p-ISSN 2723-245X e-ISSN 2723-0813 AL-ATHFAL: Jurnal Pendidikan Anak PERAN GURU SEBAGAI PENDIDIK DALAM MENANGANI ANAK HIPERAKTIF PADA ANAK KELOMPOK B DI RA MIFTAHUL ULUM LUMBANG KETANGI Rosida,Sri WijayantiA. Aries Dirgayunita3 Pendidikan Islam Anak Usia Dini Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah Probolinggo rosidaar404@gmail. com, yanty070717@gmail. Abstract The aim of this research is to find out the characteristics of hyperactive children and find out the duties of teachers as educators in dealing with hyperactive children at RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. This type of research uses descriptive research and uses a qualitative To collect relevant data in this research, observation, interviews and documentation methods were used. The data sources obtained were from group B class teachers and group B students as research subjects. In this research, the technique used to analyze data is through data reduction, data presentation and then drawing conclusions. This research produces information that: . The characteristics of hyperactive children are characterized by children who cannot stay still, cannot focus, like to run here and there, often leave their seats, children cannot wait their turn, like to argue. the role of the teacher in dealing with the behavior of hyperactive children is to always monitor the child's behavior, give assignments, give the child the opportunity to freely play the games they like but always under the supervision of the teacher, praise the child when the child can complete the task or when the child can obey the teacher's orders, give light punishment to the child if they have made a mistake, the teacher sits near the child or at the child's study table. Keywords : The Role Of The Teacher. Hyperactive Child Abstrak Tujuan dari penelitian ini yaitu ujuan untuk mengetahui ciri-ciri anak hiperaktif dan mengetahui tugas guru sebagai pendidik dalam menangani anak hiperaktif di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif. Untuk mengumpulkan data yang relevan di dalam penelitian ini dilakukan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data yang didapatkan yakni dari guru kelas kelompok B dan siswa kelompok B sebagai subyek penelitian. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan dalam menganalisis data yaitu melalui reduksi data, penyajian data lalu penarikan kesimpulan. Penelitian ini menghasilkan informasi bahwa: . Ciri-ciri anak hiperaktif ditandai dengan anak yang tidak bisa diam, tidak bisa fokur, suka berlarian kesana kemari, sering meninggalkan tempat duduknya, anak tidak sabar menunggu giliran, suka membantah. peran guru dalam menangani perilaku anak hiperaktif adalahselalu memantautingkah laku anak tersebut, memberikan tugas, anak diberikan kesempatan untuk bebas melakukan permainan yang disukai namun selalu dalam pengawasan guru, memuji anak ketika anak dapat menyelesaikan tugasnya atau saat anak dapat mematuhi perintah guru, memberi hukuman ringan kepada anak jika telah melakukan suatu kesalahan, guru duduk di dekat anak atau di meja belajar anak. Kata Kunci : Peran Guru. Anak Hiperaktif. AL-ATHFAL. Volume 1 Nomor 1. Desember 2023 | 98 Rosida, etc. Peran Guru Sebagai Pendidik Dalam Menangani Anak Hiperaktif Pada Anak Kelompok B Di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. PENDAHULUAN Pendidikan anak usia dini ialah tahap pendidikan awal yang bertujuan untuk memberikan upaya pembinaan kepada anak yang dimulai sejak lahir hingga usia delapan tahun dengan melalui tahapan pemberian rangsangan pendidikan guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak. Dengan begitu anakakan siap untuk melanjutkan pendidikan pada tingkat selanjutnya. (Novia Sari et al. Saat ini sudah terdapat banyak lembaga PAUD yang semakin dikenal luas oleh masyrakat, salah satunya yaitu Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA). Kelompok Bermain (KB). POS PAUD serta Tempat Penitipan Anak (TPA). (Nurussalam et al. , 2. Salah satu bentuk pendidikan anak usia dini yang berada di jalur pendidikan formal adalah Taman Kanak-kanak (TK). Lembaga ini mengadakan program pendidikan yang ditujukan untuk anak berusia 4-6 tahun dengan tujuan membantu anak didik untuk dapatmengembangkan berbagai potensi yang dimiliki seperti fisik, moral, nilai-nilai bahasa, motorik, dan seni. Melalui pendidikan di PAUD anak akan siap untukmelanjutkan ke pendidikan dasar. (Rozie et al. , 2. Pendidikan memainkan peran penting didalam membentuk kehidupan kita. Oleh karena itu, memulai pendidikan pada usia dini mempunyai arti yang sangat penting. Hal itu berkaitan dengan Undang-Undang Sisdiknas Tahun 2003 yang menjelaskan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan suatu bentuk bimbingan yang diberikan kepada anak sejak lahir hingga usia enam tahun. Pemberian rangsangan pendidikan merupakan salah satu cara untuk memperlancar pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani pada anak. Hal tersebut dilakukanagar anak benar-benar siap dalam memasuki pendidikan yang selanjutnya. Pada usia ini terjadi berbagai perkembangan, antara lain kemajuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial emosional. (Nurussalam et al. , 2. Anak usia dini biasanya berada pada usia 0-8 tahun pada masa tersebut sering disebut dengan masa emas perkembangan. Pada usia tersebut sangat tepat diberikan berbagai rangsangan sebagai bekal untuk kehidupan selanjutnya. (Rahmani, 2. Pada usia ini anak-anak akanmemulai proses perkembanganmereka sesuai dengan tahapnya. Selain itu, anak-anak juga akan menghadapi perubahan yang aktif dan antusias dalam kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini, perlunya bimbingan dari orang tua, lingkungan, dan terutama guru sangat penting dalam membentuk seluruh aspek perkembangan(Mulfiani et al. , 2. Sebagai pendidik, kesan besar ditunjukkan guru dalam tugas mereka untuk mengajar dan mendidik. Sebagai seorang guru, penting bagi kita untuk memberikancontoh yang baik kepada anak supaya dapat diikuti setiap dan menjadi tauladan bagi masyarakat pula. (Jebia, 2. Karena dalam bersikap biasanya anak mencontoh sikap atau perilaku orang yang ia lihat. (Susilowati, 2. Disisi lain seorang 99 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Rosida, etc. Peran Guru Sebagai Pendidik Dalam Menangani Anak Hiperaktif Pada Anak Kelompok B Di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. guru juga harus kreatif, profesional, dan menyenangkan dengan menempatkan dirinya sebagai seorang pembimbing, perencana, pengajar, pengelola kelas, motivator, fasilitator, dan evaluator dalam pembelajaran. (Jariono et al. , 2. sangat Penting bagi setiappendidikagar bisa membantu peserta didik di dalam kelas supaya mereka dapat mencapai potensinya dengan penuh arahan dan bimbingan yang tepat sesuai dengan perkembangan anak. (Rahmawati & Dewi, 2. Namun dalam peran yang dijalaninya seorang guru sering menghadapi banyak hal yang bisa menjadi penyebab tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Misal saat guru menyampaikan materi dan memberikan tugas, terdapat salah satu atau beberapa anak yang memperhatikan sebentar dan ikut mengerjakan tugasnya yang sudah diberikan tetapi tugas yang diberikan oleh guru tidak diselesaikan dengan baik, tempat duduknya selalu berpindah-pindah, suka mencoret-coret dinding, berlari kesana kemari, terkadang anak menangis, mengganggu teman-temannya, bahkan terdapat juga anak yang tidur dilantai dan melihat benda yang ditempelkan di dinding kelas atau sekolah. Sehingga menyebabkan suasana belajar tidak kondusif. (Syahrizalgmailcom, 2. Pada umumnya anak-anak membutuhkan area yang lebih luas untuk melakukan berbagai aktifitasnya, karena anak-anak biasanya mempunyai energi yang luar biasa untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Terutama pada anak yang berusia 4-5 tahun yang mana anak pada usia tersebut berada pada fase otonomi, yaitu merasa bahwa dirinya mempunyai kemampuan untuk melakukan berbagai hal atau (Widyaningtyas, n. Dalam berbagai waktu dan kesempatan anak cenderung menunjukan kegiatan yang berlebihan seakan mereka tidak mengenal kata lelah. Bagi anak keaktiffan yang dilakukan merupakann hal yang masih wajar, namun keaktifan yang dilakukan anak tersebut akan menjadi tidak biasa jika anak terlalu aktif sehingga akan menimbulkan masalah dalam diri anak. (Rosma, 2. Diantara permasalahan yang berada dilingkungan sekolah salah satunya adalah tingkah laku anak yang terlalu aktif sehingga akan menyebabkan masalah yang dapat merugikan dirinya maupun orang lain. Anak yang terlalu aktif biasanya sering disebut dengan anak hiperaktif. (Ayla et al. , 2. Anak yang memiliki gangguan hiperaktif sering juga disebut anak yang nakal, suka emosi, tidak bisa di atur, memiliki konsentrasi yang rendah dan lain sebagainya. Hal itu bisa terjadi baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan rumah. (Susanti et al. , 2. Perilaku anak hiperaktif yaitu anak yang tidak bisafokus, sangat sulit untuk perhatian,sehinggamudah beralih dari tempat satu ke tempat yang lainnya, anak senang berlarian kesana kemari, suka berteriak, dan anak sulit menaati perintah. Dapat dipahami bahwa anak hiperaktif adalah perilaku pada anak yang memperlihatkan sikap tidak mau diam, sulit terkendali, perhatiannya mudal teralihkan, berperilaku semaunya 100 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Rosida, etc. Peran Guru Sebagai Pendidik Dalam Menangani Anak Hiperaktif Pada Anak Kelompok B Di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. Perilaku anak hiperaktif dapat ditimbulkan dari lingkungan sekitar anak seperti lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkunagn masyarakat atau teman (Warni, 2. Efek yang akan ditimbulkan oleh perilaku anak hiperaktif saat kegiatan pembelajaran yaitu anakcenderung lebih bergerak aktif, sering menganggu temantemannya terutama teman yang duduk sebangku dengannya sehingga temannya tidak dapat fokus dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain itu guru juga merasa terganggu dengan perilaku anak hiperaktif tersebut karena dapat menghambat kegiatan pembelajaran menghambat pembelajaran yang sedang berlangsung dan guru tidak bisa fokus dalammemberikan materi pembelajaran sehingga kegiatan belajar tidak dapat berjalan dengan maksimal. Maka dari itu seorang guru harus memiliki strategi yang tepat dalam punyai teknik pengajaran yang tepat dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran agartujuan pembelajaran yang diinginkan bisa tercapai. (Hidayat & Susanto, 2. Menurut data yang diperoleh dilokasi penelitian di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi dikelas kelompok B yang terdiri dari 15 siswa, terdapat salah satu anak yang memiliki perilaku hiperaktif. Anak tersebut biasanya akan menjadi pusat perhatian saat ia bergabung dengan anak- anak yang lain karena anak yang hiperaktif akan lebih banyak bergerak aktif bahkan akan mengganggu teman yang lainnya. Guru yang berada dikelas juga sulit untuk mengatur perilaku anak tersebut saat di dalam kelas. Para guru memiliki tantangan yang berat dalam menangani anak hiperaktif. Dari sebab itu dibutuhkan waktu juga kesabaran yang sangat besardidalam menangani anak Tujuan penelitian iniyaitu untuk membantu guru memahami anak yang mengalami gangguan hiperaktif agar mereka dapat menangani anak-anak tersebut secara lebih efektif dan efisien (Novita et al. , 2. Dalam menjalankan kegiatan pembelajaran di dalam dan diluar kelas, seorang pendidik guru perlu memiliki strategi yang tepat agar siswa-siswi dapat berkembang secara optimal. Tujuannya adalah untuk menciptakan siswa-siswi yang kreatif, inovatif, cerdas, serta memiliki perkembangan anak yang baik. Sebagai seorang guru, penting bagi saya untuk memiliki sifat-sifat yang penyayang dan penyabar. Saya juga berusaha untuk tidak membedakan anak-anak yang hiperaktif dengan anak-anak lainnya dalam mengajar dan membantu mereka berkembang(Rahmani, 2. Salah satu faktor penting untuk menangani anak hiperaktif adalah peran utama guru sebagai pengajar atau pendidik. Guru sebagai pengajar langsung, memainkan tugaspenting dalam mengelola lingkungan kelas yang mendukung bagi semua anak, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus. Namun, dalam konteks lembaga pendidikan awal, seperti RA Miftahul Ulum di Lumbang Ketangi, peran guru dalam 101 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Rosida, etc. Peran Guru Sebagai Pendidik Dalam Menangani Anak Hiperaktif Pada Anak Kelompok B Di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. mengidentifikasi, menangani, dan mendukung perkembangan anak hiperaktif masih memerlukan perhatian yang lebih serius. Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul AuPeran Guru Sebagai Pendidik Dalam Menangani Anak HiperaktifPada Anak Kelompok B di RA Miftahul Ulum Lumbang KetangiAy. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikanperan guru sebagai seorang pendidikdalam memberikan penanganan kepada anak hiperaktif. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan deskriptif. Sugiyono . mengemukakan bahwa Aumetode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistic karena penelitiannya di lakukan pada kondisi yang alamiah . atural settin. Ay. Data yang dihasilkan dari penelitian kualitatif data yang berupa kata-kata tertulis, bersifat deskriptif dan tidak disajikan dalam bentuk statistik. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan jenis wawancara mendalam, yaitu dengan cara bertemu langsung antara peneliti dan informan. Untuk mengetahui perilaku siswa hiperaktif di RA Miftahul Ulum peneliti melakukan observasi baik saat di dalam kelas maupun saat diluar kelas. Sedangkan dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan dan menganalisis dokumen, baik dokumen tertulis, dokumen gambar maupun dokumen elektronik. Adapun sumber data penelitian ini adalah guru kelompok B di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi dan siswa kelompok B sebagai subyek penelitian. Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi untuk memeriksa keabsahan data. Keabsahan data bisa di dapatkan melalui proses pengumpulan data yang tepat seperti teknik triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan. Teknik analisis data dalam penelitian ini dimulai dengan : . reduksi data, yaitu mengelompokkan data sesuai dengan aspek-aspek permasalahan atau fokus penelitian. penyajian data, data disajikan dalam bentuk teks yang bersifat naratif yang disajikanmelalui ringkasanringkasan penting yang didapatkan dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. penarikan kesimpulan, peneliti harus melihat kembali pada reduksi dan penyajian data, sehingga kesimpulan yang diambil tidak akan meyimpang dari data yang didapatkan sesuai dengan rumusan masalah dalam penelitian. 102 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Rosida, etc. Peran Guru Sebagai Pendidik Dalam Menangani Anak Hiperaktif Pada Anak Kelompok B Di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri-ciri Anak Hiperaktif Pada dasarnya, keaktifan anak itu adalah hal yang normal. Pasalnya, usia ini adalah masa di mana anak sedang sangat antusias dalam mengeksplorasi dunia di sekitarnya(Helwig et al. , n. Setiap anak mempunyai dorongan dalam melakukan suatu tindakan. Setiap tindakan yang dilakukan anak, terdapat beberapa yang sesuai dengan norma atau aturann yang berlaku. Namun terkadang kita sering jumpai anakanak yang berperilaku menyimpang seperti anak hiperaktif. Anak yang mengalami gangguan hiperaktif akan menarik pusat perhatian ketika berkumpulbersama dengan teman yang normal lainnya, karena anak hiperaktif ini akan lebih cenderung bergerak dansampai anak tersebut membuat keributan atau mengganggu teman lainnya. (Alejos. Berikut adalah ciri-ciri anak hiperaktif: Tingkat energi yang berlebihan: Anak hiperaktif memiliki tingkat energi yang tinggi dan sulit untuk ditenangkan. Mereka sering melakukan banyak aktivitas secara simultan dan cenderung tidak bisa diam. Kecenderungan tidak sabar: Anak hiperaktif cenderung memiliki kesulitan dalam mengendalikan dorongan impulsif mereka. Mereka sulit menunggu giliran dan cepat bosan dengan aktivitas yang monoton. Gangguan perhatian: Anak hiperaktif sering kesulitan dalam mempertahankan fokus pada satu hal. Mereka mudah teralihkan dan sulit untuk mengikuti instruksi dengan baik. Sulit mengatur emosi: Anak hiperaktif sering kali mengalami perubahan mood yang cepat dan intens. Mereka cenderung mudah marah, mudah terganggu, dan sulit mengontrol emosi mereka. Kesulitan tidur: Anak hiperaktif sering kesulitan saat tidur dan bahkan sering terjaga di malam hari. Mereka juga cenderung memiliki sikap tidur yang gelisah dan sering bergerak saat tidur. Kesulitan dalam interaksi sosial: Anak hiperaktif mungkin mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya. Mereka mungkin terlalu agresif, kurang sabar, atau sulit membaca sinyal sosial. Tingkat kecerdasan yang tinggi: Meskipun anak hiperaktif sering menghadapi tantangan dalam konsentrasi dan perilaku, banyak dari mereka mempunyai kecerdasan di atas rata-rata. Mereka memiliki potensi yang besar dan mampu mencapai prestasi yang tinggi jika mendapatkan dukungan yang tepat. Pengertian dasarnya, normal bagi anak untuk menjadi aktif, karena ini adalah usia dimana mereka sedang bersemangat mengeksplorasi lingkungan sekitar mereka. Setiap anak memiliki keinginan untuk berperilaku. Namun, di antara kelompok anakanak tersebut, terdapat individu yang menunjukkan perilaku patuh terhadap norma dan 103 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Rosida, etc. Peran Guru Sebagai Pendidik Dalam Menangani Anak Hiperaktif Pada Anak Kelompok B Di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. aturan yang berlaku. Namun, terkadang kita juga menemui anak-anak yang mengalami gangguan perilaku seperti contohnya anak dengan hiperaktif. Anak yang mengalami gangguan hiperaktif sering kali menjadi perhatian anak-anak yang lainnya ketika bergaul dengan teman-temannya yang lain. Mereka biasanya memiliki gerakan yang lebih aktif dan seringkali menginterupsi atau mengganggu teman-temannya. Hiperaktif ditandai dengan sejumlah ciri-ciri yang disebabkan oleh hiperaktifitas yang dialaminya. Anak hiperaktif memiliki ciri-ciri khusus, adapaun ciri-ciri anak hiperaktif menurut Irawati Ismail diantaranya adalah : Tangan atau kaki sering digerakkan saat duduk atau suka menggeliat. Saat kegiatan pembelajaran anak sering meninggalkan tempat duduknya. Anak sering melakukan kegiatan yang berlebihan seperti berlarian atau menaiki meja dalam situasi yang tidak seharusnya dilakukan. Seringkali anak hiperaktif tidak bisamelaksanakan atau mengikuti kegiatan pembelajaran dengan keadaan tenang. Sering bergerak kesana-kemari seakan tubuhnya ada yang mendorong untuk bergerak dan tenaganya tidak pernah habis. Terlalu banyak berbicara. Tidak sabar menunggu giliran. Adapun ciri umum seorang anak yang bisa disebut hiperaktif menurut Flanagen . 5:1-. Perhatiannya kurang/rentang perhatian yang dimiliki anak pendek. Ketidak mampuan berkonsentrasi atau melakukan suatu kesalahan dalam berbagai aktivitas. Sulitdalam mengatur perhatiayaterhadap tugas atau aktivitasnya. Tugas yang diberikan tidak diselesaikan baik dirumah maupun di Kesulitan mengatur tugas dan kegiatan. Sering kehilangan benda penting untuk tugas atau aktifitasnyaseperti alat tulis, mainan, tugas sekolah dan lain sebagainya. Ambarsari . 2:45-. juga mengelompokkan ciri-ciri anak hiperaktif Dilhat dari segi motorik, anak tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, selalu menggerakkan anggota badannya, menyentuh sesuatu yang berada di hadapan anak. Dalam suatu kelompok anak hiperaktif selalu melakukan aktifitasnya yang berlebihan sehingga dapat menarik perhatian yang melihatnya. Sedangkan dari segi sensorik, perhatian yang dimiliki anak hiperaktif kurang dan mudah di alihkan sehinggaisyarat atau teguran yang diberikan tidak pernah dihiraukan. Perhatian yang dimiliki anak hiperaktifberalih dari satu 104 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Rosida, etc. Peran Guru Sebagai Pendidik Dalam Menangani Anak Hiperaktif Pada Anak Kelompok B Di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. objek ke objek yang lainya. Perhatian yang dipusatkan terhadap objek tersebut hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat peneliti pahami bahwa ciri-ciri anak hiperaktif adalahmempunyai masalah dalam pemusatan perhatian, selalu menunjukkan aktivitas uang berlebihan dan berbuat semaunya saja, selalu bergerak aktif dan mempunyai pemusatan perhatian yang pendek. Pada umumnya Anak yang hiperaktif selalu bertindak pada mengontrol apa yang ia lakukan. suatu kondisi yang menjadikan ia tidak dapat Peran Guru Dalam Menangani Anak Hiperaktif Kemampuan untuk mempertahankan perhatian adalah sebuahtantangan kognitif yang umumnya dialami anak-anak yang kesulitan belajar. mempengaruhi sebagian besar anak-anak Perhatian kemampuanmemusatkanperhatianpada suatu objek berdasarkan rangsangan berbeda yang diterima melalui indra. Selain itu banyak penelitian tentang ketidak mampuan belajar (Learning disabilit. yang menganggap Aukekurangan perhatianAy sebagai gangguan yang paling serius, sehingga menyebabkan hilangnya banyak waktu, menguras tenaga, dan pemikiran para guru di sekolah negeri dan luar biasa. Secara umum, hiperaktif ada kaitannya aktivitas kogntif dan gangguan terhadap tingkah laku, seperti berpikir, mengingat, menggambar, merangkum, melaksanakan serta fungsi mental lainnya. Secara umum, hiperaktif dikaitkan dengan aktivitas kognitif dan gangguan perilaku, termasuk berpikir, mengingat, menggambar, merangkum, melakukan, dan fungsi mental lainnya Pada masa kanak-kanak dampak yang dihasilkan pada gangguan hiperaktif tersebar luas dan mempengaruhi setiap aspek kehidupan sang Keterampilan sosial menurun, kemampuan belajar menjadi lemah, hal ini dapat mengakibatkan serta berkurangnya rasa percaya diri. Anak-anak dengan kesulitan belajar sering kali kesulitan mempertahankan perhatian, sehingga menimbulkan tantangan kognitif. Kebanyakan anak yang mengalami kesulitan belajar terkena dampaknya. Perhatian selektif mengacu pada kemampuan untuk mengarahkan fokus seseorang terhadap objek tertentu dengan menyaring berbagai rangsangan sensorik. Selain itu, penelitian ekstensif mengenai ketidakmampuan belajar secara konsisten mengakui "defisit perhatian" sebagai gangguan paling kritis, yang mengakibatkan hilangnya banyak waktu dan memberikan tekanan besar pada kemampuan kognitif dan fisik para pendidik negeri dan sekolah luar Secara umum, hiperaktif dikaitkan dengan aktivitas kognitif dan gangguan perilaku, termasuk berpikir, mengingat, menggambar, merangkum, melakukan, dan fungsi mental lainnya. Selama masa kanak-kanak, gangguan hiperaktif mempunyai 105 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Rosida, etc. Peran Guru Sebagai Pendidik Dalam Menangani Anak Hiperaktif Pada Anak Kelompok B Di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. dampak luas yang meluas ke setiap aspek kehidupan anak. Ketika keterampilan sosial menurun, kemampuan belajar mungkin melemah, sehingga berpotensi menurunkan rasa percaya diri. Tugas guruadalah mengajar dan mendidik murid nya dengan baik supaya mereka bisa hidup mandiridimasa yang akan datang. Orang tua kedua bagi murid adalah guru, yang mana seorang guru harus bisa untuk memotivasi murid-muridnya menjadi contoh yang baik pula bagi murid-muridnya. Dalam kegiatan pembelajaran baik siswa yang normal ataupun siswa hiperaktif memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan supayadapat menentukan masa depan yang baik. Maka dari itu, seorang guru juga diharapkan mampu dalam mengajar, mendidik, dan menghadapi siswa yang hiperaktif ini seperti smurid-murid yang lainnya tanpadi beda-bedakan. (Alejos, 2. Guru ialah seorang pendidik yang berada di sekolah. Guru sering disebut sebagai seorang pengajar atau pendidik, seorang pendidik diharuskan untuk menyalurkan ilmu yang dimilikinya kepada anak didik. Memberi nasehat dan membimbing anak didiknya agar dapat berperilaku dan bersikap lebih baik lagi dari Di dalam kelas gurulah yangmemegang peranan penting dalam kegiatan Selain itu, guru juga harus bisa menentukan cara yang tepat dalam melaksanakan pembelajaran supaya minat belajar anak semakin berkembang dan perolehan ilmu oleh anak akan semakin efektif. Hubungan komunikasi danberbagai macam pendekatan juga harus selalu di kembangkan dan dilakukan terhadap siswa agar dapat mengenal lebih dalam lagi siswa hiperaktif yang memangmembutuhkan Karena melalui cara tersebut akan lebih memudahkan guru dalam menangani siswa yang hiperaktif. Setiap anak memiliki perbedaan yang unik. Terdapat individu yang enggan untuk tenang atau memiliki kondisi hiperaktif pada anak. Kemudian, pertanyaannya adalah bagaimana guru memainkan peranannya dalam menghadapi siswa yang Guru bertindak sebagai fasilitator, yang mana salah satu tugas guru adalah memberikan materi pembelajaran yang akan diajarkan. Guru memberikan pembelajaran yang sesuai dengan rencana pembelajaran harian yang telah disusun untuk hari itu. Sebelum dimulainya pembelajaran, seperti yang sudah menjadi rutinitas, terlebih dahulu guru mengajak anak-anak untuk berbaris. Pembagian tugas menjadi tanggung jawab salah satu siswa. Guru telah menunjuk seorang anak yang hiperaktif sebagai pemimpin Dalam hal ini guru ikut berperan dalam menangani anak hiperaktif dengan cara memberi tanggung jawab terhadap anak tersebut. Dengan memberikan tanggung jawab diharapkan anak tersebut tidak akan berlari kesana-kemari saat sedang berbaris. Menurut Sugiarmin dalam (Baihaqi, 2008: . suggests that in dealing with hyperactive students, it is important to choose the most appropriate technique/method 106 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Rosida, etc. Peran Guru Sebagai Pendidik Dalam Menangani Anak Hiperaktif Pada Anak Kelompok B Di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. and repeat the training process consistently. Jika sebuah teknik tertentu tidak memberikan hasil yang diharapkan, makasebaiknya menggantikannya atau menambahkannya dengan cara yang lain. Menurut . aihaqi 2008: 68-. sugiarmin juga mengungkapkancara-cara yang digunakan antara lain: Mengurangi atau menghilangkanperilaku yang tidak diinginkan, dengan langkah pertama adalah bertanya kepada siswa alasan mengapa ia melakukan hal Kemudianperilaku yang tidak diinginkan tersebut dapat dirubah menjadi perilaku yang lebih baik lagi. Tingkah laku yang diinginkan harus tetap dikembangkan. Untuk membangun atau mengembangkan tingkah laku yang diinginkan, dapat dilakukan melaluipemberian ulangan penguatan . Pendidik harus dapat merancangrencana dan menjalankan proses pembelajaran di kelas, serta mengawasi setiap aktivitas siswa supayaapapun yang dilakukan anak tidak menyimpang dari norma yang sudah ada. Data yang dikumpulkan peneliti mengenai peran guru dalam menangani anak hiperaktif di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi dilakaukan dengan cara wawancara secara langsung dengan guru kelas pada kelompok B. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan ditemukan beberapa indikator perilaku anak hiperaktif di RA Miftahul Ulum Ketangi, yaitu suka mengganggu temannya temannya baik didalam kelas maupun diluar kelas, suka berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain, sering berlarian di dalam kelas, sangat susah untuk di ajak mengantri, dan anak tidak mau berbaris dengan tem-temannya. Disinilah peran guru sangat penting dalam menangani anak hiperaktif tersebut dengan cara membimbing, memberi perhatian pada anak, memberikan nasehat dan mengarahkan agar anak dapat mengikuti pelajaran dengan baik serta kegiatan pembelajaran saat di kelas maupun di luar kelas tidak akan terganggu dan dapat berjalan dengan baik serta tepat dengan apa yang di inginkan. Penelitian yang dilakukan penelitian yang dilakukan oleh Sri Rezeki dalam (Simatupang. Dorlince & Ningrum, 2. menjelaskan bahwa usaha yang dilakukannya dalam menangani sikap anak yang hiperaktif harus melibatkan guru dan orang tua anak. Adapun cara yang bisa di lakukan untuk mengurangiperilakuanak yang hiperaktif yaitu :. saatkegiatan pembelajaran guru duduk di dekat anak tersebut supaya guru dapat mengawasi perilaku anak saat di kelas. Guru mendampingi anak supaya bisa mengontrol tingkah laku anak yang bisa membahayakan teman sekelasnya . guru maupun orang tua bisa saling memberikan berbagai terkait perilaku apa saja yang apa saja perilaku yang dilakukan anak selama disekolah maupun dirumah. Dengan demikian akan tercipta hubungan komunikasi yang baik antara guru dengan orang tua. 107 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Rosida, etc. Peran Guru Sebagai Pendidik Dalam Menangani Anak Hiperaktif Pada Anak Kelompok B Di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. memberi pujianketika anak melakukan hal yang baik sekecil apapun perbuatan yang dilakukan anak. lakukan tarik ulur pada proses pendidikan dengan anak. Sugiarman dalam (Rozie et al. , 2. mendeskripsikan bahwa teknik yang diterapkandalam menangani gangguan hiperaktif anak adalah dengan membuangatau mengurangi setiap perilakuanak yang tidak sepatutnya dilakukan oleh anak. Memberikan rangsangan terhadap perilaku baik yang diharapkanagar bisa dijadikan sebagai pembiasaan bagi Hasil wawancara yang telah dilakukan dengan guru kelas kelompok B menjelaskan bahwa guru yang berperan sebagai seorang pendidik mempunyai tugas dalam menjalankan perannya termasuk dalam menangani anak hiperaktif saat di kelas, guru mempunyai cara tersendiri yaitu: Menempatkan anak ditempat duduk yang dekat dengan guru agar bisa selalu di awasi sehingga tidak akan mengganggu teman yang lainnya. Memberikan nasehat ketika anak tersebut berbuat salah. Memberi pujian kepada anak jika anak tersebut mampu menyelesaikan tugas yang diberikan atau saat anak mampu menaati apa yang diperintakan guru. Memusatkan perhatian anak saat di dalam kelas dengan cara mengajak anak untuk bernyanyi bersama dan bercerita supaya anak tidak merasa bosan saat mengikuti kegiatan pembelajaran. Menyingkirkan benda-benda yang ada dimeja belajar anak agar perhatiannya tidak pecah. Menjauhkan anak dari jendela, pintu terbuka, gambar atau mainan yang ada didalam kelas sehingga fokus belajar anak tidak terganggu. Memperlakukan semua anak dengan perlakuan yang sama ketika di kelas. Memberikan perhatian khusus terhadap anak melalui pengawasan. Sesekali anak diberikan kebebasan oleh guru untuk bermain namun tetap dalam pengawasan guru agar anak tersebut tidak mengganggu teman yang Memberi hukuman yang ringan apabila anak tersebut menganggu temannya dengan mengajarkan anak agar bertanggungjawab dan berani meminta maaf jika melakukkan suatu kesalahan. (Lestari & Kamala, 2. Selain cara-cara tersebut, guru juga melakukan upaya yang lain dalam menangani anak hiperaktif yaitu melibatkan kerja sama dengan orang tua, yaitu dengan memberikan arahan kepada orang tua agar tidak selalu menuruti apa yang diinginkan anak, memberi kasih sayang dan perhatian yang secukupnya kepada anak, anak selalu dipantau setiap saat, meluangkan waktu untuk bersama dengan anak, menemani serta membimbing anak ketika belajar di rumah, selalu memotivasi dan memberikan dorongan kepada anak hal yang positif, serta guru harus termenjalin terus hubungan komunikasi yang baik dengan orang tua anak. 108 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Rosida, etc. Peran Guru Sebagai Pendidik Dalam Menangani Anak Hiperaktif Pada Anak Kelompok B Di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. Teknik atau cara yang telah diterapkan oleh guru tersebut, dirasa cukup mampu untuk meringankan perilaku hiperaktif yang dialami anak baik saat di kelas ataupun di luar kelas. Walaupun belum sepenuhnya berhasil. Namun secara bertahap jika cara-cara tersebut selalu diterapkan, tidak merubah kemungkinan akan dapat merubah perilaku anak hiperaktif tersebut. Guru merupakan pengajar yang inovatif dan kreatif dalam memberikan strategi- strategi pembelajaran bagi setiap anak yang memiliki karter yang berbeda-beda. Sehingga kegiatan pembelajaran dikelas akan berjalan dengan baik. Penelitian ini mengungkapkan bahwa didalammenghadapi anak hiperaktif, peran guru sebagai pendidik memiliki dampak yang signifikan pada kelompok B di RA Miftahul Ulum. Lumbang Ketangi. Melalui analisis data kualitatif yang melibatkan wawancara mendalam dengan guru-guru dan pengamatan langsung di kelas, ditemukan bahwa guru memiliki beberapa peran penting dalam menangani anak-anak dengan gangguan hiperaktif, termasuk: Identifikasi Awal: Guru di RA Miftahul Ulum secara konsisten menggunakan metode observasi dan alat penilaian untuk mengidentifikasi anak-anak yang mungkin mengalami gejala hiperaktivitas. Penyesuaian Pembelajaran: Guru-guru secara aktif menyesuaikan strategi pembelajaran dan menghadirkan variasi dalam pengajaran untuk memastikan keterlibatan dan partisipasi maksimal anak-anak hiperaktif dalam aktivitas Manajemen Kelas yang Inklusif: Guru-guru terampil dalam mengelola lingkungan kelas yang inklusif, yang memungkinkan partisipasi setiap anak, termasuk anak-anak hiperaktif, tanpa mengorbankan pembelajaran keseluruhan. Kolaborasi dengan Orang Tua: Untuk mrenciptakan konsistensi dalam pendekatan dan strategi yang digunakan baik dirumah dan disekolah, guru-guru harus selalu berkomunikasi secara teratur dengan orang tua atau wali murid anak-anak yang hiperaktif. Pengembangan Rencana Pembelajaran Individual (RPI): Guru-guru bekerja sama dengan tim pendidikan dan ahli terkait untuk mengembangkan Rencana Pembelajaran Individual yang sesuai untuk anak-anak hiperaktif, memastikan bahwa kebutuhan dan potensi mereka dipenuhi. Namun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi berbagai tantangan yang ditemukan guru dalam menangani anak hiperaktif, termasuk keterbatasan sumber daya dan kurangnya pelatihan khusus dalam pendidikan inklusif. Maka dari itu,perlu upaya yang lebih besar dalam pengembangan program pelatihan dan sumber daya yang mendukung untuk membantu guru menghadapi tantangan ini dengan lebih efektif. Dengan demikian, penelitian ini menyoroti pentingnya dukungan yang lebih luas dari institusi, termasuk pengembangan kurikulum yang inklusif, pelatihan yang berkelanjutan untuk guru, dan keterlibatan orang tua secara aktif, untuk menciptakan 109 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Rosida, etc. Peran Guru Sebagai Pendidik Dalam Menangani Anak Hiperaktif Pada Anak Kelompok B Di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi. lingkungan pembelajaran yang optimal bagi anak-anak hiperaktif di lembaga RA Miftahul Ulum Ketangi. KESIMPULAN Perilaku yang dimiliki anak hiperaktif yaitu perilaku anak yang tidak bisa fokus, sulit untuk memperhatikan, anak suka berlari kesana kemari, suka berteriak, dan sulit menaati perintah. Perilaku anak hiperaktif dapat ditimbulkan melalui lingkungan sekitar anak semisal lingkungan rumah, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Gangguan hiperaktif yang di alami anak biasanya sering dijuluki sebagai anak yang nakal, suka emosi, susaht diatur, tidak bisa konsentrasi dalam waktu yang lama atau konsentrasi rendah,serta lain sebagainya. Hal tersebut terjadi baik dilingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti bisa disimpulkan bahwa peran guru dalam menangani anak hiperaktif pada siswa kelompok B di RA Miftahul Ulum Lumbang Ketangi bisa dibilang cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari peran guru dan upaya guru dalam menangani anak hiperaktif. Adapun beberapa upaya yang dilakukan guru tersebut seperti, mengawasi serta memberikan perhatian khusus terhadap anak yang mengalami gangguan hiperaktif. Guru juga harus memberi anak kebebasan untuk bermain namun dalam pengawasan guru. Saat anak teralihkan perhatiannya, guru mengajak mereka untuk bernyanyi bersama atau bercerita. Saat anak melakukan kesalahan, guru memberikan teguran ringan. Ketika anak berhasil mengerjakan tugas atau mematuhi perintah guru, mereka diberi pujian. Namun, jika anak melakukan kesalahan, mereka akan diberi hukuman ringan. Selain itu, guru juga menempatkan anak duduk di dekatnya. Terdapat upaya lain guru dalam melakukan tugas-tugasnyauntuk menangani anak hiperaktif yaitu melibatkan kerja sama dengan orang tua dengan memberikan arahan kepada orang tua agar tidak selalu menuruti kemauan anak, memberi kasih sayang dan perhatian yang secukupnya kepada anak, setiap saat anak selalu dipantau, meluangkan waktu untuk bersama dengan anak, menemani dan membimbing anak saat belajar di rumah, selalu memberi motivasi dan dorongan kepada anak tentang hal yang positif, hubungan komunikasi yang baik harus selalu dilakukan baik guru maupun sekolah dengan orang tua murid. DAFTAR PUSTAKA