UNIFIKASI PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS AGAMA ISLAM DALAM PENDIDIKAN SOSIAL DI SMP N I PURWOKERTO Tutuk Ningsih Dosen STAIN Poerwokerto E-mail: tutukstain@yahoo.com Abstract: This study aims to describe about some of the following: (1) the material of character education based Islam in social studies learning, (2) the pattern of implementation of character education in the SMP-1 Kedung Banteng, (3) unification of the Islamic faith-based character education in social studies learning and (4) the effect of the implementation of character education based Islamic in social studies learning. Methods of data collection was done by using interviews, documentation, and interviews. Methods of data analysis done with descriptive qualitative approach. Withdrawal of a conclusion based on the results of the analysis and discussion with respect to the themes underlying problems or things that are more substantive. Based on the discussion of the results obtained some conclusions as follows: (1) teaching materials relevant to the Islamic-based character education, and need to be taught to students, at least include a few subjects, namely: (a) the nature of man as a creature of God, (b ) devotion and respect for parents, (c) respect for others, (d) behave in manners, (e) helping each other with each other, (f) exemplary, (g) of academic honesty and non-academic, (h) responsibility, (i) justice, (j) spirit of patriotism, leadership, integrity of the Unitary Republic of Indonesia, and the Pancasila, and (k) the character of a religious nation, (2) the pattern of the implementation of character education in schools be integrated between intracurricular and extracurricular activities. And the role of principal is very important, (3) of Unification-based implementation of character education based of Islamic religion in the teaching of Social Science in school SMPN-1 Kedung Banteng showed that all respondents (principals, teachers, staff, and administrators OSIS) states have a positive and highly important, and need to be incorporated into the curriculum, and (4) Implementation Character Education based Islamic religion in the learning process in the IPS to the character students of SMP-1 Kedung Banteng has a positive and significant influence. Keywords: Character Education, Religion Islam, IPS Learning. Masalah pokok yang dihadapi lembaga pendidikan di Indonesia dewasa ini adalah merosotnya nilai-nilai karakter siswa. Ada beberapa faktor yang dapat diidentifikasikan sebagai penyebab merosotnya nilai-nilai karakter siswa dalam dunia pendidikan, yaitu antara lain; (1) belum mantapnya implementasi pendidikan karakter di sekolah, (2) belum jelasnya arah pelaksanaan proses pembelajaran pendidikan karakter bagi siswa, (3) belum tersusunnya model unifikasi pendidikan karakter berbasis agama islam dalam proses pembelajaran untuk berbagai mata pelajaran, (4) materi pendidikan karakter masih sekedar memenuhi formalitas dan belum menyentuh pada nilai-nilai penyadaran diri, (5) dan sebagainya. Untuk membantu mengatasi permasalahan pokok tersebut, maka diperlukan unifikasi pendidikan karakter berbasis agama Islam terutama dikaitkan dalam proses pembelajaran IPS. Proses pembelajaran IPS pada hakikatnya bertujuan agar peserta didik memahami tentang konsep individu, hubungan individu dengan individu lain dan masyarakatnya, hubungan individu dengan bangsa dan negara, serta hubungan antara individu dengan Tuhan-Nya sang pencipta sekalian alam. Dalam Islam hubungan dimaksud dikenal dengan “habluminallah dan habluminannas”, yaitu hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia. Pendidikan karakter berbasis agama Islam, adalah merupakan proses pendidikan untuk membentuk karakter siswa agar memiliki tanggung jawab individu, tanggung jawab sosial, dan tanggung jawab kepada Allah SWT secara integral sebagai suatu pengabdian yang utuh dalam kehidupan sehari-hari sesuai ajaran Islam. Hal tersebut telah ditegaskan pada saat Allah hendak menjadikan manusia di muka bumi, yaitu: “Tidak Ku jadikan Jin dan Manusia kecuali untuk mengabdi kepadaKu”. Ini berarti bahwa manusia sebagai khalifah di muka bumi semata-mata hanyalah untuk mengabdikan dirinya kepada Allah SWT, segala aktivitasnya merupakah kegiatan ibadah sebagaimana yang dituntunkan Rasulullah nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu implementasi pendidikan karakter bagi peserta didik harus mengacu pada ajaran agama, yang membangun perilaku akhlak mulia, yaitu perilaku yang mengandung sifat-sifat shidiq, amanah, fathonah, dan tabliq sebagaimana sifat-sifat yang dicontohkan dalam perilaku Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan lainnya yang dihadapi sekolah dalam kaitannya dengan proses pembelajaran mata pelajaran tertentu adalah kesulitan memadukan antara materi pembelajaran dengan materi pendidikan karakter. Hal tersebut terjadi dikarenakan konsep dasar pendidikan karakter yang akan diterapkan pada peserta didik masih belum mantap dan belum jelas arahnya, apakah akan mengacu pada nilai-nilai karakter bangsa yang berdasarkan falsafah Pancasila, atau mengacu pada nilai-nilai ajaran Agama atau mengacu pada nilai-nilai budaya masyarakat. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebenarnya jika dikaji secara mendalam dan secara filosofis sebenarnya merupakan perpaduan antara nilai-nilai budaya dan bersumber dari ajaran agama. Namun dalam praktiknya justru sering meninggalkan hakikat dari ajaran agama itu sendiri, sehingga nilai-nilai yang dikembangkan menjadi dangkal maknanya, dan bahkan terkadang nilai-nilai ajaran agama sering ditinggalkan. Sebagai contoh misalkan pemaknaan sila pertama ke-Tuhanan Yang Maha Esa, hanya sekedar percaya bahwa Tuhan itu Esa, tetapi kurang diimplementasikannya makna filosofis ketakwaannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai konsekuensi menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Contoh lain masih seringnya terjadi perkelahian/tawuran pelajar bahkan mahasiswa, pengaruh narkoba di antara pelajar, yang diungkapkan dalam media massa dan elektronik, dan sebagainya. Memadukan nilai-nilai Pancasila dan ajaran Agama dalam berbangsa dan bernegara memang tidaklah mudah, namun melalui proses pendidikan yang tepat maka diharapkan pelaksanaan pendidikan karakter berbasis Agama untuk membentuk karakter peserta didik berakhlak mulia melalui proses pembelajaran mata pelajaran yang diajarkan di sekolah memungkinkan dapat diwujudkan dengan baik. METODE Jenis penelitian ini termasuk penelitian empirik dan pengembangan. Secara umum metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik atau cara interview, dokumentasi, dan observasi. Metode analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Penarikan suatu kesimpulan didasarkan pada hasil analisis dan pembahasan dengan memperhatikan pada tema-tema permasalahan pokok atau hal-hal yang lebih substantive, sehingga dapat memberikan abstraksi yang lebih tajam tentang kebermaknaan hasil temuan. Verifikasi perlu dilakukan dengan maksud untuk memperoleh konsensus atas interpretasi tentang subyek/masalah/pertanyaan/fokus penelitian. Semua data yang terkumpul dari hasil wawancara, pengamatan mendalam dan dokumentasi dianalisa secara terus menerus selama penelitian ini dilakukan sampai selesai membuat laporan hasil penelitian. Data-data yang masuk kemudian dipilah (reduksi data) berdasarkan masingmasing pertanyaan penelitian kemudian dianalisis kembali secara induktif untuk menemukan data yang benar-benar kredibel yang mampu menjawab masingmasing rumusan masalah. Reduksi data dilakukan berulang kali, hasil reduksi data kemudian dianalisa kembali secara terus menerus sampai ditemukan data valid yang kemudian peneliti laporkan dalam bentuk paparan data penelitian kemudian hasilnya peneliti laporkan pada promotor disertasi. Hasil paparan data kemudian dilakukan kesimpulan secara terus menerus sampai ditemukan kesimpulan yang valid. Jika kesimpulan valid belum didapat, maka peneliti menganalisa kembali data-data yang ada, direduksi kembali kemudian dianalisa lagi sampai ditemukan kesimpulan yang valid Hal ini sesuai dengan analisis data kualitatif model interaktif dari Miles dan Huberman (1992 : 16-17) yang digunakan dalam penelitian ini. Secara rinci Miles dan Huberman menjelaskan, analisis data model interaktif, adalah upaya berlanjut, berulang dan terus menerus antara melakukan pengumpulan data (data collection), reduksi data (data reduction); penyajian data (data display), mengambil kesimpulan (conclusions drawing/ verification). . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Secara khusus, SMPN 1 Kedung Banteng memiliki Visi Sekolah sebagai berikut: UNGGUL PRESTASI, TERAMPIL, DAN LUHUR BUDI PEKERTI. Di mana indikatornya adalah: (a) unggul dalam keagamaan, (b) unggul dalam prestasi akademik, (c) unggul dalam prestasi non-akademik, (d) unggul dalam proses pembelajaran, (e) unggul dalam mutu lulusan, (f) unggul dalam mutu manajemen sekolah, dan (g) unggul dalam budaya sekolah. Visi tersebut, kemudian dirumuskan misi sekolah yaitu sebagai berikut: (a) menyelenggarakan sholat duhur berjamaah, (b) melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki siswa, (c) Melaksanakan pengembangan sistem penilaian, (d) Menyelenggarakan intensitas teknik penyusunan dan analisis sosial serta bahan ajar, (e) Melaksanakan pengembangan otonomi sekolah, (f) Melaksanakan pengembangan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, (g) Menyelenggarakan bimbingan teknis metode dan media pembelajaran, (h) Melaksanakan pengembangan kegiatan di bidang olahraga, (i) Melaksanakan pengembangan kegiatan di bidang seni, (j) Melaksanakan pengembangan kegiatan di bidang kebahasaan, (k) Melaksanakan pengembangan kegiatan Karya Ilmiah Remaja (KIR), (l) Melaksanakan pengembangan kegiatan di bidang keterampilan, dan (m) melaksanakan pengembangan budaya sekolah yang bersih, tertib, kompetitif, mutu kerja dan santun. Jumlah siswa SMPN-1 Kedung Banteng pada tahun ajaran 2011/2012 tercatat sebanyak 588 orang siswa, terdiri dari laki-laki 316 siswa dan perempuan 272 siswa, dengan jumlah rombongan belajar sebanyak 19 kelas. Jumlah guru sebanyak 34 orang guru tetap (PNS) dan 1 orang guru bantu (GTT). Dari jumlah guru tetap PNS tersebut berlatar belakang pendidikan S1 sebanyak 31 orang (91,18%), berpendidikan D3 sebanyak 2 orang (5,88%), dan D1 sebanyak 1 orang (2,94%). Dengan demikian maka kualifikasi pendidikan guru yang umumnya berpendidikan S1 dan D3 menunjukkan sudah memadai. Demikian juga dengan angka rasio jumlah murid dengan guru menunjukkan angka perbandingan 1:17,29 juga menunjukkan sudah memadai, artinya rata-rata setiap guru membimbing sekitar 18 orang siswa. Sedangkan jumlah karyawan tetap sebanyak 5 orang, dan dibantu tenaga tidak tetap sebanyak 8 orang. Agar mendukung kegiatan intrakurikuler juga diprogramkan kegiatan pengembangan diri. Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, pembinaan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pembinaan karakter bangsa, pembinaan kepemimpinan dan bela negara, belajar dan pengembangan karier peserta didik serta kegiatan ekstra kurikuler, seperti kepramukaan, kepemimpinan, kelompok seni dan budaya, kelompok tim olah raga dan kelompok ilmiah remaja. Kepala sekolah bernama Dibyo Wiyono, SPd. Diangkat sebagai kepala sekolah di SMPN-1 Kedung Banteng sejak tahun 2010. Menurut pandangan beliau, sangat setuju jika semua warga sekolah (kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, dan orang tua siswa) sebaiknya memberikan keteladanan perilaku karakter yang baik dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Praktik pendidikan karakter di sekolah ini setuju mengacu pada Pancasila dan Agama. Hal tersebut sudah diprogramkan oleh sekolah, dan dituangkan dalam kegiatan pengembangan diri. Beliau juga menyatakan bahwa semua guru dan karyawan di sekolah ini juga memiliki karakter kebangsaan yang religius tergolong kategori Baik. Sebagai Kepala Sekolah, beliau memiliki beberapa peran penting. Berdasarkan pandangan responden guru dan karyawan, terdapat 8 orang guru dan karyawan (atau sekitar 72,73%) menyatakan tingkat keberhasilan pendidikan karakter di sekolah mencapai lebih dari 80%, dan 3 orang guru dan karyawan (atau 27,27%) menyatakan kurang dari 80%. Mereka yang berpandangan tingkat keberhasilan kurang dari 80% tersebut, secara umum ditunjukkan dengan fakta bahwa masih terdapatnya siswa yang terkena sangsi pelanggaran, dan masih belum mantapnya penerapan pendidikan karakter secara jelas dan tegas, serta adanya perasaan ewuh pakewuh dalam penerapan sangsi pelanggaran tata tertib sekolah. Data responden siswa yang diperoleh menunjukkan bahwa semua responden menyatakan bahwa peranan OSIS dalam membina karakter siswa di sekolah SMPN-1 Kedung Banteng masih menunjukkan belum baik. Selanjutnya mereka berpendapat bahwa peran pengurus OSIS perlu ditingkatkan dalam kaitannya dengan pembinaan karakter siswa, antara lain melalui: (a) Perilaku pengurus harus dapat memberikan contoh keteladanan, (b) Mematuhi tata tertib sekolah, (c) Adanya program kegiatan sosial, dan membantu masyarakat sekitar yang jelas dan ditingkatkan, (d) program kegiatan pembinaan karakter bagi siswa bersama guru lebih diefektifkan, (e) Berpakaian rapi dan rambut cepak, (f) Berperilaku sopan dan jujur, dan (g) Jiwa kepemimpinan. Kemudian selanjutnya setelah diteliti hasil jawaban responden tentang pertanyaan apakah karakter dan perilaku anda pribadi setelah sekolah di SMPN-1 Kedung Banteng menjadi lebih baik dari sebelumnya, ternyata terdapat 50% menyatakan Ya lebih baik dari sebelumnya, dan terdapat 50% menyatakan tidak ada pengaruhnya. Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata yang menyatakan tidak ada pengaruhnya tersebut terdapat 33,33% siswa yang tidak setuju apabila siswa yang melakukan perkelahian dengan siswa/orang lain harus ditindak tegas dan sangat keras. Ini berarti bahwa yang setuju ditindak tegas terdapat 66,67%. Namun ketika diajukan pertanyaan tentang setujukan saudara apabila disekolah ini diterapkan tata tertib sekolah secara ketat untuk pelaksanaan pendidikan karakter, semua responden menyatakan persetujuannya (100%) termasuk mereka yang menyatakan tidak berpengaruh secara pribadi. Dari 16 butir pertanyaan, menunjukkan bahwa kemampuan responden dalam memahami materi pendidikan karakter tergolong baik (81,25%). Ini berarti bahwa ada relevansinya dengan pernyataan responden bahwa praktik pendidikan karakter di sekolah perlu diterapkan dengan tata tertib sekolah dengan ketat (100%). PEMBAHASAN Kajian Pendidikan Karakter Berbasis Agama Islam Hasil pengumpulan data dan informasi yang diperoleh dari Kepala Sekolah dan beberapa orang guru, menyatakan bahwa materi yang relevan dengan pendidikan karakter di sekolah SMP adalah pendidikan karakter berbasis agama, namun perlu didukung dengan nilai-nilai dasar falsafah Pancasila. Alasan mereka perlunya berbasis agama Islam, karena ajaran Islam mengajarkan akhlak mulia bagi umat manusia, agar manusia berbuat baik bagi sesama di manapun mereka berada sesuai dengan tuntunan ajaran agama serta menjalankan perintah-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Berdasarkan hasil diskusi dan penelaahan bersama, berikut ini diberikan gambaran umum tentang bahan materi pendidikan karakter yang perlu disampaikan pada anak usia SMP adalah meliputi sebagai berikut: 1) Hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan. Materi ini dimaksudkan untuk memberikan bekal ilmu pengetahuan agar siswa mengerti dan memahami bahwa keberadaan manusia adalah ciptaan Tuhan, oleh karena itu tidak ada yang lain untuk disembah kecuali Tuhan Allah SWT pencipta sekalian alam. Sebagai makhluk Tuhan, maka peserta didik harus bisa berbuat baik dan berakhlak mulia sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam. Bagi yang melaksanakan ibadah dan amal kebajikan akan mendapatkan pahala dan perbuatan dosa akan mendapatkan siksa. Banyak cara yang dapat dilakukan umat manusia dalam melaksanakan ibadah dan amal kabajikan, yaitu antara lain, melaksanakan ibadah shalat, hormat kepada orang tua dan guru, menolong sesama manusia, menyampaikan ilmu yang bermanfaat, dan sebagainya. Sedangkan perbuatan dosa, misanya antara lain: tidak menjalankan ibadah, merugikan orang lain, tipu muslihat, dan sebagainya; 2) Menghormati orang tua. Materi ini dimaksudkan agar siswa menyadari bahwa betapa besarnya peran orang tua akan kehadiran kita ini. Bagaimana sakitnya ketika ibu melahirkan kita, kemudian membimbing dan mendidik kita hingga dewasa, memberikan makan dan pakaian kita, dan sebagainya. Apa yang mereka lakukan adalah dengan tulus dan ikhlas dengan suatu pengharapan agar kelak menjadi anak yang sholeh. Oleh karena itu janganlah sekali-kali menyakiti hati seorang ibu dan bapaknya. Hormatilah mereka sebagai orang tua yang telah menghadirkan kita dan membimbing serta mengasuhnya sampai dewasa. Segera minta maaflah kepada ibu apabila telah melakukan kesalahan baik yang disegaja maupun tidak sengaja; 3) Menghargai orang lain. Materi ini dimaksudkan untuk menyadarkan siswa bahwa kita hidup di dunia ini tidak bisa sendirian, tetapi juga memerlukan orang lain. Dalam ajaran agama juga dijelaskan bagaimana hubungan dengan Allah dan bagaimana hubungan dengan orang lain. Menghargai dan menghormati orang lain adalah merupakan perbuatan amaliah yang akan mendapat pahala dari Allah SWT. Oleh karena itu segala ucapan dan perilaku perbuatan yang kita lakukan harus didasarkan pada ajaran agama, sehingga tidak melukai hati orang lain; 4) Menolong sesama. Materi ini dimaksudkan agar siswa menyadari bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari harus bisa bermanfaat dengan cara saling menolong dengan sesama manusia, termasuk sesama teman sekolah. Perbuatan saling menolong adalah merupakan perbuatan yang terpuji, dan sebaliknya perbuatan yang tidak mau menolong orang lain adalah merupakan perbuatan yang keji. Jadikanlah diri kita sebagai manusia yang suka menolong dalam arti sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Jika ada teman yang terkena musibah, bantulah sesuai dengan kemampuan masing-masing, paling tidak mendoakan dan memberikan semangat agar mereka segera sembuh dari sakitnya, sehingga bisa masuk sekolah kembali dan mengikuti pelajaran dengan baik; 5) Keadilan. Materi ini dimaksudkan agar siswa memiliki jiwa keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia yang adil dan bijaksana akan lebih dihargai daripada hanya mementingkan dirinya sendiri. Sebagai contoh misalkan terdapat siswa yang melanggar aturan di kelas diberikan sangsi, maka siapapun yang melanggar harus dikenakan sangsi. Demikian juga semua siswa juga diberikan tugas untuk membersihkan ruangan kelas secara adil, artinya semua siswa ada jadwal membersihkan ruang kelas; 6) Kejujuran. Materi ini dimaksudkan agar siswa memiliki kejujuran, baik kejujuran akademik maupun kejujuran nonakademik. Siswa harus menyadari bahwa perbuatan mencontek untuk mendapatkan nilai akademik baik adalah merupakan kecurangan dan ini berperilaku tidak jujur. Mematuhi peraturan sekolah adalah merupakan perbuatan kejujuran non-akademik. Jadi siswa diharapkan mampu berperilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakatnya. Kejujuran adalah pangkal dari kemuliaan. Dan kemuliaan adalah pangkal dari harkat dan martabat manusia; 7) Tanggung jawab. Materi ini dimaksudkan agar siswa memiliki rasa tanggung jawab atas segala sesuatu yang diperbuatnya. Orang yang memiliki tanggung jawab didasarkan atas sesuatu fakta kebenaran. Jadi sebagai siswa harus memiliki rasa tanggung jawab atas hasil belajar, dengan tujuan untuk memperoleh nilai yang baik dengan cara-cara yang baik pula. Orang yang memiliki rasa tanggung jawab tinggi menunjukkan pribadi yang berbudi pekerti luhur; 8) Patriotisme. Materi ini dimaksudkan untuk memberikan bekal ilmu pengetahuan siswa tentang arti pentingnya jiwa patriotisme, seperti: jiwa kepemimpinan, menghindari konflik kepentingan, dan makna arti pentingnya NKRI bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu nilai-nilai falsafah Pancasila harus dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mampu mengendalikan diri jika dihadapkan pada perbedaan pendapat. Perilaku kepemimpinan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, meliputi: sidik, amanah, fatonah, dan tabliq; 9) Karakter bangsa yang religius. Materi ini dimaksudkan untuk memberikan bekal ilmu agar siswa menyadari bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus memiliki karakter kebangsaan yang berdasarkan falsafah Pancasila dan berbasiskan ajaran Agama. Falsafah Pancasila mengajarkan bagaimana perilaku kehidupan berbangsa yang baik, demikian juga ajaran Agama menuntun umat manusia agar berperilaku yang baik dan berakhlak mulia. Agama mengajarkan tentang bagaimana membangun hubungan antara manusia dan hubungannya kepada Tuhan Allah SWT. Jadi karakter bangsa yang religius adalah karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan nilai-nilai ajaran agama. Pola Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMPN I Kedung Banteng Purwokerto Yang dimaksud dengan pola pelaksanaan pendidikan karakter berbasis agama Islam di SMPN-1 Kedung Banteng Purwokerto adalah adalah merupakan model atau cara yang digunakan oleh pihak Sekolah dalam upaya membina perilaku siswa agar sesuai dengan tata nilai norma agama Islam sebagaimana yang tercantum dalam visi sekolah yang berbunyi: “unggul prestasi, terampil, dan luhur budi pekerti”. Dengan indikator sebagai berikut : (a) Unggul dalam keagamaan; (b) Unggul dalam prestasi akademik; (c) Unggul dalam prestasi non akademik; (d) Unggul dalam proses pembelajaran; (e) Unggul dalam mutu lulusan; (f) Unggul dalam mutu manajemen sekolah; dan (g) Unggul dalam budaya sekolah. Pola pembinaan moral dan karakter siswa yang dilakukan oleh pihak sekolah SMPN-1 Kedung Banteng adalah pola pembinaan moral dan karakter secara terpadu, yaitu keterpaduan sistem pembelajaran baik melalui kegiatan di dalam kelas (intrakurikuler) maupun kegiatan pembelajaran di luar kelas (ekstrakurikuler). Pengelolaan sistem pembelajaran yang terpadu mengharuskan adanya keterkaitan antara kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler dalam suatu sistem pola pembinaan di sekolah, termasuk dalam hal pembinaan karakter siswa. Dalam kegiatan intra-kurikuler masih sebatas pada mengintegrasikan dengan mata pelajaran tertentu, terutama mata pelajaran agama dan akhlak, dan pendidikan kewarganegaraan. Namun demikian, pada umumnya semua guru yang mengajarkan bidang mata pelajaran tertentu termasuk mata pelajaran IPS (geografi, sosiologi, ekonomi, dan sejarah) telah memasukkan nilai-nilai karakter bangsa yang religius dalam proses pembelajaran. Jadi masih belum secara terstruktur dirumuskan dalam kurikulum dan RPP/SAP pada masing-masing mata pelajaran. Dalam kegiatan ekstrakurikuler, menunjukkan bahwa pembinaan karakter siswa telah diprogramkan oleh sekolah dengan baik, yaitu dimasukkannya materi khusus tentang pembinaan moral siswa dalam program kegiatan pengembangan diri. Di samping itu, agar pelaksanaan pendidikan karakter siswa SMPN-1 Kedung Banteng berjalan efektif pihak sekolah telah membuat aturan tertulis dalam bentuk Tata Tertib Siswa, mengenai tugas dan kewajiban siswa, serta sangsinya bagi yang melanggar. Adapun yang paling berperan dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah menurut pandangan responden adalah semua warga sekolah (kepala sekolah, karyawan, dan guru). Di samping itu ternyata bahwa pihak sekolah telah membuat program kegiatan pengembangan diri, di mana secara substantif banyak yang berkaitan dengan pembinaan karakter siswa. Dalam kegiatan pengembangan diri secara tegas disebutkan ada beberapa program yang berkaitan dengan pengembangan diri dan karakter siswa, yaitu antara lain meliputi kegiatan: (1) peningkatan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) peningkatan kebugaran dan prestasi olah raga, (3) peningkatan potensi dan kemampuan diri, (4) peningkatan kemampuan dalam bidang penelitian dan keilmuan, (5) peningkatan apresiasi seni budaya, (6) peningkatan kemampuan berbagai kecakapan hidup, dan (7) pembinaan karakter bangsa. Kepala Sekolah SMPN-1 Kedung Banteng memiliki peran penting dalam pembinaan karakter di sekolah. Praktik kepala sekolah dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah ditunjukkan dengan beberapa peran sebagai berikut, yaitu: (a) mengajak sholat berjamaah, (b) Memberikan pengarahan kepada warga sekolah setiap ada kesempatan tentang perilaku karakter, (c) memberikan contoh keteladanan dalam perilaku sehari-hari pada warga sekolah, (d) menerapkan sangsi pada pelanggar tata tertib sekolah secara tegas, (e) mengajak warga sekolah agar berperilaku sesuai dengan nilai-nila Pancasila dan ajaran Agama, (f) Semua warga sekolah harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan peran masing-masing, termasuk tanggung jawab akademik dan non-akademik, (g) Semua warga sekolah harus memiliki jiwa patriotisme yang baik, sebagai pemimpin yang baik, menghindari konflik dimanapun, serta menjaga keutuhan NKRI, dan (h) mengimplementasikan kegiatan pengembangan diri dalam program ekstrakurikuler, seperti misalnya: dengan pembinaan karakter, kegiatan keagamaan, dan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pembinaan karakter bangsa yang berlandaskan religius dan budi pekerti luhur. Pendapat kepala sekolah tersebut juga sejalan dengan meteri pendidikan karakter dalam pembelajaran IPS yang dikemukakan beberapa ahli berikut ini. IPS adalah mata pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial yang di dasarkan pada bahan kajian geografi ekonomi sejarah antropologi sosiologi dan tata negara, dan di tingkat SMP program pengajaran IPS mencakup bidang studi sosiologi, geografi, ekonomi dan sejarah. Mata pelajaran pengetahuan sosial di jenjang SMP mengambil bahan ajar dari cabang-cabang sosilogi, geografi, ekonomi dan sejarah” (Depdiknas 2004: 335-359). Jadi inti materi pembelajaran IPS tidak hanya sekedar makna hubungan interaksi antar manusia dalam masyarakat berbangsa dan bernegara, tetapi sebaiknya juga memaknai tentang keberadaan manusia dan alam semesta sebagai ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, aturan hukum-hukum Allah semestinya juga berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, termasuk penyadaran diri bahwa dalam perkembangan budaya dan peradaban kehidupan manusia melalui para rasul dan nabi yang mengakui bahwa manusia sebagai makhluk Tuhan. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan studi-studi sosial. Ruang lingkup yang digariskan tersebut sebenarnya tidak hanya berhenti sampai disitu saja, karena seharusnya diberikan wawasan juga tentang keberadaan manusia dan segala alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan. Oleh karena itu maka dalam mengkaji ilmu-ilmu sosial tersebut di samping memberikan wawasan keilmuan sesuai dengan bidang ilmu juga perlu diberikan wawasan pendidikan karakter kebangsaan sesuai falsafah Pancasila dan berlandaskan pada nilai-nilai ajaran agama Islam bagi para pemeluknya. Unifikasi Pelaksanaan Pendidikan Karakter Berbasis Agama Islam dalam Pembelajaran IPS Unifikasi pelaksanaan pendidikan karakter berbasis agama Islam dalam pembelajaran IPS di sekolah SMPN-1 Kedung Banteng menunjukkan bahwa semua responden (kepala sekolah, guru, karyawan, dan pengurus OSIS) menyatakan memiliki hubungan yang positif dan sangat penting, dan perlu untuk dimasukkan ke dalam kurikulum. Berdasarkan data yang diperoleh melalui responden kepala sekolah, guru, dan karyawan, serta dokumen program sekolah menunjukkan bahwa semua responden (100%) menyatakan setuju bahwa pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah mengacu pada nilai-nilai Pancasila dan Ajaran Agama. Hal tersebut juga didukung oleh Guru Mata Pelajaran IPS dan Guru mata pelajaran Agama Islam dan Akhlak. Di samping itu juga didukung dengan program kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang merupakan bagian kegiatan pengembangan diri siswa di sekolah yang secara substantif adanya program pembinaan karakter bangsa dan program kegiatan keagamaan termasuk menjalankan ibadah sholat berjamaah, meskipun disadari bahwa tingkat keberhasilannya masih belum optimal, yaitu ditunjukkan dengan pendapat Guru dan Karyawan yang menyatakan tingkat keberhasilan pendidikan karakter mencapai lebih 80% terdapat sekitar 8 orang (72,73%), dan yang menyatakan masih di bawah 80% terdapat 3 orang (27,23%). Dalam pembelajaran IPS, antara lain mengkaji tentang hubungan interaksi antar manusia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, di mana hal tersebut diperlukan aturan berperilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan Agama Islam. Pancasila mengajarkan tentang aturan berperilaku masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Sedangkan ajaran Agama Islam mengatur tentang aturan perilaku manusia dalam hubungannya dengan sang pencipta Allah SWT dan hubungan antar sesama manusia (habluminallah wa habluminannas). Dengan demikian dapat diberikan kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang positif antara pelaksanaan pendidikan karakter berbasis agama Islam dengan proses pembelajaran mata pelajaran IPS di sekolah. Persoalannya sekarang adalah bagaimana tingkat kemampuan guru IPS dan pihak sekolah mampu menyempurnakan kurikulum dan RPP/SAP yang mengkaitkan materi pendidikan karakter berbasis agama Islam yang secara eksplisit dijelaskan dalam pokok bahasan. Dari data sumber yang diperoleh, ternyata secara spesifik materi pendidikan karakter masih belum mampu sepenuhnya diimplementasikan pada pokok bahasan yang tercantum pada RPP/SAP mata pelajaran IPS. Pengaruh Pendidikan Karakter Berbasis Agama Islam dalam Pembelajaran IPS Terhadap Karakter Siswa Secara umum pelaksanaan pendidikan karakter berbasis agama Islam dalam pembelajaran IPS di SMPN-1 Kedung Banteng Purwokerto menunjukkan pengaruh yang positif terhadap pembentukan karakter siswa. Hal ini ditunjukkan dari beberapa indikator sebagai berikut: a) Semakin aktifnya siswa mengikuti mata pelajaran IPS; b) Semakin aktifnya siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, termasuk kegiatan ibadah agama maupun kegiatan pembinaan moral dan karakter bangsa bagi siswa. Dalam kegiatan ekstrakurikuler antara lain kegiatan pembinaan karakter bangsa bagi siswa, dan kegiatan-kegiatan pembinaan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan bela negara, kepribadian dan budi pekerti luhur, serta berorganisasi dan kepemimpinan; c) Semakin menurunnya jumlah siswa yang terkena sangsi pelanggaran tata tertib cukup signifikan, di mana pada tahun 2010 terdapat pelanggaran sebanyak 42 orang siswa (7,14% dari total siswa) kemudian turun menjadi 17 orang siswa (2,88%) yang melakukan pelanggaran pada tahun 2011. Ini berarti bahwa pelaksanaan proses pendidikan karakter siswa di sekolah menunjukkan cukup berhasil dan berpengaruh positif; d) Berdasarkan pandangan responden guru dan karyawan, terdapat 8 orang guru dan karyawan (atau sekitar 72,73%) menyatakan tingkat keberhasilan pendidikan karakter di sekolah mencapai lebih dari 80%, dan 3 orang guru dan karyawan (atau 27,27%) menyatakan kurang dari 80%. Mereka yang berpandangan tingkat keberhasilan kurang dari 80% tersebut, secara umum ditunjukkan dengan fakta bahwa masih terdapatnya siswa yang terkena sangsi pelanggaran, dan masih belum mantapnya penerapan pendidikan karakter secara jelas dan tegas, serta adanya perasaan ewuh pakewuh dalam penerapan sangsi pelanggaran tata tertib sekolah. Bobot kategori pelanggaran dan sangsi yang diberikan oleh pihak sekolah masih belum dapat terukur secara obyektif, hal ini disebabkan belum ada peraturan yang mengatur tentang pembobotan untuk masing-masing jenis pelanggaran. Padahal jika diberikan pembobotan dengan angka poin tertentu untuk setiap jenis pelanggaran akan memudahkan pihak sekolah dalam mengambil tindakan. Jenis pelanggaran siswa yang ditemukan dalam dokumen antara lain meliputi: terlambat masuk sekolah, bolos sekolah, perkelahian/pemukulan, pemalakan, mencuri uang milik teman, tidak masuk sekolah tanpa ijin, tidur saat pelajaran berlangsung, tidak mengikuti les sekolah, minum pil, membawa HP gambar porno, merokok, memaksa minum pil pada temannya, mengganggu siswa kelas lain, tidak mengerjakan tugas kelompok, tidak masuk di kelas padahal ada di sekolah, mengganggu perempuan dan suka memukul, dan sebagainya. Beberapa pelaku pelanggaran tersebut bahkan ada yang pernah melakukan beberapa kali pelanggaran, dan selalu menyatakan tidak akan mengulangi lagi dan berjanji akan berperilaku lebih baik. Namun kenyataannya pihak sekolah belum menerapkan sanksi yang tegas. Oleh kerana itu sebaiknya pihak sekolah perlu membuat pembobotan dengan angka poin tertentu untuk setiap jenis pelanggaran, dan apabila sudah mencapai angka tertentu (misalnya poin 50) maka pihak sekolah perlu memanggil orang tua siswa tersebut, dan misalnya sudah mencapai angka 100 maka pihak sekolah menerapkan sangsi tegas, misalnya memberikan hukuman akademik, dan bahkan sampai pada hukuman dikeluarkannya siswa dari sekolah. Dengan demikian maka akan mempertegas pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah, sesuai dengan visi dan misi sekolah yaitu “Unggul Prestasi, Terampil, dan Luhur Budi Pekerti”. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Hasil pembahasan di muka diberikan beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1) bahan materi ajar yang relevan dengan pendidikan karakter berbasis Agama Islam, meliputi beberapa pokok bahasan, yaitu: (a) hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan, (b) berbakti dan menghormati orang tua, (c) menghormati orang lain, (d) berperilaku sopan santun, (e) saling tolong menolong dengan sesama, (f) keteladanan, (g) kejujuran akademik dan non-akademik, (h) tanggung jawab, (i) keadilan, (j) jiwa patriotisme, kepemimpinan, keutuhan NKRI, dan Pancasila, dan (k) karakter bangsa yang religius; 2) Pola pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah dilakukan secara terpadu antara kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Dalam kegiatan intra-kurikuler masih sebatas pada mengintegrasikan dengan mata pelajaran tertentu, terutama mata pelajaran agama dan akhlak, dan pendidikan kewarganegaraan. Namun demikian pada umumnya semua guru yang mengajarkan bidang mata pelajaran tertentu termasuk mata pelajaran IPS (geografi, sosiologi, ekonomi, dan sejarah) telah memasukkan nilainilai karakter bangsa yang religius dalam proses pembelajaran. Namun masih belum secara terstruktur dirumuskan dalam kurikulum dan RPP/SAP pada masing-masing mata pelajaran. Dalam kegiatan ekstrakurikuler, menunjukkan bahwa pembinaan karakter siswa telah diprogramkan oleh sekolah dengan baik, yaitu dimasukkannya materi khusus tentang pembinaan moral siswa dalam program kegiatan pengembangan diri. Adapun yang berperan dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah menurut pandangan responden adalah semua warga sekolah (kepala sekolah, karyawan, dan guru). Unifikasi pelaksanaan pendidikan karakter berbasis agama Islam dalam pembelajaran IPS di sekolah SMPN-1 Kedung Banteng menunjukkan bahwa semua responden (kepala sekolah, guru, karyawan, dan pengurus OSIS) menyatakan memiliki hubungan yang positif dan sangat penting, dan perlu untuk dimasukkan ke dalam kurikulum. Dalam pembelajaran IPS, antara lain mengkaji tentang hubungan interaksi antar manusia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, di mana hal tersebut diperlukan aturan berperilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan Agama Islam. Pelaksanaan Pendidikan Karakter berbasis Agama Islam dalam proses Pembelajaran IPS terhadap Karakter Siswa di SMPN1 Kedung Banteng memiliki pengaruh yang positif dan signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan semakin aktifnya siswa dalam mengikuti proses pembelajaran IPS dan kegiatan ekstrakurikuler. Di samping itu juga ditunjukkannya dengan semakin menurunnya jumlah siswa yang terkena sangsi pelanggaran tata tertib cukup signifikan, di mana pada tahun 2010 terdapat pelanggaran sebanyak 42 orang siswa (7,14% dari total siswa) kemudian turun menjadi 17 orang siswa (2,88%) yang melakukan pelanggaran pada tahun 2011. Ini berarti bahwa pelaksanaan proses pendidikan karakter siswa di sekolah menunjukkan cukup berhasil dan berpengaruh positif. Berdasarkan pandangan responden guru dan karyawan, terdapat 8 orang guru dan karyawan (atau sekitar 72,73%) menyatakan tingkat keberhasilan pendidikan karakter di sekolah mencapai lebih dari 80%, dan 3 orang guru dan karyawan (atau 27,27%) menyatakan kurang dari 80%. Saran Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan tersebut, diberikan beberapa saran sebagai berikut: 1) Mengingat pentingnya pendidikan karakter berbasis Agama Islam dalam proses pembelajaran IPS, di mana materi pendidikan karakter belum secara eksplisit disusun secara tegas dalam materi mata pelajaran (SAP/RPP) maka perlu adanya rambu-rambu yang tegas dan eksplisit dalam penyusunan pokok bahasan yang relevan pendidikan karakter berbasis agama Islam; 2) Agar sangsi tata tertib sekolah lebih operasional dan terukur perlu diberikan nilai poin dari masing-masing jenis pelanggaran, mulai dari poin 1 sampai 100. Sebagai contoh misalkan, setiap kali terlambat datang dapat poin 1, tidak masuk poin 5, terlibat perkelahian poin 50, tidak mengikuti upacara poin 10, tidak mengikuti kegiatan keagamaan dan pembinaan karakter siswa poin 25, melakukan tindak pidana mencuri berat dan atau narkoba poin 100. Bagi siswa yang poin pelanggarannya mencapai poin 100, maka sudah lampu kuning dan peringatan keras hingga sampai pada sangsi berat dapat dikeluarkan dari sekolah. Tahap peringatan dan pemanggilan orang tua, bila jumlah poin mencapai 50, dan 100. DAFTAR PUSTAKA Barth, J. L. 1990. Methods of intruction in sosial studies education 3rd ed. Lahham: University Press of America. Bohlin, K, D. Farmer & K Ryan. 2001. Building character in schools: Resource Guide.California: Joossey Bass. Chazan, B. 1985. Contemporary approaches to moral education, New York: Teacher College Press. Darmiyati Zuchdi. 1999. Teori perkembangan moral dan pendidikan nilai. Yogyakarta: Makalah disampaikan dalam Forum Diskusi di IAIN Sunan Kalijaga. ---------. 2010. Pengembangan Model Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Komprehensif, Terpadu dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS di Sekolah Dasar. Laporan Penelitian UNY. ---------. 2001. Pendekatan pendidikan nilai secara komprehensip sebagai suatu alternatif pembentukan akhlak bangsa. Yogyakarta: Makalah disampaikan pada seminar terbatas Pusat Penelitian UNY tanggal 11 Juni 2001. ---------. 2004. Pendidikan karakter. Kumpulan Makalah. UNY Doni Koesoema A. (2007). Pendidikan karakter, strategi mendidik anak di zaman global. Jakarta Grasindo Djojo Suradisastra. (1991). Pendidikan IPS III. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta. Ellis, A. K. (1998). Teaching and learning elementaqry sosial studies. USA, AVIVACOM Compani. Hamid Darmadi. (2007). Konsep dasar pendidikan moral. Bandung: Alfabeta. Jarolimek, J. (1986). Social studies in elementary education. New York: Macmillan. Jumadi. (2010). “Pendidikan karakter dan integritas publik”. Proceedings, Seminar Internasional oleh HISPISI dan UNM di UNM Makasar, 13-14 Juli 2010. Jurnal Pendidikan Karakter (2010). Jurnal publikasi ilmiah pendidikan umum dan Nilai. vol 2 No 2 juli 2010. Lickona, T., Schaps, E., & Lewis, C. 2002. Eleven principles of effective character education. Washington, DC: Character Education Partnership. Megawangi Ratna. 2004. Pendidikan Karakter solusi yang tepat untuk membangun bangsa, Jakarta : Star Energy Miller John P., Disadur Mulkhan AM., 2002. Cerdas di kelas sekolah kepribadian, Yogyakarta: Kreasi Wacana. Muhammad Noman Somantri. 2001. Menggagas pembaharuan pendidikan IPS. Bandung: remaja Rosdakarya. NCSS. 1994. Curriculum standars for the social studies. Washington D.C: National Council for the Social Studies. Nursid Sumaatmadja. 1980. Perspektif studi sosial. Bandung: Alumni. Numan Somantri, M. 2001. Menggagas pembaharuan pendidikan IPS. Bandung: Rosda Karya. Oemar Hamalik. 1992. Studi ilmu pengetahuan sosial. Bandung: Mandar Maju. Pemerintah Republik Indonesia (2010), Kebijakan Nasional, Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025. Pusat kurikulum. 2006. Model pengembangan silabus mata pelajaran dan rencana pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu. Jakarta. Republik Indonesia. 2010. Kebijakan nasional pembangunan karakter bangsa. Jakarta: Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Sardiman AM. 2011. Praktik IPS sebagai wahana membangun karakter. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta. Editor Prof. Darmiyati Zuchdi, Ed. D. Sardiman AM. 2006. “Pengembangan kurikulum pendidikan IPS di Indonesia: sebuah alternatif”, Makalah, disampaikan pada Seminar Internasional HISPISI dengan tema: Komparasi Pendidikan IPS Antar Bangsa, di Semarang, 7-8 Januari 2006. Sardiman AM. 2010. “Revitalisasi Peran Pembelajaran IPS dalam Pembentukan Karakter Bangsa”. Sjamsi Pasandaran. 2010. “Integrasi pendidikan karakter ke dalam kurikulum sekolah”, Makalah, disampaikan pada seminar nasional di Unima, 19 Desember 2010. Soemarno Soedarsono, H. 2009. Karakter mengantarkan bangsa dari gelab menuju terang. Jakarta: Kompas Gramedia. Sukardi, M. S. 2006. Penelitian kualitatif naturalistik dalam pendidikan. Sulhan Najib. 2010. Pendidikan berbasis karakter. (Jarring). Yogyakarta: Usaha Keluarga. Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003. (2003). Tentang sistem pendidikan nasional, Bandung, Penerbit: Citra Umbara. Zamroni. 2011. Dalam Darmiyati edt. Strategi dan model implementasi pendidikan karakter di sekolah. UNY Press. Yogyakarta. ---------. 2010. “Peran Ilmu-ilmu sosial dalam pembangunan karakter bangsa”. Makalah, disampaikan pada Seminar Internasional oleh HISPISI dan UNM di UNM Makasar, 13-14 Juli 2010.