Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 IMPLEMENTASI PIJAT KAKI PADA IBU POST SECTIO CAESAREA YANG MENGALAMI NYERI DAN GANGGUAN POLA TIDUR IMPLEMENTATION OF FOOT MASSAGE FOR POST-CESAREAN SECTION MOTHERS WHO EXPERIENCE PAIN AND SLEEP PATTERN DISORDER Etty Komariah Sambas*. Enok Nurliawati. Dini Apriliani Universitas Bakti Tunas Husada Jl. Mashudi No. 20 Tasikmalaya *e-mail korespondensi: ettykomariah@universitas-bth. ABSTRAK Periode setelah persalinan sesar (SC) merupakan fase pemulihan bagi ibu setelah melahirkan bayi dan plasenta melalui prosedur SC. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan standar operasi caesar di banyak negara sekitar 10-15% per kelahiran. Berdasarkan data penelitian WHO pada tahun 2021, operasi caesar terus meningkat secara global, saat ini mencakup lebih dari 1 dari 5 . %) dari seluruh Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018 menunjukkan prevalensi operasi caesar di Indonesia sebesar 17,6%. Salah satu permasalahan utama yang dialami ibu pasca SC adalah nyeri akut serta gangguan pola tidur. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengatasi keluhan tersebut adalah pijat kaki . oot massag. Studi kasus ini bertujuan untuk mengevaluasi respons ibu post SC sebelum dan sesudah diberikan terapi pijat kaki. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan dua orang subyek, dan pengambilan data dilakukan selama tiga hari. Instrumen yang digunakan meliputi SOP Pijat Kaki, lembar observasi, serta panduan wawancara. Teknik pengumpulan data mencakup wawancara, observasi, dan pengukuran tanda-tanda vital. Data dianalisis secara deskriptif naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan pijat kaki, kedua subyek protektif, merasa gelisah, serta mengalami gangguan tidur, meskipun tanda-tanda vital berada dalam batas normal. Setelah penerapan pijat kaki, skala nyeri menurun menjadi 1-2 . yeri ringa. , ekspresi meringis berkurang, ketegangan otot menurun, sikap protektif berkurang, serta kualitas tidur membaik, sementara tekanan darah, denyut nadi, dan frekuensi napas tetap dalam kisaran normal. Berdasarkan hasil studi ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbaikan dalam tingkat nyeri dan kualitas tidur pada ibu post SC. Oleh karena itu, ibu post SC disarankan untuk melakukan pijat kaki secara mandiri atau dengan bantuan guna mengurangi nyeri serta memperbaiki pola tidur. Kata Kunci : Pijat Kaki. Nyeri. Gangguan Pola Tidur. Post SC ABSTRACT The postpartum period following a cesarean section (SC) is a recovery phase for mothers after delivering their baby and placenta through the SC procedure. The World Health Organization (WHO) sets the standard for cesarean section rates in many countries at around 10-15% per birth. Based on WHO research data in 2021, cesarean sections have continued to increase globally, now accounting for more than 1 in 5 . %) of all births. The 2018 Basic Health Research (Riskesda. data shows that the prevalence of cesarean sections in Indonesia is 17. One of the main issues experienced by postSC mothers is acute pain and disrupted sleep patterns. One method that can be used to alleviate these complaints is foot massage. This case study aimed to evaluate the response of post-SC mothers before and after receiving foot massage. The study employed a case study design with two subjects, and data collection was conducted over three days. The instruments used include the Foot massage SOP. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 observation sheets, and interview guidelines. Data collection techniques involved interviews, observations, and vital sign measurements. The data were analyzed descriptively and narratively. The study results indicated that before receiving foot massage, both subjects experienced moderate pain with a pain scale of 5-6, exhibited grimacing, muscle tension, protective behavior, restlessness, and disturbed sleep, although their vital signs remained within the normal range. After the implementation of foot massage, pain levels decreased to a scale of 1-2 . ild pai. , grimacing reduced, muscle tension decreased, protective behavior diminished, sleep quality improved, and blood pressure, heart rate, and respiratory rate remained within normal limits. Based on the findings of this study, it can be concluded that there were improvements in pain levels and sleep quality among post-SC mothers. Therefore, post-SC mothers are encouraged to perform foot massage independently or with assistance to help reduce pain and improve sleep patterns. Keywords : Foot Massage. Pain. Sleep Pattern Disorder. Post SC Diterima: 13 Februari 2025 Direview: 14 Februari 2025 Diterbitkan: 25 Februari 2025 PENDAHULUAN Persalinan merupakan proses alami dimana serviks . ulut rahi. membuka dan menipis untuk memungkinkan janin turun ke dalam jalan lahir dan akhirnya bayi dikeluarkan dari rahim ibu. Persalinan terbagi menjadi dua jenis, yaitu persalinan alami atau normal dan persalinan melalui tindakan medis yang dikenal sebagai Sectio Caesarea. Persalinan normal merupakan proses persalinan melalui vagina . dengan usia kehamilan sudah cukup bulan yaitu 37 minggu atau 9 bulan. Menurut Ryaswati & Nurrohmah . Sectio Caesarea (SC) yaitu prosedur persalinan yang dilakukan dengan pembuatan sayatan pada lapisan uterus melalui permukaan anterior abdomen. Sayatan tersebut bertujuan untuk mengeluarkan bayi dan plasenta dari dalam rahim ibu (Sari et al. Angka persalinan dengan metode SC di berbagai negara baik di sarana layanan kesehatan termasuk rumah sakit pemerintah maupun swasta. angka prevalensinya bervariasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan standar operasi caesar di banyak negara sekitar 10-15% per Berdasarkan data penelitian WHO pada tahun 2021, operasi caesar terus meningkat secara global, saat ini mencakup lebih dari 1 dari 5 . %) dari seluruh persalinan. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018 menunjukkan prevalensi operasi caesar di Indonesia sebesar 17,6%. Masa post SC merupakan periode penting dalam proses pemulihan dan adaptasi tubuh ibu setelah Adaptasi fisiologis yang terjadi pada ibu post SC diantaranya adalah terjadi perubahan fungsi pulmonal yang cepat, peningkatan tekanan darah, perubahan ukuran pada abdomen dan terdapat luka sayatan atau insisi, terjadi proses involusi uterus, otot-otot uterus berkontraksi, vagina dan perineum menjadi lunak dan mengalami pembengkakan, mengalami perkembangan payudara yang bertujuan untuk persiapan laktasi (Astuti et al, 2. Selama masa post SC, ibu juga mengalami adaptasi psikologis. Adaptasi psikologis pada masa post SC dapat melibatkan perubahan suasana hati dan emosi. Sensitivitas yang meningkat, mudah marah, dan mudah tersinggung adalah hal yang umum Persalinan dengan SC dapat meningkatkan risiko nyeri dan gangguan pola tidur pada ibu setelah Nyeri post SC biasanya terjadi di daerah abdomen yang terdapat luka sayatan operasi dan bisa menetap selama beberapa hari hingga beberapa minggu tergantung pada tingkat keparahannya dan proses pemulihan individu (Permata, 2. Penanganan nyeri dan gangguan pola tidur pada ibu post SC dapat melibatkan berbagai pendekatan, termasuk terapi farmakologis dan terapi nonfarmakologis. Terapi farmakologis melibatkan penggunaan obat-obatan untuk mengurangi nyeri dan membantu meningkatkan kualitas tidur. Namun, terapi non farmakologis juga merupakan pilihan yang penting dan dapat efektif dalam mengelola nyeri dan gangguan tidur tanpa menggunakan obat-obatan. Salah satu pendekatan non farmakologis yang dapat digunakan adalah teknik pijat, seperti pijat kaki atau pijat Pijat kaki dapat membantu mengurangi ketegangan otot, memperlancar aliran darah, serta menurunkan tingkat stres dan kecemasan. membantu mengurangi nyeri serta meningkatkan kualitas tidur (Sari et al. , 2. Pijat kaki merupakan salah satu terapi non farmakologis yang berperan dalam menurunkan intensitas nyeri dan memperbaiki kualitas tidur pada ibu post SC. Selama dilakukan foot massage, pijatan yang lembut dan terarah pada kaki dapat merangsang tubuh agar kembali seimbang, membantu Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 meredakan ketegangan otot, dan meningkatkan sirkulasi darah. Tindakan tersebut mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan perasaan kesejahteraan secara keseluruhan. Durasi pijatan selama 30-60 menit, cukup untuk memberikan manfaat yang signifikan bagi kesehatan ibu post SC (Afianti et al. , 2. Studi kasus ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran respon tingkat nyeri dan pola tidur sebelum dan sesudah pijat kaki pada ibu post sectio caesarea. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian dilaksanakan di R. Melati 2 A RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya Subyek dalam studi kasus ini sebanyak dua orang ibu post SC hari ke1 sampai hari ke-3 yang mempunyai keluhan nyeri dan gangguan pola tidur dengan tingkat kesadaran composmentis. Teknik pengumpulan data yaitu pengukuran tingkat nyeri, observasi, pemeriksaan biofisiologis, dan wawancara. Instrumen penelitian menggunakan Standard Operational Procedure (SOP) Pijat Kaki yang diambil dari penelitian Afianti et al. , . lembar hasil pemeriksaan tingkat nyeri dan pola tidur serta panduan wawancara. Pengambilan data dilakukan selama tiga hari pada tanggal 14 Ae 16 Mei 2024, untuk mengetahui respon sebelum dan sesudah tindakan foot massage. Kedua subyek mendapat pengobatan analgetik yaitu paracetamol tablet 3 kali sehari. Dengan demikian, untuk memperoleh data respon yang lebih akurat dengan menghindari efek obat analgetic terhadap nyeri, maka pengambilan data dilakukan satu jam sebelum subyek mengkonsumsi obat analgetik. Analisis data yang digunakan adalah melalui penyampaian informasi yang didapat dari hasil interpretasi wawancara mendalam. Aspek yang diobservasi dan kategori respon diambil berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (PPNI, 2. dan disajikan dalam bentuk tabel. Urutan gerakan pijat kaki dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 1. Gerakan Pijat kaki HASIL DAN PEMBAHASAN / RESULTS AND DISCUSSION Karakteristik Subyek Hasil studi kasus menunjukkan terdapat persamaan dan perbedaan karakteristik kedua subyek. Persamaan tersebut diantaranya adalah kedua subyek multipara, usia di atas 35 tahun, tidak mempunyai riwayat SC sebelumnya, dan mempunyai masalah yang serupa yaitu nyeri pada luka operasi dan gangguan pola tidur. Adapun perbedaan karakteristik pada kedua subyek yaitu subyek I merupakan ibu post SC hari ke-2, sedangkan subyek II ibu post SC hari ke-3. Subyek I tidak mengalami kecemasan, sedangkan pada subyek II mengalami adanya gangguan mobilitas fisik dan kecemasan karena kondisi luka operasi yang masih basah yang dapat berisiko infeksi. Berdasarkan hasil studi kasus, kedua subyek mengeluh nyeri pada luka operasi SC. Hal tersebut sejalan dengan Permata . , yang menyatakan bahwa persalinan dengan SC dapat meningkatkan risiko nyeri dan gangguan pola tidur pada ibu setelah persalinan. Nyeri post SC biasanya terjadi di Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 daerah abdomen yang terdapat luka sayatan operasi dan bisa menetap selama beberapa hari hingga beberapa minggu tergantung pada tingkat keparahannya. Hasil studi kasus ini juga sejalan dengan pernyataan Febiantri & Machmudah, . , nyeri post SC diakibatkan oleh sayatan pada jaringan abdomen anterior yang dapat menimbulkan gangguan keutuhan kontinuitas jaringan. Luka sayatan yang tidak mendapat perawatan yang baik, akan berisiko mengalami infeksi. Rasa nyeri yang dirasakan pada ibu post SC dapat menyebabkan masalah lain seperti gangguan mobilisasi, gangguan pola tidur, dan ketidaknyamanan. Rasa tidak nyaman yang disebabkan oleh nyeri dengan intensitas sedang maupun berat dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk tidur dengan nyaman dan dapat memicu terbangunnya individu dari tidur. Hasil studi kasus ini juga sejalan dengan Ifadah et al. , . dan Hidayat . , bahwa tidur dipengaruhi oleh mekanisme serebral yang kompleks, yang melibatkan aktivasi dan penekanan pusat otak untuk mengatur tidur dan bangun. Aktivitas tidur diatur oleh sistem pengaktivasi retikularis (Reticular Activating System/RAS), yang merupakan jaringan saraf yang menyebar di batang otak dan memiliki peran penting dalam mengatur tingkat kesadaran. Respon Sebelum dan Sesudah Penerapan Pijat Kaki Pada Ibu Post Sectio Caesarea Respon nyeri dan pola tidur sebelum dan sesudah penerapan pijat kaki dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 1. Respon non verbal mengenai tingkat nyeri sesudah implementasi pijat kaki Hari Aspek yang diobservasi Respon Non Verbal Subyek I Subyek II Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Meringis Meningkat Sedang Meningkat Sedang Gelisah Meningkat Sedang Meningkat Sedang Sikap protektif terhadap bagian tubuh Meningkat Menurun Menurun Menurun yang sakit Sedang Sedang Ketegangan otot Cukup Cukup Sedang Meringis Gelisah Sikap protektif terhadap bagian tubuh yang sakit Ketegangan otot Meringis Gelisah Sikap protektif terhadap bagian tubuh yang sakit Ketegangan otot Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Sedang Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Sedang Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun Tabel 2. Respon non verbal mengenai pola tidur sesudah penerapan implementasi pijat kaki Hari Aspek yang diobservasi Sulit tidur Penyebab sulit tidur Terbangun sewaktu tidur Pola tidur berubah Waktu istirahat tidak Subyek I Sebelum Respon Non Verbal Subyek II Sesudah Sebelum Sedang Sedang Sedang Sesudah Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 Sulit tidur Penyebab tidur Terbangun sewaktu tidur Pola tidur berubah Waktu istirahat tidak Menurun Menurun Menurun Cukup menurun Cukup menurun Cukup meningkat Cukup meningkat Sulit tidur Penyebab sulit tidur Terbangun sewaktu tidur Pola tidur berubah Waktu istirahat tidak Menurun Menurun Menurun Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Menurun Meningkat Menurun Meningkat Menurun Tabel 3. Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah Implementasi Pijat Kaki Hari Subyek I Sebelum Sesudah Subyek II Sebelum Sesudah Berdasarkan penelitian didapatkan hasil yang berbeda yaitu subyek I mengalami penurunan skala nyeri dari rentang 5 menjadi 1, sedangkan pada subyek II dari rentang skala 6 menjadi 2, meskipun kedua hasil nya sama . engalami penuruna. , namun terdapat perbedaan dari rentang skala nyeri nya. Hal tersebut disebabkan karena kondisi kedua subyek berbeda, terutama dalam keluhan yang dirasakan oleh kedua subyek, seperti pada subyek I hanya mengeluh nyeri dan sulit tidur, sedangkan pada subyek II mengeluh adanya nyeri, sulit tidur, dan cemas. Hasil studi kasus ini sejalan dengan Wijayanti . dan Irani et al . , yang menyatakan bahwa intervensi pijat kaki dapat menghasilkan penurunan tingkat nyeri pada ibu post SC. Hasil studi kasus ini juga diperkuat oleh Sari & Rumhaeni . , yang menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam penurunan skala nyeri setelah dilakukan teknik pijat kaki pada ibu post SC. Pada saat sebelum dilakukan teknik pijat kaki skala nyeri yang dirasakan ibu post SC adalah 6 dan setelah dilakukan teknik foot massageskala nyeri nya menjadi 4 dari rentang 0-10. Menurut Sari et al. , . nyeri post SC sering kali muncul dalam waktu 4-6 jam setelah proses persalinan selesai dan dapat bervariasi dalam intensitasnya, mulai dari nyeri ringan hingga nyeri berat. Intensitas nyeri ini dapat mempengaruhi kenyamanan dan kualitas hidup ibu post SC. Tabel 4. Pola Tidur Sebelum dan Sesudah Pijat Kaki Hari Subyek I Sebelum Sesudah Sulit tidur, aktivitas Sulit karena aktivitas nyeri, tidur 5 jam terganggu karena /hari nyeri, tidur 5 jam /hari Dapat tidur tapi kurang nyenyak . Dapat tidur tapi kurang nyenyak , aktivitas sedikit terganggu karena Subyek II Sebelum Sesudah Sulit tidur dan Masih sulit tidur , dan sering karena nyeri , karena tidur 4 jam/hari dan, tidur 5 jam /hari Masih sering Sudah apabila terasa mengantuk dan lama tertidur, tidur 5 jam/hari Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 Hari Subyek I Sebelum Sesudah nyeri, tidur 6 jam nyeri, tidur 6 jam /hari /hari Dapat tidur nyenyak . Dapat dan tidak terganggu, nyenyak , aktivitas meningkat, tidak terganggu, mengubah aktivitas posisi dengan lebih meningkat, lancar, tidur 6 jam mampu mengubah /hari lebih lancar, tidur 6 jam /hari Subyek II Sebelum Sesudah tidur 5 jam/ Dapat tidur Dapat tidur lebih lebih nyenyak, nyenyak, lama lama tidur 6 tidur 6 jam/ hari jam/ hari Hasil studi kasus ini juga menunjukkan setelah dilakukan penerapan pijat kaki selama 3 hari keluhan sulit tidur dari kedua subyek menurun, keluhan sering terbangun sewaktu tidur menurun, frekuensi dan lamanya tidur membaik. Hal ini sejalan dengan pendapat Permata . , rasa tidak nyaman yang disebabkan oleh nyeri dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk tidur dengan nyaman dan dapat memicu terbangunnya individu dari tidur dan sejalan dengan pendapat Pacheco dan Rehman . , yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara nyeri dan gangguan tidur yang menyatakan bahwa orang yang mengalami nyeri dapat mengalami gangguan tidur karena peningkatan sensitivitas saraf perifer dan aktivasi sistem saraf pusat. Hasil studi kasus ini diperkuat dengan dengan penelitian yang dilakukan Robby et al. , . , menunjukkan bahwa pijat kaki dapat meningkatkan kualitas tidur. Hal ini dibuktikan dengan adanya kedua subyek dengan kualitas tidur yang buruk berkurang setelah intervensi pijat kaki dilakukan secara berturut-turut selama 3 hari. Tabel 5. Hasil Pemeriksaan tanda-tanda vital Sebelum dan Sesudah Pijat Kaki Hari Pemeriksaan Subyek I Subyek II Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah 130/70 80 x/menit 18 x/menit 148/70 86 x/menit 19 x/menit 130/90 88 x/menit 19 x/menit 130/60mmHg Tekanan Darah 100/70 mmHg 100/80 mmHg Nadi Respirasi Tekanan Darah 76 x/menit 19 x/menit 100/80 mmHg 72 x/menit 19 x/menit 110/70 mmHg Nadi Respirasi Tekanan Darah 78 x/menit 18 x/menit 120/70 mmHg 74 x/menit 19 x/menit 120/90 mmHg Nadi Respirasi 88 x/menit 19 x/menit 86 x/menit 19 x/menit 82 x/menit 19 x/menit 130/80 mmHg 86 x/menit 19 x/menit 128/90 mmHg 84 x/menit 19 x/menit Tabel di atas menunjukkan hasil pemeriksaan tanda-tanda vital sesudah penerapan pijat kaki pada kedua subyek menunjukkan persamaan yaitu tekanan darah membaik, nadi membaik, dan respirasi membaik. Hal tersebut sejalan dengan Wijayanti, . , yang menyatakan bahwa pergerakan yang dilakukan selama pijat kaki dapat memperlancar peredaran darah ke seluruh tubuh, sehingga mendukung peningkatan oksigenasi jaringan, sehingga dapat mempengaruhi tanda-tanda Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Volume 25 Nomor 1. Februari 2025 KESIMPULAN DAN SARAN Respon setelah penerapan pijat kaki pada kedua subyek menunjukkan penurunan tingkat nyeri disertai penurunan respon non verbal nyeri seperti meringis menurun, ketegangan otot menurun, sikap protektif menurun, dan gelisah menurun. Selain itu kualitas tidur meningkat dan tanda-tanda vital dalam rentang normal. Dengan demikian pijat kaki dapat dilakukan pada ibu post SC untuk mengurangi nyeri dan gangguan pola tidur baik secara mandiri atau dengan bantuan. DAFTAR PUSTAKA