Carolina Fina Suan. Wiwin Wiarsih. Widyatuti : Systematic Review: Pengaruh Program Pendampingan A. Systematic Review: Pengaruh Program Pendampingan Self Help Group Terhadap Tingkat Viral Load Dan Kepatuhan Minum ARV Pada ODHA Systematic Review: The Effect of Self-Help Group Mentoring Programs on Viral Load Levels and ARV Adherence in People with HIV Carolina Fina Suan1*. Wiwin Wiarsih2. Widyatuti3 1,2,3 Master of Nursing Program. Community Nursing Major Faculty of Nursing. University of Indonesia . -mail: carolfina. suan@gmail. Jl. Prof. Dr. Bahder Djohan. Kota Depok. Jawa Bara. ABSTRAK Program Self Help Group (SHG) digunakan sebagai intervensi psiko-sosial untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan dan menurunkan viral load pada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Namun, efektivitasnya masih bervariasi antar studi. Penelitian ini merupakan systematic review yang menganalisis pengaruh SHG terhadap kepatuhan minum antiretroviral (ARV) dan tingkat viral load pada ODHA dengan panduan PRISMA. Pencarian literatur dilakukan melalui Scopus. ScienceDirect. ProQuest, dan Sage Journal, menghasilkan 12. 365 artikel. Kata kunci yang digunakan: ("Self Help Group" OR "Support Group") AND ("Viral Load" OR "HIV Suppression") AND ("ARV Adherence" OR "Medication Compliance") AND ("PLHIV" OR "HIV Patients"). Setelah seleksi berdasarkan kriteria inklusi, diperoleh 10 artikel yang memenuhi syarat. Hasil menunjukkan keterlibatan dalam SHG berhubungan positif dengan peningkatan kepatuhan minum ARV dan penurunan viral load. Selain itu. SHG meningkatkan dukungan sosial, pemahaman penyakit, dan pemberdayaan individu. Program SHG direkomendasikan sebagai intervensi tambahan dalam layanan HIV terintegrasi untuk memperkuat kepatuhan pengobatan, kontrol virologis, dan sistem dukungan pasien. Kata Kunci: Self Help Group. ODHA, kepatuhan ARV, viral load. HIV/AIDS, program pencegahan HIV ABSTRACT Self-Help Group (SHG) programs are used as psychosocial interventions to improve medication adherence and reduce viral load in people living with HIV/AIDS (PLHIV). However, their effectiveness varies across studies. This study is a systematic review that analyzes the effect of SHGs on antiretroviral (ARV) adherence and viral load levels in PLHIV using PRISMA guidelines. A literature search was conducted through Scopus. ScienceDirect. ProQuest, and Sage Journal, resulting in 12,365 articles. The keywords used were: ("Self-Help Group" OR "Support Group") AND ("Viral Load" OR "HIV Suppression") AND ("ARV Adherence" OR "Medication Compliance") AND ("PLHIV" OR "HIV Patients"). After selection based on inclusion criteria, 10 eligible articles were The results showed that involvement in SHGs was positively associated with increased ARV adherence and viral load reduction. In addition. SHGs increased social support, disease understanding, and individual empowerment. SHG programs are recommended as an additional intervention in integrated HIV services to strengthen treatment adherence, virologic control, and patient support systems. Keywords: Self Help Group. PLHIV. ARV adherence, viral load. HIV/AIDS. HIV prevention program Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 414-433 PENDAHULUAN HIV/AIDS masih menjadi permasalahan kesehatan global yang serius, khususnya dalam hal pengendalian infeksi dan peningkatan kualitas hidup penderita. Salah satu tantangan utama dalam manajemen HIV adalah rendahnya tingkat kepatuhan minum antiretroviral (ARV), yang dapat menyebabkan kegagalan terapi, resistensi obat, serta peningkatan viral load. Ketidakpatuhan ini terutama ditentukan oleh faktor dominan seperti stigma, kondisi psikologis yang tidak stabil, keterbatasan dukungan sosial, serta rendahnya literasi kesehatan (Darmawansyah et al. , 2. Secara global, menurut data UNAIDS tahun 2023, diperkirakan terdapat lebih dari 39 juta orang hidup dengan HIV, dengan hanya sekitar 76% yang mengakses pengobatan ARV dan 67% yang berhasil menekan viral load ke tingkat tidak terdeteksi. Di Indonesia sendiri. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa hanya 41% ODHA yang mencapai penekanan virus , sebagian besar disebabkan oleh ketidakpatuhan konsumsi ARV secara teratur. Situasi ini menimbulkan urgensi untuk menemukan strategi intervensi nonfarmakologis yang efektif mendukung kepatuhan pengobatan (Handayani et al. , 2. Salah satu pendekatan yang berkembang dalam mendukung pengobatan HIV adalah program Self Help Group (SHG), yaitu kelompok dukungan sebaya yang bertujuan meningkatkan pemberdayaan, motivasi, serta kemampuan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) dalam mengatasi stigma maupun kesulitan pengobatan. Sejak awal tahun 2010-an, berbagai negara mulai mengadopsi SHG dalam layanan komunitas HIV maupun fasilitas kesehatan (Fana et al. , 2. Namun, efektivitasnya dalam menurunkan viral load dan meningkatkan kepatuhan terapi antiretroviral (ARV) masih menunjukkan hasil yang bervariasi. Sebagai bentuk intervensi kesehatan masyarakat, pendampingan melalui SHG berfokus pada peningkatan kepatuhan pengobatan sekaligus pencegahan penularan HIV, di mana viral load dan kepatuhan minum ARV menjadi indikator utama keberhasilan intervensi tersebut. Dengan mempertimbangkan pentingnya aspek tersebut, kajian sistematik ini dilakukan untuk merangkum serta menyebarkan bukti ilmiah terkini mengenai pengaruh self-help group (SHG) terhadap viral load dan kepatuhan minum ARV pada ODHA. Sejauh ini, berbagai penelitian telah mengevaluasi efektivitas SHG dalam mendukung keberhasilan terapi HIV, namun hasil yang dilaporkan masih beragam dan belum menunjukkan kesimpulan yang konsisten. Sebagian besar penelitian terdahulu lebih Carolina Fina Suan. Wiwin Wiarsih. Widyatuti : Systematic Review: Pengaruh Program Pendampingan A. menekankan pada aspek psikososial, seperti dukungan sosial dan peningkatan kualitas hidup, sementara hubungan langsung antara partisipasi dalam SHG dengan indikator klinis utama yakni viral load dan kepatuhan minum ARV belum banyak dikaji secara Oleh karena itu, diperlukan suatu systematic review yang dapat mengintegrasikan berbagai temuan tersebut untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran SHG dalam mendukung keberhasilan terapi HIV. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan intervensi berbasis komunitas yang lebih efektif serta terintegrasi dengan layanan HIV di berbagai konteks pelayanan kesehatan METODE Penelitian ini merupakan suatu systematic review yang disusun berdasarkan pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and MetaAnalyse. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan merangkum secara sistematis bukti-bukti ilmiah mengenai pengaruh program pendampingan Self Help Group (SHG) terhadap tingkat viral load dan kepatuhan minum obat antiretroviral (ARV) pada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Sumber data diperoleh dari empat basis data elektronik utama, yaitu Scopus. ScienceDirect. ProQuest, dan SAGE Journal. Proses pencarian literatur dilakukan dengan menggunakan kombinasi kata kunci sebagai berikut: ("Self Help Group" OR "Support Group") AND ("Viral Load" OR "HIV Suppression") AND ("ARV Adherence" OR "Medication Compliance") AND ("PLHIV" OR "HIV Patients"). Artikel yang dicari dibatasi pada publikasi dalam kurun waktu tahun 2013 hingga 2023. Hasil pencarian awal menunjukkan jumlah total artikel sebanyak 12. 365, yang terdiri atas 34 artikel dari Scopus, 3. 945 artikel dari ScienceDirect, 5 artikel dari ProQuest, dan 5 artikel dari SAGE Journal. Seleksi artikel dilakukan secara bertahap, dimulai dari identifikasi duplikasi, penyaringan berdasarkan judul dan abstrak, hingga peninjauan teks lengkap. Kriteria inklusi dalam penelitian ini mencakup: . artikel berdesain kuantitatif (RCT atau quasiexperimenta. dan kualitatif, . populasi penelitian merupakan ODHA berusia remaja atau dewasa, . intervensi yang digunakan berupa program SHG, serta . memiliki luaran berupa tingkat kepatuhan konsumsi ARV dan/atau kadar viral load. Artikel dikeluarkan dari review apabila menggunakan desain penelitian berbentuk review dan Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 414-433 tidak relevan terhadap topik penelitian, atau tidak menyajikan data hasil yang sesuai. Seluruh artikel yang memenuhi kriteria kemudian dianalisis secara naratif. Analisis naratif dipilih karena terdapat heterogenitas desain penelitian, variasi bentuk intervensi SHG, serta perbedaan indikator luaran yang membuat sintesis kuantitatif atau metaanalysis tidak dapat dilakukan secara valid. Proses seleksi artikel dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, seluruh hasil pencarian diekspor ke dalam perangkat lunak manajemen referensi, kemudian dilakukan proses deduplication untuk menghapus artikel ganda. Setelah itu, dua peneliti independen melakukan screening judul dan abstrak berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Artikel yang dianggap relevan kemudian dibaca secara penuh . ull-text revie. untuk memastikan kesesuaian dengan tujuan kajian. Apabila terdapat perbedaan pendapat antara kedua peneliti pada tahap screening atau full-text review, perbedaan tersebut diselesaikan melalui diskusi hingga tercapai konsensus. Bila konsensus tidak dapat dicapai, peneliti ketiga dilibatkan sebagai penilai akhir untuk memastikan keputusan yang objektif. Data yang diekstraksi dari setiap artikel meliputi nama penulis, tahun terbit, lokasi penelitian, desain studi, jumlah dan karakteristik responden, bentuk intervensi SHG, serta hasil utama terkait kepatuhan ARV dan viral load. Penilaian kualitas metodologis artikel dilakukan menggunakan Critical Appraisal Tool dari Joanna Briggs Institute (JBI) (Tabel . , disesuaikan dengan jenis desain penelitian. Protokol penelitian ini belum didaftarkan pada PROSPERO namun penyusunan dan pelaporan systematic review tetap mengikuti pedoman PRISMA untuk menjaga transparansi serta keterlacakan seluruh proses kajian. HASIL Pawal menghasilkan total 12. 365 artikel yang setelah diseleksi berdasarkan judul, tahun publikasi, dan jenis artikel menyisakan 20 artikel. Setelah penilaian rinci dari teks lengkap diperoleh 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi sehingga seluruhnya dimasukkan ke dalam review (Gambar . Carolina Fina Suan. Wiwin Wiarsih. Widyatuti : Systematic Review: Pengaruh Program Pendampingan A. Gambar 1. Bagan alur PRISMA pada Proses Penulusuran dan Seleksi Artikel Berikut adalah hasil sintesis dari 10 artikel penelitian yang dianalisis dalam systematic review mengenai pengaruh program pendampingan Self Help Group (SHG) terhadap tingkat viral load dan kepatuhan minum ARV pada ODHA. Masing-masing artikel diringkas berdasarkan: penulis dan tahun, lokasi, desain penelitian, jumlah sampel, bentuk intervensi SHG, dan hasil utama (Tabel . Perbedaan hasil penelitian juga disajikan berdasarkan desain penelitian (Tabel . Berdasarkan tabel 1 didapatkan distribusi artikel berdasarkan desain studi nya adalah sebagai berikut. Sebanyak 4 artikel desain kualitatif, 3 artikel kuantitatif, dan 3 artikel eksperimental. Berdasarkan telaah literatur tersebut didapatkan dampak dari intervensi Self Help Group dan Dukungan Sebaya pada ODHA diantaranya adalah peningkatan kepatuhan mengkonsumsi ARV. Penurunan Viral load dan penurunan stigma dan gejala psikologis. Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 414-433 Berdasarkan hasil analisis ekstraksi data, terdapat empat artikel yang membahas intervensi terkait pelayanan rumah sakit. Artikel tersebut antara lain penelitian Benaddi Mina et al . di Maroko yang mengevaluasi edukasi terapeutik pada pasien HIV di rumah sakit regional, studi Munyayi & van Wyk . di Namibia yang menekankan pentingnya dukungan sistem kesehatan dari penyedia layanan dan manajer program, penelitian di Eswatini . yang mengkaji layanan khusus HIV dengan keterlibatan tenaga kesehatan dan manajer program, serta studi Zenebe Negash et al . di Ethiopia yang meneliti efektivitas konseling di rumah sakit rujukan Tikur Anbessa Specialized Hospital. Terdapat enam artikel yang lebih menitikberatkan pada pengelolaan dan pencegahan kesehatan masyarakat. Artikel tersebut mencakup penelitian Cluver et al. di Afrika Selatan mengenai dukungan sosial bagi remaja dengan HIV, studi Ssewamala et al . di Uganda tentang dukungan berbasis kelompok di klinik dan komunitas, penelitian Nardell et al . di Afrika Selatan mengenai peer group support AuYima NkqoAy, studi Mbah et al . di Afrika terkait dukungan kelompok komunitas di beberapa negara, penelitian Lahai et al . di Sierra Leone mengenai persepsi pasien HIV dan tenaga kesehatan terkait faktor dukungan kepatuhan, serta studi Lung et al . di Amerika Tengah tentang efektivitas program komunikasi perubahan perilaku (BCC) dalam mendorong penggunaan ARV. Intervensi berbasis kelompok antar negara tidak terlihat signifikan perbedaannya. Intervensi yang ada adalah adanya solidaritas komunitas dan struktur sosial tradisional yang memungkinkan dukungan sebaya berjalan secara alami, namun sering terkendala oleh keterbatasan sumber daya layanan kesehatan. Sebaliknya, di AsiaAiterutama di negara dengan sistem kesehatan yang lebih terstrukturAipendekatan komunitas sering kali dijalankan melalui mekanisme formal atau program pemerintah, tetapi masih menghadapi tantangan berupa stigma sosial dan rendahnya keterbukaan individu dalam bergabung dengan kelompok dukungan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa efektivitas SHG tidak hanya ditentukan oleh bentuk intervensinya, tetapi juga oleh dinamika sosial-budaya dan kapasitas sistem layanan di masing-masing konteks. Carolina Fina Suan. Wiwin Wiarsih. Widyatuti : Systematic Review: Pengaruh Program Pendampingan A. Tabel 1. Tabel Ekstraksi Data Penulis . Negara Metode Sampel Jenis Intervensi (Cluver & et South , 2. Africa Crosectional 1059 remaja Dukungan ART, dari usia 1019 tahun. (Benaddi Maroko Mina et al. Crosectional 160 ODHAEdukasi usia 18 tahun , terapeutik ART lebih ARV dari 2 bulan tidak memiliki atau gangguan rumah sakit regional BeniMellal. Maroko antara Februari dan Juli Peserta sampel nonprobabilistik. Randomized Studi ini Dukungan control trial merekrut 89 berbasis remaja yang kelompok hidup dengan HIV . sia 1014 tahu. dan mereka, dari 9 kesehatan di Uganda. (Ssewamala Uganda et al. , 2. (Nardell et Afrika , 2. Selatan. Kualitatif pemuda Kelompok baru dukungan Pembanding Hasil Tanpa Dukungan social dapat konsumsi ARV 54% menjadi Tidak Kepatuhan edukasi atau ARV 73,1% setelah regimen yang mendapatkan Kelompok yang tidak Pemberian depresi dan stigma serta konsep diri Dukungan Intervensi peer group dapat Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 414-433 Penulis . Negara Metode di 5Cape Town Jenis Intervensi Pembanding Hasil didiagnosis sebaya HIV dan 10 AuYima NkqoAy terpisah kesehatan di sekitar Cape Town. (Munyayi & in Kualitatif van Wyk. Windhoek. Namibia (Mbah et , 2. Sampel Africa Kualitatif (Lahai et al. Sierra Leone Kualitatif 19 informan Dukungan yang sistem dipilih secara kesehatan - 9 manajer program HIV - 5 penyedia - 5 Namibia Adolescent Treatment Supporters (NATS). orang Dukungan dengan HIV kelompok (PLWH) yang melalui ART dari 12 kelompok Kenya. Uganda. Tanzania, dan Nigeria dengan baik oleh kelompok serta dapat konsumsi ARV pada pemuda HIV Tidak Dukungan mendapatkan sistem remaja namun berjalan secara Tidak tertera Tidak hubungan yang kelompok dan ARV menurut persepsi dari orang Dukungan Tidak Didapatkan dengan HIV kelomok mendapatkan persepsi (PLHIV) dan sebaya dan dukungan tenaga akses terkait faktor yang dipilih ARV ARV mereka dalam HIV akses terhadap Carolina Fina Suan. Wiwin Wiarsih. Widyatuti : Systematic Review: Pengaruh Program Pendampingan A. Penulis . Negara Metode Sampel Jenis Intervensi Pembanding Hasil ARV, stigma, tenaga kesehatan, dan jarak rumah dengan layanan (Eswatini Swaziland Kualitatif peserta. Layanan HIV Layanan Layanan Ministry of konvensional khusus HIV Health, - 32 remaja dengan HIV anak dengan (FGD) HIV merasa - 20 expert percaya diri dan dapat . - 12 informan remaja dalam . , dirinya untuk ARV program, dan (Lung et al. Belize. Kuasi Program Tidak Program BCC Guatemala, eksperimental partisipan dari komunikasi mendapatkan dapat Panama. El enam negara perubahan program Salvador. Amerika perilaku Honduras. Tengah. ARV dan Costa Rica (Zenebe Ethiopia Cross sectional 230 pasien Konseling Tidak Perlunya Negash et HIV/AIDS mendapatkan peningkatan , 2. dan sikap terapi ART di Tikur Anbessa Specialized ARV. Hospital. Berdasarkan Tabel 1 didapatkan hasil ekstraksi data dari sepuluh artikel yang memenuhi kriteria inklusi menunjukkan bahwa intervensi self-help group (SHG) dan bentuk dukungan sosial lainnya memberikan pengaruh yang beragam terhadap kepatuhan minum ARV dan penurunan viral load pada ODHA. Sebagian besar studi dilakukan di Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 414-433 negara-negara Afrika seperti Afrika Selatan. Uganda. Namibia, dan Sierra Leone, serta sebagian di Maroko dan Amerika Tengah, mencerminkan penerapan luas pendekatan berbasis komunitas di wilayah dengan beban HIV tinggi. Secara umum, dukungan sosial, kelompok sebaya, dan edukasi terapeutik terbukti meningkatkan kepatuhan pengobatan, seperti temuan Cluver et al. dan Benaddi et al. yang melaporkan peningkatan signifikan dalam kepatuhan ARV, serta Ssewamala et al. yang menunjukkan dampak positif terhadap depresi, stigma, dan konsep diri remaja. Studi kualitatif lainnya (Nardell et al. , 2023. Lahai et al. , 2022. Eswatini Ministry of Health, 2. menegaskan pentingnya dukungan sebaya dan layanan HIV terintegrasi dalam membangun rasa percaya diri serta kemandirian ODHA. Namun, beberapa penelitian seperti Mbah et al. tidak menemukan hubungan signifikan antara dukungan kelompok dan kepatuhan ARV, menunjukkan bahwa efektivitas SHG sangat bergantung pada konteks sosial, kualitas pelaksanaan, dan tingkat keterlibatan peserta. Sementara itu. Munyayi dan van Wyk . menyoroti perlunya koordinasi yang lebih baik antara dukungan komunitas dan sistem kesehatan, dan studi di Amerika Tengah (Lung et al. , 2. serta Ethiopia (Zenebe Negash et al. , 2. memperkuat bukti bahwa komunikasi perubahan perilaku dan konseling dapat meningkatkan kepatuhan serta pemahaman terhadap pengobatan. SHG berpotensi besar mendukung keberhasilan terapi HIV, namun efektivitasnya tetap ditentukan oleh kesesuaian konteks sosial-budaya, integrasi dengan layanan kesehatan, serta keberlanjutan intervensi di tingkat komunitas. Tabel 2. Kritikal Apraisal (JBI) Penulis (Tahu. Cluver et al. Benaddi et Ssewamala et al. Nardell et Munyayi & van Wyk Mbah et al. Lahai et al. Eswatini Q10 Kesimpulan Oo Oo Oo Oo Oo Oo Ae Baik Ae Sangat Baik Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Baik Oo Baik Oo Oo Oo Sedang Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Kurang Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Baik Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Baik Carolina Fina Suan. Wiwin Wiarsih. Widyatuti : Systematic Review: Pengaruh Program Pendampingan A. Penulis Q1 Q2 Q3 Q4 Q5 Q6 Q7 Q8 Q9 (Tahu. MoH Lung et al. 10 Zenebe Oo Negash et Keterangan: X=Tidak memenuhi. Oo=Memenuhi, - =Tidak dilakukan Q10 Kesimpulan Ae Baik Ae Sangat Baik Hasil penilaian Critical Appraisal JBI (Tabel . menunjukkan bahwa sebagian besar studi memiliki kualitas sedang hingga baik. Penelitian kuantitatif seperti Cluver et . Benaddi et al. , dan Lung et al. umumnya memiliki kejelasan desain dan analisis yang tepat, namun keterbatasan muncul pada penggunaan desain cross-sectional yang tidak dapat memastikan hubungan kausal. Sementara itu, studi kualitatif seperti Mbah et al. dan Munyayi & van Wyk . memberikan pemahaman kontekstual yang mendalam, tetapi memiliki kelemahan dalam aspek refleksivitas peneliti dan pelaporan strategi validasi data. Penelitian eksperimental (Ssewamala et al. , 2. menunjukkan kekuatan dalam pengendalian intervensi, tetapi masih terbatas dalam pelaporan proses randomisasi dan blinding. Selain itu, sebagian besar studi tidak menjelaskan secara rinci potensi bias seleksi dan keterbatasan generalisasi karena konteks sosial-budaya yang spesifik. Dengan demikian, meskipun kualitas metodologis secara umum cukup baik, hasil kajian ini perlu diinterpretasikan dengan hati-hati mengingat variasi desain, konteks penelitian, dan potensi bias yang ada. Tabel 3. Hasil Penelitian Pada Artikel Terpilih No. Desain Kualitatif Hasil Berdasarkan studi empat kualitatif (Penelitian No. 4, 5, 7, dan . , ditemukan bahwa intervensi berbasis komunitas dan kelompok sebaya . eer suppor. memiliki dampak positif terhadap kesiapan dan keterlibatan ODHA, terutama pada remaja dan dewasa muda. Misalnya, dalam studi oleh Nardell et al. , program Yima Nkqo Aisebuah kelompok dukungan sebaya yang dikembangkan secara lokalAidapat meningkatkan motivasi dan kesiapan inisiasi terapi ARV pada dewasa muda dengan HIV di Cape Town. Sementara itu. Munyayi & van Wyk . melaporkan bahwa sistem layanan kesehatan di Namibia memberikan dukungan psikososial dan dukungan teman sebaya, namun pelaksanaannya masih terpisah-pisah . , sehingga mempengaruhi efektivitas Selain itu, penelitian Lahai et al. dan Children and Youth Services Review . menegaskan bahwa dukungan sebaya, edukasi, dan hubungan baik dengan tenaga kesehatan sangat Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 414-433 mempengaruhi motivasi serta kepatuhan pasien terhadap pengobatan Kuantitatif Eksperimental Tiga studi observasional kuantitatif (Penelitian No. 1, 2, dan . mengidentifikasi hubungan antara intervensi edukatif dan sosial dengan kepatuhan ART dan penurunan viral load . Cluver dkk. menunjukkan bahwa kombinasi perlindungan sosial seperti dukungan makanan, kelompok dukungan, dan pengawasan orang tua dapat menurunkan ketidakpatuhan ART dari 54% menjadi 18%. Studi oleh Mina dkk. menegaskan bahwa pendidikan yang sehat dan keseragaman cara pengobatan merupakan prediktor signifikan terhadap kepatuhan. Sementara itu. Zenebe Negash dkk. menunjukkan masih rendahnya tingkat pengetahuan dan sikap positif terhadap efek samping ART di Ethiopia, yang berdampak pada praktik pengobatan yang tidak sesuai seperti penggunaan obat herbal tanpa konsultasi medis. Sebanyak tiga studi (Penelitian No. 3, 6, dan . menguji efektivitas intervensi terhadap hasil klinis dan perilaku pasien. Ssewamala dkk. dalam RCT menunjukkan bahwa intervensi berbasis kelompok efektif menurunkan stigma internal dan depresi , serta meningkatkan konsep diri pada remaja pengidap HIV di Uganda. Namun, studi kohort oleh Mbah dkk. tidak menemukan hubungan yang signifikan antara kehadiran dalam kelompok dukungan dengan kehadiran ART atau penekanan viral load, kemungkinan disebabkan oleh rendahnya partisipasi Sebaliknya, penelitian kuasi-eksperimental oleh Vu et al. menunjukkan bahwa program komunikasi perubahan perilaku mampu meningkatkan penggunaan kondom, menyebarkan status HIV, serta partisipasi dalam kelompok dukungan di enam negara di Amerika Tengah. Berdasarkan Tabel 3 didapatkan distribusi artikel berdasarkan desain studi nya adalah sebagai berikut. Sebanyak 4 artikel desain kualitatif, 3 artikel kuantitatif, dan 3 artikel eksperimental. Berdasarkan telaah literatur tersebut didapatkan dampak dari intervensi Self Help Group dan Dukungan Sebaya pada ODHA diantaranya adalah peningkatan kepatuhan mengkonsumsi ARV. Penurunan Viral load dan penurunan stigma dan gejala psikologis PEMBAHASAN Studi dengan desain kuantitatif eksperimental atau RCT (Lung et al. , 2015. Ssewamala et al, 2. dominan karena mampu menunjukkan hubungan kausalitas yang lebih jelas antara intervensi SHG dan peningkatan kepatuhan ARV. RCT yang menggunakan kelompok kontrol memberikan tingkat keandalan lebih tinggi karena mampu meminimalisasi bias, sementara ukuran sampel besar (Cluver et al. , 2. meningkatkan validitas eksternal hasil. Dengan demikian, bukti dari studi-studi ini lebih kuat untuk mendukung integrasi SHG dalam program HIV. Sebagian besar penelitian Carolina Fina Suan. Wiwin Wiarsih. Widyatuti : Systematic Review: Pengaruh Program Pendampingan A. lain menggunakan desain kualitatif atau cross-sectional, yang walaupun mampu memberikan wawasan kontekstual mendalam, memiliki keterbatasan dalam hal generalisasi dan bukti kausal. Misalnya, studi kualitatif (Lahai et al. , 2022. Nardell et al. menggambarkan persepsi pasien dan penyedia layanan, tetapi tidak mampu mengukur dampak kuantitatif pada viral load atau kepatuhan ARV. Selain itu, penelitian seperti Mbah et al. tidak memiliki kelompok pembanding yang memadai, sehingga kesimpulan mengenai efektivitas SHG menjadi lebih lemah. Kelemahan metodologis ini perlu diperhatikan dalam menginterpretasi efektivitas SHG secara keseluruhan(Mbah et al. , 2. Beberapa studi masih menunjukkan potensi bias sosial desirabilitas dan recall bias karena bergantung pada laporan diri responden, serta keterbatasan dalam pelaporan proses validasi instrumen dan blinding. Relevansi hasil terhadap konteks Indonesia juga perlu ditinjau secara hati-hati, mengingat sebagian besar studi dilakukan di Afrika dan Amerika Tengah dengan karakteristik sosial, budaya, serta sistem layanan kesehatan yang Oleh karena itu, interpretasi efektivitas SHG perlu mempertimbangkan keterbatasan metodologis dan konteks populasi target agar implementasinya dapat disesuaikan secara lebih realistis dalam program HIV di Indonesia Heterogenitas hasil antar studi menunjukkan bahwa SHG tidak selalu memberikan dampak seragam. Misalnya. Cluver et al. melaporkan penurunan signifikan ketidakpatuhan ARV melalui dukungan sosial, sementara Mbah et al. tidak menemukan hubungan bermakna antara kehadiran dalam kelompok dukungan dan kepatuhan ARV. Variasi hasil ini dapat dipengaruhi oleh perbedaan desain intervensi, indikator luaran, dan karakteristik populasi yang diteliti. Faktor metodologis seperti ukuran sampel, durasi intervensi, serta penggunaan instrumen pengukuran juga berperan besar dalam memengaruhi hasil penelitian. Selain aspek metodologis, konteks budaya dan struktural memiliki penting dalam menentukan keberhasilan SHG. Misalnya, di beberapa negara Afrika, stigma sosial yang tinggi terhadap HIV menjadikan SHG sebagai wadah penting untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian pasien, terutama remaja walaupun sistem kesehatan yang terfragmentasi di lokasi yang lain (Munyayi & van Wyk, 2. SHG kurang efektif karena dukungan struktural tidak terintegrasi. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas SHG tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial, budaya, dan dukungan layanan kesehatan yang tersedia di masing-masing negara. Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 414-433 Berdasarkan hasil telaah. SHG berpotensi besar untuk diintegrasikan ke dalam sistem hospital-based care. Rumah sakit dapat membentuk kelompok sebaya di klinik rawat jalan, mengembangkan konseling kelompok dalam program ART, serta menyediakan modul edukasi keluarga untuk melibatkan caregiver. Intervensi ini bukan hanya meningkatkan kepatuhan ARV, tetapi juga memperkuat dukungan psikososial dan menurunkan stigma internal. Model berbasis kelompok juga lebih efisien dari sisi alokasi sumber daya, karena satu sesi dapat menjangkau banyak pasien sekaligus memperkuat solidaritas antar ODHA. SHG perlu diakui sebagai bagian integral dari strategi HIV/AIDS. Integrasi SHG ke dalam kebijakan tidak hanya memperkuat efektivitas pengobatan, tetapi juga memastikan keberlanjutan program melalui standardisasi, supervisi tenaga kesehatan, dan keterhubungan dengan sistem ART nasional. Dengan pendekatan ini. SHG tidak lagi dipandang sebagai kegiatan tambahan berbasis komunitas semata, tetapi sebagai komponen resmi yang terhubung langsung dengan layanan medis. Hal ini akan mendorong terciptanya sistem layanan HIV yang lebih komprehensif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kebutuhan pasien serta keluarganya. Intervensi berbasis Self Help Group (SHG) dan dukungan sebaya terbukti mampu meningkatkan kepatuhan pasien HIV/AIDS dalam mengonsumsi antiretroviral (ARV). Keikutsertaan dalam kelompok dukungan membantu memperkuat motivasi dan disiplin minum obat secara konsisten. Cluver et al. menemukan bahwa dukungan sosial, termasuk pengawasan orang tua dan bantuan makanan, menurunkan ketidakpatuhan dari 54% menjadi 18%. Dukungan emosional dari kelompok sebaya memberikan rasa tidak sendiri, yang memperkuat komitmen terhadap terapi. Pendekatan edukasi dalam SHG memberikan informasi tentang pentingnya pengobatan dan cara mengatasi efek samping. Hal ini membantu pasien merasa lebih percaya diri dalam menjalani terapi jangka Penelitian Mina et al. di Maroko menunjukkan bahwa edukasi terapeutik berperan signifikan dalam meningkatkan kepatuhan pasien HIV/AIDS hingga 73,1%. Edukasi tersebut tidak hanya menekankan pentingnya minum ARV, tetapi juga memberikan strategi untuk menghadapi efek samping obat. Regresi logistik dalam penelitian ini menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara edukasi dan kepatuhan pengobatan. Kombinasi antara SHG dan edukasi terbukti memperkuat komitmen pasien dalam menjalani pengobatan. Selain itu, penggunaan model komunikasi perubahan perilaku mampu meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab pribadi pasien. Vu et al. melaporkan bahwa program komunikasi dalam kelompok dapat mendorong partisipasi aktif pasien tanpa rasa dipaksa. Carolina Fina Suan. Wiwin Wiarsih. Widyatuti : Systematic Review: Pengaruh Program Pendampingan A. Intervensi kelompok kecil dengan pendekatan interaktif pada remaja juga menunjukkan hasil positif dalam meningkatkan kepatuhan dan kesehatan psikososial. Ssewamala et al. menyatakan bahwa kegiatan yang melibatkan remaja dan caregiver mampu menurunkan gejala depresi sekaligus meningkatkan kepatuhan dalam 3 sampai 6 bulan. Kegiatan ini membahas aspek psikologis dan sosial pasien secara simultan, sehingga menciptakan ruang aman yang mendukung perubahan perilaku. Namun. Mbah et al. menemukan bahwa rendahnya partisipasi aktif dapat mengurangi efektivitas intervensi SHG. Kualitas dan intensitas keterlibatan peserta menjadi faktor utama keberhasilan program. Oleh karena itu, penting bagi penyelenggara untuk merancang SHG yang menarik dan memastikan dukungan berkelanjutan. Penurunan viral load merupakan indikator klinis utama keberhasilan terapi ARV yang secara positif dipengaruhi oleh kepatuhan pasien. Studi Vu et al. menunjukkan bahwa intervensi komunikasi perubahan perilaku berkontribusi pada penurunan risiko penularan HIV, mencerminkan efektivitas pengobatan. Ketika pasien rutin mengonsumsi ARV, replikasi virus dapat ditekan hingga tingkat yang tidak SHG berperan sebagai wadah untuk memberikan dukungan sosial dan edukasi, sehingga pasien termotivasi untuk konsisten menjalani terapi. Cluver et al. menambahkan bahwa dukungan komunitas dan keluarga membantu menciptakan lingkungan yang positif bagi pasien. Lingkungan yang aman dan suportif ini meningkatkan kepatuhan dan berdampak pada hasil klinis. Meskipun demikian, hasil dari studi Mbah et al. menunjukkan bahwa tanpa keterlibatan aktif peserta, partisipasi dalam SHG tidak cukup untuk menurunkan viral load secara signifikan. Intervensi yang tidak terstruktur atau pasif kurang mampu menggerakkan perubahan perilaku yang dibutuhkan. Penelitian pada remaja oleh Ssewamala et al. menunjukkan hasil yang lebih konsisten berkat kegiatan interaktif yang juga menyasar aspek psikologis. Penurunan gejala depresi dan peningkatan konsep diri secara tidak langsung memperkuat kepatuhan terapi dan penurunan viral load. Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan holistik yang menggabungkan aspek psikososial dan klinis. Dengan cara ini, pengobatan menjadi lebih efektif dan berkelanjutan. SHG tidak dapat dianggap sebagai pengganti terapi medis, melainkan sebagai penguat intervensi yang sudah ada. Program ini membantu pasien memahami tujuan pengobatan, manajemen efek samping, dan pentingnya kedisiplinan minum obat. Dukungan emosional yang diterima di dalam kelompok menjadi pendorong motivasi dan semangat pasien. Penurunan viral load bukan hanya hasil dari satu faktor, melainkan Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 414-433 interaksi kompleks dari berbagai aspek. Sinergi antara pendekatan medis dan sosial menjadi kunci keberhasilan dalam pengendalian HIV. Oleh karena itu, dukungan kebijakan dan pendanaan sangat penting untuk memperluas program SHG. Penurunan stigma internal dan gejala psikologis menjadi salah satu manfaat penting dari intervensi SHG, khususnya bagi pasien yang menghadapi tekanan sosial dan Ssewamala et al. melaporkan bahwa partisipasi remaja dalam kelompok selama enam bulan secara signifikan menurunkan stigma dan meningkatkan harga diri. Diskusi terbuka dan aktivitas kelompok menciptakan rasa diterima dan dimengerti di antara peserta. Penurunan stigma berkontribusi pada peningkatan motivasi pasien untuk mematuhi terapi dan menjalani hidup sehat. Expert clients dalam studi di Eswatini juga berperan penting dalam pengungkapan status yang penuh empati, mengurangi kecemasan dan rasa takut. Hubungan positif ini membangun iklim dukungan yang kuat di komunitas. Program komunikasi perubahan perilaku juga membantu pasien meningkatkan kepercayaan diri dan mengubah cara pandang terhadap diri sendiri. Vu et al. menemukan bahwa pasien yang mengikuti program ini lebih terbuka dan mampu mengelola pengobatan serta interaksi sosial dengan lebih baik. Pasien mulai melihat diri mereka sebagai pengelola kondisi, bukan hanya penderita. Hal ini menurunkan rasa malu dan memperkuat keterbukaan terhadap pengobatan. Selain itu, dukungan dari layanan kesehatan yang terpadu memperkuat konsistensi perawatan dan penguatan psikologis Munyayi & van Wyk . menunjukkan bahwa model layanan yang menyatu membantu pasien merasa diperhatikan dan tidak terasing. Penurunan stigma dan beban psikologis tidak hanya memberi kenyamanan emosional, tetapi juga meningkatkan efektivitas pengobatan jangka panjang. Intervensi berbasis kelompok, expert clients, dan komunikasi efektif menciptakan ekosistem dukungan yang memberdayakan pasien. Ketika stigma berkurang, pasien lebih berani mengakses layanan kesehatan dan menjalani perawatan dengan terbuka. Ini penting untuk mengurangi angka drop-out dari terapi yang dapat mengancam keberhasilan pengobatan. Dengan penguatan psikososial yang tepat, kualitas hidup ODHA meningkat secara Oleh karena itu, aspek psikologis harus menjadi prioritas utama dalam program pendampingan HIV untuk hasil yang optimal. Hasil sintesis menunjukkan bahwa terdapat empat artikel yang secara konsisten menekankan pentingnya intervensi yang dilakukan di rumah sakit dalam mendukung keberhasilan terapi ARV. Studi Benaddi Mina et al. di Maroko menegaskan bahwa edukasi terapeutik mampu meningkatkan kepatuhan pasien hingga 73,1%. Edukasi Carolina Fina Suan. Wiwin Wiarsih. Widyatuti : Systematic Review: Pengaruh Program Pendampingan A. yang dilakukan secara langsung di rumah sakit terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan pasien, membentuk kesadaran akan pentingnya keteraturan minum obat, serta menurunkan risiko putus obat. Hal ini menekankan bahwa rumah sakit memiliki peran strategis tidak hanya dalam memberikan obat, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran klinis yang memperkuat perilaku positif pasien. Penelitian Munyayi & van Wyk . di Namibia menekankan pentingnya dukungan sistem kesehatan yang melibatkan tenaga kesehatan, manajer program, dan pihak rumah sakit. Namun, dukungan ini masih bersifat parsial sehingga belum optimal dalam menjamin kesinambungan layanan bagi pasien remaja dengan HIV. Studi serupa di Eswatini . menemukan bahwa layanan khusus HIV yang dirancang secara terintegrasi dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian remaja ODHA. Hal ini memperlihatkan bahwa layanan kesehatan yang dirancang secara spesifik sesuai kebutuhan pasien mampu memberikan dampak lebih luas terhadap aspek psikososial dan klinis pasien. Penelitian Zenebe Negash et al. di Ethiopia menggarisbawahi peran penting konseling di rumah sakit rujukan. Konseling tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan sikap pasien terkait ARV, tetapi juga membantu mereka dalam mengatasi efek samping obat sehingga lebih siap menjalani pengobatan jangka panjang. Dengan demikian, intervensi di rumah sakit terbukti menyentuh berbagai dimensi, mulai dari aspek medis hingga psikososial. Secara keseluruhan, rumah sakit bukan hanya menjadi pusat terapi, tetapi juga pusat edukasi, konseling, dan penguatan sistem layanan yang mendukung keberhasilan jangka panjang pengobatan HIV. Sebanyak enam artikel lainnya lebih menekankan pada intervensi berbasis komunitas dan kesehatan masyarakat yang menyoroti pentingnya dukungan sosial, sebaya, dan faktor struktural. Penelitian Cluver et al. di Afrika Selatan menunjukkan bahwa dukungan sosial dapat menurunkan ketidakpatuhan ARV dari 54% menjadi 18%. Studi ini menegaskan bahwa lingkungan sosial yang suportif mampu menjadi faktor protektif yang krusial, khususnya pada kelompok remaja yang rentan menghadapi stigma dan tekanan sosial. Selanjutnya, studi Ssewamala et al. di Uganda membuktikan bahwa dukungan berbasis kelompok dapat menurunkan depresi, mengurangi stigma, serta meningkatkan konsep diri remaja ODHA. Intervensi sebaya juga terbukti efektif sebagaimana terlihat pada penelitian Nardell et al. di Afrika Selatan dengan program AuYima NkqoAy. Program ini Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo Vol. 11 No. 2 Oktober 2025 : 414-433 menunjukkan bahwa dukungan kelompok sebaya mudah diadaptasi dan mampu meningkatkan kepatuhan remaja ODHA. Namun, hasil berbeda ditemukan dalam studi Mbah et al. yang dilakukan di beberapa negara Afrika. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa meskipun dukungan kelompok komunitas memberikan manfaat sosial seperti solidaritas dan pengurangan rasa kesepian, hubungannya dengan kepatuhan ARV tidak signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa efektivitas intervensi komunitas sangat bergantung pada kualitas implementasi terhadap sosial budaya setempat. Di sisi lain, penelitian Lahai et al. di Sierra Leone menekankan bahwa kepatuhan pasien dipengaruhi oleh faktor struktural seperti akses terhadap ARV, dukungan keluarga, keterlibatan tenaga kesehatan, stigma, serta jarak ke layanan Faktor-faktor ini menunjukkan bahwa keberhasilan kepatuhan tidak hanya bergantung pada motivasi individu, tetapi juga pada dukungan sistemik. Hal ini diperkuat oleh studi Lung Vu et al. di Amerika Tengah yang menemukan bahwa program komunikasi perubahan perilaku (BCC) efektif dalam meningkatkan penggunaan ARV secara luas di tingkat populasi. Dengan demikian, intervensi berbasis komunitas lebih menekankan pada aspek sosial dan struktural, serta mampu memperluas cakupan pencegahan HIV pada tingkat masyarakat dibandingkan pendekatan individual di rumah SIMPULAN Intervensi berbasis Self Help Group (SHG), dukungan sebaya, dan edukasi terapeutik terbukti efektif dalam meningkatkan kepatuhan pasien HIV/AIDS terhadap konsumsi antiretroviral (ARV), menurunkan viral load, serta mengurangi stigma dan masalah psikososial. Temuan ini menunjukkan perlunya integrasi SHG secara sistematis ke dalam layanan HIV di rumah sakit, misalnya melalui pembentukan kelompok sebaya di klinik rawat jalan, pelatihan tenaga kesehatan, serta penyusunan modul edukasi keluarga yang terstandarisasi. Di tingkat komunitas. SHG dapat diperkuat melalui pelatihan expert clients, pengembangan metode interaktif, dan peningkatan keterlibatan keluarga agar partisipasi pasien lebih aktif dan berkelanjutan. Dari sisi kebijakan, pemerintah perlu memasukkan SHG dalam strategi nasional HIV/AIDS, menyediakan alokasi sumber daya, serta mendorong kolaborasi lintas sektor antara fasilitas kesehatan, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa keberhasilan ART tidak hanya bergantung pada ketersediaan obat dan layanan medis. Carolina Fina Suan. Wiwin Wiarsih. Widyatuti : Systematic Review: Pengaruh Program Pendampingan A. tetapi juga membutuhkan dukungan sosial yang terstruktur, sehingga integrasi SHG menjadi instrumen penting dalam memastikan kepatuhan pengobatan, mencegah resistensi ARV, dan meningkatkan kualitas hidup pasien secara berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia atas dukungan, bimbingan, dan fasilitas yang diberikan sehingga karya ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA