Arif Shaifudin dan Konik Naimah RESILIENSI: UPAYA MEMBENTUK ANAK USIA DINI TANGGUH Arif Shaifudin Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul UlamaAo (STAINU) Madiun Email: arifsaifuddin191127@gmail. Konik Naimah Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul UlamaAo (STAINU) Madiun Qoniknaimah14@gmail. Abstrak Anak memiliki dunianya sendiri yang sangat berbeda dengan dunia manusia dewasa, bahkan orang tuanya sekalipun. Berbagai permasalahan yang timbul pada anak maka harus diselesaikan sesuai dunianya, tidak dibenarkan sama sekali manusia dewasa mengintervensinya. Setiap masalah sekecil apapun harus mendapatkan perhatian dan respon yang tepat dari orang tua atau pendidik anak. Namun dalam memberikan bantuan atau respon pada anak yang sedang mengalami masalah dalam pertumbuhan dan perkembangannya harus proporsional, artinya jangan sampai anak justru manja atau ketergantungan terhadap orang di sekitarnya. Karena pada prinsipnya setiap anak memiliki daya tahan terhadap setiap ancaman atau tekanan dari lingkungannya . Resiliensi seperti potensi yang dimiliki oleh setiap anak yang dapat dikembangkan melalui berbagai stimulus, di antaranya seperti pendidikan dengan menanamkan nilai-nilai positif, seperti. kemandirian, saling berbagi, saling menyayangi, tanggung Pendidik atau orang tua memiliki peran besar dalam mengembangkan potensi resiliensi dalam diri setiap anak dengan mengenali kebutuhan dan keunikan yang dimiliki oleh anak. Kata Kunci: Resiliensi. Anak Usia Dini. Pendahuluan Membangun bangsa dengan menyiapkan sumber daya manusia yang unggul sudah menjadi tugas utama setiap lembaga pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan mendapatkan kepercayaan sekaligus amanah yang tidak ringan. Lembaga pendidikan mulai dari pendidikan pra-sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi memikul tanggung jawab besar untuk menjaga dan mengembangkan seluruh potensi peserta didik sehingga mereka siap dan cakap sebagai penerus generasi bangsa ini. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah Pemerintah secara tegas telah menyatakan bahwa pendidikan di Negara ini harus berlangsung di dalam tiga lingkungan, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. 1 Ketiga lingkungan ini lebih familiar disebut dengan jalur-jalur pendidikan. Lingkungan keluarga disebut dengan pendidikan informal, lingkungan sekolah disebut dengan pendidikan formal sedang lingkungan masyarakat disebut dengan pendidikan non formal. Ketiga lingkungan tersebut harus melaksanakan pendidikan sesuai tugas utama masing-masing, siap atau tidak dan mampu atau tidak. Manakala satu lingkungan tidak menjalankan perannya dengan baik dalam mendidik peserta didiknya, maka akan berimplikasi terhadap lingkungan yang lain, lingkungan keluarga misalnya. Tidak sedikit keluarga yang belum memahami perannya sebagai lingkungan pendidikan pertama dan paling utama bagi anak-anak sebagai peserta didiknya. Keluarga yang idealnya menanamkan nilai-nilai dasar kepada anak justru banyak yang terjebak dalam interaksi biologis yang terbangun secara natural antara orang tua dan anak. Kecenderungan orang tua yang hanya memberikan kasih sayang yang melimpah terhadap anakanaknya tanpa dibarengi dengan transformasi nilai-nilai dasar pendidikan yang dibutuhkan oleh anak tanpa disadari justru akan membunuh resiliensi2 atau daya kemampuan bertahan atau keluar dari situasi sulit yang diahadapi oleh anak. Kasih sayang yang terlalu besar tanpa penanaman nilai karakter merupakan blunder besar orang tua bagi masa depan anak. Karena hal ini dapat menjadikan anak lemah dan tidak memiliki kemandirian dalam menghadapi berbagai masalah yang ada di lingkungannya, baik untuk saat ini maupun masa depan anak ketika sudah menjadi manusia dewasa nanti. Problem yang ditingalkan oleh lingkungan keluarga tersebut akan menjadi pekerjaan yang berat bagi jalur pendidikan selanjutnya, yaitu pendidikan formal pra sekolah. Taman Kanak-kanak misalnya (TK). Pedidikan anak usia dini berperan dalam membina, menumbuhkan dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga dapat terbentuk perilaku dan kompetensi dasar sesuai dengan tahapan perkembagannya dan selanjutnya siap untuk memasuki pendidikan dasar. Peran strategis ini tentu saja akan sulit untuk direalisasikan oleh lembaga pendidikan anak usia dini di semua jalurnya . nformal, formal, dan non Suyadi dan Maulidya Ulfah. Konsep Dasar PAUD (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2. , 18. Resiliensi adalah suatu proses yang menuju kepada kualitas tertentu dan/atau cara melihat diri dan dunia dalam menghadapi tantangan dan tekanan. Lihat dalam. Robert Brooks dan Sam Goldstein. Rising Resilient Children: Fostering Strength. Hope, and Optimism in Your Child (Singapore: McGraw, 2. , 5. Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 1 ayat El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah forma. manakala tidak terjalin kerjasama yang positif di antara lingkungan pendidikan anak usia dini . eluarga, sekolah, masyaraka. yang merupaan lingkungan sehari-hari anak usia dini. Pada kesimpulannya anak akan dapat berkembang seluruh potensinya jika mereka mendapatkan ruang yang resilientif sesuai dunia mereka. Mereka membutuhkan kebutuhan-kebutuhan dasar yang menjadikan mereka merasa aman dan nyaman namun disaat yang sama mereka mampu mengembangkan potensinya secara optimal. Ketiadaan balance antara kasih sayang dan aturan atau batasan-batasan dari orang tua atau pendidik anak akan menjadikan anak berada dalam jurang yang dalam dalam tahapan pertumbuhan dan Dan hal inilah yang sering dilupakan oleh para orang tua di setiap keluarga atau bahkan setelah anak ada di lingkungan pendidikan anak usia dini (PAUD). Bertolak dari bangunan pemikiran di atas, menurut hemat penulis, pada era globalisasi seperti ini sangat penting untuk mengetahui konsep dan upaya strategis dalam membangun generasi bangsa yang resilientif, khususnya pada tahap anak usai dini. Karena cepatnya arus teknologi dan informasi adalah ruang baru yang memiliki dampak besar bagi anak, baik berupa kontribusi positif maupun dampka negatif. Maka sekali lagi diperlukan ruang pendidikan yang tidak hanya memberikan kasih sayang saja kepada anak namun juga yang dapat membangun kemampuan anak dalam mengahadapi situasi sulit atau bangkit dari keterpurukan mereka. Urgensi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Di negara kita, pendidikan anak usia dini memang tidak masuk dalam ranah wajib belajar yang dicanangkan oleh pemerintah, karena pendidikan wajib dimulai dari pendidikan dasar yaitu SD/MI. Namun demikian, saat ini tentunya kita sering melihat diberbagai daerah Negara ini terdapat antusiasme yang tinggi dari segenap orang tua yang setiap pagi mengantarkan putraputrinya memasuki Taman Kanak-kanak. Fakta ini dapat ditunjukkan dengan data kuantitas Taman Kanak-kanak (TK) di setiap Propinsi, hanya sebagian kecil saja TK yang berada dalam naungan pemerintah . , dan yang lainnya dikelola oleh swasta. Data Depdikbud tahun 1992 menunjukkan hanya ada 61 lembaga TK Negeri dan 38. 850 lembaga TK swasta. Tingginya jumlah TK swasta ini tentunya menunjukkan sekaligus menjadi indikator betapa besarnya antusiasme masyarakat terhadap lembaga PAUD. Di balik tingginya minat masyarakat terhadap pendidikan anak usia dini tentunya terdapat alasan mendasar yang mendorongnya. Setidaknya masyarakat sudah memiliki pandangan bahwa pendidikan usia dini sangat penting diberikan kepada setiap anak yang merupakan investasi tak ternilai Suyadi dan Maulidya Ulfah. Konsep Dasar PAUD, 11. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah bagi masa depannya. Sedang dari perspektif keilmuan, terdapat sejumlah argumen yang secara tegas mengatakan tentang pentingnya dilaksanakan PAUD bagi setiap anak. Berikut ini beberapa argumen tersebut: Fakta Golden Age Howard Gardner . eorang psikolog terkemuk. seperti dikutip oleh Suyadi dan Maulidya menyatakan bahwa anak-anak pada usia lima tahun pertama selalu diwarnai dengan keberhasilan dalam belajar dalam segala hal. Senada dengan Gardner. Deborah yang juga seorang psikolog menyatakan bahwa anak usia enam atau tuju tahun pertama memiliki harapan yang tinggi untuk berhasil dalam mempelajari segala hal, meskipun dalam praktiknya selalu buruk. Dari ungkapan para psikolog tersebut memberikan pengertian bahwa ada semacam fase keemasan . olden ag. 6 dalam diri setiap manusia yang harus dimanfaatkan dengan baik terutama oleh pendidikan. Dan juga dapat diartikan bahwa momentum yang tepat untuk mencetak generasi yang berkualitas adalah dengan memberikan pendidikan saat anak berada pada usia dini . -6 tahu. , yaitu melalui PAUD. Karena di masa-masa inilah saat yang paling menentukan sekaligus saat yang kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan anak di masa depannya. Jika diberikan stimulus yang tepat maka besar kemungkinan seorang anak akan menjadi orang yang penuh talenta saat dewasa nanti. Dan sebaliknya, jika disaat periode yang krusial ini seorang anak kurang mendapatkan rangsangan pendidikan yang tepat atau bahkan diberikan pengalaman-pengalaman negatif maka hilanglah kesempatan emas tersebut dan bahkan kemungkinan anak tersebut akan menjadi manusia dewasa yang tidak sesuai harapan setiap orang tua. Selanjutnya pentingnya PAUD juga didukung dengan temua neuro-sains yang menyatakan bahwa setiap manusia yang lahir ke dunia ini sudah diberikan potensi yang luar biasa oleh Allah Swt. , yaitu berupa sel-sel otak yang jumlahnya sekitar 100 miliar. Namun sel-sel ini antara satu dengan yang lain belum terhubung kecuali hanya sedikit, yaitu hanya sel-sel otak yang mengendalikan detak jantung, pernapasan, gerak refleks, pendengaran, dan naluri hidup. Kemudian saat anak sudah memasuki usia 3 tahun, sel-sel otak telah membentuk sekitar 1000 triliun jaringan koneksi atau yang disebut dengan sinapsis. Dan perlu diketahui bahwa jumlah ini dua kali lebih banyak daripada jaringan sel-sel otak pada orang dewasa. Setiap sel otak dapat berhubungan dengan 1500 sel lain. Dan sinapsis yang jarang difungsikan Ibid. , 3. Di dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, golden age adalah sekelompok manusia yang berusia 0-6 tahun. Sedangkan beberapa pakar pendidikan menyatakan bahwa golden age adalah anak yang berusia 0-8 tahun. Lihat UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Depdiknas. Kurikulum Hasil Belajar Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta: Depdiknas, 2. , 3-4. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah akan mati, sedangkan yang sering difungsikan akan semakin kuat dan Kemudian bagaimana cara menjadikan jaringan sel otak atau sinapsis ini dapat berfungsi dengan baik sehingga permanen menjadi kecerdasankecerdasan pada diri anak ? Maka jelas jaringan akan terbentuk dengan kuat jika sel-sel tersebut diberikan rangsangan yang tepat yang di antaranya melalui PAUD. Pada lembaga PAUD anak akan mendapatkan berbagai pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini, seperti menggambar, menari, musik, bermain dan pengalaman-pengalaman belajar lain yang dapat memperkaya dan menjadikan permanen jaringan sinapsis sel otak anak yang selanjutnya akan muncul menjadi berbagai kecerdasan yang dimiliki oleh anak. Dengan ulasan di atas memberikan peringatan kepada setiap orang tua dan lembaga PAUD bahwa golden age adalah sebuah kesempatan pendidikan yang hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup manusia. Jika pada masa tersebut anak tidak mendapatkan pendidikan yang tepat atau bahkan tidak pernah mendapatkan pendidikan sama sekali, maka sebuah kerugian besar dalam sejarah kehidupan anak dan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Karena dimasa golden age ini setiap stimulasi yang diberikan kepada anak baik melalui pendidikan informal keluarga ataupun pada lembaga PAUD maka hal tersebut akan membentuk neuron-neuron8 yang berfungsi optimal sehingga dapat merangsang perkembangan sensori anak. Dan kemudian kompleksitas jaringan neuron atas sel di dalam otak anak secara otomatis akan dapat memicu aspek-aspek perkembangan lain, seperti kognitif, sosioemosional, kreativitas, dan kecerdasan-kecerdasan yang lain. Penyiapan Sumber Daya Manusia yang Siap Belajar Pendidikan anak usia dini memegang peranan penting dalam dan menentukan bagi sejarah perkembangan anak selanjutnya, karena PAUD merupakan fondasi bagi dasar kepribadian anak. Anak yang mendapatkan pengalaman pendidikan di PAUD akan memiliki daya imajinasi, kreativitas, inovatif dan proaktif dalam aktivitas dunia anak. Hal ini dapat terjadi karena anak ditempatkan pada lingkungan yang memang sesuai masa pertumbuhan https://w. com/amp/s/amp. com/lifestyle/read/2018/04/24/18000022 0/jangan-abai-5-tahun-pertama-masa-emas-pertumbuhan-otak-anak. Diakses pada 3-112019. Dan juga lihat Suyadi dan Maulidya Ulfah. Konsep Dasar PAUD (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2. , 3. Kualitas kemampuan otak dalam menyerap dan mengolah informasi sangat tergantung terhadap banyaknya neuron yang membentuk unit. Dan stimulasi pada tahuntahun pertama kehidupan anak sangat mempengaruhi struktur fisik otak anak, dan hal ini akan sangat sulit diperbaiki pada masa-masa kehidupan selanjutnya. Lihat dalam Ahmad Susanto. Pengembangan Anak Usia Dini: Pengantar dalam berbagai Aspeknya (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2. , 22. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah dan perkembangan mereka. Tentu saja akan sangat berbeda dengan anak yang pada masa keemasannya hanya menjalani pengalaman hidup di lingkungan keluarga saja. Suyadi dan Maulidya mengutip data yang dirilis oleh Word Bank pada tahun 1997 menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara anak-anak yang pernah masuk PAUD dengan resiko drop out di pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi. Bahkan pengaruh tersebut mencapai angka 20%. Artinya, dari sekian banyak siswa dan mahasiswa yang drop out, 20% di antaranya disebabkan karena pada usia dini mereka tidak mendapat stimulasi edukatif di lembaga PAUD. Selain terdapat pengaruh antara anak yang tidak pernah masuk PAUD dengan drop out, juga terdapat pengaruh yang lebih signifikan, yaitu antara PAUD dengan kesiapan belajar. Masih mengutip dari Word Bank, anak-anak yang pernah masuk di lembaga PAUD rata-rata lebih siap belajar 20-30% dibandingkan dengan anak-anak yang tidak pernah masuk PAUD. Hal ini dapat diamati dari gambar berikut. Pada grafik tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang pada usia dini . -5 tahu. masuk di lembaga PAUD lebih siap belajar daripada anak-anak yang tidak pernah masuk PAUD. Hal ini tentu saja dapat berimplikasi pada kemampuan belajar anak. Dan pada tahapan selanjutnya tentu saja akan berimplikasi juga terhadap prestasi anak. Anak yang lebih siap belajar tentu saja memiliki peluang yang lebih besar untuk berprestasi. Data ini menunjukkan betapa pentingnya peran pendidikan anak usia dini bagi setiap Pendidikan adalah Investasi Peradaban Di antara argumen lain dari pentingnya PAUD adalah alasan investasi. Artinya, pendidikan adalah investasi bagi masa depan anak. Saat ini sudah banyak kita temukan bahwa biaya pendidikan di PAUD di kota-kota besar Suyadi dan Maulidya Ulfah. Konsep Dasar PAUD, 5. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah yang telah menyandang predikta AueliteAy bisa lebih mahal dibandingkan biaya pendidikan sekolah menengah unggulan bahkan perguruan tinggi sekalipun. Orang tua anak seperti tidak merasa keberatan untuk mengeluarkan biaya yang besar untuk anaknya yang masih usia dini. Kenapa orang tua anak merasa ringan untuk mengeluarkan biaya besar untuk membiayai anaknya yang masih usia dini ? Tentu saja orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang membanggakan, seperti menjadi anak yang shalih dan shalihah, berbakti kepada orang tua, cerdas, berprestasi, berguna bagi agama, bangsa, dan Negara. Fondasi kecakapan-kecakapan tersebut tentu saja tidak bisa serta merta melekat pada diri anak begitu saja, namun perlu ditanamkan sejak mereka usia dini yang diantaranya melalui PAUD. Atas dasar inilah berapapun harga yang harus dibayar oleh orang tua untuk pendidikan anaknya tidak akan terasa berat atau mahal. Hal ini karena orang tua sudah memahami bahwa pendidikan anak merupakan investasi yang nilainya terus bertambah dan tak ternilai harganya. Dengan PAUD Anak Lebih Cerdas Terdapat beberapa temuan di bidang psikologi yang dilakukan oleh para pakar mengenai perbedaan yang signifikan antara anak-anak yang mengeyam pendidikan di lembaga PAUD dengan yang tidak. Paling tidak terdapat tiga temuan sebagai berikut. pertama, penelitian yang dilakukan oleh Hunt menyatakan bahwa lingkungan pada tahun-tahun permulaan anak . -6 tahu. akan memberikan efek belajar yang lebih lama . ong-term effec. Hal ini menunjukkan belajar anak pada masa-masa ini akan lebih awet untuk diingat dalam jangka waktu yang lama hingga usia dewasa kelak. Tentu saja sangat berbeda dengan efek belajar ketika sudah dewasa, maka akan cenderung cepat hilang efek belajarnya. Kedua. Bloom menyatakan bahwa sekitar 70% sikap intelektual yang diukur melalui tes IQ dan sekitar 50% keterampilan membaca orang dewasa terbina antara umur 4 dan 9 tahun. Hal ini membuktikan bahwa kecerdasan IQ anak dapat dipacu pada masa usia dini. Jadi dapat dikatakan bahwa semakin menjauh dari masa usia dini maka akan semakin sulit untuk memacu kecerdasan IQ seseorang. Ketiga. Piaget mengemukakan bahwa sistem kognitif dan proses intelektual . ntellectual processin. pada anak-anak sangat berbeda dengan anak yang lebih tua dan orang dewasa. Banyak terjadi perubahan-perubahan selama melewati akhir masa anak dan remaja yang turut mempengaruhi pola perkembangan individu. Sehingga bisa dikatakan bahwa pada prinsipnya anak yang mengalami perkembangan sosial dan akademik secara baik maka pada akhir masa anak, remaja dan bahkan masa tua juga akan baik juga. Dan Suyadi dan Maulidya Ulfah. Konsep Dasar PAUD, 7. Aswardi Sudjud. Konsep Pendidikan Prasekolah (Yogyakarta: IKIP Yogyakarta, 1. , 32. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah sejauh ini yang dapat memberikan stimulasi sosial yang baik adalah lembaga PAUD, sehingga PAUD berkontribusi besar dalam perkembangan sosial dan akademik anak. Dari ulasan tersebut menunjukkan betapa bernilainya masa usia dini dalam perjalanan hidup manusia. Kecerdasan di masa dewasa hampir sepenuhnya merupakan buah dari stimulus pendidikan yang tepat pada masa usia dini. Semakin beragam stimulus yang diberikan kepada anak usia dini maka semakin bervariasi pula kecerdasan yang dimiliki seorang anak . ultiple intelligenc. Dan rasanya tidak ada yang lebih tepat lagi untuk diberikan amanah memberi warna kecerdasan kepada anak usia dini kecuali sebuah lembaga yang memang memiliki tugas khusus mengembangkan seluruh potensi anak usia dini, yaitu lembaga PAUD. Perkembangan Anak Usia Dini Ketika mendengar kata AuanakAy, maka yang sering terlintas di pikiran kita pasti banyak hal mengenai seputar dunia anak, seperti. bermain, menangis, nakal, manja, merengek, tertawa, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan pandangan orang mengenai anak usia dini memang cenderung berubah-ubah tergantung pijakan teori yang melandasinya. Ada yang menganggap bahwa anak usia dini sudah memiliki bentuk bawaan sejak dilahirkan, ada yang mengatakan bahwa mereka merupakan bentukan lingkungan di sekitarnya, ada yang memandang mereka adalah miniatur manusia dewasa, ada yang beranggapan mereka sangat berbeda dengan manusai dewasa. 13 Namun dari berbagai beragam pandangan tersebut paling tidak ada kesepakatan umum bahwa anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, bahkan dapat dikatakan sebagai individu yang sedang mengalami lompatan perkembangan dalam sejarah hidupnya. Mengingat anak usia dini adalah individu yang sedang berada pada masa emas . he golden ag. pertumbuhan dan perkembangannya, maka sangat penting bagi orang tua dan pendidik untuk mengetahui domain-domain yang harus dikembangkan pada anak usia dini yang meliputi. aspek motorik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosional anak usia dini. 14 Hal ini juga sangat diperlukan oleh orang tua dan pendidik anak usia dini agar memudahkan mereka dalam membangun resiliensi dalam diri anak usia dini. Perkembangan Motorik Anak Usia Dini Anak-anak yang berada di Taman Kanak-Kanak (TK) secara umum sedang menjalani tahap perkembangan fisik yang sangat aktif. Pada usia ini merupakan puncak perkembangan fisik anak-anak. Hal ini dapat dilihat dengan aktifnya fungsi motorik anak seperti tangan dan kaki sehingga Suyadi dan Maulidya Ulfah. Konsep Dasar PAUD, 8. Mulyasa. Manajemen PAUD (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2. , 15-16. Hamid Patilima. Resiliensi Anak Usia Dini (Bandung: Alfabeta, 2. , 57. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah membuat mereka banyak bergerak bahkan berlarian yang tak jarang menjadikan orang tua atau pendidik kerepotan. 15 Dan ironisnya, tidak sedikit orang tua atau pendidik anak usia dini yang belum memahami mengenai tahapan perkembangan fisik anak usia dini di masa TK ini, sehingga dengan mudahnya mereka memberi label kepada anak-anak dengan Auanak nakal, anak bandel, anak susah diatur, anak usilAy. Pada tiga tahun pertama merupakan proses pertumbuhan tercepat anak, terutama selama beberapa bulan pertama. Pada fase ini organ yang mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan adalah otak. Pertumbuhan otak ini sangat penting bagi perkembangan fisik, kognitif, dan emosi anak. Dengan pertumbuhan dan perkembangan otak maka anak akan dapat membuat gambaran pencitraan yang lebih jelas tentang pertumbuhan yang Dan pada usia dua tahun, otak anak sudah tumbuh 75% dari ukuran orang dewasa, kemudian pada usia lima tahun pertumbuhan otak anak sudah mencapai 90% dari ukuran orang dewasa. Pertumbuhan otak anak usia dini diikuti dengan peningkatan kemampuan kognitif mereka. Pada usia sekitar lima tahun, anak akan mulai berbicara dengan baik dan menguasai tangan mereka untuk koordinasi mata. Pertumbuhan dan perkembangan otak yang sejalan dengan kemampuan kognitif ini menjadikan anak seperti ingin menjelajahi dunianya dengan tingkah polahnya yang aktif. Anak pada usia ini seperti tidak pernah merasa letih untuk berteriak dan bergerak, bahkan ketika anak sedang sakit pun. Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini Pada tahap ini anak akan membangun dunia kognitif mereka sendiri. Hal ini bisa terjadi karena anak sudah mulai mampu mengolah informasi yang diterima untuk selanjutnya akan dikemabangkan menjadi gagasan baru. Jadi pada tahap ini anak berkembang dalam aspek kognitifnya tidak hanya dengan menerima informasi dari lingkungannya. Piaget sebagaimana dikutip oleh Wiwin Dinar Prastiti mengatakan bahwa, perkembangan kognisi anak terdiri dari empat tahapan, yaitu. ejak lahir sampai sekitar usia 2 tahu. , tahap pra operasional . -7 tahu. , tahap operasional konkret . -11 tahu. , dan tahap operasional formal . -15 tahu. Pertama, tahap sensomotorik. Pada tahap ini bayi mengembangkan pemahaman tentang dunia melalui koordinasi antara pengalaman sensoris Rozi Sastra Purna dan Arum Sukma Kinasih. Psikologi Pendidikan Anak Usia Dini Menumbuh-kembangkan Potensi AuBintangAy Anak di TK Kreatif (Jakarta: PT. Indeks, 2. Papalia, et. Human Development (Psikologi Perkembanga. , (Jakarta: Kencana, 2. , 175. Santrock. Perkembangan Anak Jilid 1 (Jakarta: Erlangga, 2. , 174. Wiwin Dinar Prastiti. Psikologi Anak Usia Dini (Jakarta: Indeks, 2. , 3-4. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah dengan gerakan motoric-fisik. Bayi juga mulai mengembangkan kemampuan yang lebih dari sekedar reflek, namun sudah mulai membentuk pola sensori motor yang kompleks serta mulai mengoperasikan symbol-simbol primitif. Kedua, tahap pra operasional. Pada tahap ini anak sudah mulai mampu menerangkan dunia melalui kata-kata dan gambar. Namun anak belum mampu melakukan tindakan mental yang diinternalisasikan yang memungkinkan anak melakukan secara mental hal-hal yang dahulu dilakukan secara fisik. Ketiga, tahap operasional konkret. Pada tahap ini anak mulai mampu berpikir logis untuk menggantikan cara berpikir sebelumnya yang masih bersifat intuitif-primitif, namun masih membutuhkan contoh-contoh konkret dari lingkungannya. Baik lingkungan yang berupa tempat interaksi bermain anak dalam kehidupan sehari-harinya maupun lingkungan berupa orangorang yang berada di sekitarnya. Keempat, tahap operasional formal. Pada tahap ini individu melewati dunia nyata dan pengalaman konkrit menuju cara berpikir yang lebih abstrak dan logis, sistematis, serta mampu mengembangkan hipotesis tentang penyebab terjadinya suatu peristiwa. Kemudian dia akan menguji hipotesis tersebut secara deduktif yang konsekuensinya adalah anak mulai mengembangkan gambaran yang ideal, misalnya bagaimana menjadi orang tua yang ideal. Terdapat juga faktor lain yang berkontribusi dalam perkembangan anak usia dini, yaitu lingkungan eksternal anak atau yang lebih dikenal dengan teori behavioristik. 19 Teori ini menyatakan bahwa perkembangan anak usia dini sangat dipengaruhi oleh lingkungan eksternalnya. Pada dimensi pengetahuan anak, perkembangan kognitif anak merupakan hasil dari interaksi anak dengan lingkungan eksternalnya melalui pengkondisian stimulus yang menimbulkan respon. Perubahan lingkungan pembelajaran dapat mempengaruhi perkembangan anak secara bertahap baik perkembangan pikiran, perasaa maupun perilaku anak. Pada tahap perkembangan kognitif ini dapat dijelaskan bahwa, pengetahuan anak dapat terbentuk melalui dua hal yaitu kecerdasan yang terbangun secara intrinsic dari personal anak itu sendiri dan kecerdasan yang terbangun dari faktor eksternal anak. Dua domain ini harus diberikan stimulus yang tepat sehingga berbagai potensi kecerdasan kognitif anak dapat berkembang secara optimal seiring dengan pertumbuhannya. Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini Dalam mengenali perkembangan bahasa anak harus memperhatikan tiga komponen penting dalam bahasa, yaitu fonologi, sintaksis, dan semantik. Lily Alfiyatul Jannah. Kesalahan-kesalahan Guru PAUD yang Sering dianggap Sepele (Yogyakarta: Diva Press, 2. , 49. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah Komponen fonologi adalah kemampuan bahasa yang berkaitan dengan bunyi. Untuk sintaksis adalah kemampuan berbahasa yang berhubungan dengan kata, frasa, dan kalimat. Komponen sintaksis ini juga banyak dihubungkan dengan aspek morfologi yang berkaitan dengan bagaimana kata dibentuk dan Sedangkan semantik merupakan kemampuan berbahasa anak yang berkaitan dengan makna bahasa. Perkembangan bahasa pada setiap anak memiliki bentuk yang berbedabeda tiap masanya. Perkembangan bahasa meliputi berbagai aspek seperti menyimak/mendengar, berbicara, menulis, dan membaca. Papalia sebagaimana dikutip Hamid Patilima menyatakan bahwa, pada usia tiga tahun seorang anak dapat berbicara dengan menggunakan 900 sampai 1000 Dan pada usia 6 tahun seorang anak dapat berbicara dengan 2600 kata dan mulai bisa memahami lebih dari 2000 kata. Perkembangan bahasa adalah salah satu tanda anak mengalami perkembangan, khususnya dimensi kognitifnya. Semakin banyak dan tertata bahasa anak maka secara tidak langsung menunjukkan bahwa daya nalar kognitif anak semakin baik. Proses kogntif sederhana pada otak anak secara jujur akan diungkapkan anak dalam bahasa apa adanya sesuai kemampuan anak tersebut. Dan secara umum hanya ada dua kesimpulan respon bahasa anak manakala ia mendapat pertanyaan dari orang di sekelilingnya, yaitu AuiyaAy atau AutidakAy dengan tanpa ada argumen yang mengiringinya. Respon ini tampak sederhana dan mungkin sangat tidak memuaskan orang dewasa di sekelilingnya, namun sebenarnya itu adalah ekspresi utuh dari seoarang anak dalam menyampaikan ketertariakan atau penolakan atas stimulus dari Perkembangan Sosial-emosional Anak Usia Dini Aspek sosial-emosional anak adalah salah satu yang sangat berpengaruh terhadap proses seorang anak dalam menanggapi atau merespon peristiwa tertentu dan mengekspresikannya melalui ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan kata-kata. Cara setiap anak dalam merespon peristiwa, kejadian, dan perlakuan tertentu dari lingkungan sangat tergantung pada keterampilan pemecahan masalah yang sudah dipelajari. Apa yang menyebabkan tiap-tiap anak berbeda ketika mengahadapi tantangan dari lingkungannya, apakah dia tampak gembira, biasa-biasa saja atau bahkan melarikan diri karena merasa takut? perbedaan ini lah yang merupakan gambaran kondisi sosio-emosional Hurlock sebagaimana dikutip oleh Novi Mulyani menyatakan bahwa, ada beberapa pola emosi yang secara umum muncul pada anak, yaitu. Elisabeth B. Hurlock. Psikologi Perkembangan (Jakarta: Erlangga, 1. , 176-177. Hamid Patilima. Resiliensi Anak Usia Dini, 32. Novi Mulyani. Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini (Yogyakarta. Kalimedia, 2. , 103-106. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah Rasa takut. yaitu letupan rasa dari dalam diri yang timbul karena merasa bahaya yang bersifat fantastik, adikodrati, dan samar-samar. Seperti anak merasa takut pada gelap dan makhluk imajinatif yang diasosiasikan dengan gelap, pada kematian atau luka, kilat guntur, serta pada karakterkarakter lain yang dianggap menyeramkan. Secara umum ciri khas penting pada semua rangsangan rasa takut ini adalah hal tersebut terjadi secara mendadak dan tidak diduga, dan anak hanya memilii kesempatan yang sempit untuk beradaptasi dengan situasi tersebut. Namun seiring dengan perkembangan intelektual dan meningkatnya usia anak, mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Rasa marah. secara umum kemarahan seorang anak disebabkan oleh berbagai rintangan, seperti rintangan terhadap gerak yang diinginkan oleh anak baik oleh diri anak sendiri maupun orang lain atau bersasal dari ketidakmampuannya sendiri, rintangan terhadap aktivitas yang sudah berjalan dan tumpukan kejengkelan yang ada dalam diri anak. Reaksi kemarahan anak secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu reaksi impulsive dan reaksi yang ditekan. Reaksi impulsif sebagian besar bersifat menghukum keluar . xtra punitiv. , dalam arti reaksi tersebut diarahkan kepada orang lain, seperti memukul, menggigit, meninju, dan Sedang sebagian kecil lainnya bersifat reaksi ke dalam . ntra punitiv. , yaitu anak mengarahkan reaksinya kepada dirinya sendiri. Rasa cemburu. yaitu reaksi normal karena merasa kehilangan kasih sayang yang nyata, dibayangkan, atau ancaman kehilangan kasih sayang. Cemburu ini disebabkan kemarahan yang menimbulkan sikap jengkel yang ditujukan kepada orang lain. Pola cemburu ini seringkali berasal dari takut yang berkombinasi dengan rasa marah. Bentuk reaksi dari rasa cemburu ini biasanya diekspresikan dengan manangis, berteriak, atau memukul orang lain yang dianggap sebagai sumber penyebab rasa cemburunya tersebut. Sedih. rasa sedih adalah reaksi yang tidak boleh ada pada diri anak. Manakala rasa sedih ini ada dalam diri anak maka hal ini sangat berbahaya bagi perkembangan anak. Kenapa rasa sedih ini bukan kelaziman dalam diri anak? Karena secara umum anak memiliki ingatan jangka pendek, sehingga sedih yang ada dalam diri anak akan mudah dihilangkan dengan mengalihkan pada hal-hal yang menyenagkan. Dan masa anak juga merupakan masa dimana banyak hal-hal yang bisa menggantikan sesuatu yang dapat menjadikan anak sedih, seperti kehadiran ayah dan bunda yang dicintainya dan mainan yang disukai. Rasa ingin tahu. rasa ingin tahu mungkin merupakan respon yang paling besar dalam diri anak seiring dengan perkembangannya. Setiap hal yang dianggap baru, unik, misterius maka cenderung akan mendapat respon secara positif oleh anak, seperti dengan mendekatinya, memegangnya. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah atau bertanya banyak hal terhadap objek tersebut. Bahkan saking besarnya rasa ingin tahu ini, tidak jarang anak akan merespon dengan kuat manakala ada penolakan atau larangan dari orang dewasa atau teman bermain di sekitarnya, seperti menangis sejadi-jadinya, memukul, dan berteriak sekencang-kencangnya. Resiliensi Anak Usia Dini Dalam kehidupan yang serba teknologi sekarang ini banyak hal yang dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Hampir semua aktivitas dalam berbagai bidang kehidupan ini tersentuh oleh tawaran kemudahan teknologi. Namun dibalik kemudahan dan kecepatan menjalankan aktivitas dengan sentuhan teknologi tersebut ada kekhawatiran yang besar terhadap dampak negatif dari teknologi itu sendiri, khususnya penggunaan teknologi pada subjek yang belum waktunya, seperti anak usia dini. Sebenarnya banyak lingkungan yang dapat mempengaruhi pekembangan anak usia dini, seperti lingkungan orang dewasa di sekitarnya, teman bermain, lingkungan bermain, latar belakang orang tua, dan teknologi dan lain sebagainya. Khusus untuk lingkungan berupa pengaruh teknologi, perlombaan fitur smartphone dalam rangka memanjakan kosumennya yang idealnya adalah untuk orang dewasa ternyata juga berdampak pada anak usia Pemandangan berupa anak kecil berjalan-jalan dengan menenteng smartphone di tangannya layaknya manusia dewasa, anak kecil dengan smartphone di tangannya untuk bermain game-game canggih, anak kecil yang menangis kencang karena smartphone-nya diminta orang tuanya, anak kecil yang tidak bisa diam saat rewel namun seketika anteng dan bahagia ketika diberikan smartphone, dan banyak lagi kejanggalan-kejanggalan lain yang mudah untuk kita temukan. Fenomena-fenomena terebut seperti memaksa kita untuk kembali melihat apa yang terjadi dengan dunia anak sekarang ini. Apakah sudah tidak ada bedanya antara dunia anak dengan dunia orang dewasa? Apakah anak memang tidak betah hidup di dunia mereka yang penuh canda tawa bersama teman sebayanya? Apakah orang tua sudah kehilangan naluri kodratinya sebagai seorang yang diharapkan kehadirannya oleh anak? Apakah masa kanak-kanak setiap anak semakin pendek dengan kehadiran teknologi, khususnya smartphone? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang rasanya sangat sulit untuk kita jawab dengan satu atau dua pendekatan saja. Dari berbagai kegelisahan di atas paling tidak dapat diberikan garis bawah bahwa, semakin anak terlibat ke dalam lingkungan yang bukan dunianya maka anak akan semakin rentan terkontaminasi dengan pengaruh negatif dari lingkungan tersebut. Dengan begitu tugas orang tua atau manusia dewasa yang bertanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak akan semkin berat. Maka, di sinilah peran strategis resiliensi anak usia dini harus benar-benar dibangun secara baik agar anak usia dini tetap dapat El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah bertahan menuju pertumbuhan dan perkembangan yang diharapkan. Program atau kegiatan pendampingan terhadap anak usia dini harus benar-benar diarahkan pada penyiapan anak usia dini yang tidak hanya pintar, namun juga menjadikan akan memiliki ketahanan diri dalam mengahadapi berbagai kerentanan dan tantangan, terhindar dari kemunduran, mampu menyesuaikan dengan lingkungannya, sehingga ia menjadi anak yang sukses dalam semua bidang kehidupan di masa kini dan masa depannya. Helen Bee menyatakan bahwa, resiliensi anak adalah seorang anak yang tangguh dalam menghadapi kerentanan. Hal ini juga sejalan dengan pemikiran Brooks dan Goldstein sebagimana dikutip oleh Hamid Patilima yang menyatakan bahwa, resiliensi anak adalah sebuah proses munuju kepada kualitas tertentu dan/atau cara melihat diri dan dunia dalam menghadapi tantangan dan tekanan. 23 Dari berbagai diskusi tentang resiliensi oleh para pakar di atas dapat disimpulkan bahwa resiliensi anak adalah kemampuan atau ketahanan diri seorang anak dalam mengahadapi berbagai kerentanan dan tekanan yang mengancam pertumbuhan dan perkembangannya dengan melakukan pendampingan dari orang dewasa baik melalui jalur formal maupun informal. Ringkasnya, resiliensi anak adalah kecerdasan emosional yang dimiliki oleh anak usia dini yang diperoleh dari kegiatan pendampingan sehingga anak dapat memiliki ketahanan diri dalam mengahadapi berbagai tekanan dari lingkungannya serta mampu keluar dari situasi yag tidak menguntungkan tersebut. Karakteristik Resiliensi Anak dan Konteksnya Menurut Santrock, karakter resiliensi anak bersumber dari tiga hal yaitu. individu, keluarga inti, dan pihak di luar keluarga. Secara individu, resiliensi anak terbangun pada anak yang memiliki karakteristik intelektual yang baik, sifat yang menarik, bersahabat dan mudah bergaul, anak yang memiliki kepercayaan diri, harga diri yang tinggi, memiliki bakat, dan memiliki keyakinan yang tinggi. 24 Ketahanan diri yang berasal dari dalam diri individu anak ini adalah modal yang sangat penting agar anak secara mandiri memiliki kemampuan untuk berkembang. Untuk memunculkan berbagai potensi dalam diri anak tentu saja membutuhkan stimulus yang tepat sehingga dapat direspon dalam bentuk berbagai kemampuan atau kecerdasan anak. Hal ini karena dalam diri anak modal awal sejak dia lahir adalah berbagai potensi yang belum muncul dalam bentuk kecerdasan-kecerdasan atau kemampuankemampuan tertentu, sehingga diperlukan rangsangan kecerdasaan untuk merubah potensi menjadi kemampuan . Resiliensi anak yang terbangun dari keluarga inti dapat direalisasikan pada keluarga inti yang memiliki hubungan dekat dengan anak, karakteristik Hamid Patilima. Resiliensi Anak Usia Dini, 68. Santrock. Perkembangan Anak Jilid I, 16. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah orang tua yang penyayang, pengasuhan yang hangat, kondisi sosil-ekonomi yang baik, dan keluarga yang memiiki hubungan dengan jaringan yang luas. Resiliens yang terbangun dari keluarga inti ini merupakan support yang berasal dari keluarga yang berperan ideal sebagaimana mestinya orang tua yang memiliki sifat penyayang kepada anaknya. Ini tampak sederhana dan mudah, namun pada prinsipnya diperlukan metode atau cara mengelola yang tepat agar karakteristik sifat sayang keluarga inti kepada anak benar-benar menjadi stimulus perkembangan emosional anak sehingga menjelma menjadi resiliensi bagi anak. Karena tidak sedikit karakteristik menyayangi yang hamper pasti dimiliki oleh setiap keluarga inti justru berbalik menjadi pelemahan terhadap kamandirian anak, yaitu sifat menyayangi yang cenderung muncul dengan perilaku memanjakan anak. Sedangkan resiliensi yang terbangun dari konteks di luar keluarga dapat terjadi jika karakteristik yang dimiliki oleh konteks luar keluarga tersebut adalah orang-orang dewasa yang penyayang dan memiliki hubungan dengan organisasi yang positif, teman sebaya yang baik, dan bersekolah di sekolah yang aman. Resiliensi anak dalam konteks luar keluarga ini merupakan bentuk ketahanan diri anak yang bersumber dari faktor di luar anak yang bukan keluarga inti. Faktor ini juga sangat berpengaruh terhadap anak karena anak dalam menjalani hari-harinya tentu saja tidak lepas dari interaksi dengan lingkungan di luar dirinya dan keluarganya. Hal tersebut seperti diungkapkan oleh John Locke dengan teori empirisme-nya. Di antara doktrin teori tersebut menyatakan bahwa, sumber seluruh pengetahuna harus dicari dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman indrawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal. 26 Pandangan teori ini memberikan pengertian bahwa lingkungan sekitar anak sangat berpengaruh besar dalam memberikan warna perkembangan anak. Semakin lingkungan tersebut sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak maka akan semakin berdampak terhadap anak. Sumber Karakteristik Individu - Fungsi intelektual yang baik - Sifat yang menarik, bersahabat, muda bergaul - Kepercyaan diri, harga diri yang tinggi - Bakat - keyakinan Keluarga Inti - Hubungan dekat dengan figure orang tua penyayang - Pengasuhan berwenang, kehangatan struktur, harapan Hamid Patilima. Resiliensi Anak Usia Dini, 69. Uyoh Sadullah. Pengantar Filsafat Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2. , 32. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah - Keuntungan sosial-ekonomi - Hubungan dengan jaringan keluarga luas yang Konteks di luar - Terkait pada orang dewasa yang penyayang di luar Keluarga Inti - Hubungan dengan organisasi yang positif - Bersekolah di sekolah yang aman27 Schoon juga menyatakan hal yang senada dengan Santrock, bahwa anak yang memiliki resiliensi adalah anak yang mampu beradaptasi dengan Lingkungan memiliki pengaruh terhadap perkembangan anak berupa pengaruh interaksi yang kompleks dengan berbagai level lingkungan Interaksi ini mencakup interaksi yang saling berhubungan antara di dalam dan di luar rumah, tetangga, dan sekolah pada kehidupan anak setiap hari dalam kurun waktu yang cukup lama. Interaksi anak dengan lingkungan ini sebagai pusat lingkaran, menjadi motor perkembangan anak yang dikelilingi oleh system interaksi. Domain Resiliensi Anak Peran strategis untuk membangun resiliensi anak ada di pundak pendidik, baik dalam jalur informal maupun formal. Pendidik dituntut memiliki kepekaan yang besar terhadap perkembangan anak, khususnya terkait kebutuhan anak dalam memaksimalkan perkembangannya. Pendidik tidak hanya memahami tentang hal-hal yang baik untuk anak, namun pendidik juga harus mampu menyelamatkan anak dari tekanan atau ancaman yang terjadi pada anak. Hamid Patilima mengutip pendapatnya Brooks dan Sam Goldstein menyatakan bahwa, anak usia dini akan memiliki ketahanan diri yang baik jika pendidik memiliki sikap empati, komunikatif-efektif, mendengar secara aktif, mengubah script negatif, mencintai dengan cara membantu dan menghargai anak, menerima anak untuk menetapkan tujuan yang realistis, membantu anak untuk merasakan kesusksesan dengan mengidentifikasi dan memperkuat kompetensi mereka, membantu anak mengenali bahwa kesalahan adalah pengalaman yang menjadi bahan belajar dan mengembangkan tanggung jawab, dan kasih sayang. Kemudian pendidik juga harus mengetahui bahwa ada aspek-aspek atau domain-domain yang ada dalam diri anak yang harus dipenuhi agar resiliensi dapat tumbuh dalam diri mereka. Daniel dan Wassel mengemukakan 6 . aspek atau domain resiliensi yang menjadi rujukan untuk membangun resiliensi anak. Santrock. Perkembangan Anak Jilid I, 16. Schoon. Risk and Resilience. Adaptation ini Changing Times (Singapura: Cambridge University Press, 2. , 95. Hamid Patilima. Resiliensi Anak Usia Dini, 73. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah Keamanan Dasar Domain keamanan dasar merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan setiap manusia, terlebih bagi manusia yang belum dapat menjaga dirinya sendiri seperti anak usia dini. Pada domain kemanan dasar ini strategi yang dilakukan adalah untuk membangun keamanan dalam diri anak usia dini dengan srategi yang sederhana, yakni dengan ketekunan dan konsistensi yang dapat menimbulkan rasa aman pada anak. Hal ini dapat dilakukan di antaranya dengan istiqomah memutarkan music klasik atau lagu religi yang memiliki alunan lembut yang dilakukan di setiap anak bangun tidur. Domain ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Maslow sebagaimana dikutip oleh Martini Jamaris, menurutnya salah satu kebutuhan manusia adalah rasa aman dari segala keadaan yang mengancam, perlindungan, dan stabilitas social serta ekonomi, serta menciptakan kehidupan dalam tatanan yang teratur dan nyaman. Maslow juga menyatakan bahwa, kebutuhan dasar manusia yang selanjutnya adalah kebutuhan fisiologis,30 kebutuhan terhadap oksigen, air, makan, dicintai dan mencintai, memiliki teman, dihargai, mendapatkan perhargaan dari orang lain, perhatian, kebanggaan, kekuasaan, kemandirian, kompetensi dalam bidang tertentu, pencapaian keberhasilan, kebebasan, aktualisasi diri, kemampuan dalam menghadapi berbagai tantangan, dan peluang baru. Bagaimana seorang pendidik anak usia dini dapat memenuhi kebutuhan anak berupa rasa aman ini?. Tentunya menciptakan suasana aman baik secara fisik maupun psikis anak usia dini bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Seorang pendidik anak usia dini diharuskan memiliki kemampuan merekayasa diri . endidik sekaligus orang tercint. dan lingkungan anak menjadi serba terasa menyenangkan untuk anak. Rekayasa diri pendidik misalnya dengan cara selalu menampilkan mimik wajah yang dapat menghadirkan rasa nyaman dan aman bagi setiap anak yang memandangnya. Kemudian merekayasa lingkungan anak agar menjadikan anak selalu merasa aman dan nyaman misalnya dengan menciptakan kelas anak usia dini yang bernuansa lingkungan bermain anak sehari-hari, sehingga mereka tidak merasa memikul beban belajar setiap mereka memasuki kelas tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan gambar, hiasan, pengaturan tempat duduk yang menarik, pencahayaan yang baik, sirkulasi udara yang cukup dan segala peralatan belajar yang aman digunakan oleh anak. Fisiologi berasal dari bahasa Yunani Kuno phusiologia. filsafat alam, artinya adalah studi tentang bagaimana organisme melakukan fungsi vitalnya, seperti studi tentang bagaimana otot berkontraksi atau kekuatan yang berkontraksi otot pada kerangka. Fisiologi ini dibangun di atas tiga landasan ilmu. fisika, kimia, dan anatomi. Bidang ini diperkenalkan oleh dokter Prancis Jean Ferney pada tahun 1552. Martini Jamaris. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan (Jakarta: Yayasan Penamas Murni, 2. , 226-228. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah Untuk memberikan rasa aman terhadap anak, pendidik juga bisa memberikan respon terhadap tuntutan fisik dan psikologis anak, yang biasa disebut dengan stress. Tekanan merupakan bagian dari masa kanak-kanak dan sebagian besar anak-anak dapat belajar untuk mengahadapinya. Pendidik harus mengelola tekanan ini menjadi prestasi, yaitu dengan mengurai berbagai kecemasan menjadi kemampuan-kemampuan yang ditetapkan yang bersifat realistis. Membangun resiliensi anak yang berhubungan dengan intervensi lingkungan sekitar anak secara umum dapat dibedakan menjadi dua lingkungan, yaitu lingkungan fisik tempat anak beraktivitas dan lingkungan Untuk lingkungan fisik tempat anak beraktivitas ini meliputi semua tempat atau lingkungan yang digunakan anak untuk berinteraksi. Sedangkan lingkungan manusia di sini adalah semua manusia yang selalu terlibat dalam keseharian anak, baik manusia seumurannya maupun manusia dewasa. Keamanan dasar yang berhubungan dengan lingkungan manusai inilah yang menjadi perhatian khusus dunia pendidikan anak usia dini, khususnya melalui pendidik PAUD. Dalam melaksanakan tugas profesional sebagai pendidik, seorang pendidik PAUD harus memastikan anak benar-benar mengerti bahwa mereka memiliki hubungan dengan pendidik, teman, orang tua, dan orang dewasa lain yang memberikan rasa aman. Setiap unsur yang ada di lingkungan anak, seperti PAUD harus benar-benar meyakinkan anak bahwa mereka berada di lingkungan yang aman. Anak merasa memiliki pendidik yang selalu menjaga mereka, sehingga mereka merasa aman karena merasa memiliki tempat bermain yang aman terutama dari dan ke PAUD. Dari berbagai ulasan mengenai kebutuhan anak terhadap keamanan dasar sebagai salah satu domain resiliensi anak di atas, maka setidaknya dapat diberikan penjelasan bahwa kemanan dasar dalam diri anak dapat dipenuhi manakala ada kelekatan yang positif antara anak dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan manusia. Jika kelekatan positif ini dapat dilaksanakan dengan baik anak akan mengerti bahwa mereka memiliki hubungan dengan pendidik, orang tua, teman, dan orang dewasa lain yang selalu memberikan rasa aman. Dan jika anak selalu dalam kondisi aman, maka pertumbuhan dan perkembangannya juga akan maksimal. Pendidikan Membangun resiliensi anak dengan pendidikan mensyaratkan pendidik harus memastikan anak tertarik kepada pendidikan anak usia dini dan Lembaga PAUD harus bisa memberikan garansi kepada anak bahwa mereka akan mampu mengeksplorasi seluruh potensinya, mereka akan menikmati keberadaannya di PAUD, mereka akan menikmati belajar sambil Hamid Patilima. Resiliensi Anak Usia Dini, 76. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah bermain di PAUD, mereka akan semakin berminat terhadap pembelajaran, mereka akan menemukan teman yang baik di PAUD, dan mereka akan merasa aman di lembaga PAUD. Peran pendidik dalam membangun resiliensi anak melalui pendidikan ini merupakan suatu pendekatan pemikiran yang terbuka kepada keluarga dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda. Mereka akan mewakili bidang yang dominan akan menginformasikan praktik yang baik. Pendidik akan berperan membantu anak untuk mengembangkan rasa ingin tahu tentang diri dan lingkungannya. Pendidik PAUD juga akan memiliki peran dalam melakukan komunikasi yang berkelanjutan bagi kepentingan prestasi anak, seberapa pun kecil prestasi yang mereka dapat, pendidik membantu mendorong rasa ingin tahu anak agar mau terus berusaha melakukan suatu perintah dengan tepat dan benar. Dan pendidik berupaya memberikan apresiasi untuk merayakan prestasi tersebut. Lebih lanjut peran pendidikan dalam membangun resiliensi anak usia dini adalah paket lengkap yang ditawarkan oleh dunia pendidikan dalam menyentuh seluruh potensi anak, yaitu potensi kognitif, potensi psikomotorik, dan potensi afektif. Dengan tiga domain yang mendapatkan pengalaman pendidikan maka akan menjadikan anak mudah dalam mengekspresikan segala bentuk keinginan dalam dunianya tanpa menyimpang dari nilai-nilai yang dianggap benar oleh keluarganya, masyarakatnya, atau bahkan negaranya. Dengan demikian pendidikan tidak boleh hanya mengemban satu domain saja yang dewasa ini menjadi peerhatian bahkan menjadi tolok ukur kebaikan seoarang anak manakala ia bersekolah, yaitu domain kognitif saja. Jika hal ini masih terjadi, maka rasanya seperti mimpi untuk mencetak generasi bangsa yang berkarakter sebagaimana Negara-negara maju. Karena tentunya kita sadari bersama bahwa pekerjaan rumah yang paling urgent untuk diselesaikan dalam dunia pendidikan kita sebenarnya bukannlah kebodohan, akan tetapi keringnya nilai karakter yang dibangun disetiap lembaga pendidikan sehingga melahirkan generasi yang tidak hanya pintar namun juga baik, tangguh, dan berkarakter sesuai nilai-nilai yang benar dan diakui oleh bangsa ini. Kaitannya dengan peran penting dunia pendidikan dalam mencetak anak yang beresiliensi. Hamid Patilima mengemukakan lima aspek pendidikan yang harus dikembangkan dan sekaligus menjadi tugas penting pendidik terhadap anak, yaitu: pertama, dalam lembaga pendidikan anak usia dini guru harus mampu mendorong anak utk bermain. Kedua, guru harus mampu mendorong anak untuk dapat mengeksplorasi pengetahuan dan pemahaman Daniel & Wassel Sally. The Early Years: Assessing and Promoting Resilience in Vulnerable Children (London: Jessica Kingsley Publishers, 2. , 97-98. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah anak melalui bahasa. Ketiga, memberi fasilitas kepada anak untuk Keempat, memberi akses anak untuk dapat melihat lingkungan Kelima, mendorong anak untuk dapat berkonsentrasi dalam menjalankan tugasnya. Persahabatan Apa pentingnya persahabatan untuk anak yang hanya bermain dalam aktivitas sehari-harinya? Bukankah anak lebih aman kalau mereka selalu dekat dengan keluarga? Mungkin kita sebagai manusia dewasa pernah terlintas atau bahkan kalau kita sebagai orang tua dari seorang anak sering memikirkan tentang jawaban dari pertanyaan tersebut. Namun kita akan memberikan jawaban positif dengan Auiya, pentingAy untuk pertanyaan pertama, dan dengan jawaban Auselalu berada dekat dengan kelaurga tidak selalu baik bagi anakAy untuk jawaban kedua. Kenapa bisa seperti itu? Jawaban saya selaku penulis adalah karena anak bukan miniatur manusia Mereka memiliki dunianya sendiri yang jauh berbeda dengan dunia orang dewasa. Mereka memiliki kebutuhan yang sangat berbeda dengan kebutuhan orang dewasa. Mereka meiliki keunikan tersendiri yang tidak boleh direbut paksa oleh orang dewasa, bahkan oleh orang tuanya sekalipun. Di sinilah pentingnya interaksi antar anak usia dini dalam membangun kenyamanan yang dibutuhkan oleh anak. Dari rasa nyaman menurut mereka sendiri inilah seorang anak akan dapat menerjemahkan setiap gejala sosial di sekitarnya, sehingga ia mampu menyadari atau merespon lingkungannya bersama sahabat seusianya. Contoh sederhana seperti seorang anak yang sulit untuk diminta memakan makanannya oleh orang tuanya. Kemudian anak tersebut coba dibawa ke rumah anak yang seusia dengan dia yang juga sedang makan bersama orang tuanya. Apa kira-kira yang terjadi? Anak yang sulit untuk makan tersebut menjadi tertarik untuk ikut makan bersama teman seusianya tersebut. Ada semacam komunikasi antar anak usia dini yang sulit untuk dipahami oleh orang dewasa. Mereka seperti menemukan sahabat yang memang ada dalam dunia mereka. Intruksi atau perintah orang dewasa agar anak mau makan seperti tidak ada artinya dibandingkan interaksi sederhana antar anak. Kenapa ini bisa terjadi? Daniel dan Wassel menyatakan, persahabatan memungkinkan anak untuk mempelajari keterampilan sosial, seperti berinteraksi dengan sesama teman, berkompetisi, berkomunikasi, dan bekerjasama. Dengan persahabatan anak akan belajar tentang dirinya sendiri dan temannya. Anak dapat saling membantu melewati kondisi yang menekan, seperti kondisi memulai sekolah baru yang perlu adaptasi. Dengan persahabatan pula anak dapat bersosialisasi Hamid Patilima. Resiliensi Anak Usia Dini, 95. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah satu sama lain. Anak akan merasakan kenikmatan bermain jika bersa dengan Persahabatan memiliki kontribusi besar dalam membetuk ketangguhan dalam diri anak. Karena dengan pershabatan di antara anak maka secara tidak langsung sebenarnya merekan telah berusaha memperoleh dan sekaligus menguraikan keterampilan sosial serta memperoleh pengetahuan tentang diri sendiri dan tentang orang lain. Dengan modal inilah anak akan dapat menghadapi berbagai tekanan atau ancaman dari lingkungannya, karena anak merasa memiliki teman yang dapat membuat dia tenang dan yang terpenting adalah anak merasa memiliki support emosional berupa sahabat dalam setiap teakanan yang dihadapi. Minat dan Bakat Menggali minat dan bakat anak adalah seperti menggali harta karun yang terkubur sangat dalam di perut bumi. Kekayaan potensi yang ada dalam diri anak tentunya bukan pekerjaan yang mudah untuk menemukan yang paling potensial sehingga muncul menjadi bakat. Menurut hemat penulis, tidak dibenarkan jika bakat akan ditemukan dengan sendirinya tanpa melalui stimulus yang tepat. Hal ini terjadi karena perjuangan anak usia dini menuju ke kedewasaanya dengan tetap terjaga potensinya adalah pekerjaan yang sangat berat. Tugas pendidik di lembaga pendidikan anak usia dini dalam perannya membangun resiliensi anak dalam hubungannya dengan aspek minta dan bakat adalah mendorong anak untuk menemukan bakat individunya. Anak yang memiliki kepercayaan diri rendah, terutama jika mengalami pengabaian atau keputusasaan, maka pendidik harus berkomunikasi dengan maksud untuk meyakinkan anak akan kemampuannya. Hal ini bisa dilakukan dengan cara pendidik sering melakukan kegiatan bermain peran bersama. Dengan kegiatan bermain peran ini dimungkinkan anak akan dapat mengembangkan kemampuan imajinasinya serta dapat memberikan ruang bagi anak untuk menumbuhkan bakat dan mintanya. Lembaga PAUD sebagai wadah pembelajaran anak usia dini memiliki peran besar dalam menggali minat dan bakat anak, di antaranya adalah dengan menciptakan kondisi yang kondusif untuk mengembangkan kreativitas anak. Lembaga PAUD harus mampu merangsang setiap anak Daniel & Wassel Sally. The Early Years: Assessing and Promoting Resilience in Vulnerable Children, 42. Teori konvergensi yang dikemukakan oleh William Stern menyatakan bahwa, perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan. Dibutuhkan keseimbangan yang baik antara dua aspek tersebut. Untuk menjaga keseimbangan tersebut maka perlu sinergitas dari berbagai lingkungan pendidikan, baik informal, formal, maupun non formal. Lihat. Ngalim Purwanto. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2. , 60. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah berani memunculkan setiap kemampuan yang dimilikinya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Jamaris yang dikutip oleh Hamid Patilima, ada beberapa kondisi yang harus terjadi di lembaga PAUD dalam kaitannya dengan pengembagan kreativitas anak, yaitu. adanya kondisi yang memungkinkan adanya kesempatan anak untuk memunculkan perilaku yang kreatif, . adanya pengakuan nilai tentang tentang fantasi yang ditampilkan oleh anak, . adanya kesempatan bagi anak untuk menceritakan setiap fantasinya, dan . tidak ada kondisi pemaksaan terhadap pemikiran anak. Mengapa penting penemuan bakat seorang anak terhadap resiliensi anak? Seorang anak manakala ia melakukan kegiatan berdasarkan bakat dan minatnya, maka hal ini dapat meningkatkan harga diri anak. Harga diri ini merupakan bagian yang paling utama dari bangunan dasar resiliensi. Anak dengan harga diri yang tinggi memiliki gagasan realistis yang mampu diperlihatkan sebagai hasil dari usaha mereka. Sebaliknya, anak dengan harga diri rendah lebih memungkinkan untuk tidak berhasil dalam kegiatannya. Mereka melihat kegagalan sebagai akibat faktor kurangnya kemampuan atau kecerdasan, sehingga mereka terlihat tidak berdaya dan putus asa. Harga diri dalam diri anak usia dini masih bersifat semua atau tidak sama sekali Ausaya baikAy atau Ausaya jelekAy. Ausaya bisaAy atau Ausaya tidak bisaAy. Harga diri pada diri anak diperoleh dari kemampuan utama atau bakat yang dapat ia perlihatkan dengan percaya diri kepada orang lain. Semakin banyak kebisaan yan dapat ia suguhkan kepada teman atau orang dewasa di sekitarnya maka akan semkain kuat harga diri dalam diri anak. Dan tentu saja sikap atau kondisi seperti ini dapat menjadikan anak semkin kuat dan tahan terhadap berbagai tekanan yang berasal dari luar anak . Nilai Positif Nilai positif yang dikehendaki sebagai salah satu komponen pembentuk resiliensi anak adalah nilai-nilai kebaikan yang diakui oleh keluarga atau masyarakat tertentu di mana anak usia dini tumbuh dan berkembang. Maka nilai positif ini sangat luas cakupannya. Karena memasukkan semua nilai yang diakui kebaikannya oleh komunitas tertentu. Nilai positif ini sangat penting bagi anak usia dini karena nilai-nilai inilah yang kemudian akan membentuk sikap atau karakter yang melekat pada anak. Banyak bentuk dan cara yang dapat dilakukan oleh setiap orang tua dalam menanamkan nilai-nilai positif kepada buah hatinya. Misalnya seperti pembiasaan menggunakan bahasa Indonesia baku atau bahasa kromo alus dalam berkomunikasi dengan anak di keluarga, pembiasaan meminta maaf, pembiasaan memberi, pembiasaan menolong orang lain, pembiasaan terimakasih, dan pembiasaan tanggungjawab. Semua nilai-nilai positif ini akan menjelma menjadi perilaku setiap hari anak tanpa dibutuhkan instruksi Hamid Patilima. Resiliensi Anak Usia Dini, 123. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah atau perintah orang tua atau pendidik manakala sudah benar-benar tertanam sejak dini kepada anak. Misalnya anak dibiasakan menggunakan bahasa-bahasa yang jawa halus dalam keseharian anak, secara perlahan dan bertahap bahasa tersebut akan terinternalisasi menjadi nilai positif dalam diri anak. Sehingga anak merasa nyaman dengan menggunakan bahasa tersebut dalam komunikasi sehariharinya. Dan secara tidak langsung kebaikan bahasa yang telah diakui anak tersebut dapat menjadi benteng lisan anak untuk mengucapkan perkataanperkataan yang kurang baik dari lingkungan anak. Di samping itu, bahasa yang baik yang sudah tertanam ini juga akan berpengaruh juga terhadap perilaku yang baik terhadap orang lain, semisal ketika anak tersebut berinteraksi dengan temannya pasti akan menghindari menggunakan katakata yang tidak baik. Hal tersebut mudah terjadi pada anak, karena berdasarkan tinjauan psikologis masa usia dini merupakan masa peletakan awal bagi pertumbuhan dan perkembangan individu. Apa yang diterima anak pada masa ini bisa berupa makanan, minuman, atau bahkan perlakuan dan pendidikan sangat berpengaruh bagi kehidupan selanjutnya. Berdasarkan pernyataan ini, jelaslah bahwa pendidikan anak usia dini sangat penting dalam pembentukan kepribadian anak yang berdasarkan pada nilai moral dalam masyarakat. Lembaga PAUD memiliki kontribusi yang cukup besar dalam menanamkan niai-nilai positif terhadap anak usia dini. Melalui PAUD dengan kegiatan belajar melalui bermain akan dapat membentuk dan mengokohkan nilai moral positif yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal ini, lembaga PAUD harus mengambil perannya dalam mendidik dan menumbuhkan pribadi peserta didik yang berdasarkan pada nilai-nilai moral dalam masyarakat. Untuk menumbuhkan pribadi peserta didik yang bermoral dibutuhkan pendidikan dan penanaman nilai sejak dini. Domain nilai positif ini dimaksudkan agar anak memiliki kapasitas pribadi yang pro-sosial. Hal ini bisa dilakukan oleh pendidik PAUD dengan melaksanakan program pembelajaran yang berorientasi pada. emosi anak, mendorong anak untuk berlaku pro-sosial, mendorong anak untuk bertanggung jawab, mendorong anak untuk mau membantu teman, dan mendorong anak untuk saling menyayangi dan menghargai teman. Kompetensi Sosial Hamid Patilima mengutip pernyataannya McCartney dan Deborah mengemukakan bahwa, kompetensi sosial adalah anak yang memiliki dan menggunakan kemampuannya untuk mengintegrasikan pemikiran, perasaan. Koesdwiratri. Membina Tanggung Jawab Pada Anak dan Remaja (Bandung: Biro KOnsultasi Psikologi Swaparinama, 1. , 33. Daniel & Wassel Sally. The Early Years: Assessing and Promoting Resilience in Vulnerable Children, 110. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah dan perilaku untuk mencapai tugas-tugas sosial, dan hasilnya dihargai dalam konteks orang banyak dan budaya. 40 Jika seorang anak memiliki kompetensi sosial, amak ia akan mendapatkan support sosial, bisa dari orang tuanya, teman sekelas, teman bermain di lingkungan rumahnya, atau dari gurunya. Dengan adanya support sosial inilah yang akan meningkatkan harga diri . elf-estee. anak sehingga anak tersebut akan merasa bahwa dirinya diakui atau dihargai oleh lingkungan sosialnya . elf-respec. Pengkuan ini sangat penting bagi anak dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Bahkan pengakuan sosial ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Maka sangat tidak dibenarkan jika orang tua atau keluarga yang sering jahilin (Jawa: Njarak. anak walaupun dengan niat hanya bercanda, sehinga anak merasa jengkel atau bahkan sampai menangis. Jika hal ini sering dilakukan pada anak, maka akan ada respon dari anak yang mungkin tidak disadari secara langsung oleh orang tua, yaitu berupa sifat keras atau kaku yang timbul dari rasa tidak nyaman atau perebutan harga diri yang dimiliki oleh anak. Dan hal ini tidak menutup kemungkinan akan terbawa oleh anak sampai ia dewasa nanti. Berkaitan dengan hal ini. Daniel dan Wessel menyatakan bahwa membangun resiliensi anak yang berhubungan dengan kompetensi sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu pertama, otonomi. yaitu pendidik atau orang tua menstimulasi anak agar dia mampu membuat pilihan sendiri dalam setiap hal yang dilakukan, seperti memberikan pilihan sederhana antara dua pilihan warna yang disukai. Substansi dari unsur otonomi adalah agar anak memiliki keterlibatan dalam pengambilan keputusan dalam setiap aktivitas yang dilakukannya. Kedua, kontrol diri. yaitu sikap yang ditunjukkan anak yang tampak sebagaimana yang diharapkan dilakukan oleh soerang anak. Artinya adalah tidak ada penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh anak dalam kehidupan sehari-harinya. Ketiga, efikasi diri. yaitu dorongan semangat yang timbul dalam diri Untuk memunculkan kompetensi ini orang tua atau pendidik bisa melakukan berbagai kegiatan yang dapat mendorong anak untuk berani mencoba hal-hal baru atau yang memberikan tantangan, seperti memberikan latihan-latihan tebak gambar, tebak angka, kuis, olah raga dan lain-lain. Keempat, perhatian. yaitu kemampuan seorang anak untuk dapat berkonsentasi atau focus terhadap suatu tugas atau tanggung jawab. Kompetensi ini dapat diasah oleh orang tua atau pendidik dengan mendorong anak untuk tenang dalam atau diam saat ada orang lain sedang berbicara, memberikan cerita pendek bergambar, mewarnai, dan kegiatan lain yang dapat mendorong konsentrasi anak. Kemudian yang tidak kalah penting adalah kesediaan orang tua atau pendidik untuk mendengarkan apapun yang Hamid Patilima. Resiliensi Anak Usia Dini, 137. El Wahdah. Volume 2 Nomor 1. Juni 2021 Arif Shaifudin dan Konik Naimah diucapkan oleh anak sehingga anak merasa dihargai dan didengar, walaupun ucapan anak belum bisa dipahami atau bahkan tidak dapat dipahami. Penutup Resiliensi merupakan sebuah upaya bagaimana anak usia dini memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai ancaman atau tekanan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembagannya. Hal ini sangat penting dimiliki oleh setiap anak, karena mereka memiliki ketahanan dan kerentanan yang berbeda antara anak satu dengan yang lainnya. Jadi, di samping anak dalam pertumbuhan dan perkemabangannya membutuhkan asupan nutrisi makanan, mereka juga membutuhkan suatu kondisi ketahanan yang berasal dari dalam diri mereka untuk dapat menyelesaikan berbagai masalah yang ada dalam dunia mereka. Resiliensi dalam diri anak dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya seperti melalui stimulus berupa pendidikan dalam lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD). Stimulus ini harus dilakukan secara tepat sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga rangsangan yang diberikan oleh lingkungan atau orang dewasa . rang tua atau pendidi. justru malah memberikan intervensi atau tekanan bagi anak. Domain resiliensi anak yang harus diberikan stimulus sehingga dapat berkembang dan melekat dalam diri anak paling tidak terdapat enam aspek, keamanan dasar, pendidikan, persahabatan, minat dan bakat, nilai positif, dan kompetensi sosial. Dengan memberikan sentuhan pada enam domain tersebut anak akan berpotensi memiliki ketangguhan dan kepercyaan diri dalam menghadapi berbagai permasalahan dalam pertumbuhan dan perkembangannya, baik yang berasal dari keluarga inti, lingkungan bermain, teman bermain, maupun orang lain yang hadir dalam kegiatan sehari-hari Daftar Pustaka