Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Implementasi Metode Cerita Tentang Kisah Tauladan Rasulullah Dalam Menanamkan Akhlak Sesuai Al-QurAoan Dan Hadist Pada Siswa-Siswi MA Nurul Akhlak Biaro-Baru Silvi Wardani1. Zahrotul Mardiyah2. Adeka Alpionita3. Alimni4 Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Fatmawati Soekarno Bengkulu silviwardani@gmail. 2zahrotulmardiyah892@gmail. 3aalpionita@gmail. alimni@gmail. 1,2,3,4 Abstract This journal discusses the implementation of the Prophet's role model story method as an educational strategy in instilling morals according to the Koran in MA Nurul Akhlak Biaro-Baru students. The Rasululah role model story method is an approach that utilizes stories from the life of the Prophet Muhammad. as a source of inspiration and moral lessons . This research aims to identify the effectiveness of this method in shaping students' Islamic behavior . and its impact on their understanding of Islamic ethical and moral values. This research uses a qualitative approach with observation, interviews and document analysis methods. The results of the research show that the use of the Rasululullah example story method has had a positive impact in increasing students' understanding of morals according to the Al-Qur'an and Hadith. Students who engage in learning with this method show an increase in positive behavior, such as humility, honesty, and empathy. Stories about the Prophet Muhammad SAW. give students real examples of how to apply Islamic teachings in everyday life. Apart from that, this method also helps students understand Islamic moral principles . and ethics in more depth. In conclusion, the implementation of the Rasulullah SAW story method in Islamic education at MA Nurul Akhlak Biaro-Baru has proven its effectiveness in instilling Islamic morals in students. The results of this research provide encouragement for Islamic educational institutions to consider more closely the use of the Prophet's story method in learning as a means of strengthening moral education according to the Al-Qur'an and Hadith. Keywords : Inspiration. Morals. Story Method Abstrak Jurnal ini membahas implementasi metode kisah tauladan Rasulullah sebagai strategi pendidikan dalam menanamkan akhlak sesuai Al-QurAoan dqn Hadist pada siswa-siswi MA Nurul Akhlak Biaro-Baru. Metode kisah tauladan Rasululah merupakan pendekatan yang memanfaatkan kisah-kisah kehidupan Rasulullah SAW. sebagai sumber inspirasi dan pelajaran moral . Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektivitas metode ini dalam membentuk perilaku Islami . siswa-siswi serta dampaknya terhadap pemahaman mereka tentang nilai-nilai etika dan moral Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode kisah tauladan Rasululullah telah membawa dampak positif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang akhlak sesuai Al-QurAoan dan Hadist. Siswa yang terlibat dalam pembelajaran dengan metode ini menunjukkan peningkatan dalam perilaku positif, seperti kerendahan hati, kejujuran, dan empati. Kisah-kisah tentang Rasulullah SAW. memberikan siswa-siswi contoh yang nyata tentang bagaimana menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, metode ini juga membantu siswa-siswi dalam memahami prinsip-prinsip moral . dan etika Islam secara lebih mendalam. Kesimpulannya, implementasi metode kisah Rasulullah SAW dalam pendidikan Islam di MA Nurul Akhlak Biaro-Baru telah membuktikan efektivitasnya dalam menanamkan akhlak Islami pada siswa-siswi. Hasil penelitian ini memberikan dorongan bagi lembaga pendidikan Islam untuk lebih mempertimbangkan penggunaan metode kisah Rasulullah dalam pembelajaran sebagai sarana untuk memperkuat pendidikan akhlak sesuai Al-QurAoan dan Hadist. Kata Kunci : Metode bercerita. Akhlak. Inspirasi Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 PENDAHULUAN Metode kisah bisa dikatakan sebagai materi yang berisi nilai-nilai tertentu yang berkaitan dengan masalah moral . Pada umumnya, setiap kisah mengandung pesan moral tertentu. Karena itu setiap kisah memiliki karakter yang menunjukkan sebuah sifat dari perilaku tertentu. Karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada tercapainya pembentukan karakter atau akhlak mulia siswa secara utuh dan seimbang sesuai standar kompetensi lulusan (Alimni and Hamdani, 2. Menurut Nata. Islam sangat menyadari bahwa secara natural manusia sangat menyenangi cerita yang berpengaruh terhadap perasaan, karena itu cerita dijadikan sebagai salah satu teknik dalam pendidikan. Kisah dapat mengaktifkan tidak hanya aspek intelektual tetapi juga aspek kepekaan, kebaikan budi, seni, fantasi, emosi, dan imajinasi serta tidak hanya mengaktifkan otak kiri saja tetapi juga otak kanan, dalam kisah ini nilai-nilai luhur ditanamkan melalui penghayatan terhadap makna dan maksud kisah. Peserta didik melakukan serangkaian kegiatan kognisi dan afeksi, melalui dari interpretasi, komprehensif, hingga inferensi terhadap nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Menurut Syahraini Tambak, cerita dapat membangun mental dan kepribadian, karena dibalik setiap cerita ada makna. Ada beberapa unsur yang menjadi kekuatan cerita tersebut. Kekuatan ini berkaitan dengan isi pesan dan sifat cerita, serta dampak yang ditimbulkannya, yaitu Syarat nuansa hiburan yang mendidik dan kreatif bagi anak-anak, sehingga anak merasa senang dan terhibur, mengandung pesan moral yang dalam dan komprehensif, sehingga cerita bisa dijadikan cara mendidik yang tanpa disadari anak, adanya interaksi langsung antar anak dengan pendidik, sehingga dapat mempererat ikatan batin dan menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Hal ini dapat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak menjelang dewasa, sebuah cerita biasanya membuat anak penasaran, sehingga merangsang rasa ingin tahu akan kelanjutan ceritanya, cerita adalah aktivitas rileks yang memiliki potensi konstruktif untuk mendukung tumbuh kembang mental dan kepribadian anak, membentuk visualisasi anak dari cerita yang didengarkan (Nurdiana, 2. Kisah merupakan urutan rangkaian kejadian atau peristiwa baik yang bersifat faktual maupun fiktif, maka metode bercerita berarti penggunaan rangkaian peristiwa sebagai suatu langkah untuk menyampaikan materi. Peristiwa-pristiwa yang terjadi di sekeliling kita itu sesungguhnya banyak mengandung pelajaran, hikmah dan pendidikan yang sangat berharga misalnya kejujuran. Kejujuran merupakan nilai karakter yang menunjukkan suatu sikap seperti mengamalkan dan menerapkan akidah dan akhlak (Amin and Yulyana, 2. Namun Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 di tengah perkembangan zaman, fenomena perilaku moral siswa yang tidak sesuai dengan ketentuan Agama Islam, seperti seks bebas, kekerasan, pornografi, penyalahgunaan narkoba dan minuman keras, tawuran, bullying baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap guru maupun teman sebaya. Ketidakselarasan serta pertumbuhan jasmani yang sangat cepat. Hal mengakibatkan kondisi kejiwaan seorang remaja menjadi goncang, emosi labil, dan tingkat kepekaan terhadap rangsangan dari luar. Berdasarkan penelitian yang kami lakukan pada pembelajaran SKI di MA Nurul Akhlak Biaro-Baru di kelas 10, kenakalan siswa di kelas 10 hanya terdapat 3 siswa yang mencuri perhatian dikarenakan selalu membantah nasihat dari pak fatur yang berarti kurangnya akhlak terhadap guru, sedangkan 3 siswa lainnya terlihat ribut dan asik main sendir, tidur bahkan makan di kelas saat pak fatur menjelaskan materi, maka dari fakta ini rata-rata anak di kelas 10 tersebut kurang menghormati pak fatur sebagai seorang guru yang mana seharusnya mereka paham bahwa berkat guru sejarah mereka dapat memahami sejarah islam, para tokohtokoh islam, sehingga dengan ilmu tersebut mereka dapat memahami bahwa pendidikan islam merupakan ilmu dunia akhirat. Itulah mengapa seharusnya mereka sebagai siswa-siswi harus menghormati guru-guru pendidikan agama islam dan guru-guru umum lainnya. Berdasarkan masalah tersebut, maka kami sebagai peneliti akan melakukan penelitian dengan mengimplementasikan metode pembelajaran SKI berdasarkan kisahtauladan Rasulullah yang sesuai dengan Al-QurAoan dan Hadist dengan tujuan agar pola pikir (Aqliya. siswa dapat membentuk pola sikap (Nafsiya. dan akhirnya akan membentuk kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiya. kepribadian Islam tidak akan berjalan dengan lurus kecuali jika aqliyah orang tersebut adalah Akilah Islam dan mengetahui hukum-hukum memang dibutuhkan dengan senantiasa menambahkan ilmu syariat dengan kemampuannya. Pada saat yang sama nafsianya juga merupakan nafsiyah islamiyah sehingga dia akan melakukan hukum-hukum syara bukan sekedar untuk diketahui tapi untuk diterapkan dalam segala Apakah proses pembelajaran dengan menerapkan bercerita mengenai tauladan Rasullulah SAW. dapat mengubah cara belajar peserta didik di MA Nurul Akhlak Biaro-Baru. METODE PENELITIAN Didalam penelitian ini peneliti mengunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif yang merupakan metode pemecahan masalah, yang diamati secara Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 langsung disekolah baik, berupa observasi peserta didik di dalam kegiatan belajar dikelas serta meneliti. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk instrumen interview. Interview merupakan suatu bentuk dialaog yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh informasi dari responden dinamakan. Instrumennya dinamakan pedoman wawancara atau interview guide. Dalam pelaksanaannya penelitian ini menggunakan wawancara semi berstruktur. Wawancara ini dimulai dari isu yang mencakup dalam pedoman wawancara yang telah disusun. Pedoman wawancara bukanlah jadwal seperti dalam penelitian kuantitatif. Sekuensi pertanyaan tidaklah sama pada tiap partisipan karena tergantung pada proses wawancara dan jawaban tiap individu narasumber. Namun pedoman wawancara menjamin peneliti mengumpulkan jenis data yang sama dari setiap Teknik Pengumpulan Data Observasi dapat mengukur tingkat keberhasilan selama proses pembelajaran berlangsung itu keaktifan guru atau siswa misalnya tingkah laku siswa pada waktu belajar, tingkah laku guru pada waktu mengajar, kegiatan diskusi siswa. Melalui pengamatan dapat diketahui bagaimana sikap dan perilaku siswa, kegiatan yang dilakukannya, tingkat partisipasinya dalam suatu kegiatan, proses kegiatan yang dilakukannya dan hasil yang diperoleh dari kegiatannya. Dokumentasi adalah ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, laporan kegiatan, foto-foto, data yang relevan dalam penelitian. Adapun yang dijadikan dokumentasi pada penelitian ini untuk memperoleh data dengan jumlah siswa dan prestasi siswa yang dapat dilihat dari hasil ekperimen dan hasil tes yang dilakukan dan dokumen-dokumen yang diperlukan peneliti untuk melengkapi data-data dalam penelitian. Selain itu, peneliti juga memperoleh data dengan metode wawancara mendalam. Wawancara mendalam . n-depth intervie. adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antar pewanwancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan menggunakan pedoman . Teknik Analisis Data Setelah keseluruhan data terkumpul maka langkah selanjutnya peneliti menganalisa data yang telah terkumpul, sehingga ditarik suatu kesimpulan. Untuk memperoleh hasil Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 yang tepat dalam menganalisa data, peneliti menggunakan teknik analisis isi. Analisis isi (Content Analysi. adalah penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi pada siswa di MA Nurul Akhlak Biaro-Baru, didapatkan bahwa peserta didik kurang mengetahui cara menghormati seorang guru terlihat saat pembelajaran SKI berlangsung ada siswa-siswi yang asik main sendiri, makan, tidur dan tidak memperhatikan guru saat menyampaikan materi. Maka dari itu sebagaimana telah kami terangkan dalam pendahuluan untuk mengimplementasikan metode cerita tauladan Rasulullah sesuai dengan Al-QurAoan dan Hadist maka kami akan memberikan perubahan pola pikir anak agar mempengaruhi pola sikap, sebab pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat mengimplentasikan metode cerita Rasulullah dimulai dari penanaman cinta kepada Allah dan Rasulullah. Pengertian Implementasi Secara sederhana implementasi bisa diartikan pelaksanaan atau penerapan. Browne dan Wildavsky berpendapat bahwa "implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan". Majone dan Wildavsky mengemukakan implementasi Pengertian menyesuaikan/berkaitanjuga Mclaughin. Adapun Schubert mengemukakan bahwa "implementasi adalah sistem rekayasa. Pengertian di atas memperlihatkan bahwa implementasi bermuara pada aktivitas, adanya aksi dan mekanisme suatu sistem. Mekanisme mengandung arti bahwa implementasi bukan sekadar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana yang dilakukan dengan serius berdasarkan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, implementasi tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh obyek berikutnya yaitu kurikulum (Syafriyanto, 2. Pengertian Metode Cerita Metode berasal dari 2 kata yaitu meta yang artinya adalah melalui dan hodoss yang berarti jalan atau cara. Dan dapat disimpulkan bahwa metode adalah suatu jalan atau cara yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan yang akan dicapai. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Kisah adalah Aucerita tentang kejadian dalam kehidupan seseorang dan sebagainyaAy. Metode cerita merupakan metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar ini kepada peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan membentuk akhlak yang islami dalam kehidupan sehari-hari. Kisah termasuk metode pendidikan Islam yang paling efektif, karena kisah yang diberikan kepada peserta didik dapat mempengaruhi perasaan dengan kuat, dalam pendididikan Islam kisah mempunyai fungsi yang sangat penting bagi perkembangan jiwa anak. Jika kisah yang diberikan kepadanya kisah yang baik, maka ia akan berusaha menjadi anak yang baik. Metode kisah adalah salah satu upaya untuk mendidik peserta didik agar mengambil pelajaran dari kejadian masa Metode ini sangat digemari oleh anak kecil, seringkali metode ini digunakan seorang ibu ketika anaknya akan tidur. An-Nahlawi menegaskan bahwa dampak penting pendidikan melalui kisah adalah: Kisah dapat membangkitkan dan mengaktifkan kesadaran pembaca tanpa cerminan kesantaian keterlambatan sehingga dengan kisah, setiap pembaca akan senantiasa merenungkan makna dan mengikuti berbagai kondisi kisah tersebut sehingga pembaca terpengaruh oleh toko dan topik kisah. Interaksi kisah QurAoani dan Nabawi dengan diri manusia dalam keutuhan realitasnya tercermin dalam pola terpenting yang hendak ditunjukkan oleh Al-QurAoan kepada manusia di dunia dan hendak mengarahkan perhatian pada setiap pola yang selaras dengan kepentingannya. Metode kisah adalah suatu cara mengajar di mana guru memberikan materi pembelajaran melalui kisah atau cerita (Tambak, 2. Prinsip dasar metode ini disusun sesuai dengan firman Allah SWT surah Yusuf ayat 3, yaitu: a a a eAE aN a Ee aC aI Oua eI aEIA a a AE aI Ee aCAA AIOA ca Ae aI Ia aCA a A I eI CaeEN Ea aI aI EeaAEA a a a e a eAA aEaOA a e a a eAA aa eaO aOe Ia uEaOA Artinya : (Ingatla. , ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan. kulihat semuanya sujud Tujuan dan Manfaat Metode Bercerita Bercerita Tujuan metode bercerita adalah agar peserta didik dapat membedakan perbuatan yang baik dan buruk sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan bercerita guru dapat menunjukan nilai-nilai positif pada peserta didik. Tujuan metode bercerita adalah menghibur dan menyenangkan siswa, membantu pengetahuan siswa secara umum, mengembangkan imajinasi, mendidik akhlak dan mengasah rasa/sense. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Memudahkan peserta didik dalam memahami materi yang diberikan, juga untuk memberikan daya imajinatif dan fantasi,serta menambahkan wawasannya terhadap nilainilai kebaikan. Diantara manfaat-manfaat cerita bagi peserta didik adalah sebagai berikut: Membangun kontak batin antara anak dengan orang tuanya maupun anak dengan Media penyampai pesan terhadap anak. Pendidikan imajinasi atau fantasi anak, dapat melatih atau emosi perasaan anak. Membantu proses identifikasi diri . Memperkaya pengalaman batin, dapat sebagai hiburan atau menarik perhatian anak dan dapat membentuk kepribadian anak. Metode bercerita ini dalam pendidikan agama merupakan paradigma Al-QurAoan dan hadist nabi Muhammad SAW, maupun pengalaman pribadi yang dapat dijadikan sebagai suatu pelajaran bagi para peserta didik sehingga banyak diambil ibrah dan hikmah bagi mereka (Nurdiana, 2. Kelebihan Metode Cerita Metode bercerita memiliki beberapa kelebihan atau keunggulan, yaitu sebagai berikut: Mengarahkan Emosi Mengarahkan semua emosi yang ada sehingga menyatu pada satu kesimpulan yang terjadi pada akhir cerita tersebut. Emosi anak didik menjadi bagian penting sebagai kelebihan dari metode bercerita ini. Sebab biasanya cerita itu yang tersentuh adalah emosi peserta didik dan ini pulalah yang harus dibangkitkan oleh guru/pendidik Pendidikan Agama Islam. Metode kisah bisa membangkitkan dan mengaktifkan kesadaran pembaca tanpa cerminan keterlambatan dan kesantaian sehingga dengan metode kisah, setiap pembaca akan senantiasa merenungkan makna dan mengikuti berbagai situasi metode kisah sehingga pembaca terpengaruh oleh topik dan tikoh kisah tersebut. Mempengaruhi Emosi Dapat mempengaruhi emosi, contohnya seperti perasaan diawasi, takut, senang, sungkan, atau benci sehingga berhasrat dalam lipatan cerita. Kisah-kisah Qur'ani mampu membina perasaan ketuhanan melalui cara-cara berikut: Mengendalikan pengaruh emosi, contohnya, perasaan diawasi, takut, dan rela. Mengarahkan seluruh emosi sehingga menyatu pada satu kesimpulan yang menjadi akhir cerita yang disediakan. Serta mengikuts kepada unsur psikis yang membawa pembaca larut dalam setting emosional cerita sehingga pembaca, dengan emosinya, hidup bersama tokoh cerita. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Kisah Quriani memiliki keistimewaan karena, melalui topik cerita, kisah dapat memuaskan pemikiran, seperti pemberian sugesti, keinginan, dan keantusiasan, perenungan dan pemikiran (Hartati et al. Pengertian Akhlak Akhlak berasal dari bahasa Arab jamaAoAo dari bentuk mufradatnya AukhuluqunAy yang berarti budi pekerti, dan tabiat, perangai, dan tingkah laku. Sedangkan menurut istilah adalah pengetahuan yang menjelaskan tentang baik dan buruk . enar dan sala. , mengatur pergaulan manusia, danmenentukan tujuan akhir dari usaha dan pekerjaannya. Akhlak pada dasarnya melekat dalam diri seseorang, bersatu dengan perilaku atauperbuatan. Jika perilaku yang melekat itu buruk, maka disebut akhlak yang buruk atau akhlak . Akhlak tercela Sebaliknya apabila perilaku tersebut baik disebut akhlak . Akhlak baik. Akhlak dalam pandangan Islam dibagi menjadi dua. Pertama, akhlak mahmudah. Artinya, akhlak yang mendapat pujian dalam agama. Berlaku baik terhadap Allah SWT. mentati ajaran Rasulullah SAW. , berlaku baik antar sesama Muslim, menghargai orang lain dan lainnya merupakan bagian dari mahmudah. Kedua, akhlak madzmumah. Artinya, perbuatan yang dinilai buruk dalam Islam. Misalnya, menyekukan Allah SWT. makhluk, ingkar sunnah dan lainnya. Dalam kaitan dengan penjelasan akhlak di atas, ulama menyatakan bahwa akhlak mahmudah merupakan sifat para nabi dan orang-orang Sedangkan akhlak mazmumah merupakan sifat syaitan yang tercela (Syabuddin. Penanaman Cinta Kepada Allah dan Rasul-Nya Al-Azharii mengatakan, "bahwa arti dari cinta seorang hamba kepada Allah SWT dan RasulNya adalah menaati dan mengikuti perintah Allah dan RasulNya. " Al-Baidhawi berkata, "Cinta adalah keinginan untuk taat. " Ibnu Arafah berkata, "bahwa cinta menurut istilah arab adalah menghendaki sesuatu untuk meraihnya sesuai keinginannya. " Al-Zujaj mengatakan juga, "bahwa cintanya manusia kepada Allah SWT dan Rasul-Nya ialah menaAoati keduanya dan ridho terhadap segala perintah Allah SWT dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah. " (Tahrir, 2. Salah satu yang menjadi fokus kami dalam pembahasan ini adalah cinta seseorang hamba kepada Allah dan Rasull-Nya. Cinta dalam arti yang telah dipaparkan sebelumnya di atas merupakan suatu kewajiban yang harus ditanamkan kepada siswa. Mahabbah Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 termasuk salah satu kecenderungan yang akan membentuk sifat nafsiyah Kecenderungan ini terkadang berupa perkara alami yang bersifatk naluri yang bersifat fitri . esuai dengan penciptaan Allah SWT). Naluri seperti ini tidak berhubungan dengan pemahaman . apa pun. seperti kecenderungan manusia terhadap kepemilikan, kecintaan pada kelestarian dirinya, kecintaan pada keadilan, kecintaan pada keluarga, anak, dan sebagainya. Namun pada nyatanya kecenderungan juga terkadang merupakan dorongan yang berhubungan dengan mafhum. Mafhum inilah yang nantinya akan menentukan jenis kecenderungan tersebut dan secara otomatis siswa dapat menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan. Berikut ini kami akan memaparkan Akhlak Rasulullah sebagai pemahamaan utama untuk siswa agar dapat mengenali rasulullah sehinnga dapat menumbuhkan kecintaan mereka kepada Rasul-Nya, dengan mengeimplementasikan metode cerita yang dikemas seindah mungkin karena seorang pendongeng yang baik akan menjadikan cerita sebagai sesuatu yang menarik dan hidup, sehingga nantinya mereka . memilikki kecenderungan meneladani Rasulullah sebagi tolak ukur perbuatanya karena dari pemahaman ini mereka tau apa yang disukai rasul maka mereka akan menyukainya dan apa yang dibenci oleh rasul merekapun akan membencinya pula, jadi tolak ukur baik buruk perbuatan mereka sesuai dengan cara pandangnya Allah dan Rasulullah. Kelembutan Nabi Kepada Orang Yang bersalah Dari Anas bin Malik, ia menuturkan, "Rasulullah itu tidak pernah mencakimaki, mengolok-olok, dan berkata kotor. Ketika mencela seseorang dari kami yang berbuat salah, beliau membalas dengan ucapan, "Kepalanya penuh debu" (HR. AlBukhari. Ahmad dan Al-Baihaq. Kemudian nilah situasi langka yang terjadi antara Rasulullah dengan salah satu Dalam kitab ash-Shahihain dari Abu Hurairah, ia berkata, "Seorang lakilaki datang kepada Nabi sambil berkata, "Celaka aku, aku telah menyetubuhi istriku di siang bulan ramadhan". Beliau lalu bersabda, "Merdekakanlah seorang budak". Laki-laki itu berkata, "Aku tidak mampu untuk itu". Beliau bersabda, "Berpuasalah dua bulan berturut-turut. Ia berkata, aku tidak sanggup Beliau bersabda, "Berikanlah makan enam puluh orang miskin". la berkata, "Aku tidak mampu". Lalu beliau memberinya keranjang yang berisi kurma. Beliau lalu bersabda, "Di manakah lakilaki yang bertanya tadi? Pergi dan bersedekahlah dengan ini". la menjawab, "Demi Allah, antara dua lembah ini. tidak ada satupun keluarga yang lebih membutuhkan ini Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 kecuali kami". Lalu Nabi tersenyum hingga kelihatan gigi gerahamnya, lalu beliau bersabda, "Kalau begitu berilah makan kepada keluargamu". Mu'awiyah ibn Al-Hakam As-Salumani ra meriwayatkan hadist berikut: Ketika aku sedang shalat Bersama nabi Saw seseorang diantara jama'ah bersin. Aku berkata: "Semoga Allah mengampunimu!" Orang-orang melihatku. Aku berkata: "Celaka aku! Kenapa kalian semua melihatku? Mereka memukulkan tangan mereka ke paha mereka . ntuk memberitahu aku agar tidak bicar. Ketika aku paham bahwa mereka berusaha membuatku diam, aku pun menutup mulut. Ketika Nabi Saw menyelesaikan shalat beliau, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan untuk beliau, aku tidak pernah melihat seorang guru yang lebih baik sebelum atau sesudah beliau SAW. Beliau tidak menegurku, atau memukulku, atau mengutuki Beliau bersabda: "Ucapan normal tidak cocok di dalam do'a, di dalam do'a ucapan kita hanya untuk memuliakan Allah, dan untuk melafalkan Qur'an". Kecintaan Nabi Kepada Umatnya Anas bin Malik mengatakan, "Apabila Rasulullah SAW berjumpa dengan salah seorang sahabatnya. Rasulullah SAW berdiri bersamanya dan tidak pergi sehingga sahabat itu terlebih dahulu pergi beliau". (H. an-nasa'i dan Ibnu Sa'a. Rasulullah SAW ketika menerima wahyu yang berisikan kabar bhagaia atau gembira dari Allah SWT untuk umatnya, maka Rasulullah pun terlihat sangat bahagia dan senang. Kebahagiaan yang tampak jelas di wajah Rasulullah dapat dilihat oleh sahabat-sahabatnya. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh abu thalhah alansori, ia berkata, "Suatu hari Rasulullah SAW datang dengan wajah berseri-seri atau cerah, lalu dikatakan: wahai Rasulullah SAW, sesungguhnya kami melihat/nampak kebahagiaan dan kesenangan di wajahmu yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Beliau menjawab, "Benar, sesungguhnya malaikat mendatangiku seraya berkata kepadaku: wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu mengatakan, "Tidakkah Engkau senang bahwa tidak ada seorang pun yang bersholawat untukmu dari salah seorang umatmu, kecuali Aku bersholawat untuknya 10 kali dan tidaklah ia mengucapkan salam 1 kali kepadamu kecuali aku mengucapkan salam kepadanya 10 kali, maka aku jawab tentu. Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 Kelembutan Hati Terhadap Umatnya Anas bin Malik meriwayatkan, "Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah saw di masjid, tiba-tiba datang seorang badui la berdiri dan langsung kencing di dalam masjid. Para sahabat-sahabat pun tidak akan tinggal diam, mereka sibuk untuk Tetapi Rasulullah SAW malah berkata, "Kalian jangan mengganggunya, biarkan ia kencing mereka pun memberiarkan si badui itu hingga selesai kencing. Kemudian Rasulullah memanggil si badui itu dan berkata kepadanya, "Sesungguhnya masjid itu bukan tempat yang pantas untuk kencing dan membuang kotoran Karena masjid merupakan tempat yang khusus untuk dzikir kepada Allah, shalat dan membaca Al-Quran" Setelah itu, beliau menyuruh seorang sahabatnya untuk membawa seember air. Kemudian beliau tumpuhkan ember itu untuk membersihkan air kencing si badui itu. Hubungan Baik Nabi kepada Allah dan Manusia Aisyah ditanya oleh beliau, "Apa yang dilakukan Rasulullah ketika masuk rumah?" Aisyah menjawab," beliau melayani istrinya. Kemudian jika waktu shalat tiba, maka beliau segera keluar rumah untuk melaksanakan sholat," (HR. AlBukhor. Rasulullah SAW pernah bersabda "Ada 3 hal yang menyertai seseorang hamba ketika dia meninggal dunia, yang pertama adalah ahlinya . eluarga, kerabat dan teman-temanny. , yang kedua ialah harta bendanya, serta yang ketiga merupakan amal perbuatannya. Kemudian ada dua hal yang meninggalkan dia di dalam kubur, yakni ahli dan hartanya dan yang satu, yakni amal perbuatannya yang meyertai dia di dalam kubur (H. Bukhar. Menyiapkan Alat Peraga Agar metode cerita dapat diimplementasikan dengan baik maka dibutuhkan alat peraga, pemanfaatan alat peraga dalam proses pembelajaran merupakan salah satu bentuk komunikasi yang dimainkan oleh siswa dalam demonstrasikan materi yang berkaitan dengan penggunaan alat peraga agar peserta didik dapat dengan mudah mengetahui manfaAoat dari setiap alat peraga yang akan digunakan sebagai bahan pembelajaran yang ada di sekolah formal maupun non-formal untuk mengembangkan kecakapannya dan Ketika memanfaAoatkan alat peraga saat proses belajar mengajar berlangsung memudahkan bagi anak didik untuk memperoleh informasi untuk memecahkan berbagai Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 masalah yang ada, dan sumber untuk menentukan kebijakan dalam proses belajar mengajar, serta semua hal yang diperlukan untuk keperluan prose belajar mengajar di dalam kelas. Dilihat dari perannya, tujuan dari pemanfaatan alat peraga dalam proses pembelajaran adalah merupakan mitra bagi peserta didik dalam memudahkan bimbingan/pendidikan menggunakan dan sumber informasi, menyediakan informasi yang up to date . , menyiapkan ruang belajar, diskusi, dan penelitian. Intinya, perpustakaan merupakan sumber belajar yang tersedia dari berbagai sumber belajar yang ada di lingkungan sekolah (Nurhasanah, 2. Memperhatikan Posisi Duduk Peserta Didik Dalam menggunakan metode cerita kita harus memberikan perhatian penuh kepada setiapa peserta didik jangan hanya mengarah pada satu peserta didik, maka dari itu perhatikan posisi duduk peserta didik ketika bercerita. Oleh karena itu guru harus dapat menguasai cerita yang disampaikan dengan baik. Ketika bercerita, para peserta didik hendaknya diposisikan secara khusus dan sangatlah dianjurkan posisi duduk para peserta didik dekat dengan guru. Posisi duduk yang paling baik dan nyaman bagi para siswa-siswi ketika mendengarkan cerita ialah dengan berkumpul mengelilingi pendidik dengan posisi setengah lingkaran. Untuk dapat mengundang perhatian mereka, sebaiknya guru tidak langsung duduk ketika memulai bercerita, tetapi memulainya dengan berdiri, lalu pada menit- menit selanjutnya secara perlahan-lahan ia bersiap untuk duduk. Posisi duduk peserta didik ini dianjurkan agar peserta didik dapat dengan jelas melihat guru bergerak ke arah bagian kiri, kanan dan tengah kelas. Hal ini dimaksudkan untuk menjadikan cerita yang disampaikan dapat didengar harus memperhatikan sampai pada kursi peserta didik sebagai tempat duduk mereka apakah bermasalah atau sudah nyaman bagi mereka (Fauziah, 2. Selain itu ada harus diperhatiakan mengimplementasikan metode cerita, seperti : Menggunakan Gaya Bahasa Yang Baik dan Mudah Dimengerti Peserta Didik Ketika proses bercerita berlangsung, menggunakan bahasa yang baik dan mudah dipahami oleh siswa, dan guru memiliki gaya bahasa yang sesuai bagi pendidik sehingga ia bisa saja menambah atau mengurangi ungkapan yang dirasanya cukup Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 baik agar para peserta didik lebih mudah memahami jalannya cerita. Bahasa dalam bercerita hendaknya menggunakan gaya bahasa peserta didik sehari-hari yang lebih Intonasi Bercerita Intonasi guru dalam bercerita sangatlah penting dalam sebuah cerita di waktu Pada permulaan cerit a guru hendaknya memulainya dengan suara tenang. Kemudian mengeraskannya sedikit demi sedikit. Perubahan cerita harus sesuai dengan peristiwa dalam cerita. Ketika guru sampai pada puncak konflik ia harus menyampaikannya dengan suara ditekan dengan maksud menarik perhatian para peserta didik. Juga akan memberikan gambaran yang membuat mereka berpikir untuk menemukan klimaksnya (Wulandari, 2. Penampakan Emosi Saat bercerita guru harus dapat menampakkan keadaan jiwa dan emosi para tokohnya dengan memberi gambaran kepada pendengar bahwa seolah-olah hal itu adalah emosi si guru sendiri. Jika keadaannya menunjukkan protes, marah, rasa kasihan, maka intonasi atau kerut wajah harus menunjukkan keadaan tersebut. Jika guru menampakkan ekspresi yang berlawanan dengan apa yang diceritakan, seperti tersenyum dalam cerita yang sedih atau sebaliknya, maka itu adalah kesalahan besar. Begitu juga jika guru membiarkan para siswa memperlihatkan ekspresi yang berlawanan, misalnya mereka tertawa ketika mereka mendengar ucapan: "kemudian laki-laki buta itu berjalan hingga kakinya terantuk batu dan terjatuh". KESIMPULAN Metode cerita yang menggunakan kisah-kisah Rasulullah SAW. sebagai bahan ajar telah terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang akhlak Islami karena dapat membangkitkan semangat peserta didik dengan cara membekas dalam jiwa dan dibuat semenarik mungkin dengan intonasi dan penampkan emosi. Kisah-kisah rasul memberikan contoh konkret tentang bagaimana menerapkan ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi metode ini juga menghasilkan perubahan positif dalam perilaku siswa yang dimulai dari perubahan pola pikir (Aqliya. siswa dan yang nantinya membentuk pola sikap (Nafsiya. dan akan membentuk kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiya. kepribadian Islam tidak akan berjalan dengan lurus kecuali jika aqliyah orang tersebut adalah Aqilah Islam dan mengetahui hukum-hukum memang dibutuhkan dengan senantiasa menambahkan ilmu Jurnal El-TaAodib Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu Volume. 04 Nomor. 1 April 2024 E-ISSN: 2775-5533 syariat dengan kemampuannya. Pada saat yang sama nafsianya juga merupakan nafsiyah islamiyah sehingga dia akan melakukan hukum-hukum syara bukan sekedar untuk diketahui tapi untuk diterapkan. Mereka akan menunjukkan peningkatan dalam perilaku yang sesuai dengan ajaran Al-Qur'an, seperti kesantunan, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama. Siswa yang terlibat dalam pembelajaran dengan metode cerita memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai-nilai etika dan moral Al-Qur'an. Mereka mampu mengaitkan ajaran-ajaran ini dengan situasi kehidupan sehari-hari. SARAN Hendaknya kementrian agam dan guru meningkatkan materi ajar dengan lebih banyak kisah dan materi ajar tentang kisah tauladan Rasulullah SAW. dapat ditambahkan ke dalam kurikulum untuk memberikan variasi dan mendalamkan pemahaman siswa-siswi. Guru perlu diberikan pelatihan yang memadai tentang cara mengimplementasikan metode cerita dengan Mereka harus mampu mengemas kisah-kisah Rasulullah dengan cara yang menarik dan relevan bagi siswa-siswi. DAFTAR PUSTAKA