AGREGAT Vol. No. Mei 2021 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Pemetaan Digital Jenis Lapisan Tanah Permukaan Kota Banjarmasin Muhammad Afief MaAoruf 1. Rusliansyah1. Agil Arief Rachman1 Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin *)afief. maruf@ulm. Abstract With the help of GIS (Geographic Information Syste. , information such as the results of soil testing in the field can be combined with other information such as groundwater levels, laboratory soil test results and other test results. In addition, the test location can be found in geographic coordinate format. This integrated information can be referred to as a database. Information on the results of soil testing in the field from a database can be modeled to produce a profile shape from the test result parameters such as the soil layer type profile map. This study aims to present an information system based on geographicbased soil testing data in all areas of Banjarmasin City. This research was conducted by compiling all the data from soil testing results and create a map of soil surface types along the Banjarmasin city area with the help of GIS. As many as 37 Standar Penetration Test (SPT) test points and 45 Cone Penetration Test (SPT) test points in the city of Banjarmasin are integrated with geographic information system in the form of maps of the types of soil layers on the surface of Banjarmasin City. The results of this study shows that the dominant soil layers in the surface layer in Banjarmasin City are organic clay and silty clay, which are included in the soft soil category. This means that the soil conditions of Banjarmasin City are less suitable for the application of foundation construction with shallow foundation types, because of the relatively small bearing capacity of soft soils. So that in building construction planning in Banjarmasin City, it is necessary to pay attention to the things that are challenges in construction construction on soft soils, namely the relatively small bearing capacity of the land and the relatively large land Keywords: Geographic Information System. Journal. Soil Type. Banjarmasin City. Digital Map Abstrak Dengan bantuan GIS (Geographic Information Syste. , informasi seperti hasil pengujian tanah di lapangan dapat dipadukan dengan informasi lainnya seperti muka air tanah, hasil pengujian tanah di laboratorium maupun hasil pengujian lainnya. Selain itu, lokasi pengujian dapat diketahui dalam format koordinat geografis. Informasi yang terpadu tersebut dapat disebut sebagai basis data. Informasi hasil pengujian tanah di lapangan dari sebuah basis data dapat dibuat model untuk menghasilkan bentuk profil dari parameter hasil pengujian seperti peta profil jenis lapisan tanah. Penelitian ini mencoba menyajikan sistem informasi dari data hasil pengujian tanah berbasis geografis di seluruh wilayah Kota Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengkompilasi seluruh data hasil pengujian tanah dan membuat peta jenis tanah permukaan di sepanjang wilayah kota Banjarmasin dengan bantuan GIS. Sebanyak 37 titik uji Standar Penetration Test (SPT) dan 45 titik uji sondir di kota Banjarmasin diintegrasikan dengan sistem informasi geografis dalam bentuk peta jenis lapisan tanah di permukaan Kota Banjarmasin. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa lapisan tanah yang dominan di lapisan permukaan di Kota Banjarmasin adalah lempung organik dan lempung berlanau, yang termasuk dalam kategori tanah lunak. Ini berarti bahwa kondisi permukaan tanah Kota Banjarmasin kurang cocok untuk pengaplikasian konstruksi pondasi dengan jenis pondasi dangkal, karena daya dukung tanah lunak yang relatif kecil. Sehingga dalam perencanaan konstruksi bangunan di Kota Banjarmasin, perlu memperhatikan hal-hal yang menjadi tantangan dalam pembangunan konstruksi di tanah lunak, yaitu daya dukung tanah yang relatif kecil dan penurunan tanah yang relatif besar. Kata Kunci: Geographic Information System. Jenis Tanah. Jurnal. Makalah. Kota Banjarmasin. Peta Digital PENDAHULUAN Di era saat ini, di mana perkembangan teknologi informasi sangat pesat, banyak cara dikembangkan untuk menampilkan informasi agar lebih menarik. Juga, informasi harus akurat dan tepat dan terintegrasi dengan sistem informasi tabular, gambar, dan grafik sehingga lebih Namun, sistem informasi tidak terintegrasi secara geografis. Diperlukan sistem koordinat geografis untuk mengetahui lokasi sebenarnya di permukaan bumi dari sumber atau hasil informasi itu. Oleh karena itu, diperlukan sistem informasi terintegrasi dengan sistem koordinat seperti GIS (Geographic Information Syste. Sistem Informasi Geografis atau Geographical Information System (GIS) merupakan sebuah integrasi dari perangkat keras dan perangkat lunak komputer untuk mengolah, menganalisa, dan memanipulasi data yang terikat dengan koordinat geografis. GIS mengintegrasi semua informasi yang ada dipermukaan bumi. Informasi tersebut dapat berupa parameter fisik seperti elevasi permukaan tanah, tingkat kelembapan tanah, klasifikasi tata Afief/Pemetaan Digital. /487-492 guna lahan dan lain-lain. Selain itu, parameter lain seperti lokasi bencana alam atau potensi bencana dapat juga Dalam GIS, informasi tersebut disebut sebagai atribut yang menyatakan kualitas atau karakter. Untuk bisa diintegrasi kedalam GIS, informasi tersebut harus memiliki koordinat yang mengacu pada bentuk permukaan bumi (Fazal, 2. Dengan bantuan GIS, informasi seperti hasil pengujian tanah di lapangan dapat dipadukan dengan informasi lainnya seperti muka air tanah, hasil pengujian tanah di laboratorium maupun hasil pengujian lainnya. Selain itu, lokasi pengujian dapat diketahui dalam format koordinat geografis. Informasi yang terpadu tersebut dapat disebut sebagai basis data. Informasi hasil pengujian tanah di lapangan dari sebuah basis data dapat dibuat model untuk menghasilkan bentuk profil dari parameter hasil pengujian seperti peta profil jenis lapisan tanah. Hasil dari GIS berupa basis data peta digital dan data dalam bentuk tabel. Selain itu dalam GIS, peta digital dan data tabel dapat dihubungkan dan/atau dipadukan untuk membentuk peta baru. Dengan AGREGAT Vol. No. Mei 2021 adanya GIS, hampir semua jenis data dapat dikomputerisasi dan diintegrasi dengan data lainnya. Pada penelitian pemetaan digital kedalaman tanah keras Kota Banjarmasin yang dilakukan oleh MaAoruf, et al. didapatkan peta kedalaman tanah keras yang memberikan informasi bahwa variasi kedalaman tanah keras di kota Banjarmasin berkisar dari 28 m sampai 4m, seperti terlihat pada Gambar 1. Pada penelitian kali ini, dicoba membuat sistem informasi data hasil pengujian tanah berbasis geografis di seluruh wilayah kota Banjarmasin yang memberikan gambaran mengenai jenis tanah di permukaan Kota Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengkompilasi seluruh data hasil pengujian tanah dan membuat profil tanah sepanjang wilayah kota Banjarmasin dengan bantuan GIS dalam bentuk peta digital jenis lapisan tanah permukaan di Kota Banjarmasin. Hasil dari penelitian diharapkan dapat digunakan untuk keperluan perancangan konstruksi, terutama konstruksi pondasi, di Kota Banjarmasin. ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengkompilasi seluruh data hasil pengujian tanah dan membuat peta jenis tanah permukaan di sepanjang wilayah kota Banjarmasin dengan bantuan GIS. Sebanyak titik uji Standar Penetration Test (SPT) dan 45 titik uji sondir di kota Banjarmasin yang diintegrasikan dengan GIS dalam bentuk peta jenis lapisan tanah di permukaan Kota Banjarmasin. Baik SPT maupun sondir adalah tes tanah yang paling umum di kota Banjarmasin. Dengan dua tes ini, parameter mekanis tanah dapat ditemukan yang digunakan untuk melihat tipe perilaku tanah dari setiap lapisan tanah. Data hasil pengujian tanah yang digunakan bersumber pada Laboratorium Mekanika Tanah Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat dan sumber lainnya. Gambar 2. Batas Kota Banjarmasin (Sumber: Google Earth Pr. Hasil tes SPT dan CPT dihubungkan oleh persamaan . c/P. /N60 untuk menentukan jenis tanah dan Hal ini berdasarkan korelasi dari Robertson et . yang menghubungkan rasio . c/P. /N60 dengan ukuran butir rata-rata. D50 . ervariasi antara 0,001 mm sampai 1 m. Nilai N pada hasil pengujian SPT yang digunakan sesuai dengan rasio energi rata-rata sekitar 60%. Oleh karena itu, rasio berlaku untuk N60, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3. Gambar 1. Peta Digital Kedalaman Tanah Keras di Kota Banjarmasin (Sumber: MaAoruf, et al. METODE Penelitian ini dilakukan di kota Banjarmasin yang secara geografis terletak antara 3A16Ao46AoAo sampai dengan 3A22Ao54AoAo lintang selatan dan 114A31Ao40AoAo sampai dengan 114A39Ao55AoAo bujur timur. Kota Banjarmasin berbatasan dengan Kabupaten Banjar di sebelah timur dan dan Kabupaten Barito Kuala di sebelah barat dan Luas Kota Banjarmasin 98,46 km persegi atau 0,26% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Badan Pusat Statistik Kota Banjarmasin 2. Batas kota Banjarmasin (Gambar . digambarkan dengan garis hijau. Gambar 3. Hubungan Rasio . c/P. /N60 dengan ukuran butir rata-rata D50 (Sumber: Robertson et al. Afief/Pemetaan Digital. /487-492 AGREGAT Vol. No. Mei 2021 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Nilai qc dibuat tanpa dimensi saat membaginya dengan tekanan atmosfer . dalam unit yang sama dengan Robertson et al. menyarankan rasio . c/P. /N60 untuk setiap zona tipe perilaku tanah menggunakan grafik CPT yang tidak dinormalisasi. Rasio yang disarankan . c/P. /N60 untuk setiap jenis perilaku tanah diberikan seperti terlihat pada Tabel 1. Nilai-nilai ini memberikan estimasi nilai SPT N60 yang wajar dari data CPT. Data CPT yang digunakan berupa qc dimana penetrasi konus tidak dikoreksi terhadap tekanan pori tanah. Korelasi ini sendiri sudah terbukti cukup efektif digunakan untuk jenis tanah di Indonesia mengacu pada penelitian oleh Wahyudi, et al. Tabel 1. Hubungan . c/P. /N60 terhadap Soil Behaviour Type (SBT) Zone Soil Behavior Type (SBT) Sensitive fine grained Organic soils Ae clay Clays: clay to silty clay Silt mixtures: clayey silt & silty clay Sand mixtures: silty sand to sandy silt Sands: clean sands to silty sands Dense sand to gravelly sand Very stiff sand to clayey sand* Very stiff fine-grained* . c/P. /N60 HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil pengujian tanah yang digunakan sebanyak 46 titik uji SPT dan 36 titik uji sondir yang tersebar pada Kota Banjarmasin direkapitulasi dan diinput koordinat titik masing-masing lokasi pengujian. Dalam hal ini informasi koordinat merupakan parameter terpenting dalam SIG agar dapat diplot ke dalam perangkat lunak SIG. Data koordinat yang didapatkan pada laporan pengujian tanah digunakan sebagai penunjuk lokasi secara absolut. Jika tidak didapatkan koordinat maka digunakan penunjuk lokasi secara realtif seperti nama lokasi atau nama proyek. Dengan nama lokasi atau nama proyek tersebut kemudian diestimasi koordinat pengujian tanah dengan perangkat lunak Google Earth Pro. Informasi yang didapatkan melalui laporan pengujian tanah atau perangkat lunak Google Earth diambil dalam bentuk satuan satuan sudut decimal degree. Hasil input koordinat tersebut kemudian diplot ke dalam Google Earth untuk melihat keterwakilan seluruhn wilayah Kota Banjarmasin seperti terlihat pada Gambar 4 dan 5. Sumber: Robertson et al. Hasil interpretasi uji SPT dan sondir selanjutnya dimodelkan secara spasial menggunakan model interpolasi Inverse Distance Weight (IDW) daengan bantuan perangkat lunak QGIS. Analisis dilakukan pada bentuk data raster. Untuk lebih jelasnya alur metode penelitian dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 4. Peta Sebaran Titik Uji SPT di Kota Banjarmasin Gambar 5. Peta Sebaran Titik Uji Sondir di Kota Banjarmasin Gambar 3. Alur penelitian Afief/Pemetaan Digital. /487-492 Selanjutnya basis data diolah dengan setiap data memiliki kode identifikasi yang bersifat unik. Kode identifikasi dibuatkan berdasarkan gabungan atribut nomor 1 sampai nomor 10. Atribut nomor 1 sampai nomor 3 merupakan kode relasi wilayah kecamatan yang terdiri dari AGREGAT Vol. No. Mei 2021 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. 6 digit dengan urutan 2 . digit kode wilayah daerah provinsi, 2 . digit kode wilayah daerah kabupaten/kota, dan 2 . digit kode wilayah kecamatan. Atribut nomor 4 sampai nomor 10 merupakan keterangan dari laporan pengujian tanah. Atribut nomor 4 sampai nomor 6 menunjukan kapan dilakukan pengujian tanah. Atribut nomor 7 menunjukan jenis infrastruktur atau kegiatan forensik teknik sipil yang menggunakan data hasil pengujian tanah. Atribut nomor 8 menunjukan penyedia jasa pengujian tanah dimana internal menandakan pengujian tanah dilakukan oleh Laboratorium Mekanika Tanah Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat dan eksternal menandakan pengujian tanah dilakukan oleh pihak penyedia jasa lainnya. Atribut nomor 9 menunjukan tipe pengujian lapangan yang dilakukan. Atribut nomor 10 menunjukan nomor titik pengujian tanah secara berurutan sesuai laporan pengujian tanah. Dengan kode identifikasi berasal dari kode relasi wilayah kecamatan dan keterangan data laporan hasil pengujian tanah dapat menunjukan kapan, dimana, spesifik dari titik pengujian tanah. Penjelasan atribut dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Penjelasan atribut dan kode basis data No. Nama Atribut Kode Nomor Nama Provinsi Kalimantan Selatan . Nama Kabupaten/Kota Banjarmasin . Nama Kecamatan Banjarmasin Selatan . Banjarmasin Timur . Banjarmasin Barat . Banjarmasin Tengah . Banjarmasin Utara . Hari Format 2 digit . Bulan Format 2 digit . Tahun Format 4 digit . Tipe Proyek Gedung . Jembatan . Jalan . Pelabuhan . Forensik . Penyedia Jasa Pengujian Internal . Eksternal . Tipe Pengujian SPT . CPT . Nomor Titik Pengujian Format 3 digit . secara berurutan sesuai dengan laporan hasil pengujian Tabel 3. Isian atribut berdasarkan proyek Pembangunan Hotel Global No. Nama Atribut Kode Nomor Nama Provinsi Kalimantan Selatan . Nama Kabupaten/Kota Banjarmasin . Nama Kecamatan Banjarmasin Tengah . Hari Bulan Tahun Tipe Proyek Gedung . Penyedia Jasa Pengujian Eksternal . Tipe Pengujian SPT . Nomor Titik Pengujian BH1 . Sumber: Hasil Pengolahan data . Dalam menentukan jenis tanah, informasi yang diambil dari laporan pengujian tanah dengan metode SPT adalah nilai tahanan NSPT dan karakter tanah sesuai dengan deskripsi tanah (Soil Descriptio. Informasi yang diambil dari laporan pengujian tanah dengan metode CPT adalah nilai tahanan konus qc dan tahanan selimut lokal fs. Nilai tahanan konus qc dan tahanan selimut lokal fs dibuat pada dua tabel yang berbeda. Hal ini diperlukan untuk kemudahan dalam tahapan Plotting dan Overlay dalam perangkat lunak SIG. Pemisahan ini diperlukan karena dalam menentukan jenis tanah berdasarkan korelasi . c/P. /N60, data yang diperlukan hanyalah data tahanan konus qc. Pada pembuatan model data NSPT dan qc digunakan model (Inverse Distance Weigh. IDW sebagai model interpolasi spasial. Model dibuat berdasarkan kedalaman 2 meter di bawah permukaan tanah untuk menggambarkan jenis tanah di lapisan tanah permukaan di Kota Banjarmasin. Hasil pembuatan peta berdasarkan sebaran nilai NSPT dan sondir di kedalaman 2 meter dari permukaan tanah dapat dilihat pada Gambar 6 dan 7. Sumber: Hasil Pengolahan data . Contoh data isian pada laporan pengujian tanah lapangan berupa SPT pada proyek Pembangunan Hotel Global yang dilakukan Somif Borneo Perkasa (Tabel . Berdasarkan pada identifikasi lokasi keterangan yang terlampir pada laporan pengujian maka dapat dibuat kode identifikasi dengan isian atribut pada Tabel 2. Sehingga dapat dibuat kode identifikasi sebagai berikut: ID = Ao63Ao Ao71Ao Ao31Ao Ao07Ao Ao12Ao Ao2009Ao Ao0Ao Ao1Ao Ao0Ao Ao001Ao ID = 63713107122009010001 Maka kode unik pada borlog 1 pengujian tanah dengan SPT proyek Hotel Global yang dilakukan oleh Somif Borneo Perkasa adalah 63713107122009010001 Gambar 6. Peta Nilai NSPT Lapis Permukaan Tanah Kota Banjarmasin Sumber: Hasil Pengolahan data . Afief/Pemetaan Digital. /487-492 AGREGAT Vol. No. Mei 2021 Gambar 7. Peta Nilai Tahanan Konus qc Lapis Permukaan Tanah Kota Banjarmasin Sumber: Hasil Pengolahan data . Dari Gambar 6 dan 7 terlihat bahwa nilai NSPT dan sondir di permukaan tanah di Kota Banjarmasin relative kecil, yaitu bernilai rata-rata 5. Selanjutnya dalam menentukan jenis tanah di permukaan tanah Kota Banjarmasin, maka dilakukan analisa korelasi . c/P. /N60 secara spasial. Nilai NSPT dan qc yang terhitung secara spasial dengan model IDW digunakan sebagai input dalam menghitung . c/P. /N60. Pada perhitungan . c/P. /N60 digunakan nilai tahanan konus qc tanpa koreksi terhadap tekanan pori dan nilai tekanan atmosfer sebesar 1 atm atau 03323 kg/cm2. Berikut hasil analisis data secara spasial pada Gambar 8. Gambar 8. Peta Jenis Lapisan Tanah Permukaan Kota Banjarmasin Sumber: Hasil Pengolahan data . Berdasarkan hasil pengolahan data spasial pada Gambar 8, maka terlihat bahwa jenis tanah yang dominan di lapisan permukaan di Kota Banjarmasin adalah tanah lempung berlanau dan lempung organik, dengan beberapa lokasi terdapat lapisan pasir padat yaitu di perbatasan Banjarmasin Tengah dengan Banjarmasin Timur, serta di Banjarmasin Utara. Jika dilakukan pengecekan ulang terhadap soil description pada laporan pengujian NSPT, maka berdasarkan data soil description dari salah satu pengujian tanah menyatakan dalam kedalaman 2 meter sampai 20 meter memiliki SBT silty clay atau clayey silt. Hal ini bersifat wajar dikarenakan nilai tahanan konus q c Afief/Pemetaan Digital. /487-492 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. tidak dikoreksi terhadap tekanan pori untuk tanah tanah lunak berbutir halus . ine-grained soft soi. pada kedalaman 00 sampai 36. 00 meter. Hal ini menunjukkan bahwa peta yang dibuat dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam perencanaan konstruksi di Kota Banjarmasin. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa lapisan tanah yang dominan di lapisan permukaan di Kota Banjarmasin adalah lempung organik dan lempung berlanau, yang termasuk dalam kategori tanah lunak. Ini berarti bahwa kondisi permukaan tanah Kota Banjarmasin kurang cocok untuk pengaplikasian konstruksi pondasi dengan jenis pondasi dangkal, karena daya dukung tanah lunak yang relatif kecil. Sehingga dalam perencanaan konstruksi bangunan di Kota Banjarmasin, perlu memperhatikan hal-hal yang menjadi tantangan dalam pembangunan konstruksi di tanah lunak, yaitu daya dukung tanah yang relatif kecil dan penurunan tanah yang relatif Hal ini sejalan dengan kearifan lokal masyarakat Kota Banjarmasin dan sekitarnya yang memanfaatkan pondasi cerucuk kayu gelam sebagai konstruksi bangunan bawah karena merupakan jenis floating foundation yang tidak bertumpu pada daya dukung ujung, namun bertumpu pada lekatan friksi kulit cerucuk yang cukup besar di dalam tanah lempung lunak. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai NSPT dan sondir di permukaan tanah di Kota Banjarmasin relative kecil, yaitu bernilai rata-rata 5 dengan lapisan tanah yang dominan di lapisan permukaan di Kota Banjarmasin adalah lempung organik dan lempung berlanau, yang termasuk dalam kategori tanah lunak. Hasil ini masih relevan dengan deskripsi yang diperoleh dari laporan pengujian NSPT dengan jenis tanah permukaan dominan lempung berlanau. Hal ini menunjukkan bahwa peta yang dibuat dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam perencanaan konstruksi di Kota Banjarmasin. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih yang sebesarbesarnya diberikan kepada Universitas Lambung Mangkurat yang telah mendukung penelitian ini dengan memberikan hibah melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam skema Program Beasiswa Penelitian Dosen Wajib Meneliti. Ucapan terima kasih juga diberikan kepada Laboratorium Mekanika Tanah. Fakultas Teknik. Universitas Lambung Mangkurat, serta rekan-rekan dunia konstruksi di Kota Banjarmasin yang telah membantu menyediakan data pengujian tanah demi terlaksananya penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA