MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 2 Desember 2019 e- ISSN: 2622-7762 FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS BTA POSITIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUUWATU KOTA KENDARI The Risk Factors For Pisitive BTA Tuberculosis In The Work Area Of Puuwatu Health Center. Kendari City Kusrianti. Asbath Said Program StudiKesehatanMasyarakat. STIKES Mandala WaluyaKendari . sri@gmail. com/ 082333138. ABSTRAK Tuberkulosis merupakan penyakit menular disebabkan infeksi kuman Mycobacterium Tuberculosis. Tuberkulosis menjadi masalah kesehatan di Indonesia, khususnya di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Kota Kendari. Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan dimana tiga tahun terakhir ditemukan yaitu 2016 sebanyak 80 kasus . %), tahun 2017 sebanyak 75 kasus . %) dan tahun 2018 sebanyak 47 kasus . %). Upaya dilakukan untuk mencegah terjadinya kejadian TB dengan melakukan penelitian tentang pengetahuan, kepadatan hunian dan ventilasi. Penelitian bertujuan mengetahui faktor risiko kejadian TB BTA di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Kota Kendari. Jenis penelitian adalah Case Control Study dilaksanakan dari bulan Juni sampai Juli 2019 sampel yang digunakan sebanyak 32 kasus yang diambil secara Random Sampling dan 32 kontrol. Metode analisis menggunakan perhitungan Odds Ratio (OR). Hasilpenelitian Nilai OR pengetahuan, kepadatan hunian, dan ventilasi diperoleh OR=4,911> 1. OR=2,455> 1. OR=0,661< 1. Disimpulkan bahwa pengetahuan dan kepadatanhunian merupakan faktor risikokejadian TB BTA sedangkan ventilasi bukan faktor risiko kejadian TB BTA . Kata Kunci :Kejadian TB, pengetahuan, kepadatan hunian dan ventilasi ABSTRACT Tuberculosis is an infectious disease coused by infection with the bacterium Mycobacterium Tuberculosis. Tuberculosis is a health problem in Indonesia, especially in Puuwatu Public Health Center in Kendari City. It is still a health problem where in the last three years, 2016 there were 80 cases ( 60 % ), in 2017 there were 75 cases ( 53 % ) and in 2018 there were 47 cases ( 33 % ). Efforts are made to prevent the occurrence of TB is by conducting research on knowledge, occupancy density and ventilation. The study aims to determine the risk factors for the incidence of Positive BTA TB in Puuwatu Pulic Health Center in Kendari City. The type of this research is a Case Control Study conducted from June to July 2019. The sample used was 32 cases taken by random sampling and 32 controls. The analytical method used is the calculation of Odds Ratio (OR). The results of the OR value for knowledge, occupancy density, and ventilation obtained OR = 4. 911 > 1. OR =0. 661 < 1. So concluded that knowledge and occupancy density are the risk factors for the incidence of Positive BTA TB whereas ventilation is not a risk factor for it. Keywords :TB incidence, knowledge, occupancy density, ventilation MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 2 Desember 2019 Pada tahun 2016 di Sulawesi Tenggara PENDAHULUAN Tuberkulosis adalah penyakit menular e- ISSN: 2622-7762 (BTA ), dan pada tahun 2017 detemukan 2. kasusBTA positif. Tidak seperti trend yang Tuberkulosis biasanya menyerang paru Ae paru, terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, penemuan meskipun dalam sepertiga kasus dapat juga kasus baru tertinggi yang dilaporkan pada tahun menyerang organ tubuh lain seperti tulang, kulit 2017 berasal dari 4 kabupaten yaitu Kota perut dan lain Ae lain. Kendari. Kabupaten Konawe. Kolaka. Baubau, 105 kasus baru BTA positif . ycobacterium Penyakit menular adalah penyakit yang dan Bombana. Jumlah kasus baru di empat E50% Penyakit jenis ini merupakan masalah kesehatan keseluruhan kasus baru BTA di Sulawesi yang besar dihampir semua negara berkembang Tenggara. karena angka kesakitan dan kematiannya yang Dari hasil penemuan kasus di atas relatif tinggi dalam kurun waktu yang relatif menyebutka bahwa Sulawesi Tenggara belum Penyakit menular umumnya bersifat akut mencapai target WHO untuk penanganan kasus . dan menyerang semua lapisan Tuberculosis. Dan Kota Kendari merupakan Penyakit jenis ini diprioritaskan penyumbang terbanyak kasus Tuberculosis untuk Selawesi Tenggara, salah satunya wilaya kerja menyebabkan wabah dan menimbulkan kerugian yang besar. Penyakit menular merupakan hasil Puskesmas Puwatu Kota Kendari. Dinkes Kota Kendari menemukan 586 kasus TB . %), pada tahun 2017 ditemukan 538 kasus TB . %) dan pada Tuberkulosis masih merupakan masalah tahun 2018 ditemukan 350 kasus Tb . %) dari kesehatan utama didunia dimana penyakit ini 15 Puskesmas dan 8 rumah sakit yang ada di menduduki peringkat kedua sebagai penyebab Kota Kendari. utama kematian akibat penyakit menular setelah Kasus HIV-AIDS. Kejadian Puskesmas Puuwatu Kota Kendari pada Tahun 2016 yaitu 80 Berdasarkan WHO . , kasus . %), kasus. %) dan pada Tahun 2018 yaitu 47 kasus pada Tahun 2017 yaitu 75 Indonesia, namun baru terlapor ke kementrian . %). (Laporan P2M. Dinkes Kesehatan sebanyak 420. 000 kasus. Sehingga Kendari. Sedangkan jumlah tersebut menempatkan indonesia berada Permunas pada tahun 2016 ditemukan 35 kasus, di urutan ke tiga kasus kejadian TB di dunia pada tahun 2017 ditemukan 43 kasus dan pada setelah India dan China. Pada tahun 2017. TB tahun 2018 ditemukan 40 kasus TB. menyebabkan sekitar 1,3 juta kematian . Kota Puskesmas Penyebab . penyakit tuberkulosis 1,2-1,4 jut. antara orang HIV-negatif dan ada yaitu bakteri yang ditularkan melalui udara dan 000 kematian tambahan dari TB . isaran, reservoir penyakit adalah penyakit Tuberkulosis . di antara orang HIV-positif. (TB) BTA positif. MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 2 Desember 2019 e- ISSN: 2622-7762 Faktor risiko terjadinya TB diantaranya BTA yang berobat di Puskesmas Puuwatu yaitu karakteristik individu . mur, jenis kelamin, tahun 2018 sebanyak 47 orang. Sampel adalah tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasila. , bagian dari populasi yang menjadi objek faktor sosial ekonomi . tatus kemiskina. , penelitian yang berjumlah 32 orang. Instrumen kondisi lingkungan . epadatan hunian, ventilasi, atau alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berisi daftar pertanyaan tentang variabel independent yang ada dalam rumah/materi kebiasaan merokok, faktor riwayat kontak dan jarak rumah ke pasilitas pelayanan kesehatan. menggunakan kamera. Hasil observasi awal peneliti terhadap 5 masyarakat yang tinggal di wilayah kerja puskesmas puuwatu bahwa terdapat 3 orang yang HASIL PENELITIAN Distribusi responden menurut umur di memiliki pengetahuan kurang tentang penyakit Wilayah TB sehingga tidak melakukan pencegahan Kendari pada tabel 1 terlihatdari 64 responden, terhadap penularan penyakit. Kemudian dari 5 terbanyak adalah berumur 16- 24 tahun yaitu 12 rumah yang dikunjungi terdapat 2 rumah yang responden . ,8%) dan yang terkecil adalah umur 65-72 tahun yaitu 1 responden . ,1%). kelembaban di dalam ruangan yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit. Selanjutnya dari 5 rumah warga yang dikunjungi ada 3 rumah yang memiliki penghuni tidak sesuai dengan luas bidang rumah. Hal itu yang membuat masyarakat mudah terserang penyakit terutama penyakit METODE PENELITIAN Penelitian penelitian survey analitik, dengan pendekatan case control study, dimana jenis penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan mengetahui faktor risiko kejadian TB BTA apakah pengetahuan, kepadatan hunian dan Kerja Puskesmas Puuwatu Tabel 1. KarakteristikResponden Karakteristik Umur (Tahu. > 72 JenisKelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan SMA SMP Sumber : Data Primer, 2019 Distribusi Kota kelamin di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu terjadinnya TB BTA di Wilayah Kerja Kota Kendari pada tabel 1 terlihatdari 32 Puskesmas Puuwatu Kota Kendari Tahun 2019. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja responden . ,1%) laki-laki dan 7 responden Puskesmas Puuwatu Kota Kendari. Populasi . ,9%) perempuan. Serta dari 32 responden dalam penelitian ini adalah semua penderita TB kontrol yang diteliti, terdapat 25 responden MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 2 Desember 2019 e- ISSN: 2622-7762 . ,1%) laki-laki dan 7 responden . ,9%) menunjukkan bahwa dari 64 responden yang diteliti terdapat 23 responden . ,9%) yang Distribusi responden menurut pendidikan pengetahuannya berisiko dan 41 responden di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Kota . ,1%) dengan pengetahuan tidak berisiko. Kendari pada tabel 1 terlihat dari 64 responden. Variabel terbanyak adalah berpendidikan SMA yaitu 33 responden . ,4%) kepadatan huniannya berisiko dan 49 responden . ,6%) kepadatan huniannya berpendidikan TK yaitu sebanyak 2 responden tidak berisiko. Variabel Ventilasi, terdapat 12 . ,1%). ,8%) ventilasinya berisiko dan 52 ,6%) Distribusi Kepadatan Hunian, responden . ,3%) ventilasinya tidak berisiko. Tabel 2. Faktor Risiko Pengetahuan. Kepadatan Hunian dan VentilasiTerhadap Kejadian Penyakit Tuberkulosis BTA Positif di Wilayah KerjaPuskesmas Puuwatu Kota Kendari Tahun 2019 Hasil Uji Kejadian TB BTA Total Statistik Kasus Kontrol Variabel (OR,LL dan UL) Pengetahuan Berisiko 53 ,1 OR= 4,911 LL =1,591 Tidakberisiko 46,9 26 81,3 UL = 15. 1,57 Kepadatan Hunian 31,3 5 15,6 Berisiko OR = 2,455 68,8 27 84,4 LL=0,730 Tidakberisiko UL =8,249 Ventilasi 15,6 7 21,9 Berisiko OR = 0,661 84,4 25 78,1 LL= 0,186 Tidakberisiko UL=2,355 Sumber : Data Primer, 2019 Adapun . dan Upper Limit . ,1,. , ini berarti terhadap kejadian penyakit tuberkulosis BTA bahwa pengetahuan merupakan faktor risiko Positif, dapat dilihat pada tabel 2 menunjukkan terjadinya penyakit TB BTA . bahwadari 32 responden kasus yang diteliti Adapun hasil penelitian kepadatan hunian terdapat 17 responden . ,1%) pengetahuannya terhadap kejadian penyakit tuberkulosis BTA ,9%) Positif, dapat dilihat pada tabel 2 menunjukkan pengetahuannya tidak berisiko. Sedangkan 32 bahwa dari 32 responden kasus yang diteliti responden kontrol yang diteliti terdapat 6 responden . ,8%) yang pengetahuannya berisiko huniannya berisiko dan 22 responden . ,8%) dan 26 responden . ,3%) yang pengetahuannya kepadatan huniannya tidak berisiko. Sedangkan tidak berisiko. Hasil uji Odds Ratio = 4,911> 1 32 responden kontrol yang diteliti dimana nilai Lower Limit responden . ,6%) kepadatan huniannya berisiko . ,3%) MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 2 Desember 2019 e- ISSN: 2622-7762 dan 27 responden . ,4%) kepadatan huniannya TB. Sebaliknya pengetahuan buruk responden tidak berisiko. Hasil uji Odds Ratio = 2,455 > 1, terkait penyakit TB berpotensi menimbulkan dimana nilai Lower Limit . dan Upper Limit . , ini berarti bahwa kepadatan hunian merupakan faktor risiko terjadinya kejadian TB pasien dengan penyakit TB. BTA . Berdasarkan Univariat Adapun hasil penelitian ventilasi terhadap menunjukan bahwa dari 64 responden yang kejadian penyakit tuberkulosis BTA Positif, dapat diteliti terdapat 23 responden . ,9%) yang dilihat pada tabel 2 menunjukkan bahwadari 32 pengetahuannya berisiko, kejadian ini bukan disebabkan pendidikan rendah tetapi hal ini responden . ,6%) ventilasinya berisiko dan 27 terjadi karena kurangnya sosialisasi mengenai responden . ,4%) ventilasinya tidak berisiko, penyakit-penyakit menular terhadap masyarakat sedangkan dari 32 responden kontrol yang diteliti dan 41 responden . ,1%) dengan pengetahuan tidak berisiko,hal ini terjadi karena responden berisiko dan 25 responden . ,1%) ventilasinya yang pengetahuannya tidak berisiko mendapat tidak berisiko. sosialisasi mengenai penyakit tuberkulosis di . ,9%) Hasil uji Odds Ratio = 0,661 < 1, dimana nilai Lower Limit . dan Upper Limit . , ini berarti bahwa ventilasi puskesmas saat berobat. Pengetahuan responden yang berisiko, karena berdasarkan informasi yang diperoleh merupakan faktor risiko terjadinya penyakit TB dari beberapa responden bahwa ketika berobat BTA . ke puskesmas telah diberi penyuluhan tetapi PEMBAHASAN pihak puskesmas. Serta Pengetahuan merupakan salah satu faktor terdapat 15 responden . ,9%) pengetahuannya yang diduga dapat mempengaruhi perilaku tidak berisiko, hal ini terjadi karena berdasarkan seseorang dalam bertindak atau melakukan suatu Pengetahuan yang di maksud dalam penderita TB yang berobat di puskesmas telah penelitian ini yaitu hasil dari tahu mengenai hal- diberikan pemahaman tentang kejadian TB BTA hal yang berhubungan dangan penyakit TB BTA , dan responden tersebut memahami materi mulai dari pengertian, penyebab, gejala, yang disampaikan. Sedangkan 32 responden TB. kontrol yang diteliti terdapat 6 responden Pengetahuan merupakan domain penting untuk . ,8%) yang pengetahuannya berisiko hal ini dapat terjadi karena berdasarkan hasil informasi sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai yang diperoleh dari beberapa responden, mereka Perilaku mengatakan bahwa belum pernah sama sekali memperoleh penyuluhan tentang penyakit TB mempunyai sikap yang baik pula, akhirnya dapat dari pihak puskesmas sehingga mengakibatkan mencegah atau menanggulangi masalah penyakit pengetahuan mereka tentang penyakit TB sangat Pengetahuan MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 2 Desember 2019 kurang serta 26 responden . ,3%) yang e- ISSN: 2622-7762 melakukan pencegahan dan penanggulangan mengenai penyakit tuberkulosis. berdasarkan informasi yang diperoleh dari Kepadatan hunian ditentukan berdasarkan beberapa responden bahwa mereka memperoleh jumlah penghuni rumah per luas lantai ruangan. pemahaman tentang penyakit tuberkulosis dari Luas minimum per orang sangat relative surat kabar atau dari media elektronik . klan TV tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas dan interne. yang tersedia. Menurut Kepmenkes No. Hasil uji Odds Ratio = 4,911> 1 dimana Menkes/ SK/ VII/ 1999 tentang Persyaratan nilai Lower Limit . dan Upper Limit Kesehatan Perumahan bahwa untuk rumah . ,1,. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sederhana luasnya minimum 10 m2/orang. Faktor pengetahuan merupakan faktor risiko terjadinya yang dapat mempengaruhi kepadatan hunian penyakit TB BTA positif di wilayah kerja adalah luas bangunan rumah dan jumlah Puskesmas Puuwatu Kota Kendari. Pengetahuan Berdasarkan observasi didapatkan hasil bahwa jumlah penghuni berkisar 3-8 orang, luas lantai rumah yang dimiliki responden mencegah dan menanggulangi penyakit TB. berkisar antara 35- 72 m2. Setiap rumah rata-rata Penelitian ini sejalan dengan Dwi Santy dihuni oleh 4 orang. Berdasarkan hasil observasi Damawati . , menggunakan jenis penelitian tersebut kepadatan hunian responden sebagian observasional analitik dengan pendekatan case besar memenuhi syarat. Secara teori, kepadatan Jumlah kasus 30 responden dengan hasil merupakan pre-requisite untuk proses penularan laboratorium BTA positif dan jumlah kontrol 30 Se-makin padat tingkat hunian, maka responden dengan hasil laboratorium BTA penyakit khususnya penyakit melalui udara akan Hasil uji di dapat p value 0,034, p semakin mudah dan cepat terjadi. Oleh karena value<0,05 itu kepadatan hunian merupakan variabel yang pengetahuan dengan kejadian kasus TB paru berperan dalam kejadian TB. BTA . Nilai OR 3,755 yang artinya tingkat Hasil penelitian menunjukan bahwa dari pengetahuan kurang 3,755 kali lebih berisiko 32 responden kasus yang diteliti terdapat 10 menderita penyakit TB BTA dibandingkan tingkat pengetahuan tinggi. berisiko karena berdasarkan informasi yang Hasil diperoleh dari responden bahwa mereka tidak menunjukan bahwa pengetahuan merupakan mampu membuat hunian yang memenuhi syarat faktor risiko terjadinnya tuberkulosis BTA di karena keterbatasan lokasi yang mereka tempati Wilayah Kota sehungga tidak cukup untuk memperluas hunian Kendari. Oleh karena itu penulis menyarankan mereka, dan 22 responden . ,8%) kepadatan agar pihak Puskesmas lebih sering dalam huniannya tidak berisiko, hal ini dapat terjadi melakukan penyuluhan terkait Tuberkulosis, karena berdasarkan informasi dari responden karena dengan pengetahuan yang baik mengenai kejadian TB BTA yang diderita disebabkan karena interaksi dengan penderita TB yang Kerja . ,3%) Puskesmas Puuwatu MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 2 Desember 2019 berkunjung ke rumah mereka dan saat interaksi kepadatan huniannya memenuhi syarat. di tempat bekerja. Sedangkan 32 responden kontrol yang diteliti terdapat 5 responden e- ISSN: 2622-7762 Hasil . ,6%) kepadatan huniannya berisiko dan 27 merupakan faktor risiko terjadinnya penyakit responden . ,4%) kepadatan huniannya tidak Tuberkulosis. berisiko, karena berdasarkan informasi dari mennyarankan kepada pihak puskesmas agar responden mereka memiliki penghasilan dan lokasi yang cukup untuk membuat hunian yang memenuhi syarat, terutama mengenai bagaimana sehat juga memiliki pemahaman tentang rumah cara meminimalisir lokasi yang sempit dengan penghuni yang benyak. Karena dengan hunian Hasil uji Odds Ratio = 2,455 > 1, dimana nilai Lower Limit . dan Upper Limit Oleh penularan bakteri Tuberkulosis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Penilaian kepadatan hunian bukan merupakan faktor risiko dengan membandingkan luas ventilasi dengan TB BTA positif diwilayah kerja Puskesmas luas lantai rumah dengan menggunakan meteran. Puuwatu Kota Kendari. Kepadatan hunian akan Jenis ventilasi yang diukur adalah ventilasi alamiah yang be-rasal dari sinar matahari yang penyakit TB di dalam rumah tangga. Bila dalam dapat masuk melalui jendela, pintu, lubang angin, dan lubang-lubang pada dinding. Hasil penderita TB paru aktif dan tidak diobati secara benar maka akan menginfeksi anggota keluarga terutama kelompok yang rentan seperti bayi dan Menkes/ SK/ VII/ 1999 tentang Persyaratan balita, semakin padat hunian suatu rumah tangga Kesehatan Perumahan bahwa persyaratan luas maka semakin besar risiko penularan. Kepmenkes No. Penelitian ini sejalan dengan Gita Sekar minimal 10% luas lantai. Berdasarkan hasil Prihanti . , menggunakan jenis penelitian pengukuran yang telah dilakukan didapatkan campuran antara kualitatif dan kuantitatif, secara hasil bahwa luas ventilasi rumah responden observasional analitik dengan pendekatan case berkisar antara 2,4-6,56 m2 dan luas lantai rumah Jumlah kasus 33 responden dengan hasil laboratorium BTA positif dan jumlah kontrol 33 menunjukkan ada luas ventilasi yang tidak responden dengan hasil laboratorium BTA Hasil uji di dapat p value 0,000, p value pengamatan, ada juga beberapa responden yang memiliki jendela namun tidak pernah dibuka 0,05 pengetahuan dengan kejadian kasus TB paru Berdasarkan Berdasarkan karena letak rumah yang saling berdempetan. BTA . Nilai OR 0,113 yang artinya tingkat Ventilasi mempengaruhi proses dilusi kepadatan huniannya tidak memenuhi syarat udara, juga mengencerkan konsentrasi kuman 0,113 kali lebih berisiko menderita penyakit TB TB dan kuman lain, dimana kuman tersebut akan BTA dibandingkan dengan responden yang terbawa keluar dan mati terkena sinar ultraviolet. MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 2 Desember 2019 e- ISSN: 2622-7762 Perjalanan Kuman TB paru setelah dikeluarkan penderita melalui batuk akan terhirup oleh orang menggunakan jenis penelitian observasional disekitarnya dan sampai ke paru-paru. Dengan analitik dengan pendekatan cross sectional. adanya ventilasi yang baik maka akan menjamin Jumlah kasus 30 responden dan jumlah kontrol 30 responden. Hasil uji di dapat p value 0,034, konsentrasi droplet dapat dikurangi sehingga artinya ada hubungan tingkat pengetahuan dapat mengurangi kemungkinan seseorang akan dengan kejadian kasus TB paru BTA . Nilai terinfeksi kuman TB paru. per-tukaran Hasil penelitian pada tabel 2 menunjukan Agustian Deny . , 0,02 yang artinya ventilasi tidak berisiko terhadap penderita penyakit TB BTA . bahwa dari 32 responden kasus yang diteliti Hasil responden . ,6%) ventilasinya menunjukan bahwa ventilasi bukan merupakan berisiko, karena berdasarkan observasi dan faktor risiko kejadian Tuberkulosis BTA di Kerja Puskesmas Puuwatu Kota responden rumah mereka memiliki ventilasi Kendari. Karena sebagian besar masyarakat di yang dapat dibuka dan ditutup namun karena wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu memiliki alasan keamanan rumah, responden memih ventilasi yang memenuhi syarat, kemudian untuk tidak membuka ventilasi rumah walaupun mereka membukanya saat siang hari supaya di siang hari. dan 27 responden . ,4%) sinar matahari dan udara segar masuk ke dalam ventilasinya tidak berisiko, karena berdasarkan rumah mereka. observasi dan informasi yang diperoleh dari beberapa responden rumah mereka memiliki KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian di wilayah ventilasi yang dapat dibuka dan ditutup. Alasan keamanan rumah tidak memuat responden tidak membuka ventilasi rumah walaupun di siang sedangkan dari 32 responden kontrol yang . ,9%) bangunan rumah mereka tidak memenuhi syarat dan 25 responden . ,1%) ventilasinya tidak Selatan, dapat disimpulkan bahwa: Pengetahuan merupakan faktor risiko kejadian Tuberkulosis BTA di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Kota Kendari pengetahua berisiko memiliki risiko sebesar 4 kali tertular penyakit Tuberkulosis BTA . Kepadatan hunian merupakan faktor risiko Hasil uji Odds Ratio = 0,661 < 1, dimana nilai Lower Limit . dan Upper Limit . , ini berarti bahwa ventilasi bukan merupakan faktor risiko terjadinya penyakit TB BTA . Sehingga dapat di simpulkan bahwa kerja Puskesmas Ranomeeto Kabupaten Konawe terjadinnya TB BTA positif di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu Kota Kendari. Penelitian ini kejadian Tuberkulosis BTA di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Kota Kendari dimana penderita dengan kepadatan hunian berisiko memiliki risiko sebesar 2 kali tertular penyakit Tuberkulosis BTA Ventilasi merupakan faktor risiko kejadian Tuberkulosis BTA di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Kota Kendari MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 2 Desember 2019 Berdasarkan dijelaskan maka saran yang diajukan pada ini ialah: bagi Puskesmas Sebagai pelayanan kesehatan yang langsung menghadapi masyarakat, agar hasil penelitian ini dapat e- ISSN: 2622-7762 Misnadiarly. Tuberkulosis dan Micobakterium Atipik. Jakarta: Dhian Rakyat. WHO. Global Tuberculosis Report 2017. Geneva. Dinkes Sulawesi Tenggara. Profil Data menjadi bahan masukan bagi pengelola program Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Kendari. Dinkes Kota Kendari. Data kejadian TB di Kota Kendari Sulawesi Tenggara. Kendari . penanggulangan penyakit TB. Bagi masyarakat Diharapkan dapat menyadari akibat buruk dari Chandra. Maria Wjnarti, penyakit TB, meningkatkan pencegahan dan Mewengkang. Kasus Kontak Tuberkulosis Paru di Klinik Paru Rumah Sakit Umum Pusat Manad. Majalah Kedokteran Indonesia. Yunus. Muhamad Yusran. Faktor Risiko Yang meminimalisir risiko penyakit TB. Berhubungan Dengan Kejadian TB Patu Di Wilayah Kerja Pesisir Kecamatan Tallo Kota UCAPAN TERIMA KASIH