Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) Studi Deskriptif Burnout Pada Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi di Universitas Harapan Bangsa Sofia Nanda Arista* . Asmat Burhan2 . Rahmaya Nova Habdayani Universitas Harapan Bangsa Purwokerto sofianandaaristaa@gmail. com/082228546121 ABSTRAK Burnout merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi dimana seseorang merasa stres dan mengalami kelelahan, baik secara emosional maupun secara fisik. Burnout dapat menyebabkan absensi yang lebih tinggi pada mahasiswa, motivasi yang lebih rendah untuk mengerjakan tugas, serta persentase drop out yang meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran burnout pada mahasiswa keperawatan anestesiologi di Universitas Harapan Bangsa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian di Universitas Harapan Bangsa. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner MBI-SS. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random Besar sampel yaitu 266 responden. Analisa data yang digunakan adalah analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia 18-20 tahun . ,3%), berjenis kelamin perempuan . ,5%), serta jumlah responden semester 2 sebanyak 70 orang . ,3%), semester 4 sebanyak 82 orang . ,8%), semester 6 sebanyak 60 orang . ,6%), dan semester 8 sebanyak 54 orang . ,3%). Mayoritas responden mengalami burnout tingkat sedang . ,3%). Berdasarkan karakteristik responden, mayoritas mengalami burnout sedang pada rentang usia 18-20 tahun . ,1%). Berdasarkan jenis kelamin, perempuan memiliki persentase burnout lebih tinggi dari pada laki-laki dengan persentase 26,3% burnout ringan,38% burnout sedang, dan 4,5% burnout berat. Berdasarkan tingkat semester, mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi semester 2,4,6, dan 8 mengalami burnout tingkat sedang dengan persentase tertinggi berada pada mahasiswa semester 2 yaitu sebesar 15,8%. Mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi mengalami burnout tingkat sedang. Kata Kunci: burnout. keperawatan anestesiologi ABSTRACT Burnout is a term used to describe a condition where a person feels stressed and exhausted, both emotionally and physically. Burnout can cause higher absenteeism in students, lower motivation to do assignments, and an increased percentage of dropouts. This study aims to determine the description of burnout in anesthesiology nursing students at Harapan Bangsa University. This study used a quantitative descriptive method. The research location is at Harapan Bangsa University. The research instrument used the MBI-SS questionnaire. The sampling technique used stratified random sampling. The sample size was 266 respondents. Data analysis used is univariate analysis using frequency distribution and percentage. The results showed that the majority of respondents were 18 -20 years old . 3%), female . 5%), and the number of respondents in semester 2 was 70 people . 3%), semester 4 was 82 people . 8%), semester 6 was 60 people . 6%), and semester 8 was 54 people . 3%). The majority of respondents experienced moderate burnout . 3%). Based on the characteristics of the respondents, the majority experienced moderate burnout in the age range of 18-20 years . 1%), based on gender, women have a higher percentage of burnout than men with a percentage of 26. 3% mild burnout, 38% moderate burnout, 5% severe burnout. Based on semester level, the majority of anesthesiology nursing students in semesters 2, 4, 6, and 8 experienced moderate burnout with the highest percentage being in semester 2 students at 15. The majority of students of anesthesiology nursing experience moderate burnout. Keywords: : Keywords: anesthesiology nursing. PENDAHULUAN Manusia tidak hanya memiliki raga, namun juga memiliki jiwa. Tidak hanya kesehatan fisik Vol. 10 No. 1 Juni 2025 saja yang harus dijaga, akan tetapi kesehatan mental pun juga penting untuk dirawat. Keterlibatan jangka panjang dalam situasi yang menuntut secara emosional dapat menyebabkan Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) kondisi tubuh seseorang mengalami kelelahan baik secara fisik maupun mental yang merujuk pada terjadinya burnout (Arroisi & Afifah. Menurut konseptualisasi Maslach. Burnout adalah sindrom psikologis yang muncul sebagai respon berkepanjangan terhadap stresor interpersonal kronis akibat beban kerja atau tugas yang berlebih. Terdapat tiga kunci utama burnout, diantaranya pertama adalah kelelahan emosional . mengacu pada perasaan emosional yang berlebihan dan terkurasnya sumber daya emosional seseorang. Kedua, sinisme mengacu pada respons negatif, tidak berperasaan, atau terlalu terpisah terhadap orang lain, yang sering kali mencakup hilangnya idealisme. Ketiga ialah menurunnya pencapaian akademik mengacu pada penurunan perasaan kompetensi dan produktivitas (Maslach & Leiter, 2. Burnout dapat dialami oleh siapa saja, tidak terkecuali pada mahasiswa dan ahli Berdasarkan dilakukan oleh Suha . , bahwa mayoritas mahasiswa fakultas kesehatan mengalami burnout tingkat sedang dengan tingkat prevalensi mencapai . ,7%). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Afonso et al . , menyatakan bahwa prevalensi burnout di kalangan ahli anestesi cukup tinggi yaitu sebesar 59% atau sekitar 2. 307 dari 3. 898 ahli anestesi mengalami burnout. Menurut Fuady et al . , beberapa faktor yang dapat Berdasarkan faktor demografi meliputi usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan atau tingkat semester. Beberapa argumen yang menyatakan bahwa burnout seringkali terjadi dikalangan perempuan. Menurut Maslach & Leiter . , menyatakan bahwa seseorang yang lebih muda memiliki tingkat burnout yang lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang berusia 30-40 tahun. Pada studi yang dilakukan oleh Nur Budiono et al . , berkontribusi sebesar 10,4 % terhadap munculnya perilaku burnout, artinya semakin tinggi semester mahasiswa maka tingkat burnout yang terjadi akan semakin tinggi. Tuntutan akademik dapat menimbulkan konsekuensi negatif berupa terciptanya stres yang besar bagi mahasiswa karena mereka akan cenderung menuntut diri mereka sendiri dengan standar yang tinggi untuk berhasil secara akademis (Morcos & Awan, 2. Pada studi Vol. 10 No. 1 Juni 2025 yang dilakukan oleh (Damayanti et al. , 2. menunjukkan bahwa stres akademik tidak hanya dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri individu saja . , tetapi juga dapat dipengaruhi oleh faktor dari luar . Faktor internal terdiri dari self efficacy, hardiness, dan motivasi. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari dukungan Stres akademik menimbulkan dampak pada aspek fisiologi, aspek perilaku, aspek emosi hingga merujuk pada terjadinya academic burnout (Yusriyyah et al. , 2. Realitasnya, sepanjang menempuh perkuliahan mahasiswa akan mengalami banyak stresor serta tekanan seperti tuntutan akademik, sulit menyesuaikan diri dengan area klinik, percaya diri rendah, merasa tidak kompeten, serta khawatir melaksanakan kesalahan saat melaksanakan Banyaknya metode serta beratnya tuntutan akademik yang dialami mahasiswa menyebabkan mahasiswa fakultas kesehatan mengalami keletihan baik raga, mental, maupun emosi yang merujuk pada burnout (Suha, 2. Burnout dapat menyebabkan absensi yang lebih tinggi pada mahasiswa, motivasi yang lebih rendah untuk mengerjakan tugas, persentase drop out yang meningkat dan lain sebagainya. Burnout juga dapat menyebabkan mental distress dengan gejala yang muncul seperti kecemasan, depresi, frustasi, permusuhan dan ketakutan (Morcos & Awan, 2. Burnout yang dialami oleh ahli anestesi dan mahasiswa relatif tinggi. Selain itu, sejauh studi literatur yang telah sebelumnya yang membahas mengenai burnout pada mahasiswa keperawatan anestesiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran burnout pada mahasiswa keperawatan anestesiologi di Universitas Harapan Bangsa METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Universitas Harapan Bangsa dan pengambilan data dilakukan pada bulan Juni 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif keperawatan anestesiologi di Universitas Harapan Bangsa sebanyak 797 responden yang terdiri dari mahasiswa keperawatan anestesiologi semester 2, 4, 6 dan 8. Metode pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling sebanyak 266 responden. Penelitian ini menjaga etika penelitian dengan adanya informed consent sebelum mengisi kuesioner, menjaga kerahasiaan Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) semua informasi yang diberikan oleh responden yang sebelumnya telah diminta responden dan tidak menuliskan nama kesediaannya untuk mengisi lembar inform responden melainkan menuliskan kode dan consent sebagai tanda bersedia menjadi hanya menggunakan data serta hasil riset untuk responden penelitian. Analisa data yang kepentingan penelitian. Peneliti juga telah digunakan adalah analisa univariat dengan memiliki surat izin etik penelitian dengan bantuan program komputer. Analisis univariat nomor surat B. LPPM-UHB/416-05/2024. dilakukan terhadap karakteristik responden yang Instrumen yang digunakan untuk melihat meliputi usia, jenis kelamin, dan tingkat semester tingkatan burnout ialah Maslach Burnout dengan gambaran burnout yang dikelompokkan Inventory-Student Survey (MBI-SS) yang menjadi tidak burnout, burnout ringan, burnout diadopsi dari Laili . serta sudah sedang, burnout berat pada mahasiswa dilakukan uji validitas serta reliabilitas keperawatan anestesiologi di Universitas sebelumnya dengan tingkatan reliabilitas Harapan Bangsa. Data penelitian yang didapatkan 0,895. Terdapat 24 pernyataan yang terdiri dari akan dikelola dengan bantuan software SPSS. pernyataan favourable dan unfavourable serta Hasil penelitian dipaparkan dalam bentuk tabel tujuh item pilihan jawaban dengan model distribusi frekuensi serta persentase. rating scale menggunakan skala nilai 0-6. Skala yang digunakan yaitu: 0 . idak perna. , 1 3 HASIL eberapa kali dalam setahun atau kuran. , 2 Hasil penelitian yang telah diuraikan dan . atu kali dalam sebulan atau kuran. , 3 secara sistematis merupakan hasil data . eberapa kali dalam sebula. , 4 . atu kali tentang gambaran burnout pada dalam semingg. , 5 . eberapa kali dalam keperawatan anestesiologi di semingg. , 6 . etiap har. Perhitungan burnout Universitas Harapan Bangsa. Pada pembahasan berdasarkan skor total burnout adalah 0 - 144 ini terdiri dari tiga bagian yaitu pembahasan yang dikelompokkan menjadi 0 = tidak mengenai hasil dari gambaran karakteristik burnout, 1-48 = burnout ringan, 49-96 = responden, gambaran burnout pada mahasiswa burnout sedang, dan 97-144 = burnout berat. keperawatan anestesiologi di Universitas Semakin rendah skor yang Harapan Bangsa, dan gambaran burnout menunjukkan semakin ringan tingkat burnout berdasarkan karakteristik responden. yang dialami mahasiswa, begitu juga Kuesioner disebarkan dalam bentuk kuesioner online menggunakan Google form. Kuesioner online disebarkan langsung kepada Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristi Responden. Variabel Usia Jenis Kelamin Tingkat Semester Kategori . >23 tahun Total Laki-laki Perempuan 185 Total Semester 2 70 Semester 4 82 Semester 6 60 Semester 8 54 Total Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa mayoritas responden berada pada rentang usia 18-20 tahun yaitu sebanyak 155 mahasiswa . ,3%). Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) yaitu sebanyak 185 mahasiswa . ,5%). Berdasarkan tingkat semester, responden paling banyak adalah mahasiswa semester 4 sejumlah 82 mahasiswa . ,8%). Tabel 2. Distribusi frekuensi berdasarkan skor total burnout . Kategori Frekuensi . Persentase % Tidak Burnout Burnout Ringan Burnout Sedang Burnout Berat Total Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi mengalami burnout tingkat sedang sebesar 55,3%. Pada kategori tidak burnout sebesar 1,5%, pada kategori burnout ringan sebesar 38,0%, serta pada kategori burnout berat sebesar 5,3%. Tabel 3. Gambaran burnout berdasarkan usia responden . Usia Tingkat Total >23 Burnout Tidak Burnout Burnout Ringan 14,7 1 0,4 Burnout Sedang 24,1 3 1,1 Burnout Berat 40,2 4 1,5 Total Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa berdasarkan rentang usia, mayoritas mahasiswa mengalami burnout sedang dengan tingkat persentase tertinggi berada pada rentang usia 18-20 tahun sebesar 30,1%. Tabel 4. Gambaran burnout berdasarkan jenis kelamin responden . Jenis Kelamin Tingkat Laki-Laki Perempuan Total Burnout Tidak Burnout Burnout Ringan Burnout Sedang Burnout Berat Total Berdasarkan tabel 4, jenis kelamin perempuan memiliki persentase burnout lebih tinggi dari pada laki-laki yaitu sebesar 26,3% burnout ringan, 38% burnout sedang, dan 4,5% burnout Laki-laki dan perempuan memiliki persentase yang seimbang pada kategori tidak burnout sebesar 0,8%. Tabel 5. Gambaran burnout berdasarkan tingkat semester . Tingkat Semester Tingkat Burnout Semester 2 Semester 4 Semester 6 Semester 8 Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Total Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) Tidak Burnout Burnout Ringan Burnout Sedang Burnout Berat Total Berdasarkan tabel 5, didapatkan data bahwa mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi semester 2, 4, 6, dan 8 mengalami burnout tingkat sedang dengan persentase tertinggi berada pada mahasiswa semester 2 yaitu sebesar 15,8%. 4 PEMBAHASAN GAMBARAN RESPONDEN KARAKTERISTIK Hasil penelitian pada tabel 1 keperawatan anestesiologi di Universitas Harapan Bangsa mayoritas berusia 18-20 Usia diartikan sebagai rentang kehidupan yang diukur berdasarkan tahun sejak dilahirkan. Penelitian yang dilakukan Ruby et al . , selaras dengan hasil penelitian ini yang menyatakan bahwa mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi berada pada rentang usia 18-20 tahun. Usia ini tergolong ke dalam remaja akhir yang karakteristik yaitu mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dengan menunjukkan pemikiran, sikap, perilaku yang semakin dewasa serta memiliki emosi yang mulai stabil (Ramadhani & Khofifah, 2. Pada tabel 1 hasil penelitian menunjukkan mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi di Universitas Harapan Bangsa berjenis kelamin Hasil penelitian tersebut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Handayani & Purnamasari . , yang menyatakan bahwa jumlah mahasiswa perempuan . ,5%) lebih banyak dari pada mahasiswa laki-laki . ,5%). Penelitian yang dilakukan Ruby et al . , menyebutkan bahwa mahasiswa keperawatan anestesiologi lebih banyak didominasi oleh perempuan ketekunan, semangat berkompetisi, serta motivasi belajar yang lebih tinggi laki-laki. Vol. 10 No. 1 Juni 2025 Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sanfania et al . , menunjukkan bahwa profesi penata anestesi lebih cocok berjenis kelamin laki-laki karena profesi tersebut membutuhkan keputusan yang cepat, tanggung jawab yang besar, dan jam kerja yang tidak teratur yang seringkali dianggap lebih cocok untuk laki-laki daripada perempuan. Akan tetapi, dalam penelitian yang dilakukan oleh Suharti et al . , menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara seorang penata anestesi laki-laki dan perempuan dalam melakukan tindakan pre, intra, dan pasca anestesi selama mereka memenuhi standar kompetensi. Hasil penelitian tabel 1 menunjukkan bahwa responden paling banyak berasal dari mahasiswa semester 4 sejumlah. Penelitian ini didukung oleh penelitian Patimah et al . , yang menyatakan bahwa partisipan dalam penelitian mayoritas merupakan mahasiswa semester awal perkuliahan. Semester perkuliahan lebih banyak berpartisipasi didalam penelitian disebabkan oleh rasa ingin tahu yang tinggi yang akan menimbulkan rasa keingintahuan terhadap sesuatu dan ingin mendapatkan suatu informasi (Nadia et al. , 2. GAMBARAN BURNOUT PADA MAHASISWA KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI Gambaran berdasarkan skor total. Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi di Universitas Harapan Bangsa mengalami burnout tingkat sedang. Tingkat burnout dilihat berdasarkan jumlah skor total semua Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) pernyataan yang dikategorikan 0 . idak burnou. , 1-48 . unout ringa. , 49-96 . urnout sedan. , 97-144 . urnout Penelitian ini sejalan dengan penelitian Alimah et al . yang menyatakan bahwa mayoritas mahasiswa fakultas kesehatan mengalami burnout tingkat sedang. Penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Suha . , yang menyatakan bahwa mayoritas mahasiswa fakultas kesehatan mengalami burnout sedang. Menurut Maslach dalam Arroisi & Afifah . , burnout mengacu pada perasaan kelelahan emosional yang berlebihan dan terkurasnya sumber daya emosional Burnout juga mengacu pada respons negatif berupa hilangnya kepedulian, atau terlalu terpisah terhadap orang lain, yang sering kali mencakup hilangnya idealisme. Selain itu burnout pencapaian prestasi akademik mengacu pada penurunan perasaan kompetensi dan Jika dilihat berdasarkan kuesioner, burnout dapat terjadi karena mahasiswa merasa lelah menjalani rutinitas dalam perkuliahan seperti merasa kurang bersemangat dalam mengerjakan tugas, merasa jenuh menjalani perkuliahan, serta merasa tidak memiliki energi yang cukup untuk mengikuti perkuliahan. Selain itu, burnout juga ditandai dengan perkuliahan, tidak menemukan hikmah dari tugas yang diberikan, serta kurangnya minat yang ada didalam Menurunnya pencapaian prestasi akademik ditandai dengan mahasiswa merasa gagal sehingga kompentensi yang dimiliki dalam perkuliahan menurun. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Syafira et al . , yang menyatakan bahwa akademik mengacu pada perasaan produktivitas, dan keberhasilan individu. Penelitian yang dilakukan oleh Morcos & Awan . , menyatakan bahwa tuntutan berupa terciptanya stres yang besar bagi mahasiswa karena mereka akan Vol. 10 No. 1 Juni 2025 cenderung menuntut diri mereka sendiri dengan standar yang tinggi untuk berhasil secara akademis. Banyaknya metode serta beratnya tuntutan akademik yang dialami mahasiswa menyebabkan mahasiswa mengalami keletihan baik raga, mental, maupun emosi yang merujuk pada burnout (Suha, 2. Berdasarkan uraian diatas peneliti berpendapat bahwa mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi mengalami burnout tingkat sedang karena disebabkan oleh beberapa faktor seperti beban tugas yang berat, jadwal perkuliahan yang padat, serta tuntutan akademik yang Kurikulum pada program studi keperawatan anestesiologi juga didominasi praktek klinis di rumah sakit sehingga hal tersebut dapat menguras energi serta timbulnya stres karena adanya tekanan untuk memenuhi persyaratan akademik yang ketat. Pada tabel 2 juga menunjukkan adanya beberapa mahasiswa yang mengalami burnout ringan, burnout berat, serta terdapat 4 . ,5%) mahasiswa yang tidak Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat burnout antara lain dukungan sosial dan self Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Adawiyah & Blikololong, 2. , menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial dengan tingkat burnout. Artinya, semakin kurangnya dukungan sosial maka akan menyebabkan mahasiswa mengalami tingkat burnout yang lebih Self efficacy juga berpengaruh terhadap tingkat burnout yang terjadi. Self efficacy mengacu pada keyakinan mahasiswa dalam melaksanakan tugas Mahasiswa dengan self efficacy yang tinggi ketika menghadapi masalah akademik tidak akan mudah menyerah dan mencoba untuk menemukan solusi yang tepat untuk memecahkan masalah (Orpina & Prahara, 2. Penelitian yang Biremanoe . menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif antara self efficacy dengan tingkat burnout, artinya semakin tinggi self efficacy mahasiswa maka rendah tingkat sebaliknya semakin rendah self efficacy mahasiswa maka semakin tinggi tingkat Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) burnout yang terjadi. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti keperawatan anestesiologi yang tidak burnout atau mengalami gejala burnout ringan merupakan seseorang yang memiliki self efficacy yang tinggi serta mendapatkan dukungan sosial yang cukup dari lingkungan sekitarnya. Sementara itu, mahasiswa keperawatan anestesiologi yang mengalami burnout berat merupakan mahasiswa yang memiliki tingkat self efficacy yang rendah, serta kurang mendapatkan dukungan sosial dari teman, keluarga,dan orang-orang sekitarnya. GAMBARAN BURNOUT BERDASARKAN KARAKTERISTIK PADA MAHASISWA KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI Hasil tabel 3 menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa mengalami burnout sedang dengan tingkat persentase tertinggi berada pada rentang usia 18-20 tahun. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Muhtar . , menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa usia 17Ae21 tahun mengalami burnout tingkat sedang sebanyak 60,4%. Berdasarkan keseluruhan mahasiswa berada dalam tahap usia yang sama, yaitu dewasa awal. Usia dewasa awal dalam rentang usia 18-40 tahun (Putri, 2. Selaras dengan konseptualisasi Maslach & Leiter . , yang menyatakan bahwa seseorang yang lebih muda memiliki tingkat burnout yang lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang berusia 30-40 tahun. Hal tersebut dapat terjadi karena usia dewasa mempunyai kemampuan kognitif yang lebih matang dibandingkan dengan usia yang lebih muda, sehingga mampu mengendalikan dirinya terhadap stressorstressor, termasuk burnout yang dirasakan (Harlia , 2. Berdasarakan uraian diatas, peneliti berpendapat bahwa mahasiswa keperawatan anestesiologi yang berada pada rentang usia 18-20 tahun cenderung lebih rentan mengalami burnout karena kurangnya keterampilan dalam tingkat kematangan Vol. 10 No. 1 Juni 2025 mengalami kesulitan dalam mengelola emosi mereka sendiri sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya burnout. Selain itu mahasiswa keperawatan anestesiologi yang berusia lebih muda cenderung belum memiliki pengalaman yang cukup untuk mengelola stres atau mengatasi tantangan yang kompleks. Hasil yang didapatkan pada tabel 4 menunjukkan perempuan memiliki persentase burnout lebih tinggi dari pada laki-laki. Hasil penelitian tersebut selaras dengan penelitian Suha . yang menyatakan bahwa mahasiswa kesehatan yang berjenis kelamin perempuan mengalami burnout sedang lebih banyak dibandingkan dengan yang berjenis kelamin laki-laki dengan tingkat persentase sebesar 93,8%. Hal tersebut berbanding terbalik dengan Alimah et al . , yang menyatakan bahwa persentase laki-laki mengalami burnout sedang lebih tinggi dari pada perempuan yaitu sebesar 63,3%. Mahasiswa dengan jenis kelamin perempuan lebih mudah merasakan stres saat mendapatkan tantangan atau dibandingkan dengan mahasiswa laki-laki (Muhtar, 2. Berdasarkan teori Maslach & Leiter . seorang wanita akan mengalami level burnout lebih tinggi daripada laki-laki karena wanita lebih sering merasakan kelelahan emosional . Hal tersebut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Aulia & Rita . yang menyatakan bahwa laki-laki lebih rasional dan cenderung menggunakan logika Sedangkan terpengaruh dan lebih sering menggunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu (Cooper et al. , 2. Berdasarkan uraian diatas, peneliti berasumsi bahwa memiliki persentase burnout lebih tinggi dari pada laki-laki karena terdapat cara yang menyelesaikan masalah antara laki-laki dan Selain itu, peneliti berpendapat bahwa hal tersebut dapat terjadi karena adanya perbedaan jumlah yang signifikan antara mahasiswa laki-laki dan perempuan yang menempuh perkuliahan di Universitas Harapan Bangsa. Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) Berdasarkan tabel 5 didapatkan data bahwa mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi semester 2,4,6, dan 8 mengalami burnout tingkat sedang dengan persentase tertinggi berada pada mahasiswa semester 2 yaitu sebesar 15,8%. Hasil penelitian tersebut selaras dengan penelitian Masitoh et al . , yang menyatakan bahwa mahasiswa semester 2 memiliki persentase burnout lebih tinggi . ,2%) dibandingkan dengan angkatan lainnya karena mahasiswa semester 2 masih dalam proses penyesuaian diri dikampus. Hal tersebut juga didukung oleh penelitian Suha . , yang menyatakan bahwa persentase burnout sedang juga banyak dialami responden angkatan lebih muda dimana mereka adalah mahasiswa yang baru menyelesaikan tahun pertama sebagai Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nur Budiono et al . , menyatakan bahwa mahasiswa tahun kedua dan ketiga lebih beresiko mengalami burnout karena adanya peningkatan beban akademik dari pada tahun pertama. Beban akademik pada seorang mahasiswa seperti halnya ketika jadwal perkuliahan yang padat, tugas yang menumpuk, serta singkatnya waktu yang diberikan untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut. Beban kerja atau tugas memiliki hubungan langsung dengan terjadinya burnout (Fuady et al. , 2. Penelitian lain yang dilakukan oleh Rajfalni Amarsa et al . , menyatakan bahwa tingkat burnout tertinggi lebih banyak dialami oleh mahasiswa semester 8 karena mereka fokus pada tugas akhir atau skripsi yang memerlukan banyak waktu, riset dan dedikasi. Penelitian yang dilakukan oleh Nur Budiono et al . , menyatakan bahwa tingkat semester berkontribusi sebesar 10,4 % terhadap munculnya perilaku burnout, artinya semakin tinggi semester mahasiswa maka tingkat burnout yang terjadi akan semakin Beberapa pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan hasil penelitian ini yang menyatakan persentase burnout tertinggi berada mahasiswa semester 2. Peneliti berpendapat bahwa semua mahasiswa semester 2, 4, 6, dan 8 memiliki tantangan yang berbeda dalam dunia perkuliahan. Mahasiswa semester awal sering kali lebih Vol. 10 No. 1 Juni 2025 rentan mengalami burnout karena mereka menghadapi transisi kehidupan ke lingkungan akademik yang baru. Terutama dari sekolah menengah ke perguruan tinggi atau universitas, sehingga mahasiswa semester awal harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan, tuntutan akademik yang lebih tinggi dan materi pembelajaran yang lebih kompleks yang dapat menyebabkan stres yang merujuk pada terjadinya burnout. 5 KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi berada pada rentang usia 18-20 tahun, berjenis kelamin perempuan dan mahasiswa paling banyak adalah mahasiswa semester 4. Gambaran anestesiologi mayoritas mengalami burnout Gambaran berdasarkan karakteristik diketahui bahwa berdasarkan rentang usia, mayoritas mengalami burnout sedang dengan tingkat persentase tertinggi berada pada rentang usia 18-20 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, perempuan memiliki persentase burnout lebih tinggi dari pada laki-laki. Akan tetapi, laki-laki dan perempuan memiliki persentase yang seimbang pada kategori tidak burnout. Berdasarkan tingkat semester, didapatkan keperawatan anestesiologi semester 2,4,6, dan 8 mengalami burnout tingkat sedang dengan persentase tertinggi berada pada mahasiswa semester 2. 6 REFERENSI