Jurnal Serina Sosial Humaniora Vol. No. Feb 2023: hlm 250-257 ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. GAMBARAN WORK ENGAGEMENT PADA KARYAWAN DI PERUSAHAAN STARTUP Febiola Santoso1. Raniah Qanita Khodijah2. Christover Reynaldi3 & Kiky Dwi Hapsari Saraswati4 Program Studi Psikologi. Universitas Tarumanagara Email: febiola. 705190048@stu. Program Studi Psikologi. Universitas Tarumanagara Email: raniah. 705190292@stu. Program Studi Psikologi. Universitas Tarumanagara Email: christover. 705190297@stu. Fakultas Psikologi. Universitas Tarumanagara Email: kikys@fpsi. ABSTRACT Startup companies established in Indonesia are showing significant growth in numbers. This of course is a positive indication for economic and business growth. However, startup companies face many challenges, especially to compete with similar companies that are more established and have been around for a long time. Therefore startup companies must be able to boost their performance so they don't fail. Employees as company assets play a very important role. In order for employee performance to increase, companies need to pay attention to a positive work atmosphere, which is known as work engagement (WE). WE is a positive and satisfying psychological state related to work that is characterized by vigor, dedication, and absorption. This study aims to get an overview of work engagement among startup employees using a quantitative approach. Participant data was collected through the Utrecht Work Engagement Scale questionnaire which consisted of 9 items(UWES-. , consisting of 3 items on the vigor dimension, 3 items on the dedication dimension, and 3 items on the absorption dimension. The number of participants in this study were 367 startup employees aged 18-58 years. Data analyzed by using an independent sample t-test and one way ANOVA. The results showed that startup employees had high work engagement (M=4. and scored high on all dimensions, vigor (M=4. , dedication (M=4. , and absorption (M= 4. This shows that most startup employees have high work engagement. With that, they have an impact on the success of the Keywords: work engagement, employees, startup company ABSTRAK Perusahaan startup yang didirikan di Indonesia menunjukkan pertumbuhan jumlah yang signifikan. Hal ini tentu saja merupakan indikasi positif bagi pertumbuhan ekonomi dan bisnis. Namun perusahaan startup menghadapi banyak tantangan, terutama untuk bersaing dengan perusahaan sejenis yang sudah lebih mapan dan lebih lama Oleh karena itu perusahaan startup haruslah dapat menggenjot kinerjanya agar tidak gagal. Karyawan sebagai aset perusahaan memegang peranan yang sangat penting. Agar kinerja karyawan meningkat, perusahaan perlu memperhatikan atmosfir kerja yang positif, yang dikenal sebagai work engagement (WE). WE adalah keadaan psikologis yang baik dan memuaskan terkait dengan pekerjaan yang dicirikan dengan vigor, dedication, dan Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran work engagement pada karyawan startup dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Data partisipan dikumpul melalui kuesioner Utrecht Work Engagement Scale yang terdiri dari 9 butir (UWES-. , terdiri dari: . 3 butir pertanyaan pada dimensi vigor. 3 butir pertanyaan pada dimensi dedication. 3 butir pertanyaan pada dimensi absorption. Jumlah partisipan dalam penelitian ini sebanyak 367 karyawan startup yang berusia 18 - 58 tahun. Data dianalisis menggunakan independent sample t-test dan one way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karyawan startup memiliki keterikatan kerja yang tinggi (M = 4,. , dan memiliki skor yang tinggi pada semua dimensinya, vigor (M= 4,. , dedication (M= 4,. , dan absorption (M= 4,. Hal tersebut menunjukkan sebagian besar karyawan startup memiliki keterikatan kerja yang tinggi. Dengan itu, mereka memiliki dampak pada keberhasilan perusahaan. Kata Kunci: work engagement, karyawan, perusahaan startup https://doi. org/10. 24912/jssh. Gambaran Work Engagement Pada Karyawan di Perusahaan Startup Santoso et al. PENDAHULUAN Dalam sebuah perusahaan terdapat banyak sekali faktor penting di dalamnya, salah satunya adalah sumber daya manusia (SDM) atau sering juga yang dikenal sebagai seorang karyawan dalam sebuah perusahaan. Perusahaan maupun organisasi tidak akan bisa berjalan tanpa adanya sumber daya manusia didalamnya. Sebagai salah satu aspek terpenting, sumber daya manusia (SDM) membuat perusahaan harus memberikan perlakuan khusus terhadapnya. Dari pandangan ini membuat perusahaan menjadi fokus mencari cara agar karyawannya dapat terikat dengan pekerjaannya di dalam perusahaan. Keterikatan karyawan dengan pekerjaannya disebut juga dengan istilah work engagement. Karyawan yang memiliki work engagement tinggi tidak akan mudah untuk menyerah dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, melainkan individu tersebut akan terus menyelesaikan pekerjaan meskipun ada banyak kesulitan. Bakker . juga menjelaskan bahwa karyawan yang memiliki work engagement yang tinggi akan lebih produktif dalam kehidupannya serta memiliki keinginan kerja yang lebih tinggi. Ketika karyawan terikat, secara otomatis mereka akan meningkatkan kinerjanya selaras dengan tujuan dan hasil yang ingin dicapai oleh perusahaan. Menurut Gallup Organization . alam Kuncoro, 2. , memberikan pengelompokan mengenai jenis pembagian engagement salah satunya adalah work engaged. Work engagement adalah keadaan dimana seorang individu atau karyawan merasa positif dan puas secara psikologis dalam melakukan pekerjaannya. Work engagement datang bersamaan dengan vigor, dedication dan absorption (Schaufeli, 2. Vigor . ditandai dengan energi mental tingkat tinggi dan keuletan ketika bekerja dan tekad saat mengalami kesulitan. Dedication . merupakan sebuah perasaan komitmen yang dirasakan oleh seorang individu atau karyawan sehingga merasa dirinya penting, melakukan pekerjaan dengan antusias dan merasa memberikan inspirasi. Dedication juga ditandai dengan rasa bangga dan tertantang dalam melakukan pekerjaannya. Absorption atau penghayatan, merupakan keadaan dimana seorang individu atau karyawan melakukan pekerjaan dengan sangat konsentrasi dan merasa sangat senang melakukan Alasan mengapa work engagement sangat populer karena sudah banyak yang melakukan penelitian terhadapnya dan work engagement memberikan efek yang sangat positif terhadap hasil kerja baik karyawan, tim maupun sebuah perusahaan atau organisasi. Salah satu penelitian sebelumnya berhasil ditinjau oleh Soares dan Mosquera . menyatakan bahwa work engagement memiliki dampak positif pada kinerja, loyalitas-kepuasan pelanggan, profitabilitas, dan produktivitas. Bakker . juga menambahkan bahwa work engagement tidak hanya bermanfaat untuk individu, tetapi juga menciptakan keunggulan kompetitif bagi organisasi atau Sehingga dapat disimpulkan work engagement diperlukan bagi seorang atau individu dalam melakukan pekerjaannya. Penelitian kali ini, peneliti ingin melihat gambaran work engagement pada karyawan di perusahaan startup dikarenakan saat ini perkembangan startup di Indonesia sedang berkembang dengan pesat. Herman . menyampaikan bahwa pada tahun 2021 Indonesia masuk menjadi peringkat kelima yang memiliki jumlah perusahaan startup terbanyak. Startup sendiri dapat dikatakan sebagai bisnis berbasis teknologi baru dan biasanya merupakan proses penyempurnaan dalam sebuah industri yang sudah ada sehingga masih belum mempunyai pasarnya sendiri, sehingga biasanya operasi didalam perusahaan masih belum pas atau mungkin terkesan masih https://doi. org/10. 24912/jssh. Jurnal Serina Sosial Humaniora Vol. No. Feb 2023: hlm 250-257 ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. Disampaikan juga oleh Adieb . dalam perusahaan startup umumnya mempunyai lingkungan kerja yang seru dan mempunyai pelatihan kerja untuk karyawannya sehingga peneliti menjadi tertarik untuk meneliti work engagement karyawan pada perusahaan startup. Karena walaupun perusahaan startup banyak muncul dan berkembang di Indonesia banyak juga yang akhirnya tidak bisa bertahan dan akhirnya gulung tikar. METODE PENELITIAN Dalam penelitian kali ini, peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif karena menggunakan alat ukur Utrecht Work Engagement Scale 9 item (UWES-. yang dikembangkan oleh Schaufeli dan berisi 3 butir item untuk masing-masing dimensinya. Peneliti akan menggunakan Google Form yang disebarkan secara online untuk meminta partisipan Teknik sampling yang peneliti gunakan adalah convenience sampling yang merupakan salah satu teknik non-probability sampling yang hanya dapat digunakan untuk mewakili ukuran tertentu karena aksesnya sangat terbatas (Andrade, 2. Teknik ini dianggap lebih mudah, sederhana dan dapat digunakan untuk mengembangkan hipotesis dan tujuan penelitian (Stratton, 2. Adapun kriteria partisipan yang peneliti tentukan adalah sudah bekerja di perusahaan startup minimal selama 6 bulan, berusia di antara 18 - 58 tahun. Peneliti sudah selesai menyebarkan kuesioner secara online dan berhasil mengumpulkan partisipan sebanyak 367 karyawan dengan menggunakan alat ukur UWES-9 dan menggunakan skala Likert yang dimulai dari 1 . idak pernah sama sekal. sampai 6 . sebagai skala Uji reliabilitas dilakukan dalam setiap dimensi work engagement dan menunjukkan hasil yang sangat baik. CronbachAos Alpha dari dimensi work engagement vigor mendapatkan hasil sebesar 0. 798, dimensi dedication sebesar 0. 876, dan terakhir dimensi absorption menunjukkan angka koefisien sebesar 0. Selanjutnya gambaran partisipan terdiri dari aspek jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan status kepegawaian dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 Gambaran responden berdasarkan aspek jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan status Jenis Kelamin Aspek Status Kepegawaian Tingkat Pendidikan Laki-laki Perempuan Total Pegawai Tetap Pegawai Kontrak Total SMA/Sederajat Total Jumlah HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan skala 1-6 alat ukur UWES-9, diperoleh mean hipotetik sebesar 3. Kemudian pada peneliti melakukan uji yang pertama untuk mengetahui mean empiris dari variabel work engagement secara keseluruhan yaitu sebesar 4. Jika dibandingkan dengan mean hipotetik, hasil berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa nilai rata-rata work engagement pada perusahaan startup termasuk tinggi. Perolehan skor rata-rata empiris work engagement dapat dilihat melalui tabel 2. https://doi. org/10. 24912/jssh. Gambaran Work Engagement Pada Karyawan di Perusahaan Startup Santoso et al. Tabel 2 Gambaran work engagement karyawan di perusahaan startup Variabel Work Engagement Mean Hipotetik (Skala 1-. Mean Empiris Kategori Tinggi Hasil data subjek yang sudah diperoleh peneliti golongkan menjadi 3 kategori, yaitu rendah, sedang, dan tinggi berdasarkan pada perhitungan mean dan standar deviasi empiris variabel work engagement yang pada masing-masing dimensinya memiliki jumlah butir sebanyak 3. Pada masing-masing dimensi, subjek yang termasuk dalam kategori rendah yaitu yang tergolong dalam skor < 7,5. kategori sedang adalah yang tergolong dalam skor 8,0 s. 12,5. dan kategori tinggi berada dalam skor Ou 13,0. Tabel 3 Kategorisasi work engagement karyawan di perusahaan startup Dimensi Work Engagement Vigor Dedication Absorption Rentang Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) < 7,5 8,0 s. Ou 13 < 7,5 8,0 s. Ou 13 < 7,5 8,0 s. Ou 13 Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi Berdasarkan data penelitian yang diperoleh, dapat dilihat kebanyakan partisipan yang berpartisipasi dalam penelitian kali ini mempunyai gambaran work engagement yang tinggi dalam dimensi vigor, dedication, maupun absorption. Peneliti juga menemukan bahwa dimensi work engagement dengan frekuensi tertinggi adalah dimensi dedication. Dapat diartikan bahwa: karyawan memang merasa pekerjaannya ini memiliki arti dan manfaat yang jelas. merasa bangga dan merasa pekerjaannya menantang. karyawan juga dapat memperoleh inspirasi dari pekerjaan yang mereka lakukan. Dimensi work engagement berikutnya yang mempunyai frekuensi tertinggi adalah dimensi vigor, yang artinya adalah karyawan merasa bersemangat dalam melakukan pekerjaannya, merasa kuat, bertenaga, dan mampu mengatasi tekanan-tekanan yang ada pada lingkungan kerjanya. Selanjutnya, dimensi absorption juga frekuensi terbanyak terdapat dalam kategori tinggi, itu berarti karyawan merasa waktu berlalu dengan sangat cepat ketika bekerja, hal ini disebabkan karena karyawan yang merasakan dimensi ini biasanya sangat berkonsentrasi dan tekun ketika mengerjakan tugas. Peneliti juga melakukan analisis tambahan pada beberapa kondisi yang terkumpul. Hasil analisis tambahan berasal dari analisis deskriptif rata-rata dimensi masukan tenaga kerja dari beberapa https://doi. org/10. 24912/jssh. Jurnal Serina Sosial Humaniora Vol. No. Feb 2023: hlm 250-257 ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. Tabel 4 Hasil analisis nilai rata-rata dimensi work engagement dilihat dari beberapa aspek Aspek Jenis Kelamin Status Kepegawaian Tingkat Pendidikan Vigor Mean Dedication Absorption Laki-laki Perempuan Total Pegawai Tetap Pegawai Kontrak Total SMA/Sederajat Total Pada tabel 4 dapat dilihat perbandingan nilai rata-rata dimensi work engagement pada karyawan Pada dimensi pertama yakni dimensi vigor, perbandingan nilai rata-rata terhadap aspek jenis kelamin. Hasilnya, pada jenis kelamin laki-laki, nilai rata-rata yang diperoleh adalah 4. yang dimana nilai tersebut lebih tinggi dari nilai rata-rata dimensi vigor pada jenis kelamin perempuan yaitu 4. Berikutnya pada aspek status kepegawaian, status pegawai tetap memiliki nilai rata-rata vigor sebesar 4. 04 sedangkan nilai rata-rata vigor pada pegawai kontrak memiliki nilai lebih tinggi yaitu 4. Kemudian pada aspek tingkat pendidikan diperoleh nilai rata-rata dimensi vigor tertinggi terdapat pada tingkat pendidikan SMA/Sederajat, sedangkan tingkat pendidikan D3 memperoleh nilai rata-rata sebesar 3. 79, pada tingkat pendidikan S1 senilai 3. dan rata-rata vigor pada tingkat pendidikan S2 sebesar 4. Pada dimensi kedua yakni dedication, berdasarkan tabel di atas dapat dilihat perbandingan nilai rata-rata terhadap aspek jenis kelamin. Pada jenis kelamin laki-laki diperoleh nilai rata-rata dimensi dedication sebesar 4. 43 yang berarti lebih tinggi daripada nilai rata-rata pada jenis kelamin perempuan yang memperoleh nilai 4. Pada aspek status kepegawaian, status pegawai kontrak memperoleh nilai rata-rata dedication lebih tinggi senilai 4. 54 dibandingkan dengan nilai rata-rata pegawai tetap yaitu 4. Kemudian pada aspek tingkat pendidikan diperoleh nilai rata-rata dimensi dedication tertinggi juga diperoleh tingkat pendidikan SMA/Sederajat dengan nilai rata-rata 4. 88, sedangkan pada tingkat pendidikan hanya D3 memperoleh nilai rata-rata dimensi dedication sebesar 3. 96, pada tingkat pendidikan S1 senilai 4. 04, dan tingkat pendidikan S2 hanya memperoleh nilai rata-rata dedication sebesar 3. Pada dimensi ketiga yaitu dimensi absorption, perbandingan nilai rata-rata pada aspek jenis kelamin diperoleh hasil yang lebih tinggi pada jenis kelamin laki-laki yaitu sebesar 4. sedangkan pada jenis kelamin perempuan nilai rata-rata yang diperoleh adalah sebesar 3. Pada aspek status kepegawaian, pegawai kontrak memiliki nilai rata-rata absorption lebih tinggi https://doi. org/10. 24912/jssh. Gambaran Work Engagement Pada Karyawan di Perusahaan Startup Santoso et al. yakni sebesar 4. 15 dibandingkan dengan nilai rata-rata pada pegawai tetap yang memperoleh Pada aspek status tingkat pendidikan, nilai rata-rata dimensi absorption partisipan dengan tingkat pendidikan SMA/Sederajat adalah 4. 27, pada tingkat pendidikan D3 memiliki nilai sebesar 4. 00, pada tingkat S1 sebesar 3. 91, dan pada tingkat pendidikan S2 nilai rata-ratanya adalah 4. Selain itu peneliti juga melihat gambaran variabel work engagement dalam beberapa aspek. Data diolah dengan menggunakan aplikasi SPSS versi 26 melalui metode independent sample t test untuk aspek jenis kelamin dan status kepegawaian dan menggunakan metode one way anova pada aspek tingkat pendidikan. Berdasarkan aspek jenis kelamin, diperoleh hasil skor sig. -taile. = 0. 071 dan 0. Dengan nilai sig. > 0. 05 tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan work engagement antara partisipan laki-laki dan perempuan. Partisipan laki-laki memiliki jumlah mean = 4. 24 dan mean perempuan senilai 4. Gambaran lebih jelas dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5 Gambaran work engagement berdasarkan jenis kelamin Variabel Work Engagement Equal variances assumed Equal variances not assumed t-test for equality of Means Sig. -taile. Berdasarkan status kepegawaian diperoleh hasil skor sig. -taile. equal variance assumed dan not assumed sama-sama bernilai 0. Oleh karena sig. < 0. 05, maka dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan work engagement antara subjek dengan status pegawai tetap dengan pegawai Subjek dengan status pegawai tetap memiliki nilai mean 4. 03 sedangkan subjek dengan status pegawai kontrak memiliki nilai mean 4. Gambaran lebih jelas dapat dilihat melalui Tabel 6 Gambaran work engagement berdasarkan status kepegawaian Variabel Work Engagement Equal variances assumed Equal variances not assumed t-test for equality of Means Sig. -taile. Berdasarkan tingkat pendidikan, diperoleh nilai skor sig. = 0. 00 atau sig. < 0. 05 yang berarti bahwa terdapat perbedaan work engagement berdasarkan tingkat pendidikan. Subjek dengan dengan tingkat pendidikan SMA/Sederajat memiliki mean sebesar 4. 56, tingkat pendidikan D3 memiliki nilai mean sebesar 3. 91, tingkat S1 sebesar 3. 96, dan tingkat S2 memiliki nilai mean Gambaran lebih jelas dapat dilihat pada tabel 7. Tabel 7 Gambaran work engagement berdasarkan tingkat pendidikan Between Groups Within Groups Total Sum of Squares https://doi. org/10. 24912/jssh. Mean Square Sig. Jurnal Serina Sosial Humaniora Vol. No. Feb 2023: hlm 250-257 ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisa pembahasan mengenai work engagement pada karyawan di perusahaan startup, diperoleh kesimpulan berikut: penelitian ini secara keseluruhan memperoleh 367 data partisipan yang merupakan karyawan pada perusahaan startup. Dari total 367 partisipan tersebut menunjukkan bahwa tingkat keterikatan kerja atau work engagement pada karyawan perusahaan startup masuk dalam kategori tinggi (M = 4. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan merasa terikat dengan pekerjaannya, yang berarti mereka bisa mencapai tujuan mereka dan dapat memberi dampak yang baik terhadap keberhasilan perusahaan startup tempatnya bekerja. Mengerucut ke tiap dimensi work engagement, dimensi yang paling tinggi dirasakan oleh karyawan startup adalah dimensi dedication (M = 4. yang berarti bahwa karyawan merasa pekerjaannya ini bermanfaat dan bermakna, merasa bangga dan merasa pekerjaannya menantang maupun mendapatkan inspirasi dari pekerjaan yang dilakukan. Dimensi work engagement yang memiliki skor tertinggi kedua adalah dimensi vigor (M = 4. yang berarti bahwa karyawan merasa bersemangat, merasa kuat dan bertenaga serta merasa mampu mengatasi tekanan-tekanan yang dirasakan di tempat kerja. Dimensi berikutnya adalah dimensi absorption yang memperoleh skor M = 4. 03 yang berarti bahwa saat bekerja, karyawan sangat berkonsentrasi dan tekun hingga merasa waktu berlalu begitu cepat ketika mengerjakan tugas Bila dilihat dari jenis kelamin, tampak bahwa tidak terdapat perbedaan skor rata-rata work engagement yang signifikan antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Pri dan Zamralita . yang juga tidak menemukan hubungan yang spesifik antara jenis kelamin dengan keterikatan seseorang dengan pekerjaannya. Berbeda dengan aspek jenis kelamin, pada aspek status kepegawaian dan aspek tingkat pendidikan, keduanya memberikan hasil bahwa terdapat perbedaan skor rata-rata work engagement yang signifikan antara subyek yang berstatus pegawai tetap dan status pegawai kontrak. Hal ini sejalan dengan penelitian Pasya . yang mengungkapkan bahwa status kepegawaian berpengaruh pada keterikatan kerja karyawan. Kemudian pada aspek tingkat pendidikan, terdapat pula perbedaan skor yang signifikan antara subyek yang berpendidikan terakhir SMA/Sederajat. D3. S1, dan S2. Subjek dengan pendidikan terakhir SMA/Sederajat memiliki skor ketiga dimensi work engagement yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pendidikan D3. S1, dan S2. Hasil tersebut sayangnya tidak sejalan dengan penelitian Zamralita . yang menyebutkan bahwa semakin tingginya tingkat pendidikan seseorang, akan membuatnya semakin terikat dengan pekerjaanya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti memiliki beberapa saran yang sekiranya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi penelitian selanjutnya, subjek terkait, maupun bagi perusahaan startup sebagai berikut: . untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperkaya penelitiannya dari aspek demografis, seperti menyertakan data perbedaan usia, status marital, maupun masa kerja agar dapat melihat perbedaan gambaran dari variabel yang . untuk penelitian dengan populasi umum atau tidak dikhususkan pada satu perusahaan/kelompok tertentu, diharapkan dapat memperbanyak jumlah responden yang terlibat agar hasil yang diperoleh lebih akurat dan mewakilkan populasi. untuk perusahaan startup diharapkan dapat membuat program pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan keahlian para karyawannya untuk meningkatkan sumber daya kerja . ob resource. bagi karyawan. https://doi. org/10. 24912/jssh. Gambaran Work Engagement Pada Karyawan di Perusahaan Startup Santoso et al. Ucapan Terima Kasih (Acknowledgemen. Terima kasih kepada pihak-pihak terkait yang telah memberikan kontribusi terhadap penulisan REFERENSI