PERANAN FATAHILAH ULAMA ASAL ACEH DALAM PENYEBARAN DAN PENDIDIKAN ISLAM DI JAYAKARTA (THE ROLE OF FATAHILAH ULAMA FROM ACEH IN THE DISSEMINATION AND EDUCATION OF ISLAM IN JAYAKARTA) Muammar Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Al Aziziyah Sabang Email : alfarisimuammar1983@gmail. Abstract Fatahilah is a figure from Samudera Pasai who played a role in the spread of Islam in Sunda Kelapa which later changed to Jayakarta. Fatahilah son born in Pasai, son of Maulana Qadhi Ibrahim Syarief Bi Inayatilah. When Samudera Pasai was defeated by the Portuguese. Fatahilah carried out the Hajj to Mecca and fostered relations with the Islamic world to liberate Samudera Pasai. After returning from Mecca. Fatahilah returned to Samudera Pasai. Then, because Samudera Pasai was still controlled by the Portuguese. Fatahilah moved to the Kingdom of Demak in Java. Sultan Trenggono Raja Demak married his sister to Fatahilah. Fatahilah carried out reforms in the Islamic education system in the Kingdom of Demak. Shortly after that Fatahilah also gathered strength to fight the Portuguese who wanted to control Sunda Kelapa. In 1527 AD there was a war between Fatahilah against the Portuguese. In this war the Portuguese suffered defeat and were forced to leave Sunda Kelapa. After this war Fatahilah changed the name Sunda Kelapa to Jayakarta. After mastering Jayakarta. Fatahilah actively taught Islamic education to the residents of Jayakarta and developed the port of Jayakarta. Fatahilah was then involved in several conquests in Java. In 1570 AD Fatahilah, after fighting for most of his life for the glory of Islam, returned to Rahmatullah. His struggle and persistence in fighting for Islam must be emulated. Keyword : History. Spread. Islam and Education Abstrak Fatahilah adalah tokoh Samudera Pasai yang berperan dalam penyebaran islam di Sunda kelapa yang kemudian berganti jadi Jayakarta. Fatahilah Putra Kelahiran Pasai anak Maulana Qadhi Ibrahim Syarief Bi Inayatilah. Ketika Samudera Pasai dikalahkan Portugis Fatahilah melaksanakan Haji Ke Mekkah dan Membina hubungan dengan dunia Islam untuk membebaskan Samudera Pasai. Setelah Kembali dari Mekkah Fatahilah kembali Ke Samudera Pasai. Kemudian karena Samudera Pasai masih dikuasai Portugis Fatahilah pindah ke Kerajaan Demak di Jawa. Sultan Trenggono Raja Demak menikahkan adiknya dengan Fatahilah. Fatahilah mengadakan pembaruan dalam sistem pendidikan keislaman di Kerajan Demak. Tak lama setelah itu Fatahilah juga mengumpulkan kekuatan untuk melawan Portugis yang ingin menguasai Sunda Kelapa. Pada Tahun 1527 M terjadi perang antara Fatahilah melawan Portugis. Dalam perang ini Portugis mengalami kekalahan dan terpaksa meninggalkan Sunda Kelapa. Setelah Perang Ini Fatahilah mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Setelah Menguasai Jayakarta Fatahilah aktif mengajarkan pendidikan islam kepada penduduk Jayakarta dan memajukan pelabuhan jayakarta. Fatahilah kemudian terlibat dalam beberapa penaklukan di tanah jawa. Pada tahun 1570 M Fatahilah setelah berjuang nyaris sepanjang hidupnya untuk kejayaan Islam kembali ke rahmatullah. Perjuangan dan kegigihan beliau memperjuangkan islam wajib diteladani. Keyword : Sejarah. Penyebaran. Islam, dan Pendidikan PENDAHULUAN Aceh adalah wilayah pertama masuk islam di kawasan Asia Tenggara. Pada abad 1 Hijriah sudah ada komunitas muslim dikawasan Aceh. Menurut beberapa sejarawan kerajaan pertama berdiri adalah Peureulak. Sejak zaman Kerajaan Peurelak sudah banyak mubaligh datang ke Aceh. Misi utama adalah penyebaran agama islam disusul dengan perdagangan. Masyarakat dibina dengan nilai-nilai pendidikan keislaman antara ilmu dan amal berjalan sejalur. Islam berkembang pesat di Aceh. Banyak rakyat masuk islam sehingga akhirnya kawasan aceh menjadi kawasan islam yang kuat dan disegani. Setelah kerajaa Peurelak Kerajaan selanjutnya adalah kerajaan Samudera Pasai. Pada zaman Samudera Pasai Sultan pertama adalah Sultan Malikussaleh . 0-1297 M) mulailah para samudera pasai menyebarkan islam ke Asia Tenggara. Para ulama menuju berbagai wilayah untuk penyebaran islam. Banyak juga ulama dari kawasan india dan timur tengah datang ke Aceh sehingga pasai jadi Pusat keilmuan dunia islam di Asia Tenggara. Banyak ulama dan pemimpin yang berasal dari Samudera Pasai. Salah satu yang terkenal sebagai ulama penyebar islam dan panglima perang dari Samudera Pasai adalah Fatahillah. Mengenai Fatahilah banyak sekali sumber Portugis membicarakan tokoh ini. Tokoh yang dianggap penyebar islam di daerah barat jawa yang kemudian menjadi seorang Panglima Perang dan Negarawan. Husein Djajadiningrat lebih banyak membahas mengenai Fatahilah ini yang menurutnya bernama Nurullah kemudian bergelar Syeikh Ibnu Maulana Makhdum dan Fadhilah Khan. Sedangkan penulis Portugis mengenalnya dengan dua nama Tagaril dan Feletehan 1. Tagaril ini menunjukkan kalau Fatahilah adalah keturunan bangsawan kerajaan gelar khan biasa digunakan di Turki dan India. Mengenai asal usul Fatahilah portugis mengatakan dia berasal dari rakyat Pasai biasa saja dan malah dari kelas rendah. Menurut sumber lain dari Cirebon kalau Fatahilah adalah anak seorang ulama besar dari Pasai. Ulama tersebut bernama Makhdum Ibrahim2. Menurut penelitian dikawasan Samudera Pasai ditemukan makam yang bertuliskan Maulana Qadhi Ibrahim Syarief Bi Inayatillah yang kemungkinan besar Ayahanda Fatahilah seperti tersebut dalam naskah dan Manuskrip. Artinya Fatahilah dalam darahnya mengalir darah Ahlul Bait keturunan Ali dari Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib. Dari darah inilah mengalir darah kepahlawanan dalam diri Fatahillah. Fatahilah dibesarkan dalam lingkup keulamaan samudera pasai yang membentuk pribadi kuat dan teguh dan pantang mundur dalam perjuangan menegakkan islam. Portugis juga menamakan fatahilah dengan panggilan Molana ibno Makhdom. Namun nama Fadhilah Khan juga mencerminkan dia berasal dari klan bangsawan kelas tinggi karena Khan dalam bahasa Turki juga berarti Pangeran. Dan di Pasai juga ada Sultan Malikuzzahir Khan beliau memang keturunan dari para Sultan Pasai. Dikawasan Makam Maulana Ibrahim juga terdapat Makam Mian Mir dan biasa gelar untuk ulama sufi di Persia dan India. Banyak Mir menjadi pengajar pangeran, pada saat kecil fatahilah belajar pada para ulama sufi sampai dewasa sampai keilmuannya mumpuni. Fatahilah juga banyak ilmu seni perang dari pejuang negeri pasai yang terkenal tangguh. Hal inilah yang membuat Fatahilah menjadi ulama sekaligus panglima perang yang tangguh. Kawasan Samudera Pasai telah membentuk Fatahilah sosok yang kuat. Kemegahan namanya bahkan melintasi benua sampai kenegeri Eropa. 1Graaf & Pigeaud. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. 2003, hal. 2Sanggrupi Buchori dan Wiwi Kuswiah. Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon. Hal. Menurut sumber sejarah Cirebon ada perbedaan Sunan Gunung Jati dengan Fatahilah. Sunan Gunung Jati adalah Cucu dari Prabu Siliwangi kerajaan Pajajaran. Prabu Siliwangi yang beragama budha memiliki putra bernama Raden Walasungsang dan putri Ratu Rara yang kemudian mengaji kepada ulama baghdad Syekh Idlofi Mahdi yang menetap di Muara Jati. Tak lama Raden Walasungsang membuat perdukuhaan yang bernama Caruban. Ketika mereka sudah memahami islam secara mendalam atas anjuran gurunya mereka diminta melaksanakan Haji ke Mekah. Ketika bermukim di Mekkah Ratu Rarasantang yang namanya diganti jadi Syarifah Mudaim pinang oleh pembesar Ismailiyah Mesir Syarif Abdullah Bin Nurul Alim dari Bani Hasyim dari pernikahan ini lahirlah Syarif Hidayatullah pada 1448 yang kelak dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati3. Pada tahun 1450 Syarifah Mudaim melahirkan anak kedua yang bernama Syarif Nurullah4. Ketika Syarif Hidayatullah berusia 27 tahun ayahnya meninggal bersama ibunya dia memilih kembali ke Jawa. Dari Mesir mereka melaksanakan haji ke Mekkah dari Mekkah kemudian merekaa beranjak ke Gujarat. Dari gujarat Syarif Hidayatullah kemudian menuju Pasai disini Syarif Hidayatullah berguru kepada Maulana Ishaq ayahanda Sunan Giri selama 2 tahun 5. Baru pada tahun 1475 Syarif Hidayatullah tiba di Cirebon. Ketika di Cirebon dengan ibunya dia menetap di Gunung Sembung kelak berubah menjadi Gunung Jati. Pamannya kemudian menikahkan Syarif dengan anaknya dan ketika Raden Walasungsang atau Pangeran Cakra Buana wafat pada tahun 1479 Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah menjadi penguasa Cirebon6. PEMBAHASAN Pada tahun 1498 Vasco Da Gama mencapai Kalikut India dalam rangka imperialisme negeri timur. Pada tahun 1511 Malaka di serang Portugis dibawah pimpinan Al Fonso Albuerqueque malaka jatuh dan Sultan Mahmud Syah Malaka melarikan diri ke Bintan. Alfonso membantu Sultan Zainal Abidin merebut tahta kesultanan Pasai. Namun kemudian menjatuhkan Sultan Zainal Abidin dan menaikkan Orfacam (Ahmad Kha. keatas tahta. Karena jasanya ini Portugis memiliki hak yang sangat besar di Pasai mereka bahkan dapat mendirikan benteng di 3Atja. Tjarita Purwaka Tjacuban Nagari. Ikatan Karyawan Meseum. 1972 :hal. 4Suledraningrat. Babad Tanah Sunda. Babad Cirebon. 1987, hal. 5Asmar, dkk. Sejarah Jawa Barat dari Masa Pra Sejarah Hingga Masa Penyebaran Agama Islam. Proyek Penunjang Peningkatan kebudayaan Nasional Propinsi Jawa Barat. Bandung. 1975 hal. 6Sanggrupi Buchori dan Wiwi Kuswiah. Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon. Hal. Pasai. Para ulama pasai kemudian memberontak dibawah pimpinan Malikul Adil dan hampir saja benteng portugis dapat direbut namun akhirnya pemberontak dapat dipukul mundur. Fatahilah yang masih muda masa itu mungkin saja ikut bergabung dengan pemberontak dalam melawan Menurut sumber Portugis pada tahun 1521 Pasai jatuh ke Portugis seorang penduduk Pasai yang oleh sejarawan portugis disebut dengan nama Feletehah yang amat membenci portugis memilih pergi ke Mekah. Tindakan ini penting mengingat sulitnya transportasi masa itu dan adanya peperangan di berbagai daerah jelas menunjukkan tingginya semangat keagamaan dan kerasnya kemauan Fatahilah7 Disana dia belajar selama dua tiga tahun kemudian. Ketika berada di Mekkah Fatahilah menjalin hubungan dengan tokoh dunia islam terutama Turki Utsmani yang sedang bangkit mengalahkan banyak Negara Eropa. Dari sinilah Fatahilah membina jaringan dan kekuatan untuk membebaskan tanah kelahirannya. Ketika kembali ke Pasai dan melihat bahwa kedatangan orang portugis tidak membuat daerah itu baik untuk perkembangan islam selanjutnya maka ia pun pergi ke Demak. Demak adalah ibukota kerajaan islam yang pertama di dirikan di jawa oleh Raden Fatah8. Fatahilah tiba di Demak pada masa pemerintahan Sultan Trenggana. Beliau mendapat sambutan hangat karena beliau seorang ulama yang menuntut ilmu di Mekah. Bahkan beliau kemudian di nikahkan dengan dengan adik Sultan Trenggono9. Sumber sejarah Cirebon menceritakan Fatahilah ikut serta dalam serangan Pati Unus yang dikenal dengan nama Pangeran Sebrang ke Malaka pada tahun 1521. Dalam serangan ini Pihak Demak dilanda kekalahan hebat dan Pati Unus terluka parah terkena meriam dan Fatahilah ikut pulang bersama Pati Unus ke Demak10. Perang ini tampaknya amat mengecewakan Fatahilah yang merupakan Ahli strategi dan Panglima Brilian. Baru kemudian pada masa Sultan Trenggono Fatahilah dapat menunjukkan kehebatannya sebagai Panglima Perang dan Negarawan Ulung. Fatahilah sebagai Haji yang baru pulang dari Mekkah mengetahui perkembangan pemeritahan Kesultanan Turki dan Eropa Timur. Ia menganjurkan kepada Raja Demak iparnya 7 Ibid 8 Jayadiningrat,dkk. Dari Sini Ia bersemi. 1981, hal. 9 Ibid 10Sanggrupi Buchori dan Wiwi Kuswiah. Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon. Hal. untuk bertindak sebagai raja islam sejati. Gelar Sultan yang dipakai Trenggana dan perluasan kekuasaanya dengan kekerasan yang merugikan kerajaan kafir majapahit, mungkin sebagian merupakan pengaruh Fatahilah. Yang dalam perjalanannya telah menginsafi benar panggilan islam untuk memperluas daerah kekuasaannya11. Pada tahun 1522 utusan portugis tiba di pelabuhan Sunda Kelapa untuk mengadakan perjanjian dengan kerajaan Pajajaran. Pada tanggal 21 Agustus 1522 telah dicapai kesepakatan antara pihak poirtugis dan sunda kelapa. Dalam Portugis Namun karena Sultan Mahmud Sultan terakhir Malaka masih menyerang dari Bintan hal ini cukup menggangu Portugis sehingga rencana pembanguna benteng di Sunda Kelapa Pada tahun 1524 Fatahilah atas izin Sultan Trenggana bergerak untuk menyerang Sunda Kelapa dan menghalangi peerjanjian Sunda Kelapa dan Portugis. Dapat dipahami jika Sunda Kelapa jatuh maka penyebaran agama islam di jawa terancam oleh kaum Portugal. Fatahilah yang amat membenci Portugis merasa sudah tiba saatnya memberi pelajaran kepada kaum kafir feringgi yang dulu telah mengotori negeri Pasai negeri nenek moyang Fatahilah. Dalam cerita Cirebon atas anjuran Sunan Gunung Jati kepada Fatahilah Banten harus terlebih dahulu dikuasai. Menurut cerita Banten ketika Fatahilah tiba di Banten ia segera berhasil menyingkirkan Bupati Sunda disitu dan mengambil alih kota pelabuhan tersebut. Langkah berikutnya untuk mengislamkan jawa barat adalah menduduki kota pelabuhan Sunda Kelapa. Kira-kira pada tahun 1527 perebutan pelabuhan yang sangat penting bagi kerajaan Pajajaran ini berlangsung sangat sengit. Karena letaknya yang tidak jauh dari kota kerajaan Pakuwan (Bogo. Sebagai tanda bahwa perebutan ini sangat penting bagi agama islam kota ini diberi nama baru Jayakarta. Orang Portugis yang tidak tahu kota telah diduduki Fatahilah datang untuk untuk mendirikan benteng sesuai dengan janji Sang Hyang dari Pajajaran pada tahun 1522. Kedatangan Portugis di sambut dengan perang yang sangat sengit dan sekali lagi Fatahilah membuktikan keandalannya Portugis Kalah dan melarikan diri. Pada tahun 1528-1529 Sultan Trenggana mengirim sebuah Meriam kepada Fatahilah di Banten sebagai tanda penghargaan sebagai hasil yang dicapai. Meriam itu mula-mula bernama 11Graaf & Pigeaud. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. 2003, hal. Rara Banya kemudian di sebut Ki Jimat meriam itu konon dibuat oleh orang Portugis dari Algarvia (Portugis Selata. yang masuk islam kemudian bernama Khoja Zainul Abidin. Kemungkinan Khoja Zainal Abidin ini adalah ahli meriam Portugis yang ditawan Fatahilah kemudian masuk islam dan menjadi ahli senjata di Demak. Fatahilah tidak berusaha menyerang Pakuwan (Bogo. padahal letaknya sangat dekat. Dan fatahilah tidak memilki niat sedikitpun mengganggu Sang Hyang Pajajaran. Karena Fatahilah penyebar islam yang cinta damai. Serangan ke Banten dan Sunda Kelapa murni hanya untuk menghantam kaum penjajah Portugis. Dan hal ini diakui sendiri oleh pihak portugis. Yang menarik Fatahilah juga tidak melarang orang potugis yang datang untuk berdagang di Sunda kelapa dan Banten. Jadi perang Sunda Kelapa ini murni perang menghentikan penjajahan oleh kaum barat terhadap tanah jawa. Sejarawan Belanda Pigeud dan Graaf mengatakan setelah menguasai Sunda Kelapa fatahilah tidak menghalangi pengiriman barang ke kerajaan Pajajaran. Kalau Fatahilah mau mudah saja semua pelabuhan sudah di bawah kekuasaanya. Namun Fatahilah adalah pemimpin yang cinta damai. Dengan sudah direbutnya Jayakarta maka fatahilah kemudian mulai berdakwah di kawasan Jayakarta. Fatahilah mengajarkan ilmu keislaman kepada masyarakat di sana dan yang baru masuk islam. Atas usahanya yang tanpa henti akhirnya rakyat berbondongbondong masuk islam. Atas kemenangan besar ini yang sangat disyukuri masyarakat islam di jawa serta para wali. Maka Sunan Gunung Jati mengundang Fatahilah untuk menaklukan daerah sekitar Cirebon. Daerah yang ditaklukkan adalah daerah Talaga yang terletak dibagian barat daya Cirebon Kerajaan Telaga dipimpin Prabu Kucukumun yang beragama Budha dalam penaklukan ini tampil sebagai Panglima perang Nyai Mas Gandasari Pahlawan wanita dari Pasai penunjukkan ini karena Panglima kerajaan Telaga juga wanita yang bernama Nyi Tanjung Rarangan. Perang hebat yag berlangsung Pihak Talaga mengalami kekalahan dan melarikan diri ke Lerang Gunung Ciremai pada tahun 1530 sedangkan Pangeran Salingsingan putra Raja Talaga yang terpesona wibawa Sunan Gunung Jati dalam perang memilih masuk Islam12. Seperti diceritakan diatas yang memimpin perang adalah Fatahilah jadi yang dilihat Pangeran Salingsingan adalah Fatahilah bukan Sunan Gunung Jati. 12Sanggrupi Buchori dan Wiwi Kuswiah. Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon. Hal. Kemudian terjadi lagi perang dengan Rajagaluh bekas pusat kerajaan Pajajaran sebelum pindah ke Pakuwan (Bogo. Sebab terjadinyan peperangan karena Rajagaluh Cakraningrat dengan congkak meminta Sunan Gunung Jati mengrim Upeti tanda takluk kepada Rajagaluh dan hal ini ditolak mentah-mentah oleh Sunan Gung Jati. Atas tanggapan ini dimulailah peperangan sengit antara kedua belah pihak dalam perang ini banyak pasukan cirebon terbunuh namun kemenangan sekali lagi berpihak kepada Fatahilah dan Raja Galuh Cakraningrat terbunuh pada 1530 dalam kedua perang ini Pahlawan wanita Pasai menunjukkan kehebatannya. Walaupun operasi kurang terkenal dibandingkan Banten dan Sunda Kelapa namun penaklukan dua daerah ini dalam satu tahun kian memperkuat posisi islam di barat Jawa. Atas jasanya ini Syarif Hidayatullah kemudian menikahkan Fatahilah dengan putrinya Raden Wulung Ayu. Sunda Kelapa diserahkan kepada Tubagus Angke. Fatahilah kemudian mendapat gelar Tubagus Pasai13. Dan setelah itu Fatahilah kemudian menetap di Banten. Pada tahun 1546 menurut Mendez Pinto Fatahilah mengikuti Sultan Trenggana menyerang Pasuruan (Panaruka. diujung timur jawa. Suatu serangan yang berakibat buruk bagi Sultan Trenggana. Sultan terbunuh oleh kaki tangan Panarukan. Setelah meninggalnya Trenggana terjadi suksesi dan perebutan kekuasaan antar keluarga kerajaan. Fathilah pindah ke Cirebon dalam usia tua 60 tahun dan meninggalkan Banten. Alasan dia pindah ke Cirebon tidak diketahui Menurut Babad Sunan Gunung Jati menyuruh putranya tinggal di Banten ia meninggal pada usia muda pada tahun 1552. Pangeran yang meninggal ini dikenal dengan Pangeran Pasereyan. Setelah wafatnya Pangeran ini Fatahilah memutuskan untuk menetap di Cirebon. PENUTUP DAN KESIMPULAN Sunan Gunung Jati wafat pada tahun 1568 malam jumAoat kliwon dalam usia 120 tahun dan dimakamkan di Pasir Jati bagian teratas dari AuWukir SaptarenggaAy. Kompleks makam Gunung Sembung letaknya disebelah utara kira-kira 5 km dari Kota Cirebon sekarang. Kedudukan sebagai raja pengganti Sunan Gunung Jati sementara di wakili oleh Fatahilah hingga beliau wafat pada tahun 1570 dan dimakamkan berdampingan disebelah timur Makam Sunan Gunung Jati14. 13Ibid 14Adeng dkk. Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra. Depdikbud : Jakarta : 1998, hal. Setelah berjuang bertahun-tahun salah tokoh yang hebat dan luar biasa Fatahilah kembali Usaha tanpa henti sejak dari mudanya berjuang untuk membela islam menunjukkan Fatahilah hampir tak pernah beristirahat sepanjang hidupnya. Beliau Fatahilah adalah sosok teladan dalam perjuangan penyebaran islam. Sikap bijaksana beliau telah membuat banyak orang yang kemudian tertarik terhadap islam dan memeluk islam. Sebagai ulama. Panglima perang tetaplah Fatahilah sebagai seorang pejuang yang lembut dan rendah hati. Dan kisah kehidupan beliau wajiblah diteladani karena penuh nilai-nilai pendidikan dan DAFTAR PUSTAKA