MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 Atraumatic Care Dapat Menurunkan Tingkat Kecemasan Anak Fricilia Noya Fakultas Kesehatan,Universitas Kristen Indonesia Maluku, email: noyafricilia2@gmail. (Koresponde. Grace J Wakanno Fakultas Kesehatan,Universitas Kristen Indonesia Maluku, email: gracejeny2098@gmail. (Koresponde. Dene F Sumah Fakultas Kesehatan,Universitas Kristen Indonesia Maluku, email: ristoisfrisco_peea@yahoo. ABSTRACT Hospitalization makes happen of the children to feel anxious, traumatized and scared. The Efforts reduces the anxiety on children can be done through a traumatic . traumatic car. The purpose of this study was to determine the relationship of a traumatic care with the level of anxiety of children in the Ezra room at Sumber Hidup Hospital Ambon. The research design used is a correlation study. Data collection takes by means of respondents are given questionnaires for the application of A traumatic Care and Hamilton Rating Scale Anxiety (HARS). The sampling technique uses purposive sampling with a total of 30 respondents. Data analysis uses Spearman rank statistics. Based on the test results by seeing the significance value obtains p value < . ,000 <0. , rs = 0. 725, namely the direction of the negative correlation with the strength of a strong correlation. result of the study proves that there is a relationship between a traumatic care with the level of anxiety of children on the Ezra room at Sumber Hidup Hospital Ambon . = 0,. If the application of a traumatic care is good, the anxiety level is experienced by the child will decrease. It is expected that nurses in the Ezra Room of the Sumber Hidup Ambon Hospital can apply a traumatic care for each nursing intervention with compassion and become more communicative so that there is decreasing on the child's anxiety level. Keyword : Atraumatic Care. Anxiety. Children ABSTRAK Masuk rumah sakit dapat menyebabkan anak menjadi cemas, trauma dan takut. Upaya untuk mengurangi kecemasan pada anak bisa dilakukan melalui atraumatik . traumatic car. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan atraumatic care dengan tingkat kecemasan anak di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon. Desain penelitian yang digunakan adalah studi korelasi. Pengumpulan data dengan cara responden diberikan kuesioner penerapan Atraumatic Care dan Hamilton Rating Scale Anxiety (HARS). Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah 30 responden. Analisis data menggunakan statistik Spearman rank. Berdasarkan hasil uji dengan melihat nilai significancy didapatkan nilai p < . ,000<0,. , rs= - 0,725 yaitu arah korelasi negative dengan kekuatan korelasi kuat. Hasil penelitian membuktikan bahwa ada hubungan atraumatic care dengan tingkat kecemasan anak di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon . =0,. Bila penerapan Atraumatic care baik maka semakin kecil tingkat kecemasan yang dialami anak. Diharapkan perawat di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon dapat menerapkan atraumatic care pada setiap intervensi keperawatan dengan kasih sayang dan lebih komunikatif sehingga terjadi penurunan tingkat kecemasan anak. Kata kunci : Atraumatic Care. Kecemasan. Anak Penerbit: Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan UKIM http://ojs. id/index. php/natuna MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 PENDAHULUAN Latar Belakang Perawatan di rumah sakit menimbulkan kecemasan bagi anak dan keluarganya. Saat berada di rumah sakit, anak menghadapi lingkungan yang asing, pemberian asuhan yang tidak dikenal dan orang asing yang menimbulkan perasaan was-was. Anak juga sering berhadapan dengan prosedur yang menimbulkan nyeri, kehilangan kemandirian dan berbagai hal yang tidak diketahui Kecemasan terjadi ketika anak merasa terancam baik fisik seperti mengalami cidera, luka, fraktur maupun psikologis seperti perasaan cemas, sedih, takut, dan sering menangis . Anak yang dirawat di rumah sakit dapat mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan . iinfus, disuntik, ambil darah, dan lain-lai. Hal ini memaksa anak untuk berpisah dari lingkungan yang dirasakannya aman, penuh kasih sayang, dan menyenangkan, yaitu lingkungan rumah, permainan, dan teman sepermainannya. Anak yang dirawat di rumah sakit sering mengalami reaksi hospitalisasi dalam bentuk anak rewel, tidak mau didekati oleh petugas kesehatan, ketakutan, tampak . cemas, tidak kooperatif, bahkan tamper tantrum Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2016 terdapat 35 juta anak didunia yang mengalami kecemasan saat mendapatkan perawatan dirumah sakit. Menurut World Health Organization (WHO) anak yang dirawat di Amerika Serikat diperkirakan lebih dari 5 juta menjalani perawatan dirumah sakit dan sebanyak 50% dari jumlah tersebut mengalami kecemasan. Menurut Survei Kesehatan Nasional (SUSENAS) tahun 2014, di Indonesia jumlah anak yang dirawat pada tahun 2014 sebanyak 20,72% dari jumlah total penduduk di Indonesia. Berdasarkan data tersebut menyatakan prevalensi anak di Indonesia yang dirawat di rumah sakit cukup tinggi yaitu sekitar 35 per 100 anak mengalami kecemasan, yang ditunjukkan dengan selalu penuhnya ruang anak baik di rumah sakit pemerintah ataupun rumah sakit Hasil penelitian atraumatic care pada 20 pasien anak di RSUD. Koesnadi Kabupaten Bondowoso,dengan analisis data uji korelasi Spearman-rank dan hasil uji nilai P value 0,003 ( 0,. , menjelaskan bahwa penerapan atraumatic care cukup yaitu 14 responden . %) tidak mengalami kecemasan, penerapan atraumatic care baik 5 responden . %) mengalami kecemasan ringan, dan 1 responden . %) mengalami kecemasan sedang. Semakin baik penerapan atraumatic care maka semakin kecil resiko kecemasan yang dialami anak. Berdasarkan hasil wawancara penulis di ruang Ezra. RSSH Ambon pada tanggal 21 September 2018 ditemukan bahwa 14 pasien anak menunjukkan tanda dan gejala kecemasan seperti sering menangis, sulit tidur, tidak mau ditinggal orang tua, nafsu makan menurun dan takut jika didekati perawat, serta sering menolak saat sedang diberi tindakan perawatan. Manajemen Rumah Sakit Sumber Hidup telah melakukan upaya mengurangi kecemasan anak seperti memodifikasi ruang Ezra dengan mewarnai tembok ruangan dengan bermacam-macam warna, dan juga membolehkan anak ditemani oleh orang tua serta memakai pakaian berwarna hijau dan merah muda. Namun sebagian besar anak masih menunjukkan rasa cemas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan atraumatic care dengan tingkat kecemasan anak. METODE Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi korelasi untuk mengetahui hubungan atraumatic care dengan tingkat kecemasan anak di ruang Ezra. Rumah Sakit Sumber Hidup. Populasi dalam penelitian ini adalah 43 orang tua yang mempunyai anak dirawat pada ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon. Teknik sampling dalam penelitian ini yaitu Purposive Sampling, dengan kriteria inklusi yaitu orang tua anak yang di rawat dan bersedia menjadi responden, anak usia 1 Ae 12 tahun yang dirawat selama 1-3 hari, dan kriteria eksklusi orang tua yang tidak bisa membaca dan menulis. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner penerapan atraumatic Responden yang memenuhi kriteria pengambilan sampel, diberikan surat kesediaan menjadi responden dan kemudian peneliti memberikan kuesioner atraumatik care dan kecemasan Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS). Analisis bivariat pada penelitian ini menggunakan Rank Spearman, yaitu untuk melihat hubungan Atraumatic Care dengan tingkat kecemasan anak. Penerbit: Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan UKIM http://ojs. id/index. php/natuna MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 HASIL Berikut ini dijelaskan hasil penelitian berdasarkan analisa univariat dan analisa bivariat yakni sebagai berikut: Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan umur menurut depkes RI di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon Umur (Tahu. 0Ae5 6 Ae 11 Total Sumber : Data Primer, 2019 Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa distribusi responden berdasarkan umur sebagian besar responden dengan usia 0 - 5 tahun sebanyak 17 orang . ,7 %). Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon Jenis Kelamin Laki Aelaki Perempuan Total Sumber : Data Primer, 2019 Berdasarkan tabel 2 menujukan bahwa distribusi karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 18 orang . %). Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan pengalaman pernah dirawat di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon Pernah Dirawat Tidak Total Sumber . Data Primer, 2019 Berdasarkan tabel 3 menunjukan bahwa distribusi karakteristik responden yang pernah dirawat sebagian besar responden tidak pernah dirawat sebanyak 21 orang . ,0 %). Tabel 4. Distribusi responden berdasarkan pendidikan orang tua di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon Pendidikan Orang Tua SMP SMA Total Sumber : Data Primer, 2019 Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan bahwa distribusi responden berdasarkan pendidikan orang tua, yang mempunyai proporsi tertinggi yaitu responden dengan tingkat pendidikan SMA sebanyak 14 orang . ,7 %). Penerbit: Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan UKIM http://ojs. id/index. php/natuna MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 Tabel 5. Distribusi responden berdasarkan pekerjaan orang tua di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon Pekerjaan Orang Tua Ibu Rumah Tangga Wiraswasta PNS Total Sumber : Data Primer, 2019 Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa distribusi responden berdasarkan pekerjaan orang tua, yang mempunyai proporsi tertinggi yaitu responden dengan pekerjaan orang tua ibu rumah tangga sebanyak 15 orang . ,0 %). Tabel 6. Distribusi responden berdasarkan atraumatic care diruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon Atraumatic Care Baik Kurang Baik Total Sumber data primer, 2019 Berdasarkan Tabel 6 menunjukan bahwa distribusi karakteristik responden berdasarkan Atraumatic Care sebagian besar responden dengan Atraumatic Care baik sebanyak 19 orang . ,3 %). Tabel 7. Distribusi responden berdasarkan tingkat kecemasan anak di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon Tingkat Kecemasan Anak Tidak Cemas Kecemasan Ringan Kecemasan Sedang Kecemasan Berat Total Sumber data primer, 2019 Berdasarkan Tabel 7 menunjukan bahwa distribusi responden berdasarkan tingkat kecemasan anak sebagaian besar responden mengalami kecemasan ringan 9 orang . ,0 %). Berdasarkan hasil analisis uji korelasi Rank Spearman. Tabel 8. Hubungan atraumatic care dengan tingkat kecemasan anak di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon Variabel Atraumatic Care Tingkat Kecemasn P value -0,725 0,000 Sumber: Data Primer, 2019 Berdasarkan hasil analisis uji korelasi Rank Spearman pada tabel 8 Hasil penelitian menunjukan bahwa Ha diterima dengan nilai signifikan . -taile. < 0,05 . = 0. yang menunjukan ada hubungan antara atraumatic care dengan tingkat kecemasan anak di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon. Nilai korelasi rank spearmen sebesar -0,725 menunjukan korelasi negative dengan kekuatan korelasi yang kuat. Penerbit: Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan UKIM http://ojs. id/index. php/natuna MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 PEMBAHASAN Hasil penelitian pada Tabel 6 menunjukan bahwa anak yang dirawat di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon sebagian besar dengan Atraumatic Care baik sebanyak 19 orang . ,3 %), dan sebagian kecil dengan Atraumatic Care kurang baik sebanyak 11 orang . ,7 %). Keberhasilan penerapan atraumatic care yang baik dalam pemberian tindakan atraumatic care ditiap ruangan rawat didapat dari kerjasama antara perawat dan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak yang menjalani perawatan. Perawat dituntut untuk memiliki pengetahuan, kemampuan, serta sikap yang mau merawat pasien dengan sepenuh hati atau empati . agar tercipta saling percaya antar pasien dan perawat . Perawat perlu memodifikasi lingkungan fisik melalui modifikasi ruang perawatan yang bernuansa anak agar lebih menarik bagi anak seperti lingkungan bersih, rapi, aman untuk anak, tidak berisik, hiasan dinding kartun serta adanya fasilitas bermain dalam setiap bangsal anak sehingga anak merasa nyaman dan anak dapat beradaptasi . dengan lingkungan . Untuk menentukan atraumatic care dapat dilihat apakah sesuai dengan prinsip-prinsip atraumatic care. Dalam penelitian ini untuk mengetahui penerapan atraumatic care di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon dilakukan dengan memberikan kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan terkait prinsip atraumatic care. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang . dilakukan di ruang anak rumah sakit umum Cut Meuti Kabupaten Aceh Utara. Hasil Penelitian Rahmah menunjukan terdapat penerapan atraumatic care baik sebanyak 18 orang . %). Asumsi peneliti bahwa penerapan atraumatic care baik sebanyak 19 orang . ,3 %) diruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon karena, perawat selalu berhati-hati dalam melakukan tindakan, perawat juga mencegah nyeri dengan pemakaian xilocain jelly sebelum pemasangan infus, dan perawat selalu merespons keluhan anak dengan orang tua secara cepat. Selain itu, perawat mengizinkan dan melibatkan orang tua untuk terlibat dalam perawatan anak, sehingga orang tua selalu menemani anak selama 24 jam. menjelaskan bahwa perawat memerlukan dukungan dari keluarga untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas serta dukungan orang tua dan keluarga memiliki dampak positif bagi anak, yaitu membuat anak merasa nyaman, dan sejahtera. Penelitian ini juga menunjukan bahwa adanya penerapan atraumatic care dengan kategori kurang baik sebanyak 11 orang . ,7 %) . Asumsi Peneliti Penerapan Atraumatic Care kurang baik dikarenakan beberapa hal. Pertama, sikap perawat yang dalam berinteraksi kurang komunikatif. Dalam penelitian ini, orang tua menyatakan bahwa perawat kurang komunikatif. Sebelum melakukan tindakan perawat tidak membujuk anak, tidak mengajak anak bermain, serta perawat jarang menjelaskan tujuan dan prosedur yang diberikan. Sehingga persepsi anak bahwa perawat datang . hanya ingin menyakitinya saja. Hal ini dipertegas oleh , perawat dalam memberikan tindakan keperawatan perlu membangun rasa percaya dengan anak dan orang tua melalui pendekatan utama yaitu komunikasi sehingga terjalin rasa kasih sayang dan anak dapat terbuka mengenai perasaannya. Hasil penelitian pada Tabel 7 menunjukan bahwa 12 orang . ,0 %) tidak mengalami kecemasan, 9 orang . %) mengalami tingkat kecemasan ringan, 5 orang . ,7 %) mengalami tingkat kecemasan sedang, 4 orang . ,3 %) mengalami tingkat kecemasan berat dan tidak ada yang mengalami kecemasan berat sekali. Tingkat kecemasan anak dinilai berdasarkan reaksi fisiologis, perilaku, kognitif dan afektif yang sesuai dengan kuesioner Hamilton Rating Scale For Anxiety . (HARS). Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan menunjukan hasil penelitian tingkat kecemasan anak tertinggi yaitu tingkat kecemasan ringan sebanyak 22 orang . ,3 %). Dalam penelitian ini menyatakan bahwa terdapat 12 orang . ,0 %) yang tidak mengalami kecemasan. Asumsi peneliti dikarenakan perawat meminimalisasi nyeri dengan memberikan xilicolin jeli sebelum pemasangan infus, dan perawat selalu berhati-hati dalam melakukan tindakan. Selain itu, selama proses perawatan dirumah sakit anak biasanya ditemani oleh keluarga. Walaupun terkadang hanya ada ibu dari anak yang bersama dengan perawat melakukan perawatan kepada anak sehingga anak merasa nyaman, dilindungi dan selalu dekat dengan keluarga. Hal ini juga dibuktikan dengan . pekerjaan orang tua sebagai ibu rumah tangga sebanyak 50%. Mengemukakan bahwa peran ibu Penerbit: Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan UKIM http://ojs. id/index. php/natuna MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 yang lebih besar dalam keluarga terutama dalam mengasuh anak membuktikan bahwa kehadiran ibu akan memberikan rasa aman. Dalam penelitian ini juga terdapat 9 orang . ,0 %) yang mengalami kecemasan ringan di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon. Asumsi peneliti, karena anak pernah dirawat sebelumnya. Hal ini dibuktikan dengan terdapat 9 orang . ,0 %) yang pernah dirawat . menyatakan bahwa anak yang mempunyai pengalaman masuk rumah sakit sebelumnya akan memiliki kecemasan yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang belum memiliki pengalaman sama sekali. Dalam penelitian di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon juga terdapat kecemasan sedang sebanyak 5 orang . ,7 %). Asumsi peneliti, hal ini dikarenakan karena interaksi perawat dengan anak yang kurang komunikatif. Dalam kuesioner orang tua menyatakan bahwa sebelum melakukan tindakan perawat tidak membujuk anak, perawat jarang menjelaskan tujuan dan prosedur yang diberikan. Sehingga ketika didekati perawat anak menjadi gelisah, muka tegang, marah tidak jelas, menangis, berkeringat, firasat buruk, dan tidak ingin mengikuti anjuran perawat karena anak berpikir hanya akan disakiti oleh perawat. menjelaskan bahwa perawat dalam memberikan tindakan keperawatan perlunya memberikan informasi melalui komunikasi langsung dengan anak sangat penting untuk menenangkan suasana perasaan serta dapat meningkatkan peran orang tua dalam mengontrol perawatan anak. Selain itu, tidak ada hiasan dinding pada dinding maupun jendela yang mencerminkan dunia anak dan perawat tidak mengajak anak bermain karena kurangnya fasilitas bermain. Dengan adanya bermain sebelum dilakukan tindakan berupa bersenda gurau, bermain origami atau puzzle akan . membuat anak merasa senang dan mengalihkan rasa cemas anak. Dipertegas oleh pendapat dengan bermain dapat membantu anak menguasai suasana tegang, memungkinkan anak menyalurkan ketegangan emosi dan dapat mengalihkan kecemasan anak. Penelitian ini juga menyatakan bahwa sebanyak 4 orang . ,3%) mengalami kecemasan berat. Asumsi peneliti karena anak baru pertama kali dirawat di rumah sakit sehingga anak menjadi cemas. Hal ini sejalan dengan . , menyatakan bahwa anak yang belum pernah memiliki pengalaman rawat sebelumnya akan merasa lebih cemas dibandingkan anak yang pernah dirawat sebelumnya. Selain itu, kurangnya dukungan orang tua. Selama perawatan dirumah sakit, anak-anak ini ditemani oleh pengasuh dan ada juga nenek dari anak yang sakit. Sehingga anak merasa tidak diperdulikan dan merasa tidak Berdasarkan uji korelasi menggunakan uji Rank Spearman diperoleh hasil koefisien korelasi antara atraumatic care dengan tingkat kecemasan anak yaitu rs= - 0,725 terdapat hubungan yang Nilai p dalam uji ini adalah 0,000 menunjukan H0 ditolak dengan nilai < 0,05 . = 0. yang artinya ada hubungan antara atraumatic care dengan tingkat kecemasan anak di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon. Menurut Marniaty et al . , anak bukanlah miniature orang dewasa. Anak memiliki dunianya sendiri yaitu tidak ingin dipaksa, ingin kesenangan, butuh kasih sayang dan dukungan dari orang lain. Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan unik. Ini membuat anak selama dirumah sakit selalu ingin diperhatikan, disayang dan dimanja. Hal ini adalah tantangan tersendiri untuk perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada anak yang sakit. Menurut menyatakan perawat perlu memiliki sikap empati pada anak. Perawat adalah suatu profesi yang mulia, karena memerlukan kesabaran dan ketenangan dalam melayani pasien anak yang sedang menderita sakit. Seorang perawat harus dapat melayani pasien dengan sepenuh hati. Sehingga perawat memerlukan pendekatan yang dapat mencegah atau meminimalkan kecemasan yang terjadi pada anak, salah satunya dengan menerapkan atraumatic care. Penelitian ini sejalan . dengan penelitian yang dilakukan oleh yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penerapan atraumatic care dengan tingkat kecemasan anak prasekolah saat proses hospitalisasi di RSU. Dr. Koesnadi Kabupaten Bondowoso, dengan menggunakan uji rank-spearman didapatkan hasil p = 0,003< =0,05 dan koofisien korelasi = - 0,634. Menunjukan adanya hubungan negative yang signifikan dan kuat. Menunjukan semakin meningkat pemberian atraumatic care maka tingkat Penerbit: Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan UKIM http://ojs. id/index. php/natuna MOLUCCAS HEALTH JOURNAL ISSN 2686-1828 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2019 kecemasan anak akan menurun. Hal ini sejalan dengan , yang menyatakan bahwa anak akan merasa nyaman dan tidak cemas selama perawatan dengan adanya dukungan social keluarga, lingkungan perawatan yang teraupetik, serta sikap empati perawat dan komunikatif saat berinteraksi . dengan anak. perawatan anak yang menerapkan atraumatic care dengan meminimalkan perpisahan dengan orang tua akan memberikan manfaat antara lain menurunkan kecemasan anak, anak akan lebih tenang dan penanganan nyeri meningkat, komunikasi antara tim kesehatan dan keluarga meningkat serta waktu pemulihan menjadi lebih pendek. KESIMPULAN Atraumatic Care di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon, sebagian besar responden dengan Atraumatic Care baik sebanyak 19 orang . ,3 %) dan sebagian kecil dengan Atraumatic Care kurang baik sebanyak 11 orang . ,7 %). Tingkat kecemasan anak di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon, responden yang mengalami kecemasan berat 4 orang . ,3 %). Kecemasan sedang 5 orang . ,7 %), kecemasan ringan 9 orang . ,0 %), dan responden yang tidak mengalami kecemasan 12 orang . ,0 %) dan tidak ada yang mengalami kecemasan berat sekali. Ada hubungan negative yang kuat . s= -0,. dan signifikan antara atraumatic care dengan tingkat kecemasan anak pada pasien anak di ruang Ezra Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon . =0,000, p<0,. SARAN Peneliti menyarankan agar dalam memberikan pelayanan atraumatic care, perawat dapat memberikan intervensi keperawatan kepada pasien anak lebih komunikatif agar anak tetap merasa diperhatikan dan dapat meminimalkan kecemasan anak. Peneliti menyarankan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai tingkat kecemasan anak dan dukungan orang tua dalam perawatan anak selama dirumah sakit. REFERENSI