Doi: https://doi. org/10. 47709/ppi. Pengabdian Pendidikan Indonesia (PPI) Vol 2 No 01. April 2024 Submitted : 2024-07-18 Accepted : 2024-07-22 Published : 2024-07-22 Edukasi Mengenai Sektor Pertanian kepada Generasi Z dalam Mendukung Sustainable Development Goal (SDG. Hamela Sari Sitompul. | Octasella Ainani AsAoad . | Nurhadida Nasution . | Mariana Eva Yanti. | Supriadi Surbakti. | Intan Maulina. 1,2,3,4,5,. Universita Deli Sumatera hamelasari@gmail. com | octasella14@gmail. com | nurhadidanasution96@gmail. Marianaevayanti2612@gmail. com | surbakti. supriadi@gmail. com | intanmaulina1509@gmail. Abstrak: Generasi Z sangat dibutuhkan dalam sector pertanian untuk meningkatkan produksi pangan dan memungkinkan dalam mengembangkan atau menemukan teknologi baru. Tujuan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan adalah untuk memberikan pemahaman mengenai pertanian dan meningkatkan minat generasi Z dalam sektor pertanian. Metode pelaksanaan dilakukan melalui pemaparan materi kemudian peserta mengerjan kuesioner lalu memparkan hasilnya. Hasil kegiatan ini mendapat respon yang baik dari pihak peserta karena mereka mulai memahami bagaimana pentingnya pertanian kedepannya untuk mempertahan kan kebutuhan pangan masyarakat. Peserta juga menyampaikan gagasanya mengenai program pertanian kedepannya untuk mendukung pertanian Kegiatan ini juga menunjukkan perlunya intervensi dari berbagai pihak untuk mendukung peningkatan ketahanan pangan melalui peranan generasi Z. Kata Kunci: Pertanian. Generasi Z. SDGs Pendahuluan Generasi Z saat ini terlihat enggan menjadi petani, mereka lebih cenderung memilih untuk kerja di industri dan supermarket dari pada bertani. Banyak siswa di pedesaan yang lebih memilih untuk merantau di kota menjadi seorang kasir di sebuah toko sembako dibanding dengan bercocok tanam di kampung bersama kedua orang tuanya, alasannya bahwa menjadi petani belum bisa memberikan jaminan yang layak bagi kehidupannya. Banyak generasi Z yang enggan atau tak bertahan dalam bertani saat ini. Peneliti mengatakan hal ini disebabkan kemudahan teknologi dan pendapatan petani yang kurang memuaskan (Musriadin, 2. Peneliti Saleh et al . , mengatakan, masyarakat beralih ke sektor non pertanian ketika umur mereka masih muda. Banyak dari mereka yang memiliki usaha sampingan di luar sektor non pertanian. Permasalahan regenerasi Z dalam sector pertanian ini juga dialami negara-negara lain yang bergerak di bidang agraria. Zapico, et al. dalam tulisannya memaparkan bahwa nilai terhadap kehidupan pertanian yang dianggap tidak AobergengsiAo juga berdampak terhadap aspirasi generasi muda di pedesaan, yang cenderung memilih bermigrasi ke kota untuk mencari pekerjaan yang dianggap lebih menjanjikan memberikan penghasilan, selain juga untuk tujuan pendidikan. Minimnya regenerasi petani dari kalangan muda menjadi stressor atau tekanan yang cukup AomengguncangAo dunia pertanian. Sejalan dengan kajian Zapico et al. Rodryguez et al. dalam tulisannya juga menyinggung tentang pudarnya nilai-nilai terkait tradisi lokal petani, hilang atau pudarnya minat generasi muda terhadap kegiatan pertanian, merupakan beberapa faktor sosial yang dapat mempengaruhi ketahanan sosial ekologi rumah tangga petani. Selain itu, karakteristik keluarga berupa jumlah anak, umur anak, dan Pengabdian Pendidikan Indonesia (PPI) is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International (CC BY-NC 4. Pengabdian Pendidikan Indonesia (PPI) Vol 2 No 01. April 2024 Submitted : 2024-07-18 Accepted : 2024-07-22 Published : 2024-07-22 Doi: https://doi. org/10. 47709/ppi. ukuran keluarga mempengaruhi keputusan petani muda untuk beralih dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian (Pranadji dan Hardono, 2. Sektor pertanian akan menjadi sebuah ancaman bagi Indonesia pasalnya dengan krisis Penyebabnya yaitu krisis jumlah petani, alih fungsi lahan pertanian dan urbanisasi yang Sektor pertanian Indonesia menghadapi tantangan besar kedepannya. Mengutip data badan pusat statistik (BPS) dalam kurun waktu hampir 30 tahun terakhir, sokongan sektor pertanian terhadap produk domestic bruto (PDB) terus menurun. Sektor pertanian terancam terkontraksi karena krisis petani. Indonesia diprediksi mengalami krisis jumlah petani dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang. Alih generasi sektor pertanian kepada kaum millenial menjadi perhatian serius. Bidang pertanian ini adalah bidang yang selalu dibutuhkan oleh siapaun. Melihat dalam peranannya dalam menunjang kebutuan sandang, pangan, dan papan manusia dalam sehari-hari. Manusia tidak akan bisa bertahan tanpa adanya AopanganAo. Untuk memperoleh kebutuhan tersebut, tentu harus membutuhkan pertanian yang menghasilkan beras. Melalui sosialisasi kepada para Generasi Z melalui penerapan teknologi dalam industry pertanian dapat memberi peluang dalam mengingkatkan kesejahteraan petani mada depan dan jika diterapkan di dalam dalam dunia pertanian, akan meningkatkan usaha tani. Misalnya saja dalam proses pemilihan benih di poros yang tepat, proses pemeliharannya, hingga ketika memanennya. Di luar komponen tersebut perkembangan pertanian juga dapat dilihat dari jenis obat-obatan dan makanan yang digunakan, pupuk jenis apa saja yang dipakai, hingga pestisidanya. Tentu beberapa komponen tersebut tidak dapat dilakukan dengan asal- asal saja, peran petani dan teknologi yang harus saling bersatu untuk menghasilkan hasil panen yang maksimal. Berdasarkan gagasan dalam penerapan teknologi pertanian, tim pengabdian masyarakat mengadakan sosialisasi dalam meningkatkan peran generasi Z dalam sector pertanian dalam mendukung Sustainable Development Goals. Skema pengabdian ini memberikan sosialisasi pada siswa tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas XII untuk bisa berkontribusi kedepannya dalam sector Realisasi Kegiatan Peserta pengabdian masyarakat ini adalah pelajar tingkat SMA Kecamatan Perbaungan sejumlah 31 peserta. Pelaksanaan edukasi dan sosialisasi ini dilakukan secara luring di kelas. Terdapat dua kegiatan dalam pelaksanaan edukasi dan sosialisasi ini, yaitu tahap penyampaian materi dan Dalam tahap penyampaian materi akan menghadirkan narasumber-narasumber yang kompeten di bidangnya. Tahap selanjutnya adalah pendampingan sebagai bagian untuk mengamati keterbukaan informasi dan pemahaman yang didapatkan dari peserta sosialisasi. Untuk tahapan pra pelaksanaan terdiri dari analisis situasi dan analisis permasalahan serta merumuskan solusi dari permasalahan tersebut. Pada tahapan selanjutnya adalah koordinasi dan pembekalan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan ini yaitu para dosen, mahasiswa, narasumber, dan wakil dari pelajar SMA. Selanjutnya adalah tahap pelaksanaan berupa pemberian edukasi dan sosialisasi dengan mengundang narasumber yang kompeten di bidangnya. Pada tahap ini selain dilaksanakan sesi tanya jawab, peserta diberikan waktu untuk mengisi kuesioner tahap I mengenai topik yang diangkat dan setelah sesi edukasi dan sosialisasi juga terdapat kuesioner tahap II sebagai bahan evaluasi Hasil Peserta sosialisasi pertanian adalah siswa sekolah menengah atas (SMA) kelas XII yang merupakan bagian dari generasi Z. Generasi yang lahir di era industri 4. 0 ini sangat dekat dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Kelak diharapkan mereka dapat mendorong perubahan Pengabdian Pendidikan Indonesia (PPI) is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International (CC BY-NC 4. Doi: https://doi. org/10. 47709/ppi. Pengabdian Pendidikan Indonesia (PPI) Vol 2 No 01. April 2024 Submitted : 2024-07-18 Accepted : 2024-07-22 Published : 2024-07-22 untuk kemajuan sektor pertanian. Kegiatan ini merupakan dasar bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah dan pertanian menjadi salah satu sektor yang menopang perekonomian nasional. Selain perlu memahami hasil-hasil pertanian, anak- anak SMA juga harus tahu proses yang dilakukan oleh para petani. Dari mulai mempersiapkan lahan, menyiapkan bibit tanaman pangan, menanam, merawat, hingga panen. Di sektor pertanian juga perlu ada regenerasi. Saat ini, sebagian besar lahan pertanian di Indonesia diolah dengan cara tradisional. Masih sedikit yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk Bahkan sebagian besar petani bergantung pada musim hujan untuk mengolah lahan Banyak lahan pertanian menganggur di musim kemarau. Melalui kegiatan ini diharapkan ke depannya sektor pertanian akan semakin maju dengan memanfaatkan pesatnya perkembangan Generasi Z yang dekat dengan teknologi informasi, diharapkan dapat mendorong perubahan pada sektor pertanian. Itulah pentingnya kita mengenalkan mereka pada pertanian sejak dini. Narasumber dari kalangan akademisi yang menjabarkan secara detail mengenai implementasi SDGs di Indonesia. (SDGs, 2. Memberikan informasi kepada para pelajar SMA terkait korelasi tujuan kedua SDGs Aomengakhiri kelaparan dan pertanian yang berkelanjutanAo terhadap sektor pertanian di Indonesia. Menurut Yodfiatfinda . Rendahnya minat generasi muda Indonesia terhadap sektor pertanian, bukanlah tanpa alasan. Dukungan dan pengetahuan mengenai hal-hal positif akan memberikan gambaran baru terhadap generasi Z di masa depan mengenai profesi petani kakao di Indonesia. Narasumber menyampaikan pentingnya kontribusi generasi Z dalam membangun Indonesia pada tahun 2045 mendatang. Hal ini dikarenakan generasi milenial dan generasi Z adalah roda penggerak perekonomian Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Pencapaian tersebut perlu didukung dengan salah satu caranya memperbaiki kualitas SDM yaitu generasi Z terkait pemahaman mengenai sektor pertanian. Gambar 1. Pemaparan Materi oleh Narasumber Gambar 1. Siswa mengerjakan kuesioner dan mempersentasikannya Pengabdian Pendidikan Indonesia (PPI) is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International (CC BY-NC 4. Doi: https://doi. org/10. 47709/ppi. Pengabdian Pendidikan Indonesia (PPI) Vol 2 No 01. April 2024 Submitted : 2024-07-18 Accepted : 2024-07-22 Published : 2024-07-22 Kesimpulan Kurangnya minat generasi Z pada sector pertanian merupakan sebuah permasalahan dalam tujuan pembangunan kedepannya. Secara keseluruhan, baik global maupun regional di Asia terjadi penurunan minat untuk menjadi pekerja di sektor pertanian meskipun luas lahan pertanian cenderung Temuan penelitian ini menunjukan bahwa dalam dua dekade terakhir isu yang terkait regenerasi petani muda antara lain akses . ermasuk keterbatasan laha. , kemiskinan, keluarga, dan pendidikan. Akan tetapi term regenerasi ini sendiri paling sedikit digunakan untuk menjelaskan fenomena petani muda dalam sektor pertanian. Tingkat pendidikan anak petani berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga petani. Akan tetapi di dalam keluarga petani terdapat anggapan bahwa untuk terjun ke sektor pertanian tidak memerlukan pendidikan yang mumpuni. Seharusnya keluarga petani perlu meyakinkan anaknya bahwa pendidikan tinggi dibutuhkan agar generasi Z mampu melakukan inovasi dalam teknologi pertanian. Selain itu, masyarakat berperan penting dalam membangun optimisme terhadap masa depan dunia pertanian apabila generasi Z tertarik untuk berkontribusi di sector Selain itu adanya keberhasilan regenerasi petani muda bisa didapatkan apabila adanya dukungan keuangan serta pendidikan tinggi sehingga anak dari keluarga petani mau melanjutkan profesi ini dan mampu melakukan inovasi-inovasi di dunia pertanian. Daftar Pustaka