AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Vol. No. Juni, 2024 pp. xAex ISSN: 2354-8576 (Prin. ISSN:0000-0000 . http://doi. AJARAN MAKRIFAT SYECH SITI JENAR (KAJIAN ATAS AJARAN MANUNGGALING KAWULO GUSTI) Khoirunnisaa'1. Zainul Arifin2. Bagus Adi Saputra3 Sekolah Tinggi Agama Islam Madiun1 Sekolah Tinggi Agama Islam Madiun2 Sekolah Tinggi Agama Islam Madiun3 Email : khoirunnisa@gmail. com1, zainularifin@gmail. com2, bagusadi@gmail. Abstract This article discusses the teachings of Syech Siti Jenar's makrifat with a focus on the concept of Manunggaling Kawulo Gusti as a form of spiritual unification between servants and God. Although often considered deviant by orthodox Islamic authorities such as Wali Songo and the Demak Kingdom. Syech Siti Jenar's teachings actually reflect the process of contextualizing Islamic teachings with local Javanese culture. This study uses a qualitative method based on literature studies to explore the theological, sociological dimensions, and the relevance of these teachings in the current context. The results of the study show that the concept of Manunggaling Kawulo Gusti is not a form of claim to divinity, but rather a reflection of the highest spiritual achievement that strengthens human relations with God, others, and nature. Keywords: Syech Siti Jenar. Manunggaling Kawulo Gusti. Makrifat. Javanese Islam Abstrak Artikel ini membahas ajaran makrifat Syech Siti Jenar dengan fokus pada konsep Manunggaling Kawulo Gusti sebagai bentuk penyatuan spiritual antara hamba dan Tuhan. Meskipun sering dianggap menyimpang oleh otoritas Islam ortodoks seperti Wali Songo dan Kerajaan Demak, ajaran Syech Siti Jenar justru mencerminkan proses kontekstualisasi ajaran Islam dengan budaya lokal Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka untuk menggali dimensi teologis, sosiologis, serta relevansi ajaran tersebut dalam konteks kekinian. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep Manunggaling Kawulo Gusti bukanlah bentuk klaim ketuhanan, melainkan refleksi pencapaian spiritual tertinggi yang mempererat relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Vol. 12 No. 1 | 130 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Kata Kunci: Syech Siti Jenar. Manunggaling Kawulo Gusti. Makrifat. Islam Jawa PENDAHULUAN Manunggaling kawula gusti memiliki filosofi bahwa bersatunya raja dengan rakyatnya. Manunggaling kawula gusti terjadi apabila seseorang telah mampu menyerahkan seluruh hidup untuk Tuhan, maka mampu membiarkan Tuhan mengurus ciptaannya melalui diri ini menjadi salah satu instrument Tuhan dalam mengurus alam semesta ini. 1 Ajaran Islam di tanah Jawa tidak dapat dilepaskan dari dinamika antara ortodoksi dan spiritualitas lokal. Salah satu tokoh penting yang membawa warna tersendiri dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara adalah Syech Siti Jenar. Beliau dikenal sebagai sufi kontroversial yang mengajarkan konsep Manunggaling Kawulo Gusti, yakni penyatuan antara hamba dan Tuhan pada tataran makrifat. Konsep ini menimbulkan pertentangan tajam dengan para WaliSongo dan otoritas Islam resmi Kerajaan Demak yang lebih menekankan pentingnya syariat sebagai pijakan utama kehidupan Meski sering dicap sesat, ajaran Syech Siti Jenar tidak dapat dilepaskan dari konteks sosio-kultural masyarakat Jawa yang kental dengan spiritualitas dan filsafat kejawen. Oleh sebab itu, penting untuk menelaah ulang ajaran beliau tidak hanya dalam perspektif teologis, tetapi juga sosiologis dan filosofis. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemahaman makrifat Syech Siti Jenar, meninjau ajarannya secara kontekstual, serta melihat relevansinya dalam kehidupan spiritual masa kini. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan untuk menyelesaikan artikel ini ialah penelitian Penelitian kualitatif sendiri merupakan penelitian yang memprioritaskan kualitas tulisan dan tidak berpaku terhadap teori. Hasil analisis yang ditampilkan bersifat deskriptif yang disusun dengan sudut pandang penulis dan subjektifitas penulis berpengaruh dalam menentukan hasil analisis. Penelitian kualitatif yang digunakan yaitu penelitian kualitatif bermetode pustaka. Metode pustaka adalah metode atau cara dalam mengumpulkan data dan mengerucutkan menjadi hasil analisis melalui pustaka. Pustaka yang dirujuk dalam penulisan ini yaitu jurnal- Fahrurrozi Sihombing and Nurul Jumadissaniyah Sitorus. AuAjaran Tarekat Syekh Siti Jenar,Ay Jurnal Ekshis 1, 1 (May 31, 2. : 1Ae11, https://doi. org/10. 59548/je. Miza Nina Adlini et al. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka,Ay Edumaspul: Jurnal Pendidikan 6, no. : 974Ae80. Vol. 12 No. 1 | 131 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam jurnal yang terdapat pada google scholar dan sumber yang telah didapatkan diinterpresikan sebaik mungkin sehingga menjadi tulisan yang rapi, terstruktur, dan dapat dipahami pembaca dengan mudah. PEMBAHASAN Profil Syech Siti Jenar Syech Siti Jenar merupakan sosok yang legendaris kontroversional dan juga sosok yang misterius yang hidup di tanah jawa. Alasan daripada kontriversional dan juga misterius dari sosok Syech Siti Jenar ialah dikarenakan tidak terdapat kepastian dari seorang Syech Siti Jenar dari sisi kapan tahun hidupnya, kematiannya dan juga konflik yang dialami Syech Siti Jenar dengan walisongo. Kejadainnya dari kontroversial dan misterius ini terjadi karena Syech Siti Jenar tidak pernah meninggalkan apapun terkait kisah hidupnya pada sebuah lembaran kertas. Oleh karena itu banyaknya versi terkait Syech Siti Jenar yang 3 Salahsatu tokoh sufi filosofis Indonesia adalah Syekh Siti Jenar. Salah satu ajarannya tentang manunggaling kawula Gustisufi filosofis ini. Sholihin menyatakan bahwasanya dilahirkannya Syekh Siti Jenar ialah antara tahun 1426-1517 M. beliau dilahirkan pada lingkungan pakuwun Caruban atau sebuah pusat kota caruban larang pada tahun 1426 M, sekarang kota tersebut terkenal dengan nama keraton Cirebon. Jenar dikenal dengan San Ali sebagai nama kecilnya. Namanya bukanlah Hasan Ali atau Ali Hasan seperti halnya yang diuraikan oleh beberapa dari peneliti. Seorang ulama yang terkenal dan cukup besar yang berasalkan dari Dataran Malaka yang dikenal dengan Syekh Datuk Shaleh bin Syekh Isa Alawi merukan seorang ayah dari Jenar. Jenar memiliki nama yang cukup banyak dan sebutan karena beliau merupakan seorang tokoh jawa yang Hakikat Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti Manunggali Kawula Gusti erat kkaitannya dengan padangan Syekh Siti Jenar terkait Pandangan ini terkait ketuhan yang bermakna agar mendapatkkan Gambaran yang jelas mengenai konsep Manunggali Kawula Gusti. Konsep mistik istilah ini dalam budaya Jawa secara teologis menjelaskan tentang tata laksana hubungan manusia dengan Tuhan, secara sosiologis menjelaskan tentang tata laksana hubungan manusia dengan sesama. Sihombing and Sitorus. AuAjaran Tarekat Syekh Siti Jenar. Ay Hosen Febrian. Abdul Mukit, and Taufik Hidayat. AuANALISIS HISTORIS PERBEDAAN PADANGAN KAUM MUTAFAQQIH TERHADAP KAUM SUFI TENTANG FIQIH DAN AGAMA,Ay Al-Muttaqin: Jurnal Studi. Sosial. Dan Ekonomi 4, no. 1 (January 5, 2. : 90Ae101, https://doi. org/10. 63230/almuttaqin. Sihombing and Sitorus. AuAjaran Tarekat Syekh Siti Jenar. Ay Vol. 12 No. 1 | 132 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam ekologis menjelaskan tentang tata laksana hubungan manusia dengan Ajaran Manunggaling Kawula Gusti menekankan kesatuan antara Tuhan (Gust. dan makhluk-Nya . , namun bukan dalam pengertian percampuran secara fisik atau identitas, melainkan sebagai proses spiritual penyatuan batin seorang hamba dengan Tuhannya. Syekh Siti Jenar memandang Tuhan sebagai wujud mutlak yang tidak dapat dilihat oleh mata, digambarkan seperti cahaya bintang yang indah dan tak terjangkau. Tuhan, menurut beliau, memiliki dua puluh sifat yang terkumpul dalam satu zat mutlak, simbol keselamatan dan kehalusan yang abadi. Pandangan Siti Jenar tentang jasmani dan ruh sangat berbeda dengan mainstream Islam pada masa itu. Baginya, kehidupan dunia adalah kematian, sedangkan kehidupan sejati adalah kehidupan abadi yang bebas dari keterikatan jasad. Tubuh dianggap sebagai penjara bagi jiwa, sumber penderitaan, dan penghalang utama menuju kebebasan spiritual. Dimensi Teologi dan Sosiologi Dalam pengalaman ajaran pada Manunggaling Kawula Gusti terdapat bentuk pada dimensi, dalam hal ini terdapat dua bentuk dimensi, yakni dimensi teologi dan juga dimensi Pada dimensi teologi, secara umum keluar dari sebuah pemahaman bahwsanya sebuah materialism merupakan sebuah pijakan saat berfikir. Maka pemaknaan atau pemahaman itu menunjukkan pada pemahaman bahwa sebuah pemahaman yang begitu beragam dan bervariasi bukanlah hanya sampai pada islam dan juga iman, akan tetapi juga sampai kepada ihsan, kemana engkau menghadap disitulah wajah Allah. Adapun pada dimensi sosiologinya Manunggaling Kawula Gusti dapat diartikan dengan kemanunggulan raja dengan rakyatnya atau juag seorang pemimpin dengan warganya, manusia dengan alamnya. Relasi tersebut mengisaratkan kearifan yang harus dimilki gusti . untuk selalu bisa memahami kawulonya . , atau sebaliknya tegaknya peran kawulo dalam kontruksi bermasyarakat dengan gustinya atau manusia mampu berperan dalam membangun harmonisasi dengan alam. Sebagaimana sifat gusti yang baik maka hal itu harus mendorong munculnya segala tindakan baik yang dilakukan, baik oleh pemimpin Nurul Jumadissaniyah Sitorus and Sayed Muhammad Ichsan. AuMenilik Aspek Kebahasaan Mistik Dalam Ajaran Manunggaling Kawula Gusti Syaikh Siti Jenar,Ay Jurnal Sathar 1, no. 1 (June 19, 2. : 11Ae22, https://doi. org/10. 59548/js. Sitorus and Ichsan. Rosyi Ibnu Hidayat. Suyatmo, and Nawawi. AuAhlaq Tasawuf Manunggaling Kawula Gusti,Ay Jurnal Penelitian Agama 24, no. 1 (May 4, 2. : 49Ae62, https://doi. org/10. 24090/jpa. Vol. 12 No. 1 | 133 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam maupun warganya. Optimalisasi kesatuan peran-peran baik dari keduanya inilah yang dia akan berdampak pada kebahagiaan. Persepektif Manunggaling Kawulo Gusti keterpaduannya dapat dilihat dalam rukun perjalanan yang juga menjadi sendi dalam mencapai Manunggaling Kawula Gusti,yaitu dzikir dan ilmu. Diantara ilmu dan dzikir, di dalamnya terdapat proses yang utama yakni amal kebajikan atau amal shalih. Dengan tidak adanya sendi ini, perjalanan Manunggaling Kawulo Gusti menjadi mustahil. Ilmu diibratkan lentera penerang jalan, sedangkan dzikir adalah bekal perjalanan dalam pendakian pada jenjang maqomat selanjutnya. Rasulullah Saw bersabda: AuDunia terlaknat apa yang ada didalamnya kecuali dzikir kepada Allah dan sesuatu yang menyertainya, atau orang berilmu yang mengajarkan ilmunyaAy (HR. Ibnu Maja. Kontroversi dan Relevansi Pandangan keagamaan Syech Siti Jenar kerap diposisikan berseberangan dengan ajaran Islam ortodoks, terutama yang dianut oleh para WaliSongo dan otoritas keagamaan Kerajaan Demak. Meski demikian, ajaran beliau juga dapat dipahami sebagai upaya kontekstualisasi nilai-nilai Islam dengan budaya lokal masyarakat Jawa, sehingga menjadi lebih mudah diterima oleh kalangan masyarakat awam. Perlu dicatat bahwa Siti Jenar tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Tuhan. Konsep Manunggaling Kawula Gusti lebih merupakan refleksi spiritual mendalam, di mana seorang hamba yang telah mencapai tingkat kesadaran tertinggi mengalami penyatuan ruhani dengan Sang Pencipta. Beberapa orang menganggap Syech Siti Jenar sebagai seseorang yang sesat karena pernyataanya terkait Manunggaling Kawulo Gusti, akan tetapi pada sisi lain Syech Siti Jenar memiliki dampak positif dikarenakan meningkatkan jumlah uamt muslim, karena kebanyakan orang-orang jawa kala itu tidak menerima ajaran islam dengan sempurna seperti apa yang telah diajarkan nabi Muhammad. Syech Siti Jenar disinilah memadukan ajaran agama Islam yang disesuaikan dengan kebiasaan para Masyarakat di tanah jawa, sehingga Masyarakat dapat menerima ajaran dari Syech Siti Jenar. Di tengah arus materialisme dan krisis spiritual saat ini, ajaran makrifat seperti yang diajarkan Syech Siti Jenar dapat menjadi inspirasi untuk menemukan kembali esensi ketuhanan dan kemanusiaan. Pemahaman tentang Manunggaling Kawulo Gusti dapat Rosyi Ibnu Hidayat. Suyatmo, and Nawawi. Rosyi Ibnu Hidayat. Suyatmo, and Nawawi. Sihombing and Sitorus. AuAjaran Tarekat Syekh Siti Jenar. Ay Sihombing and Sitorus. Vol. 12 No. 1 | 134 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam dimaknai sebagai dorongan untuk menghayati kehadiran Tuhan dalam diri, menjaga etika batin, dan menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dan Tuhannya. Namun demikian, ajaran ini perlu dikaji secara hati-hati, dengan pendampingan pemahaman terhadap syariat dan akidah yang kuat, agar tidak jatuh pada pemahaman yang menyimpang atau ekstrem. KESIMPULAN Ajaran makrifat Syech Siti Jenar, khususnya konsep Manunggaling Kawulo Gusti, menggambarkan suatu puncak spiritual dalam tradisi tasawuf yang menekankan kesatuan eksistensial antara hamba dengan Tuhan. Konsep ini bukanlah bentuk pengingkaran terhadap syariat Islam, melainkan sebuah perjalanan ruhani yang mendalam untuk mengenal Tuhan secara batiniah. Syech Siti Jenar memaknai kehidupan dunia sebagai keterasingan dari hakikat sejati manusia, yakni ruh yang berasal dari Tuhan. Oleh karena itu, penyatuan antara kawulo . dan Gusti (Tuha. dimaknai sebagai kembalinya kesadaran spiritual manusia kepada sumber ilahiah yang abadi. Meskipun ajarannya sering dianggap menyimpang oleh otoritas keagamaan pada masa itu, seperti Wali Songo dan Kerajaan Demak, ajaran Siti Jenar sebenarnya memiliki nilai adaptif terhadap budaya Jawa dan menjadi jembatan antara Islam dan kearifan lokal. Relevansi ajaran ini di masa kini dapat dirasakan dalam konteks krisis spiritual dan materialisme modern. Konsep Manunggaling Kawulo Gusti dapat menjadi landasan untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan, meningkatkan kesadaran etika batin, serta membangun harmoni antara manusia, sesama, dan lingkungan. Namun, ajaran ini tetap perlu dipahami secara proporsional dengan tetap berpegang pada nilai-nilai syariat Islam agar tidak terjebak pada tafsir ekstrem atau penyimpangan. DAFTAR PUSTAKA