Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten ISSN: 1411-1527 dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi,E-ISSN: dan Aksiologi Homepage: http://jurnalpariwisata. id/index. php/JIP/index DOI: https://doi. org/10. 30647/jip. (Triana Rosalina Dewi. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi, dan Myrza Rahmanit. Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi, dan Aksiologi Triana Rosalina Dewi*. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi. Nurbaeti. Myrza Rahmanita Institut Pariwisata Trisakti *trianadewi@iptrisakti. Informasi Artikel Received: 29 Februari 2024 Accepted: 25 Februari 2025 Published: 14 Maret 2025 Keywords: marine tourism, ontology, epistemology, axiology. Kata Kunci: pariwisata bahari, ontologi, epistimologi, aksiologi Abstract This study aims to explore the potential for marine tourism development on Tunda Island by identifying the challenges faced, and sustainability-based epistemology, and axiology approaches. The research method used is an in-depth literature study, by analyzing various theories and concepts related to marine tourism development, and linking them to real conditions on Tunda Island. The main findings of this study indicate that marine tourism on Tunda Island faces major challenges in the form of environmental damage, limited infrastructure, and socioeconomic inequality. T4e proposed solutions include strengthening the role of local communities in tourism management, implementing ecotourism, and integrating local and scientific knowledge into tourism destination management policies. The contribution of this study is to provide a more comprehensive understanding of the relationship between theory and practice in sustainable marine tourism development, and provide policy recommendations to ensure long-term benefits for local communities. In conclusion, marine tourism development on Tunda Island can run well if sustainability-based approaches and local community empowerment are implemented effectively, ensuring a balance between social, economic, and environmental aspects. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi pengembangan pariwisata bahari di Pulau Tunda dengan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta memberikan solusi berbasis keberlanjutan melalui pendekatan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur yang mendalam, dengan menganalisis berbagai teori dan konsep terkait pengembangan pariwisata bahari, serta menghubungkannya dengan kondisi nyata di Pulau Tunda. Temuan utama dari penelitian ini menunjukkan bahwa pariwisata bahari di Pulau Tunda menghadapi tantangan utama berupa kerusakan lingkungan, keterbatasan infrastruktur, dan ketimpangan sosial-ekonomi. Solusi yang diusulkan termasuk penguatan peran masyarakat lokal dalam pengelolaan pariwisata, penerapan ekowisata, serta pengintegrasian pengetahuan lokal dan ilmiah dalam kebijakan pengelolaan destinasi wisata. Kontribusi penelitian ini adalah memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara teori dan praktik dalam pengembangan pariwisata bahari yang berkelanjutan, serta memberikan rekomendasi kebijakan untuk memastikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat lokal. Kesimpulannya, pengembangan pariwisata bahari di Pulau Tunda dapat berjalan dengan baik apabila pendekatan yang berbasis pada keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal diterapkan secara efektif, memastikan keseimbangan antara aspek sosial, ekonomi, dan Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. Maret 2025, pp 1-17 Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi, dan Aksiologi (Triana Rosalina Dewi. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi, dan Myrza Rahmanit. PENDAHULUAN Indonesia, kepulauan terbesar di dunia dengan lebih 000 pulau dan garis pantai yang lebih panjang dari 95. 000 km, memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, baik dalam hal sumber daya hayati maupun non-hayati. Laut Indonesia kaya akan berbagai bentuk kehidupan bawah laut yang menakjubkan, seperti terumbu karang, ikan tropis, serta berbagai spesies laut lainnya (Nikawanti & Aca, 2. Tidak hanya itu, sektor kelautan Indonesia juga menyimpan potensi sumber daya alam yang penting seperti gas dan minyak bumi, yang merupakan kontribusi besar bagi perekonomian negara (Tais et al. , 2. Pulau-pulau yang tersebar di seluruh Indonesia memiliki berbagai keunikan dan potensi alam yang dapat dikembangkan sebagai destinasi pariwisata bahari, yang kini semakin berkembang dengan pesat (Larasati & Aminun, 2. Pulau Tunda, yang terletak di Laut Jawa bagian utara Teluk Banten, adalah salah satu destinasi pariwisata bahari yang memiliki potensi dimanfaatkan secara optimal. Dalam hal ini, pengembangan pariwisata bahari Pulau Tunda perlu dilakukan dengan berkelanjutan agar dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat lokal, pemerintah, serta sektor pariwisata. Pulau Tunda memiliki kekayaan alam yang sangat berpotensi dalam mendukung kegiatan pariwisata bahari, seperti pantai yang indah, terumbu karang yang menawan, dan perairan yang cocok untuk kegiatan snorkeling, diving, serta wisata berlayar (Legowo et al. , 2. Keindahan alam ini, selain memberikan pengalaman yang memikat bagi para wisatawan, juga menjadi daya tarik utama untuk mendatangkan kunjungan wisata (Syahrial et al. , 2. Selain potensi alam. Pulau Tunda juga memiliki kekayaan budaya yang khas, seperti tradisi nelayan yang sudah turun temurun, kesenian lokal, serta kuliner tradisional yang bisa menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman autentik (Prameswara & Suryawan, 2. Namun, meskipun pengembangan pariwisata bahari di Pulau Tunda dihadapkan pada sejumlah lingkungan yang berkelanjutan dan permasalahan infrastruktur yang masih terbatas (Anzani et al. , 2. Tantangan ini, apabila tidak diatasi dengan baik, bisa berdampak negatif pada kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat setempat (Setyahandani et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengembangan pariwisata bahari di Pulau Tunda melalui tinjauan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Pendekatan ini dipilih untuk memahami lebih dalam mengenai eksistensi potensi pariwisata bahari di pulau tersebut, bagaimana cara pengembangan yang tepat dilakukan, serta nilai-nilai yang Ontologi akan membahas tentang hakikat atau eksistensi dari potensi pariwisata bahari di Pulau Tunda, yaitu dengan mengidentifikasi elemenelemen alam dan budaya yang Epistemologi metodologi yang digunakan dalam mengembangkan potensi tersebut, yakni bagaimana para pengambil kebijakan. Aksiologi, di sisi lain, akan membahas tentang nilai-nilai yang pariwisata bahari ini, seperti manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dapat dihasilkan, serta sejauh mana Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. Maret 2025, pp 1-17 Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi, dan Aksiologi (Triana Rosalina Dewi. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi, dan Myrza Rahmanit. pengembangan ini memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan Salah pengembangan pariwisata bahari adalah Dengan sektor ini secara optimal. Pulau Tunda berpotensi menjadi sumber pendapatan yang signifikan bagi masyarakat lokal, terutama bagi nelayan yang selama ini mengandalkan hasil laut sebagai mata pencaharian utama (Prameswara & Suryawan, 2. Pariwisata juga dapat membuka peluang lapangan kerja baru dalam sektor akomodasi, transportasi, restoran, dan berbagai layanan lainnya (Umam, 2. Selain itu, sektor pariwisata yang berkembang dengan baik dapat meningkatkan kualitas infrastruktur di daerah tersebut, seperti transportasi, fasilitas umum, serta sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pariwisata (Allyreza & Winangsih, 2. Di sisi lain, pengembangan ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak ekosistem laut, seperti terumbu karang yang sangat rentan terhadap kerusakan akibat aktivitas pariwisata yang tidak terkendali, sehingga penting keberlanjutan lingkungan dalam setiap kebijakan yang diambil (Legowo et al. Penting untuk diingat bahwa meskipun pariwisata bahari memiliki potensi besar, dampak negatif dari pariwisata yang tidak terkelola dengan baik dapat merusak alam dan mengancam (Setyahandani et al. , 2. Sebagai contoh, pembangunan infrastruktur yang tidak ramah lingkungan, pembuangan sampah sembarangan, serta kegiatan wisata yang tidak mengedepankan prinsip konservasi dapat menyebabkan kerusakan keanekaragaman hayati laut lainnya (Umam et al. , 2. Oleh karena itu, pengelolaan pariwisata bahari di Pulau Tunda harus memperhatikan prinsipprinsip keberlanjutan, yang tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga pada pelestarian alam dan peningkatan kualitas hidup masyarakat lokal (Allyreza & Winangsih, 2. Dalam hal ini, diperlukan kebijakan yang jelas dan tepat dalam pengelolaan destinasi wisata, termasuk dalam hal pengawasan terhadap kegiatan pariwisata, konservasi alam, serta peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan (Riska et , 2. Selain tantangan dalam pengelolaan lingkungan, salah satu permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan pariwisata bahari di Pulau Tunda adalah terbatasnya infrastruktur yang ada. Aksesibilitas menuju pulau ini masih terbatas, sehingga potensi wisata yang dimilikinya belum dapat diakses secara optimal oleh wisatawan. Meskipun demikian, perkembangan infrastruktur transportasi, dan fasilitas pendukung lainnya sudah mulai menunjukkan kemajuan dalam beberapa tahun terakhir. Meningkatkan kualitas infrastruktur ini akan sangat penting untuk mendukung kelancaran kegiatan pariwisata dan mempermudah akses bagi wisatawan. Namun, dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan agar tidak merusak keindahan alam dan budaya lokal yang menjadi daya tarik utama. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai potensi, tantangan, serta peluang dalam pengembangan pariwisata bahari di Pulau Tunda. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengambilan kebijakan yang berfokus pada pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi seluruh pihak, baik dari segi ekonomi, sosial, budaya, maupun lingkungan. Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. Maret 2025, pp 1-17 Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi, dan Aksiologi (Triana Rosalina Dewi. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi, dan Myrza Rahmanit. Dengan epistemologi, dan aksiologi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih komprehensif mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan kelestarian alam serta kesejahteraan masyarakat Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi model atau referensi bagi daerah lain yang memiliki potensi pariwisata bahari serupa, sehingga pengembangan pariwisata di Indonesia memberikan manfaat maksimal. TINJAUAN PUSTAKA Pengembangan Pariwisata Bahari Pengembangan pariwisata bahari mendapat perhatian di Indonesia, yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, salah satu destinasi potensial yang sedang dikembangkan adalah sektor keindahan alam yang mendukung kegiatan seperti pantai, terumbu karang, dan potensi wisata bahari lainnya (ALQamari, 2. Pengembangan pariwisata Indonesia tantangan besar, mulai dari masalah pengelolaan lingkungan, keterbatasan infrastruktur, hingga dampak sosial dan pendekatan ontologi, epistemologi, dan aksiologi untuk memahami berbagai aspek dalam pengembangan pariwisata bahari di Indonesia (Aji 2. Ontologi Pengembangan Pariwisata Bahari Ontologi dalam pengembangan pariwisata bahari membahas tentang hakikat atau eksistensi potensi alam dan budaya yang mendasari pariwisata bahari di daerah tersebut. Sebagai wilayah yang kaya akan keindahan alam, destinasi wisata bahari menawarkan berbagai daya tarik seperti pantai yang indah, terumbu karang, dan perairan yang cocok untuk kegiatan snorkeling, diving, serta wisata berlayar (Pramartha, 2. Potensi alam tersebut menjadi sumber daya utama yang dapat mendatangkan wisatawan, yang akan membawa dampak positif terhadap perekonomian lokal. Selain itu, keanekaragaman budaya yang mendalam, seperti tradisi nelayan dan kuliner khas yang memiliki nilai tambah bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman budaya lokal yang autentik (Sari & Kagungan, 2. Pengelolaan yang baik terhadap kekayaan alam dan budaya ini merupakan elemen penting yang akan menentukan keberlanjutan pariwisata bahari di wilayah tersebut. Epistemologi Pengembangan Pariwisata Bahari Epistemologi berfokus pada metode dan pengetahuan yang digunakan untuk potensi pariwisata Dalam pengembangan pariwisata bagaimana masyarakat lokal, pengambil Salah satu metode yang dapat digunakan adalah pengelolaan berbasis masyarakat yang melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat lokal dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam serta kegiatan pariwisata (Sayogi & Demartoto, 2. Pendekatan yang lebih berbasis pada teknologi dan riset pasar juga menjadi kunci dalam memastikan pengembangan pariwisata berjalan dengan baik dan dapat menjangkau audiens yang lebih luas (Manggo & Zulfikar, 2. Teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk promosi digital, pemantauan kondisi ekosistem laut, dan memperkenalkan budaya lokal kepada dunia luar (Erwin et , 2. Pengetahuan yang tepat Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. Maret 2025, pp 1-17 Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi, dan Aksiologi (Triana Rosalina Dewi. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi, dan Myrza Rahmanit. tentang pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan juga sangat penting dalam merancang kebijakan yang mendukung konservasi, pengurangan dampak negatif terhadap lingkungan, dan pelestarian ekosistem laut (Hidayat et al. Aksiologi Pengembangan Pariwisata Bahari Aksiologi berfokus pada nilai-nilai yang terkandung dalam pengembangan pariwisata bahari, termasuk manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dapat diperoleh yang dapat dihasilkan dari pengembangan pariwisata bahari masyarakat lokal (Aji, 2. Pariwisata dapat membuka peluang kerja baru dalam sektor akomodasi, restoran, transportasi, serta layanan wisata lainnya yang meningkatkan kualitas infrastruktur di daerah tersebut, seperti transportasi, fasilitas publik, dan sarana pendukung lainnya (Hidayat, 2. Pengembangan yang berkelanjutan akan memastikan bahwa sektor pariwisata tidak hanya menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi yang stabil dalam jangka panjang bagi masyarakat lokal, namun perlu diingat bahwa pengembangan pariwisata harus dilakukan dengan tetap menjaga keseimbangan ekologis dan sosial (Sulistyadi et al. , 2. Salah satu pengembangan pariwisata bahari adalah keberlanjutan lingkungan, dimana potensi pariwisata bahari harus diimbangi dengan upaya untuk melindungi dan melestarikan alam, khususnya terumbu karang dan ekosistem laut yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan (Allokendek et al. Pengelolaan Infrastruktur Keberlanjutan Pengembangan pariwisata bahari juga menghadapi tantangan dalam hal pengelolaan infrastruktur dan lingkungan, karena banyak destinasi yang masih terbatas dalam hal aksesibilitas dan pariwisata secara optimal (Lobo et al. Meskipun ada peningkatan dalam pembangunan fasilitas, pengembangan infrastruktur harus dilakukan dengan hatihati untuk menghindari dampak negatif terhadap alam dan budaya lokal (Martini et al. , 2. Selain itu, pengelolaan lingkungan yang baik sangat diperlukan untuk memastikan bahwa kegiatan keanekaragaman hayati dan ekosistem laut yang ada (Lasaiba et al. , 2. Pembangunan yang ramah lingkungan dan pengelolaan sampah yang efektif harus menjadi prioritas agar kerusakan terhadap terumbu karang dan fauna laut dapat diminimalkan (Saputra, 2. Oleh karena itu, pengelolaan pariwisata bahari harus memperhatikan prinsip keberlanjutan yang menyelaraskan aspek (Allokendek et al. , 2. METODE PENELITIAN Penelitian pendekatan kualitatif dengan metode perkembangan pariwisata bahari di Pulau Tunda. Banten, dengan fokus pada aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Pendekatan ini dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis berbagai literatur terkait memperoleh pemahaman lebih mendalam mengenai teori dan konsep-konsep yang Penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk menyusun gambaran umum mengenai kondisi pariwisata bahari, tetapi juga untuk mengkaji dimensi teoritis yang dapat memandu Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. Maret 2025, pp 1-17 Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi, dan Aksiologi (Triana Rosalina Dewi. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi, dan Myrza Rahmanit. kebijakan dan strategi pengelolaan pariwisata bahari yang berkelanjutan di masa depan. Langkah pertama dalam penelitian ini pendekatan ontologi, epistemologi, dan aksiologi digunakan untuk mengkaji topik ini secara lebih mendalam. Ontologi akan membahas hakikat atau eksistensi potensi pariwisata bahari, epistemologi akan membahas pengetahuan dan metodologi yang digunakan untuk pengembangan sektor ini, sedangkan aksiologi akan berfokus pada nilai-nilai yang dapat dihasilkan dari pengembangan tersebut, seperti manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan. Setelah topik ditentukan, tahap berikutnya adalah pengumpulan data literatur, di mana peneliti mengumpulkan berbagai sumber informasi yang relevan dengan topik yang telah dipilih. Literatur yang dikumpulkan meliputi penelitian tedahulu yang dapat memberikan wawasan tentang pengelolaan dan terutama yang berfokus pada konsepkonsep keberlanjutan dalam sektor ini. Proses pengumpulan literatur ini juga melibatkan pencarian sumber-sumber terbaru yang mencakup penelitian terkait konservasi alam, pengelolaan pariwisata, pariwisata bahari di berbagai daerah yang memiliki karakteristik serupa dengan Pulau Tunda. Dengan demikian, data yang diperoleh akan menjadi dasar untuk analisis lebih lanjut. Setelah literatur dikumpulkan, analisis literatur dilakukan untuk mengidentifikasi temuan-temuan penting dan menghubungkan berbagai teori serta konsep yang ada dalam literatur tersebut dengan kondisi nyata yang dihadapi oleh Pulau Tunda. Proses analisis ini bertujuan untuk memahami bagaimana berbagai pendekatan dalam pengelolaan pariwisata bahari dapat diterapkan di Pulau Tunda, serta bagaimana teori-teori terkait ontologi, epistemologi, dan aksiologi dapat memberikan wawasan baru bagi para pengambil kebijakan dan pelaku industri pariwisata. Dalam analisis ini, peneliti juga mengevaluasi bagaimana literatur yang ada dapat memberikan solusi untuk tantangan yang ada, seperti infrastruktur, dan ketimpangan sosialekonomi pengembangan pariwisata. Pada tahap akhir, peneliti akan menarik kesimpulan berdasarkan hasil analisis literatur yang telah dilakukan. Kesimpulan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai potensi pariwisata bahari di Pulau Tunda, tantangan yang dihadapi dalam pengembangannya, serta solusi yang dapat diterapkan untuk memastikan keberlanjutan sektor pariwisata bahari di pulau tersebut. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan yang berfokus pada pengelolaan pariwisata memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Penelitian ini, melalui pendekatan ontologi, epistemologi, dan aksiologi, akan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara teori dan praktik dalam pengembangan pariwisata bahari, dan memberikan kontribusi positif terhadap pengelolaan pariwisata yang lebih berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat lokal di Pulau Tunda. HASIL DAN PEMBAHASAN Ontologi Pengembangan Pariwisata Bahari Pada Pulau Tunda Penelitian oleh (Harma, 2. menunjukkan pengembangan pariwisata interaksi antara manusia dan lingkungan laut, serta dampaknya terhadap destinasi wisata dan masyarakat lokal. Pramartha . menjelaskan ontologi pariwisata bahari mencakup entitas seperti ruang Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. Maret 2025, pp 1-17 Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi, dan Aksiologi (Triana Rosalina Dewi. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi, dan Myrza Rahmanit. laut, objek wisata, dan pengalaman wisatawan, serta hubungan subjektif antara pelancong dan objek wisata. Penelitian oleh Kurniawan et al. pariwisata tidak hanya berbicara tentang lokasi fisik, tetapi juga tentang pembentukan makna budaya dan sosial yang mendalam melalui pengalaman Selain itu, penelitian oleh Hamzah et al. menunjukkan bahwa keberlanjutan pariwisata bahari bergantung pada keberadaan dan ekosistem laut yang harus dihargai dan dilestarikan, bukan sekadar sebagai objek Sari Kagungan . menujukkan bahwa ontologi pariwisata bahari juga menggarisbawahi peran masyarakat lokal dalam pengembangan destinasi wisata pesisir. Penelitian oleh Dewanti et al. menjelaskan bahwa masyarakat pesisir berperan sebagai pencipta identitas budaya mereka, bukan Sugiarti . menjelaskan bahwa Interaksi antara wisatawan dan komunitas lokal membentuk makna sosial dan budaya yang saling mempengaruhi. Pengembangan pariwisata bahari yang dilakukan Suprianto & Saputra . harus mempertimbangkan nilai-nilai budaya dan kesejahteraan sosial agar dampak ekonomi yang dihasilkan tidak merusak aspek sosial dan budaya masyarakat setempat. Berdasarkan literatur yang telah dikumpulkan, terdapat beberapa temuan pariwisata bahari dalam tinjauan ontologi yang dapat diterapkan pada Pulau Tunda yaitu pentingnya memahami interaksi antara manusia dan lingkungan laut sebagai bagian dari ontologi pariwisata bahari: . Interaksi manusia dan lingkungan laut Pulau Tunda yaitu hubungan antara manusia dan alam laut, yang berperan dalam membentuk berkembang, dalam hal ini, manusia tidak hanya sekadar mengunjungi tempat wisata, tetapi juga berinteraksi dengan alam laut secara lebih dalam. Ontologi pariwisata bahari Pulau Tunda yang mengacu pada pemahaman atau pengertian dasar tentang pariwisata bahari yang berhubungan dengan cara kita memandang pariwisata bahari secara menyeluruh, termasuk aspek fisik dan pengalaman subjektif. Pengembangan pariwisata bahari di Pulau Tunda tidak hanya fokus pada objek wisata atau ruang fisik seperti pantai atau laut, tetapi juga pada pengalaman wisatawan yang lebih dalam yang artinya, pariwisata tidak hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi juga bagaimana pengalaman tersebut memberi makna bagi wisatawan. Pengalaman membentuk makna subjektif yaitu wisatawan tidak hanya datang untuk melihat atau mengunjungi tempat, tetapi mereka juga membangun makna pribadi atau emosional dari pengalaman tersebut, misalnya, mereka bisa merasakan kedamaian, kekaguman, atau bahkan rasa . Pengelolaan pariwisata bahari yang mengintegrasikan alam, dalam hal ini pengelolaan pariwisata di Pulau Tunda harus menciptakan pengalaman yang mendalam, di mana wisatawan merasa terhubung dengan alam dan budaya lokal, bukan sekadar datang untuk berlibur tetapi menciptakan pengalaman yang wisatawan untuk merasakan hubungan emosional dengan laut atau belajar tentang budaya lokal. Kemudian, dalam tinjauan ontologi yang dapat diterapkan pada Pulau Tunda tentang pentingnya keberlanjutan dalam pengembangan pariwisata bahari adalah sebagai berikut: . Keberlanjutan pariwisata bahari merupakan prinsip untuk memastikan bahwa pariwisata tidak merusak lingkungan alam, khususnya Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. Maret 2025, pp 1-17 Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi, dan Aksiologi (Triana Rosalina Dewi. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi, dan Myrza Rahmanit. ekosistem laut, agar pariwisata bahari bisa berjalan dalam jangka panjang, penting untuk menjaga keseimbangan antara pengembangan sektor pariwisata dan pelestarian alam. Ekosistem laut di Pulau Tunda harus dihargai dan dilindungi, karena ekosistem ini sangat penting untuk kelangsungan hidup berbagai spesies laut yang ada yang berarti menghormati dan menjaga keberlanjutan sumber daya alam yang ada di laut. Dalam pengembangan pariwisata di Pulau Tunda, konservasi atau pelestarian ekosistem laut harus menjadi prioritas utama yang berarti bahwa setiap aktivitas pengembangan pariwisata harus direncanakan dan dilaksanakan dengan memperhatikan dampak terhadap ekosistem laut, untuk merugikan keanekaragaman hayati laut. Pulau Tunda memiliki potensi besar dalam hal keanekaragaman hayati laut, yang bisa menjadi daya tarik utama bagi wisatawan meliputi berbagai spesies laut yang indah dan unik, yang tentunya menarik bagi para wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan alam laut. Namun, potensi ini harus dijaga dengan hati-hati agar tetap lestari. Pengelolaan pariwisata harus dilakukan dengan cara yang bijaksana untuk memastikan sumber daya alam laut tetap lestari yang artinya, pengelolaan ini harus mengutamakan perlindungan lingkungan, dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem laut. Pengelolaan pariwisata bahari di Pulau Tunda harus berbasis pada keberlanjutan ekosistem laut, yang melibatkan upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Dalam hal ini, berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat lokal, dan sektor pariwisata, harus bekerja sama untuk menjaga ekosistem laut tetap sehat dan tidak Selanjutnya dalam tinjauan ontologi yang dapat diterapkan pada masyarakat pesisir Pulau Tunda harus dilibatkan secara aktif dalam pengembangan berkelanjutan sebagai berikut: . Masyarakat yang tinggal di pesisir Pulau Tunda memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan pariwisata, karena mereka bukan hanya sebagai pengamat atau penerima dampak, tetapi juga sebagai pelaku utama yang harus Ini termasuk dalam . Melibatkan masyarakat lokal secara aktif akan membantu menciptakan pengalaman yang lebih autentik bagi wisatawan yang berarti benar-benar mencerminkan budaya, tradisi, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Pulau Tunda, yang akan berbeda dari pengalaman pariwisata yang bersifat massal atau seragam. Interaksi antara wisatawan dan penduduk lokal memiliki dampak yang besar dalam membentuk makna sosial dan budaya yang langsung mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang budaya dan kehidupan . Pengelolaan pariwisata di Pulau Tunda harus sensitif terhadap perubahan yang mungkin terjadi dalam pariwisata yang mencakup perubahan dalam pola kehidupan, tradisi, atau bahkan hubungan sosial antar warga, agar dampak negatif yang mungkin timbul dari pariwisata bisa diminimalkan. Salah memperoleh manfaat ekonomi dari pariwisata yang harus memastikan bahwa kegiatan pariwisata tidak merusak nilai- Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. Maret 2025, pp 1-17 Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi, dan Aksiologi (Triana Rosalina Dewi. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi, dan Myrza Rahmanit. nilai budaya yang ada, tetapi juga memberikan keuntungan ekonomi yang adil bagi masyarakat lokal. Epistemologi Pengembangan Pariwisata Bahari Pada Pulau Tunda Penelitian Aji . pariwisata bahari memberikan wawasan yang sangat penting mengenai bagaimana pengetahuan, baik dari perspektif lokal, ilmiah, maupun pengalaman individu, berperan dalam membentuk kebijakan, pengelolaan, dan praktik pariwisata bahari itu sendiri. Penelitian oleh Rakhmawati . mengungkapkan bagaimana pengetahuan pengalaman dan informasi yang diterima, mempengaruhi cara mereka berinteraksi dengan destinasi bahari. Hal ini dikaitkan dengan penelitian lainnya seperti yang dilakukan oleh Babu et al. yang menekankan pentingnya penggabungan pengetahuan tradisional lokal dengan ilmu pengetahuan modern dalam mengelola pariwisata bahari yang Amelia & Susanti . menunjukkan bahwa pengetahuan lokal yang sering kali terabaikan dalam memberikan kontribusi signifikan dalam menjaga keseimbangan antara konservasi alam dan keuntungan ekonomi yang dihasilkan oleh pariwisata. Penelitian Sayogi Demartoto memperhitungkan pengetahuan lokal dalam merancang kebijakan pariwisata yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga melestarikan budaya dan lingkungan lokal. Hal serupa diungkapkan oleh Manggo & Zulfikar epistemologi dengan praktek ekowisata bahari, di mana pengetahuan wisatawan mengenai keberlanjutan berperan dalam membentuk perilaku mereka selama berkunjung, yang pada gilirannya mempengaruhi pengelolaan ekosistem laut yang rapuh. Kemudian penelitian oleh Hidayat et al. menyarankan bahwa pengetahuan yang diterapkan dalam pengembangan pariwisata bahari sering kali dipengaruhi oleh epistemologi yang berbeda-beda, baik dari perspektif ilmiah, pemerintah, maupun masyarakat lokal dikembangkan dan dikelola, serta digunakan dalam merancang pengalaman Penelitian oleh Allokendek et al. memperlihatkan bagaimana proses produksi pengetahuan tentang pariwisata bahari dapat mempengaruhi kebijakan yang dibuat, baik dalam skala lokal maupun global. Sementara itu. Saputra . menyarankan bahwa negaranegara kepulauan seperti yang ada di Pasifik dapat memanfaatkan pengetahuan tradisional mereka untuk menciptakan model pengelolaan pariwisata yang lebih holistik dan berkelanjutan. (Lobo et al. pengetahuan yang dihasilkan melalui praktik pariwisata bahari sering kali terkait erat dengan kekuasaan yang ada dalam pengambilan keputusan, yang sering kali menyebabkan ketimpangan antara pemangku kepentingan, khususnya antara masyarakat lokal dan pengelola Berdasarkan analisis literatur yang dikumpulkan, terdapat beberapa temuan penting yang dapat dihubungkan dengan kondisi nyata yang dihadapi oleh Pulau Tunda dalam pengembangan pariwisata bahari bagian dari epistemology yaitu sebagai berikut: . Pengetahuan lokal memainkan peran krusial dalam menjaga keseimbangan antara konservasi alam dan manfaat ekonomi. Pulau Tunda yang kaya dengan budaya dan tradisi lokal, masyarakat setempat untuk merancang kebijakan pariwisata yang tidak hanya mementingkan aspek ekonomi tetapi juga Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. Maret 2025, pp 1-17 Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi, dan Aksiologi (Triana Rosalina Dewi. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi, dan Myrza Rahmanit. melestarikan keanekaragaman hayati laut dan ekosistem pesisir yang ada, sehingga tentang ekosistem laut dan cara menjaga panduan dalam pengelolaan pariwisata Penggabungan tradisional dan ilmu pengetahuan modern sangat penting dalam pengelolaan pariwisata bahari yang berkelanjutan. Pulau Tunda dapat memanfaatkan nelayan tentang musim penangkapan ikan dan pola migrasi hewan laut untuk menjaga keberlanjutan ekosistem, selain itu, pengetahuan ilmiah yang diperoleh dari riset dan teknologi baru dapat sumber daya alam Pulau Tunda. Pengetahuan keberlanjutan dan konservasi dapat mempengaruhi perilaku mereka selama Pulau Tunda mengembangkan program edukasi bagi kesadaran mereka tentang pentingnya pengelolaan yang ramah lingkungan yang tidak hanya akan menguntungkan bagi keberlanjutan pariwisata, tetapi juga membantu menjaga kelestarian alam Pulau Tunda. Penting untuk memastikan di Pulua Tunda bahwa suara masyarakat lokal didengar dalam setiap keputusan terkait pengelolaan pariwisata, agar tidak terjadi pengabaian terhadap nilai-nilai budaya dan kebutuhan sosial mereka, sehingga pemerintah dan pihak swasta yang terlibat dalam pariwisata bahari di Pulau Tunda harus lebih inklusif dan melibatkan komunitas lokal dalam proses perencanaan dan pengambilan . Pulau Tunda, sebagai bagian dari kepulauan di Indonesia, dapat mengadopsi pendekatan ini dengan mengintegrasikan pengetahuan lokal dan ilmiah untuk menciptakan sistem pengelolaan pariwisata yang tidak hanya mempertimbangkan faktor ekonomi, tetapi juga keberlanjutan sosial dan Tinjauan epistemologi yang dapat diterapkan pada masyarakat pesisir Pulau Tunda sangat penting untuk menciptakan pengembangan pariwisata yang otentik Berdasarkan perspektif epistemologi, berikut adalah diterapkan untuk melibatkan masyarakat pesisir secara aktif: . Pengetahuan lokal yang dimiliki oleh masyarakat pesisir Pulau Tunda mengenai ekosistem laut, musim ikan, pola migrasi hewan laut, serta adat dan budaya setempat harus dimanfaatkan secara optimal dalam pengalaman dan tradisi mereka berfungsi sebagai sumber daya yang sangat . Pengelolaan pariwisata di Pulau Tunda harus memastikan bahwa masyarakat lokal memiliki peran sentral dalam proses pengambilan keputusan melalui forum diskusi, musyawarah, atau bentuk konsultasi lainnya, di mana suara mereka dalam merancang kebijakan dan mengelola destinasi wisata didengar dan dihargai dengan memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam pengelolaan pariwisata, maka akan tercipta rasa kepemilikan yang lebih besar terhadap keberlanjutan dan kelestarian alam dan budaya mereka. Masyarakat pesisir Pulau Tunda dapat memainkan peran penting dalam memberikan edukasi kepada wisatawan tentang pentingnya pelestarian laut dan masyarakat dapat membantu wisatawan memahami cara-cara yang benar untuk berinteraksi dengan lingkungan tanpa merusaknya, sehingga meningkatkan kualitas pengalaman wisata yang lebih bertanggung jawab. Masyarakat pesisir Pulau Tunda memiliki tradisi dan pengetahuan yang erat kaitannya dengan cara mereka berinteraksi dengan laut dan Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. Maret 2025, pp 1-17 Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi, dan Aksiologi (Triana Rosalina Dewi. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi, dan Myrza Rahmanit. alam sekitar yang dapat diwujudkan dalam bentuk acara budaya, festival lokal, atau ritual yang menghubungkan wisatawan dengan kehidupan tradisional . Masyarakat pesisir Pulau Tunda memiliki pengetahuan yang telah diwariskan turun-temurun mengenai cara mengelola sumber daya laut dengan bijaksana adalah kunci dalam mengelola ekosistem laut secara berkelanjutan, seperti sistem pengelolaan musim ikan atau pengelolaan terumbu karang, dapat digunakan untuk menciptakan model pengelolaan pariwisata yang tidak hanya berfokus pada keuntungan ekonomi jangka pendek tetapi juga pada keberlanjutan sumber daya alam untuk generasi yang akan datang. Aksiologi Pengembangan Pariwisata Bahari Pada Pulau Tunda Penelitian Aji . mengenai pariwisata bahari membahas nilai-nilai yang terkandung dalam pariwisata, serta nilai-nilai mempengaruhi pengelolaan, kebijakan, dan dampak sosial-ekonomi yang Allokendek et al. melakukan pendekatan aksiologi yang penting adalah bagaimana pariwisata dapat memberikan manfaat sosial dan budaya, yang sejalan dengan penelitian oleh (Sulistyadi et al. , 2. yang menunjukkan bahwa aksiologi dalam kepentingan ekonomi dan pelestarian budaya serta sosial masyarakat lokal. Penelitian oleh (Hidayat, 2. lebih pengalaman wisatawan yang terhubung dengan ekosistem laut tidak hanya memberi nilai ekonomi tetapi juga mengarah pada penghargaan terhadap nilai alam. Aji . menambahkan bahwa dalam aksiologi pariwisata bahari, masyarakat lokal dapat menciptakan menguntungkan, di mana nilai-nilai budaya lokal dihormati dan dilestarikan. Penelitian lainnya oleh Suprianto & Saputra . menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terbentuk melalui pengalaman wisata dapat membentuk persepsi wisatawan terhadap kelestarian alam dan memperkuat motivasi untuk Penelitian oleh Martini et al. menunjukkan bahwa dalam aksiologi nilai-nilai keberlanjutan dan partisipasi masyarakat lokal merupakan aspek yang tidak dapat Dalam hal ini, pariwisata bahari diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, tanpa merusak keseimbangan sosial atau ekonomi mereka. Lasaiba et al. menjelaskan bahwa masyarakat pesisir harus dilibatkan secara aktif dalam proses pengambilan keputusan, sehingga mereka dapat menjadi aktor utama dalam menciptakan dan menjaga nilai-nilai budaya mereka sendiri, bukan sekadar penerima manfaat pasif dari pariwisata. Legowo et al. pentingnya menjaga hubungan yang memperkuat nilai-nilai sosial dan budaya yang ada. Saputra . menambahkan bahwa untuk mencapai pengembangan yang berkelanjutan, pariwisata bahari harus memastikan bahwa nilai-nilai sosial dan budaya tetap terjaga, dan dampak kesejahteraan masyarakat lokal. Berdasarkan analisis literatur yang telah dikumpulkan, beberapa temuan penting mengenai aksiologi dalam pengembangan pariwisata bahari yang sangat relevan dengan kondisi nyata di Pulau Tunda adalah sebagai berikut: . Pada Pulau Tunda dapat diterapkan dengan merancang kebijakan pariwisata yang tidak hanya berfokus pada Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. Maret 2025, pp 1-17 Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi, dan Aksiologi (Triana Rosalina Dewi. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi, dan Myrza Rahmanit. pariwisata, tetapi juga pada pelestarian budaya tradisional masyarakat pesisir yaitu pengintegrasian budaya lokal dalam aktivitas pariwisata, seperti ritual adat, kuliner khas, atau kerajinan tangan, dapat menjadi nilai tambah yang memperkaya menghargai budaya lokal. Aksiologi pariwisata bahari di Pulau Tunda dapat menekankan nilai keberlanjutan dan pelestarian alam sebagai bagian integral dari pengalaman wisata yang dapat snorkeling, diving, atau ekowisata yang pentingnya menjaga ekosistem laut. Partisipasi masyarakat lokal di Pulau Tunda dalam merancang kebijakan pariwisata sangat penting agar mereka dapat menjadi aktor utama dalam proses ini yang mengakomodasi perspektif dan pengetahuan lokal dalam perencanaan dan pengelolaan destinasi pariwisata akan memastikan bahwa kebijakan yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai lokal, serta tidak merusak keseimbangan sosial atau budaya mereka. Masyarakat lokal di Pulau Tunda diintegrasikan sebagai pemandu wisata, pengelola homestay, atau pengelola interaksi ini, masyarakat lokal tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga dapat melestarikan tradisi dan budaya mereka yang sangat penting bagi identitas mereka. Penting di Pulau Tunda, untuk memastikan bahwa masyarakat pesisir memiliki kesempatan memperkenalkan budaya mereka secara lebih luas kepada wisatawan, sambil melibatkan mereka dalam keputusan terkait pengelolaan destinasi, dengan cara ini, pariwisata tidak hanya memberikan memperkuat ikatan sosial dan budaya yang ada di Pulau Tunda. Evaluasi Literatur Memberikan Solusi untuk tantangan yang ada Berdasarkan literatur yang ada, terdapat beberapa solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh Pulau Tunda dalam khususnya terkait dengan kerusakan lingkungan, keterbatasan infrastruktur, dan ketimpangan sosial-ekonomi yang muncul akibat pengembangan pariwisata. Pertama, terkait dengan kerusakan lingkungan, penelitian oleh Saputra memperkenalkan nilai-nilai keberlanjutan dalam pariwisata bahari. Solusi yang dapat diterapkan di Pulau Tunda adalah dengan mengintegrasikan pengalaman wisatawan yang berbasis pada edukasi lingkungan, seperti program ekowisata dan konservasi laut yang melibatkan wisatawan dalam upaya pelestarian ekosistem laut lainnya. Selain itu, pengelolaan pariwisata yang berbasis pada pengetahuan ilmiah dan lokal, sebagaimana disarankan oleh Nurhasanah et al. , dapat membantu menjaga memanfaatkan kearifan lokal dalam melestarikan ekosistem laut yang rapuh. Masyarakat lokal bisa dilibatkan dalam upaya konservasi, seperti menjaga kebersihan pantai dan melestarikan spesies laut yang terancam punah, sehingga mereka merasa memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan mereka sendiri. Kedua, mengenai keterbatasan infrastruktur, penelitian Lasdianti et al. menunjukkan bahwa salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini infrastruktur yang ramah lingkungan dan Ini pengembangan sarana transportasi yang Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. Maret 2025, pp 1-17 Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi, dan Aksiologi (Triana Rosalina Dewi. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi, dan Myrza Rahmanit. tidak merusak lingkungan, seperti penggunaan kapal ramah lingkungan dan penerapan sistem pengelolaan sampah yang efisien. Pembangunan infrastruktur juga harus melibatkan masyarakat lokal implementasinya, agar tidak terjadi ketimpangan dalam manfaat yang diterima oleh masyarakat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Pongsitanan et al. Selain itu, untuk mengatasi ketimpangan sosial-ekonomi, pendekatan aksiologi yang diusulkan oleh Moerwanto & Junoasmono . dapat diterapkan dengan melibatkan masyarakat lokal secara aktif dalam pengelolaan dan Dengan memberdayakan masyarakat lokal dan memberikan mereka peran penting dalam merancang pariwisata bahari dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata. Program-program pendidikan bagi masyarakat lokal mengenai keterampilan pengelolaan pariwisata serta pembangunan produk wisata berbasis budaya lokal juga dapat mengurangi ketimpangan sosial-ekonomi yang timbul akibat pengembangan pariwisata yang tidak adil. Sehingga, literatur yang ada memberikan dasar bagi solusi yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berbasis pada pemberdayaan masyarakat lokal dalam mengelola pariwisata bahari. Dengan menggabungkan pengetahuan ilmiah dan pelestarian budaya dan ekosistem. Pulau Tunda dapat mengatasi tantangantantangan memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh pihak yang terlibat. KESIMPULAN DAN SARAN Pengembangan pariwisata bahari di Pulau Tunda memiliki potensi yang besar, namun juga dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti kerusakan lingkungan, keterbatasan infrastruktur, sosial-ekonomi. Berdasarkan hasil analisis literatur, pendekatan ontologi, epistemologi, dan aksiologi memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana teori dan praktik dalam pariwisata bahari dapat saling terkait dan diterapkan secara Solusi yang diusulkan, seperti penguatan peran masyarakat lokal, pelestarian ekosistem, dan integrasi pengetahuan lokal dan ilmiah, diharapkan dapat mengatasi tantangan-tantangan ini. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pengembangan kebijakan keberlanjutan dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dengan melibatkan masyarakat lokal pariwisata, serta memperkenalkan konsep ekowisata dan keberlanjutan, diharapkan sektor pariwisata bahari di Pulau Tunda dapat berkembang secara lebih seimbang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat setempat. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi positif terhadap pengelolaan berkelanjutan dan dapat dijadikan referensi dalam merancang kebijakan dan praktik pengembangan pariwisata di Pulau Tunda maupun daerah lainnya. Pengelola Pulau Tunda disarankan ekowisata yang melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan pariwisata serta Wisatawan diharapkan lebih sadar akan pentingnya pelestarian lingkungan dan budaya lokal, serta mengikuti regulasi yang ditetapkan untuk mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem dan masyarakat setempat. Pemerintah daerah Provinsi Banten perlu memperkuat kebijakan yang mendukung Jurnal Ilmiah Pariwisata. Volume 30 No. Maret 2025, pp 1-17 Kajian Literatur Pengembangan Pariwisata Bahari di Pulau Tunda. Banten dalam Tinjauan Ontologi. Epistimologi, dan Aksiologi (Triana Rosalina Dewi. Emenina Tarigan. Gratia Wirata Laksmi, dan Myrza Rahmanit. pengelolaan pariwisata berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat lokal, dan mendorong kolaborasi antara sektor Pendekatan berbasis ekosistem dan keberlanjutan harus menjadi prioritas dalam pengembangan pariwisata bahari di Pulau Tunda. DAFTAR PUSTAKA