah upaya untuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang melalui berbagai upaya, strategi, metode, dan pendekatan ke arah pencapaian tujuan yang direncanakan (Umam & Budiyati, 2020). Menurut Sisdiknas pembelajaran didefinisikan sebagai proses interaksi peserta didik dan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Indonesia, 2003). Pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa melalui kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode yang optimal untuk mencapai hasil yang diinginkan berdasarkan kondisi yang ada (Sutiah, 2003). Maka pembelajaran merupakan suatu proses membelajarkan peserta didik berorientasi kepada tujuan yang melibatkan interaksi dengan pendidik dan sumber belajar dimulai dari perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Pendidik haruslah mampu mendesain pembelajaran dengan sedemikian rupa yang memposisikan peserta didik sebagai subjek pembelajaran. Dalam implementasinya peserta didik berinteraksi dengan berbagai sumber belajar secara langsung agar pengalaman belajar terserap dan terinternalisasi dalam diri peserta didik. Dalam rangka menciptakan suasana belajar yang kondusif peserta didik harus terkondisikan agar mau belajar. Sebagai objek sasaran dalam pembelajaran peserta didik selalu diberikan stimulasi dalam bentuk motivasi. Motivasi bisa bersumber dari pendidik, orang tua, lingkungan, atau hal lainnya (Umam, 2020). Perlunya reinforcement positif dalam pembelajaran mempunyai pengaruh yang besar. Penguatan ini akan membangkitkan dan mempertahankan motivasi anak dalam belajar. Di samping itu, reinforcement dapat menumbuhkan respon positif bagi peserta didik. Bentuk dari penguatan positif dapat berupa kata-kata verbal seperti bagus, luar biasa, benar sekali, dan sebagainya. Selain itu bisa berupa fisik seperti tersenyum, menepuk bahu, tepuk tangan, memberi hadiah, dan sebagainya. Pembelajaran juga sebaiknya mengarahkan peserta didik kepada perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara efektif. Pembelajaran efektif adalah proses belajar mengajar yang bukan saja terfokus kepada hasil yang dicapai peserta didik, namun bagaimana proses pembelajaran mampu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan mutu serta dapat memberikan perubahan perilaku dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka (Fakhrurrazi, 2018). Pemahaman tentang pembelajaran tidaklah sama dengan pengajaran. Transfer of knowledge biasanya diistilahkan sebagai pengajaran yang berorientasi kepada mengisi otak dengan berbagai ilmu pengetahuan. Berbeda dengan pembelajaran yang orientasinya kepada perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Fokus pembelajaran memang lebih luas dan bermakna. Karena yang diharapkan adalah kondisi peserta didik menjadi lebih baik. Pembelajaran juga memposisikan peserta didik sebagai subjek dan objek belajar. Bukanlah guru yang menjadi pusat pembelajaran akan tetapi peserta didiklah yang menjadi pusat pembelajaran (student centered). Ada dua pendekatan melihat posisi guru dan siswa dalam pembelajaran yaitu teacher centered dan student centered (Sanjaya, 2013). Keduanya mempunyai perbedaan yang signifikan dan memiliki karakteristik masing-masing. Pembelajaran berpusat kepada guru (teacher centered) memposisikan guru sebagai subjek belajar. 71 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 68 - 78 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 Guru merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran tanpa melibatkan secara aktif siswa. Dalam hal ini, peserta didik hanya menerima ilmu secara pasif. Adapun pembelajaran berpusat kepada siswa ( student centered) memposisikan siswa sebagai subjek belajar. Sehingga siswa memperoleh ilmu dengan aktif. Dalam pendekatan kedua ini siswa diposisikan sebagai manusia dengan sejumlah karakteristik dan perbedaan individual. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Indonesia, 2003). Pengertian ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah proses yang dilakukan dengan sengaja sesuai dengan rencana yang diinginkan berdasarkan tujuan pendidikan. Proses tersebut dilakukan dalam bentuk pembelajaran yang memposisikan peserta didik sebagai subjek dan objek belajar. Sehingga dengan desain dan perencanaan yang matang peserta didik aktif dalam melaksanakan pembelajaran. Islam sebagai agama samawi yang diturunkan Allah swt kepada nabi Muhammad saw melalui perantara malaikat Jibril as yang mengajarkan tentang monoteisme beserta syariat yang melekat kepadanya. Dari segi bahasa saja Islam berarti tunduk, patuh, taat. Kemudian dikaitkan sebagai tunduk, patuh, taat, dan berserah diri kepada Allah swt dengan menjalankan segala perintah Nya dan meninggalkan segala larangan Nya. Sebagai kunci pertama dalam beragama Islam adalah percaya dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah swt tuhan yang berhak disembah dan hanya satu tidak mempunyai sekutu. Agama Islam sebagai agama yang memiliki nilai-nilai dasar universal perlu diinternalisasi dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Islam sebagai agama untuk seluruh manusia berimplikasi kepada pengertian bahwa agama tersebut berlaku tidak hanya untuk satu ummat di suatu tempat akan tetapi berlaku untuk seluruh umat manusia. Berdasarkan maksud tersebut maka agama Islam dapat diinternalisasikan dan diwariskan melalui jalur pendidikan. Pendidikan juga diartikan sebagai pewarisan tradisi, nilai-nilai, adat istiadat, dan sebagainya. Dengan adanya pendidikan diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada peserta didik atas keragaman budaya, adat istiadat yang berlaku di suatu tempat. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan keterampilan serta membentuk sikap dan kepribadian peserta didik dalam mengamalkan ajaran agama Islam (Faisal, 2014). Ada tiga sasaran utama dalam pembelajaran PAI dan Budi Pekerti yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Ketiga sasaran ini diberikan secara integratif yang saling berkontribusi satu dengan lainnya. Guru sebagai pendidik selayaknya tidak hanya memberikan pengetahuan saja yang berisi tentang materi pembelajaran atau ajaran-ajaran saja. Keterampilan melaksanakan ajaran Islam dalam bentuk ibadah harus dikuasai seorang muslim. Selanjutnya nilai-nilai ajaran Islam juga perlu diinternalisasikan peserta didik. Hal ini yang menjadi sikap dan karakter kepribadian peserta didik. 72 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 68 - 78 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 Sebagai mata pelajaran yang mencakup ajaran-ajaran agama, PAI dan Budi Pekerti berkontribusi menserasikan, menyelaraskan, dan menyeimbangkan antara iman, islam, dan ihsan. Hal ini diwujudkan dengan hubungan manusia dengan Allah swt, hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan lingkungan alam (Faisal, 2014). Kaitan antara iman, islam, dan ihsan seperti halnya segitiga sama sisi saling berkaitan satu sama lain setiap sudutnya. Sebagai kunci pertama dan utama adalah iman. Kepercayaan kepada Allah swt sebagai satu-satunya tuhan harus selalu dimiliki oleh setiap muslim. Konsekuensi dari kepercayaan tersebut adalah menjalankan semua apa yang diperintahkan Nya dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang Nya. Kewajiban selanjutnya berbuat baik secara horizontal dan vertikal. Mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt, berbudi pekerti yang luhur (berakhlak mulia), dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam, terutama sumber ajaran dan sendi-sendi Islam lainnya, sehingga dapat dijadikan bekal untuk mempelajari berbagai bidang ilmu atau mata pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh negatif yang mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran tersebut (Faisal, 2014). Ada tiga kompetensi utama dalam pembelajaran PAI dan Budi Pekerti yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dari ketiga kompetensi tersebut menjadi bekal peserta didik dalam pelaksanaan ajaran Islam pada kehidupan sehari-hari. Tantangan dan hambatan ajaran Islam pada zaman kontemporer ini kian kompleks. Adanya kecanggihan teknologi informasi komunikasi saat ini mempersempit dunia. Akulturasi budaya menjadi sebuah keniscayaan bahkan kemungkinan budaya yang sudah berakar akan tercerabut. Siapa saja bisa mengakses apapun dan kapanpun menggunakan teknologi informasi komunikasi. Di samping menjadi hal positif yang harus dihadapi generasi sekarang berbarengan juga hal-hal negatif. Sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperoleh peserta didik dari mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti menjadi bekal utama dalam menghadapi akulturasi budaya. Karakteristik Siswa Rendah Sekolah Dasar Peserta didik pada jenjang sekolah dasar diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu kelas rendah dan kelas tinggi. Peserta didik yang duduk di kelas 1-3 dengan umur enam hingga sembilan tahun termasuk dalam kategori kelas rendah. Usia ini merupakan usia peralihan dari prasekolah dengan sekolah awal. Adapun mereka yang duduk di kelas 4-6 dengan kisaran umur sembilan hingga tiga belas tahun tergolong di kelas tinggi. Mereka termasuk dalam masa peralihan dari anak-anak ke fase remaja awal. Peserta didik pada kelas rendah dan kelas tinggi mempunyai karakteristik berbeda sehingga guru ataupun pendidik harus mampu memberikan stimulasi atau pembelajaran yang berbeda pula. Siswa kelas rendah dilihat dari perkembangan keterampilan yang dimiliki adalah social help skills dan play skils (Daree & Fakhr, 2016). Dalam keterampilan social help skills fitrah sosial sudah muncul dengan kemampuannya membantu orang lain baik di lingkungan rumah, sekolah, ataupun tempat bermain. Orang tua atau guru sebaiknya melatih anak usia ini untuk membersihkan kamar tidurnya sendiri, mengambil sampah, 73 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 68 - 78 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 menyapu, merapikan bangku meja, dan sebagainya. Keterampilan ini mampu memberikan energi positif dalam bentuk perasaan harga diri dan kebermanfaatan untuk sesama sehingga muncul sikap suka bekerjasama. Adapun keterampilan play skills terkait dengan kemampuan motorik anak seperti melompat, melempar, menangkap, berlari, dan keseimbangan. Anak mampu melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting (Kawuryan, t.t). Perkembangan fisik anak usia ini mencapai kematangan. Anak mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Adapun perkembangan emosi pada usia ini mampu mengekspresikan reaksi terhadap orang lain seperti mengontrol emosi, mau berpisah dengan orang tua, mulai belajar tentang benar dan salah. Perkembangan kecerdasan ditunjukkan dengan kemampuan mengelompokkan obyek, melakukan serasi, banyak kosa kata, mulai berminat terhadap tulisan angka, aktif berbicara, dan telah mengetahui makna sebab dan akibat (Zulvira, Neviyarni, & Irdamurni, 2021). Dalam rangka beradaptasi dan interpretasi sesuatu dengan lingkungannya, anak mempunyai cara sendiri. Schemata merupakan struktur kognitif yang merupakan sebuah rangkaian sistem konsep berada di pikiran sebagai hasil dari pemahaman terhadap sebuah objek. Proses pemahaman suatu objek didapatkan dari hasil asimilasi dan akomodasi. Proses asimilasi merupakan proses yang menghubungkan konsep dengan objek yang ada di pikiran sedangkan proses akomodasi merupakan proses menafsirkan objek melalui konsep yang sudah ada dipikiran (Piaget, 1976). Proses kognitif ini melibatkan pengetahuan lama untuk membentuk pengetahuan baru. Dengan demikian lingkungan yang mendukung akan berpengaruh besar terhadap perkembangan kognitif anak kelas rendah. Menurut Piaget ada empat tahapan perkembangan kemampuan kognitif manusia sesuai dengan usia yaitu tahap sensori, tahap praoperasional, tahap operasi konkrit, dan tahap operasi formal (Marinda, 2020). Masing-masing tahapan mempunyai karakteristik berbeda. Usia masing-masing adalah tahap sensori terjadi pada usia 0-2 tahun; tahap praoperasional terjadi pada rentang 2-7 tahun; tahap operasional konkret terjadi pada usia 7-11 tahun; dan tahap operasional formal pada usia 11 tahun hingga dewasa. Peserta didik jenjang Sekolah Dasar termasuk dalam tahapan operasional konkret. Sudah semestinya perkembangan kognitifnya berbeda dengan tahapan sebelum ataupun sesudahnya. Siswa sekolah dasar tingkat rendah berada pada tahapan operasional konkret. Pada tahap ini siswa dapat berpikir secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang kongkret dan mengklasifikasikan benda-benda ke dalam bentuk yang berbeda-beda. Diantara perilaku belajar anak pada usia ini adalah 1) mulai memandang dunia secara objektif bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak; 2) mulai berpikir secara operasional; 3) menggunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda; 4) membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan 74 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 68 - 78 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 mempergunakan hubungan sebab akibat; 5) memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat (Kawuryan, t.t). Kemampuan siswa menurut teori Piaget di atas bahwa mereka dapat memahami sesuatu melalui pengamatannya secara konkret. Benda-benda yang menjadi objek belajar harus dapat diraba, dilihat, didengar, dicium, diotak-atik, dan seterusnya. Lingkungan belajar yang mendukung dapat membantu siswa dalam belajarnya. Pembelajaran yang kondusif mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif pula. Keadaan dan peristiwa sesungguhnya sangat membantu bagaimana siswa dapat belajar. Siswa belajar tentang batu sebaiknya dijelaskan dengan wujud batu aslinya sehingga memberikan pengalaman belajar sesungguhnya. Di samping pembelajaran yang konkret, siswa usia ini juga mempelajari sesuatu secara menyeluruh. Artinya bahwa sesuatu yang mereka pelajari harus berbasis topiktopik tertentu yang memuat banyak ilmu. Seperti halnya belajar tentang lingkungan sekitar rumah sudah tentu mempelajari tumbuhan/pohon, hewan, benda mati, tetangga, teman hingga siapa yang menciptakan mereka semua. Mereka akan kesulitan ketika pembelajaran berbasis disiplin keilmuan tertentu tanpa menyinggung disiplin ilmu lainnya. Siswa melihat dunia secara keseluruhan saling berkaitan satu dengan lainnya. Bertalian dengan pembelajaran yang konkret dan menyeluruh siswa kelas rendah juga harus dibelajarkan secara hierarkis. Mereka memahami sesuatu sesuai dengan urutan prosedural yang dimulai dari hal-hal sederhana ke hal yang lebih kompleks. Untuk mengenal tentang macam-macam ciptaan Allah swt haruslah dimulai dengan mengenalkan hal yang berada terdekat dengan mereka. Kemudian diperluas sedikit demi sedikit hingga memperoleh pemahaman yang baik tentang materi pembelajaran. Dengan demikian materi yang diberikan kepada siswa kelas rendah harus diperhatikan urutan logis, keterkaitan antar materi, cakupan keluasan dan kedalaman materi. Karakteristik Siswa Rendah Sekolah Dasar Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang benar-benar membelajarkan peserta didik sebagai subjek dan objek pembelajaran. Pendidik atau guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran harus memperhatikan keadaan peserta didik dengan baik. Karakteristik yang melekat pada peserta didik meliputi usia, bakat, minat, kecerdasan kognitif, gaya belajar dan sebagainya menjadi hal penting bagi seorang pendidik. Implikasi dari hal tersebut bahwa guru harus kreatif mengembangkan pembelajarannya terkait dengan metode, media, motivasi, dan seterusnya. Ketidaksesuaian pembelajaran yang dilakukan guru dengan karakteristik peserta didik menjadi penghalang utama dalam kesuksesan pembelajaran. Materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti mempunyai karakteristik tertentu yang perlu disesuaikan dengan peserta didik. Materi pokok PAI terkait dengan Qur’an Hadits, Akidah, Akhlak, Fiqh, dan Sejarah Peradaban Islam. Masingmasing materi tersebut bersifat given sebagai ajaran-ajaran yang dalam beberapa hal tidak bisa dirubah-rubah. Berdasarkan pembahasan di atas pokok-pokok ajaran agama Islam bersifat imani yang hanya diyakini kebenarannya. Berbeda dengan mata pelajaran lainnya yang sebagian besar dapat dibuktikan dengan pembuktian ilmiah. Maka hal yang 75 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 68 - 78 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 perlu dilakukan guru adalah mengemas pembelajaran sedemikian rupa agar peserta didik mampu menyerap materi pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Peserta didik pada kelas rendah jenjang sekolah dasar belajar melalui bendabenda konkret. Artinya pembelajaran yang dilaksanakan menggunakan objek yang dapat diraba, dilihat, didengar, atau diamati. Berikut ini disajikan Kompetensi Dasar (KD) sebagai contoh. Tabel 1. KD PAI BP “Kasih Sayang” Kelas 1 Nomor KD KD 1.17 KD 2.17 KD 3.17 KD 4.17 Kompetensi Dasar Meyakini kebenaran kisah Nabi Muhammad saw. Menunjukkan sikap jujur dan kasih sayang sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Muhammad saw. Memahami kisah keteladanan Nabi Muhammad saw. Menceritakan kisah keteladanan Nabi Muhammad saw. Melihat KD di atas materi pembelajaran terkait dengan kisah keteladanan nabi Muhammad saw. Pembahasan tentang kisah keteladanan beliau sangatlah umum sehingga dipertegas sifat yang ingin ditunjukkan dalam kisah adalah jujur dan kasih sayang yang tampak pada KD 2.17. Kemudian untuk menyajikan materi tentang jujur dan kasih sayang pada kisah keteladanan nabi Muhammad saw sebaiknya menggunakan media pembelajaran yang konkret seperti gambar, vidio, cerita, dan sebagainya. Jika medianya gambar maka carilah gambar sesuai yang disukai anak-anak. Seperti gambar tentang seorang anak yang menangis dan dihibur oleh temannya atau gambar tentang anak yang sakit dijenguk oleh temannya. Dari gambar tersebut guru menjelaskan gambar melalui metode diskusi menggunakan kata tanya apa, siapa, mengapa, bagaimana, kapan, dan seterusnya. Kemudian dari gambar tersebut dihubungkan dengan kisah keteladanan nabi Muhammad saw sehingga materi pembelajaran memenuhi KD. Di samping melalui objek yang konkret, pembelajaran juga dilakukan secara integratif. Artinya peserta didik kelas rendah melihat suatu hal secara utuh. Pada mata pelajaran PAI mereka belum mampu membedakan Qur’an Hadits, Akidah, Akhlak, Fiqh, dan Sejarah Peradaban Islam. Perhatikan KD berikut ini. Tabel 2. KD PAI BP “Bersih Itu Sehat” Kelas 1 Nomor KD KD 1.11 KD 2.11 KD 3.11 KD 4.11 Kompetensi Dasar Terbiasa bersuci sebelum beribadah Menunjukkan perilaku bersih badan, pakaian, barangbarang, dan tempat sebagai implementasi dari pemahaman makna bersuci Memahami tata cara bersuci Mempraktikkan tata cara bersuci Mencermati KD di atas diketahui materi pembelajaran terkait dengan Fiqh tentang bersuci. Pembelajaran diawali dengan hal-hal konkret yang dapat diamati seperti gambar orang berwudlu, membersihkan kotoran, dan sebagainya. Materi pembelajaran 76 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 68 - 78 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 disajikan dalam tema “Bersih itu Sehat” yang meliputi arti bersuci, macam-macam bersuci, tata cara bersuci, hidup bersih. Materi pembelajaran ini juga mencakup dasar hukum (Qur’an Hadits), meyakini adanya Allah swt yang menyukai kebersihan (Akidah), menjaga kebersihan badan, pakaian, peralatan sehari-hari, tempat-tempat (Akhlak). Pembelajaran peserta didik kelas rendah juga sebaiknya disajikan secara hierarkis. Mereka belajar sesuatu dimulai dari hal-hal sederhana menuju hal-hal kompleks. Perhatikan KD berikut ini. Tabel 3. KD PAI BP “Cinta Nabi dan Rasul” Kelas 1 Nomor KD KD 1.13 KD 2.13 KD 3.13 KD 4.13 Kompetensi Dasar Meyakini kebenaran kisah Nabi Ādam a.s. Menunjukkan sikap pemaaf sebagai implementasi dari pemahaman kisah keteladanan Nabi Ādam a.s. Memahami kisah keteladanan Nabi Ādam a.s Menceritakan kisah keteladanan Nabi Ādam a.s. Melihat Kompetensi Dasar ini mencerminkan materi pembelajaran terkait dengan kisah nabi Adam a.s. Melihat kisah keteladanan dapat diketahui adanya hal yang difokuskan yaitu sifat pemaaf. Hal ini dapat dilihat dari sikap sosial KD 2.13 yaitu “menunjukkan sikap pemaaf”. Pembelajaran diawali dengan sesuatu yang dapat diamati dalam bentuk gambar, video, nyanyian, cerita, dan sebagainya. Apabila dalam bentuk gambar dapat mengaitkan dengan “orang meminta maaf dengan berjabat tangan”. Jika nyanyian dapat terkait dengan sifat-sifat rasul. Adapun pembelajaran yang bersifat integral, guru dapat mengaitkan dengan seseorang terdekat peserta didik seperti orang tua, kakak, teman, dan seterusnya. Guru menjelaskan tentang bagaimana mereka berinteraksi dengan peserta didik. Sikap pemaaf yang mereka miliki kepada diri peserta didik. Kemudian dikaitkan dengan kisah keteladanan nabi Adam a.s. dengan sifat pemaafnya. KESIMPULAN Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti sebagai mata pelajaran wajib pada jenjang sekolah dasar. Mata pelajaran ini bertujuan memberikan kemampuan sikap, pengetahuan, keterampilan dalam melaksanakan ajaran agama Islam. Ajaran agama Islam bersumber kepada al-Qur’an dan Hadits yang keduanya bersifat imani. Kepercayaan atas ajaran Islam menjadi hal penting karena berkaitan dengan pelaksanaannya. Ajaran Islam harus diberikan kepada anak sedini mungkin. Peserta didik jenjang SD kelas rendah mempunyai karakteristik berbeda dengan kelas di atasnya. Mereka masih tergolong masa anak usia dini peralihan dari usia pra sekolah ke sekolah awal. Secara teoritis peserta didik jenjang SD kelas rendah mampu memahami sesuatu dari hal konkret ke abstrak. Pembelajaran PAI dan Budi Pekerti hendaknya dimulai dari hal yang dapat mereka lihat, amati, raba, dengar, dan seterusnya. Pembelajaran ajaran Islam yang bersifat imani harus dibelajarkan mulai dari hal-hal yang tampak di sekitar mereka untuk dapat memahami ajaran Islam tersebut. Selain itu pembelajaran dilakukan secara integral tidak terpisah-pisah menjadi beberapa mata pelajaran rumpun PAI. 77 | Progressive of Cognitive and Ability Hal. 68 - 78 Vol. 1, No. 2, Oktober 2022 e-ISSN: 2962-1631 p-ISSN: 2961-9912 DAFTAR PUSTAKA Daree, M., & Fakhr, M. (2016). Comparison of social skills between students in ordinary and talented schools. Selection & Peer-review under responsibility of the Conference Organization Committee (p. 7). European: ICEEPSY. Faisal. (2014). Pedoman Guru Mata Pelajaran PAI dan Budi Pekerti SD/MI. Jakarta: Kemendikbud. Fakhrurrazi. (2018). Hakikat Pembelajaran Yang Efektif. At-Tafkir, 87. Indonesia, R. (2003). Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Indonesia. Kawuryan, S. P. (t.t). Karakteristik Siswa SD Kelas Rendah dan Pembelajarannya. PPSD UNY, 2. Kemendikbud. (2021, 11 02). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Retrieved from KBBI Daring: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/belajar Marinda, L. (2020). Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget dan Problematikanya Pada Anak Usia Sekolah Dasar. PSGA LP2M IAIN Jember, 124. Piaget, J. (1976). Piaget's Theory. Piaget and His School, 11-23. Sanjaya, W. (2013). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media. Sutiah. (2003). Buku Ajar Teori Belajar dan Pembelajaran. Malang: Universitas Negeri Malang. Umam, N., & Budiyati, U. (2020). Pembelajaran Bahasa Arab Anak Usia Dini Berbasis Nilai-Nilai Karakter. Warna, 48. Zulvira, R., Neviyarni, & Irdamurni. (2021). Karakteristik Siswa Kelas Rendah Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Tambusai, 1848. BIOGRAFI PENULIS Nasrul Umam 78 | Progressive of Cognitive and Ability Dosen UNUGHA Cilacap, nasrulumam@unugha.id Hal. 68 - 78