MODEL BIMBINGAN KONSELING ISLAM DALAM MEMBENTUK KARAKTER SUFISTIK SANTRI ERA REVOLUSI INDUSTRI GENERASI KEEMPAT Imaniyatul Fithriyah Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan e-mail: imaniya. fi3@gmail. Abstrak Era of industrial revolution 4. 0 or the fourth generation has an impact on the world of education including in islamic boarding school both positive and negative, this can easily be obtained and accessed by individuals without knowing the original of the information which can lead to slander and panic to others. The ease of accessing information without knowing the truth will give rise to false news . which need to be anticipated so as not to cause disputes between communities both in cyberspace and the real world. This is not just how to reduce access to information, but more essential, namely to make individuals aware of the importance of providing guidance with a sufistic approach. The world of education has become the front line in improving the sufistic character of student so that they are able to adapt and adapt to the potential of the 21st century. The purpose of writing this article is to reconstruct Islamic guidance and counseling models in shaping the sufistic character of students in the era of industrial revolution 4. The method used in this writing is qualitative with the type of theoreticaldescriptive research based on library research. The results of this study are Islamic guidance and counseling model can form the sufistic character of students by giving assistance to the counselee or student in order to develop all his disposition to deal with the problem in accordance with the guidance of Islamic teachings, in the sense that the counselee or student are able to live in harmony with Allah SWT provisions and instructions, namely. in harmony with Allah nature, in harmony with the sunnatullah, in harmony with its nature as a creature of Allah. in harmony with the guidelines determined by Allah through His Messenger. realize its existence as a creature of Allah created to worship or serve Allah in the broadest sense. Keyword: Islamic guidance and counseling models, sufistic character, industrial revolution era FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019. P-ISSN 24412401. e-ISSN 2477-5622 FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Imaniyatul Abstrak Era revolusi industri 4. 0 atau era generasi keempat memberikan dampak terhadap dunia pendidikan termasuk di pesantren baik positif maupun negatif, hal ini terlihat dengan mudahnya informasi diperoleh dan diakses individu tanpa mengetahui asal usul informasi tersebut yang nantinya bisa menimbulkan fitnah dan kepanikan kepada orang lain. Mudahnya mengakses informasi tanpa mengetahui kebenarannya akan memunculkan berita palsu . yang mana perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan perselisihan antar masyarakat baik di dunia maya maupun dunia nyata. Hal ini bukan hanya sekadar bagaimana mengurangi akses informasi tetapi hal yang lebih esensial yakni menyadarkan individu akan pentingnya pemberian bimbingan dengan pendekatan sufistik. Dunia pendidikan dipesantren sebagai lini terdepan dalam peningkatan karakter sufistik santri sehingga mampu beradaptasi dan menyesuaikan dengan potensi pada abad 21 ini. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk merekonstruksi model bimbingan konseling Islam dalam membentuk karakter sufistik santri di era revolusi industri 4. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian teoritis-deskriptif berbasis library Adapun hasil penelitian ini yakni model bimbingan konseling Islam dapat membentuk karakter sufistik santri dengan memberikan bantuan kepada konseli atau santri agar dapat mengembangkan segala fithrah-nya untuk menghadapi masalahnya sesuai dengan tuntunan ajaran Islam, dalam artian konseli atau santri mampu hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah SWT, yaitu. selaras dengan kodratnya yang ditentukan Allah, selaras dengan sunnatullah, selaras dengan hakikatnya sebagai makhluk Allah. selaras dengan pedoman yang telah ditentukan oleh Allah melalui Rasul-Nya. menyadari eksistensinya sebagai makhluk Allah yang diciptakan untuk menyembah atau mengabdi kepada Allah dalam arti seluas-luasnya. Kata Kunci: Model bimbingan dan konseling islam, karakter sufistik, era revolusi industri Fithriyah. Model Bimbingan Konseling Islam Dalam Membentuk Karakter Sufistik Pendahuluan Dalam rangka menyongsong era revolusi industri yang ditandai dengan lahirnya supercomputer, kendaraan tanpa supir/awak, terciptanya robot pintar dan rekayasa genetic yang dinilai mampu mengerjakan pekerjaan manusia dengan lebih cepat dan Kemajuan teknologi memberikan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan diantaranya memberikan kemudahan dalam menfasilitasi kegiatan sehari-hari, namun disisi lain menjadi tantangan dalam mengatasi kemajuan tersebut agar tidak berdampak negative terhadap peran manusia sebagai makhluk Allah dalam menjalankan misinya sebagai hamba-Nya. Dunia pendidikan sebagai barisan terdepan dalam meningkatkan karakter peserta didik harus mampu mencetak lulusan yang dapat beradaptasi dengan cepat dan menyesuaikan dengan tuntutan serta keterampilan yang wajib dimiliki saat ini. Perkembangan revolusi industri generasi keempat ini sebagaimana dikemukakan oleh Hoedi Prasetyo perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak terutama praktisi pendidikan untuk selalu berupaya dalam mengembangkan dan meningkatkan serta melatih kemampuan melalui pembiasaan karakter anak atau peserta didik sebagai calon penerus generasi bangsa. Hal-hal inovatif perlu dilakukan bukan hanya sekadar melalui proses pembelajaran dan pembimbingan anak atau peserta didik, tetapi perubahan cara pandang individu terhadap konsep pendidikan itu sendiri juga perlu Kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk membantu peserta didik berpikir positif, pemenuhan kebutuhan, menyaring informasi-informasi yang diperoleh, serta melatih pola pikir anak atau peserta didikAy. Selain itu anak atau peserta didik juga harus dibimbing melalui pendekatan spiritual . engalaman keberagamaa. yakni sufistik. Spiritual merupakan pengalaman individu yang unik dan otentik. Achmad Sauqi mengemukakan bahwa setiap manusia mempunyai pengalaman tersendiri dalam hal keberagamaan, sehingga ia menjadi bagian yang sangat penting dan mempengaruhi kepribadian seseorang. 2 Meskipun demikian, dalam kehidupan saat ini yang berorientasi pada kehidupan manusia industri ditekankan Sukartono. Revolusi industri 4. 0 dan Dampaknya terhadap Pendidikan di Indonesia. Makalah Materi Seminar di FIP PGSD Universitas Muhammadiyah Surakarta 2018. Achmad Sauqi. Meraih Kedamaian Hidup Kisah Spiritualitas Orang Modern. (Yogyakarta: Sukses Offset, 2. , v FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Imaniyatul pada aspek fisik-material menjadikan aspek keberagamaan dan spiritualitas individu menjadi terpinggirkan. Perkembangan teknologi yang semakin canggih di segala bidang menjadikan perubahan pada gaya hidup individu yang menjadi materialistis, hedonis, konsumtif, mekanis, dan individualistis. Akibatnya manusia modern banyak kehilangan kepercayaan spiritual, kehangatan, ketenangan, dan kedamaian. Atas dasar hal tersebut maka melalui penelitian ini peneliti mencoba menawarkan model layanan bimbingan konseling Islam dalam rangka membangun atau membentuk karakter sufistik santri di pesantren. Perlu dipahami bahwa layanan bimbingan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada anak atau peserta didik dan atau santri dengan tujuan untuk memperibadikan karakter pendidikan di pesantren. Abdul Khalik dalam Sutarmi Fadhilah mengungkapkan dalam seminar bimbingan dan konseling islami di UII Yogyakarta 1985 bahwa Bimbingan dan konseling Islam adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar menyadari kembali eksistensinya sebagai makhluk Allah SWT, sehingga mencapai kebahagian di dunia dan akhirat. Di pesantren anak atau peserta didik yang kemudian dikenal dengan sebutan santri dalam rangka menyesuaikan diri dengan perubahan cepat atas dampak pertumbuhan dan perkembangan teknologi global sampek pada era revolusi industri 4. atau era generasi keempat ini maka layanan bimbingan dan konseling Islam digalakkan oleh para pendiri atau pengasuh pesantren melalui serangkaia kegiatan amaliah yang diimplementasikan dengan pendekatan atau metode uswah . dan taAodib . agar terbentuk tabiAoat atau karakter soleh pada setiap santri. Karakter soleh merupakan kualitas moral atau akhlak atau budi pekerti santri yang menjadi pembeda antara karakter individu yang satu dengan yang lain. Membentuk watak atau karakter santri berbasis sufistik tidaklah mudah, sebab dibutuhkan riyadlah . secara terus menerus dengan cara bertakarrub kepada Allah SWT melalui pendekatan atau cara amaliah dzikir yang dilakukan secara istiqamah . dan sedah diatur dalam komonitas tarekat-tarekat yang mempunyai sanad atau silsilah yang bersambung kepada Rasulullah SAW bahkan Rakhmat. Jalaluddin. Dakwah Sufistik Kang Jalal. (Jakarta: Dian Rakyat, 2. , 16 Sutarmi Fadhilah dkk. Model Bimbingandan Konseling Islami untuk membentuk karakter kuat dan cerdas bagi mahasiswa UNS Jurnal Profesi Pendidik. Vol. , 45 Furqon Hidayatullah. Pendidikan Karakter Membangun Peradaban Bangsa. (Surakarta: Yuma Pustaka. , 79 Fithriyah. Model Bimbingan Konseling Islam Dalam Membentuk Karakter Sufistik kepada Allah. Hal tersebut dilakukan agar terbentuk karakter sufistik santri di pesantren mengingat karakter atau watak merupakan gabungan dari kebiasaan-kebiasaan individu di masa lampau artinya untuk membangun karakter dibutuhkan waktu yang lama melalui latihan yang sistematis . dan berkelanjutan secara terus menerus serta diperlukan keteladanan. Sebagaimana dikemukakan oleh Maskuri pembentukan karakter merupakan proses mengukir jiwa yang unik, menarik, dan menjadi pembeda bagi orang lain. Dalam prosesnya membutuhkan kedisiplin tinggi karena tidak mudah dilakukan dengan seketika atau instan. Diperlukan refleksi mendalam dalam membuat segala keputusan moral dan menindaklanjutinya dengan aksi nyata sehingga menjadi praksis, refleksi, dan Diperlukan waktu yang lama untuk membuat semua itu menjadi kebiasaan dan membentuk watak atau tabiAoat santri. Oleh karenanya penting bagi peneliti untuk mengkaji dan merekonstruksi tentang model bimbingan konseling Islam dalam rangka membentengi dan menjembatani generasi mendatang yang disebabkan oleh dampak dari percepatan perubahan-perubahan sistem informasi dan teknologi sebagaimana perubahan dari era melenial ke era revolusi indutri 4. 0 atau era generasi keempat ini. Berdasarkan pemikiran diatas itu pula peneliti tertarik untuk mengkaji dan kemudian mengkonstruk guna menambah khazanah keilmuan tentang Pendidikan Islam dengan judul AuModel Bimbingan Konseling Islam dalam Membentuk Karakter Sufistik Santri Era Revolusi Indutri Generasi KeempatAy. Landasan Teori Konsep bimbingan dan konseling Islam Istilah bimbingan dan konseling adalah terdiri dari dua kata yang kemudian dapat dimaknai seperti uraian berikut. pertama, kata AubimbinganAy dalam bahasa Inggris yang berasal dari kata Guidance kata kerja dari to guide yang secara harfiyah memiliki makna menunjukkan, memberi jalan atau menuntun orang lain ke jalan yang benar atau bermanfaat bagi setiap individu di masa sekarang dan masa yang akan datang (H. Arifin, 1979:. Sedangkan pengertian AubimbinganAy secara harfiah dalam bahasa Masykuri Bakri, dan Dyah Werdiningsih. Menumbuhkan Nilai Karakter berbasis Pesantren. (Jakarta: Nirmana Media. , 3 FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Imaniyatul Arabnya adalah Aual-isryad al-nafsyAy isim mashdar dari kata Rasyada-Yarsyudu- Irsyadan (A ) eayang menurut Ahmad Mubarak mengandung arti Aubimbingan kejiwaanAy, pemaknaan ini hampir senada dengan pemaknaan Autazkiyatun al-nafsyAy yang mempunyai arti Aupensucian jiwaAy7. Menurut Shertzer dan Stone membatasi bimbingan menjadi guidance is the process of helping individuals to understand themselves and their world yang berarti AuBimbingan merupakan proses bantuan terhadap individu dalam memahami diri dan dunianyaAy8. Hallen A. mendefinisikan AubimbinganAy pada proses pemberian bantuan yang dilakukan secara terus menerus dari seorang pembimbing kepada masing-masing individu yang mengharapkan dan membutuhkan layanan bimbingan dalam rangka mengarahkan dan mengembangkan berbagai macam potensi masing-masing individu tersebut secara optimal. Kata proses terjadi dalam jangka waktu atau melalui tahapantahapan tertentu, hal ini mengindikasikan bahwa bimbingan bukanlah kegiatan insidental atau kebetulan melainkan membutuhkan perencanaan untuk mencapai hasil yang maksimal9. Bimbingan dapat dimaknai sebagai penekanan pada pemberian layanan dengan cara memberikan pengetahuan agar dapat digunakan sebagai bahan untuk mengambil suatu ketetapan dan atau keputusan, memberikan sesuatu sambil memberikan nasihatnasihat positif, mengarahkan, dan menuntun ke suatu tujuan dalam hidup sesuai ketentuan-ketentuan yang ditetapkan secara bersama. Tujuan tersebut bisa dirumuskan dalam tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Adapun tujuan jangka panjangnya agar individu dapat sejahtera hidupnya. Kedua, kata AukonselingAy secara harfiah berasal dari kata AucounselingAy diambil dari kata Auto counselAy yang dapat diartikan Auto give adviceAy dengan makna yang dituju adalah memberikan peringatan, saran dan nasihat, makna lebih jelasnya konseling adalah memberikan peringatan, nasihat atau bahkan memberikan anjuran melalui berbagai macam pengalaman kepada masing-masing individu dengan cara face to face . ertatap muk. Dalam bahasa Arab kata AukonselingAy diambil dari kata Istisyarah Ahmad Mubarak. Al-Irsyad Al-Nafsy. Konseling Agama Teori dan Kasus, (Jakarta: Bina Rena Pariwaran, 2. , 3 Shertzer. Stone. Fundamentals of guidance 4ed. (Boston: Houghton Mifflin Company. , 87 Hallen. Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Quantum Teaching. , 8 Fithriyah. Model Bimbingan Konseling Islam Dalam Membentuk Karakter Sufistik . a A )a eaAyang berarti pemberian bantuan. Sedangkan konseling menurut Mortensen dan Schmuller Aucounseling may therefore, be defined a person to person process in which one person is helped by another to increase in understanding and ability to meet his problemsAy10 yang berarti konseling sebagai suatu proses hubungan pribadi antara individu yang dibantu dengan yang membantu dalam meningkatkan pemahaman dan kemampuan memecahkan masalah. Musnawar Tohari memberikan pengertian bahwa AukonselingAy merupakan hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan konseli yang mana hubungan tersebut bersifat individual, meskipun terkadang melibatkan dua orang atau lebih yang dirancang untuk membantu konseli memahami dan memperjelas pandangan terhadap hidupnya, sehingga dapat membuat keputusan yang bermakna bagi dirinya11. Shetzer dan Stone menjelaskan counseling is the learning process in which individuals learn about themselves and their interpersonal relationships and enact behaviors that advance their personal development12. Secara jelas maksud dari pernyatan tersebut menjelaskan bahwa konseling merupakan proses belajar individu tentang diri dan hubungan antarpribadinya, serta mengembangkan tingkah laku positif yang memajukan perkembangan dirinya. Proses konseling terjadi antara konselor yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang mana melibatkan penyelesaian masalah konseli melalui pembicaraan yang tertutup dan rahasia. Sedangkan A. Edward Hoffman juga memberikan pemaknaan tentang konseling sebagaimana berikut. AyCounseling is the face meeting of counselor and counselee. Within the guidance services, counseling may be thought of as the core of the helping process, essential for the proper administration of assistance to students as the attempt to solve their problems. However counseling cannot be adequate unless it is built upon a suprastructure of preparation13. Melalui pemaknaan dan pendefinisian di atas pada hakikatnya Hoffman mengambarkan bahwa dalam pelaksanaan konseling harus terjadi pertemuan tatap muka . ace to fac. antara konselor dengan konseli, dan konseling merupakan inti dari layanan bimbingan dalam Mortensen D. G & Schmuller. Guidance in todayAos Schools. (Ner Yok: John Willey & Sons. Inc, 1. , 304 Tohari Musnamar. Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islam, (Yogyakarta: UII Press, 1. , 15 Shertzer. Stone. Fundamentals of guidance 4ed, 168 Edward Hoffman. An Analysis of Counselor Subroles. Journal of Counseling Psychology. FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Imaniyatul pemberian bantuan kepada konseli pada saat mereka membutuhkan penyelesaian permasalahan yang dihadapi. Secara lebih rinci Amin menambahkan bahwa konseling adalah proses bantuan kepada konseli dalam memahami dan memecahkan masalahnya melalui proses wawancara, atau dengan cara-cara yang disepakati sesuai dengan keadaan individu untuk mencapai kesejahteraan hidup. Dalam membantu memecahkan masalah individu harus sesuai dengan kemampuan individu tersebut, dengan demikian konseli harus berperan aktif, memiliki keinginan untuk memecahkan setiap permasalahannya dan berkontribusi di setiap proses konseling. Sedangkan bimbingan dan konseling dalam perspektif keislaman pada hakikatnya telah dirancang sedemikian rupa dan dirumuskan oleh berbagai ahli, antara lain sebagaimana dikemukakan oleh Yusuf dan Nurihsan bahwa konseling Islami adalah proses emmotivasi individu agar memiliki kesadaran untuk Aucome back to religionAy, karena agama dapat memberikan pencerahan pada pola pikir, sikap, dan perilaku ke arah kehidupan yang sakinah, mawaddah, rahmah, dan ukhuwwah sehingga individu diharapkan akan terhindar dari mental yang tidak sehat, atau sifat-sifat individualitik, nafsu eksploitatif yang memunculkan ketidaksejahteraan15. Sutoyo memberikan penjelasan dalam hasil lokakarya Nasional bahwa bimbingan dan konseling Islam didefinisikan secara terpisah, yaitu. Bimbingan Islam, didefinisikan sebagai suatu proses atau pemberian bantuan secara ikhlas kepada individu atau kelompok agar dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, dengan demikian diharapkan bagi setiap individu atau kelompok agar menemukan dan mengembangkan potensi-potensi atau bakat-bakat mereka yang terpendam dengan usaha mereka sendiri, baik untuk kebahagiaan pribadi atau kemaslahatan dalam kehidupan bermasyarakat . konseling Islam dimaknai sebagai suatu proses memberikan bantuan yang berbentuk kontak secara pribadi antara individu atau kelompok yang mendapatkan kesulitan dalam setiap permasalahan atau masalah-masalah yang dihadapi dengan seorang petugas professional dalam rangka penyelesaian dan pemecahannya, mulai dari pengenalan diri, penyesuaian Samsul Munir Amin. Bimbingan dan Konseling Islam. (Jakarta: Amzah. , 14 Yusuf Syamsu dan Nurihsan A. Juntika. Landasan dan Bimbingan Konseling, (Bandung: Remaja Rosdakarya. , 71 Fithriyah. Model Bimbingan Konseling Islam Dalam Membentuk Karakter Sufistik diri, dan penghargaan diri untuk mencapai realitas diri secara optimal sesuai dengan ajaran atau tuntunan Islam16. Penjelasan yang ditawarkan oleh Sutoyo diatas dapat dipahami bahwa bimbingan dan konseling Islam merupakan salah satu upaya dalam rangka membantu individu atau kelompok supaya dapat belajar sesuai fitrahnya dan atau kembali kepada fitrah dengan cara memberdayakan iman, akal, dan kemauan yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya untuk mempelajari sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya, agar fitrah yang ada pada individu atau kelompok itu berkembang dengan benar dan kukuh sesuai tuntunan Allah SWT. Senada dengan penjelasan Sutoyo. Samsul Munir Amin menambahkan bahwa bimbingan dan konseling Islami adalah proses bantuan yang terarah, kontinu dan sistematis kepada masing-masing individu agar dapat mengembangkan potensi sesuai fitrah beragama yang dimiliki secara optimal dengan cara menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam al-QurAoan dan adits Rasulullah Muhammad SAW ke dalam diri, sehingga ia dapat hidup selaras sesuai dengan tuntunan al-QurAoan dan adits17. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling Islami merupakan proses pemberian bantuan kepada individu supaya dapat mengembangkan segala fitrahnya dalam menghadapi masalah sesuai dengan tuntunan ajaran Islam, dalam artian individu dapat hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah SWT, yaitu. selaras dengan kodratnya yang ditentukan Allah, selaras dengan sunnatullah, selaras dengan hakikatnya sebagai makhluk Allah. selaras dengan pedoman yang telah ditentukan oleh Allah melalui Rasul-Nya. menyadari eksistensinya sebagai makhluk Allah yang diciptakan untuk menyembah atau mengabdi kepada Allah dalam arti seluas-luasnya. Ranah konstruktif dari bimbingan dan konseling Islam pada hakikatnya adalah manusia baik secara individual maupun kelompok yang mana keterkaitannya adalah Aumanusia dilahirkan dalam keadaan fitrah . Ay. Hal ini sebagaimana diuraikan oleh Musfir. manusia pada hakikatnya adalah baik, akan tetapi ada kecenderungan untuk . manusia adalah makhluk yang terbaik yang diciptakan sebagai khalifah di Anwar Sutoyo. Bimbingan dan Konseling dalam Islami (Teori dan Prakti. , (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2. , 27 Samsul Munir Amin. Bimbingan, 71 FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Imaniyatul bumi, dianugrahi kemampuan untuk berpikir. manusia adalah makhluk yang dipenuhi kesadaran. manusia memiliki titik kelemahan dalam dirinya. Hal inilah yang menuntut manusia harus berusaha melawan hawa nafsunya dan atau keinginan untuk berbuat maAosiat. motivasi manusia yang kuat dan potensinya yang besar mampu mengendalikan prilaku dan selalu beribadah kepada Allah SWT. jiwa manusia menjadi tiga bagian, yaitu. jiwa yang tenang, jiwa yang condong kepada keburukan, dan jiwa yang penuh penyelesalan atau selalu menyalahkan diri sendiri18. Adapun dasar dari bimbingan dan konseling Islam pada hakikatnya berasal dari perintah Allah SWT dan Rasul-Nya dengan dibuktikan melalui isyarat kepada manusia untuk memberi petunjuk . kepada orang lain. Hal ini sebagaimana termaktub dalam firma Allah SWT Q. Asy-SyuAoara ayat 52: aO uaIac aEI acIacaaOIA a AO a O a OIa e uaEa O aIOA e A eO a I a a a a Artinya: Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu . l-QurAa. dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab . l-QurAa. dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-QurAan itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami dan Sesungguhnya Kami benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Surat Asy-Syra/42: . Al-Maraghi memberikan penafsiran bahwa AuDia telah memberi wahyu kepada Nabi-nabi sebelumnya maka Allah memberi wahyu pula kepada Nabi Muhammad SAW berupa al-QurAoan. Sedang sebelumnya Nabi SAW tidak tahu bahwa al-QurAoan itu dan apakah syariAoat-syariAoat yang dengan itu manusia diberi petunjuk dan diperbaiki keadaannya di dunia maupun di akhirat19. Ay Berdasarkan penafsiran ayat tersebut dapat dipahami bahwa dalam menghadapi kesulitan hidup dihadapi dengan rasa optimis dan tidak dengan putus asa, karena firman Allah SWT tersebut memberikan petunjuk jalan yang lurus dan juga sebagai pegangan umat manusia dalam menjalani kehidupan seharihari. Adapun tujuan dari bimbingan dan konseling Islam adalah memberikan bantuan dengan mengarahkan individu atau kelompok saja, sedangkan tanggungjawab penyelesaian masalah terletak pada diri individu atau kelompok itu sendiri. Sedangkan Said Az-Zahrani Musfir. Konseling Terapi. (Jakarta: Gema Insani. , 29 Al-Maraghi dan Ahmad Mushthafa. Tafsir al-Maraghi, terjemahan K. Anshori Umar Sitanggal. (Semarang: Karya Thoha Putra Semarang. , 116 Fithriyah. Model Bimbingan Konseling Islam Dalam Membentuk Karakter Sufistik tujuan konseling islami menurut Saiful Akhyar Lubis secara garis besar dirumuskan untuk membantu individu untuk membentuk diri sebagai manusia yang utuh agar mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat dan mengabadikan seluruh hidupnya untuk Allah sebagai khaliknya. Ketika menghadapi masalah diharapkan setiap manusia dapat menerima keadaan dirinya sebagai ketetapan dan anugerah dari Allah SWT. Sebagaimana dalam dimensi spiritual pda konseling islami konseli dibantu untuk bersikap tawakal dengan berpasrah ke haribaan Allah. Sedangkan tujuan khususnya adalah mengenal, mencintai, dan beraktualisasi diri secara optimal sebagaimana jabaran dalam rumusan secara umum20. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tujuan dari bimbingan dan konseling Islam bukan hanya sebatas membantu individu mengatasi berbagai macam persoalan hidup saat ini, melainkan jauh pula untuk masa-masa yang akan datang bahkan juga untuk kehidupan setelah mati . Namun demikian, sudah seharusnya setiap individu harus memandang kehidupan di dunia ini dengan menyeluruh sebagai sunnatullah dalam menghindari keserakahan, kesombongan, dan riyaAo di setiap keberhasilan yang dicapai dalam mengarungi bahtera hidup dan tidak putus asa atau berkecil hati ketika mengalami kegagalan. Adapun orientasi dari model penelitian ini terletak pada dimensi ukhrawi, dimensi ini yang menjadi pembeda dalam setiap pembahasan bimbingan dan konseling secara umum. Konseling islami menjelaskan dan mengarahkan setiap individu agar membina hubungan baik kepada Allah SWT sebagai tuhannya dan kepada manusia sebagai sesama makhluk ciptaannya agar kembali fithrah, yaitu kembali bersih dan suci dengan silaturrahim, tausiyah, tazkiyah dan mujadalah. Karakter Sufistik Santri Sebelum lebih jauh membahas mengenai karakter sufistik, maka perlu diketahui terlebih dahulu mengenai karakter dan apa itu sufistik? Lalu apa relevansi karakter sufistik dengan bimbingan konseling Islam. Secara harfiah karakter berasal dari Bahasa latin AukharakterAy yang bermakna instrument of marking, bahasa Prancis AucharesseinAy yang berarti to engrove . , bahasa arab AutabiAoat yang berarti watak, dan Bahasa Indonesia AuWatakAy yang bermakna sebagai sifat pembawaan yang berpengaruh terhadap Saiful Akhyar Lubis. Konseling Islami: Kyai & Pesantren. (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2. , 112 FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Imaniyatul tingkah laku, budi pekerti, akhlak, tabiat dan perangai seseorang. Sedangkan dalam bahasa Yunani berarti Auto markAy yang berfokus pada bagaimana seseorang mengaplikasikan nila-nilai kebaikan kedalam tingkah laku individu. Jadi istilah karakter sebenarnya berkaitan erat dengan kepribadian seseorang yang mana orang disebut berkarakter apabila tingkah laku nya sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat . Karakter menurut Bakri. Masykuri mengandung tiga unsur pokok yaitu knowing the good, loving the good, doing the good. Setiap individu dikatakan berkarakter ketika dia mengetahui kebaikan yang diakui oleh masyarakat, kemudian dia selalu mencintai kebaikan dimanapun dia berada dan seburuk apapun perilaku orang lain kepadanya, serta dia selalu berusaha menebar kebaikan kepada teman bahkan musuhnya sendiri. Karakter menjadi pembeda dan memiliki ciri khas masing-masing individu yang teridentifikasi melalui perilaku yang muncul21. Sedangkan menurut Masnur Muslich menyatakan bahwa karakter merupakan nilai-nilai yang berhubungan dengan Allah SWT, diri sendiri, sesame manusia yang tercermin pada cara berpikir, bersikap, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma agama dan masyarakat22. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, pada dasarnya pemaknaan mengenai karakter bermuara dari pendapat Imam Ghazali dalam kitab IhyaAo Ulumuddin menyatakan bahwa karakter merupakan sifat yang berada dalam jiwa seseorang kemudian tampak secara spontan dalam perbuatan. Membentuk karakter individu menurut Bakri Masykuri diibaratkan mengukir diatas kayu jadi dibutuhkan ketelatenan dan kedisiplinan yang tinggi agar ukirannya bagus, berbentuk unik, menarik dan berbeda dengan orang lain. Selain itu pembentukan karakter membutuhkan kompetensi, kebiasaan, dan keinginan yang kuat untuk selalu melakukan perbuatan yang bermoral. Karakter baik diperoleh dari keteladanan-keteladanan yang telah ditanamkan sejak lama kemudian menjadi kebiasaan23. Sedangkan definisi AusufistikAy secara bahasa diambil dari kata sufi yang berarti pakar ilmu suluk atau tasawuf. Seorang sufi diberikan kepada siapapun individu yang Masykuri Bakri, dan Dyah Werdiningsih. Menumbuhkan Nilai Karakter, vi Mansur Muslich. Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Multidimensional, (Jakarta: PT. Bumi Aksara. , 84 Masykuri Bakri, dan Dyah Werdiningsih. Menumbuhkan Nilai Karakter, 3 Fithriyah. Model Bimbingan Konseling Islam Dalam Membentuk Karakter Sufistik hatinya bersih dipenuhi dengan hikmah, dan merasa cukup dengan Allah daripada makhluk Nya yang lain, dan dunia beserta isinya tidak tampak sama sekali. Term tasawuf dan sufi sejatinya layak untuk terus-menerus di diskusikan dan dikembangkan serta di integrasikan ke dalam berbagai dimensi keilmuan keislaman secara khusus dan dimensi keilmuan yang datangnya dari Barat secara umum24. Pada hakikatnya jika diperhatikan para cendikiawan dan akademisi memiliki titik persamaan yakni menyimpulkan bahwa tasawuf dan sufi adalah pengalaman spiritual. Sufistik atau Tasawuf menurut Husni Hidayat adalah Auproses menuju sebuah pembersihan hati dengan mengikuti jejak sang sufiAy . anusia yang telah dipilih dan disucikan oleh Allah sw. Siroj. Said Aqil menjelaskan bahwa karakter sufistik atau tasawuf bukan hanya mengupas baik buruk tetapi juga sesuatu yang indah dan bermakna dan selalu terkait antara jiwa, ruh, dan intuisi. Karakter sufistik bukan hanya berusaha menciptakan manusia yang hidup dijalan yang lurus, taat beribadah, berakhlakul karimah, tetapi juga dapat merasakan indahnya hidup dan nikmatnya ibadah26. Oleh karena itu, karakter sufistik bukan hanya sekedar mengurus etika individu, akan tetapi lebih pada estetika dalam kehidupan. Dengan demikian tujuan dari karater sufistik selaras dengan tugas Nabi Muhammad SAW. AuTidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlakAy. Atas dasar itulah dalam mengapai tingkat kesempurnaan dan kesucian jiwa dibutuhkan pengetahuan, bimbingan dan latihan mental yang kuat, oleh karenanya tahap pertama dalam teori sufistik atau tasawuf berada pada pengaturan sikap dan pendisiplinan tingkah laku untuk selalu taat kepada Allah SWT sekaligus menggapai tingkat kebahagiaan tertinggi bagi manusia. Adapun Metode Penelitian Adapun jenis penelitian menggunakan library research . tudi pustak. Jenis penelitian ini berkenaan dengan hasil pustaka, bacaan dan catatan serta mengolah bahan Oleh karena itu proses pencarian data yang harus diperhatikan adalah Totok Jumantoro, kamus Ilmu Tasawuf, (Jakarta: Amzah, 2. , 207 Husni Hidayat. Tajalliyat Sufistik: Dialektika Nilai-Nilai Religius-Humanistik. Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam. Vol. 2, . Said Aqil Siroj. Tasawuf sebagai Kritik Sosial. (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2. , 36 FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Imaniyatul tersedianya bahan rujukan/bacaan seperti buku, jurnal dan artikel-artikel terkait penelitian dalam artian peneliti berhadapan langsung dengan teks/nash yang terkait dengan konsep atau model bimbingan konseling Islam dalam membentuk karakter sufistik santri baik secara langsung atau terpisah yang kemudian diramu dengan mengkonstruk dan diformulasikan sehingga tercipta karya atau teori baru dalam artikel Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara menelaah beberapa sumber rujukan baik buku, jurnal, dokumen cetak ataupun elektronik serta sumber data lain yang diannggap relevan dengan konsep atau model bimbingan konseling dalam membentuk karakter sufistik santri. Sedangkan proses analisis data menggunakan model content analysis, yang mana pembahasan mengenai suatu informasi dideskripsikan dan dibahas secara mendalam oleh peneliti. Dapat juga dipahami bahwa content analysis merupakan salah satu teknik untuk menarik kesimpulan dengan memahai isi teks secara objektif dan Dalam penelitin kualitatif content analysis lebih menekankan pada bagaimana keajegan isi dalam suatu teks. 27 Sebagaimana dikemukakan oleh Klaus Krippendorff dalam Sayyi. Ach yang menyatakan bahwa content analysis . nalisis is. harus bersumber dari hasil eksplorasi data library . yang terkait dengan tema atau topic yaitu tentang konsep atau model bimbingan konseling dalam membentuk karakter sufistik santri28. Model Bimbingan Konseling Islam Dalam Membentuk Karakter Sufistik Santri Pada hakikatnya konseptual bimbingan konseling islami telah termaktub dalam al-QurAoan dan Hadits Nabi, selain itu bimbingan konseling Islam juga beralandaskan pada filosofis dan keimanan. Hal tersebut dipaparkan dalam asas-asas bimbingan konseling Islam, yaitu. Pertama, asas kebahagian dunia dan akhirat, hal ini bermuara dari tujuan akhir kehidupan manusia, yaitu puncak tertinggi kehidupan manusia adalah bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Jelasnya, konseli atau santri senantiasa Burhan Mungin. Penelitian Kualitatif: Komunikasi. Ekonomi. Kebijakan public, dan Ilmu Sosial (Jakarta Kencan. , 221 Ach. Sayyi. Wasiat Pendidikan Sufistik dalam Naskah Tambih Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah Suryalaya (Telaah Pemikiran Guru Mursyid TQN Suryalay. Jurnal Fikrotuna. Vol. No. 01 (Juli 2. , 339 Fithriyah. Model Bimbingan Konseling Islam Dalam Membentuk Karakter Sufistik diajarkan dan diingatkan tentang hakikat dari proses belajar atau pendidikan itu adalah untuk selalu mencari kebahagiaan. Hal termaktub dalam Q. Adh-Dhuha 9. A Eac aE aIIa EaOEa OaOEa E e a a a aOA Artinya: Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang . Perlu kita tanamkan pada konseli atau santri bahwa hakikat dari kebahagiaan hidup di dunia berkaitan erat dengan kebahagiaan di akhirat. Oleh karenanya janganlah terbuai dengan kenyamanan dan kebahagiaan di dunia yang fana dan sebentar ini apabila kebahagiaan tersebut justru menjadi penghalang untuk berbahagia di akhirat Dunia hanyalah permulaan untuk menuju kebahagiaan yang kekal abadi di akhirat nanti. Kedua, asas kewajiban menuntut ilmu. Bimbingan konseling Islam berpedoman pada ajaran Islam bahwa belajar atau menempuh pendidikan itu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim, hal ini dijelaskan dalam Al-QurAoan dan Sunnah. Hadist RasulullahAuMenuntut ilmu itu merupakan kewajiban bagi setiap muslimAy (H. Ibnu Majja. Pemaknaan hadits tersebut mengisyaratkan bahwa konseli atau santri disadarkan pada perintah Allah SWT untuk menuntut ilmu dan sifatnya wajib bagi setiap mukmin. Konseli perlu memiliki kesadaran akan pentingnya ilmu yang mana nantinya diharapkan akan terbentuk sikap tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan belajar atau pendidikan dengan sebaik-baiknya. Ketiga, asas pendidikan seumur hidup. Bimbingan dan konseling Islam berpijak pada asas bahwa pendidikan menuntut ilmu itu merupakan kagiatan yang berlangsung seumur hidup, artinya bimbingan dan konseling Islami maupun klienya harus selalu menyadari bahwa AuTiada waktu untuk berhenti menuntut ilmu, sampai akhir hayatAy, karena belajar atau menuntut ilmu itu wajib tanpa memandang usia, lokasi, maupun Hal ini berarti pula bahwa kegiatan bimbingan dan konseling Islam akan berlangsung seumur hidup, dalam arti tidak memandang usia konseli, tua atau muda mendapatkan layanan yang semestinya, kaya atau miskin atau dengan kata lain di mana ada kegiatan pendidikan belajar disitulah terdapat layanan bimbingan dan konseling. FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Imaniyatul Keempat, asas kebermanfaatan. Bimbingan dan konseling Islam hendaknya memberikan kesadaran kepada konseli atau santri terkait manfaat dan keutamaan menuntut ilmu, sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran surat Thaaha ayat 114: ca ca a a aEaOA A a IaOA a A eO auEa O aE aO Oa nNua aOCaE acA a AI aII Ca aE aI O aCA a AacEEa E aI aEEa E a acC aOaE a a E a ECa aA Aa EIA Artinya: Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan". Sedangkan sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya: AuBarangsiapa ingin kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia hendaklah ia berilmu untuk apa dan bagaimana hidup di dunia dan barangsiapa ingin kebehagiaan hidup di akhirat, hendaklah ia berilmu pula . ahu bagaimana mencapainy. , dan barangsiapa menginginkan keduanya hendaklah ia berirlmu juga. Ay (H. Ibn. Asaki. Kebermanfaatan ilmu juga dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim yang artinya apabila seornag manusia meninggal dunia terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak shaleh. Konselor atau murobbi berperan sebagai AupengingatAy yaitu orang yang selalu mengingatkan konseli atau santri dengan cara Allah. Model pembimbingan ini didasarkan pada. jati diri konseli atau santri yang pada dasarnya telah memiliki iman atau kurang bahkan tidak memiliki iman. Tinggi rendahnya iman konseli atau santri akan terukur dalam perkataan dan perbuatannya, konseli atau santri yang lupa untuk memupuk imannya akan membuat iman tersebut tidak lagi tumbuh dan berfungsi dengan baik. Al quran sebagai pedoman hidup setiap mukmin. Ketika konseli atau santri berbuat kesalahan dan kebingungan maka dia harus segera kembali ke jalan Allah dengan mengingat ajaran dalam Al QurAoan sebagai petunjuk. Oleh karena itu bagi setiap muslim yang memikiki keahlian . berkewajiban untuk membimbing, menasehati, memotivasi dan mengingatkannya. Setelah konselor atau murobbi memberi bimbingan, nasehat, motivasi dan peringatan . enyadaran terhadap konseli atau santr. yang salah arah, maka konselor sudah tidak berdosa lagi. Namun bukan berarti murobbi atau konselor melepaskan diri dari tanggungjawabnya untuk selalu memantau dan mengarahkannya ke jalan yang benar, dan berhasil atau tidaknya sebagian ditentukan oleh . kesediaan konseli atau santri itu sendiri untuk menerima atau tidak terhadap realisasi petunjuk Allah, dan . Fithriyah. Model Bimbingan Konseling Islam Dalam Membentuk Karakter Sufistik idzin Allah. Konseli atau santri yang mau menerima bimbingan, nasehat, motivasi dan peringatan dari konselor itu artinya mereka menerima dan mau melaksanakan tuntunan Allah, atas dasar sikap ketawadluaan atau kelembutan hati klien atau santri tersebut maka Allah akan melimpahkan karunia kepada mereka, namun apa bila sebaliknya . onseli atau santr. berpaling atau tidak mau menerima untuk kemudian tidak mengamalkan nasehat, motivasi dan peringatan dari konselor atau murobbi tentang tuntunan melaksanakan perintah Allah, maka Allah akan memberikan konsekuensinya . kelak di akhirat. Dengan demikian peran konselor atau murobbi dipesantren dalam model bimbingan konseling Islam ini menjadi pendamping atau fasilitator, konselor akan mendampingi konseli dalam kondisi apapun, posisinya sejajar berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Konselor menerima keadaan konseli tanpa syarat apapun. Istilah AupendampingAy ini mengandung makna bahwa posisi konselor atau murobbi dengan konseli kedudukannya sama dihadapan Allah, yang membedakan hanyalah tingkat kepatuhan atau iman seseorang terhadap perintah Allah SWT. Dalam istilah pendamping dimaknai pula bahwa hubungan konselor atau murobbi dengan konseli atau santri yang dibimbing adalah dekat, sesama Hamba Allah SWT . akhluk ciptaan-Ny. tentu memiliki kewajiban yang sama, yaitu saling mengingatkan dan saling tolong Esensi dalam penelitian ini pada hakikatnya adalah Auupaya membantu konseli atau santri belajar mengembangkan fitrah Ihsan Iman dan Islam atau kembali kepada fitrah Ihsan Iman dan IslamAu. Oleh karena itu dalam membantu konseli atau santripun dilakukan dengan metode, cara atau tarekat yang diajarkan melalui Firman-Nya dalam surat Ar Rum ayat 30: a AacEEa EacaO a o ca ACA ca AA AacEEa a aE aEA a A o Aa aOI aIaOAA a AA a caA a EIA a aCa I aO aN aE aEEA a A aE O aN o aaE a aO aE aE aEA a AEA aA aE aO Ea aIOIA a caOI ECa aO aI aO Ea aE acI a Ea a EIA Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah . etaplah ata. fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itula. agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak Allah menciptakan manusia sesuai fithrahnya yaitu dibekali dengan naluri spiritual, namun lingkungan dapat mengubahnya ke arah yang kebaikan ataupun FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Imaniyatul Perlu dipahami bahwa. dalam membantu konseli atau santri seharusnya menggunakan metode yang baik yakni memudahkan dan memuliakan konseli dan mendatangkan kebaikan yang paling besar . serta kebahagiaan di masa yang akan datang, . Dengan perkataan lemah lembut dan ucapan yang menyentuh hati serta mengantarkan kepada kebaikan . lmauAoidhah alkhasana. agar ucapan, arahan, bimbingan, dan motivasi yang diberikan konselor atau murobbi dapat sebaik menyentuh hati klien atau santri, dan yang paling penting adalah keteladanan dari konselor atau santri, dan . Jika perlu dilakukan musyawarah, maka bermusyawarahlah dengan cara yang baik, yakni dengan refrensi atau argumen yang bisa diterima dan bukan berdasarkan pada benar salah atau menang dan kalah. Implementasi dalam penelitian ini dapat dilakukan ditempat yang suci, aman, nyaman dan tempat yang didalamnya sering didirikan sholat seperti masjid, mushola, pesantren, sekolah, dan rumah. Adapun faktor pertimbangan dalam memilih tempat ibadah sebagai tempat melaksanakan konseling didasarkan pada tempat tersebut dihiasi dengan nilai-nilai keagamaan Islam seperti lantunan ayat-ayat suci al-Quran, dzikir dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka tempat tersebut dapat dikategorikan sebagai tempat yang dihiasi oleh cahaya Allah SWT, diharapkan konseli atau santri mudah mendapatkan pencerahan, bimbingan, arahan, dan motivasi dalam hidup yang akan mendatangkan rahmat Allah, petunjuk Allah, dan ketenangan dalam dirinya. Adapun tujuan akhir dari model bimbingan konseling Islam dalam membentuk karakter sufistik ini adalah terciptanya fithrah . dari diri konseli atau santri dapat dikembangkan dan difungsikan dengan sebaik mungkin, dan dapat menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya sesuai dengan ajaran Islam, yang pada akhirnya tercipta dari diri klien atau santri tersebut tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakter sufistik. Berikut langkah-langkah dan tujuan yang harus ditempuh oleh klien atau santri agar mencapai tujuan akhir dari model bimbingan konseling Islam. Pertama. Fithrah . konseli atau santri baik jasmani, rohani, nafs, dan iman yang telah dikaruniakan Allah terhadap konseli atau santri dalam menyeleraskan tujuan Allah dalam menciptakan manusia yaitu sebagai khalifah Allah di bumi, sebagaimana FirmanNya dalam QS. Al-Baqarah ayat 30: Fithriyah. Model Bimbingan Konseling Islam Dalam Membentuk Karakter Sufistik A CaEa eOe a a a aE aAO aN aII O aA a a aAO aNAn A a aEOa a AaO au Ca aE a aacE aE E aI Ea a aE a au aIO a aE aAO E a A a Ea n aE Ca aE auIa eO a Ea aI aI aE a aE aIOIA a aO aO aAEA a A a a a a IA a AaE aOIaCaA a aAE aI e a aOI a aI IA Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan . di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". Selain sebagai khalifah di bumi manusia juga diciptakan agar beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana Firman-Nya dalam QS. Adz-Dzaariyaat ayat 56. AaOIA a AEA a AI au acaE aEOa aA a AaO aI aEa Ca E a acI aOA Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdi kepada-Ku. Kedua. Konseli atau santri mampu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya sesuai dengan cara-cara Allah SWT dan Rasul-Nya. yaitu dengan cara mawas diri, apakah masalah atau musibah yang sedang dihadapi itu sebagai peringatan, hukuman, atau ujian. Selanjutnya individu bertaubat kepada Allah SWT. melakukan perbaikan-perbaikan. Ketiga. Konselik atau santri memahami dan mentaati ajaran Islam dengan baik dan benar, sehingga pada saatnya mampu membimbing dirinya sendiri guna meningkatkan pengabdiannya kepada Allah SWT. Penutup Berdasarkan uraian pembahasan tentang model bimbingan konseling Islam dalam membentuk karakter sufistik santri diketahui bahwa pemberian bantuan kepada konseli atau santri dikembangkan sesuai fithrah-nya sehingga dapat menghadapi dan menyelesaikan masalah sesuai dengan tuntunan ajaran Islam, dalam artian santri dapat hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah SWT, yaitu. selaras dengan kodratnya yang ditentukan Allah, selaras dengan sunnatullah, selaras dengan hakikatnya sebagai makhluk Allah. selaras dengan pedoman yang telah ditentukan oleh Allah melalui Rasul-Nya. menyadari eksistensinya sebagai makhluk Allah yang diciptakan untuk menyembah atau mengabdi kepada Allah dalam arti yang seluas-luasnya. FIKROTUNA. Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume. Nomor. Juli 2019 Imaniyatul Adapun implementasi dari model bimbngan dan konseling Islami dapat dilakukan ditempat yang suci, aman, nyaman dan tempat yang didalamnya sering didirikan sholat seperti masjid, mushola, pesantren, sekolah, dan rumah. Hal ini didasarkan untuk menghindari pelaksanaan bimbingan yang didalamnya ada kegiatan yang maksiat dan melanggar ajaran Islam. Adapun tujuan akhir dari model bimbingan konseling Islam dalam membentuk karakter sufistik ini adalah terciptanya fithrah . dari diri konseli atau santri yang dapat dikembangkan dan difungsikan sebaik mungkin ke arah yang positif, dan dapat menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya sesuai dengan ajaran Islam, yang pada akhirnya tercipta pribadi yang berkarakter sufistik dari diri konseli atau santri. Fithriyah. Model Bimbingan Konseling Islam Dalam Membentuk Karakter Sufistik Daftar Pustaka