ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. No. Juli 2022 Hal. 100 - 109 e-ISSN: 2723-6269 Pelestarian Seni Budaya Daerah Sasak Melalui Program Ekstrakulikuler Baiq Hikmah Widyawati1. Noor Hasim2. Hary Murcahyanto*3 bwidiawati12@guru. id1, noorhasim52@guru. harymurcahyanto@gmail. 1,2, SMP Negeri 2 Selong Prodi Sendratasik. FBSH,Universitas Hamzanwadi Received: 8 June 2022 Accepted: 29 July 2022 Online Published: 31 July 2022 DOI: 10. 29408/ab. Abstrak : Pelestarian seni budaya tradisional Sasak pada siswa di era sekarang ini sudah mulai melemah seiring kemajuan teknologi dunia maya, sehingga berdampak pada daya kreasi para siswa maupun system regenerasinya. Seni budaya tradisional Sasak perlu dilestarikan melalui kegiatan di sekolah yakni ekstrakulikuler yang melibatkan guru, pembina, dan siswa Kegiatan ini bertujuan untuk mewujudkan upaya pelestarian seni budaya dearah Sasak, dan untuk mewujudkan kreasi dan regenerasi seni budaya daerah Sasak. Kegiatan pendampingan dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan bulan April 2019 di lingkungan SMP Negeri 2 Selong. Kegiatan ini diikuti oleh para guru kesenian dan guru pembina ekstrakulikuler musik tradisi Gendang Beleq dan tari Peserta pada kegiatan ini adalah seluruh siswa kelas VII dan Vi yang mengambil program ekstrakulikuler bidang seni budaya. Hasil dari kegiatan ini adalah bahwa upaya pelestarian seni budaya Sasak melalui kegitan ini dikatakan berhasil karena dengan semakin banyaknya minat peserta yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler dari bulan awal kegiatan sampai bulan akhir kegiatan. Upaya kreasi dan regenerasi seni budaya daerah Sasak dikatakan berhasil karena diwujudkan dengan bentuk pementasan yang segala sesuatunya adalah dari hasil kreasi siswa selama proses Latihan pada kegiatan ekstrakurikuler. Simpulan dari kegiatan ini adalah dengan penambahan ekstrakulikuler Gendang Beleq dan tari pengiringnya memberi warna tersendiri dalam pembinaan kesenian daerah di sekolah. Minat terhadap tari tradisional menjadi meningkat pesat seiring dengan banyaknya peminat pada kegiatan ekstrakurikuler musik Gendang Beleq tersebut. Daya kreasi dan regenerasi dapat terwujud apabila para pembina kesenian selalu mendekatkan siswanya pada kesenian tradisi dan memberikan peluang untuk menunjukkan hasil kerjanya dengan adanya pementasan. Kata kunci: Ekstrakulikuler. Gendang Beleq. Seni Budaya Abstract: The preservation of traditional Sasak cultural arts for students in the current era has begun to weaken along with advances in virtual world technology, impacting students' creativity and their regeneration system. Sasak traditional cultural arts need to be preserved through activities in schools, namely extracurricular activities involving teachers, coaches, and students. This activity aims to realize the efforts to preserve the arts and culture of the Sasak region and to realize the creation and regeneration of the Sasak cultural arts. Mentoring activities were carried out from January to April 2019 at SMP Negeri 2 Selong. This activity was attended by art teachers and extracurricular teachers of Gendang Beleq traditional music and dance accompaniment. Participants in this activity are all students of grades VII and Vi who take extracurricular programs in the field of arts and culture. The result of this activity is that the effort to preserve the Sasak cultural arts through this activity is said to be successful because of the increasing number of participants' interest in participating in extracurricular activities from the first month of activity to the end of the activity. Efforts to create and regenerate the arts culture of the Sasak area are said to be successful because they are realized in the form of performances, all of which are created by students during the training process in extracurricular activities. This activity concludes that adding the Gendang Beleq extracurricular and the accompanying dance gives its color to fostering regional arts in schools. Interest in traditional dance is increasing rapidly along with the number of enthusiasts in the extracurricular activities of Gendang Beleq music. The power of creativity and regeneration can be realized if the art coaches always bring their students closer to traditional arts and provide opportunities to show their work through Keywords: Art and culture. Extracurricular. Gendang Beleq ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Juli 2022 | 100 Widyawati. Hasim. Murcahyanto. Pelestarian Seni Budaya Daerah Sasak melalui program Ekstrakulikuler. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3. , 100-109. doi:10. 29408/ab. PENDAHULUAN Perkembangan kesenian di Lombok Timur pada saat ini dalam kondisi yang sangat Kesenian yang dimaksud disini adalah musik, tari, teater maupun wayang kulit. Setelah diadakan penelusuran yang lebih mendalam, masalah yang mereka hadapi sangat kompleks (Hasim et al. , 2022. Murcahyanto et al. , 2. Diantaranya adalah masuknya budaya layar kaca ke desa-desa memberi alternatif hiburan yang murah meriah kepada masyarakat. Disamping itu layar kaca membius masyarakat untuk menjadi konsumen hiburan bukan Berlahan-lahan kesenian tradisional mulai ditinggalkan oleh masyarakat penontonnya (Baha et al. , 2020. Edi et al. , 2018. Munawir, 2. Kondisi ini diperparah oleh tidak adanya pembaharuan terhadap seni tradisi yang ada. Contoh kecil misalnya pada zaman-zaman sebelumnya penonton akan nyaman-nyaman saja disuguhkan pertunjukkan monoton selama 4 sampai 5 jam bahkan semalam suntuk, namun seiring perkembangan zaman mereka sudah tidak bisa lagi menikmati hal seperti itu. Semua serba cepat dan instant, jadi mereka juga menuntut hal yang sama terhadap dunia hiburan (Murcahyanto et al. , 2021. Yuliatin et al. , 2. Tidak adanya regenerasi dalam grup kesenian tradisi membawa kehancuran dalam perkembangan seni tradisi. Selain seni tradisi kehilangan penontonnya, juga kehilangan praktisinya atau pemainnya (Fitryarini, 2022. Munawir, 2020. Rokhim, 2. Hal ini terjadi karena masyarakat sudah mulai berpikir praktis dan efisien. Untuk mengundang seni tradisi mereka harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit padahal kalau mereka memakai orgen tunggal biaya tersebut bisa lebih hemat. Hal ini membuat permintaan untuk pementasan seni tradisi jarang atau bahkan tidak ada (Arnailis, 2012. Yulia, 2018. Yuliatin et al. , 2. Faktor itulah yang menyebabkan regenerasi menjadi tidak berjalan. Masalah lain yang juga ikut mempengaruhi adalah masuknya tekhnologi ke desa-desa membawa gelombang perubahan yang sangat besar terhadap cara berpikir penduduknya (Permana et al. , 2021. Wirasasmita et al. , 2. Derasnya arus informasi ini tidak sebanding dengan besarnya dinding bangunan karakter yang disiapkan untuk menangkal arus tersebut (Yakin et al. , 2018. Hadipramana et al. , 2. Yang terjadi kemudian adalah anak-anak menganggap semua tradisi yang ada dalam masyarakat kita adalah sesuatu yang AuJadulAy, kedaluarsa, atau ketinggalan zaman dan semua hal yang berasal dari luar adalah hal yang dianggap AuCoolAy atau keren. Pandangan ini membuat anak-anak tidak tertarik untuk belajar seni tradisi (Fahrurrozi et al. , 2021. Hasim et al. , 2022. Rondhi, 2. Keadaan tersebut diperparah lagi dengan tidak adanya keberpihakan pemerintah terhadap pelestarian kebudayaan daerah. Bidang Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan zaman dahulu rajin melakukan riset pendataan ulang kesenian tradisional sekaligus membina seniman tradisional kita, maka sekarang peristiwa seperti ini menjadi barang yang langka (Mohzana et al. , 2020. Murcahyanto, et al. , 2. Belum lagi tidak satu suaranya antara sekolah sebagai ujung tombak penanaman nilai-nilai budaya daerah dengan instansi serta pimpinan politik di daerah tersebut. Contoh kecil yang sangat membuat miris adalah maraknya sekolah-sekolah di Lombok Timur mengadakan grup AuDrum BandAy sebagai ekstrakulikuler sekolah, padahal kita tahu bersama daerah Lombok timur sangat kaya dengan seni tradisional terutama musik. Di daerah Lenek kecamatan Aikmel kita mengenal musik Kecimol, yang sangat terkenal bahkan sampai diundang berkali-kali ke Jepang (Murcahyanto, et al. , 2021. Murcahyanto, et al. , 2. Ada juga Rebana Lima. Burdah. Kelentang. Cilokaq. Tongkek dan ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Juli 2022 | 101 Widyawati. Hasim. Murcahyanto. Pelestarian Seni Budaya Daerah Sasak melalui program Ekstrakulikuler. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3. , 100-109. doi:10. 29408/ab. yang tidak kalah menarik dibandingkan dengan Drum Band adalah musik tradisi Gendang Beleq. Gendang Beleq adalah musik iringan untuk berperang dimasa lalu, namun perkembangannya sekarang musik ini digunakan untuk menyambut tamu, musik pengiring pengantin dalam acara nyongkolang dan berbagai macam event (Harnish. D, 2. Musik ini menjadi ciri khas yang sangat menyatu dengan masyarakat suku Sasak dan bisa dijumpai di seluruh daerah di pulau Lombok, saking menyatunya hampir semua desa memiliki grup Gendang Beleq (Harnish,D. D, 2021. Saputra, 2. Namun saat ini grup-grup yang ada sudah mulai mengkhawatirkan karena usia pemainnya yang relatif berumur, jika kita tidak melakukan regenerasi maka mungkin beberapa tahun ke depan musik indah ini sudah tidak dapat lagi kita nikmati sebagai warisan yang tidak ternilai dari nenek moyang kita. Sehubungan dengan hal tersebut SMPN 2 Selong sebagai lembaga pendidikan yang merasa ikut bertanggungjawab terhadap pelestarian budaya daerah melakukan pelestarian seni budaya daerah melalui kegiatan Extrakurikuler bekerjasama dengan dosen perguruan tinggi dalam hal ini Program Studi Pendidikan seni Drama Tari dan Musik dengan tujuan. Untuk mewujudkan upaya pelestarian seni budaya dearah Sasak. dan untuk mewujudkan kreasi dan regenerasi seni budaya daerah Sasak. Mengacu pada penjelasan di atas maka peneliti menjabarkan program-program yang dilakukan oleh SMPN 2 Selong dalam upaya melestarikan kebudayaan daerah Sasak. Memulai sebuah tindakan yang besar seperti ini memerlukan tekad yang kuat, komunitas yang mendukung dan memadai serta nyali pantang menyerah, dan yang paling menentukan dari semua itu adalah pemimpin yang paham akan kegelisahan ini dan mau berusaha bekerja keras mewujudkan cita-cita tersebut. Dalam upaya pelestarian budaya daerah Sasak, hal pertama yang dilakukan kepala sekolah adalah melengkapi guru-guru yang kompeten dengan unsur-unsur budaya daerah. Misalnya untuk unsur system religi dan upacara agama, kepala sekolah merekrut tambahan guru yang khusus membidangi bidang studi agama Islam. Unsur system ilmu pengetahuan bahasa dan kesenian pun direkrut tambahan tenaga pengajar seperti tambahan guru untuk seni musik, seni teater, seni kriya, seni tari dan seni lukis. Upaya mewujudkan kreasi dan regenerasi seni budaya daerah Sasak terutama pada bidang kesenian dan budaya, guru-guru seni memprioritaskan pengajaran budaya daerah Sasak dalam materi pelajarannya seperti Seni Musik, dengan memperkenalkan lagu-lagu Sasak, seni tari akan belajar tari-tari tradisional Lombok dan begitu juga dengan seni teater dan lukis. Hal ini juga sangat erat hubungannya dengan penggunaan Contextual Teaching and Learning yang dianjurkan untuk digunakan di kelas. Untuk program ekstrakurikuler. SMPN 2 Selong memiliki berbagai macam ekstrakurikuler seni budaya diantaranya. Seni musik tradisional. Band. Vokal Grup Tradisional. Seni Kriya Tradisional. Seni Jurnalistik. Tari dan Teater Tradisional. Hal tersebut dilakukan supaya tujuan kreasi pada seni budaya Sasak tercapai dan regenerasi pada siswa akan terwujud. METODE PELAKSANAAN Waktu dan Tempat Kegiatan pendampingan dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan bulan April Lokasi kegiatan dilaksanakan di lingkungan SMP Negeri 2 Selong. Kegiatan ini diikuti oleh para guru kesenian dan guru Pembina ekstrakulikuler khususnya pada bidang musik dan ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Juli 2022 | 102 Widyawati. Hasim. Murcahyanto. Pelestarian Seni Budaya Daerah Sasak melalui program Ekstrakulikuler. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3. , 100-109. doi:10. 29408/ab. tari dalam hal ini diprioritaskan pada musik tradisi Gendang Beleq dan tari pengiringnya. Peserta pada kegiatan ini adalah seluruh siswa kelas VII dan Vi yang mengambil program ekstrakulikuler bidang seni budaya. Dosen dan mahasiswa berperan sebagai pendamping mulai program perancangan sampai tahap evaluasi. Khusus untuk ekstrakurikuler yang berhubungan dengan seni setiap pelatih dan pembina diberikan arahan oleh kepala sekolah untuk lebih berpihak kepada budaya daerah. Prosedur pelaksanaan Pada tahap persiapan awal, unsur-unsur kebudayaan khusnya kesenian, kegiatan intrakurikuler yang dilakukan oleh masing-masing guru bidang studi dengan memasukkan unsur-unsur budaya daerah Sasak ke dalam rencana pelaksanaan pengajaran (RPP) sehingga dalam pelaksanaan pengajaran materi tersebut akan menjadi topik bahasan di dalam kelas. Pada pelaksanaan kegiatan ekstrakulikuler melanjutkan dan mempraktekkan materi yang sudah diajarkan di dalam kelas. Pada tahan pelaksanaan terutama pada ekstrakulikuler musik tradisional diprioritaskan pada kesenian Gendang Beleq. Sebelumnya sudah dipersiapkan alat-alat musik tradisional, tempat atau lokasi pelaksanaan yakni di halaman sekolah. Kegiatan ini dimulai pada sore hari dengan cara mengenalkan cara memainkan alat-alat musik tradisional mulai dari Reong. Rincik. Seruling. Gendang sampai pada tahap memainkan gending-gending asli Sasak yang bertujuan supaya siswa lebih memahami banyak hal dibalik musik itu sendiri. Sebagai pendukung musik Gendang Beleq, ekstrakurikuler Tari dilakukan dan terbagi menjadi dua bagian yaitu ekstrakulikuler tari tradisi dan tari modern. Meski latihan dalam waktu yang berbeda tapi sering kali ekstrakulikuler tari membuat karya-karya tari kreasi yang menggabungkan unsur tari modern dan tari tradisional dan digabungkan pada pementasan dengan iringan musik Gendang Beleq. Pembina kegiatan ekstrakulikuler tari beserta pelatih menjadwalkan latihan bersama beberapa kali pertemuan mulai dari pengenalan gerak dasar, gerak lanjutan, pola gerak, pola lantai sampai pada tahap koreografi untuk memadukan antara gerak dan iringannya. Selain itu siswa juga diajarkan membuat baju tari tradisional untuk keperluan kegiatan pementasan tarian tersebut. Melalui proses ini diharapkan siswa siswi akan belajar bagaimana proses penciptaan sebuah karya tari dan regenerasi koreografer dan penari akan berjalan seperti yang kita harapkan. Setiap kegiatan selalu dikontrol dan dicatat perkembangannya sampai mendapatkan hasil yang maksimal. Dari hasil kegiatan ekstrakulikuler seni budaya akan ditampilkan melalui pementasan panggung. Selain panggung-panggung kecil yang sediakan setiap upacara sekolah, ada dua kali panggung besar yang disiapkan untuk menyalurkan hasil latihan yang telah dilakukan di masing-masing ekstraurikuler dalam satu tahun. Untuk semester ganjil ada pentas akhir semester yang bertajuk AuOBSESIAy singkatan dari Observasi Seni Siswa. Biasanya dilakukan pada bulan Desember. Pentas Akhir Tahun yang dinamakan PEPSI (Pentas Seni dan Perpisahan Sisw. , biasanya dilakukan pada bulan April atau Mei setelah selesai Ujian Nasional. HASIL DAN PEMBAHASAN Upaya pelestarian budaya daerah Sasak melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler di SMPN 2 Selong telah dilaksanakan mulai tahun 2012. Sejak kepala sekolah kami ibu Nurwahyuni,S. Pd naik sebagai kepala sekolah sampai sekarang. Berbagai upaya yang dilakukan tentunya tidaklah berjalan dengan mulus, selalu ada hambatanAehambatan ditengah Setelah diadakan kegiatan ekstrakulikuler seni budaya terutama pada kesenian Gendang Beleq, jumlah siswa yang tertarik untuk mengikuti kegiatan semakin meningkat. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 1 berikut: ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Juli 2022 | 103 Widyawati. Hasim. Murcahyanto. Pelestarian Seni Budaya Daerah Sasak melalui program Ekstrakulikuler. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3. , 100-109. doi:10. 29408/ab. Tabel 1. Jumlah Peserta Ekstrakulikuler Bulan Jumlah Peserta Gendang Beleq Jumlah Peserta tari pengiring Total Januari Februari Maret April Pada awal kegiatan hanya diikuti oleh 12 siswa dari kelas VII dan Vi, pada bulan berikutnya diikuti oleh 46 siswa, meningkat lagi menjadi 62 siswa, dan pada bulan terakhir menjadi 68 siswa. Pada kegiatan pendukung yakni tari tradisi sebagai pengiring pada awal hanya diikuti oleh 7 siswi, pada bulan berikutnya selalu bertambah dan pada bulan terakhir meningkat menjadi 56 siswi sehingga jumlah penari sebanding dengan jumlah pemain musik Sehingga untuk memudahkan koordinasi dibagi menjadi 4 kelompok yang masingmasing terdiri dari 17 pemain musik Gendang Beleq dan 14 penari. Jumlah peserta keseluruhan meningkat mulai dari 19 siswa menjadi 124 siswa. Siswa semakin tertarik dengan kegiatan ekstrakulikuler ini karena dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan dan banyak inovasi baik pada gerakan, jenis gending, variasi kostum maupun improvisasi pembinanya. Sehingga semakin lama semakin banyak yang menyukai karena tidak membosankan bagi siswa. Hal ini berarti sudah terjadi proses pelestarian kesenian supaya tidak terjadi kepunahan. Kesenian merupakan titik tekan yang paling penting dalam upaya pelestarian budaya daerah Sasak. Inilah yang kita takutkan terjadi kepunahan budaya dan alieansi generasi muda terhadap kekayaan lokal genius kita yang luar biasa indah dan beragam ini. Hal ini sesuai dengan hasil temuan (Saptaria et al. , 2021. Wardani, 2. Gencarnya pembinaan di sekolah setahap demi setahap mulai menampakkan hasilnya. Siswa siswi sudah tidak apatis lagi dengan kesenian yang berbau tradisional. Siswa siswi mulai menunjukkan ketertarikan mendalami semua bidang seni yang dibina dalam masing-masing Hal ini sesuai dengan temuan (Laksono, 2018. Septiana, 2. Penambahan ekstrakurikuler baru Gendang Beleq memberi warna tersendiri dalam pembinaan kesenian daerah di sekolah. Minat terhadap tari tradisional menjadi meningkat pesat dengan adanya musik Gendang Beleq tersebut. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya anggota baru yang ingin bergabung dan belajar ekstrakurikuler tari tradisional. Upaya kreasi dan regenerasi diwujudkan pada keberadaan panggung pementasan sebagai hasil dari kegiatan ekstrakulikuler ini. Hal ini dapat dilihat pada gambar 1. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Juli 2022 | 104 Widyawati. Hasim. Murcahyanto. Pelestarian Seni Budaya Daerah Sasak melalui program Ekstrakulikuler. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3. , 100-109. doi:10. 29408/ab. Gambar 1. Pementasan AuGendang BeleqAy di Lapangan Tugu Selong Setelah melaksanakan kegiatan ekstrakulikuler selama 4 bulan penuh, siswa sebagai peserta diberikan event berupa pementasan kesenian sebagai hasil dari kreasi dan sebagai pewujudan regenerasi kesenian. Pementasan dari kegiatan ekstrakulikuler ini sangat penting untuk memotivasi siswa yang susah payah berlatih dalam latihan rutin. Selain itu pengaruh positifnya adalah mereka menjadi anak-anak yang percaya diri, berani dan mampu mengelola sebuah pertunjukan besar yang akan ditonton oleh masyarakat umum. OSIS dengan bantuan beberapa orang guru akan mempersiapkan pertunjukan tersebut dengan teliti, mulai dari pamflet, poster dan spanduk yang akan disebar untuk promosi kegiatan, sampai backdrop dan detail panggung. Tidak kalah pentingnya adalah belajar mengorganisir siswa siswi yang akan terlibat di dalam pentas tersebut. Setelah selesai SMP dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, keinginan berkesenian mereka tidak selesai sampai disini. Mereka melanjutkan minat dan bakat mereka dengan mencari wadah-wadah penyaluran baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Namun sayangnya seringkali sekolah lanjutan mereka tidak membina kesenian seperti yang dilakukan oleh SMPN 2 Selong. Sehingga banyak siswa dan siswi harus mencari wadah diluar sekolah bahkan tidak jarang mereka tetap datang dan ikut latihan bersama adik-adik mereka di SMPN 2 Selong. Pada ektrakulikuler tri sebagai pendukung kesenian Gendang Beleq, diajarkan juga cara membuat kreasi pada kostum pakaian adat tanpa meninggalkan pakemnya. Seperti pada gambar 2 terlihat bahwa para siswa membuat kreasi sendiri pada kostum pakaian adat yang digunakan pada saat pementasan. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Juli 2022 | 105 Widyawati. Hasim. Murcahyanto. Pelestarian Seni Budaya Daerah Sasak melalui program Ekstrakulikuler. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3. , 100-109. doi:10. 29408/ab. Gambar 2. Tari Tradisional melengkapi penampilan ekskul Gendang Beleq. Sebagian lagi ada yang menjadi koreografer dan pelatih di sekolah-sekolah baik tingkat SD. SMP bahkan di tingkat SMA. Ini adalah perkembangan yang menggembirakan karena hal ini akan bisa meningkatkan gairah sekolah-sekolah lainnya untuk bersama-sama berjuang menyelamatkan kesenian tradisional. Karena jika bukan generasi muda ini yang akan melakukannya, siapa lagi yang akan bisa diharapkan. Ketika sekolah-sekolah se-Lombok Timur beramai-ramai mengadakan ekstrakurikuler Drumband, maka SMPN 2 Selong berani melawan arus dengan mengadakan ekstrakurikuler Gendang Beleq. Pengadaan alat-alat Gendang Beleq diperoleh dengan susah payah, setelah sekian kali mengajukan proposal kepada Dinas Pendidikan namun tidak menampakkan hasil. Setelah bisa membeli alat maka yang menjadi masalah berikutnya adalah kostum, kami membeli kostum dari hasil memulung sampah kardus dan kertas yang kami kumpulkan selama satu semester. Sapuk atau hiasan ikat kepala didapatkan dari hasil praktik siswa dalam pelajaran Prakarya, demikian juga dengan Dodot. SIMPULAN Upaya pelestarian budaya daerah Sasak melalui kegiatan ekstrakurikuler di SMPN 2 Selong dianggap berhasil karena dilihat dari jumlah peserta selalu meningkat sejak awal kegiatan sampai pada akhir kegiatan. Siswa semakin lama semakin tertarik dan tidak bosan mengikuti kegiatan tersebut karena adanya inovasi-inovasi baru tanpa meninggalkan esensi keaslian kesenian tradisional. Para siswa selalu bersemangat dalam proses Latihan sampai dengan pementasan yang sebenarnya. Semangat untuk mempelajari seni tradisional menjadi tumbuh dan berkembang karena para pembina selalu mendekatkan para siswa pada kesenian tradisional tersebut. Setelah mempelajari musik tradisional Gendang Beleq para siswa mulai bertanya tentang musik tradisi yang lainnya, apa perbedaan-perbedaan yang ada, serta keistimewaan dari masing-masing musik tradisional tersebut. Keadaan ini membuat pihak ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. Juli 2022 | 106 Widyawati. Hasim. Murcahyanto. Pelestarian Seni Budaya Daerah Sasak melalui program Ekstrakulikuler. ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 3. , 100-109. doi:10. 29408/ab. sekolah optimis bahwa siswa-siswi akan termotivasi untuk belajar tentang budaya lokal Sasak tanpa merasa terpaksa, dan mereka akan mampu menempatkan diri mereka sebagai generasi yang kuat dan bangga dengan ke-Sasak-an nya. Upaya kreasi dan regenerasi dikatakan berhasil karena sesuai dengan capaian yakni dengan adanya pementasan dari hasil latihan selama berbulan-bulan, siswa juga diajarkan cara berkreasi dengan membuat kostum pakaian adat sendiri dengan bahan-bahan yang ada di Dari program ini dapat dilihat bahwa pada pelaksanaan ekstrakurikuler siswa siswi yang telah berlatih dengan sungguh-sungguh membutuhkan wadah untuk mempertunjukkan Jadi siswa sebagai generasi muda merasa diakui eksistensinya. Disisi lain sekolah juga butuh menunjukkan kepada wali murid hasil yang dicapai oleh anak-anak mereka selama menjalani latihan. Sekolah harus menyediakan panggung yang memadai kepada siswa. Dari beberapa kali pementasan OBSESI semua selalu berjalan dengan lancar dan sukses, meski seringkali hambatan cuaca menjadi factor yang sangat tidak terduga. Terlepas dari semua itu, upaya pelestarian budaya daerah Sasak melalui intrakurikuler dan ekstrakurikuler di SMPN 2 Selong memberikan hasil yang cukup memuaskan meski terus berbenah untuk hasil yang lebih Unsur Kesenian dilakukan dengan penambahan ekstrakulikuler Gendang Beleq memberi warna tersendiri dalam pembinaan kesenian daerah di sekolah. Minat terhadap tari tradisional sebagai pengiring menjadi meningkat pesat dengan adanya musik Gendang Beleq PERNYATAAN PENULIS Dengan Hormat. Bersama ini kami menyatakan bahwa tulisan kami dengan judul Pelestarian Seni Budaya Daerah Sasak Melalui Program Ekstrakulikuler belum pernah diterbitkan dan dikirim di jurnal manapun. DAFTAR PUSTAKA