Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. : Januari-Juni 2024 ISSN 2528-3391 (Prin. ISSN 2776-3153 (Onlin. DOI: http://doi. org/10. Tersedia online di https://jurnalassyifa. Pengetahuan Dan Sikap Perawat Pelaksana Dalam Memberikan Discharge Planning Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Ibnu Sina Kabupaten Pidie Knowledge And Attitude of Implementing Nurses in Providing Discharge Planning in the Inpatient Room RSU Ibnu Sina. Pidie Regency. Aceh Ismuntania1*. Nurlela Mufida2. Azhar Mualim3. Khairunnisa Batubara4. Salamah5 1,2,3 Progran Studi Ilmu Keperawatan Medikal Nurul Islam Sigli Program Studi Profesi Ners. Universitas Audi Indonesia Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Universitas Malikussaleh *Email: Ismuntania366@gmail. ABSTRAK Latar belakang: discharge planning pasien dapat memberikan motivasi untuk mencapai kesembuhan, dapat memberikan dampak terhadap pemendekan lama perawatan pasien di rumah sakit, menurunkan anggaran kebutuhan rumah sakit, menurunkan angka kekambuhan, dan memungkinkan intervensi rencana pulang dilakukan tepat waktu. Tujuan: ntuk mengidentifikasi pengetahuan dan sikap perawat pelaksana tentang discharge planning di Ruang Rawat Inap RSU. Ibnu Sina Kabupaten Pidie. Metode: menggunakan desain penelitian deskriptif untuk melihat gambaran pengetahuan dan sikap perawat dalam memberikan discharge Sampel yang digunakan sebgaai 32 perawat dengan menggunakan metode sampling yaktu total sampling. Hasil penelitian: gambaran pengetahuan perawat tentang discharge planning ialah kategori baik sebanyak 18 orang . ,3%), kategori cukup sebanyak 10 orang . ,2%), dan kategori kurang sebanyak 4 orang . ,5%). Selanjutnya, gambaran sikap perawat dalam melaksanakan discharge planning ialah kategori sikap positif sebanyak 21 orang . ,6%), kategori sikap negatif sebanyak 11 orang . ,4%). Saran: disarankan kepada perawat agar dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai sumber informasi dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kepada pasien, bukan hanya pada saat pasien datang ke rumah sakit tetapi juga pada saat pasien akan pulang juga harus diberikan discharge planning sehingga tingkat kemandirian pasien menjadi lebih baik Kata Kunci: Pengetahuan, sikap, discharge planning, pasien, perawat Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 ABSTRACT Background: patient discharge planning can provide motivation to achieve recovery, can have an impact on shortening the length of patient care in the hospital, reducing the hospital budget, reducing the recurrence rate, and allowing the discharge plan intervention to be carried out on time. Objective: to identify the knowledge and attitudes of implementing nurses about discharge planning in the Inpatient Room of RSU. Ibnu Sina Pidie Regency. Methods: Using a descriptive research design to see a description of the knowledge and attitudes of nurses in providing discharge planning. The sample used as 32 nurses using the sampling method, namely total sampling. The results of the study: the description of nurses' knowledge about discharge planning is in a good category as many as 18 people . 3%), the sufficient category as many as 10 people . 2%), and the less category as many as 4 people . 5%). Furthermore, the description of the attitude of nurses in carrying out discharge planning is a positive attitude category of 21 people . 6%), a negative attitude category of 11 people . 4%). Suggestion: it is recommended that nurses to be able to take advantage of the results of this study as a source of information in an effort to improve the quality of service to patients, not only when the patient comes to the hospital but also when the patient is going home should also be given discharge planning so that the patient's independence level becomes better Keyword: Knowledge, attitude, discharge planning, patient, nurse PENDAHULUAN Discharge planning adalah suatu rencana pulang pada pasien yang ditulis di kertas yang merupakan tujuan dari perencanaan perawatan pasien. Discharge planning pasien dapat memberikan motivasi untuk mencapai kesembuhan, dapat memberikan dampak terhadap pemendekan lama perawatan pasien di rumah sakit, menurunkan anggaran kebutuhan rumah sakit, menurunkan angka kekambuhan, dan memungkinkan intervensi rencana pulang dilakukan tepat waktu. Discharge planning pasien dapat menjalin kerjasama dengan penyedia pelayanan keperawatan yang lebih lanjut. Discharge planning pasien dapat meningkatkan pengetahuan, memiliki kepedulian untuk mengelola perawatan, mengetahui tentang obat-obatan, dan mengetahui tanda-tanda bahaya yang menunjukkan potensial komplikasi. Pelaksanaan discharge planning mencakup perencanaan pulang, persiapan sebelum hari pemulangan klien, dan pada hari pemulangan klien. Discharge planning yang diberikan sejak pasien masuk ke rumah sakit dapat meningkatkan perkembangan kondisi kesehatan dan membantu pasien mencapai kualitas hidup optimum sebelum dipulangkan. Pelaksanaan discharge planning yang baik akan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas kesehatan pasien. Ketidaktahuan atau ketidakmampuan pasien dan keluarga mengenai cara perawatan di rumah berdampak pada masalah kesehatan atau ketidaksiapan pasien menghadapi pemulangan setelah pasien dirawat di rumah sakit. Hal tersebut Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 menyebabkan risiko peningkatan komplikasi dan berakibat kepada hospitalisasi ulang (Potter & Perry, 2. Idealnya discharge planning dimulai saat penerimaan pasien masuk hingga tindakan pada hari pemulangan. Perawat mengkaji semua perubahan kondisi Dan harus terdapat bukti tentang keterlibatan klien dan keluarga dalam proses perencanaan pulang. Klien harus mempunyai informasi yang diperlukan dan sumber yang diperlukan untuk kembali ke rumah sakit. Setelah itu, perawat menyiapkan resume atau format perencanaan pemulangan secara rinci dan diberikan kepada pasien, keluarga atau perawat komunitas. Hal ini mampu meningkatkan kontinuitas perawatan yang terbaik untuk pasien dan dapat meningkatkan kemandirian dan kesiapan pasien serta keluarga saat di rumah (Potter & Perry, 2. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2014 pasal 37d tentang keperawatan bahwa perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan berkewajiban mendokumentasikan asuhan keperawatan sesuai dengan standar. Berdasarkan hasil penelitian Purnamasari dan Ropyanto . di RSUD Tugurejo Semarang sebanyak . ,6%) responden dalam kategori cukup, . ,6%) responden dalam kategori kurang, dan . ,8%) responden dalam kategori baik melaksanakan perencanaan pulang. Selanjutnya hasil penelitian Khalidawati . di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tentang perilaku perawat pelaksana tentang discharge planning menunjukkan bahwa perilaku responden pada kategori baik . ,49%), pengetahuan responden pada kategori baik . ,97%), sikap responden pada kategori positif . ,02%) dan tindakan responden pada kategori baik . ,02%). Berdasarkan hasil wawancara saat studi pendahuluan yang dilakukan pada 2 Maret 2024 di RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie terhadap 10 orang pasien, enam diantaranya mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui rencana perawatan yang akan dijalani selama di rumah sakit dan saat telah keluar dari rumah sakit, perawat jarang menjelaskan tindakan keperawatan yang akan dilakukan, pasien hanya mengetahui tindakan keperawatan dan pengobatan yang akan dilakukan pada saat tim kesehatan akan melakukan tindakan tersebut. Sedangkan empat orang lainnya mengatakan tidak paham sama sekali mengenai apa yang ditanyakan oleh perawat karena mereka fokusnya hanya ingin sembuh. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul AuPengetahuan dan Sikap Perawat Pelaksana dalam Memberikan Discharge Planning di Ruang Rawat Inap RSU Ibnu Sina Kabupaten PidieAy. METODE Sampel dalam penelitian ini adalah semua populasi artinya semua populasi yang tersedia dijadikan sampel karena jumlah populasi kecil dan biasanya disebut dengan total sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 32 orang. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang terdiri dari data demografi responden terdiri dari tanggal pengisian, nama inisial, umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir dan 15 pertanyaan tentang discharge planning Selanjutnya penulis akan menemui calon responden dan melakukan pengumpulan data dengan tahap sebagai berikut: Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 HASIL Berdasarkan hasi penelitian yang telah dilakukan di RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie terhadap responden dengan tehnik pengambilan sampel adalah total sampling sebanyak 32 responden. Hasil yang didapatkan berupa data yang di sajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi untuk mengetahui pengetahuan dan sikap perawat pelaksana dalam memberikan discharge planning di Ruang Rawat Inap RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie. Data Demografi Responden Tabel 1. Distribusi Frekuensi Data Demografi Responden . : . Data demografi responden Umur 20-35 tahun 36-50 tahun >50 tahun Jumlah Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah SPK Diploma Tiga Keperawatan Sarjana Keperawatan Ners Magister Keperawatan Jumlah Frekuensi Persentase(%) Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat diketahui tentang data demografi responden diantaranya adalah responden dominan berusia antara 35-50 tahun sebanyak 13 orang . ,6%). Jenis kelamin responden yang dominan adalah perempuan yakni sebanyak 19 orang . ,4%) dan data demografi terakhir yang diteliti adalah pendidikan terakhir responden yang dominan adalah lulusan Diploma Tiga Keperawatan yakni sebanyak 17 orang . ,1%). Gambaran Pengetahuan Perawat tentang Pelaksanaan Discharge Planning Tabel 2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Perawat tentang Pelaksanaan Discharge Planning . : . No Pengetahuan perawat Baik Cukup Kurang Total Frekuensi Persentase Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa variabel pengetahuan perawat dominan pada kategori baik yakni sebanyak 18 orang pasien . ,3%), selanjutnya dengan kategori cukup sebanyak 10 orang . ,2%) dan kategori kurang sebanyak 4 orang . ,5%). Gambaran Sikap Perawat tentang Pelaksanaan Discharge Planning Tabel 3 Distribusi Frekuensi Sikap Perawat tentang Pelaksanaan Discharge Planning No Sikap perawat Positif Negatif Total Frekuensi Persentase Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa dapat diketahui bahwa variabel sikap perawat dominan pada kategori positif yakni sebanyak 21 orang pasien . ,6%), dan minoritas pada kategori negatif sebanyak 11 orang . ,4%). PEMBAHASAN Pengetahuan perawat pelaksana tentang discharge planning Pembahasan variabel pengetahuan akan membahas tentang deskripsi data yang telah terkumpul berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan. Hasil penelitian yang dilakukan di Ruang Rawat Inap RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie paling banyak perawat pelaksana yaitu sebanyak 18 orang . ,3%) memiliki pengetahuan dalam kategori baik. Pengetahuan yang baik dalam penelitian ini adalah sesuatu yang diketahui atau dipemahaman oleh perawat pelaksana terus bertambah dan berkembang. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Khalidawati . di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tentang perilaku perawat pelaksana tentang discharge planning menunjukkan bahwa perawat pelaksana yang memiliki pengetahuan dalam kategori kurang baik sebanyak 45,03%. Dari hasil data yang didapatkan dari kuesioner yang disebarkan ke perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie, masih ada 4 orang perawat pelaksana yang memiliki pengetahuan dalam kategori kurang baik dan 10 orang perawat pelaksana yang memiliki pengetahuan cukup baik. Nursalam . menyatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil AutahuAy, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni: indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan merupakan landasan utama dan penting bagi tenaga kesehatan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang memiliki tanggung jawab utama dalam pelayanan keperawatan serta pelaksanaan asuhan keperawatan yang holistic dan komprehensif dituntut untuk memiliki pengetahuan yang tinggi dalam profesi keperawatan (Setiawan, 2. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 Notoadmodjo . menyatakan bahwa pengetahuan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu usia. Hal ini sesuai dengan hasil data yang diperoleh untuk usia perawat pelaksana yang menjadi responden paling banyak berada pada kelompok usia 35-50 tahun yang berjumlah 13 orang . ,6%). Usia dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, karena semakin bertambahnya usia maka semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikir seseorang sehingga pelaksana tentang discharge planning yang mencakup defenisi, tujuan, faktor-faktor yang perlu dikaji, prinsip-prinsip dalam penerapan, komponen, dan proses pelaksanaan discharge planning. Perawat pelaksana yang menjadi responden dikategorikan memiliki pengetahuan baik apabila menjawab pertanyaan sebanyak 12-15 pertanyaan benar dari 15 pertanyaan yang diberikan. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Khalidawati . di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tentang perilaku perawat pelaksana tentang discharge planning yang menunjukkan bahwa pengetahuan responden tentang discarge planning dalam kategori baik sebanyak 54,97%. Hal ini dapat terjadi dikarenakan perawat pelaksana yang bekerja di Ruang Rawat Inap RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie sudah memiliki kesadaran yang tinggi untuk mendalami ilmu discharge planning, sehingga pengetahuan perawat pelaksana terus bertambah dan berkembang. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Khalidawati . di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tentang perilaku perawat pelaksana tentang discharge planning menunjukkan bahwa perawat pelaksana yang memiliki pengetahuan dalam kategori kurang baik sebanyak 45,03%. Dari hasil data yang didapatkan dari kuesioner yang disebarkan ke perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie, masih ada 4 orang perawat pelaksana yang memiliki pengetahuan dalam kategori kurang baik dan 10 orang perawat pelaksana yang memiliki pengetahuan cukup baik. Nursalam . menyatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil AutahuAy, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni: indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan merupakan landasan utama dan penting bagi tenaga kesehatan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang memiliki tanggung jawab utama dalam pelayanan keperawatan serta pelaksanaan asuhan keperawatan yang holistic dan komprehensif dituntut untuk memiliki pengetahuan yang tinggi dalam profesi keperawatan. Notoadmodjo . menyatakan bahwa pengetahuan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu usia. Hal ini sesuai dengan hasil data yang diperoleh untuk usia perawat pelaksana yang menjadi responden paling banyak berada pada kelompok usia 35-50 tahun yang berjumlah 13 orang . ,6%). Usia dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, karena semakin Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 bertambahnya usia maka semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikir seseorang sehingga pengetahuan yang diperoleh pun semakin baik. Namun terjadi penurunan daya tangkap pada usia lanjut yang dipengaruhi oleh faktor fisiologis. Lamanya masa kerja juga dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, semakin lama seseorang bekerja dalam suatu bidang tertentu maka pengetahuan yang dimiliki akan semakin baik. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Khalidawati . di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tentang perilaku perawat pelaksana tentang discharge planning terdapat responden paling banyak berpendidikan Diploma Tiga Keperawatan yang paling banyak responden berpendidikan Diploma Tiga Keperawatan sebanyak 75,39% dengan hasil penelitian responden memiliki pengetahuan dalam kategori baik yaitu sebanyak 54,97%. Berdasarkan pembahasan diatas peneliti menyimpulkan bahwa perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie yang menjadi responden memiliki pengetahuan baik. Peneliti berpendapat bahwa perawat pelaksana telah melakukan penginderaan dengan baik dan memiliki kesadaran untuk lebih mendalami ilmu tentang discharge planning seperti mengikuti pelatihan dan seminar, aktif mencari informasi tentang discharge planning dari berbagai sumber informasi seperti media massa seperti internet, buku, televisi dan radio. Sikap perawat pelaksana dalam memberikan discharge planning Pembahasan variabel sikap akan membahas tentang deskripsi data yang telah Hasil penelitian yang dilakukan di Ruang RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie paling banyak perawat pelaksana yaitu sebanyak 21 orang . ,6%) mempunyai sikap positif dalam memberikan discharge planning. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Khalidawati . di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tentang perilaku perawat pelaksana tentang discharge planning yang menunjukkan bahwa sikap responden pada kategori positif sebanyak 67,02% Hal ini dapat terjadi dikarenakan perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie dan RSUD telah memiliki pengetahuan yang baik sehingga perawat tersebut memiliki respon batin yang baik dalam bersikap saat memberikan pelayanan keperawatan termasuk discharge planning kepada pasien. Dari hasil data yang didapatkan dari kuesioner yang disebarkan ke perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie masih ada 11 orang perawat pelaksana yang memiliki sikap dalam kategori negatif. Secara definitif sikap berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan berfikir yang disiapkan untuk memberikan tanggapan terhadap suatu objek yang di Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 organisasikan melalui pengalaman serta mempengaruhi secara langsung atau tidak langsung pada praktik atau tindakan. Sikap sebagai suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap merupakan suatu sindrom atau kumpulan gejala dalam merespon stimulus atau objek, dalam kata lain fungsi sikap belum merupakan tindakan akan tetapi merupakan predisposisi perilaku (Notoatmodjo, 2. Hal ini sesuai dengan penelitian ini dimana perawat pelaksana di ruang rawat inap Ruang Rawat RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie sudah memiliki pengetahuan yang baik tentang discharge planning . ,8%) sehingga didapat bahwa 97,5% perawat pelaksana sudah memiliki sikap positif yang artinya perawat pelaksana sudah memahami tentang prosedur pelaksanaan discharge planning sehingga menimbulkan respon batin yang baik untuk bersikap positif dalam memberikan discharge planning pada pasien. Perawat pelaksana yang masih memiliki sikap negatif sebaiknya dapat terpengaruh dengan sikap perawat lain sehingga dapat bersikap positif dalam memberikan pelayanan keperawatan termasuk discharge planning. Hal lain yang mempengaruhi sikap adalah banyaknya pengalaman, semakin banyak pengalaman maka semakin banyak tindakan yang telah dilakukan, sehingga seseorang tersebut dapat menilai akibat yang ditimbulkan dari tindakan yang pernah dilakukan apakah menimbulkan dampak baik atau buruk sehingga individu tersebut dapat menyikapi lebih baik keadaan yang sama di kejadian yang berikutnya. Berdasarkan pembahasan di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa perawat pelaksana di Ruang Rawat RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie yang menjadi responden memiliki sikap yang positif yang artinya perawat pelaksana telah mengetahui discharge planning dengan baiksehingga memiliki respon batin yang baik untuk bersikap positif dalam memberian discharge planning. Sikap positif yang dimiliki perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie sangat bermanfaat bagi rumah sakit, dengan adanya sikap yang positif di dalam diri perawat pelaksana diharapkan perawat pelaksana dapat menerapkannya dalam praktik keperawatan sehari-hari sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit karena pelayanan keperawatan merupakan salah satu dari pelayanan rumah sakit. SIMPULAN Pengetahuan perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap RSU Ibnu Sina Kabupaten Pidie sebagian besar memiliki pengetahuan tentang discharge planning dengan kategori baik yakni sebanyak 18 orang . ,3%), kategori cukup sebanyak 10 orang . ,2%), dan kategori kurang sebanyak 4 orang . ,5%). Sikap perawat dalam melaksanakan discharge planning ialah kategori sikap positif sebanyak 21 orang . ,6%), kategori sikap negatif sebanyak Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Januari-Juni 2024 11 orang . ,4%). Perawat pelaksana memiliki dalam memberikan discharge planning DAFTAR PUSTAKA