Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 http://jurnal.unw.ac.id:1254/index.php/IJEC Manajemen Kreativitas Pengajaran Musik Pendidikan Anak Usia Dini di Masa Pandemi Covid 19 Hari Sasongko1, Christina Dwi Hartanti2 Pascasarjana Musik Gereja STT Abdiel Ungaran1, Program S3 Manajemen Pendidikan, Universitaas Negeri Semarang DOI: 10.35473/ijec.v3i1.830 Informasi Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Diterima: 20/12/2020 Disetujui: 28/12/2020 Dipublikasikan: 31/1/2021 Kata Kunci: PAUD, Kreativitas, musik, transformasi ilmu Keywords: PAUD, creativity, music, transformation of knowledge Berdasarkan Permendikbud 137 tahun 2014 disebutkan tujuan PAUD, yakni tujuan utama (anak yang berkualitas) dan tujuan penyerta (membantu kesiapan belajar). Salah satu bidang yang harus dikembangkan untuk mendukung tujuan di atas adalah bidang musik. Dari berbagai penelitian disimpulkan, musik adalah bidang yang sangat mempengaruhi perkembangan anak di usia dini. Di sisi lain keberhasilan tujuan ini tidak dapat dilepaskan dari peran guru yang melakukan interaksi dengan siswa sehari-hari. “pertemuan” antara guru-siswa menjadi sangat penting, sebab dari pertemuan itulah transformasi ilmu yang terdapat di dalam UU Sisdiknas dan Permendikbud di atas dapat tercapai; kehadiran guru menjadi sangat penting dalam merealisasikan tujuan pendidikan. Akan tetapi dengan adanya Pandemi Covid 19, metode di atas mau tidak mau harus berubah: tidak ada lagi pertemuan fisik, dan proses pembelajaran melalui sosial media, maka metode pengajaran musik pun berubah. Di sinilah seorang guru ditantang untuk lebih kreatif agar proses pembelajaran tetap berjalan efektif dan tetap mengacu pada titik berat dan tujuan pendidikan PAUD itu sendiri Abstract Based on Permendikbud (education system law from ministry department of education and culture) No. 137 of 2014, the goals of PAUD are stated; namely the main goal (quality children) and the objective of the companion (helping readiness to learn). One of the fields that must be developed to support the above goals is music. From various studies concluded, music is a field that greatly affects the development of children at an early age. One the other hand, the success of the goal cannot be separated from the role of the teacher who interacts with students on a daily basis, the teacher-student “meeting” or “interacting” is very important, bacause from the meeting the transformation of knowledge contained in the National Education System Law and Permendukbud can be achieved; the presence of teachers is very important in realizing educational goals. However, with the Covid19 pandemic, the above methods inevitably have to change; there are no more physical encounters, and the learning process through sosial media has changed the method of teaching music. This is where a teacher is challanged to be more creative so that the learning process continous to run effectively and still refers to the emphasis and goals of PAUD education itself. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. © 2021 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini  Corresponding author: Christina Dwi Hartanti Address: Program S3, Manajemen Pendidikan, Universitas Negeri Semarang Email: christinadwihartanti23@gmail.com e-ISSN 2655-6561 p-ISSN: 2655-657x Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 PENDAHULUAN Masa kanak-kanak, terutama di usia dini (0-5 tahun), adalah masa yang tidak hanya penting. Itu sebabnya masa ini disebut ‘golden age’; masa keemasan, sebab di masa ini stimulus yang diberikan kepada seorang anak akan diserap secara optimal. Stimulisasi tersebut dengan cepat mempengaruhi kecerdasan seorang anak. Di masa ini semua aspek perkembangan di dalam hidup manusia mulai dibentuk, dan pengenalan terhadap alam/lingkungan mulai meningkat;anak di masa ini mulai melakukan ‘observasi’ atau ‘bereksperimen’ terhadap benda-benda di sekelilingnya, dan mencoba berkomunikasi dengan orang lain. Rasa keingintahuannya (curiosity) meningkat. Pun upaya komunikatif ini adalah awal seorang anak menyatakan dirinya sebagai makhluk sosial, yang menurut bahasa Aristoteles zoon politicon. Golden age adalah masa yang sangat penting karena merupakan fondasi utama bagi perkembangan anak di usia selanjutnya. Oleh karena itu seorang anak yang berada di dalam fase ini membutuhkan banyak stimulus positif yang bisa terus berkembang dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhannya. Stimulus-stimulus ini akan menstimulisasi organ-organ tubuhnya sehingga secara revolustif fungsi-fungsi organ itu akan berfungsi dengan sempurna. Salah satu bidang penting yang dibutuhkan anak usia dini adalah (seni) musik. Berbagai penelitian yang membahas keterkaitan atau pengaruh musik bagi perkembangan kecerdasan anak sudah banyak dilakukan. Akan tetapi musik yang sangat berguna itu tidak akan ada artinya sama sekali tanpa kehadiran seorang transformator yang baik, disebut “guru”. Dengan kata lain, guru adalah salah satu pihak yang cukup menentukan keberhasilan siswa dalam mengembangkan kemampuannya di usia dini, dalam hal ini melalui musik, yakni guru musik. Akan tetapi saat ini dengan adanya pandemi Covid-19, metode yang biasa dilakukan guru, yakni adanya pertemuan antara guru dengan siswa (social interacting) secara faktual tidak dapat dilakukan lagi. Sekarang proses pembelajaran bisa tidak bisa harus dilakukan secara online dengan menggunakan media sosial. Dengan kata lain, proses pembelajaran musik untuk anak usia dini mengalami perubahan dan dimulai dengan metode pengajaran yang baru. Berdasarkan hal itu, maka dibutuhkan kreativitas seorang guru dalam konteks pengajaran seni musik melalui online agar tujuan-tujuan pendidikan yang terdapat pada Permendikbud 137 tahun 2014 tetap tercapai. Di dalam artikel penelitian melalui studi literatur ini penulis akan membahas, bagaimana bentuk-bentuk atau model-model kreativitas yang dapat dilakukan oleh seorang guru musik melalui media online, setelah terlebih dahulu mendeskripsikan hakikat “kreativitas” dan peran penting atau pengaruh musik bagi perkembangan pada anak usia dini? Bentuk-bentuk atau model-model kreativitas itu dianalisis berdasarkan unsur-unsur utama musik, yang meliputi: kreativitas berdasasarkan aspek HARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 18 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 melodi, ritme, dan harmoni, walaupun tidak mengesampingkan unsur-unsur lain, seperti timbre atau tone colour. Keberhasilan kreativitas guru ini tidak akan ada artinya tanpa peran pihak lain yang juga sangat penting, yakni orang tua siswa. Oleh karena itu di dalam artikel ini akan dibahas pula peran orang tua dalam mendukung keberhasilan dari kreativitas-kreativitas pengembangan anak usia dini melalui musik yang dilakukan oleh guru melalui media online. Kenyataan ini mengandaikan adanya kerjasama yang baik antara guru dan orang tua siswa, sebab aktivitas anak-anak di usia dini pada dasarnya masih berada pada bimbingan orang tuanya. Dengan kata lain proses pembelajaran akan lebih efektif jika orang tua dilibatkan secara langsung di dalam proses tersebut. METODE Penelitian ini merupakan studi literatur yang didapat dari berbagai sumber. Analisis dilakukan terhadap artikel-artikel yang ada dan disusun untuk memenuhi tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui model-model kreativitas pengajaran musik yang sesuai dengan kondisi pandemi Covid 19 agar proses pembelajaran tetap berjalan efektif dan tetap mengacu pada titik berat dan tujuan pendidikan PAUD itu sendiri. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil studi literatur yang sudah dilakukan menghasilkan beberapa topik yang akan dibahas secara sistematis. Mulai dari pengertian musik dan perkembangan anak usia dini, kreativitas guru musik, model-model kreativitas pengajaran musik, pengenalan makna syair, pengenalan melodi, dan pengenalan ritme. Musik dan Perkembangaan Anak Usia Dini Studi tentang peran dan pengaruh musik terhadap perkembangan anak di usia dini sudah banyak dilakukan. Michel Hogenes, et al, (2010) melakukan penelitian dan meyakini bahwa musik sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar sebab melalui musik seorang anak dapat diajak untuk lebih berkonsentrasi. Konsemtrasi tersebut pada gilirannya berpengaruh terhadap perkembangan dan cara berpikir. Hogenes menambahkan, musik juga sangat signifikant terhadap proses peningkatan IQ (intellegence quotient). Dari hasil penelitiannya anak-anak yang belajar musik memiliki peningkatan IQ yang sangat signifikan. L. Waterhouse (2006) dalam ulasannya terhadap buku Mozart Effect karya Don Campbell, mengungkapkan bahwa pengaruh karya-karya musik Wolfgang Amadeus Mozart, terutama karya-karya komposisi yang diciptakan Mozart sebelum ia HARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 19 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 berumur 25 tahun, tidak hanya berpengaruh pada perkembangan kecerdasan, tetapi juga berpengaruh pada kecerdasan emosional. Karya-karya Mozart sebelum ia berusia 25 tahun memang cocok untuk menstimulus perkembangan otak kiri manusia, terutama anak-anak, sebab komposisi ini diciptakan dengan interval yang pendek dan cenderung atraktif. Jenis komposisi ini merupakan respons terhadap gaya komposisi pada periode sebelumnya, yakni Periode Barok (dengan Johann Sebastian Bach sebagai tokoh utama) yang cenderung bersifat kontrapunktis dan menggunakan thorough bass atau walking bass. Selan itu, setelah melakukan banyak riset di bidang psikologi musik, S. Hallam (2010) menyimpulkan, jika metode pengajaran musik yang dilakukan terhadap anak-anak dilaksanakan dengan baik dan benar, maka memiliki manfaat yang cukup besar terhadap kompetensi anak; bahwa musik bukan hanya berpengaruh pada kompetensi atau skill anak-anak pada kecerdasan kognitif dan emosional saja, melainkan lebih dari itu dapat mengembangkan kompetensi anak-anak pada gairah dan keterampilan membaca, berbahasa dan pemahaman matematik. Hallam menulis sebagai beikut. In early chilhood there seem to be benefit for the development of perceptual skill which affect language learning and which subsequently impact on literacy. Opportunities to be able to coordinate rhrhythmically also seem important for the acquisition of literacy skill. Fine motor coordination is also improved through learnng to play an instrument. Music also seems to improve spatial reasoning, one aspect of general intelegence , which related to some of te skill required in mathematics. While general attainment is clearly affected by literacy and numeracy skill, motivation, which depends on self-esteem, self efficacy and aspirations, is also important in the amount of effort given to studying. Engagement with music can enhance self-perception, but only if it provides positive learning experiences with are rewarding. (Hallam, 2010: 281-282) Aspek-aspek utama musik seperti melodi, ritme dan harmoni terwujud di dalam penggunaan instrumen musik. Secara akustik-organologis setiap instrumen musik memiliki karakter dan penekanan dalam pembentukan bunyi. Instrumen seperti drum dan beberapa instrumen perkusi lainnya memiliki karakter yang terwujud di dalam ritme. Instrumen biola, cello, flute, atau alat gesek dan tiup lainnya mewujudkan karakter melodis. Karakter-karakter instrumen musik akan menjadi sebuah harmoni di dalam sebuah komposisi musik. Harmoni musik inilah yang melahirkan sebuah sensasi, yang menurut Sussane K. Langer memiliki kemampuan untuk “menyentuh” pendengarnya. Selain itu, setiap instrumen memiliki “status gender” yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Alat musik piano, flute, dan biola sebagai misal, memiliki status gender famininum, HARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 20 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 sedangkan instrumen seperti gitar, drum, saxophone memiliki status gender maskulinum. Masih secara organologis, alat-alat musik berstatus gender femininum umumnya cenderung menggunakan tangga nada C Mayor atau tangga nada sharp (kruis), walaupun tidak harus demikian, sedangkan sedangkan beberapa instrumen maskulinum cenderung berada dalam tangga nada flat (mol). Saxophone misalnya berada dalam tangga nada Eb Mayor. Itulah sebabnya instrumen musik memiliki karakter “dark” atau kelam. Hallam (2008) mencatat sehubungan dengan status gender di dalam instrumen musik. Instrumen harpa 90% femininum, flute 89% femininum, gitar elektrik 81% maskulinum, gitar bas 81% maskulinum, vokal 80% femininum, piccolo 79% femininum, oboe 78% femininum, tuba 77% maskulinum, drum untuk anak-anak 75% maskulinum, tabla 74% maskulinum, clarinet 73% femininum, dan trombone 71% maskulinum. Data kuantitatif ini sebetulnya dapat dibaca juga, bahwa alat musik dengan prosentase tertinggi menunjukkan bahwa instrumen tersebut lebih cocok dimainkan dengan gender tertentu. Flute sebagai misal, akan lebih cocok jika dimainkan oleh perempuan ketimbang laki-laki. Namun hal ini berupa kecenderungan. Artinya tidak sedikit pula lakilaki yang bagus dalam bermain flute. Pengetahuan musikologis semacam ini adalah pengetahuan musikologi dasar yang harus dipahami dengan baik oleh para guru musik. Kreativitas guru musik senantiasa berada dan menggunakan aspek-aspek ini. Intinya adalah bagaimana para guru musik dapat mengekspresikan kreativitas musikal tersebut ketika ia berada dalam situasi di mana ia tidak bisa berinteraksi secara langsung dengan siswanya; bagaimana ia harus menciptakan kreativitas dalam konteks pengajaran musik melalui media sosial, tanpa harus meninggalkan tujuan yang telah diungkap di dalam Permendiknas No. 137 Tahun 2014 itu. HARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 21 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 Kreativitas Guru Musik Ketika seorang guru musik tidak dapat berinteraksi secara langsung dengan siswanya, padahal di dalam konteks pengajaran musik interaksi tersebut sangat penting, maka ia dituntut untuk lebih kreatif. Kreativitas ini menjadi sangat penting karena efektif di dalam melakukan transformasi ilmu melalui proses pembelajaran. Oleh karena itu, agar lebih jelas, berikut ini dijelaskan yang dimaksud dengan “kreativitas” serta deskripsi mengenai aspek-aspek utama di dalam musik yang menjadi acuan kreativitas tersebut. Istilah “kreativitas” memiliki kata dasar “kreasi” sebagai kata benda (noun), berkembang menjadi “kreasi” sebagai kata sifat (adjective). Secara etimologis berasal dari bahasa Inggris “create”, yang diserap dari bahasa Latin “creatio”, yang berarti “mencipta” (The Latin Classic Dictionary, 141). “Mencipta(kan)” berarti membuat yang yang tidak ada menjadi ada, atau mengubah sedemikian rupa, sehingga yang dipandang baru diubah menjadi lebih baru. Mencipta sesuatu berarti membuat ada sesuatu yang sebelumnya belum pernah dipikirkan atau dihasilkan orang lain. Intinya, “Creativity is the ability to produce work,” (Sternberg, 1999: 3) Pemahaman tentang kreativitas terus berkembang sampai memunculkan beberapa teori yang berpengaruh sampai saat ini, yakni Teori Freud, Teori Ernest Kris, Teori Teori Jung, Teori Humanistik yang dipelopori Maslow dan Rogers. Levitt dalam Suryana (2001:18) menyatakan bahwa “Kreativitas adalah berfikir sesuatu yang baru, keinovasian dan melakukan sesuatu yang baru”. Hal ini senada dengan pendapat Nana Syaodik (2003:104) bahwa “Kreativitas merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menemukan dan menciptakan suatu hal baru, cara-cara baru, model baru yang berguna bagi dirinya dan bagi masyarakat”. Hal baru itu tidak harus selalu sesuatu yang sama sekali belum pernah ada sebelumnya, namun unsur-unsurnya mungkin telah ada sebelumnya. Seseorang dapat menemukan kombinasi baru atau konstruk baru yang mempunyai kualitas yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Jadi hal baru itu adalah sesuatu yang sifatnya inovatif. HARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 22 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 Selanjutnya Munandar (1999:42) juga menyatakan bahwa : “Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada”. Yang dimaksud dengan data, informasi atau unsur-unsur yang ada dalam arti sudah ada sebelumnya adalah semua pengalaman yang telah diperoleh seseorang dalam hidupnya. Pengertian kreativitas yang terpenting di sini bukanlah penemuan sesuatu yang belum pernah diketahui orang sebelumnya, melainkan bahwa produk kreativitas itu merupakan sesuatu yang baru bagi diri sendiri dan tidak harus merupakan sesuatu baru bagi orang lain/dunia pada umumnya. Masih menurut Munandar (1999), ciri-ciri orang kreatif dalam dua kelompok, yaitu ciri-ciri kognitif (kemampuan berpikir) dan ciri-ciri afektif. Ciri-ciri kognitif meliputi kelancaran, fleksibilitas, dan orisinalitas. Sedangkan ciri-ciri afektif meliputi : motivasi atau dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu, pengabdian atau pengikatan diri terhadap suatu tugas, rasa ingin tahu, tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau untuk dikritik oleh orang lain, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, mempunyai rasa humor, ingin mencari pengalaman-pengalaman baru dan dapat menghargai baik diri sendiri maupun orang lain. Kreativitas anak dapat dikembangkan melalui pendidikan dan kegiatan belajar. Setiap anak memiliki potensi kreatif sebagaimana anak memiliki dorongan tumbuh dan berkembang. Pendidikan yang mendukung pengembangan kreativitas anak adalah jika kegiatan yangdilakukan guru dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif dan kepribadian yang kreatif. Untuk membantu siswa kreatif banyak diciptakan alat-alat pendidikan, seperti permainan anak-anak yang banyak dijual di toko-toko. Di samping itu banyak objek-objek alam atau kehidupan yang secara alami dapat dipergunakan untuk mengembangkan kreativitas anak. Guru musik yang baik adalah guru yang mampu mengorganisir pembelajaran di dalam kelas sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tidaklah mudah, lebihHARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 23 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 lebih terjadi ditengah pandemi. Guru dituntut memberikan pembelajaran dengan sistem daring. Dengan sistem ini siswa dituntut memiliki fasilitas seperti laptop/ HP, kuota internet, buku pembelajaran. Artinya untuk mendukung pembelajaran, orangtua wajib menyediakan fasilitas tersebut untuk anaknya. Itu kreativitas yang seharusnya dimiliki guru musik. Dengan demikian kreativitas adalah kemampuan mengelola segala fasilitas yang, yang dalam kondisi tertentu/mendesak, menciptakan sesuatu yang pemikiran dan hasil yang baru agar tujuan utama tercapai secara maksimal. Pendeknya, berkreativitas berarti berkreasi, dan bagi seorang guru musik, berkreativitas berarti mengelola. Kreativitas adalah sebuah manajemen. Bagi orangtua yang secara ekonomi mampu tidaklah mengganggu secara ekonomi bahkan fasilitas tersebut bisa jadi sudah diberikan. Namun bagi siswa yang kurang mampu merupakan hal yang sangat menyulitkan. Untuk biaya hidup sehari-hari saja sulit, ditambah dengan sistem pembelajaran daring ang harus menyediakan fasilitas. Dalam konteks ini pihak sekolah bisa menggunakan dana BOS untuk megembangan fasilitas online. dibutanya Pengetahuan guru akan latar belakang dan kondisi siswanya menjadi sangat penting, sebab informasi ini kelak menjadi dasar perencanaan strategi yang akan dibuatnya untuk proses pembelajaran. Model-model Kreativitas Pengajaran Musik Dengan adanya pandemi Covid-19 yang melanda ke seluruh dunia, telah merubah tatanan kehidupan di segala bidang dengan adanya kebijakan menjaga jarak fisik (physical distancing) dan jaga jarak sosial (social distancing). Dunia pendidikan dari semua jenjang pendidikan termasuk pendidikan anak usia dini (PAUD) juga merasakan dampaknya. Pembelajaran di rumah dengan sistem daring merupakan pilihan yang tidak bisa dihindari, sehingga menimbulkan masalah baru dalam bidang pendidikan. Banyak tantangan dan hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran di rumah, baik oleh HARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 24 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 institusi pendidikan, guru, siswa dan orang tua. Dengan belajar jarak jauh tentu dirasakan sangat beda bila dibandingkan dengan belajar di sekolah, baik dari segi proses pembelajaran, metode belajar, respon siswa terhadap materi pelajaran, dan kesehatan mental-sosial. Masalah yang dihadapi dalam proses belajar jarak jauh dapat diatasi asalkan adanya motivasi yang tetap tinggi dari guru untuk berkreativitas dan untuk menyesuaikan diri dengan pengajaran menggunakan teknologi informasi, siswa yang tetap semangat untuk belajar di rumah dan orang tua yang setia mendampingi belajar anaknya di rumah, menjaga kesehatan anak dengan gizi yang cukup, mengikuti protokol kesehatan serta dukungan kebijakan yang positif dari pemerintah. Berikut ini adalah model-model pembelajaran musik untuk anak usia dini melalui online. Tujuan atau goal dari UU Sisdiknas No. 20/2003, Pasal 28, Ayat 1 tentang PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan enam perkembangan, yakni agama dan moral, fisik/motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional dan seni bisa diwujudkan di dalam pengenalan di berbagai aspek, yakni makna syair, analisis melodi dan ritme. Analisis harmoni tidak dimasukkan sebab di dalam komposisi musik hubungan artistik antara melodi dan ritme dengan sendirinya sudah membentuk harmoni tersendiri. Pengenalan Makna Syair Pengenalan akan makna-makna yang terkandung di dalam syair lagu anak-anak menjadi sesuatu yang penting sebab bahasa syair lebih merupakan bahasa verbal ketimbang bahasa simbol. Makna di dalam sebuah kata bersifat langsung menuju pada reference-nya. Bagi seorang anak, tidak perlu lagi proses interpretasi makna lagi sebab “benda” yang diacu oleh kata tersebut sudah jelas. Lagu “Pelangi-pelangi” ciptaan A.T. Mahmud sebagai misal. Pelangi pelangi Alangkah indahmu HARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 25 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 Merah kuning hijau Di langit yang biru Pelukismu agung Siapa gerangan Pelangi pelangi ciptaan Tuhan Pelangi yang indah memiliki nuansa artistik. Keindahan berhubungan dengan seni. Secara substansial seni bersifat “menyentuh”perasaan dan membangun emosi tertentu (Langer, 1967: 105). Konteks ini saja sudah membawa siswa pada tujuan pengembangan akan seni. Begitu pula dengan kata-kata merah, kuning, hijau, biru, selain mengenalkan siswa pada beberapa kosa kata, juga secara tidak langsung sudah memberi pelajaran pada komposisi warna, yang dengan sendirinya merupakan pengenalan pada bidang seni rupa. Pun dengan kata-kata “ciptaan Tuhan”. Dalam konteks ini siswa sudah diperkenalkan oleh Sang Pencipta, Tuhan sebagai Causa Prima. Pengenalan terhadap Sang Pencipta, bahwa ia ada karena Sang Pencipta; bahwa pelangi yang indah itu adalah ciptaan Sang Pencipta memberi merupakan wujud dorongan pertumbuhan akan pengetahuan agama dan moral. Begitu pula dengan lagu “Naik Kereta Api”. Lagu ciptaan Ibu Soed ini juga mengembangkan unsur-unsur yang menjadi fokus di dalam UU Sisdiknas di atas. Naik kereta api tut tut tut Siapa hendak turut Ke Bandung Surabaya Bolehlah naik dengan percuma Ayo kawanku lekas naik Keretaku tak berhenti lama Secara tidak disadari pengenalan terhadap anomatope, yakni kata atau sekelompok kata yang menirukan bunyi dari sumber yang digambarkannya, yang terlihat dalam ungkapan “tut tut tut”. HARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 26 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 Unsur pengembangan pada ragam bahasa tertentu terlihat jelas. Selain memperkenalkan banyak kosa kata seperti nama ransportasi dan tempat (seperti dalam kata “kereta api”, “Bandung”, “Surabaya”), lagu ini memiliki pesan yang sangat jelas, yakni solidaritas dan tidak memikirkan diri sendiri. Makna ini terlihat jelas dalam frasa “bolehlah naik dengan percuma”. Di dalam masyarakat modern yang konsumeristis dan konsumtivistis seperti sekarang ini, adakah sesuatu yang percuma? Inilah pesan moral yang harus ditanamkan sejak kecil, bahwa seseorang harus punya kepedulian terhadap sesamanya. Pada dasarnya masih banyak lagu anak-anak yang jika dianalisis mengembangkan aspekaspek positif di atas. Kelebihan karya seni, terutama lagu anak-anak, adalah syairnya sederhana dan selalu diulang-ulang sehingga mudah dihafal. Pemahaman akan sebuah makna kata berangkat dari hafalan terhadap bunyi itu sendiri. Pengenalan Melodi Di dalam sebuah karya/komposisi musik, melodi adalah unsur yang sangat penting. Melodi dulu, baru yang lain, adalah proses kreatif penciptaan karya/komposisi musik secara umum. Yang dimaksud “yang lain” di sini adalah penciptaan alur bunyi alto, tenor dan bas, atau di dalam konteks orkestrasi, “yang lain” adalah instrumen-instrumen musik. Istilah “melodi” berasal dari bahasa Perancis “melodie” dan diserap ke dalam bahasa Inggris “melody”. Secara umum “melodi” diartikan sebagai rangkaian nada-nada yang memiliki interval tertentu antara nada satu dengan yang lainnya dan menjadi jalainan bunyi yang enak didengar, ”clear and stable enough to be heard as not noise,”(Randel, 1999: 410). Melodi yang cocok untuk pembelajaran anak-anak adalah melodi yang memiliki interval rendah atau pendek, mengingat ambitus suara anak-anak belum terlalu tinggi. Biasanya ambitus anak berusia dini tidak sampai pada interval kwint. (do- sol). Dari perspektif psikologi musik, lagu anakHARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 27 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 anak sebaiknya memiliki melodi dengan interval prime (do – do), second (do – re), atau paling tinggi third (do – mi), dan bisa bersifat fleksibel dan berada di dalam tangga nada C Mayor. Tidak penting apakah si anak dapat ‘menembak’ nada dengan tepat atau tidak, yang penting pengenalan akan nadanada di dalam musik dan si anak mau bernyanyi. Lagu lullaby seperti twinkle twinkle little star, adalah contoh yang bagus untuk lagu anak-anak yang memiliki interval rendah, pendek, dan mudah diingat. Selain memperkenalkan si anak dengan kosa kata bahasa Inggris, lagu ini memiliki ritme lebih bersifat dinamis sehingga bisa dipadukan dengan gerakan-gerakan tertentu. Lagu ini cocok untuk anak berusia 4-5 tahun karena sudah diperkenalkan nada la. Allegro 4/4 1155 / 655./4433/221./ 5544 /332./5544/332./ 1 1 5 5 / 6 5 5 . / 4 4 3 3 / 2 2 1 .// Alur melodi pada lagu ini bersifat monoton dan diulang-ulang. Secara psikologis anak-anak memang membutuhkan monotonitas dan pengulangan seperti ini sebab biasa dipadukan dengan gerak dan diiringi dengan common chord(Ottman, 1983: 3). Hal yang sama juga terdapat pada lagulagu anak Indonesia seperti Balonku, Bintang Kecil, Naik-naik ke Puncak Gunung atau Lihat Kebunku. Pengenalan Ritme Istilah “ritme” berasala dari bahasa Inggris “rhythm” (Randel, 1999: 559) yang diadopsi ke dalam bahasa Indoensia sebagai “irama”. Secara musikologis, ritme berhubungan erat dengan waktu. Salah satu aspek di dalam musik yang terorganisasi di dalam kesatuan waktu, “That aspect of music concerned with the organization of time.” Di dalam sebuah komposisi, ritme sangat penting karena berhubungan dengan gaya dan idiom-idiom musik tertentu. Seseorang bisa mengenal jenis musik HARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 28 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 tertentu karena ritmenya. Idiom musik satu dengan yang lainberbeda.Ritme jika dipadukan dengan melodi akan membentuk harmoni. Idiom musik keroncong berbeda dengan idiom musik jazz, dangdut, blues, pop, dan sebagainya. Dengan kata lain, ritme menentukan sebuah genre musik. Di dalam pembelajaran musik, terutama melalui sarana online, pengetahuan guru musik tentang ritme menjadi sangat penting sebab berhubungan erat dengan respons si anak terhadap sebuah lagu. Respons yang berupa perilaku inilah yang bisa menjadi indikator, apakah si anak menyukai atau menikmati lagu tersebut atau tidak. Agar mendapatkan respons yang seharusnya oleh si anak, si guru harus ikut bernyanyi, bertepuk tangan, melakukan gerak-gerak tertentu yang atraktif, lucu, dan menggembirakan, sambil mendorong si anak ikut melakukannya, dengan didampingi orang tuanya. Lagu “Satu Satu Aku Sayang Ibu” atau “Dua Mata Saya”, misalnya. Lagu ini memiliki ritme sederhana yang dapat diikuti si anak. Pola Ritme “Dua Mata Saya” Allegro 2/4 / √ √ / √ √ / √ √ / 0 √ / √ √ / √ √ / √ 0/ / √ √ / √ √ / √ √ / 0 √ / . √ / √ √ / √ √ // Semua yang bisa dilakukan guru dalam proses pembelajaran ini adalah kreativitas, dan kreatibitas itu harus di-manageKreativitas tersebut tetap harus mempertimbangkan konteks, terutama kondisi sosial dan ekonomi keluarga si anak. Bagi keluarga siswa yang kurang mampu, tentu tidak perlu menggunakan instrumen musik, melainkan cukup menggunakan vokal, sebab vokal pun merupakan salah satu alat musik. Memaksakan strategi pembelajaran tanpa mempertimbangkan konteks tidak akan mencapai tujuan yang maksimal, selain si anak/siswa sendiri akan merasa bosan. HARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 29 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 Namun demikian ada hal lain yang cukup menentukan keberhasilan pembelajaran adalah peran orang tua siswa sendiri. Semua kreativitas guru hanya akan sia-sia jika orang tua siswa tidak peduli dengan arti penting pembelajaran itu, apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, di mana siswa tidak dapat dikontrol secara langsung oleh guru. Oleh karena itu harus ada interaksi yang cukup intensif dan baik antara orang tua dengan guru. Bagaimana pun pihakyang paling dekat dengan siswa adalah orang tuanya sendiri. Keduanya harus bekerjasama dan memahami arti penting pembelajaran itu demi mencapai tujuan yang diinginkan. SIMPULAN Dalam masa sulit dengan merebaknya pandemi Covid-19 ini kreativitas guru adalah hal yang cukup penting dan menjadi salah satu faktor penentu bagi keberhasilan pembelajaran siswa. Kreativitas adalah bagian dari startegi kebudayaan sebagai respons atas munculnya tantangan (challenge), yakni adanya Covid-19 yang mengharuskan siswa belajar di rumah. Situasi belajar di rumah tentu berbeda dengan di sekolah. Kondisi belajar dengan melakukan tatap muka berbeda pula dengan adanya jarak. Kondisi ini membuat segalanya berubah, dari metode dan materi pengajaran serta cara penyampaiannya berubah. Dunia telah berubah dari fase “cogito ergo sum” (saya berpikir, maka saya ada), “scribo ergo sum” (saya menulis, maka saya ada), sekarang di era homo datum ini, ungkapan itu berubah menjadi “creativo ergo sum” (saya kreatif, maka saya ada): manusia diakui eksistensinya sejauh ia kreatif. Zaman sosial media adalah zaman kreativitas. Ia yang tidak kreatif akan tercoret dari konteks kebudayaannya REFERENSI Abdullah, M. Imron (2003).Pendidikan Keluarga Bagi Anak. Cirebon: Lektur. Hallam, S. (2010) “The Power of Music: Its impact onthe intellectual, social and personal development of children and young people,” International Journal of Music Education 28 (3). HARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 30 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 ------------ et al.(2008) “Gender Differences in Musical Instrument,” International Journal in Musical Instrument Vioce, February 1, 2008. Hawadi, Reni Akbar, et al. (2001). Kreativitas. Jakarta: Grasindo. Hogenes, Michel, et al. (2014) “The Impact of Music on Child Functioning,” European Journal of Social and Behavioural Sciences (EJSBS). Hurlock, Elizabeth B. (2004) PsikologiPerkembangan: SuatuPendekatanSepanjangRentangKehidupan,” terj. Istiwidayanti, et.al, daribuku “Development Psychology: A Life-Span Approach, Jakarta: Airlangga Langer, Sussane K. (1967) “An Essay of Human Feeling,” dalam Mind Vol. 1,USA: Baltimore. Lee J. (2020) MentalHealthEffects of SchoolClosures during COVID-19. The Lancet Child & Adolescent Health. June 1;4(6). Mardiati Busana, (1995). “Upaya Merangsang Kreativitas Anak Berbakat. Cakrawala Pendidikan,” No. 2 Tahun XIV, Juli , Yogyakarta : Lembaga Pengabdian Masyarakat IKIP Yogyakarta. Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary, Tenth Edition, (2001) USA: Library Congress Cataloging in Publication Data. Munandar, Utami (1999). Kreativitas dan Keberbakatan Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta : PT. Grasindo. ________, (1992). Mengembangkan Bakatdan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: PT. Grasindo. Ottman, Robert W.(1983) Advanced Harmony: Theory and Practice. Texas: Prentice-Hall, Inc. Randel, Don Michael.(1999) Harvard Concise Dictionary of Music and Musicians. Massachussetts: The Belknap Press of Harvard Dictionary Press. Reimers, FM, Schleicher A. (2020) A framework to guide an education response to the COVID-19 Pandemic of 2020. OECD. Retrieved April (14). Reluga, T.C., (2010) “Game theory of social distancing in response to an epidemic.”PLoS computational biology, 6(5). Sallis, Edward, (2012) Total Quality Management in Education, Thirt Edition, USA: Kogan Page. Sternberg, Robert J. (1999) “The Concept of Creativity: Prospects and Paradigm,’ dalam Handbook of Creativity (Robert J. Sternberg (Ed.), Cambridge: Cambridge University Press. The Latin Classic Dictionary, (1961) Chicago: Follet Publishing Company. “The International Commision on Education for the Twenty-fisrt Century”, (2016) UNESCO, (dokumen). Waterhouse, L. (2016) “Multiple Intelligence, the Mozart Effect, and Emotional Intelligence: A Critical Review,” Journal of Educational Psychologist, 41 (4). HARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 31 Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 3 Nomor 1 Januari 2021 e-ISSN: 2655-6561 World Health Organization, (2005). Statement on the second meeting of the International Health Regulations, Emergency Committee regarding the outbreak of novel coronavirus (2019-nCoV). Zhang, Y., Jiang, B., Yuan, J. and Tao, Y., (2020). The impact of social distancing and epicenter lockdown on the COVID-19 epidemic in mainland China: A data-driven SEIQR model study. medRxiv WEBSITE HealthyAtHome-HealthyParenting. https://www.who.int/campaigns/connecting-the-world-tocombat-coronavirus/healthyathome/healthyathome---healthy-parenting. Hendy PuspitaPrimasari. Tantangandalampembelajaran PAUD padamasaPandemi. http://news.koranbernas.id/berita/detail/tantangan-dalam-pembelajaran-paud-pada-masapandemi. 14 Juni 2020. How to keep your child safe online while stuck at home during the COVID-19 outbreak. https://www.unicef.org/coronavirus/keep-your-child-safe-online-at-home-covid-19 SuratEdaranMendikbud NO 4 Tahun 2020 TentangPelaksanaanKebijakanPendidikanDalamMasaDaruratPenyebaran Corona Virus Disease (COVID-19) https://pusdiklat.kemdikbud.go.id/surat-edaran-mendikbud-no-4tahun-2020-tentang-pelaksanaan-kebijakan-pendidikan-dalam-masa-darurat-penyebarancorona-virus-disease-covid-1-9/ Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. http://lldikti3.ristekdikti.go.id/html/wpcontent/uploads/2011/04/sisdiknas.pdf. WahyuAdityoProdjo."BelajardariRumah, Begini Cara BelajarSiswa PAUD Rumah Main Cikal".https://www.kompas.com/edu/read/2020/04/01/145223271/belajar-dari-rumahbegini-cara-belajar-siswa-paud-rumah-main-cikal?page=all HARI SASONGKO, CHRISTINA DWI HARTANTI. IJEC. VOL. 3 NO. 1. 2021 32