JURNAL REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU Vol. No. Agustus 2024 PENGARUH SENAM EGRONOMIK TERHADAP TEKANAN DARAH PADA LANSIA YANG MENGALAMI HIPERTENSI Tedy Dwi Ananto1. Asril HS2. Sandra Lusi Novita Batubara3 Fakultas Kesehatan. Universitas Aisyah Pringsewu retnosulistiani91@gmail. ABSTRAK Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir denngan berat badan kurang dari 2. gram tanpa memandang masa kehamilannya. Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti di RSUD Dr. Abdul Moeloek Lampung yang merupakan rumah sakit rujukan Provinsi Lampung menunjukkan bahwa Tahun 2016 jumlah pasien yang mengalami BBLR adalah 25. 3 %. Tahun 2017 jumlah pasien yang mengalami BBLR 7. Tahun 2018 jumlah pasien yang mengalami BBLR 8%. Tahun 2019 jumlah pasien yang mengalami BBLR 15. 9% dari 659 kelahiran di rumah sakit Jenis penelitian kuantitatif, rancangannya analitik dengan pendekatan Case control. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang bersalin di RSUD Dr. Abdul Moeloek Lampung Tahun 2020 sebanyak 461 ibu hamil. sampel pada kasus 64 responden, pada kontrol 64 Teknik pengambilan sampel menggunakan non random pada kasus dan random pada analisis menggunakan bivariat dan multivariat. Hasil penelitian usia ibu dengan kejadian BBLR . =0. OR= 2. Anemia dengan kejadian BBLR . = 0. OR= 2. Usia dengan kejadian BBLR . <0. OR= 7,. Riwayat BBLR dengan kejadian BBLR . = 0. OR= 3. Paritas dengan kejadian BBLR . = 0. OR= 1. Berdasarkan hasil analisis multivariat menunjukan bahwa variabel Anemia adalah variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian BBLR, dengan nilai OR 7. Disarankan dapat menambah informasi serta wawasan tentang BBLR, serta agar dapat mengetahui upaya pencegahannya serta memiliki kesadaran untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin di sarana pelayanan kesehatan. Kata Kunci: Berat Badan Lahir Rendah. Usia. Anemia. Paritas ABSTRACT Low Birth Weight (LBW) is a baby born weighing less than 2,500 grams regardless of gestational Based on an initial survey conducted by researchers at Dr. Abdul Moeloek Hospital. Lampung, which is a referral hospital for Lampung Province, it showed that in 2016 the number of patients experiencing LBW was 25. 3%, in 2017 the number of patients experiencing LBW was 5%, in 2018 the number of patients experiencing LBW was 12. 8%, in 2019 the number of patients experiencing LBW was 15. 9% of 659 births in the hospital. The type of quantitative research, the design is analytical with a case-control approach. The population in this study were all mothers who gave birth at Dr. Abdul Moeloek Hospital. Lampung in 2020, as many as 461 pregnant The sample in the case was 64 respondents, in the control 64 respondents. The sampling technique used non-random in cases and random in controls. The analysis used bivariate and The results of the study of maternal age with the incidence of LBW . = 0. OR = Anemia with the incidence of LBW . = 0. OR = 2. Age with the incidence of LBW . <0. OR = 7. History of LBW with the incidence of LBW . = 0. OR = 3. Parity with the incidence of LBW . = 0. OR = 1. Based on the results of the multivariate analysis, it shows that the Anemia variable is the most dominant variable related to the incidence of LBW, with an OR value of 7. It is recommended to increase information and insight about LBW, and to be able to know the prevention efforts and have the awareness to check their pregnancy regularly at health service facilities. Keywords: Low Birth Weight. Age. Anemia. Parity. JREMIK. Vol. No. Agustus 2024 | 81-90 PENDAHULUAN Bayi BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2. Sedangkan menurut WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebur Low Birth Weight Infants (BBLR) (Proverawati dan Ismawati, 2. Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi. BBLR terjadi pada bayi kurang bulan (< 37 mingg. atau pada bayi cukup bulan . ntrauterine growth restrictio. (Pudjiadi, dkk. , 2. BBLR kehamilan yang pendek . , dan IUGR (Intra Uterine Grouwt Restrictio. yang dalam bahasa indonesia disebut perttumbuhan janin terhambat (PJT) atau keduanya. Kedua penyebab ini dipengaruhi oleh faktor resiko, seperti faktor ibu, plasenta, janin dan lingkungan (Juariya dan Hendri, 2. Berdasarkan dari WHO dan United Nattions ChildrenAos Fund (UNICEF) pada tahun 2018 sekitar 22 juta bayi dilahirkan di dunia, 16% diantaranya lahir dengan BBLR. Adapun persentase BBLR dinegara berkembang adalah16. 5 % dua kali lebih vesar dari pada negara maju . %). Indonesia adalah negara berkembang yang menepati urutan ketiga segabai negara yang prevelensi BBLR tertinggi . 1%), setelah India . 6%) dan Afrika Selatan . 2%). Selain itu Indonesia turut menjadi negara kedua dengan prevelensi BBLR tertinggi diantaranya negara ASEAN lainnya (WHO, 2. Secara nasional berdasarkan analisa SDKI, angka BBLR di Indonesia sekitar 5% . angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran Program Perbaikan Gizi Menuju Indonesia Sehat sekitar yaitu maksimal 7%. Hasil Riskesdes tahun 2018 menyatakan bahwa persentasi balita . -59 bula. dengan BBLR sekitar sebesar 6. 2 % (Riskesdes Berdasarkan kasus kematian yang ada di Provinsi Lampung tahun 2019 berdasarkan laporan terlihat bahwa kasus kematian ibu . ematian ibu pada saat hamil, saat melahirkan dan nifa. seluruhnya sebanyak 111 kasus dimana kasus kematian ibu hamil sebanyak 29 kasus, kematian ibu bersalin sebanyak 34 kasus dan kematian ibu nifas sebanyak 48 kasus (Profil Kesehatan Provinsi Lampung. Tingginya kasus kematian akibat BBLR membutuhkan peran petugas kesehatan termasuk untuk menurunkan AKB di Indonesia ,perawat dapat memberikan asuahan keperawatan yang meliputi intervensi keperawatan untuk mengurangi hal tersebut. Salah satu intervensi yang dilakukan pada bayi berat badan lahir rendah adalah meletakkan bayi didalam inkubator sehingga panas badannya mendekati dalam rahim atau dengan cara bayi dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas, sehingga panas badannya dapat dipertahankan. (Rahmanoe,2. Pravelensi Berat badan lahir rendah dan mortalitas yang berkaitan dengannya terus meningkat. Dari hasil data RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek Provinsi Lampung jumlah pasien yang mengalami BBLR di Tahun 2020 berjumlah 64 pasien dari 461 kelahiran dirumah sakit tersebut sehingga merupakan masalah penting dalam menyebabkan infeksi pada ibu dan bayi serta dapat meningkatkan kesakitan dan JREMIK. Vol. No. Agustus 2024 | 81-90 kematian pada ibu dan bayi. Berbagai studi yang berbasiskan faktor-faktor berhubungan dengan kejadian ketuban pecah dini pada ibu bersalin, namun penelitian ini masih jarang dilakukan di RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek padahal faktor-faktor berhubungan pada kelompok ini sangat Dengan demikian, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah AuAnalisis Faktor yang berhubungan dengan kejadian Bayi Berat badan lahir rendah pada ibu bersalin di RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2020Ay. bulan Januari sampai dengan Juli 2020. Dengan melihat faktor karakteristik dari usia,anemia dan umur kehamilan dan Analisis Data Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunkan rancangan Case control yaitu suatu penelitian . analitik yang menyangkut bagaimana menggunakan pendekatan retrospektive. Dengan kata lain, efek . enyakit atau status kesehata. diidentifikasi pada saat ini, kemudian faktor risiko diidentifikasi ada atau terjadinya pada waktu lalu. Setelah data terkumpul kemudian dianalisa, analisa terhadap data dengan memeriksa kebenaran pengisian lembar menganalisa data menggunakan analisis univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat, dengan penjelasan sebagai Analisa univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi dan presentase dari variabel Berat badan lahir rendah, anemia, usia, umur kehamilan, riwayat BBLR dan kehamilan ganda. Analisa Bivariat dilakukan untuk melihat variabel independen apa saja yang memiliki hubungan atau berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu Berat badan lahir rendah (BBLR). Analisis penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mempengaruhi kejadian BBLR di RSUD Dr. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2019. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik analisis Regresi Logistik karena Variabel dependennya berbentuk kategorik yang dikotom METODE PENELITIAN Desain Penelitian Desain penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunkan rancangan Case control yaitu suatu penelitian . analitik yang menyangkut bagaimana menggunakan pendekatan retrospektive. Dengan kata lain, efek . enyakit atau status kesehata. diidentifikasi pada saat ini, kemudian faktor risiko diidentifikasi ada atau terjadinya pada waktu lalu. Subjek Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang bersalin di RSUD Dr. Abdul Moeloek Lampung Tahun 2020 sebanyak 461 ibu hamil. sampel pada kasus 64 Teknik pengambilan sampel menggunakan non-random pada kasus dan random pada kontrol. Metode Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari penelusuran data rekam medik RSUD Dr. Abdul Moeloek Provinsi Lampung dari JREMIK. Vol. No. Agustus 2024 | 81-90 . emiliki dua nila. 3%), sebagian besar ibu yang tidak anemia yaitu sebanyak 73 responden . 4%), sebagian besar usia kehamilan premature 75 responden . 6%), sebagian besar yang tidak memiliki riwayat BBLR yaitu sebnyak 119 responden . %), sebagian besar paritas ibu yang beresiko sebanyak 70 responden . 7%). HASIL Analisis Univariat Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa Dari 125 responden pada kejadian kasus BBLR sebanyak 64 responden dan pada kelompok kontrol yang tidak BBLR sebanyak 64 responden, sebagian besar usia ibu tidak beresiko yaitu sebanyak 90 Tabel 1. Analisis Univariat Karakteristik Kejadian BBLR Kasus Kontrol Usia Ibu Beresiko Tidak beresiko Anemia Frequensi (N) Persentase (%) Anemia Tidak Anemia Usia Kehamilan Prematur Matur Riwayat BBLR Tidak Paritas Beresiko Tidak Beresiko Hubungan usia ibu dengan kejadian BBLR Tabel 2. Hubungan Usia Ibu dengan kejadian BBLR Usia Ibu Beresiko Tidak Beresiko Total Kejadian BBLR Kasus Kontrol (%) (%) 95% CI Hubungan anemia dengan kejadian BBLR Tabel 3. Hubungan Anemia dengan kejadian BBLR Kejadian BBLR Kasus Anemia Anemia Tidak Anemia Total (%) Kontrol (%) 95% CI JREMIK. Vol. No. Agustus 2024 | 81-90 Hubungan Usia Kehamilan dengan Kejadian BBLR Tabel 4. Hubungan Usia Kehamilan dengan Kejadian BBLR Usia Kehamilan Kejadian BBLR Kontrol (%) (%) Kasus Premature Matur Total <0. 95% CI Hubungan Riwayat BBLR dengan Kejadian BBLR Tabel 5. Hubungan Usia Kehamilan dengan Kejadian BBLR Riwayat BBLR Tidak Total Kejadian BBLR Kontrol (%) Kasus P-Value (%) . 95% CI Hubungan Paritas dengan kejadian BBLR Tabel 6. Hubungan Paritas dengan kejadian BBLR Kejadian BBLR Kontrol (%) (%) Paritas Beresiko Tidak Total Kasus 95% CI . Analisis Multivariat Tabel 7. Hasil analisis multivariat Variabel Usia ibu Anemia Usia Kehamilan Riwayat BBLR Paritas P value <0. Berdasarkan tabel 2. dari kejadian BBLR 24 responden . 5%) yang usia ibu beresiko <20 tahun/>35 tahun sedangkan dari yang tidak mengalami kejadian BBLR 14 responden . 9%) yang usia ibu beresiko (<20 tahun/>35 tahu. Hasil uji chi-square menunjukan p= 0. sehingga tidak ada hubungan antara usia ibu dengan kejadian BBLR. Berdasarkan tabel 3. dari kejadian BBLR 35 responden . 7%) yang mengalami anemia, sedangkan dari yang 95%CI Upper tidak mengalami kejadian BBLR 20 responden . 2%) yang mengalami Hasil uji statistik chi-square menunjukan bahwa p= 0. 012, sehingga ada hubungan antara Anemia dengan kejadian BBLR. Berdasarkan tabel 4. dari kejadian BBLR 41 responden . ,1%) dengan usia kehamilan premature, sedangkan yang tidak mengalami kejadian BBLR 12 responden . ,8%) dengan usia kehamilan Hasil uji statistik chi-square JREMIK. Vol. No. Agustus 2024 | 81-90 menunjukan bahwa p<0. 001, sehingga ada hubungan antara usia kehamilan dengan kejadian BBLR. Berdasarkan tabel 5 dari kejadian BBLR 7 responden . ,9%) yang memiliki riwayat BBLR, sedangkan dari yang tidak mengalami kejadian BBLR 2 responden . yang memiliki riwayat BBLR. Hasil uji statistik chi-square menunjukan bahwa p= 17, sehingga tidak ada hubungan yang bermakna antara riwayat BBLR dengan kejadian BBLR. Berdasarkan tabel 6. dari kejadian BBLR 39 responden . dengan paritas beresiko, sedangkan dari yang tidak mengalami kejadian BBLR 31 responden . dengan paritas beresiko. Hasil uji statistik chi-square menunjukan bahwa p= 214, sehingga tidak ada hubungan yang bermakna antara paritas dengan kejadian BBLR. Berdasarkan hasil uji analisis multivariate dari variabel Usia kehamilan 54, artinya ibu dengan usia kehamilan yang tidak beresiko mempunyai 5 kali melahirkan BBLN dibandingkan Usia kehamilan beresiko atau dengan kata lain ibu deangan usia kehamilan beresiko mempunyai peluang 5 kali melahirkan BBLR di bandingkan ibu dengan usia kehamilan tidak beresiko setelah dikontrol oleh anemia, usia ibu, riwayat BBLR, dan paritas. Variabel usia kehamilan adalah berhubungan dengan kejadian BBLR, dengan nilai OR yaitu 7. 54, artinya usia kehamilan yang bukan beresiko akan mengalami peluang 7. 5 kali dibandingkan dengan beresiko. PEMBAHASAN Hubungan usia ibu dengan kejadian BBLR Dari hasil penelitian diketahui bahwa tabel 2. dari kejadian BBLR 24 responden . 5%) yang usia ibu beresiko <20 tahun/>35 tahun sedangkan dari yang tidak mengalami kejadian BBLR 14 responden . 9%) yang usia ibu beresiko (<20 tahun/>35 tahu. Hasil uji chisquare menunjukan p= 0. 082, sehingga tidak ada hubungan antara usia ibu dengan kejadian BBLR. Usia reproduksi optimal bagi seorang wanita adalah usia antara 20-35 tahun, di bawah dan di atas usia tersebut akan meningkatkan risiko kehamilan maupun persalinan, karena usia dibawah 20 tahun perkembangan organ-organ reproduksi yang belum optimal, kematangan emosi dan kejiwaan kurang serta fungsi fisiologi yang belum optimal, sehingga lebih sering terjadi komplikasi yang tidak diinginkan dalam kehamilan. Sebaliknya pada usia diatas 35 tahun telah terjadi kemunduran fungsi fisiologis maupun reproduksi secara Hal-hal mengakibatkan proses perkembangan janin menjadi tidak optimal dan menghasilkan anak yang lahir dengan berat badan rendah (Proverawati, 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Nur Fadhylah Muhamad . , dengan Hasil penelitian menunjukan bahwa menunjukkan bahwa umur ibu berpengaruh terhadap kejadian BBLR dengan nilai p = 0. JREMIK. Vol. No. Agustus 2024 | 81-90 Menurut peneliti usia ibu saat pertumbuhan dan kelahiran janin, dimana usia 20 tahun merupakan kehamilan beresio tinggi dibandingkan dengan ibu bersalin yang cukup umur yaitu Ou20 tahun. Hubungan anemia dengan kejadian BBLR Dari hasil penelitian dari kejadian BBLR 35 responden . 7%) yang mengalami anemia, sedangkan dari yang tidak mengalami kejadian BBLR 20 responden . 2%) yang mengalami Hasil uji statistik chi-square menunjukan bahwa p= 0. 012, sehingga ada hubungan antara Anemia dengan kejadian BBLR. Sebagian besar penyebab anemia pada ibu hamil adalah kekurangan zat besi yang diperlukan untuk pembentukan Anemia gizi besi terjadi karena tidak cukupnya zat gizi besi yang diserap dari makanan sehari-hari guna pembentukan sel darah merah sehingga menyebabkan ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran zat besi dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan distribusi oksigen ke jaringan akan berkurang yang akan menurunkan pertumbuhan janin akan terhambat dan berakibat BBLR (Trihardiani, 2. Jika Hb kurang, maka jaringan tubuh akan mengalami hipoksia sehingga menganggu kesehatan ibu dan janin yang perkembangan plasenta. Kehamilan pada ibu relatif terjadi anemia ringan sampai sedang dan berat, karena darah ibu mengalami hemodolusi . dengan peningkatan volume 30%-40% dan puncaknya pada kehamilan 32 sampai 36 Penelitian ini sejalan dengan Irmawati,Muhamad Najib Bustan. Suwardi Anas . Berdasarkan model yang telah diperoleh maka dapat mempengaruhi kejadian BBLR adalah Hubungan usia kehamilan dengan kejadian BBLR Berdasarkan hasil penelitian dari kejadian BBLR 35 responden . 7%) yang mengalami anemia, sedangkan dari yang tidak mengalami kejadian BBLR 20 responden . 2%) yang mengalami Hasil uji statistik chi-square menunjukan bahwa p= 0. 012, sehingga ada hubungan antara Anemia dengan kejadian BBLR. Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi. BBLR dapat terjadi pada bayi kurang bulan (< 37 mingg. atau pada bayi cukup bulan . ntrauterine growth restrictio. (Pudjiadi, , 2. Umur kehamilan ibu adalah batas waktu ibu mengandung, yang dihitung mulai dari hari pertama haid terakhir (HPHT). Umur kehamilan ibu umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari seperti kebiasaan orang awam 9 bulan 10 hari. Disebut matur atau cukup bulan adalah rentang 37- 42 minggu, bila <37 minggu disebut prematur atau kurang bulan, bila >42 minggu disebut post matur atau serotinus (Albugis, 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Meilia Eka Syoviani . Hasil hubunga. , usia saat hamil . <0. Dampak dari bayi dengan berat badan lahir rendah ini adalah pertumbuhannya akan Hal ini terjadi karena bayi yang lahir BBLR secara prematuritas murni JREMIK. Vol. No. Agustus 2024 | 81-90 sejak dalam kandungan sudah mengalami berbagi masalah yang menyebabkan bayi tersebut harus lahir BBLR. Hubungan riwayat BBLR dengan kejadian BBLR Bersadarkan hasil penelitian dari kejadian BBLR 7 responden . 9%) yang memiliki riwayat BBLR, sedangkan dari yang tidak mengalami kejadian BBLR 2 responden . yang memiliki riwayat BBLR. Hasil uji statistik chi-square menunjukan bahwa p= 0. 17, sehingga tidak ada hubungan yang bermakna antara riwayat BBLR dengan kejadian BBLR. Penyebab kelahiran BBLR yang telah diketahui dapat diperbaiki dengan perawatan pralahir yang sempurna, pengurangan faktor risiko lainnya serta pembatasan kegiatan dapat membantu mencegah hal tersebut terulang kembali. Bila penyebab kelahiran BBLR tidak dapat dicegah atau diperbaiki maka kelahiran BBLR dapat ditunda. Pengunduran waktu sejenak dapat bermanfaat, dimana setiap hari tambahan nutrisi bayi yang berada kesempatan untuk selamat (Maryunani. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Nelly Indrasari . , dengan Hasil menunjukkan tidak adanya hubungan persalinanBBLR dengan kejadian berat badan lahirrendah (BBLR), dimana didapatkan p= 0. OR = 4. 68 dengan 95%CI : 1. 85 Ae 11. 83, nilai OR= 4. Hubungan paritas dengan kejadian BBLR Hasil dilakukan dari kejadian BBLR 39 responden . dengan paritas beresiko, sedangkan dari yang tidak mengalami kejadian BBLR 31 responden . dengan paritas beresiko. Hasil uji statistik chi-square menunjukan bahwa p= 0. sehingga tidak ada hubungan yang bermakna antara paritas dengan kejadian BBLR. Paritas yang beresiko melahirkan BBLR adalah paritas 0 yaitu bila ibu pertama kali hamil dan paritas lebih dari 4 Paritas yang aman ditinjau dari sudut kematian maternal adalah paritas 14 (Sistriani, 2. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Arinnita . Hasil penelitian menunjukkan bahwa paritas merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian BBLR sehingga ibu dengan paritas lebih dari 3 anak berisiko 2,4 kali untuk melahirkan bayi dengan BBLR. Berdasarkan hasil penelitian oleh Arinnita . di Rumah Sakit Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang menunjukkan dari 329 ibu, didapat ibu dengan paritas tinggi 155 ibu yang melahirkan BBLR . ,4%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Nur Fadhylah Muhamad . , dengan Hasil penelitian berpengaruh terhadap kejadian BBLR dengan nilai p = 0. Menurut peneliti ibu dengan paritas primipara terkait dengan belum siapnya orga dalam menerima kehamilan dan menjaga janin yang dikandungnya. ibu dengan paritas lebih dari 3, dapat terutama dalam hal fungsi pembuluh kehamilan yang berulang-ulang dapat menyebabkan gangguan pada dinding pembuluh darah rahim, hal tersebut akan mempengaruhi asupan nutrisi pada janin sehingga dapat memyebabkan gangguan pertumbuhan janin yang berakibat pada kelahiran BBLR. JREMIK. Vol. No. Agustus 2024 | 81-90 Uji Multivariate Kejadian BBLR Berdasarkan hasil uji analisis multivariate dari variabel Usia kehamilan 54, artinya ibu dengan usia kehamilan yang tidak beresiko mempunyai 5 kali melahirkan BBLN dibandingkan Usia kehamilan beresiko atau dengan kata lain ibu deangan usia kehamilan beresiko mempunyai peluang 5 kali melahirkan BBLR di bandingkan ibu dengan usia kehamilan tidak beresiko setelah dikontrol oleh anemia, usia ibu, riwayat BBLR, dan paritas. Variabel usia kehamilan adalah berhubungan dengan kejadian BBLR, dengan nilai OR yaitu 7. 54, artinya usia kehamilan yang bukan beresiko akan mengalami peluang 7. 5 kali dibandingkan dengan beresiko. Usia kehamilan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kejadian BBLR, usia kehamilan yang kurang bulan menyebabkan berat badan bayi menjadi rendah sehingga perlu dilakukan intervensi lebih lanjut, hal ini mempengaruhi usia ibu yg terlalu mudan dan terlalu tua yang dapat memperpendek usia kehamilan sehingga menyebabkan nBBLR, dapat mempengarui anemia dimana pada trimester 1 dan 2 ibu masih mengalami penurunan haemoglobin dalam darah Karena kurangnya zat besi, dapat mempengaruhi riwayat BBLR sehingga ibu lebih rentah beresiko terjadinya BBLR dan dapat dicegah dengan konsumsi makanan yang bergizi, dapat mempengaruhi paritas ibu bersalin yang baru memiliki anak pertama dimana ibu belum mengetahui kebutuhan dari ibu hamil dan anak lebih dari 3 dimana ibu sudah berkali-kali mengalami persalinan sehingga pembuluh rahim mengalami pelebaran, adanya hal tersebut dapat menyebabkan kejadian BBLR. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari hasil penelitian ini ada hubungan antara usia ibu dengan kejadian BBLR di RSUD Dr. Abdul Moeloek Lampung Tahun 2020. =0. OR 2. Ada hubungan antara Anemia dengan kejadian BBLR. value 0,012 (<0,. OR 2,. Ada hubungan antara Usia dengan kejadian BBLR . <0. Ada hubungan antara Riwayat BBLR dengan kejadian BBLR . = 0. OR 3. Ada hubungan antara Paritas dengan kejadian BBLR . = 0. OR 1. Berdasarkan multivariat menunjukan bahwa variabel Anemia adalah variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian BBLR, dengan nilai OR 7. UCAPAN TERIMAKASIH Peneliti mengucapkan terimakasih kepada RSUD DR Abdul Moeloek Bandar Lampung yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian ini dari awal hingga selesai. DAFTAR PUSTAKA