Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 PERTUMBUHAN DAN HASIL KENTANG GRANOLA (Solanum tuberosum L. ) PADA BERBAGAI JENIS PUPUK ORGANIK DAN UKURAN BENIH DI DAERAH MENENGAH KABUPATEN GARUT Indri Indah Nurapianti1. Hanny Hidayati NafiAoah2, dan Jenal Mutakin3 Mahasiswa. Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Garut. Dosen Fakultas Pertanian. Universitas Garut. Jl. Raya Samarang No 52 A Hampor Desa Mekarwangi Kec. Taroggong Kaler Kabupaten Garut Jawa Barat 44151. Indonesia. E-Mail: indriindahnur@gmail. Submit: 04-07-2023 Revisi: 28-10-2023 Diterima: 10-11-2023 ABSTRAK Pertumbuhan Dan Hasil Kentang Granola (Solanum tuberosum L. ) Pada Berbagai Jenis Pupuk Organik Dan Ukuran Benih Di Daerah Menengah Kabupaten Garut. Pertumbuhan dan Hasil Kentang Granola (Solanum tuberosum L. ) Pada Berbagai Jenis Pupuk Organik dan Ukuran Bibit Di Dataran Medium Kabupaten Garut. Kentang merupakan tanaman pangan yang strategis dengan mendukung ketahanan pangan bagi perekonomian di Indonesia. Tanaman kentang mampu beradaptasi dengan baik pada daerah dataran tinggi, sehingga perlu dilakukan elaborasi teknologi budidayanya dengan cara memanfaatkan dataran medium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik dan ukuran bibit pada pertumbuhan tanaman kentang di dataran medium. Penelitian ini mengunakan rancangan split plot, faktor petak utama adalah pupuk organik dan faktor ke dua adalah anak petak yaitu ukuran bibit. Dalam percobaan faktorial 4x3, dengan dua faktor perlakuan, diulang sebanyak 3 kali. Faktor yang di uji adalah faktor pertama : pupuk organik . kontrol, . pupuk kompos gulma,. pupuk kompos kotoran domba dan petroganik, . pupuk kompos kotoran domba. Faktor anak petak yaitu: . S:10-30g, . M:30-60g dan . L: 60-90g. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian pupuk oraganik dan ukuran bibit hanya terjadi interaksi terdap nisbah pupus akar dan jumlah umbi per plot, tetapi untuk parameter pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi pertanaman, bobot umbi per tanamna dan bobot umbi perplot tidak terjadi interaksi namun memiliki pengaruh mandiri, untuk diameter batang tidak terjadi pengaruh yang signifikan. Kata kunci : Dataran Medium. Pupuk Organik. Ukuran Bibit. ABSTRACT Growth And Yield Of Potato Granola (Solanum tuberosum L. ) In Various Types Of Organic Fertilizer And Seed Size In The Medium Plains of Garut Regency. Potato is a strategic food crop by supporting food security for the economy in Indonesia. Potato plants are able to adapt well to the highlands, so it is necessary to elaborate the cultivation technology, so that potato production can be carried out well on the medium plains. This study aims to determine the effect of organic fertilizer and seedling size on the growth of potato plants on the medium plains. This study used a split plot design, the main plot factor was organic fertilizer and the second factor was the subplot, namely seed size. In a 4x3 factorial experiment, with two treatment factors, it was repeated 3 times. The factor tested was the first factor: organic fertilizer . control, . weed compost, . sheep manure and petroganic compost, . sheep manure compost. Subplot factors are: . S: 10-30g, . M: 30-60g and . L: 60-90g. The results showed that the application of organic fertilizers and the size of the seedlings only had an interaction with the root removal ratio and the number of tubers per plot, but for the parameters of observation of plant height, number of leaves, number of tubers planted, tuber weight per plant and tuber weight per plot there was no interaction but had independent effect and for stem diameter there was no significant effect. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Pertumbuhan dan Hasil Kentang A Nurapianti et al. Keywords : Medium Plains. Organic Fertilizer. Seed Size. PENDAHULUAN Kentang pangan yang strategis, dengan mendukung ketahanan pangan bagi perekonomian di Indonesia. Tanaman merupakan tanaman semusim berbentuk perdu yang terdiri dari daun, batang, umbi, buah, dan bunga. Kentang merupakan salah satu komoditas sayuran yang produksinya karena dapat mendatangkan keuntungan bagi petani, memiliki peluang dalam pemasaran dan ekspor, tidak mudah rusak seperti pada sayuran lainnya dan juga memiliki kadar kalori, protein dan vitamin yang tinggi (Wagiono et al. Garut menjadi salah satu penghasil kentang nomor 1 di Indonesia. Kentang banyak di budidayakan di dataran tinggi (> 1000 m di atas permukaan lau. Budidaya kentang di dataran tinggi dapat merusak lingkungan, terutama erosi lahan dan menurunnya produktifitas tanah. Tanaman kentang cenderung hanya mampu beradaptasi dengan baik di dataran tinggi, masalah kerusakan akibat pengembangan kentang di dataran tinggi harus segera di carikan jalan keluar salah satu di antaranya ialah dengan mengembangkan kentang di datran Perbedaan ekosistem di dataran tinggi dan dataran medium mempunyai suatu kendala bagi tanaman kentang untuk tumbuh dan produksi secara optimal (Kaseger et al. Pengembangan tanaman kentang di dataran medium hingga saat ini masih menghadapi beberapa kendala. Salah satu kendala utamanya adalah masih belum adanya ukuran bibit yang sesuai dengan faktor lingkungan, khususnya suhu dan Menurut Ramayana . tanaman juga dapat tumbuh dengan maksimal apabila pupuk organik yang di berikan tepat. Penambahan sumber hara melalui pemupukan dapat diharapkan untuk meningkatkan hasil, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, mengingat tanah di dataran medium pada umumnya memiliki kandungan bahan organik yang rendah maka perlu peningkatkan unsur hara pada tanah dataran medium dengan memanfaatkan pupuk kompos kandang dan pupuk kompos gulma. Pemberian pupuk organik pada dataran medium juga dapat meningkatkan kesuburan tanah, pemberian pupuk organik kompos kandang pada tanah tidak hanya memperbaiki kesuburan kimia tanah tetapi meningkatkan kesuburan fisik dan biologi tanah (Triadiawarman et al. Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dilakukanya penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil kentang granola pada berbagai berbagai pengaruh pupuk organik dan jenis ukuran bibit di dataran medium Kabupaten Garut. METODA PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Desa Tanjungsari. Kecamatan Karangpawitan. Kabupaten Garut. Percobaan ini di laksanakan pada bulan November 2022 sampai dengan bulan Januari 2023. Lokasi penelitian terletak pada ketinggian tempat A 789. 1 meter di atas permukaan laut. Menurut kriteria Schmidt and Ferguson 1951, daerah tersebut memiliki tipe curah hujan C . gak basa. Variasi temperatur bulanan berkisaran antara 24oc. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan yaitu bibit kentang varietas granola, media tanam yaitu tanah, pupuk organik kandang domba, pupuk organik gulma, pupuk organik kandang ayam dan petroganik. Alat yang digunakan cangkul, timbangan analitik, meteran, alat tulis dan jangka work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Rancangan Percobaan Penelitian mengunakan rancangan split plot dalam percobaan faktorial 4x3 dengan dua faktor perlakuan, di ulang sebanyak 3 kali, faktor petak utama adalah pupuk organik dan faktor anak petak adalah jenis ukuran bibit: Faktor petak utama : Pupuk Organik yang terdiri dari 3 taraf pemupukan: :Tanpa pemberian pupuk organik . ebagai kontro. :Pupuk kompos gulma :Pupuk kompos kotoran domba dan petroganik dengan per bandingan 1:1 :Pupuk kompos kotoran domba Faktor anak petak : jenis ukuran bibit yang terdiri dari 3 taraf dengan jenis ukuran bibit (S,M dan L). b1: S . b2: M . b3: L . Prosedur Pelaksanaan Penelitian Pembuatan Media Tanam Pengolahan tanah dan pembuatan plot dilakukan 4 hari sebelum penanaman. Plot dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m, sebanyak 36 plot. Penanaman Penanaman di lakukan pada sore hari dengan cara ditugal sedalam 10 cm, lalu dimasukkan 1 bibit perlobang tanam. Sedangkan jarak tanam adalah 60 cm x 30 Pemupukan Pemupukan pertama pada waktu tanam dilakukan dengan pupuk kompos gulma 10 ton/ha, pupuk kompos kotoran 10 ton/ha, pupuk kompos kotoran domba dan petroganik 5 ton/ha per ha. Pada umur 3 minggu setelah tanam dilakukan pemupukan ke 2 dengan phonska 500 kg per ha. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Penyiraman Penyiraman di lakuan dua kali sehari pagi dan sore hari. Penyiangan Penyiangan dilakukan bersamaan dengan pemulihan gundukan dan tanaman kentang sekitar 20 Ae 60 HST. Pembumbunan Pembumbunan dilakukan pada saat tanaman berumur 40 HST. Pembumbunan dilakukan untuk menutupi umbi kentang dari paparan sinar matahari langsung. Panen Tanaman kentang di panen pada umur A 80 hari setelah tanam. Pengamatan Tinggi tanaman . Pengukuran tinggi tanaman di lakukan mulai dari pangkal batang sampai ujung titik tumbuh pada umur 20 hari, 45 hari dan 60 hari setelah tanam. Jumlah Daun . Jumlah daun di hitung sejak daun sudaah mekar pada umur 20 hari, 45 hari dan 60 hari setelah tanam. Diameter Batang . Pengukuran diameter batang dengan mengunakan jangka sorong di lakukan pada umur 45 hari setelah tanam. Jumlah Umbi Per Tanaman . Jumlah umbi per tanaman di hitung pada umur 80 hari setelah tanam. Jumlah Umbi Per Plot . Jumlah umbi per plot di hitung setelah seluruh tanaman per plot di panen pada umur 80 hari setelah tanam. Bobot Umbi Per tanaman This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Pertumbuhan dan Hasil Kentang A Nurapianti et al. Bobot umbi per tanaman dengan menimbang berat buah segar per tanaman pada umur 80 hari setelah tanam. Bobot Umbi Per Plot Bobot umbi per tanaman dengan menimbang berat buah segar per plot pada umur 80 hari setelah tanaman. Analisis Data Analisis data yang di gunakan yaitu mengunakan rancangan split-plot pada rancangan split-plot faktor petak utama . ain plot/ whole plo. dan faktor kedua digunakan sebagai anak petak . ub plo. , model linier rancangan percobaan splitsplot dengan rancangan dasar RAK adalah Yijk= A C Oj Bk (OB)jk Aijk Yijk Ai (OB)jk Aijk = Nilai pengamatan pengaruh faktor-O ke-I pada taraf ke-j dan faktor B pada taraf ke-k = Nilai rata-rata populasi = Pengaruh ulangan ke-i = Efek dari faktor K pada taraf ke-j = Efek dari faktor P pada taraf ke-k = Efek interaksi dari faktor K pada taraf ke-j dan faktor P pada taraf ke-k = pengaruh galat blok ke-i perlakuan O pada taraf ke-j dan perlakuan B pada taraf ke-k Data hasil pengamatan disusun dalam tabel ANOVA, jika hasil menunjukan pengaruh yang berbeda nyata maka dilanjutkan uji beda rataan dengan uji BNT. HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman. Jumlah Daun dan Diameter Batang Hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa berbagai perlakuan pupuk organik dan jenis ukuran bibit terhadap tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang, tidak terjadi interaksi, namun memiliki pengaruh mandiri terhadap perlakuan pupuk organik pada parameter pertumbuhan pada tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang, dapat dilihat pada tabel 1 di bawah. Tabel 1. Rataan tinggi tanaman . , jumlah daun . dan diameter batang . umur 20,45 dan 60 HST. Perlakuan BNT 5% BNT 5% Tinggi Tanaman . Umur 20 HST 45 HST 60 HST 10,50 a 29,61 a 41,78 a 15,59 d 30,61 b 40,39 a 11,89 b 32,92 c 41,14 a 13,37 c 31,25 b 40,58 a 0,48 0,73 21,76 a 56,44 a 72,44 a 25,71 a 55,85 a 72,93 a 21,00 a 53,56 a 73,15 a Jumlah Daun . Umur 20 HST 45 HST 60 HST 1,89 a 3,92 a 2,92 a 1,90 a 3,88 a 2,95 a 1,98 b 3,76 a 2,92 a 1,86 a 3,98 a 3,09 b 0,71 3,37 a 3,82 a 5,38 a 3,40 a 3,85 a 3,35 a 3,40 a 3,99 a 3,19 a 0,89 0,22 Diameter Batang . Umur 45 HST 7,71 a 7,24 a 7,19 a 7,53 a 7,28 a 7,61 a 7,36 a Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji BNT 5%. work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Tinggi Tanaman Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi antara pupuk organik dan jenis ukuran bibit namun memiliki pengaruh mandiri terhadap perlakuan pupuk organik pada parameter pengamatan tinggi tanaman umur 20 dan 45 HST. Hal ini diduga bahwa meningkatnya tinggi tanaman umur 45 HST pemberian pupuk kompos yang di berikan sudah sesuai dengan yang di butuhkan tanaman sehingga dapat tanaman dengan cepat. Unsur hara N yang terkandung dalam pupuk kompos berfungsi untuk pembentukan asimilat, karbohidrat, protein dan penyusunan klorofil yang di butuhkan dalam pembentukan fotosintesis. Sejalan dengan pendapat Riyawati . adanya nitrogen yang cukup pada tanaman maka proses pembelahan sel akan berjalan dengan Nitrogen mempunyai peran utama untuk merangsang pertumbuhan secara keseluruhan khususnya pertumbuhan batang sehingga memacu pertumbuhan tinggi tanaman. Sementara itu parameter tinggi tanaman umur 20 HST berdasarkan uji BNT taraf 5% menunjukan bahwa p0, p1, p2 dan p3 menunjukan hasil berbedanyata, maka dari itu pemberian perlakuan p1 menunjukan hasil rataan paling tinggi dengan nilai 15,59cm sedangkan untuk parameter tinggi tanaman umur 45 HST berdasarkan uji BNT taraf 5% menunjukan bahwa p1 dan p3 tidak berbedanyata tetapi berbedanyata dengan p0 dan p2 maka dari itu pemberian perlakuan p2 menunjukan hasil rataan paling tinggi dengan nilai rataan sebesar 32,92cm. Tingginya rataan pada tinggi tanaman umur 45 HST dengan perlakuan p2 . upuk kompos domba dan petrigani. hal ini diduga akar pada tanaman kentang sudah membentuk sempurna, sehingga ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 akar tanaman dapat menyerap unur hara pada tanah secara optimal. Sejalan dengan pendapat Triyanti . menunjukan bahwa pemberian pupuk organik domba pertumbuhan tinggi tanaman hal ini di karenakan pupuk organik domba banyak mengandung unsur hara makro dan memiliki berbagai jenis bakteri yang baik dan hasil penelitian Pakpahan et al. menunjukan bahwa pupuk petroganik berpengaruh terhadap tinggi tanaman, petroganik menjadi salah satu pupuk yang berbahan dasar organik yang efektif serta efisien untuk penerapanya. Selain itu pada umur 60 HST tidak parameter tinggi tanaman, hal ini diduga kurangnya unsur hara yang tersedia pada dataran medium sehingga tidak memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman kentang. Sesuai dengan pendapat Prayugo . yang menyatakan bahwa jumlah unsur hara dengan ketersediaan di dataran medium yang tidak mencukpi atau tidak seimbang akan menghambat pertumbuhan tanaman, tanaman akan tumbuh dengan baik apabila unsur hara yang di butuhkan Menurut Rakun et al. juga menambahkan bahwa perbedaan dosis pupuk kompos berpengaruh nyata terhadap tinggi batang dan jumlah daun terhadap tanaman jagung. Sehingga pemberian dosis pupuk yang baik dan sesuai bagi tanaman akan mempengaruhi pertumbuhan tinggi tanaman, demikian juga sebaliknya apabila tidak sesuai bagi tanaman maka pertumbuhan tanaman akan terhambat. Jumlah Daun Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukan tidak terjadi interaksi antara perlakuan pupuk organik dan jenis ukuran bibit terhadap parameter pengamatan jumlah daun, namun memiliki pengaruh mandiri pada jumlah daun umur 20 dan 60 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Pertumbuhan dan Hasil Kentang A Nurapianti et al. HST. Parameter jumlah daun pada umur 20 HST berdasarkan uji BNT taraf 5% menunjukan perlakuan p0, p1 dan p3 memberikan hasil tidak berbedanyata namun berbedanyata dengan p2, maka dari itu p2 menunjukan raatan paling tinggi terhadap jumlah daun umur 20 HST dengan nilai rataan sebesar 1,98helai, sedangkan parameter jumlah daun umur 45 HST berpengaruh terhadap jenis ukuran bibit berdasarkan uji BNT taraf 5% menunjukan bahwa b1, b2 dan b3 memberikan hasil yang berbedanyata. Maka untuk itu pemberian perlakuan jenis organik b3 menunjukan hasil rataan terbesar dengan nilai rataan 5,32helai dan untuk parameter jumlah daun umur 60 HST berdasarkan uji BNT taraf 5% menujukan perlakuan pemberian pupk organik p0, p1 dan p2 menunjukan hasil berbedanyata dengan perlakuan p3 maka dari itu perlakuan p3 menunjukan hasil rataan tertinggi, dengan nilai rataan sebesar 3,09 helai daun. Meningkatnya jumlah daun pada perlakuan pupuk organik p3 umur 20 dan 60 HST dan jenis ukuran bibit b3 umur 45 HST Hal ini diduga pada pemberian pupuk organik dengan perlakuan tersebut dapat menghasilkan jumlah daun tanaman kentang lebih banyak, hal ini di sebabkan pada pemberian pupuk p3 . upuk kompos domb. dan ukuran bibit b3 (L) dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara N yang cukup dan jenis ukuran bibit yang memenuhi kapasitas di dataran medium sehingga tanamna dapat memacu pertumbuhan vegetatif. Hasil penelitian Zelelew . membuktikan bahwa tanaman yang lebih tinggi akan memiliki lebih banyak produksi dari fotosintat. Hal ini sesuai dengan pendapat Wardhana . juga menyatakan bahwa nitrogen berperan dalam pertumbuhan daun dan penyusunan klorofil sehingga tersedia pasokan nitrogen yang cukup untuk pembentukan daun dan pembentukan batang, jika pasokan nitrogen tersedia dalam jumlah yang cukup, jumlah daun dan tinggi tanaman akan meningkat. Diameter Batang Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukan bahwa pemberian berbagai pupuk organik dan jenis ukuran bibit terhadap parameter pengamatan diameter batang umur 45 HST tidak terjadi berpengaruh yang signifikan. Hal ini diduga pada pertumbuhan tanaman berkaitan dengan adanya pengunaan pupuk kandang yang belum mencukupi dan perkembangan akar pada batang, dimana pupuk kandang yang banyak mengandung unsur hara makro seperti N. P dan K sehingga memerlukan pertambahan pupuk yang mengandung Menurut Suwandi . yang menyatakan bahwa kebutuhan nitrogen berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tanaman pada fase vegetatif, terutama pada batang sebagai hasil penguraian bahan organik oleh mikroorganisme. Nisbah Pupus Akar Hasil menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara perlakuan berbagai pupuk organik dan jenis ukuran bibit . terhadap parameter pengamatan nisbah pupus akar umur 70 HST. Nisbah pupus akar memiliki rataan tertinggi pada perlakuan p1b2 sebesar 8,98 gram, sehingga pada perlakuan ini lebih epektif dalam proses Hal ini diduga bahwa kadar unsur hara pada tanah yang di berikan perlakuan pupuk organik sudah terpenuhi kebutuhan tanaman sehingga proses pertumbuhan tanaman kentang lebih baik dan untuk jenis ukuran bibit juga sudah memasuki kriteria ukuran bibit kentang yang bisa di budidayakan di dataran medium. work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Tabel 2. Rataan Nisbah Pupus Akar (NPA) umur 70 HST. NPA . Ukuran Bibit . 7,56 b . 5,43 b . 2,82 a . 5,92 b . 6,09 a . 8,98 b . 4,49 a . 4,02 a . 6,83 b . 5,08 ab . 4,86 ab . 4,07 a . Perlakuan Pupuk Organik . Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom . otasi sebelah kiri dat. atau baris . otasi sebelah bawah dat. yang sama di tiap tingkat penggunaan pupuk organik dan ukuran bibit menunjukkan tidak berbeda nyatamenurut uji BNT taraf 5 %. Sistem perakaran juga akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman dengan menunjang penyediaan air dan unsur hara untuk proses fotosintesis. Keadaan ini menunjukkan bahwa pada dataran medium ketersediaan air bagi pertumbuhan tanaman belum terpenuhi. Ketersedian air yang cukup akan memudahkan akar menyerap unsur hara yang diangkut ke bagian vegetatif tanaman sehingga pertumbuhan lebih Kandungan unsur hara yang tinggi dan lengkap, menjadikan pupuk kompos dapat digunakan sebagai sumber unsur hara bagi tanaman, sehingga gulma juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik, baik sebagai POC . upuk organik cai. maupun POP . upuk organik pada. selama menyediakan unsur hara bagi Baik POP maupun POC dapat meningkatkan kualitas tanah dan unsur hara pada tanah (Hamdani, 2. Sejalan dengan pernyataan Kurnia . yang menunjukkan bahwa pemberian pupuk kompos gulma dapat meningkatkan hasil pertumbuhan tanaman. Besar kecilnya jenis ukuran bibit juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kentang di dataran medium pertumbuhan dan akar pada tanaman di pengaruhi oleh besar kecilnya jenis ukuran bibit yang menentukan banyaknya tunas dalam bibit kentang. Tunas yang menghasilkan umbi yang banyak. Sehingga semakin besar ukuran umbi maka jumlah batang pada tanaman akan bertambah dan jumlah umbi yang di hasilkan akan lebih banyak (Wulandari et , 2. Jumlah Umbi Per Plot Hasil menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara perlakuan pupuk organik . dan ukuran bibit . , pada jumlah umbi per plot umur 80 HST. Perlakuan pupuk organik dan ukran bibit . terhadap jumlah umbi per plot memiliki rataan tertinggi pada parameter jumlah daun per plot dengan nilai 22,33 knol. Setiap perlakuan dan ukuran bibit pada jumlah umbi terdapat berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman kentang di dataran This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Pertumbuhan dan Hasil Kentang A Nurapianti et al. Tabel 3. Rataan jumlah umbi per plot umur 80 HST. Pupuk Organik . 18,00 b . 22,33 c . 18,00 b . 12,67 a . Ukuran Bibit . 20,33 d . 14,00 b . 15,33 c . 13,00 a . 20,67 d . 18,33 c . 16,67 b . 16,00 a . Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom . otasi sebelah kiri dat. atau baris . otasi sebelah bawah dat. yang sama di tiap tingkat penggunaan pupuk organik dan ukuran bibit menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNT taraf 5 %. Hal ini diduga bahwa tanaman yang di berikan pupuk organik kompos gulma dan ukuran bibit, memiliki hasil yang baik di bandingkan dengan perlakuan pupuk organik dan ukuran bibit yang lain, hal ini menunjukan kombinasi kompos dalam memperbaiki bahan untuk media tanam. Menurut Lidyana . menyatakan bahwa ukuran umbi yang kecil akan menghasilkan batang perumpun dengan jumlah yang banyak. Tanaman kentang akan memberikan hasil yang maksimal jika unsur hara yang diberikan terpenuhi, dan ukuran bibit yang di gunakan sudah beradaptasi dengan lingkungan dataran medium. Kondisi lingkungan yang sesuai menyebabkan perlakuan yang diberikan mampu meningkatkan produksi jumlah umbi kentang yang dihasilkan (Prayugo. Jumlah Umbi Per Tanaman. Bobot Umbi Per Tanaman dan Bobot Umbi Per Plot Hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa berbagai perlakuan pupuk organik dan ukuran bibit pada jumlah umbi per tanaman, bobot umbi per tanaman dan bobot umbi per plot, tidak terjadi interaksi, namun memiliki pengaruh mandiri pada perlakuan pupuk organik kepada semua parameter pengamatan umur 80 HST dan untuk perlakuan jenis ukuran bibit tidak berpengaruhmyang signifikan. Tabel 4. Rataan Jumlah Umbi Per Tanaman. Bobot Umbi Pertanaman dan Bobot Umbi Per Plot umur 80 HST. Bobot Umbi Per Tanaman Jumlah Umbi Per Tanaman 80 HST 1,72 a 1,80 a 143,59 a 745,33 a BNT 5% 1,82 a 2,05 b 0,71 1,83 a 189,85 c 191,78 d 0,71 064,33 c 167,22 d 0,71 163,92 a 991,67 a 1,81 a 166,22 a 980,67 a BNT 5% 1,90 a 189,94 a 1002,92 a Perlakuan 80 HST Bobot Umbi Per Plot 80 HST 168,22 b 990,11 b Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji BNT 0,05 work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 1 (Maret 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Jumlah Umbi Per Tanaman Hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi antara perlakuan pupuk organik dan jenis ukuran bibit, namun memiliki pengaruh mandiri pada pemberian pupuk organik terhadap parameter jumlah umbi per tanaman umur 80 HST. Berdasarkan tabel 4 hasil uji BNT taraf 5% menunjukan bahwa perlakuan p0, p1 dan p2 menunjukan hasil tidak berbedanyata namun berbedanyata pada perlakuan p3 maka dari itu pemberian perlakuan p3 menunjukan hasil rataan tertinggi dengan nilai rataan sebesar 2,05knol. Hal ini diduga karena terdapat banyak kandungan nutrisi pada pupuk kompos domba sehingga dapat lebih banyak umbinya dibandingkan dengan perlakuan lainnya, sehingga tanaman dapat lebih maksimal untuk memproduksi umbi dan jumlah umbi per tanaman lebih Menurut Yufriwati & Yulianti . peningkatan penyerapan unsur hara didalam tanah menjadi tinggi, sehingga dapat menyebabkan fotosintesis tinggi juga, maka dari pada itu jumlah umbi di dalam tanah meningkat. Jenis ukuran bibit pada jumlah umbi per tanaman tidak terjadi interaksi maupun pengaruh mandiri, hal ini diduga karena pada suatu produksi tanaman. Sehingga proses fotosintesis menurun, menurunnya asimilat pada suuatu tanaman dapat dipengaruhi oleh suhu tinggi, yang dapat mengakibatkan menurunya hasil umbi pada tanaman kentang. Menurut Djuariah . berpendapat bahwa semua ini disebabkan oleh kondisi suhu yang tinggi pada lahan dataran medium, sehingga sebaran fotosintat ke bagian akar dan umbi akan menurun, suhu yang tinggi mengakibatkan terhambatnya dalam pembentukan umbi. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Bobot Umbi Per Tanaman Hasil analisis sidik ragam menunjukan tidak terjadi interaksi antara perlakuan pemberian pupuk organik dan jenis ukuran bibit, tetapi terjadi pengaruh mandiri terhadap perlakuan pupuk organik pada parameter pengamatan bobot umbi per plot . umur 80 HST. Berdasarkan hasil uji BNT taraf 5% menunjukan bahwa perlakuan p0, p1, p2 dan p3 menunjukan hasil berbeda nyata, maka dari itu pemberian perlakuan p3 memberikan hasil rataan tertinggi dengan nilai rataan sebesar 191,78kg. Hal ini diduga pada perlakuan pupuk kompos pengaruhnyata terhadap tanah, sehingga unsur hara yang ada di dalam tanah dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman kentang granola di dataran medium. Ketidak sesuaian pada ketinggian tempat menyebabkan menurunya suatu produksi hasil tanaman kentang, dimana penanaman di lakukan di dataran medium kentang, hal ini menyebabkan penurunan dalam proses pertumbuhan tanaman yaitu di sebabkan oleh gulma, hama dan Sejalan dengan pendapat Soesanto . yang mengemukakan bahwa kepadatan patogen tular tanah seperti Ralstonia solana cearum yang menyebabkan serangan layu bakteri pada tanaman akan meningkat, seiring dengan rendahnya ketinggian tempat, sedangkan serangan penyakit cukup tinggi akan menyebabkan rendahnya hasil bobot umbi dan jumlah umbi. Menurut penelitian Prayugo . menjelaskan bahwa pupuk organik dan ukuran bibit menunjukkan bahwa hasil bobot umbi per tanaman kentang tidak terjadi interaksi, hal ini dikarenakan produksi kentang berbanding terbalik fotosintat yang cukup tinggi. Tanaman merupakan hasil dari proses produksi This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Pertumbuhan dan Hasil Kentang A Nurapianti et al. diakibatkan dari hasil tanaman yang memiliki suhu tinggi, sehingga dapat mengakibatkan penurunan produksi umbi. Bobot Umbi Per Plot Hasil menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi antara perlakuan pupuk organik dan ukuran bibit, namun memiliki pengaruh mandiri pada perlakuan pupuk organik sedangkan untuk perlakuan ukuran bibit tidak berpengaruh dignifikan terhadap parameter bobot umbi per plot umur 80 HST. Berdasarkan hasil uji BNT taraf 5% menunjukan bahwa perlakuan p0, p1, p2 dan p3 menunjukan hasil berbedanyata, maka dari itu pemberian perlakuan p3 menunjukan hasil rataan tertinggi dengan nilai rataan sebesar 1. 167,22kg. Hal ini pembentukan umbi, sehingga hasil dari fotosintesis dialirkan ke bagian akar untuk pembentukan umbi. maka semakin besar sukrosa yang dialirkan ke bagian umbi jumlah umbi yang dihasilkan berpengaruh terhadap bobot hasil. Menurut Devi et al. menujukan bahwa jumlah umbi yang dihasilkan berpengaruh nyata terhadap bobot hasil panen, emakin banyak umbi maka semakin besar bobot umbi yang dihasilkan. Kandungan dalam pupuk organik banyak mengandung unsur hara makro dan mikro dalam keadaan yang cukup memberikan sumber nutrisi sebagai bahan yang mensuplai tanaman dalam bentuk mineral (Jasmi & Ansyari, 2. Semakin tinggi bahan organik yang digunakan untuk tanah maka akan semakin kurangnya kepadatan pada tanah, pertumbuhan akar akan dengan baik. Sejalan dengan kondisi pertumbuhan dan perkembangan jumlah daun, disertai dengan pembentukan daun yang berwarna hijau menandakan adanya pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang mempengaruhi bobot segar umbi (Arifin et al. , 2. KESIMPULAN Penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk organik p3 . upuk kompos domb. lebih baik dari pemberian pupuk organik lainya, artinya jenis pupuk p3 dapat digunakan untuk pertumbuhan dan produksi kentang di dataran medium pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi pertanaman, bobot umbi per plot, bobot umbi per tanaman dan untuk jenis ukuran bibit terdapat pada b3 dengan ukuran bibit L . lebih baik dari ukuran bibit lainya, sehingga ukuran bibit kentang L dapat di budidayakan di dataran medium. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Universitas Garut telah memberikan kesempatan Khususnya Fakultas Pertanian Program Studi Agroteknologi tempat dimana meningkatkan kualitas dan kuantitas. Serta kepada ibu Dr. Hanny Hidayati NafiAoah. P dan bapak Dr. Jenal Mutakin. P sebagai pembimbing dalam penyusunan jurnal hasil penelitian penulis dan terimaksih juga kepada bapak Ardli Swardana. Si dan ibu Ai Yanti Rismayanti. P sebagai penguji dari hasil penyusunan jurnal ini. DAFTAR PUSTAKA