AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id METODE MEMPEROLEH PENGETAHUAN ILMIAH Sebuah Tinjauan Filosofis Oleh: M. Zulkarnain Mubhar* *** Abstrak Ketika manusia sedang berada dalam kebimbangan ilmiah dan terombang-abing akibat kehilangan bimbingan, maka sekolompok manusia yang mayoritasnya berkebangsaan Yunani berusaha mencari kebenaran dengan menggunakan daya nalar-kritis mereka yang terdapat dibalik fisik alamiyah dan metafisis. Kelompok manusia ini kemudian dikenal dengan istilah Filusuf yang diartikan sebagai para pencari atau pecinta hikmah. Selanjutnya, proses perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, diantara metode-metode yang dapat digunakan dalam memperoleh pengetahuan adalah; (a) Metode Empiris, (b) Metode Rasional, (c) Metode Kontemplatif, (d) Metode Ilmiah. Dari keempat metode ini, maka metode ilmiah dianggap sebagai metode yang paling komprehensif sebab dapat menyatukan keseluruhan metode dalam bingkai oprasional sistematik dengan menggunakan kata kunci; (a) Logis, (b) Empirik, (c) kejelasan teori, (d) oprasional dan spesifik, (e) hypotethik, (e) verivikative, (f) sistematis, (g) memperhatikan validitas dan realibilitas, (h) obyektif, (i) skeptik, (j) kritis, (k) analitik, (l) kontemplatif. Kata Kunci: Metode, Filsafat, Ilmu, Ilmiah, Pengetahuan. PENDAHULUAN Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna lagi paripurna, kesempurnaannya tampak pada kecakapan dalam menghadapi pelbagai bentuk permasalahan hidup yang merupakan manifestasi dari kesucian fitrah insaniyah yang dianugrahkan oleh Allah kepadanya, dan keparipurnaannya tampak pada kemampuannya menganalisa setiap permasalahan guna mendapatkan jalan keluar yang akurat tanpa menimbulkan problematika yang lebih parah dari sebelumnya, keparipurnaan ini merupkan bentuk manifestasi hikmah ‘aqliyyah yang menjadi bagian utama terbentuknya makhluk Tuhan yang teristimewa diantara seluruh makhluk yang tercipta di bumi. Di antara masa terputusnya ke-Rasul-an Musa A.s dan diutusnya Isa A.s sebagai Rasul Allah, manusia berada dalam kebimbangan ilmiah dan terombang-abing akibat kehilangan bimbingan ditambah dengan kesewenang-wenangan sebahagian ahli Kitab dalam melakukan perubahan dan perombakan Torah (kitab Taurat) serta kesewenang-wenangan para penguasa dalam melakukan pendoktirin sesat kepada umat manusia yang hidup pada masa transisi ke-Rasul-an tersebut, maka sekolompok manusia yang mayoritasnya * Dosen Tetap STAI Muhammadiyah Sinjai AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 131 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id berkebangsaan Yunani melakukan penentangan terhadap indoktrinisasi para penguasa yang dianggap sesat lagi menyesatkan dengan menggunakan daya nalar-kritis mereka terhadap doktrin-doktrin penguasa yang merupakan hasil penalaran akal terhadap kebenaran yang terdapat dibalik fisik alamiyah dan metafisis. Kelompok manusia ini kemudian dikenal dengan istilah Filusuf yang diartikan sebagai para pencari atau pecinta hikmah. Penggunaan istilah ini merupakan bentuk perlawanan terhadap para retorik-retorik sesat yang dikenal dengan istilah Shophis yang menggunakan metode berfikir sesat (shophistry) atau dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah safasthah.1 Pernayataan di atas memberikan ketegasan konseptual-faktual bahwa filsafat pertama kali dirumuskan dan diperkenalkan dalam Bahasa Yunani kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani lalu ke dalam bahasa Arab. Al-Ahwaniy mengungkap penuturan alFarabiy tentang asal muasal filsafat sejak bangsa-bangsa kuno sampai pada orang Arab sebagai berikut: Konon ilmu tersebut pada zaman dahulu milik orang-orang Kaldan, penduduk Iraq. Lantas berpindah pada orang Mesir lalu berpindah lagi pada orang Yunani, beberapa kurun waktu kemudian, ilmu tersebut berpindah lagi pada orang-orang Arab. Semua yang tercakup dalam ilmu itu dirumuskan dalam bahasa Yunani, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Suryani lalu kedalam bahasa Arab. Ilmu yang mereka peroleh dari orang-orang Yunani itu pada umumnya mereka beri nama Hikmah dan Hikmah Terbesar.2 Jika memperhatikan dan memahami dengan baik tentang perjalanan filsafat sebagaimana yang tampak dalam ungkapan al-Farabiy, maka kita akan berkesimpulan bahwa Filsafat (hikmah atau hikmah terbesar) adalah milik orang-orang Persia yang pada akhirnya masuk ke dunia Islam pada zaman Abbasiyah. Hal ini sejalan dengan sebuah hadith sebagaimana yang direkam dan didokumentasikan dengan baik oleh At-Tirmidzy dalam Sunan-nya. ‫ضالَّة ْالمؤْ ِم ِن فَ َحيْث َو َجدَهَا فَه َو أ َ َح ُّق ِب َها‬ َ ‫ْال َك ِل َمة ْال ِح ْك َمة‬ "Kalimat penuh hikmah adalah permata mu'min yang hilang, maka dimanapun hikmah itu ditemukan, maka hendaklah mengambilnya" 3 Penegasan hadith di atas menunjukkan bahwa Islam mengakomodasi proses pencarian ilmu yang mengantarkan seorang muslim dapat menjadi ahli ilmu yang jujur secara ilmiah baik dalam bentuk konseputal maupun kontekstual dimana proses perkembangan 1 Murtada Mutahhariy, Fundamentals of Islamic Thoght, diterj. A. Rifa'i Hasan dan Yuliani, Tema-Tema Penting Filsafat Islam, (Bandung: Yayasan Muthahhary, 1993), 11-12. 2 Ahmad Fuad al-Ahwaniy, al-Falsafah al-Islamiyyah, (Kairo: al-Maktabah al-Thaqafiyyah, 1962), 4. 3 Hadith ini Da’if, menurut at-Tirmidzy hadith ini merupakan hadith gharib dari sisi sanad dan matannya sebab tidak ditemukan kecuali dari sisi ini, dan didalmnya terdapat Ibrahim bin al-Fadl al-Madiniy alMakhzumiy yang di da’if-kan akibat kelemahan hafalnya. Lihat: Sunan at-Tirmidzy, Kitab: Ilmu, Bab: Keutaman Fiqih dari Ibadah-ibadah Lainnya (Semarang: Toha Putra, T.Th), Jld. IV, 155. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 132 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id pengetahuan manusia dari pengetahuan biasa ke arah pengetahuan ilmiah yang melibatkan metode dan sistem-sistem tertentu, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dihasilkan dengan jalan filsafat.4 Penegasan ini secara implisit menjelaskan bahwa metode dalam memperoleh pengetahuan yang bersifat ilmiah dibutuhkan sebuah pengkajian metodologis sebagai sebuah gambaran umum tentang proses atau metode untuk menghasilkan pengetahuan ilmiah yang kemudian akan dipaparkan lebih lanjut dalam tulisan ini. Berdasar pada uraian di atas, maka permasalahan yang akan diuraikan berusaha untuk menjawab dua perpertanyaan mendasar yaitu; Bagaimana konsepsi teori Ilmu pengetehuan?; dan Bagaimana metode memperoleh Ilmu pengetahuan secara ilmiah? Tulisan ini bermaksud untuk mengetahui metode perolehan ilmu pengetahuan secara filosofis yang bertujuan untuk mendapatkan pencerahan ilmiah. Pada sisi lain konsep teori Ilmu dan metode memperoleh Ilmu pengetahuan dapat dijadikan sebagai landasan dalam melakukan proses pencarian ilmu pengetahuan guna menemukan kebenaran ilmu pengetahuan secara ilmiah. Adapun Hirarki pembahasan dalam tulisan ini, dengan mendahulukan pembahasan tentang berbagai keterangan epistemik-filosofis akan konsepsi teori ilmu pengetahuan berdasarkan perdebatan-perdebatan filosofis para filusuf ditinjau dari aspek epistemologinya yang bertujuan untuk menampakkan perbedaan dan pertentangan teori –untuk tidak mengatakan kekacauan epistemik- tentang metode atau cara memperoleh ilmu pengetahuan untuk mencapai sebuah “kebenaran” ilmiah. Selanjutnya pembahasan difokuskan pada uaraian tentang berbagai metode dalam memperoleh ilmu pengetahuan secara epistemicfilosofis. PEMBAHASAN A. Konsepsi Teori Ilmu Pengetahuan Berbimetode tentangan metode atau metode memperoleh ilmu pengetahuan, maka kita berbimetode tentang epistemology dalam filsafat ilmu yang disebut juga dengan istilah teori pengetahuan. Epistemology memiliki obyek telaah yang bersifat penjelas atas proses terbentuknya ilmu pengetahuan yang memunculkan pertanyaa-pertanyaan utama seperti; bagaimana sesuatu itu datang?, bagaimana kita mengetahuinya?, bagaimana membedakannya dengan yang lain? Dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini adalah bentuk penegasan tentang hubungan sesuatu dengan situasi dan kondisi ruang serta watu,5 ketika berbimetode tentang epistemology ilmu, maka harus dikaitkan dengan ontology ilmu dan 4 Eko Marhaendy, Pengetahuan Manusia Secara Umum (Makalah, dipersentasekan pada Mata Kuliah Pendekatan dalam Pengkajian Islam (PDPI) Program Pasca Sarjana IAIN Sumut, Naskah tersebut diakses di www.ekomarhaendy.wordpress.com dikunjungi pada 15-Oktober-2010), 3. 5 Inu Kencana Syafiie, Pengantar Filsafat (Bandung : Rafika Aditama, 2007), 10. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 133 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id aksiologinya misalnya; ketika hendak membimetodekan tentang ilmu alam yang apa adanya yang terbatas pada lingkup pengalaman kita dimana pengetahuan dikumpulkan oleh ilmu untuk menjawab permasalahan kehidupan yang dihadapi sehari-hari oleh manusia, dan untuk digunakan dalam menawarkan pelbagai kemudahan kepadanya. Pemecahan tersebut pada dasarnya adalah dengan mengasumsikan, meramalkan dan mengontrol gejala-gejala alam. Berdasaran landasan ontology dan aksiologi seperti itu, maka dibutuhkan bangunan landasan epistemology yang sesuai, sebab pada dasarnya persoalan utama yang sering dihadapi oleh setiap epistemology pengetahuan adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontology dan aksiologi masing-masing.6 Jadi dalam pandangan ini kekokohan epistemic dalam bangunan ilmu pengetahuan terletak pada kebenaran metode tanpa memishkannya dengan ontology dan aksiologi dari sautu bangunan ilmu, sebagaimana yang dapat diilustrasikan secara hirarki sebagai berikut; BEING KNOWING AXIOLOGI TRUTH OF KNOWLEDGE Hirarki illustrasi bangunan ilmu pengetahuan di atas menunjukkan bahwa ontology ilmu ditempatkan sebelum epistemology dengan metode mengasumsikan “ada” realitas kemudian ditambahkan epistemology untuk menjelaskan bagaimana kita mengetahui realitas tersebut. Hirarki dari bangunan ilmu pengetahuan tersebut – yang dalam istilah Keith Lethrer – adalah teori dogmatic epistemology.7 Konsepsi dari teori ini adalah dengan menempatkan ontology sebelum epistemology. Selain dari teori dogmatic epistemology, terdapat pula teori critical epistemology, teori ini merupakan bentuk revolusi dari teori dogmatic epistemology yang dalam prosesnya adalah menanyakan apa yang telah diketahui sebelum menjelaskannya, artinya bahwa teori ini berada pada wilayah mempertanyakan suatu pengetahuan awal secara kritis kemudian diyakini, meragukan sesutu yang telah “ada” terlebih dahulu sebelum kemudian menjelaskannya setelah terbukti keber”ada”annya, dan berpikir dahulu sebelum meyakini dan 6 Jujun S Suriasumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 2001), 105106. Yang selanjutnya ditulis Jujun, Filsafat Ilmu… 7 Muhammad Adib, Filsafat Ilmu; Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010), 76. Selanjutnya ditulis Adib, Filsafat Ilmu… AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 134 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id atau tidak meyakini kebenarannya.8 Konsepsi dari teori ini menempatkan wilayah epistemic sebelum ontal sebagaimana yang dapat dillustrasikan secara hirarki sebagai berikut: KNOWING BEING AXIOLOGI TRUTH OF KNOWLEDGE Subjektifitas dan objetifitas kebenaran ilmu merupakan hasil dari suatu bangunan ilmu yang memiliki ketergantungan pada kebenaran teori, metode dan cara memperolehnya. teori ilmu yang diterapkan oleh Para filusuf kuno tergolong masih sangat premature dimana mereka mencari unsur-unsur atau entitas-entitas yang dikandung oleh semua benda dengan menggunakan pertimbagan-pertimbangan empiris atau hasil-hasil pengamatan yang mendalam terhadap entitas-entitas tersebut yang dapat mendukung penjelasan yang satu atau yang lainnya. Mereka mendasaran jawaban mereka sedapat mungkin pada landasan-landasan epistemic dengan mempertimbangkan jenis-jenis apa yang dapat dimengerti secara sungguhsungguh, sebagaimana halnya yang berdasar pada empiris dengan mempertimbangkan jenisjenis entitas abadi yang mungkin dapat diperoleh dari dan atau dalam pengalaman.9 Secara umum, prematurisme konsep teori ilmu pengetahuan yang diperoleh oleh para filusuf klasik kuno didasarkan pada lima kemampuan yaitu; (1) Pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman, (2) pengetahuan dari hasil pengalaman tersebut diterima sebagai suatu fakta dengan sikap receptive mind, dan jika terdapat keterangan-keterang epistemic tentang fakta-fakta tersebut, maka keterangan-keterangan tersebut adalah mitologi (mistis, magis dan religious), (3) kemampuan menemukan abjad dan bilangan alam yang menunjukkan terjadinya tingkat abstraksi pemikiran, (4) kemampuan menulis, menghitung dan menyusun kalender merupakan bentuk sintesis dari hasil abstraksi, (5) kemampuan meramalkan peristiwa-peristiwa fisis atas dasar a priori, seperti hujan, gerhana dan sebagainya.10 Perbedaan-perbedaan para filusuf klasik Yunani pra-Sokratik tentang konsepsi teori ilmu pengetahuan terletak pada pendalam pengamatan empirisme mereka terhadap berbagai entitas dari berbagai benda yang ada tidak dapat diilekkan, dalam pandangan Parmenidas 8 Ibid., 77. Jerome R Ravertz, The Philosophy of Science (Oxford University Press, 1982) diterj. Saut Pasaribu, Filsafat Ilmu Sejarah & Ruang Lingup Bahasan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), 92-93. Yang selanjutnya ditulis Jerome, The Philosophy of Science… 10 A. Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 194. Yang selanjutnya ditulis A.Fuad, Filsafat Ilmu… 9 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 135 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id misalanya bahwa “segala bentuk perubahan merupakan penampakan sementara yang berada di balik hubungan timbal-balik dari realitas-realitas yang lebih dalam dan tidak berubah”, semantara Hiraklitus berada pada kutub yang lebih ekstrim yang menyatakan bahwa “sejauh pengetahuan manusia semua bersifat mitologi, sebab secara empiris pengetahuan itu berubah terus menerus,11 dan apa pun yang berada dalam waktu selalu fana dan keabadian bukanlah sesuatu yang tidak berubah disepanjang waktu yang terbatas, akan tetapi dia adalah eksistensi yang berada diluar seluruh proses temporal”.12 Para filusuf pra-Sokratik memfokuskan diri pada pencarian secara empirik tentang arche (unsure induk)13 yang dianggap sebagai asal kejadian segala sesuatu dengan melakukan pengamatan empiris secara medalam terhadap berbagai fenomena alam sehingga menghasilkan beberapa konsep tentang asal-usul alam dalam segala bentuk jenis, entitas dan geraknya. Berbagai konsep yang mereka hasilkan berdasarkan pengamatan empiris tersebut pun berbeda antara satu dengan lainnya dimana dalam pandangan Thales sebagaimana yang diungkapan oleh Aristotales bahwa “air adalah substansi dasar yang membetuk segala sesuatu dan ia mengatakan bahwa bumi terapung di atas air, dan bahwa magnet memiliki nyawa karena dapat menggerakan besi”.14 Russell memandang bahwa pendapat ini – tentang air sebagai asal dari segala sesuatu – dapat dianggap sebagai bentuk hipotesis ilmiah yang tidak dapat dianggap sebagai pendapat “tolol” sebab dua pulu tahun yang lalu15 telah ditemukan bahwa segala sesuatu terbuat dari hydrogen dimana dua pertiganya adalah air.16 Pada bagian lain, Anaximanders berpendapat: “arch itu adalah substansi yang tidak terbatas, abadi, dan tidak mengenal usia, substansi asali itu dibentuk menjadi pelbagai subtansi yang kita kenal dan kemudian substansi-substansi tersebut ditransformasikan antara satu dengan lainnya menjadi substansi lain”, sehingga dalam kesimpulannya bahwa “dunia kita ini adalah salah satu di antara dunia-dunia yang ada, dan dunia tidak diciptakan namun lahir dari evolusi yang merupakan bentuk transformasi dari pelbagai substansi dari substansi yang tidak terbatas tersebut”.17 Sementara itu Phytagoras memandang bahwa “substansi asal dari segala sesuatu adalah bilangan”, pandangan Phytagora ini disandarkan pada musik dan hubungan yang dibangun antara musik dan matematika.18 11 Jerome, The Philosophy of Science…94. Bernard Russell, History of Western Philosophy and its Connection with Political and Social Circumstances From the Earliest Time to Present Day (London: George Allen and UNWIN, 1946). Diterj. Sigit Jatmiko dkk., Sejarah Filsafat Barat; dan Kaitannya dengan Kondisi Sosial-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), 61. Yang selanjutnya ditulis Bernard, History of Western Philosophy... 13 A. Fuad, Filsafat Ilmu, 195. 14 Bernard, History of Western Philosophy..., 33. 15 Yaitu dua puluh tahun dari tahun dimana Bernarnd Russell hidup dan menyusun karyanya yang berjudul History of Western Philosophy… 16 Bernard, History of Western Philosophy…,33. 17 Ibid., 34-35. 18 Ibid., 46. 12 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 136 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id Secara umum dapat dinyatakan bahwa konsep teori ilmu pengetahuan pada periode ini dapat dibagi ke dalam empat tahapan yaitu; (1) Pengamatan atas pengalaman dan bendabenda yang mengitari ruang dan waktu dimana sang filusuf tersebut berada, (2) memanfatkan kemampuan penalaran terhadap hubungan-hubungan antar substansi secara abstraktif, (3) melakukan hipotesis atas dasar hubungan-hubungan abstrak antar substansi, (4) memberikan kesimpulan spekulatif berdasarkan tiga tahapan sebelumnya secara deduktif. Teori ilmu pengetahuan dan metode memperolehnya dalam perkembangan berikutnya tidak begitu signifikan dari periode sebelumnya dimana pertimbanganpertimbangan ontologis, epistemologis dan empiris masih sangat mendominasi. Sekalipun konstruksi mengenai teori-tori fundamental ilmu di seputar konsep, dan pola yang dilakukan oleh Plato dengan meminjam teori geometri begitu tampak pada periode ini dan bahkan memberikan pengaruh pada teori ilmu pengetahuan modern, pada logika dan metematika Jerman dan sesudahnya,19 artinya bahwa tori ilmu pengetahuan dari masa filusuf klasik hingga modern memiliki bangunan kesinambungan yang saling memeberi pengaruh antara satu dengan yang lain, dan atau saling menghapus antara satu dengan yang lain, dan atau saling menyempurnakan anatara satu dengan yang lain, sekalipun dalam kesempurnaannya masih terdapat pertentangan-pertentangan yang sangat mencolok antara kelompok empirisme, rasionalisme, skeptisisme, kritisisme, analitisme, strukturalisme dan lain-lain. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang ingin menemukan pengetahuan, maka sebagai langkah awal dia terlebih dahulu harus mempelajari teori-teori pengetahuan dalam perkembangan pengetahuan. Karena itu, usaha yang harus dia lakukan pertama kali adalah menegaskan tujuan pengetahuan, sebab pengetahauan tidak akan mengalami perkembangan dan perubahan apabila tujuan dari pengetahuan tersebut tidak diketahui dan dipahami. Karena pada prinsipnya ilmu adalah usaha untuk menginterpretasikan berbagai gejala dengan mencoba mencari penjelasan tentang berbagai kejadian,20 artinya fenomena ini baik berupa pengamatan empirik maupun penalaran rasio memerlukan teori sebagai landasan keterpahaman sesuatu yang dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan. B. Metode Memperoleh Ilmu Pengetahuan Pada pembahasan terdahulu telah ditegaskan bahwa untuk menemukan sesuatu yang bernama ilmu pengetahuan, maka tujuan dari ilmu pengetahuan tersebut harus ditentukan terlebih dahulu dengan menggunakan berbagai metode dalam memperolehnya. Adapun metode untuk dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan menentukan kebenaran ilmu pengetahuan secara filosofis terdiri dari: 1. Metode Empirik 19 20 Jerome, The Philosophy of Science…94. Jujun, Filsafat Ilmu...113 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 137 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id Yang dimaksud dengan metode empirik yaitu pengetahuan yang didapatkan melalui pengalaman inderawi dan akal mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman dengan metode induksi.21 Dalam metode ini terdapat beberapa unusur yaitu subyek, obyek dan hubungan antara subyek dan obyek.22 Subyek adalah yang menegatahui atau manusi itu sendiri sebab manusia sejatinya adalah knower dimana dalam diri setiap manusia terdapat kampuan untuk dapat mengetahui (dalam arti luas), kemampuan-kemampuan tersebut adalah; (a) Kemampuan kognitif, yaitu; kemampuan untuk menegtahui –dalam artinya secara luas dan lebih mendalam seperti; mengerti, memahami dan menghayati – dan mengingat apa yang diketahui. Landasan kognitifitas manusia adalah rasio atau akal. Kemampuan kognitif manusia bersifat netral. (b) kemampuan afektif yaitu kemampuan untuk merasakan tentang apa yang diketahuinya seperti rasa cinta, indah dan sebagainya. kemampuan afektif berlandas pada rasa tau qalbu dan disebut pula dengan hati nurani, kemampuan ini bersifat tidak netral. (c) kemampuan konatif yaitu kemampuan untuk mencapai apa yang dirasakan, kemampuan ini menjadi daya dorong untuk mencapai (atau menjauhi) segala apa yang diditekan oleh rasa.23 Adapun obyek adalah yang diketahui baik bersifat a priori maupun a posteriori dan terakhir adalah proses terjadinya hubungan antara subyek dan obyek.24 Metode ini memberikan arti bahwa seluruh konsep dan idea yang kita anggap benar sesungguhnya bersumber dari pengalaman dengan obyek yang ditangkap oleh panca indera khususnya yang bersifat spontan dan langsung, sehingga dengan metode ini panca indera memiliki peranan penting dalam tiga hal; (a) bahwa seluruh preposisi yang kita ucapkan merupakan bentuk manifestasi laporan dari pengalaman atau yang disimpulan pengalaman. (b) bahwa konsep atau idea tentang sesuatu tidak dapat diperoleh kecuali didasarkan pada apa yang diperoleh dari pengalaman. (c) akal budi atau rasio hanya dapat berfungsi jika memiliki acuan realitas.25 Artinya dengan metode ini dapat dinyatakan bahwa credential (keterpercayaan) konsep ilmiah atau teori apapun bergantung pada suatu tingkat substansi berbasis empiris.26 2. Metode Rasional 21 Induksi atau induktif adalah metode kerja ilmu-ilmu empiris yang mendasarkan diri pada pengamatan atau eksperimen untuk sampai kepada pengetahuan yang umum tak terbantahkan, pengetahuan semacam ini adalah pengetahuan a posteriori. Lihat. A. Soni Keraf dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan; Sebuah Tinjauan Filosofis (Yogyakarta : Kanisus, 2001), 55; Surajiyo, Filsafat Ilmu; Suatu Pengantar (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 66. 22 Adib, Filsafat Ilmu..., 75. 23 Soetriono dan Rita Hanafi, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian (Yogyakarta: ANDI, 2007), 101102. 24 Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan; Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), 61. Metode ini dapat berubah menjadi lebih ekstrim apabila dipahami bahwa satu-satunya yang dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan jika kebenarannya dapat dilacak dan diklarifikasi secara empirik. Pemahaman semacam ini dapat mengarah kepada bentuk “Empirisme Radikal”. 25 Keraf, Ilmu Pengetahuan…, 49-50. 26 Jerome, The Philosophy of Science…135. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 138 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id Metode Rasional adalah metode yang menjelaskan hubungan-hubungan rasional yang memberi penjelasan ilmiah ciri-khas keterpahaman (intelegibility) yang khas,27 penggunaan rasio dalam memperoleh pengetahuan menjadi sandaran metode ini dimana akal atau rasio yang memenuhi syarat yang dituntut oleh sifat umum dan yang perlu mutlak, yaitu syarat yang digunakan dalam seluruh metode ilmiah.28 Metode ini menjadikan matematika dan ilmu ukur sebagai model bagi pengetahuan manusia, metode ini menunjukkan sebuah penjelasan bahwa dalam diri manusia terdapat idea-idea bawaan tertentu yang telah ada sejak awal yang diperoleh bukan dari pengalaman, artinya bahwa manusia berpikir dalam rangka prinsip-prinsip pertama yang terbukti dengan sendirinya,29 sebab panca indera dan pengalaman hanya dapat memberi informasi tentang obyek khusus yang terbatas dan tidak tetap sehingga tidak dapat memberi pengetahuan yang bersifat universal.30 Jadi, pengetahuan hanya dapat ditemukan dalam dan dengan bantuan akal budi (rasio). Dengan metode ini, maka proses pengetahuan manusia adalah dengan mendeduksikan, menurunkan, pengetahuan-pengetahuan particular dari prinsip-prinsip umum, atau dengan kata lain bahwa pengetahuan manusia harus mulai dari aksioma-aksioma yang telah terbukti dengan sendirinya, dan dari situ ditarik teorema-teorema sedemikian rupa sehingga kebenaran aksioma menjadi kebenaran teorma.31 Penjelasan ini memberikan gambaran bahwa kemampuan akal budi (rasio) manusialah yang dapat digunakan untuk dapat menarik kesimpulan dari prinsip-prinsip umum tertentu dalam benaknya. Oleh karenanya logika silogisme menjadi sangat penting dalam menggunakan metode ini. Fungsi dari kemampuan rasio manusia dalam memperoleh ilmu pengetahuan dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu; higher reason (rasio tertinggi) dan lower reason (rasio terendah), hasil ilmu pengetahuan yang dapat diperoleh dari keduanya berbeda dimana higher reason menghasilkan ilmu pengetahuan akan suatu kebenaran yang berkaitan dengan kekalan yang disebut juga dengan sapientia atau wisdom sementara lower reason menghasilkan ilmu pengetahuan akan suatu kebenaran yang bersifat temporal yang disebut juga dengan scientia atau knowledge.32 3. Metode Kontemplatif Metode ini memandang bahwa metode empiris dan rasional memiliki keterbatasan, sehingga pengetahuan yang dihasilkan pun berbeda dan masing-masing bersifat temporal, 27 Ibid., 136. Surajiyo, Ilmu Filsafat…, 66. 29 Keraf, Ilmu Pengetahuan …, 47. 30 Ibid. 31 Ibid., 48 32 Andre Winoto, Augistine’s Theory of Knowledge (www.buletinpillar.org, 03-04-2010) 28 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 139 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id maka untuk menajamkan hasil dari kedua metode tersebut dibutuhkan penajaman kemampuan akal yang disebut intuisi, pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi dapat diperoleh secara kontemplatif.33 Metode kontemplatif dalam memperoleh ilmu pengetahuan bersifat sangat indivdualistik, sebab pengetahuan yang dihasilkannya tersebut adalah pengetahuan yang tercerahkan dari percikan sinar pengetahuan Tuhan (al-hikmah al-Ilahiyyah).34 Hariri Shrazi menerangkan, bahwa intusi (fitrah) bukan semata-mata kolam atau waduk yang menerima pengetahuan, akan tetapi pengetahuan ini murni muncul dari dalam diri manusia itu sendiri dan bukan dari luar, maka mata fitrahlah yang melihat pengetahuan itu dan kemudian lidahnya mengucapkan atau menjelaskan pengetahuan tersebut.35 Metode ini tidak hanya dipahami bahwa ilmu pengetahuan yang dihasilkannya bersifat mitologi-spekulatif, tetapi dalam arti yang lebih luas dimana metode kontemplatif menuju kebenaran pengetahuan secara epistemic dapat melalui beberapa tahapan yang di dalamnya menjadikan kesadaran empirik-rality dan cognitive-reasion sebagai tahapan awal dengan metode kerjanya yang khas yaitu; (a) empiris inderawi adalah sebagai jalan masuknya sensation dengan merasakan setiap bentuk realitas yang dirasakan dan diamatinya, selanjutnya (b) sensation yang masuk melalui pengamatan dan pengalaman tersebut dikumpulkan, digabungkan, dipilah, dinalar dengan menggunakan kemampuan rasio melalui proses penilaian terhadap obyek fisis yng diketahui melalui penginderaan dan atau pengalaman, tahapan ini selanjutnya disebut dengan tahapan cognition, selanjutnya (c) tahapan yang diberlakukan atas realitas yang telah dikognisikan dalam rasio tersebut kemudian dikontemplasikan dengan eternal truth pada tahapan ini kemudian apa yang dilihat, dirasa dan dipikirkan menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang disebut dengan intellection.36 Pada tahapan yang terakhir ini the truth information (al-Khabar al-Shadiq)37 dan otoritative information (informasi otoritatif)38 memiliki peranan penting untuk kemudian dilakukan dialektika baik itu persifat tekstual, intertekstual, kontektual maupun interkontekstual yang dapat membatu menghasilkan berbagai kesimpulan dalam ranah truth knowledge (kebenaran ilmu). 4. Metode Ilmiah 33 Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta : Rajawali Press, 2010), 155. Al-Gazali, al-Munqizh min al-Dhalāl, diterj. Masyhur Abadi, Setitik Cahaya dalam Kegelapan (Surabaya: Progressif, 2002), 32. 35 Muhyiddin Hairi Shirazi, Mans Dual Inclination; An Islamic Approach. Diterj. Eti Triana dan Ali Yahya, Tikai Ego dan Fitrah (Jakarata: Al-Huda, 2010), 71. 36 Andre Winoto, Augistine’s Theory of Knowledge (www.buletinpillar.org, 03-04-2010). 37 Yang dimaksud dengan the truth information atau al-Khabar al-Shadiq adalah al-Qur’an yang mengandung informasi yang sangat akurat dan kebenarannya telah teruji sepanjang zaman sejak diwahyukan oleh Allah swt kepada Rasulullah Muhammad saw. hingga saat ini 38 Yang dimaksud dengan otoritative information adalah seluruh bentuk perkataan, perbuatan, dan penetapan Nabi saw yang selanjutnya disebut dengan al-Sunnah. 34 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 140 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id Metode ilmiah merupakan salah satu cara atau prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu, dimana ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh lewat metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan ekspresi tentang metode bekerja pikiran yang diharapkan mempunyai karakteristik tertentu berupa sifat rasional dan teruji sehingga ilmu yang dihasilkan bisa diandalkan. Dalam hal ini metode ilmiah mencoba menggabungkan metode berpikir deduktif (rasional) dan induktif (empiris) dalam membangun pengetahuan. Teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesuaian dengan objek yang dijelaskannya, dengan didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar. Metode rasional yang digabungkan dengan metode empiris dalam langkah menuju dan dapat menghasilkan pengetahuan inilah yang disebut metode ilmiah. Jadi, metode ilmiah dianggap sebagai metode terbaik untuk mendapatkan pengetahuan karena metode ini menggunakan pendekatan yang sistematis, obyetif, terkontrol, dan dapat diuji, yang dilakukan melalui metode empiris maupun rasional atau dengan kata lain dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip induktif dan dedutif. Penggabungan anatara metode rasional dan empiris dilakukan dengan menggunkan langkah-langkah oprasional yang disebut metode ilmiah dimana dalam metode ini rasionalitas menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sementara empiris memisahkan anatara fakta yang sesuai dengan yang tidak. Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa seluruh bentuk teori yang dapat diterima secara ilmiah harus memenuhi dua syarat utama yaitu; (a) memiliki konsistensi a prioriative yang memungkinkan tidak terjadinya kontaradiksi dalam teori keilmuan secara umum, (b) harus sesuai dan sejalan dengan faktafakta empiris,39 artinya bahwa teori dalam scientific knowledge (ilmu pengetahuan ilmiah) merupakan sekumpulan preposisi yang saling berkaitan secara logis untuk memberikan penjelasan tentang sejumlah fakta dan fenomena40dimana hubungan-hubungan antar preposisi tersebut dapat diperiksa kebenarannya diantara fenomena agar dapat diberlakukan secara universal pada fenomena lain yang sejenis dengan proses yang demikian dapat menghasilkan sebuah prinsip ilmiah dimana sebuah preposisi yang mengandung kebenaran umum didasarkan pada fakta dan fenomena yang telah diamati.41 Dalam pandangan Ahmad Tafsir, metode ilmiah tidak datang dengan sesuatu yang baru, tetapi hanya mengulangi ajaran positivisme secara lebih oprasional, dimana dalam ajaran positivisme menyatakan bahwa kebenaran sesuatu harus bersifat logis, terbukti secara empiris, dan terukur secara oprasional, kuantitatif dan tidak mengundang perbedaan pendapat. Dengan demikian metode ilmiah harus melalui langkah yang disebut logicohypothetico-verivicartive dengan mula-mula membuktikan bahwa hal tersebut logis, 39 Jujun, Filsafat Ilmu …, 124. The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 2010), 145. 41 Ibid., 144. 40 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 141 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id kemudian mengajukan hipotesis terhadap logika tersebut, kemudian melakukan pembuktian hipotesis tersebut secara empiris.42 Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka dapat dinyatakan bahwa metode dalam memperoleh ilmu pengetahuan secara ilmiah harus melalui prosedur-prosedur khusus. Adapun kata kunci dari prosedur-prosedur khusus tersebut adalah: (a) Logis; (b) Empirik; (c) kejelasan teori atau epistemic; (d) operasional dan spesifik; (e) hypotethik; (e) verivikative; (f) sistematik; (g) memperhatikan validitas dan realibilitas; (h) obyektif; (i) skeptik; (j) kritis; (k) analitik; dan (l) kontemplatif. Dengan menjalankan prosedur khusus ini, maka tujuan untuk sampai kepada the truth knowledge (kebenaran ilmu) dapat dipertanggungjawabkan secara filosofis dan ilmiah. PENUTUP Dari seluruh uraian terdahulu merupakan hasil pembacaan dari berbagai literature untuk menemukan titik temu atas pelbagai konsep dan teori tentang metode memperoleh ilmu pengetahuan yang ditawarkan oleh berbagai penulis dan penyusun yang berasal dari pelbagai latar belakang keilmuan yang dijalani secara empirik, rasional, kontemplatif untuk mendapatkan sebuah hasil pembahasan yang bersifat ilmiah melalui pelbagai diskusi yang bersifat verivikatif. Konsepsi tentang tori ilmu pengetahuan dari masa filusuf klasik hingga modern memiliki bangunan kesinambungan yang saling memeberi pengaruh anatara satu dengan yang lain dan atau saling menghapus antara satu dengan yang dan atau saling menyempurnakan anatra satu dengan yang lain, sekalipun dalam kesempurnaannya masih terdapat pertentangan-pertentangan yang sangat mencolok antara kelompok dan mazhab filsafat. Dengan demikian, Maka seseorang yang ingin menemukan pengetahuan terlebih dahulu ia harus mempelajari teori-teri pengetahuan sebagai langka awal dalam perkembangan pengetahuan. Karena itu, usaha yang harus dia lakukan pertama kali adalah menegaskan tujuan pengetahuan, sebab pengetahauan tidak akan mengalami perkembangan dan perubahan apabila tujuan dari pengetahuan tersebut tidak diketahui dan dipahami, karena pada prinsipnya ilmu adalah usaha untuk menginterpretasikan gejala-gejala dengan mencoba mencari penjelasan tentang berbagai kejadian baik melalui pengamatan empirik maupun rasional yang memerlukan teori sebagai landasan keterpahaman sesuatu yang dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan. Diantara metode-metode yang dapat digunakan dalam memperoleh pengetahuan adalah; (a) Metode Empiris, (b) Metode Rasional, (c) Metode Kontemplatif, (d) Metode Ilmiah. Dari keempat metode ini, maka metode ilmiah dianggap sebagai metode yang paling komprehensif sebab dapat menyatukan keseluruhan metode dalam bingkai oprasional sistematik dengan menggunakan kata kunci prosedural; (a) Logis, (b) Empirik, (c) kejelasan 42 Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu; Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), 32-33. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 142 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id teori, (d) oprasional dan spesifik, (e) hypotethik, (e) verivikative, (f) sistematik, (g) memperhatikan validitas dan realibilitas, (h) obyektif, (i) skeptik, (j) kritis, (k) analitik, dan (l) kontemplatif. *** AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 143 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id DAFTAR PUSTAKA Adib, Muhammad. Filsafat Ilmu; Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010. al-Ahwaniy, Ahmad Fuad. al-Falsafah al-Islamiyyah. Kairo: al-Maktabah al-Thaqafiyyah, 1962. Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. Jakarta : Rajawali Press, 2010. Gie, The Liang. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberti, 2010. Al-Gazali. al-Munqiz min al-Dalal. Diterj. Masyhur Abadi, Setitik Cahaya dalam Kegelapan. Surabaya: Progressif, 2002. Hanafi, Soetriono dan Rita. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: ANDI, 2007. Ihsan, A. Fuad, Filsafat Ilmu. Jakarta: Rineka Cipta, 2010. Keraf, A. Soni dan Mikhael Dua. Ilmu Pengetahuan; Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta : Kanisus, 2001. Marhaendy, Eko. Pengetahuan Manusia Secara Umum. Makalah, dipersentasekan pada Mata Kuliah Pendekatan dalam Pengkajian Islam (PDPI) Program Pasca Sarjana IAIN Sumut, Naskah tersebut diakses di www.ekomarhaendy.wordpress.com dikunjungi pada 15-Oktober-2010. Mutahhariy, Murtada. Fundamentals of Islamic Thoght. Diterj. A. Rifa'i Hasan dan Yuliani, Tema-Tema Penting Filsafat Islam. Bandung: Yayasan Muthahhary, 1993. Ravertz, Jerome R. The Philosophy of Science (Oxford University Press, 1982). Diterj. Saut Pasaribu, Filsafat Ilmu Sejarah & Ruang Lingup Bahasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009. Russell, Bernard. History of Western Philosophy and its Connection with Political and Social Circumstances From the Earliest Time to Present Day (London: George Allen and UNWIN, 1946). Diterj. Sigit Jatmiko dkk., Sejarah Filsafat Barat; dan Kaitannya dengan Kondisi Sosial-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007. Shirazi, Muhyiddin Hairi. Mans Dual Inclination; An Islamic Approach. Diterj. Eti Triana dan Ali Yahya, Tikai Ego dan Fitrah. Jakarata: Al-Huda, 2010. Suhartono, Suparlan. Filsafat Ilmu Pengetahuan; Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008. Surajiyo. Filsafat Ilmu; Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara, 2008. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 144 AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan Volume 7, No. 1, 2015 ISSN (print) : 1858-4152 ISSN (online) : 2715-5684 Homepage : http://journal.al-qalam.iaims.ac.id Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan, 2001. Syafiie, Inu Kencana. Pengantar Filsafat. Bandung : Rafika Aditama, 2007. Tafsir, Ahmad. Filsafat Ilmu; Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010. al-Tirmidhiy, Muhammad bin ‘Isa. Al-Jami’ al-Tirmidhiy. Semarang: Toha Putra, T.Th, Jld. IV. Winoto, Andre. Augistine’s Theory of Knowledge. www.buletinpillar.org, 03-04-2010. AL-QALAM Jurnal Kajian Islam & Pendidikan 145