21 . Teknika http://journals. id/index. php/teknika Evaluasi Kinerja Sistem Drainase dan Rumah Pompa dalam Pengendalian Banjir di Kawasan Pasar Waru Kota Semarang Fitria Maya Lestari 1,Burhanudin Mukhamad Noor 2. Puja Aulia3. Moch Sediono4 1,2,3,4 Universitas Semarang. Indonesia DOI: https://doi. org/10. 26623/teknika. Info Artikel Abstrak ___________________ ____________________________________________________________ Sejarah Artikel: Disubmit 07 Januarir 2026 Direvisi 02 Februari 2026 Disetujui 19 Februari 2026 Kawasan Pasar Waru Kota Semarang merupakan salah satu daerah rawan banjir. Banjir yang dipengaruhi oleh curah hujan tinggi, penurunan muka tanah, dan sistem drainase yang belum Sistem drainase di kawasan ini terdiri dari empat ruas saluran utama yang mengarah ke Rumah Pompa Pasar Waru sebagai titik pengendali akhir sebelum air dialirkan ke saluran pembuangan utama yaitu Kanal Banjir Timur. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas sistem drainase dan rumah pompa dalam mengalirkan debit limpasan dari wilayah studi menggunakan analisis hidrologi dan hidrolika. Berdasarkan hasil analisis hidrologi, perhitungan debit menggunakan metode rasional dan haspersSaluran 4 kala ulang 10th sebesar 13,30 mA/detik. Namun, kapasitas saluran eksisting hanya 11,14 mA/detik sehingga terjadi limpasan perlu dilakukan peningkatan kapasitas menjadi 13,45 mA/detik. Agar dapat mengakomodasi debit limpasan yang terjadi. Saluran lainnya telah memenuhi kapasitas debit rencana, termasuk Saluran 1 yang ditingkatkan menjadi 9,24 mA/detik. Pada aspek penampungan. Kolam Retensi 1 kapasitas 85. 669,2 mA menampung debit sebesar 19,41 mA/detik selama 60 menit. Sedangkan. Kolam Retensi 2 volume sebesar 22. 187,2 mA tidak mencukupi untuk debit 20,17 mA/detik selama 20 menit, sehingga perlu dilakukan peningkatan dimensi kolam untuk menambah kapasitas tampungnya. Sistem rumah pompa eksisting memiliki dua unit pompa dengan total kapasitas 63,474 mA/detik dan mampu menangani debit limpasan sebesar 23,889 mA/detik setelah memperhitungkan debit banjir sebesar 39,585 mA/detik. Secara keseluruhan, sistem drainase dan rumah pompa eksisting pada kawasan Pasar Waru dinilai cukup efektif dalam mendukung pengendalian banjir, namun masih diperlukan optimalisasi saluran serta peningkatan kapasitas tampungan kolam retensi untuk mengurangi risiko genangan ___________________ Keywords: Runoff Discharge. Pump Capacity. Retention Pond. Existing Channel. Pump Station _______________________ Abstract ____________________________________________________________ The Pasar Waru area in Semarang City is one of the flood-prone regions, influenced by high rainfall intensity, land subsidence, and a suboptimal drainage system. The drainage system in this area consists of four main channels leading to the Pasar Waru Pump Station, which serves as the final control point before water is discharged into the main outlet, the East Flood Canal. This study aims to analyze the effectiveness of the drainage system and pump station in conveying surface runoff from the study area using hydrological and hydraulic analysis. Based on hydrological analysis, runoff discharge was calculated using the Rational and Hasper methods. Channel 4, with a 10-year return period, produces a discharge of 13. 30 mA/s, while the existing channel capacity is only 11. 14 mA/s, indicating overflow. Thus, an increase in capacity to 13. mA/s is required to accommodate the runoff. Other channels already meet the design discharge capacity, including Channel 1, which has been upgraded to 9. 24 mA/s. In terms of storage. Retention Pond 1 with a capacity of 85,669. 2 mA can store 19. 41 mA/s of discharge for 60 minutes. However. Retention Pond 2, with a volume of 22,187. 2 mA, is insufficient to store 20. 17 mA/s for 20 minutes, indicating the need for dimensional enlargement to increase its capacity. The existing pump station system includes two pump units with a total capacity of 63. 474 mA/s and is capable of handling a runoff discharge of 23. 889 mA/s after considering the flood discharge of 39. 585 mA/s. Overall, the existing drainage system and pump station in the Pasar Waru area are considered fairly effective in supporting flood control, although further optimization of channels and enhancement of retention pond capacity are necessary to reduce inundation risk. Alamat Korespondensi: E-mail: fitria@usm. p-ISSN 1410-4202 e-ISSN 2580-8478 Teknika 4 . PENDAHULUAN Kota Semarang merupakan salah satu kota di Indonesia yang rentan terhadap banjir dan genangan air, terutama saat musim hujan. Lebih dari 30% wilayah kota terdampak banjir setiap tahun, dengan kawasan Pasar Waru sebagai salah satu daerah yang paling sering mengalami genangan air (BPBD, 2. Data menunjukkan bahwa curah hujan tahunan di Semarang meningkat sekitar 2Ae5% per dekade, menyebabkan tekanan lebih besar pada sistem drainase perkotaan (Nidhom et al. , 2. Sistem drainase perkotaan melayani pembuangan air berlebih di kota dengan mengalirkannya melalui permukaan atau bawah tanah menuju sungai, danau, dan laut, termasuk limpasan air hujan, air limbah domestik, dan air limbah industry (Lestari. Afifah, et al. , 2. Berbagai infrastruktur telah dibangun untuk mengatasi masalah ini, termasuk rumah pompa air, kolam retensi, dan perbaikan sistem drainase (BBWS Pemali Juana, 2. Salah satu fasilitas utama adalah Rumah Pompa Pasar Waru, yang dirancang untuk mengalirkan air dari daerah genangan ke saluran utama. Namun, meskipun pompa telah beroperasi dalam beberapa tahun terakhir, genangan air masih terjadi dan membutuhkan waktu lama untuk surut setelah hujan deras (Irawan et al. , 2. Dalam lima tahun terakhir, frekuensi dan durasi genangan meningkat. Data menunjukkan bahwa durasi genangan di Pasar Waru bertambah sekitar 20Ae30% dibandingkan periode sebelumnya akibat kombinasi curah hujan tinggi, penurunan tanah, dan sistem drainase yang tidak optimal (Lestari. Budiningrum, et al. , 2. Perubahan topografi Kota Semarang mengalami penurunan muka tanah . and subsidenc. dengan rata-rata 3Ae10 cm per tahun, terutama di daerah dataran rendah seperti kawasan Pasar Waru Sawah Besar. Hal ini memperburuk masalah banjir karena drainase alami semakin sulit berfungsi (Kompas, 2. Beberapa studi menyebutkan bahwa lumpur dan sampah sering menghambat aliran air dalam drainase di Pasar Waru. Kurangnya pemeliharaan rutin memperburuk masalah ini (Amin et al. , 2. Efektivitas sistem pompa air dalam rumah pompa ini masih menjadi perhatian, terutama karena beberapa tantangan teknis dan lingkungan. Menurut (Hasan & Widyanto, 2. mengungkapkan bahwa kapasitas pompa yang tidak optimal sering kali menjadi penyebab utama kegagalan pengendalian banjir dalam sistem drainase perkotaan. Pada penelitian (Kurnia et al. , 2. menemukan bahwa pemeliharaan rutin dan evaluasi berkala sangat diperlukan untuk menjaga efektivitas rumah pompa dan mencegah penurunan kinerja akibat faktor teknis seperti usia pompa, korosi, atau akumulasi sedimentasi. Selain itu, tantangan lain seperti sistem drainase yang kurang efektif, sedimentasi, dan peningkatan permukaan kedap air akibat urbanisasi juga turut memengaruhi efektivitas operasional rumah pompa. Penelitian terdahulu telah banyak membahas peran rumah pompa dalam sistem drainase kota. Namun, sebagian besar studi masih terbatas pada evaluasi deskriptif tanpa analisis kuantitatif. Selain itu, belum ada penelitian spesifik yang mengkaji efektivitas Rumah Pompa Pasar Waru secara mendalam, termasuk faktor lingkungan dan perubahan curah hujan sebagai variabel utama dalam kinerja sistem pompa. Pada penelitian yang berjudul AuEvaluasi Kinerja Sistem Drainase dan Rumah Pompa dalam Pengendalian Banjir di Kawasan Pasar Waru Kota SemarangAy akan memberikan kontribusi baru dalam pengembangan ilmu pengetahuan dengan melakukan evaluasi berbasis data real-time dan simulasi hidraulik, yang dapat digunakan untuk memproyeksikan efektivitas pompa dalam berbagai kondisi cuaca. Selain itu, hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah Kota Semarang dalam meningkatkan pengelolaan rumah pompa dan sistem drainase untuk mengurangi risiko banjir. Secara praktis, rekomendasi dari penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam perencanaan infrastruktur drainase yang lebih efektif dan berkelanjutan di masa METODE Penelitian ini dilakukan di kawasan Pasar Waru. Kelurahan Kaligawe. Kecamatan Gayamsari. Kota Semarang. Lokasi tersebut berada di Sub-DAS Sungai Tenggang, yang merupakan daerah dengan topografi rendah dan rawan genangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengevaluasi efektivitas sistem drainase dan rumah pompa dalam mengalirkan debit limpasan permukaan akibat hujan. Teknika 4 . Data yang digunakan terdiri dari data primer, data sekunder, dan data observasi. Data primer diperoleh melalui survei lapangan, meliputi pengukuran dimensi saluran eksisting dan kolam retensi menggunakan alat total station dan GPS geodetik. Pengamatan dilakukan pada segmen saluran Sawah Besar Vi dan XV, serta kolam retensi 1 dan 2. Data sekunder diperoleh dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang dan BBWS Pemali-Juana, berupa gambar layout drainase, spesifikasi pompa, serta rencana teknis bangunan eksisting. Data curah hujan harian periode 2012Ae2021 diperoleh dari empat stasiun hujan yaitu Karangroto. Simongan. Maritim, dan Pucanggading, dan digunakan untuk keperluan analisis hidrologi. Sumber: Google Earth Gambar 1 Lokasi Rumah Pompa Waru Debit dihitung menggunakan Metode Rasional dan Haspers, sedangkan kapasitas saluran ditentukan dengan persamaan aliran terbuka. Kapasitas kolam dihitung dari volume penampung dan durasi limpasan. Efektivitas pompa dievaluasi berdasarkan perbandingan debit banjir dan kapasitas Data diuji kecocokannya dengan distribusi probabilitas Log Pearson i dan Gumbel (Soemarto, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Hidrologi Curah Hujan Maksimum Data curah hujan harian maksimum merupakan data yang digunakan pada analisa hidrologi. Data curah hujan harian didapatkan secara lengkap selama 12 tahun. Mulai 2012 hingga 2023 dengan 4 stasiun hujan yang berpengaruh yaitu Stasiun Hujan Karangroto. Stasiun Hujan Pucang Gading. Stasiun Hujan Simongan, dan Stasiun Hujan Maritim Semarang Analisis hidrologi dilakukan dengan menggunakan metode Poligon Thiessen (Suripin, 2. Metode ini digunakan untuk mengetahui luas area atau persentase dari beberapa statiun hujan Pada penelitian ini terdapat 4 stasiun hujan terdekat dengan catchment area sub-das sistem Pasar Waru (Sawah Besa. yaitu Stasiun Hujan Karangroto. Stasiun Hujan Pucang Gading. Stasiun Hujan Simongan, dan Stasiun Hujan Maritim Semarang. Plotting Lokasi Stasiun hujan tersaji pada Teknika 4 . Sumber: Hasil Analisis, 2025 Gambar 2 Poligon Thiessen Sub DAS Tenggang dengan 4 Statiun Hujan Berdasarkan gambar 2 terlihat bahwa hanya satu stasiun hujan yang berpengaruh pada Catchmen area sawah besar yaitu sta. Hujan maritim. Oleh karena itu untuk selanjutnya analisis yang dilakukan akan menggunakan stasiun hujan maritim. Data hujan sta. Maritim disajikan pada tabel 1 Tabel 1 Curah Hujan Statiun Hujan Maritim Semarang No. Tanggal CH . 04/02/2012 23/02/2013 23/01/2014 15/06/2015 09/10/2016 02/10/2017 12/04/2018 02/08/2019 01/08/2020 02/06/2021 30/12/2022 29/12/2023 Sumber: BBWS Pemali Ae Juana Analisis frekuensi curah hujan merupakan langkah penting yang harus dilakukan sebelum menentukan debit rencana (Lestari & Tutuko, 2. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemungkinan terjadinya curah hujan dengan intensitas tertentu pada periode ulang tertentu. Analisis sistem drainase di kawasan Sawah Besar menggunakan curah hujan 10 tahun. Terlebih dahulu perlu dilakukan analisis parameter statistik sebagai berikut: No. Tahun CH . 96,00 135,00 Tabel 2 Uji Parameter Statistik (Xi-X) (Xi-X)2 (Xi-X)3 (Xi-X)4 -7,10 50,41 -357,91 2541,17 31,90 1017,61 32461,75 1035530,11 103,10 Teknika 4 . 120,50 17,40 302,76 5268,02 91663,62 54,00 -49,10 2410,82 -118370,77 5812004,86 74,00 -29,10 846,81 -24641,17 717087,18 60,00 -43,10 1857,61 -80062,99 3450714,91 105,70 2,60 6,76 17,58 45,70 92,70 -10,40 108,16 -1124,86 11698,59 67,50 -35,60 1267,36 -45118,02 1606201,37 135,80 32,70 1069,29 34965,78 1143381,10 196,00 92,90 8630,41 801765,09 74483976,77 100,00 -3,10 9,61 -29,79 92,35 577,60 771,72 937,72 Jumlah 237,20 Sumber: Hasil Analisis, 2025 Berdasarkan hasil analisis parameter statistik, maka pada penulisan tugas akhir ini digunakan metode Gumbel dan Log Pearson i untuk menganalisis curah hujan maksimum harian rencana, dengan hasil akhir ditentukan dari metode yang memenuhi uji kecocokan distribusi. Tabel 3 Hasil Perhitungan Statistik Metode Log Person i Log X (Log X-Log XA. (LogX- LogXA. (LogX-LogXA. 3 No. Tahun 96,00 2,29 0,31 0,09 0,00 135,00 2,13 0,15 0,02 0,00 120,50 2,13 0,15 0,02 0,00 54,00 2,08 0,10 0,01 0,00 74,00 2,02 0,04 0,00 0,00 60,00 2,00 0,02 0,00 0,00 105,70 1,98 0,00 0,00 0,00 92,70 1,97 -0,02 0,00 0,00 67,50 1,87 -0,12 0,01 0,00 135,80 1,83 -0,16 0,02 0,00 196,00 1,78 -0,21 0,04 0,00 100,00 1,73 -0,25 0,06 0,00 237,20 23,82 0,00 0,29 0,00 Jumlah 1,98 Sumber: Hasil Analisis, 2025 Tabel 4 Curah Hujan Ulang metode Log Person i Periode Ulang (Tahu. CH. Ratarata . Tandar Deviasi 1,99 0,16 Nilai K Log Xt 0,00 1,98 Hujan Harian Maks . m/ja. 96,32 0,84 2,26 180,76 1,29 2,40 251,63 Teknika 4 . Sumber: Hasil Analisis 2025 Tabel 5 Hasil Perhitungan Statistik Metode Gumbel CH . (Xi-X) (Xi-X)2 (Xi-X)3 (Xi-X)4 No. Tahun 96,00 92,90 8630,41 801765,09 74483976,77 135,00 32,70 1069,29 34965,78 1143381,10 120,50 31,90 1017,61 32461,76 1035530,11 54,00 17,40 302,76 5268,02 91663,62 74,00 2,60 6,76 17,58 45,70 60,00 -3,10 9,61 -29,79 92,35 105,70 -7,10 50,41 -357,91 2541,17 92,70 -10,40 108,16 -1124,86 11698,18 67,50 -29,10 846,81 -24642,17 717087,18 135,80 -35,60 1267,36 -45118,02 1606201,37 196,00 -43,10 1857,61 -80062,99 3450714,91 100,00 -49,10 2410,81 -118370,77 5812004,86 237,20 0,00 17577,60 604771,72 88354937,72 Jumlah 103,10 Sumber: Hasil Analisis, 2025 Tabel 6 Curah Hujan Ulang metode Log Person i Periode Ulang (Tahu. CH. Ratarata . 103,10 Standar Deviasi Nilai Sn 39,98 0,98 Nilai K Hujan Harian Maks . m/ja. -0,14 97,46 1,01 143,51 1,78 174,06 Sumber: Hasil Analisis 2025 Analisis Debit Dalam perencanaan sistem drainase kawasan, salah satu tahapan penting adalah analisis debit puncak yang digunakan sebagai dasar dalam menentukan kapasitas saluran atau sistem pengendali Pada penelitian ini catchment area atau daerah tangkapan hujan yang diteliti memiliki luas sebesar 128,39 ha atau 1. 851 mA. Analisis Debit dapat dilakukan dengan menggunakan 2 metode yaitu Metode Rasional dan Metode Haspers. Teknika 4 . Sumber: Hasil Analisis, 2025 Gambar 1 Catchment Area Kawan Pasar Waru/Sawah Besar Tabel 7 Rekap Analisi Debit Banjir Metode Rasional Q Sal 1 Q Sal 2 Q Sal 3 . 3/deti. 3/deti. 3/deti. 4,67 3,43 6,62 T (Tahu. Q Sal 4 . 3/deti. 7,44 6,88 5,05 9,75 10,93 8,35 6,12 11,83 13,30 Sumber: Hasil Analisis, 2025 Tabel 8 Rekap Analisi Debit Banjir Metode Rasional Q Sal 1 Q Sal 2 Q Sal 3 . 3/deti. 3/deti. 3/deti. 5,35 3,83 8,43 T (Tahu. Q Sal 4 . 3/deti. 9,39 7,88 5,65 12,42 13,83 9,56 6,82 15,06 16,77 Sumber: Hasil Analisis, 2025 Analisis Hidrolika Analisis hidrolika dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan saluran drainase dalam mengalirkan debit air yang terjadi, serta untuk menilai apakah dimensi penampang saluran telah mencukupi dalam menampung aliran air hujan pada kondisi puncak. Kajian ini bertujuan untuk memastikan bahwa desain saluran mampu menghindari terjadinya limpasan air yang berpotensi menimbulkan genangan atau banjir, terutama saat curah hujan tinggi. Analisis Hidrolika meliputi analisis kapasitas drainase, analisis drainase rencana, kolam retensi rencana. Untuk mengetahui kapasitas drainase, perlu diketahui bahwa pada penelitian ini, penampang saluran berbentuk persegi panjang . egi empa. Berdasarkan data yang telah diperoleh, kapasitas maksimum debit saluran kemudian dihitung menggunakan persamaan Manning, yang merupakan salah satu metode standar dalam analisis hidrolika saluran terbuka. Saluran Q kala . Tabel 9 Luas Penampang Dimensi Saluran Eksisting Dimensi Saluran Keliling Slope Luas Lokasi L . Basah Jari-Jari Saluran Penampang . Saluran Hidrolis Basah . ) . Teknika 4 . Jl. Sawah Besar IX Jl. Sawah Besar XV-Xi Jl. Sawah Besar Raya 0,016 1,50 1,50 1,20 1,80 3,90 0,46 0,015 1,75 1,75 1,20 2,10 4,15 0,51 0,018 1,50 1,50 1,50 2,25 4,50 0,50 Jl. Batursari 0,023 1,50 1,50 1,20 1,80 3,90 0,46 Sumber: Hasil Analisis, 2025 Saluran Q kala Ulang . Tabel 10 Analisis Passing Capacity Drainase Eksisting Manning Kontrol Lokasi Saluram Rencana . m/detik m3/detik m3/detik 4,67 Jl. Sawah 6,88 0,013 4,44 7,99 Besar I-X 8,35 Jl. Sawah Besar XV-Xi Jl. Sawah Besar Raya Jl. Batursari 0,013 5,98 12,56 0,013 14,63 0,013 6,19 11,14 3,34 5,05 6,12 6,62 9,75 11,83 7,45 10,93 13,30 Kontrol Aman Aman Tidak Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman Tidak Aman Sumber: Hasil Analisis, 2025 Analisis Drainase Rencana Analisis ini bertujuan sebagai bentuk verifikasi terhadap hasil perhitungan analisis kapasitas drainase, karena terdapat penampang saluran yang tidak memenuhi syarat dari perbandingan nilai debit kapasitas dengan debit rencana saluran, guna memastikan bahwa saluran yang dirancang mampu mengalirkan debit tersebut secara efektif. Dalam sistem drainase permukaan . urface drainag. , aliran air umumnya dialirkan melalui saluran dengan berbagai bentuk penampang, seperti segitiga, persegi empat, trapesium, maupun setengah lingkaran. Saluran Q kala . Tabel 11 Luas Penampang Dimensi Saluran Rencana Dimensi Saluran Keliling Slope Luas Lokasi L . Basah Jari-Jari Saluran Penampang . Saluran Hidrolis Basah . ) . 0,016 1,50 1,50 1,20 2,03 4,20 0,48 Teknika 4 . Jl. Sawah Besar IX Jl. Sawah Besar XV-Xi Jl. Sawah Besar Raya 0,015 1,75 1,75 1,20 2,10 4,15 0,51 0,018 1,50 1,50 1,50 2,25 4,50 0,50 Jl. Batursari 0,023 1,50 1,50 1,35 2,03 4,20 0,48 Sumber: Hasil Analisis, 2025 Saluran Q kala Ulang . Tabel 12 Analisis Passing Capacity Drainase Eksisting Manning Kontrol Lokasi Saluram Rencana . m/detik m3/detik m3/detik 4,67 Jl. Sawah 0,013 4,56 9,24 6,88 Besar I-X 8,35 Jl. Sawah 3,34 Besar 0,013 5,98 12,56 5,05 XV-Xi 6,12 Jl. Sawah 6,62 Besar 0,013 14,63 9,75 Raya 11,83 7,45 Jl. 0,013 6,64 13,45 10,93 Batursari 13,30 Kontrol Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman Sumber: Hasil Analisis, 2025 Kapasitas Kolam Retensi Volume kolam retensi/penampung dihitung berdasarkan debit yang masuk dari beberapa saluran. Untuk menghitung kapasitas kolam retensi diasumsikan volume air dapat tertampung selama 60 menit tanpa dipompa. Kolam Retensi 1 Kolam retensi 1 berfungsi sebagai tampungan sementara untuk mengendalikan debit limpasan dari Saluran 2 dan Saluran 4. Saluran 2 memiliki panjang 0,76 km dengan cakupan daerah aliran seluas 0,17 kmA, sementara Saluran 4 memiliki panjang 1,48 km dengan luas daerah aliran mencapai 0,46 kmA. Teknika 4 . Sumber: BBWS Pemali-Juana, 2025 Gambar 2 Kolam Retensi 1 Sumber: Hasil Analisis, 2025 Gambar 3 Penampang Kapasitas Kolam Retensi 1 Kolam Retensi 2 Kolam retensi 2 berfungsi sebagai tampungan sementara untuk mengendalikan debit limpasan dari Saluran 1 dan Saluran 3. Saluran 1 memiliki panjang 0,80 km dengan cakupan daerah aliran seluas 0,23 kmA kmA, sementara Saluran 3 memiliki panjang 1,33 km km dengan luas daerah aliran mencapai 0,42 kmA. Sumber: BBWS Pemali-Juana, 2025 Gambar 4 Kolam retensi 2 Teknika 4 . Sumber: Hasil Analisis, 2025 Gambar 5 Penampang Kapasitas dan rencana Kolam Retensi 2 Analisis Efektifitas Pompa Berikut adalah spesifikasi lengkap dari produk pompa hidrolik yang digunakan di Rumah Pompa Waru: Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2025 Gambar 6 Spesifikasi Pompa di Rumah Pompa Waru Pabrikan Nama Unit Serial Number Engine Merk Daya (Powe. Jenis Pompa Kapasitas Aliran Kecepatan Putaran Tekanan Maksimum Kapasitas Tangki Oli Jumlah Pompa : PT. Camada Jaya Teknindo. Semarang : Hydraulic Power Unit (HPU) : HPU-PWR02390020002021 : EMM Elektrim : 250 kW : Axial Piston Pump : 528,95 LPM = 31. 737 LPD : 1. 490 RPM : 200 Bar : 1. 500 Liter : 2 buah Debit pompa yang masuk diperkirakan sebesar . ebit saluran 1 . : 39. 585 lt/dtk Sehingga jumlah pompa yang dibutuhkan : debit pompa flow pompa =1,25=2 Buah . peneliti melakukan simulasi operasi pompa dengan asumsi intensitas hujan yang terjadi konstan dalam waktu 180 menit. Teknika 4 . Tabel 1 Simulasi Cara Kerja Pompa Banjir di Rumah Pompa Pasar Waru Status Elevasi Ambang Batas Status Kerja Pompa 1,30 Pompa On 2 Unit 1,20 Pompa On 2 Unit 1,10 Pompa On 2 Unit 1,00 Pompa On 2 Unit HWL (High Water Awas 0,90 Pompa On 2 Unit Leve. 0,80 Pompa On 2 Unit 0,70 Pompa On 2 Unit 0,60 Pompa On 2 Unit 0,50 Pompa On 2 Unit 0,40 Pompa On 2 Unit 0,30 Pompa On 2 Unit 0,20 Pompa On 2 Unit 0,10 Pompa On 2 Unit 0,00 Pompa On 2 Unit -0,10 Pompa On 2 Unit -0,20 NWL ( Normal Pompa On 2 Unit Siaga -0,30 Water Leve. Pompa On 2 Unit -0,40 Pompa On 2 Unit -0,50 Pompa On 2 Unit -0,60 Pompa On 2 Unit -0,70 Pompa On 2 Unit -0,80 Pompa On 2 Unit -0,90 Pompa On 2 Unit -1,00 Pompa On 1 Unit -1,10 Pompa On 1 Unit -1,20 Pompa On 1 Unit -1,30 Pompa On 1 Unit -1,40 Pompa On 1 Unit NWL ( Normal Siap -1,50 Pompa On 1 Unit Water Leve. -1,60 Pompa On 1 Unit -1,70 Pompa On 1 Unit -1,80 Pompa On 1 Unit -1,90 Pompa On 1 Unit -2,00 Pompa On 1 Unit -2,10 Pompa tidak hidup -2,20 Pompa tidak hidup -2,30 Pompa tidak hidup -2,40 Pompa tidak hidup -2,50 Pompa tidak hidup -2,60 LWL (Low Water Pompa tidak hidup Dead Storage -2,70 Leve. Pompa tidak hidup -2,80 Pompa tidak hidup -2,90 Pompa tidak hidup -3,00 Pompa tidak hidup -3,10 Pompa tidak hidup -3,20 Pompa tidak hidup Teknika 4 . -3,30 -3,40 -3,50 -3,60 -3,70 -3,80 -3,90 -4,00 -4,10 Pompa tidak hidup Pompa tidak hidup Pompa tidak hidup Pompa tidak hidup Pompa tidak hidup Pompa tidak hidup Pompa tidak hidup Pompa tidak hidup Pompa tidak hidup Sumber: Hasil Analisis, 2025 SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis hidrologi, hidrolika, serta evaluasi sistem drainase dan pompa di kawasan Pasar Waru. Kota Semarang, dapat disimpulkan bahwa: Debit eksisting untuk Saluran 1 diperoleh debit 4,67 mA/detik untuk kala ulang 2th , kala ulang 5th sebesar 6,88 mA/detik, dan kala ulang 10th sebesar 8,35 mA/detik. Saluran 2 diperoleh debit 3,43 mA/detik untuk kala ulang 2th , kala ulang 5th sebesar 5,05 mA/detik, dan kala ulang 10th 6,12 mA/detik. Saluran 3 menghasilkan 6,62 mA/detik untuk kala ulang 2 th, 9,75 mA/detik untuk kala ulang 5th, dan 11,83 mA/detik untuk kala ulang 10th . Sedangkan Saluran 4 perolehan debit sebesar 7,44 mA/detik untuk kala ulang 2th , kala ulang 5th sebesar 10,93 mA/detik, dan 13,30 dan kala ulang 10th sebesar mA/detik. Evaluasi terhadap kapasitas saluran eksisting menunjukkan bahwa Saluran 1 memiliki kapasitas 7,99 mA/detik. Saluran 2 sebesar 12,56 mA/detik. Saluran 3 sebesar 14,63 mA/detik, dan Saluran 4 sebesar 11,14 mA/detik. Secara umum, seluruh saluran telah mampu mengalirkan debit banjir rencana hingga periode ulang 10 tahun, kecuali pada Saluran 1 dan Saluran 4 yang kapasitasnya masih sedikit lebih rendah dari kebutuhan. Oleh karena itu, dirancang perbaikan pada dimensi saluran, khususnya pada Saluran 1 dan Saluran 4, yang semula memiliki kedalaman 1,2 meter ditingkatkan menjadi 1,35 meter untuk meningkatkan kapasitas aliran. Dengan perubahan tersebut, kapasitas Saluran 1 meningkat menjadi 9,24 mA/detik, sedangkan Saluran 4 ditingkatkan menjadi 13,45 mA/detik, sehingga keduanya mampu mengalirkan debit banjir secara optimal. Dari aspek kolam retensi, terdapat dua kolam dengan fungsi utama sebagai penampung sementara debit limpasan. Kolam Retensi 1 memiliki luas 23. 797 mA dengan debit masuk dari Saluran 2 dan 4 sebesar 19. 413 liter/detik. Kolam ini memiliki volume tampungan sebesar 85. 669,2 mA dan kebutuhan tampungan sebesar 69. 886,8 mA, sehingga masih mampu menampung air selama 60 menit. Sebaliknya. Kolam Retensi 2 memiliki luas 4. 528,34 mA dan menerima debit masuk dari Saluran 1 dan 3 sebesar 20. 172 liter/detik. Volume tampungan kolam ini hanya sebesar 22. 187,2 mA, sementara kebutuhan tampungan untuk durasi 20 88 menit mencapai 24. 206,4 mA. Oleh karena itu, volume Kolam Retensi 2 belum mencukupi. Maka dilakukan perencanaan penambahan volume tampungan melalui peningkatan kedalaman kolam dari semula 4,9 meter menjadi 5,4 meter. Dengan perubahan tersebut, kapasitas Saluran 1 meningkat menjadi 24. 451,2 mA, sehingga memenuhi kapasitas tampung rencana dan mengurangi potensi terjadinya limpasan berlebih saat hujan deras. Dalam aspek pompanisasi, sistem drainase kawasan Pasar Waru saat ini dilengkapi dua unit pompa dengan merk CMD produksi PT. Camada Jaya Teknindo, yang masing-masing memiliki kapasitas 528,95 liter/menit, atau total 31. 737 liter/detik. Debit banjir yang dihasilkan dari seluruh sistem sebesar 39. 585 liter/detik, sedangkan debit limpasan setelah dikurangi kapasitas 2 pompa adalah sebesar 23. 889 liter/detik. Dengan demikian, sistem ini mampu mengalirkan debit limpasan secara keseluruhan karena beban limpasan yang ditangani berada dalam batas kapasitas operasional Teknika 4 . Hal ini menunjukkan bahwa dengan pengaturan operasi pompa yang optimal serta dukungan infrastruktur drainase yang memadai, risiko genangan atau banjir di kawasan Pasar Waru dapat diminimalkan secara signifikan DAFTAR PUSTAKA