SILABUS: Jurnal Ilmu dan Inovasi Pendidikan Vol. 2 No. Agustus 2025, pages: 25-34 DOI: https://doi. org/10. 62667/silabus. e-ISSN: 3047-1044 https://berugakbaca. org/index. php/silabus Pemakaian Bahasa Gaul pada Media Sosial dan Dampaknya terhadap Ragam Akademik Ahmad Ridwan. Wahidatul MurtafiAoah achr75116@gmail. Institut Pendidikan Nusantara Global Informasi artikel Sejarah artikel: Diterima:09 July Perbaikan: 08 Agustus Disetujui:28 Agustus 2025 Kata Kunci: Bahasa Gaul. Media Sosial. Ragam Akademik. Abstrak Fenomena pemakaian bahasa gaul dalam komunikasi di media sosial semakin marak terjadi, terutama di kalangan generasi muda. Media sosial sebagai wadah interaksi virtual telah menjadi ruang yang subur bagi tumbuhnya ragam bahasa tidak baku atau bahasa gaul. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana penggunaan bahasa gaul pada media sosial memengaruhi kemampuan berbahasa akademik pada kalangan pelajar dan mahasiswa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologis. Fokus penelitian ini yaitu: . Pengertian Bahasa Gaul, . Bahasa Gaul Dalam Sosial Media, . Pengaruh Terhadap Bahasa Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemakaian bahasa gaul yang berlebihan dan tanpa kontrol dapat memengaruhi kemampuan berbahasa formal, khususnya dalam ragam akademik. Bahasa gaul yang digunakan di media sosial cenderung menimbulkan kebiasaan dalam menggunakan kosakata tidak baku, struktur kalimat sederhana, dan penggunaan ejaan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Hal ini berdampak pada menurunnya kualitas tulisan dan komunikasi akademik yang seharusnya berlandaskan bahasa yang baik dan benar. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran berbahasa dan pembinaan literasi bahasa agar generasi muda mampu memilah penggunaan bahasa sesuai konteksnya. SILABUS@ 2025 Pendahuluan Noermanzah . menyatakan bahwa bahasa berfungsi sebagai sarana komunikasi yang menyampaikan pesan melalui ekspresi dalam situasi tertentu selama berbagai kegiatan. Pada aspek ini, ekspresi terhubung dengan unsur segmental dan suprasegmental, baik yang lisan maupun kinesik, sehingga sebuah kalimat dapat berperan sebagai alat komunikasi dengan makna yang berbeda jika diungkapkan dengan ekspresi yang berbeda. Kemampuan berbahasa ini diterapkan melalui keterampilan dalam beretorika, baik dalam menulis maupun berbicara. Dalam konteks ini, retorika adalah kemampuan dalam mengolah bahasa dengan cara yang efisien dan efektif, meliputi ethos . arakter atau niat bai. , pathos . enyentuh emosi pendengar atau pembac. , dan logos . ukti logi. yang dapat mempengaruhi audiens dengan pesan yang disampaikan, baik secara lisan maupun tulisan (Noermanzah dkk. ,2017:222223. Noermanzah dkk. , 2018. Menurut Arum Putri . 5 : . , bahasa Indonesia yang menjadi bahasa nasional berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi dan memiliki peran sebagai penyampai informasi. Namun, tidak semua orang Indonesia memahami arti dari bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebenarnya, bisa jadi bahasa Indonesia yang tepat tidak selalu baik, dan bahasa yang baik tidak selalu tepat. Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan kondisi dan situasi serta efektif dalam menyampaikan maksud kepada orang yang diajak bicara. Sedangkan, bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa yang mengikuti kaidah bahasa standar. Penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar seharusnya menjadi suatu Sebagai warga negara Indonesia, sudah sepatutnya bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa memandang dari generasi mana mereka berasal. Hal ini penting karena bahasa Indonesia memiliki posisi sebagai bahasa yang bangga, identitas nasional, dan penghubung antarwarga. Dalam UUD 1945 pasal 36, dilanjutkan dengan penjelasan mengenai status bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara, pengantar pendidikan, penghubung di tingkat nasional, dan pengembangan kebudayaan serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, bahasa Indonesia seharusnya digunakan dalam kegiatan formal dan nonformal. Namun, kenyataannya penggunaan bahasa Indonesia dalam masyarakat kini banyak tercampur dengan bahasa gaul. Penggunaan bahasa gaul semakin meningkat seiring berjalannya waktu, terutama di Indonesia, yang turut memengaruhi tata bahasa Indonesia. Dengan semakin luasnya penggunaan bahasa gaul oleh masyarakat, perkembangan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa juga terpengaruh. Saat ini, banyak orang yang memakai bahasa gaul, terutama di kalangan generasi muda Indonesia, bahkan mereka lebih sering menggunakan bahasa gaul ketimbang bahasa Indonesia. Bahasa gaul, yang juga disebut bahasa slang, adalah kosakata yang digunakan oleh kelompok tertentu dengan arti yang berbeda dari makna Pengguna bahasa gaul biasanya adalah remaja atau kelompok sosial yang ingin menunjukkan identitas mereka dengan cara yang unik. Menurut Mulyana . alam Sari 2015 : . , bahasa gaul terdiri dari kata atau istilah yang memiliki makna khusus, unik, menyimpang, atau bahkan bertentangan dengan makna umum saat digunakan oleh orang-orang dari subkultur tertentu. Sebelumnya, masyarakat juga familiar dengan bahasa prokem. Bahasa telah menjadi sangat penting untuk berinteraksi lewat media sosial di zaman digital yang semakin maju. Hal ini menimbulkan tantangan tersendiri dalam penggunaan bahasa, yang bisa mengarah pada kesalahan berbahasa saat berkomunikasi di media sosial. Beragam platform media sosial seperti Facebook. Twitter. Instagram, dan lain-lain telah menciptakan suasana komunikasi yang kompleks dan Sementara penggunaan teknologi dan media sosial dalam bahasa memiliki manfaat, ada juga beberapa isu yang muncul. Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi negara dan digunakan dalam banyak konteks formal, terutama di lembaga pendidikan tinggi. Perubahan bahasa mulai terlihat dengan adanya pemendekan kata, penambahan huruf, dan pemakaian angka. Munculnya istilah bahasa gaul menjadi penyebab perubahan bahasa ini. Bahasa gaul, yang diwarnai oleh penambahan huruf, pemendekan kata, dan penggunaan angka, kini menjadi populer di kalangan generasi muda, terutama di kalangan Generasi Z. Dengan kemajuan teknologi yang terus berkembang, generasi muda ini sering menggunakan bahasa gaul dalam interaksi mereka. Beberapa faktor yang mempengaruhi fenomena ini termasuk kemajuan teknologi yang menghadirkan platform komunikasi digital dan media sosial. dunia tersebut, bahasa gaul dianggap lebih praktis dan mewakili kelompok tertentu. Meskipun bahasa gaul memiliki dinamika dan perannya sendiri, penting untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia yang benar dan baku (EYD) dalam konteks formal dan akademik. Media sosial seperti Instagram. Twitter. Facebook, dan TikTok berfungsi sebagai ruang virtual terbuka di mana generasi muda dapat mengekspresikan diri mereka. Interaksi di platform-platform tersebut cenderung santai dan informal, sehingga memunculkan kebiasaan memakai bahasa gaul yang dianggap lebih praktis, kreatif, dan mencerminkan identitas kelompok. Namun, kebiasaan ini sering kali mengaruhi penggunaan bahasa dalam situasi yang lebih resmi, termasuk di lingkungan akademik. Dalam konteks akademik, ragam bahasa memerlukan penggunaan bahasa yang baku, terstruktur, dan sesuai dengan aturan kebahasaan supaya pesan dapat disampaikan dengan jelas dan ilmiah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pergeseran dari penggunaan bahasa baku ke bahasa tidak baku dalam konteks akademik dapat menurunkan kualitas komunikasi ilmiah. Contohnya, penelitian yang dilakukan oleh Sugihastuti menemukan bahwa mahasiswa yang terbiasa menggunakan bahasa gaul dalam keseharian mereka sering mengalami kesulitan dalam menulis karya ilmiah karena mereka lebih akrab dengan kosakata tidak baku dan struktur kalimat yang tidak sesuai. Fenomena ini menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan, karena kualitas bahasa akademik berpengaruh besar terhadap mutu pendidikan dan perkembangan intelektual para pelajar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologis. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dengan mengkaji buku, jurnal ilmiah, serta artikel dari situs-situs Analisis dilakukan dengan mengkaji kecenderungan penggunaan bahasa gaul di media sosial serta kaitannya dengan penurunan kualitas penggunaan bahasa dalam konteks akademik. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Bahasa Gaul Menurut Mulyana . alam Sari 2015: . , istilah gaul terdiri dari kata-kata atau frasa yang memiliki makna tertentu yang berbeda, unik, atau bahkan bertolak belakang dengan pengertian umum, khususnya di kalangan subkultur tertentu. Selain itu, bahasa prokem juga sudah populer sebelumnya. Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia. Munculnya bahasa ini biasanya terjadi sekitar tahun 1980-an. Pada masa tersebut, bahasa gaul lebih dikenal sebagai bahasa prokem, yang digunakan oleh kalangan pergaulan preman. Pemakaian bahasa prokem ini dapat dianggap sebagai semacam kode yang dimiliki oleh kelompok tertentu. Kode ini bersifat eksklusif, karena makna dari bahasa prokem bervariasi dalam tiap kelompok. Hanya anggota kelompok tersebut yang memahami makna itu. Pada awalnya, penggunaan bahasa prokem bertujuan untuk menyembunyikan isi percakapan kelompok tertentu. Seiring perkembangan bahasa Indonesia, bahasa sehari-hari yang sering disebut sebagai bahasa remaja atau bahasa gaul mulai menggantikan posisi bahasanya. Bahasa gaul merupakan bentuk bahasa informal di luar bahasa resmi, bahasa Indonesia. Ciri khas bahasa gaul, seperti yang dijelaskan oleh Yana dan kawan-kawan . 8: . , adalah memiliki karakteristik yang spesifik, ringkas, dan kreatif. Dengan kemajuan ilmu sosial, cara berkomunikasi terus bertransformasi. Siapa saja dapat mempelajari perkembangan bahasa melalui platform media sosial. Perubahan bahasa di media sosial adalah salah satu contoh dari variasi penggunaan bahasa dalam berbagai komunitas. Bahasa manusia memiliki sisi kreatif, termasuk pemakaian media sosial untuk menyampaikan ide dengan tujuan tertentu. Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi komunikasi yang terus maju berdampak pada pertumbuhan bahasa yang sangat cepat. Selain itu, kemajuan teknologi komunikasi ini juga menimbulkan tantangan terkait keaslian dan ketepatan bahasa Indonesia. Fenomena ini didukung oleh munculnya berbagai situs jejaring sosial di internet yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Penggunaan jejaring sosial mempermudah individu untuk mengikuti perkembangan bahasa yang ada. Pertumbuhan bahasa di dunia maya ini dapat menciptakan beragam gaya bahasa baru dalam kehidupan masyarakat. Tumbuhnya bahasa ini juga sangat pesat karena akses ke situs jejaring sosial tidak hanya rakus pengguna dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri. Interaksi antarnegara ini merupakan faktor yang mempercepat perkembangan gaya bahasa. Dengan adanya kemajuan dalam bahasa, variasi gaya bahasa Indonesia pun semakin beragam. Di awal tahun 2000-an, istilah bahasa gaul mulai dikenal dan menjadi terkenal, terutama di kalangan remaja. Saat ini, bahasa Indonesia yang baik dalam kehidupan sehari-hari mulai tergeser oleh bahasa gaul. Meskipun bahasa gaul dapat dimengerti dalam situasi informal, penggunaannya dalam keadaan formal tidaklah tepat. Bahasa gaul lebih sering digunakan oleh kalangan remaja. Penggunaan yang luas ini disebabkan oleh keinginan mereka untuk diakui, karena jika mereka tidak tahu atau tidak menggunakan bahasa gaul, mereka akan dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman oleh teman-teman mereka. Penggunaan bahasa gaul ini merupakan hasil dari modifikasi tidak hanya bahasa Indonesia tapi juga mencakup pengaruh dari bahasa lain. Bahasa gaul terdiri dari modifikasi berbagai bahasa serta penggunaan bahasa yang sedang populer. Tabel berikut menunjukkan contoh bahasa gaul yang dihasilkan dari perubahan bahasa baku Indonesia yang benar. Nurhasanah . alam Swandy 2017: . menyatakan bahwa bahasa gaul adalah gaya bahasa yang merupakan pengembangan atau perubahan dari berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, sehingga tidak memiliki struktur bahasa yang tetap. Chaer (Mutoharoh, 2018:. menjelaskan bahwa perubahan sistem bahasa berhubungan dengan interaksi antara penutur bilingual dengan unsur bahasa yang berbeda. Salah satu contoh dari proses ini adalah prokimia atau bahasa gaul. Badu . alam Noermanzah 2017:. juga menekankan bahwa meskipun bahasa gaul sering ditemukan di sosial media, generasi muda di Indonesia menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Setiap bentuk bahasa gaul memberikan makna tertentu untuk setiap kata, sehingga hanya orang yang menggunakannya yang dapat memahaminya. Ini menunjukkan bahwa jumlah bahasa Indonesia terus berkembang seiring perubahan zaman dan kemajuan teknologi. Dapat disimpulkan bahwa bahasa Indonesia bersifat beragam dan hidup, masing-masing dengan tujuan komunikatif yang Variasi bahasa ada secara paralel tanpa ada yang dianggap lebih baik dari yang lain. Di samping bahasa Indonesia, bahasa gaul atau bahasa remaja juga mengalami perkembangan dengan ciri khas yang spesifik, ringkas, dan kreatif. Kemajuan ilmu sosial dan media sosial membuat siapa pun bisa mempelajari perkembangan bahasa. Bahasa gaul menciptakan suasana yang menyenangkan dalam komunikasi remaja, menjadikannya fleksibel dalam interaksi sehari-hari dan meningkatkan keakraban serta rasa persaudaraan. Menurut Keraf Smarapradhipa, bahasa adalah alat komunikasi dengan simbol suara yang dihasilkan oleh manusia. Bahasa gaul, sebagaimana diindikasikan oleh Kridalaksana, memiliki ciri khas dalam penggunaan kata serta prokimia. Fenomena bahasa gaul sangat berkaitan dengan perubahan sistem bahasa, terutama dalam konteks interaksi bilingual dan pengaruh dari media Dalam perkembangannya, bahasa gaul tidak hanya muncul di media sosial, tetapi juga banyak digunakan oleh generasi muda dalam kehidupan sehari-hari. Setiap bahasa gaul memberikan makna unik pada kata-katanya, mencerminkan adanya penambahan pada ragam bahasa Indonesia seiring berjalannya waktu dan kemajuan teknologi. Bahasa Gaul Dalam Sosial Media Facebook Bahasa yang digunakan di Facebook cenderung lebih formal namun kearah casual dengan kalimat yang lebih panjang dan lebih terstruktur. Pengguna Facebook cenderung lebih suka berpartisipasi dalam diskusi mendalam dan menggunakan ungkapan yang lebih formal. Lebih cenderung memakai teks yang lebih panjang, termasuk cerita pribadi, pemikiran mendalam, dan deskripsi rinci. Cenderung menggunakan karakter unik, emoji, dan gaya bahasa untuk mengekspresikan emosi. Contoh bahasa gaul yang ada di dalam sosial media facebook: Pengguna 1: "Eh, guys! Ada rekomendasi film seru ga buat weekend ini? Lagi bingung nonton apa nih. Pengguna 2: "Coba deh nonton yang lagi hits, gue kemarin nonton #SedangJatuhCinta, gila bagus banget ceritanya!" Pengguna 3: "Bosen film, mending join nobar kita malam ini, ada yang mau ikutan?" Pengguna 1: "Oke nih, gue ikutan nobar! Bawa cemilan ya, biar seru!" Pengguna 2: "Siap-siap aja, guys! Malam ini seru-seruan bareng!" Percakapan ini menggunakan bahasa gaul dengan kata-kata seperti "guys" untuk merujuk pada temanteman, penggunaan emoji untuk mengekspresikan emosi, serta penggunaan hashtag seperti #SedangJatuhCinta untuk mereferensikan film tertentu. Gaya percakapan ini cenderung santai sesuai dengan nuansa bahasa gaul di Facebook. Pada kata AugilaAy suatu ungkapan yang kurang sopan tetapi ungkapan seperti itu dianggap biasa. Instagram Instagram biasanya mengutamakan caption singkat dan padat, sering kali disertai emoji atau hashtag. Fokus pada visual storytelling dengan gambar dan video, yang dapat memengaruhi penggunaan katakata. Lebih terfokus pada konten visual, seperti foto dan video, dengan pemakaian filter dan efek kreatif. Penggunaan hashtag lebih umum dan sering digunakan untuk mengikuti tren atau kategori tertentu. Contoh bahasa gaul yang ada di dalam sosial media instagram: Akun A (Use. Caption Foto: "Habis nyoba kopi baru nih, guys! #CoffeeAdventures #SippinGood" Akun B (Followe. Komentar: "Bangsat! Kemana aja tuh buat nyobain kopi keren kayak gitu?" Akun A (Use. Balasan: "Nih di kafe kecil di sudut kota! Recomended banget, deh! #HiddenGems" Akun C (Followe. Komentar: "Eh anjir, foto lu kece banget!#OOTD game strong!" Akun A (Use. Balasan: "Thanks, sis! Dapet thrift shop jackpot hari ini! #ThriftyFinds" Dalam percakapan ini, terlihat penggunaan singkatan seperti "lu" . dan "nih" . yang umum dalam bahasa gaul. Penggunaan emoji menambah ekspresi dan nuansa positif dalam percakapan. Selain itu, hashtag seperti #CoffeeAdventures dan #ThriftyFinds menunjukkan penggunaan tren tagar untuk terlibat dalam topik atau kategori tertentu. Pada kata AubangsatAy dan AuanjirAy merupakan bahasa gaul yang sering diungkapkan dalam media sosial sebenarnya ini kata yang tidak pantas. X memiliki batasan karakter, sehingga penggunaan singkatan, singkronisasi kata, dan tautan pendek umum dilakukan. Karakter unik dan emoji umum digunakan untuk menghemat karakter. Pengguna X aktif menggunakan hashtag untuk berpartisipasi dalam percakapan yang sedang tren. Lebih fokus pada teks, meskipun gambar atau video juga dapat diunggah. Contoh bahasa gaul yang ada di dalam media sosial X: Pengguna X 1: "Abis liat trailer film baru, gila! Ngebayangin udah kayak nonton aja. #Excited #MovieBuff" Pengguna X 2: "Hari ini cuaca kek ga enak banget, beneran bikin males keluar rumah njirr. #RainyDayBlues" Pengguna X 3: "Makanan terfavorit selamanya: mie instan dijamin juara! #InstantNoodleLover" Pengguna X 4: "Dengerin lagu ini sambil ngerjain tugas, perfect combo! #StudyPlaylist #ChillVibes" Pengguna X 5: "Kemarin mampir ke kafe baru, dekorasinya asik banget! Cocok buat nongkrong sama temen temen. #CafeHopping" Dalam contoh-contoh ini, terlihat penggunaan bahasa gaul melalui singkatan, emoji, dan hashtag yang umum di aplikasi X. Pengguna-pengguna tersebut mencerminkan gaya ringan, ekspresif, dan sesuai dengan suasana platform tersebut. Ada kata Augilay dan AunjirrAy suatu kata gaul yang membawa pengaruh bahasa yang kurang sopan. Whatshaap WhatsApp umumnya digunakan untuk obrolan pribadi, bahasa gaulnya bisa mencakup singkatan dan ungkapan informal yang lebih akrab. Pengguna sering menggunakan emotikon dan stiker untuk menyampaikan ekspresi dan perasaan. Pesan lebih bersifat pribadi dan cenderung lebih panjang. Lebih fokus pada teks, meskipun gambar atau video juga dapat diunggah. Meskipun beberapa grup dapat menggunakan tagar, umumnya tidak terlalu sering digunakan. Lebih cenderung stiker untuk mengekspresikan emosi. Contoh bahasa gaul yang ada di dalam sosial media whatsapp: Pertukaran Kabar: A:"Halo bro, udah denger kabar terbaru blum?" B:"Belum bjirr, apaan kabarnya?" A:"Gosipnya ada acara keren besok malem, mau ikut g?" Curhat Ringan: A:"Udah lama g ngobrol, bro. Gimana kabar lu?" B:"Bacott bete banget, bro. Stres kerjaan numpuk. A:"Relax, bro! Nanti kita cari hiburan bareng-bareng. Ucapan Selamat Ulang Tahun A:"Anjayy happy birthday, bro! Semoga makin kece dan makin sukses!" B:"Makasih banget, bro! Doain lancar terus ya. Reaksi Terhadap Meme: A:"Nih, liat meme terbaru gue, haha!" B:"Ngakak bangsatt! Bener-bener ngena banget, bro. Perhatikan bahwa bahasa gaul dapat mencakup singkatan, penggunaan kata-kata santai, dan ekspresi yang umumnya lebih santai daripada percakapan formal. Ada kata AubjirrAy. AubacottAy. AuanjayyAy dan AubangsattAy itu merupakan kata yang kurang pantas. Tiktok TikTok fokus pada video pendek, sehingga bahasa gaulnya sering terlihat dalam deskripsi video yang kreatif, caption yang singkat, dan penggunaan musik yang tren. Banyak bahasa gaul berkaitan dengan tantangan . dan penggunaan hashtag tertentu untuk ikut serta dalam tren. Penggunaan emoji dan efek kreatif di dalam video untuk menambahkan ekspresi. Contoh bahasa gaul yang ada di dalam sosial media tiktok: Pengguna TikTok 1: "Guys, ada yang udah coba dance challenge baru ini? Gila banget seru! Drop emoji kalo kalian ikutan!" Pengguna TikTok 2: "Anying abis nyobain, bro! Gw sampe kehabisan napas, hahaha! Emang seru banget, ya!" Pengguna TikTok 1: "Mantap, bro! Gw juga hampir pitik tadi. But it's all worth it! Let's keep the vibes positive, guys!" Pengguna TikTok 3: "Yo, temen-temen! Jangan lupa tag gw kalo kalian udah join challenge ini, ya! Gw mau liat semua versi Pengguna TikTok 2: "Siap, sis! Ntar gw tag lu! Let's spread the good vibes together!" Dalam percakapan ini, bahasa gaul digunakan dengan cara informal, penggunaan emoji untuk mengekspresikan emosi, dan istilah seperti "bro," "sis," dan "guys" menciptakan nuansa santai dan akrab, sesuai dengan gaya percakapan yang umum di TikTok. Ada kata AugilaAy. AuanyingAy, dan AupitikAy kata yang kurang sopan. Perbedaan-perbedaan ini dapat bervariasi, dan penggunaan bahasa gaul tergantung pada preferensi individu dan tren saat itu di masing-masing platform. Bahasa gaul yang digunakan dalam sosial media seperti Facebook. Instagram. WhatsApp, dan TikTok dapat memiliki perbedaan dalam gaya, format, dan jenis konten yang umumnya diunggah di setiap platform. Setiap platform memiliki budaya dan norma komunikasi tersendiri, sehingga bahasa gaul yang digunakan dapat bervariasi sesuai dengan keunikan masing-masing platform tersebut. Pengaruh Terhadap Bahasa Indonesia Teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan pengaruh bahasa gaul dalam media sosial terhadap bahasa Indonesia adalah teori sosiolinguistik. Teori ini mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat serta bagaimana bahasa digunakan dalam konteks sosial. Dalam konteks media sosial, bahasa gaul digunakan sebagai alat komunikasi antar pengguna media sosial yang memiliki latar belakang dan budaya yang berbeda. Penggunaan bahasa gaul dalam media sosial dapat memperlihatkan identitas dan kepribadian seseorang, serta dapat memperkuat ikatan sosial antar pengguna media sosial. Namun, penggunaan bahasa gaul yang tidak baku dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Keterkaitan antara bahasa gaul dan Bahasa Indonesia dalam media sosial mencerminkan hubungan yang kompleks antara bentuk-bentuk ekspresi linguistik informal dan Bahasa gaul, yang sering kali bersifat kreatif, singkat, dan spesifik, dapat ditemui dalam berbagai platform media sosial. Bahasa gaul seringkali muncul dalam interaksi sehari-hari di media sosial. Penggunaan ungkapan-ungkapan unik dan singkatan menjadi ciri khas bahasa gaul, menciptakan gaya komunikasi yang santai dan akrab di antara pengguna media sosial. Bahasa gaul dapat dianggap sebagai bentuk inovasi linguistik yang mencerminkan dinamika perkembangan bahasa. Di media sosial, pengguna sering berpartisipasi dalam menciptakan kata-kata baru, frasa, atau singkatan yang mencerminkan tren dan kebutuhan komunikasi yang bersifat instan. Penggunaan bahasa gaul dalam media sosial dapat menjadi alat identifikasi kelompok atau komunitas tertentu. Kelompok dengan minat atau latar belakang tertentu mungkin mengadopsi gaya bahasa yang unik untuk memperkuat rasa solidaritas atau keanggotaan dalam komunitas mereka. Perbandingan bahasa gaul dengan Bahasa Indonesia formal, yang umumnya mengikuti norma-norma baku dan tata bahasa resmi. Media sosial memberikan ruang bagi kedua bentuk bahasa ini untuk berdampingan, menciptakan dinamika yang menarik dalam komunikasi daring. Bahasa gaul cenderung lebih santai, sementara Bahasa Indonesia formal tetap digunakan dalam situasi resmi atau komunikasi yang memerlukan kesantunan khusus. Keterkaitan keduanya menciptakan ragam bahasa yang mencerminkan keragaman dan perubahan dalam cara kita berkomunikasi di era digital. Bahasa gaul dengan bahasa Indonesia keduanya berbeda dalam gaya dan tingkat formalitas, keterkaitan ini menciptakan bahasa yang dinamis dan terus berkembang dalam lingkungan media sosial. Artinya bahasa akan berubah mengikuti perkembangan. Dalam era digital dan perkembangan teknologi informasi, penggunaan bahasa gaul sebagai alat komunikasi dalam media sosial telah berkembang pesat, memberikan dampak signifikan pada Bahasa Indonesia. Fenomena ini tidak hanya menciptakan variasi dalam gaya berkomunikasi, tetapi juga memiliki pengaruh terhadap bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa gaul di media sosial mencerminkan kreativitas pengguna dalam meramu kata-kata baru, singkatan, dan frasa yang khas. Menciptakan inovasi linguistik yang melibatkan pembaruan dan perluasan kosakata, mengenalkan ungkapan yang mungkin tidak ditemui dalam bahasa Bahasa gaul dapat memperkaya kosakata bahasa Indonesia dan memudahkan komunikasi antar pengguna media sosial. Bahasa gaul dapat dikatakan mengabaikan norma tata bahasa formal. Penggunaan singkatan atau penyusunan kalimat yang tidak sesuai dengan aturan tata bahasa konvensional menjadi ciri khas bahasa gaul. Pengaruh ini dapat menciptakan variasi dalam struktur kalimat dan pola bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Penggunaan bahasa gaul di media sosial tidak hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga menjadi cara untuk memperkuat identitas kelompok atau komunitas tertentu. Penggunaan kata kata atau frasa tertentu menjadi simbol keanggotaan dalam suatu lingkungan online, menciptakan rasa solidaritas di antara anggotanya. Peningkatan penggunaan bahasa gaul dapat menjadi tantangan bagi pemeliharaan norma bahasa formal. Terutama di kalangan generasi muda, bahasa formal mungkin dianggap kaku dan kurang sesuai dengan ekspresi diri yang lebih santai. Masalah ini harus diperhatikan untuk menjaga keseimbangan antara penggunaan bahasa formal dan bahasa gaul. Penggunaan bahasa gaul telah mengubah pola komunikasi dalam masyarakat daring. Pesan-pesan singkat, emoji, dan singkatan telah menjadi norma, memengaruhi cara kita menyampaikan informasi dan emosi secara digital. Bahasa Indonesia formal juga harus beradaptasi untuk tetap relevan dalam konteks komunikasi yang berubah Pengaruh bahasa gaul dalam media sosial bukan hanya sebagai fenomena linguistik, tetapi juga sebagai faktor sosial dan budaya yang membentuk cara kita berkomunikasi. Penting untuk memahami perubahan ini agar kita dapat menjaga kekayaan Bahasa Indonesia tanpa menghambat dinamika perkembangan di dunia digital. Dinamika perkembangan yang sangat pesat menimbulkan ancaman bagi bahasa Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia telah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk mengsosialisasikan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada generasi muda. Masyarakat juga dapat memperkaya kosakata bahasa Indonesia dengan mengikuti perkembangan bahasa gaul yang baku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Semua pihak harus berperan aktif untuk menjaga dan melestarikan Bahasa Indonesia. Menurut Arum Putri . 5 : . , salah satu alasan mengapa banyak orang saat ini menggunakan bahasa gaul adalah kurangnya kecintaan mereka terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara. Kini, seiring dengan perubahan zaman, tampak jelas bahwa bahasa gaul memberi dampak negatif pada pemakaian bahasa Indonesia yang benar dan baik. Penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja justru memberikan pengaruh buruk terhadap perkembangan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. tengah masyarakat, banyak yang telah menerapkan bahasa gaul dalam kehidupan sehari-hari. Mereka seakan tidak menyadari bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional. Bahkan, penggunaan bahasa gaul telah menyentuh kelompok anak muda. Sebagai warga negara Indonesia, seharusnya kita menghindari penggunaan bahasa gaul yang sangat umum dalam masyarakat. Terkhusus di kalangan remaja, banyaknya pengguna bahasa gaul menjadi perhatian bagi bangsa ini. Generasi muda yang seharusnya bisa memajukan negara dari berbagai aspek ini perlu diperbaiki bersama. Salah satu solusi adalah menanamkan rasa cinta kepada negara Indonesia, terutama dalam hal penggunaan bahasa Indonesia. Dalam konteks internasional, bahasa Indonesia merepresentasikan identitasnya sebagai bahasa nasional. Kemunculan bahasa gaul di masyarakat berdampak besar pada bahasa Indonesia. Menurut Arum Putri . 5 : . , dia menyatakan bahwa ada pengaruh yang ditimbulkan oleh bahasa gaul, yang terdiri dari beberapa hal: Pertama, dari segi keberadaan bahasa gaul. Pengaruh perkembangan teknologi dan komunikasi terlihat dari tingkah laku masyarakat yang mulai meninggalkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saat ini, masyarakat sudah lebih akrab dengan penggunaan bahasa gaul. Hal ini semakin diperparah dengan fakta bahwa generasi muda lebih berminat mempelajari bahasa asing daripada menguasai bahasa mereka sendiri. Dalam situasi seperti ini, sangat penting untuk memberikan pendidikan dan penanaman nilai tentang bahasa Indonesia sejak dini agar mereka tidak terpengaruh oleh bahasa gaul. Pengaruh dari globalisasi terhadap identitas bangsa tercermin dalam tingkah laku masyarakat yang mulai melupakan bahasa Indonesia. Kedua, menurunnya derajat bahasa Indonesia. Dalam sejarah perkembangan bahasa, bahasa asing telah mengalami kemajuan yang lebih pesat. Seperti yang kita lihat di sekitar kita, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi saat ini didominasi oleh negara-negara Barat. Hendaknya, jika produk Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dari mereka disertai dengan penggunaan bahasa asing, hal tersebut dianggap wajar. Selain itu, bahasa gaul mudah digunakan dalam komunikasi dan hanya sebagian orang yang memahami maknanya, sehingga remaja lebih memilih memakai bahasa gaul dalam komunikasi sehari-hari. Akibatnya, bahasa Indonesia pun semakin memudar dan bahkan dianggap kuno di kalangan remaja, yang menyebabkan penurunan derajat bahasa Indonesia. Beta Puspa . 5: . juga menyatakan bahwa bahasa gaul memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya terlihat dari banyaknya penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja. Jika bahasa gaul digunakan pada tempat dan waktu yang tepat, itu dapat memberikan manfaat dalam menciptakan inovasi bahasa di masa depan. Namun, ada juga dampak negatif. penggunaan bahasa gaul bisa membuat orang sulit untuk menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Di sekolah atau di kantor, kita dituntut untuk selalu berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa gaul bisa mengganggu orang yang membaca atau mendengar istilah-istilah tersebut. Tidak semua orang paham arti dari katakata gaul. Terlebih lagi, dalam bentuk tulisan, bahasa gaul bisa membuat bingung dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dipahami. Penggunaan bahasa gaul dapat menyulitkan seseorang ketika berkomunikasi dalam situasi formal. PENUTUP Masyarakat Indonesia saat ini banyak yang menggunakan bahasa gaul dan singkatan Ae singkatan dala kegiatan sehari Ae hari merupakan bentuk penyimpangan dari penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Adannya penyimpangan ini dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. Luntur atau hilangnnya penggunaan bahasa Indonesia dikarenakan kurangnya kesadaaran dalam diri untuk mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia di negeri sendiri. Hal ini terkadang diperparah oleh maraknya dunia artis yang menggunakn bahasa gaul di media massa dan elektronik. Dalam penelitian ini telah menjelajahi fenomena penggunaan bahasa gaul sebagai alat komunikasi dalam media sosial. Penggunaan bahasa gaul mencerminkan adaptasi dan inovasi dalam cara kita berkomunikasi, tidak hanya terbatas pada kalangan tertentu, melainkan telah menjadi ekspresi penting dalam berkomunikasi bagi berbagai lapisan masyarakat. Setiap orang yang menggunakan sosial media secara sengaja maupun tidak sengaja menggunakan bahasa gaul bahkan dari berbagai kalangan. Penggunaan bahasa gaul di media sosial menciptakan variasi dalam gaya berkomunikasi, memperkaya kosakata bahasa Indonesia, dan mencerminkan dinamika perkembangan bahasa. Fenomena ini memiliki dampak positif dalam meningkatkan kreativitas dan identitas kelompok, namun juga menimbulkan tantangan bagi pemeliharaan norma bahasa formal. Pentingnya menjaga keseimbangan antara bahasa gaul dan formal untuk memastikan keberlanjutan Bahasa Indonesia dalam konteks digital. Perlu ditingkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap Bahasa Indonesia formal melalui pendidikan. Meningkatkan kesadaran untuk menjaga keseimbangan antara bahasa gaul dan formal dalam komunikasi Keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, dalam menjaga dan melestarikan Bahasa Indonesia. Perlu penelitian lebih lanjut untuk terus memahami perubahan bahasa dalam konteks media sosial dan dampaknya terhadap Bahasa Indonesia. Dengan implementasi tersebut diharapkan dapat menjaga kekayaan Bahasa Indonesia, menjadikannya sebagai alat komunikasi yang efektif dan mempertahankan identitas budaya kita di era digital yang terus Penggunaan bahasa gaul dalam media sosial dapat memengaruhi persepsi dan praktik keagamaan dalam masyarakat, terutama terhadap agama Islam. Bahasa gaul dapat mengubah makna kata-kata dalam agama Islam dan dapat memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap ajaran agama. Penggunaan bahasa gaul dalam media sosial juga dapat memengaruhi tata krama dalam beragama, seperti penggunaan bahasa yang tidak sopan dalam diskusi keagamaan atau penggunaan bahasa yang tidak pantas dalam dakwah. Penting untuk memahami dampak penggunaan bahasa gaul dalam media sosial terhadap agama Islam guna mengantisipasi konsekuensi yang mungkin timbul. Pendidikan dan kesadaran akan pentingnya penggunaan bahasa yang sesuai dalam media sosial menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini. DAFTAR PUSTAKA