271 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Pola Makan pada Remaja Nurga Hayu1. Nurbaya2. Liska Alfaaizin3 Program Studi D3 Akademi Ilmu Gizi YPAG Makassar. Indonesia1 Universitas Tadulako. Indonesia 2 Email : nurgahayu757@gmail. Abstrak. Pola makan tidak sehat pada remaja, seperti konsumsi makanan cepat saji, kurangnya asupan sayur, buah, dan kebiasaan melewatkan sarapan, dapat menjadi masalah kesehatan. Body image dan aktivitas fisik diduga memengaruhi pola makan remaja. Body image negatif dapat mendorong perilaku makan yang tidak sehat, sementara aktivitas fisik dapat mendukung kebiasaan makan yang lebih baik. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan body image dan aktivitas fisik terhadap pola makan remaja di SMP Negeri 8 Makassar tahun 2024. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Cross Sectional, penentuan sampel menggunakan rumus slovin 83 responden dengan tehnik sampel simple random Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara body image dengan pola makan . -value = 0,. , namun terdapat hubungan signifikan antara aktivitas fisik dengan pola makan . -value < 0,. Kesimpulan, persepsi body image tidak berhubungan dengan pola makan sedangkan aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan pola makan. Kata Kunci: Body Image. Aktivitas Fisik. Pola Makan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. International License. Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Pola Makan pada Remaja PENDAHULUAN Remaja merupakan individu yang berada pada rentang usia 10 Ae 19 tahun. Pada masa ini terjadi peningkatan pertumbuhan fisik yang pesat disertai perubahan hormonal, kognitif dan emosional. Remaja juga mengalami perubahan gaya hidup serta kebiasaan makan yang dapat memengaruhi asupan dan kebutuhan gizinya. Semua hal ini menyebabkan kebutuhan gizi remaja meningkat. Oleh karena itu, masa remaja juga merupakan masa resiko gizi (Dervina Amisi et al. , 2. Pola makan yang tidak seimbang pada remaja dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti, obesitas dan overweight yang meningkatkan resiko penyakit kronis dan penyakit jantung. Selain itu, kekurangan gizi, stunting, underweight dan anemia yang disebabkan oleh pola makan yang tidak memadai dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan kekebalan tubuh (Febriana Muchtar. Di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar (Rikesda. tahun 2020 mengungkapkan prevalensi status gizi pada remaja dengan prevalensi kegemukan sebanyak 9,5%, prevalensi kurus sebanyak 6,7%, dan sangat kurus sebanyak 1,4%. Selain itu, di provinsi Sulawesi Selatan, prevalensi remaja dengan berat badan lebih dan obesitas mencapai 10,5%. Berdasarkan data ini, status gizi remaja usia 16-18 tahun berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa laki-laki memiliki angka sangat kurus sebanyak 2,3%, kurus 9,5%, normal 77%, gemuk 7,7%, dan obesitas 3,6%. Sebaliknya, remaja perempuan menunjukkan angka sangat kurus sebanyak 0,5%, kurus 3,8%, normal 79,8%, gemuk 11,4%, dan obesitas 4,6%. Pola konsumsi makanan remaja sangat dipengaruhi oleh jumlah, frekuensi, dan jenis makanan yang dikonsumsi, serta harus memperhatikan nilai gizi dan kecukupan zat gizi. Remaja seringkali lebih memilih makanan ringan dan cepat saji karena kesibukan mereka, dan terkadang melakukan diet ekstrem untuk menjaga bentuk Sedangkan Pola makan yang sehat dan seimbang adalah makan tiga kali sehari dengan konsumsi makanan pokok, lauk pauk . rotein hewani dan protein nabat. , sayur - sayuranan, buah-buahan serta air (Kadek Yuni Kartika et al. , 2. Gangguan makan juga merupakan masalah gizi yang sering terjadi pada remaja seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa, yang dipicu oleh tekanan sosial dan psikologis terkait body image. Aktivitas fisik yang rendah dapat memicu masalah gizi seperti obesitas, yang kemudian meningkatkan keinginan untuk mencapai tubuh yang lebih kurus. Ini bisa membuat seseorang terjebak dalam pola makan ekstrem yang merusak, seperti diet berlebihan atau mengonsumsi makanan dengan cara yang tidak sehat, yang pada akhirnya akan memengaruhi body image dan kesehatan mental mereka (Qorry Wahyuni Septica, 2. Aktivitas fisik pun memainkan peran penting dalam mengelola berat badan dan kesehatan secara keseluruhan. Aktivitas fisik melibatkan gerakan tubuh yang memerlukan energi dari otot rangka, sehingga penting untuk menyeimbangkan asupan energi dengan pengeluaran energi melalui aktivitas fisik. Keseimbangan ini diperlukan untuk mempertahankan berat badan normal dan mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan. Aktivitas fisik yang baik dapat membantu dalam 273 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 memperbaiki postur tubuh dan keseimbangan, yang penting untuk mengurangi resiko cedera, meningkatkan Kesehatan jantung, otot, dan berohraga secara terartur juga dapat mengurangi stress (Damayanti et al. , 2. Aktivitas fisik pada remaja cenderung menurun, dengan banyak waktu dihabiskan untuk aktivitas sedentari seperti duduk di depan layar atau menggunakan gadget, yang hanya sedikit membakar kalori dan cenderung menimbulkan penumpukan lemak. Ketidakseimbangan antara energi yang dikeluarkan melalui aktivitas fisik dan energi yang masuk dari makanan dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti gangguan makan, defisiensi nutrisi, dan penurunan fungsi tubuh secara keseluruhan. Oleh karena itu, hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik sangat penting (Dwiari Andya & Hariyadi, 2. Perubahan pola makan dan aktivitas fisik yang signifikan ini dapat berdampak pada persepsi diri remaja, khususnya body image mereka. Dengan penurunan aktivitas fisik dan peningkatan konsumsi makanan tidak sehat, remaja mungkin mengalami perubahan dalam cara mereka memandang tubuh mereka. Sebaliknya, body image yang positif atau negatif dapat mempengaruhi bagaimana remaja mengatur pola makan mereka, serta keinginan mereka untuk melakukan diet atau mengubah berat badan (Kartika et al. , 2021 dalam Rakhman et al. , 2. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada tanggal 27 September 2024 di SMP Negeri 8 Makassar, yang terletak di jalan Batua Raya No. Kel. Batua. Kec. Manggala. Kota Makassar, terdapat lebih dari 400 siswa di kelas Vi dan setiap kelas terdiri dari 30-40 siswa, dari data wawancara dan kuesioner yang dibagikan kepada 10 siswa mengungkapkan beberapa temuan penting. Sebanyak 29,96% siswa merasa tidak puas dengan bentuk tubuhnya, khususnya karena mereka merasa terlalu kurus, sementara beberapa siswa merasa cemas akan kenaikan berat badan, yang pada akhirnya membuat mereka kehilangan rasa percaya diri terhadap penampilan Hal ini, menunjukkan adanya tekanan sosial yang mempengaruhi persepsi mereka terhadap body image. Selain itu, 58,44% siswa juga jarang melakukan aktivitas fisik rutin, seperti berolahraga atau mengikuti kegiatan fisik di luar kelas. Jenis aktivitas fisik yang rendah ini meliputi kegiatan yang seharusnya umum dilakukan, seperti berjalan kaki, bermain olahraga di luar jam pelajaran, atau mengikuti ekstrakurikuler olahraga. Tingkat aktivitas fisik yang rendah ini kemungkinan mempengaruhi energi dan kesehatan mereka secara keseluruhan. Kemudian pola makan, sekitar 61,9% siswa memiliki kebiasaan pola makan yang tidak sehat, di mana siswa cenderung mengonsumsi makanan jajanan seperti mi instan, gorengan, seblak, bakso, serta minuman tidak sehat seperti pop ice, sementara mereka malas untuk minum air putih. Temuan ini menyoroti masalah dalam jenis makanan yang dikonsumsi, frekuensi jajan yang cukup sering, dan porsi makanan yang tidak Beberapa siswa juga lebih sering makan makanan ringan dalam porsi besar dibandingkan makanan sehat dalam porsi yang seimbang, yang bisa memengaruhi kondisi fisik dan kesehatan mereka. Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Pola Makan pada Remaja METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian Cross Sectional. Desain study ini di fokuskan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik terhadap pola makan pada remaja di SMP Negeri 8 Makassar. Penelitian dilaksanakan pada bulan oktober - November tahun 2024 dan tehnik pengambilab sampelnya menggunakan simple random sampling. Jumlah populasi penelitian yitu sebayak 472 siswa dari kelas 8 dan untuk penentuan jumlah sampel mengguanakan rumus Slovin sehingga didapatkan 83 responden. Pengambilan sampel pada penelitian ini mempertimbangkan beberapa syarat . Kriteria inklusi yaitu. Siswa yang terdapat di kelas 8 di SMP Negeri 8 Makassar dan Siswa yang bersedia untuk berpastisipasi dalam penelitian dengan mengisi kuesioner. Kriteria ekslusi yaitu Siswa yang tidak hadir di sekolah pada saat pembagian kuesioner dan Siswa yang tidak bersedia mengisi kuesioner dengan lengkap atau memberikan data yang tidak valid. Variable yang diukur dalam penelitian ini adalah variabel independent yaitu aktiviatas fisik sedangkan variabel dependent yaitu pola makan pada remaja di SMP Negeri 8 Makassar. Alat ukur variabel tersebut berupa kuesioner aktivitas fisik dan pola Skala ukur yang digunakan pada variabel tersebut yaitu frequensi. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan aplikasi statistical for social sciene (SPSS), dengan menggunakan analisis univariat untuk mengetahui karasteristik sampel dan Kemudian melakukan uji bivariat yaitu uji pearson chi square untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar variabel, yaitu hubungan aktiviatas fisik dengan pola makan. Variabel dinyatakan berpengaruh signifikan apabila memiliki nilai p<0,05 dan dinyatakan tidak berpengaruh signifikan apabila memiliki nilai p>0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan, maka disajikan hasil penelitian sebagai berikut: Tabel 1. Distribusi karasteristik responden Pada Remaja di SMP Negeri 8 Makassar Tahun 2024 No Karasteristik Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Umur 13 Tahun 14 Tahun Aktivitas fisik Rendah 275 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 Sedang Tinggi Pola Makan Pola Makan Sehat Pola Makan Sehat Pola Makan Sehat Total Kurang Cukup Sangat Berdasarkan tabel hasil analisis bivariat dapat diketahui bahwa dapat menunjukkan bahwa proporsi tertinggi pada kategori jenis kelaimin ada pada perempuan sebanyak 51 orang . 4 %) dengan umur 13 tahun sebanyak 38 orang . ,7%) dan umur 14 tahun sebanyak 14 orang . ,7%). Sedangkan laki-laki sebanyak 32 orang . ,6 %) dengan umur 13 tahun sebanyak 19 orang . %) dan umur 14 tahun sebanyak 12 orang . ,6%). Hal ini menunjukkan bahwa responden yang menjadi sampel penelitian lebih dominan perempuan dari pada laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik responden di SMP Negeri 8 Makassar Sebagian besar berada dalam kategori sedang, yaitu sebanyak 61 . 5 %) responden, sedangkan 22 . 5 %) responden berada dalam kategori rendah. Dan tidak ada responden yang termasuk dalam kategori tinggi. Sedangkan tabel pola makan menunjukkan bahwa Sebagian besar responden di SMP Negeri 8 Makassar memiliki pola makan dalam kategori kurang sehat dengan jumlah 57 . 7 %) responden, sementara 26 . 3 %) responden berada dalam kategori cukup sehat. Dan tidak ada responden yang termasuk dalam kategori sangat sehat . %). Tabel 2 Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Pola Makan Pada Remaja di SMP Negeri 8 Makassar Tahun 2024 Aktivitas Fisik Rendah Sedang Total Pola Makan Kurang Cukup Sehat Sehat Total PValue 0,001 Berdasarkan tabel dan gambar diagram diatas hasil penelitian menunjukkan bahwa 22 orang . 5%) yang memiliki aktivitas fisik rendah dan pola makan yang kurang sehat sedangkan siswa yang memiliki aktivitas sedang sebanyak 61 orang Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Pola Makan pada Remaja dengan pola makan kurang sehat sebanyak 35 orang . 2%) dan pola makan cukup sehat sebanyak 26 orang . 3%). Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p-value = 0,001< 0,05 maka Ho ditolak dan Ha di terima, artinya bahwa ada hubungan aktivitas fisik terhadap pola makan pada remaja. Pembahasan Responden dengan aktivitas fisik rendah umumnya memberikan alasan yang berhubungan dengan keterbatasan waktu dan motivasi. Banyak dari mereka yang menjawab "Tidak pernah" atau "1-2 kali seminggu" pada pertanyaan mengenai frekuensi aktivitas fisik, yang menunjukkan bahwa kesibukan di sekolah atau kegiatan lainnya menghambat mereka untuk berolahraga secara rutin. Selain itu, sebagian besar responden dengan aktivitas fisik rendah juga menjawab bahwa alasan mereka berolahraga adalah untuk "Menjaga kesehatan" atau "Hobi", namun dengan frekuensi yang jarang dilakukan. Aktivitas fisik yang mereka lakukan lebih sering terbatas pada kegiatan pasif seperti menonton televisi atau menggunakan media sosial. Serta kurangnya fasilitas olahraga yang memadai juga menjadi faktor penghambat untuk lebih aktif secara fisik. Keterkaitan antara aktivitas fisik rendah dan pola makan dapat dilihat dari kebiasaan makan responden yang lebih sering mengonsumsi makanan tidak sehat. Responden dengan aktivitas fisik rendah cenderung memilih makanan cepat saji, gorengan, dan makanan manis karena mereka tidak merasa perlu mengimbanginya dengan aktivitas fisik. Hal ini tercermin dalam jawaban mereka pada pertanyaan mengenai frekuensi konsumsi makanan cepat saji dan makanan tinggi kalori, seperti "Lebih dari 3 kali seminggu" atau "2-3 kali". Kebiasaan ini berkontribusi pada ketidakpuasan mereka terhadap body image, karena pola makan tidak sehat sering kali berdampak pada penambahan berat badan dan perasaan kurang nyaman dengan tubuh mereka. Aktivitas fisik yang rendah sering kali berhubungan dengan kebiasaan makan yang kurang sehat. Remaja yang kurang aktif cenderung mengonsumsi makanan tinggi kalori dan rendah nutrisi, seperti camilan manis dan makanan cepat saji. Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan banyak energi yang tersimpan sebagai lemak, sehingga orang-orang yang kurang melakukan aktivitas cenderung menjadi gemuk. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Andya et al. , yang menyatakan bahwa kebiasaan duduk terus menerus, menonton televisi, atau penggunaan alat-alat berteknologi tinggi tanpa aktivitas fisik yang memadai dapat menyebabkan penumpukan lemak tubuh. Aktivitas fisik yang rendah mengurangi pembakaran kalori, sehingga sebagian besar kalori yang masuk ke tubuh disimpan sebagai lemak, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko obesitas. Aktivitas fisik yang kurang dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi, di mana asupan kalori lebih tinggi daripada yang dibakar melalui aktivitas fisik, yang memperburuk status gizi individu. Menurut Andriani. Aisah, dan Ariyanto . , remaja dengan aktivitas fisik ringan lebih berisiko mengalami obesitas dibandingkan dengan remaja yang memiliki aktivitas fisik berat. Teori ini menjelaskan bahwa rendahnya aktivitas fisik menyebabkan energi yang masuk ke tubuh hanya sedikit digunakan untuk beraktivitas, sementara 277 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 sebagian besar tersimpan sebagai lemak tubuh. Oleh karena itu, remaja yang lebih banyak duduk atau tidak berolahraga memiliki lebih banyak energi yang tidak terbakar dan disimpan sebagai lemak, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya overweight. Menurut Pakpahan et al. , dalam Desi et al. , untuk mencapai kesehatan yang optimal, diperlukan perubahan gaya hidup yang positif, termasuk melaksanakan aktivitas fisik secara teratur. Aktivitas fisik yang cukup berperan penting dalam menjaga berat badan ideal dan kebugaran tubuh. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat kebugaran tubuh yang baik sangat dipengaruhi oleh aktivitas fisik yang KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan pola makan pada remaja di SMP Negeri 8 Makassar dengan hasil uji statistik Chi-square diperoleh nilai p-value = < 0,001. Aktivitas fisik yang kurang dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi, di mana asupan kalori lebih tinggi dari pada yang dibakar melalui aktivitas fisik, yang memperburuk status gizi individu. Oleh karena itu, penting untuk mendorong remaja agar lebih aktif secara fisik dan memilih makanan yang lebih bergizi untuk mendukung kesehatan tubuh mereka secara menyeluruh. REFERENSI