JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : ETIKA BELAJAR DALAM AL-QURAN (Studi Analisis Surat Al-Kahfi Ayat 66-. Zubairi zubairimuzakki@gmail. STAI Asy-Syukriyyah Nur Illahi illahi@asy-syukriyyah. STAI Asy-Syukriyyah Asep Mulyawan muljawan@asy-syukriyyah. STAI Asy-Syukriyyah Abstract: Rasulullah SAW in spreading the teachings of Islam is full of gentleness, what he conveys is always a good example for his people. He is a successful leader in leading and spreading the understanding of the Islamic religion, so that all mankind can follow what he Likewise, when the prophet Khidr taught sciences that were not understood by the prophet Moses. Likewise, the prophet Moses can also be a lesson for all of us to seek knowledge. Ethics is very important for every student of knowledge as Allah has immortalized in Surah alKahf verses 66-78. The author tries to research and describe "Ethics in Learning in the AlQuran" with the hope that we can be successful in studying so that the knowledge we demand can be practiced and benefited all mankind. Because knowledge is like a lamp that always illuminates our every path, without knowledge humans will always be trapped in ignorance and Therefore, the author tries to describe in detail how we seek knowledge so that the knowledge we learn can reach us who study it and can be useful for all. There are so many lessons that we can take from the meeting between the prophet Khidir and the prophet Musa, the most prominent thing is ethics in learning. Ethics in learning is very important, when a teacher has not explained it is better for us to be silent and follow the lesson well. Teachers have their own methods of educating their students. Keywords: Ethics. Learning. Patient. Diligent PENDAHULUAN Al-QurAoan adalah kitab suci umat Islam yang tetap terjaga keotentikan isi dan kandungannya maknanya. Al-QurAoan adalah obat dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman yang mau mengambil pelajaran dan mendalami isi kandungan al-QurAoan. Dari segi bahasa alQurAoan berarti AubacaanAy, sedangkan menurut istilah adalah suatu mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, bagi yang membacanya mendapatkan pahala dan menjadi suatu Allah menurunkan al-QurAoan sebagai pedoman umat manusia agar mereka mengetahui arah dalam menjalani hidup di dunia. Al-QurAoan pertama kali turun di gua hiro, dengan perantaraan malaikan Jibril kepada Rasulullah SAW. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 72 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Akhir-akhir ini, peserta didik dalam menuntut ilmu sudah tidak lagi memakai adab dan etika dalam belajar kepada gurunya, seperti yang penulis jumpai di majelis taAolim dan sekolahsekolah ketika guru menerangkan mereka semua asik bercanda dan bicara masing-masing, oleh karena itu penyusunan skripsi ini untuk mengkaji kembali adab dan etika terhadap guru seperti yang di contohkan nabi Khidir dan nabi Musa yang menjelaskan tentang etika dalam belajar. Besar harapan penulis dapat diterapkan di dalam proses belajar mengajar. Salah satu surat yang mengajarkan tentang pendidikan adalah surat al-Kahfi ayat 66-78 karena didalamnya Allah ingin mengajarkan kepada manusia melalui Nabi Musa as dan Nabi Khidir as. Di dalam surat tersebut diajarkan etika seorang murid terhadap gurunya, ketika seorang guru mengajarkan sebaiknya murid mengikuti apa yang diajarkan dengan baik karena guru lebih mengerti daripada murid. Jika seorang guru mengajarkan dan belum selesai dengan pengajarannya dan tidak diperkenankan bertanya sebelum diberi kesempatan atau dipersilahkan untuk bertanya sebaiknya seorang murid mengikuti apa yang diperintahkan seorang guru. Agar apa yang diajarkan itu dapat dimengerti dan Allah memberikan paham kepada murid. Pendidikan adalah sesuatu yang amat penting bagi manusia, manusia bisa berakhlak karena pendidikan. Jika manusia itu dididik dengan baik maka akan menghasilkan karakter manusia yang terbaik, tapi jika manusia di didik dengan akhlak yang buruk maka akan menghasilkan keburukan yang akan berimbas pada masyarakat terutama terhadap dirinya Contonya jika seseorang dididik dengan ilmu agama, dibentengi dan dilandaskan dengan ilmu agama maka ia akan menjadi karakter manusia yang baik dan beragama, karena dia bisa mengenal siapa Allah swt dan selalu merasa diawasi oleh-Nya. Sehingga ketika dia ingin melakukan suatu keburukan maka dia takut terhadap Allah swt, karena apapun yang dia lakukan maka tidak ada yang dapat lepas dari pengetahuan-Nya. Itulah manusia yang dididik dengan akhlakul karimah yang ditancapkan di dalam hatinya keimanan kepada Allah swt. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam diri manusia baik itu sikap, sifat maupun ilmu pengetahuannya yang semakin bertambah. Belajar menjadikan manusia semakin pintar dan mengetahui adab dan etika. Seluruh manusia diharuskan untuk belajar agar terhindar dari Dari belajar manusia memperbaiki dirinya, dari belajar manusia menjadi lebih pintar dan dari belajar manusia dapat mengenal siapa Tuhan yang menciptakan dirinya dan alam semesta. Kita harus mengetahui etika dalam belajar, agar yang kita pelajari membawa manfaat bagi kita khususnya dan bagi seluruh umat manusia pada umumnya. Seperti yang Allah ajarkan JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 73 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : dalam (QS. al-Kahfi ayat 66-. tentang Nabi Musa as dan Nabi Khidir as. Agar ilmu yang kita pelajari menjadi suatu wasilah kedekatan kita kepada Allah SWT. Karena pada zaman sekarang ini banyak para murid atau santri yang menuntut atau mempelajari ilmu tidak memakai etika kepada gurunya, bagaimana ilmu itu bisa bermanfaat sementara etikanya sendiri tidak dipakai. Oleh karena itu, penulis berusaha untuk mengangkat suatu masalah tentang AuEtika belajar dalam Al-QuranAy seperti yang Nabi Khidir as ajarkan kepada Nabi Musa as. METODE PENELITIAN Desain Penelitian . endekatan dan jenis penelitia. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan yang bersifat kualitatif deskriptif. Pendekatan deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diteliti dengan menggambarkan atau melukiskan subjek atau objek penelitian . eseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lai. pada saat sekarang berdasarkan fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Sedangkan untuk jenis penelitian, penelitian yang berjudul AuEtika belajar dalam AlQuran. Surat AL-Kahfi ayat 66-78Ay, merupakan salah satu penelitian yang berjenis Library Research (Penelitian Kepustakaa. yaitu suatu research kepustakaan atau penelitin kepustakaan murni. Sumber Data Dalam penelitian ini, kami menggunakan beberapa sumber data sebagai berikut : Sumber Data Primer Data primer adalah data-data yang terkait dengan etika dan belajar dalam pandangan Al-Quran. Sumber Data Sekunder Buku-buku penunjang lain yang relevan dengan pembahasan penelitian dan juga masukan . dari sumber lainnya dari media cetak dan elektronik. Metode Pengumpulan Data Dalam mengumpulkan data, kami menggunakan studi pustaka AuLibrary ResearchAy yaitu mencari data dengan cara melakukan penelusuran terhadap buku-buku, majalahmajalah, surat kabar dan sebagainya. Pengumpulan data baik primer maupun sekunder dilakukan dengan studi literatur dengan membaca, memahami, mengidentifikasikan, menganalisa dan membandingkan JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 74 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : sumber data yang satu dengan yang lain yang terdapat dalam sumber data. Setelah terkumpul lalu diklasifikasikan sesuai dengan sifatnya masing-masing. Metode Analisa Data Untuk menganalisa data-data yang berhasil dikumpulkan, penulis menggunakan metode induktif, yaitu metode dalam mengambil kesimpulan berangkat dari fakta-fakta yang sifatnya khusus, kemudian ditarik generalisasinya atau kesimpulan yang bersifat Metode ini digunakan untuk menganalisa data yang telah diperoleh dan dikumpulkan, serta untuk menarik kesimpulan terhadap data yang telah disusun. Adapun untuk menganalisa data tersebut, kami menggunakan pendekatan deskriptif dengan prosedur pemikiran. KAJIAN TEORI Pengertian Belajar Belajar adalah sebuah kegiatan beprosesdan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap jenjang pendidikan. Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dan penting dalam keseluruhan proses pendidikan. Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan nilai yang positif untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Kegiatan belajar tersebut ada yang dilakukan di sekolah, di rumah dan di tempat lain seperti, museum di laboratorium, di hutan dan dimana saja. Belajar merupakan tindakan dan prilaku siswa yang Sebagai belajar maka hanya dialami oleh siswa sendiri dan akan menjadi penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Menurut M. Natsir Ali dalam bukunya pendidikan dapat diartikan secara sempit dan secara luas. Secara sempit dapat diartikan. Aubimbingan yang diberikan kepada anak-anak sampai ia dewasaAy. Sedangkan pendidikan dalam arti luas adalah segala sesuatu yang menyangkut proses perkembangan dan pengembangan manusia, yaitu upaya menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai bagi anak didik, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan itu menjadi bagian dari kepribadian ana yang pada gilirannya menjadi orang pandai, baik, mampu hidup dan berguna bagi masyarakat. Natsir Ali. Dasar-Dasar Ilmu Mendidik, (Mutiara. Jakarta: 1. , hal. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 75 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Sedangkan menurut Menurut Ki Hadjar Dewantoro dijelaskan bahwa pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti . ekuatan bati. , pikiran . dan jasmani anak-anak. Maksud dari pernyataan tersebut adalah supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu kehidupan penghidupan anak-anak, selaras dengan alam dan masyarakatnya. Sementara menurut Nanang Purwanto berpendapat bahwa pendidikan adalah segala kegiatan yang dilakukan secara sadar berupa pembinaan . pikiran dan jasmani anak didik berlangsung sepanjang hayat untuk meningkatkan kepribadiannya agar dapat memainkan peran dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang selaras dengan alam dan masyarakat. Dalam teori belajar terdapat empat kategori dalam belajar yaitu teori belajar behavioristik, teori belajar kognitivistik, teori belajar humanistik dan teori belajar Teori behavorisme hanya berfokus pada objek pembelajaran sedangkan teori kognitivisme melihat perkembangan perilaku dengan pembelajaran otak dan teori konstruktivisme yang merupakan belajar active pelajar membangun ide-ide baru atau pengetahuan baru. Menurut teori belajar behavioristik atau aliran tingkah laku, belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai interaksi antara stimulus dan respons. Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari Belajar tidaknya seseorang bergantung pada faktor-faktor kondisional yang diberikan lingkungan. 3 Teori belajar ini yang menjadi sebuah kontrolnya adalah lingkungan, jika kondisi lingkungan itu mendukung dia untuk belajar lebih maka pengetahuannya akan sesuatu hal dapat bertambah, sedangkan teori belajar kognitivistik lebih menekankan proses belajar daripada hasil belajar. Bagi penganut aliran kognitivistik belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Menurut teori , ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Teori belajar ini dibangun melalui interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan agar dapat menjadikan dirinya bertambah ilmu dan pengetahuannya. Teori belajar humanistik adalah proses belajar yang bermuara pada teori ini banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuk yang Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada gagasan tentang belajar dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar seperti apa yang biasa diamati dalam dunia keseharian. Nanang Purwanto. Pengantar pendidikan, (Graha Ilmu. Yogyakarta: 2. , cet. I, hal. Ahmad Susanto. Teori belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Kencana. Jakarta: 2. , cet. I, hal. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 76 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Karena itu teori ini bersifat elektik, artinya teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuannya untuk Aumemanusiakan manusiaAy . encapai aktualisasi dir. dapat tercapai. 4 Teori ini lebih menuntut untuk menjadikan peserta didik yang ideal dalam tingkah laku maupun ilmu pengetahuan yang dimilikinya, sedangkan teori belajar konstrustivistik memahami belajar sebagai proses pembentukan . pengetahuan oleh dirinya sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seorang guru kepada orang lain . Teori ini mengajarkan peserta didik untuk belajar melalui pengalaman dan memasukkan pemahamanpemahaman baru sehingga dapat terbentuk dalam tingkah lakunya dan menambah Tujuan Belajar dalam Islam Belajar adalah istilah kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Karena kemampuan berubahlah, manusia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah di bumi. selain itu, dengan kemampuan berubah melalui belajar itu, manusia secara bebas dapat mengeksplorasi, memilih, dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya. Belajar merupakan proses dari perkembangan hidupa manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup manusia tidak lain adalah hasil dari belajar. Kita pun hidup menurut hidup dan bekerja menurut apa yang telah kita pelajari. Belajar itu bukan sekedar Belajar adalah suatu proses, dan bukan suatu hasil. Karena itu belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan. Selanjutnya dalam perspektif agama pun . alam hal ini Isla. , belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajad kehidupannya meningkat. Hal ini dinyatakan dalam surah Mujadalah: 11 yang artinya: niscaya Allah akan meningkatkan beberapa derajad kepada orang-orang dan AuberilmuAy. Ilmu dalam hal ini tentu saja harus berupa pengetahuan yang relevan dengan tuntutan zaman dan bermanfaat bagi kehidupan orang banyak. Agaknya tidak ada satu pun Ahmad Susanto. Teori belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Kencana. Jakarta: 2. , cet. I, hal. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 77 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : agama, termasuk Islam, yang menjelaskan secara rinci dan operasional mengenai proses belajar, proses kerja sistem memori . , dan proses dikuasainya pengetahuan dan ketrampilan oleh manusia. Namun Islam, dalam hal penekanannya terhadap signifikansi fungsi kognitif . dan fungsi sensori . ndera-inder. sebagai alat-alat penting untuk belajar, sangat Kata-kata kunci, seperti yaAoqulun, yatafakkarun, yubshirun, yasmaAoun, dan sebagainya yang terdapat dalam Al-QuraAoan, merupakan bukti betapa pentingnya penggunaan fungsi ranah cipta dan karsa manusia dalam belajar dan meraih ilmu pengetahuan Menurut Al-Ghazali proses belajar adalah usaha orang itu untuk mencari ilmu karena itu belajar itu sendiri tidak terlepas dari ilmu yang akan dipelajarinya. Berkaitan dengan ilmu. Al-Ghazali berpendapat ilmu yang dipelajari dapat dari dua segi, yaitu ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai objek. Pertama, sebagai proses. Al-Ghazali megklasifikasikan ilmu menjadi tiga. Pertama ilmu hissiyah . lmu yang diperoleh melalui pengindraa. Kedua, ilmu Aqliyah . lmu yang diperoleh melalui kegiatan berpikir . Ketiga, ilmu Ladunni . lmu yang langsung diperoleh dari Allah tanpa berfikir dan proses pengindraan. Kedua, sebagai objek. AlGhazali membagi ilmu menjadi tiga macam. Pertama, ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak baik sedikit maupun banyak seperti sihir. Kedua, ilmu pengetahuan yang terpuji baik sedikit maupun banyak. Dan Ketiga, ilmu pengetahuan yang dalam kadar tertentu terpuji tetapi bila mendalaminya tercela seperti ilmu ketuhanan, cabang ilmu filsafat. Menurut AlGhazali ilmu terdiri dari dua jenis, yaitu ilmu kasbi dan ilmu ladunni. Ilmu kasbi adalah cara berfikir sistematik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan. Ilmu Ladunni adalah ilmu yang diperoleh orang-orang tertentu dengan tidak melalui proses perolehan ilmu pada umumnya tetapi melalui proses pencerahan oleh hadirnya cahaya ilahi dalam qalbu. Islam adalah agama yang rahmatan lilAoalamiin dan senantiasa selalu menginginkan pengikutnya untuk menjadi pengikut yang cerdas. Dengan belajar islam ingin menjadikan pengikutnya bisa mengenal siapa tuhanNya, sehingga mereka tahu dan mengerti kepada siapa mereka harus beribadah. Tujuan belajar dalam islam adalah agar semua pengikutnya menjadi umat cerdas dan tidak terbelakang sehingga dapat mengenal siapa yang wajib diimani dan dengan belajar islam menginginkan agar pengikutnya dapat membedakan mana yang haqq dan mana yang batil, sehingga umat manusia tidak terjerumus dalam lembah hitam yang akhirnya akan menurunkan azab dari Allah SWT. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 78 P-ISSN : E-ISSN : DOI : JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 Etika Belajar dalam Al-Quran Surat Al-Kahfi Etika merupakan sebuah norma yang sangat penting dalam belajar, bersosialisasi dan Seorang manusia yang memiliki etika akan menjadi manusia yang dihormati, disegani dan dihargai dalam lingkungannya. Setinggi apapun pendidikan seorang manusia jika tidak memiliki etika, sama saja dia orang yang tidak berpendidikan. Karena pendidikan sejatinya mampu menjaga dirinya, sikapnya dan tuturkatanya sehingga tidak menyinggung perasaan orang lain. Dalam belajar etika merupan suatu kebutuhan yang harus tertanam di dalam diri peserta Jangan sampai peserta didik ingin ilmu yang berkah dari gurunya tetapi dalam mencari dan menuntut ilmunya dia tidak memakai etika, tidak sopan terhadap guru dan selalu menyelisih apa yang disampaikan oleh gurunya. Etika menjadi suatu yang harus dimiliki peserta didik karena itu yang akan mengantarkannya menuju gerbang kesuksesan dan keberkahan ilmu yang Tidak ada seorang manusia pun yang sukses dalam menuntut ilmu dan kehidupannya kecuali dia memakai etika dalam belajar, bergaul dan bermasyarakat. Sebagai contoh ketika nabi Musa as. Ingin belajar kepada nabi Khidir as. Nabi Khidir sudah berbicara kepada nabi Musa kalau dirimu tidak akan kuat mengikuti ku, namun nabi Musa tetap memaksa ingin ikut setiap perjalanan yang dilakukan oleh nabi Khidir. Nabi Khidir membolehkan nabi Musa mengikutinya dengan syarat nabi Musa tidak boleh untuk bertanya maupun beragumen atas apa yang dilakukan nabi Khidir disetiap perjalanan, nabi Musa pun menyanggupi syarat yang diajukan oleh nabi Khidir. Seperti yang Allah abadikan dalam alQurAoan surat kahfi ayat 67. AA UeA a AOA a ACa aE aIac aE Ea eI a e a a eO a aI aA Artinya: Dia menjawab:"Sesunguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. (QS. Nabi Musa baru dibolehkan untuk bertanya jika perjalanan yg dilaluinya sudah selesai, bahkan sebenarnya tidak perlu nabi Musa sampai bertanya, nabi Khidir sendiri yang akan Seperti yang Allah jelaskan dalam al-QurAoan ayat 70. a A eOs aecO a eA n Aa Ea aE aI eINa a eE UA a A eIA a ACa aE Aa aaI aca eaIa eO aE aeA ai eEIa eOA Artinya: Dia berkata:"Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu". (QS. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 79 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Pada hakikatnya nabi Musa belum siap untuk menerima pelajaran nabi Khidir, kesiapan nabi Musa hanya sebatas bertemu dan mendengarkan pelajaran yang disampaikan secara lisan. Peringatan-peringatan nabi Khidir sebelum nabi musa belajar kepada nabi Khidir pun tidak Jadilah pelajaran nabi Khidir yang disampaikan melalui perbuatan tidak dapat diterima dan diamalkan oleh nabi Musa. Sebenarnya, peringatan nabi Khidir kepada nabi Musa tentang ketidaksanggupan nabi Musa untuk bersabar selama bersamanya adalah peringatan yang sangat keras. Namun, itu memang diperlukan untuk mengimbangi sifat keras nabi Musa. Meskipun demikian, nabi Musa menunjukan ketidak sabarannya. Satu hal yang perlu diingat untuk menyikapi hal tersebut adalah perbedaan kelas dua nabi tersebut yang mengakibatkan perbedaan pemahaman. Oleh Allah nabi Musa dimodali dengan pelajaran untuk orang umum, sedangkan nabi Khaidir dibekali dengan ilmu hakikat. Nabi Musa as. ketika akan belajar kepada nabi Khidir as. sudah diberitahu oleh nabi Khidir as. bahwa nabi Musa as. Tidak akan pernah sanggup mengikuti beliau di dalam perjalannya untuk mengambil manfaat apa yang terjadi di dalam perjalanan tersebut. Perjalanan yang beliau lalui penuh dengan pertentangan menurut akal sehat manusia maka dari itu nabi Khidir sudah mengingatkan bahwa dirimu tidak akan pernah sanggup untuk mengikuti ku. Namun karena kesopanan nabi Musa dalam mencari ilmu dan manfaat maka nabi Khidir pun mengizinkan beliau untuk mengikutinya. Sebagaimana yang Allah abadikan di dalam Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 66 yang artinya: Musa berkata kepada Khidhr:"Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu" (QS. Alangkah sopan adab yang ditunjukan oleh seorang nabi Allah ini. Musa memohon penjelasan pemahaman tanpa memaksa, dan ia mencari ilmu yang dapat memberikan petunjuk dari hamba saleh yang alim itu. Namun, imu hamba yang saleh itu bukanlah ilmu seorang manusia yang sebab-sebabnya jelas dan hasil-hasilnya dekat. Sesungguhnya ia termasuk ilmu laduni tentang perkara gaib, yang diajarkan oleh Allah kepadanya tentang qadar yang diinginkanNya untuk hikmah yang diinginkanNya. Oleh karena itu, musa tidak akan mampu bersabar oleh hamba soleh itu dan perilaku-perilakunya, walaupun dia seorang nabi dan rasul. Karena perilaku-perilaku hamba saleh tersebut yang tampak di permukaan kadangkala terbentur dengan logika akal yang lahiriah dan hukum-hukum yang lahiriah. Bila tidak memiliki bekal itu, mak perilaku-perilaku itu akan tampak aneh dan pasti Sehingga, hamba saleh yang diberi ilmu laduni itu sangat khawatir terhadap Musa. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 80 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : karena itu pasti tidak mampu bersabar atas keikutsertaannya dan tingkah lakunya. Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 68. Artinya: Dia menjawab:"Sesunkamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. (Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuat, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu" Musa berazam akan bersabar dan taat, sambil memohon pertolongan dari Allah dan pantang menyerah untuk merealisasikan kehendaknya, seperti yang dijelaskan dalam surat AlKahfi ayat 69 yang artinya: Musa berkata:"Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun". Hamba saleh itu pun masih menekankan dan memperjelaskan permasalahannya. Ia menyebutkan persyaratannya dalam menemaninya sebelum memulai perjalanan. Yaitu. Musa harus bersabar untuk tidak bertanya dan meminta penjelasan tentang sesuatu dari perilaku-perilakunya hingga rahasia-rahasianya terbuka sendiri darinya. Pelajaran yang diberikan Nabi Khidir as kepada Nabi Musa as Kadangkala seseorang hanya memahami secara teoritis tentang gambaran umum yang menyeluruh tentang suatu makna. Maka, ketika berbenturan dengan praktik kerja nyata untuk mengimplementasikan makna itu dalam contoh nyata, dia akan berhadapan dengan fakta lain yang berbeda dengan gambaran dalam pandangannya. Karena praktik kerja nyata memiliki cita rasa lain yang berbeda dengan gambaran pandangan. Inlah contoh nyata dalam diri musa, yang telah diperingatkan sebelumnya bahwa dia tidak mungkin bersabar menghadapi apa yang belum diketahui dan dikuasinya. Namun, dia tetap berazam untuk tetap bersabar, memoho pertolongan taufik dengan kalimat insya Allah, diperkuat dengan janji dan persyaratan Khidir. Namun, ketika Musa berhadapan dengan kenyataan lapangan berkenaan dengan perilaku Khidir, dia dengan semangat menyala mengingkarinya, hal ini digambarkan dalam surat AL-Kahfi ayat Memang benar, tabiat Musa adalah tabiat yang responsive, reflek dan peka yang menyala-nyala, sebagaimana yang terlihat jelas dalam fase-fase dalam kehidupannya. Sejak ia memukul roboh seorang mesir yang dilihatnya sedang berkelahi melawan dari seorang bani Israel, kemudian dia membunuhnya dalam satu gerakan refleksnya. Kemudian dia bertobat kembali pada Tuhannya memohon ampunan, serta menggemukan serta uzurnya. Sehingga, pada hari kedua dan ketika melihat seorang bani Israel sedang berkelahi dengan mesir lainnya. Musa pun ingin memukul orang mesir lainnya itu sekali lagi. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 81 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Tabiat musa memang seperti itu. Oleh karena itu dia tidak dapat menahan kesabarannya untuk tidak mengingkari perilaku Khidir dan tidak mampu memenuhi janjinya ketika berhadapan dengan keanehan dan penyimpangan perilaku tersebut. Namun, setiap tabiat manusia pasti bertemu pada fakta nyata yang tidak bisa dipungkiri bahwa ketika berhadapan dengan kenyataan dilapangan, ia akan menemukan fakta dan cita rasa yang berbeda dengan gambaran pandangannya. Ia tidak akan dapat mengetahui hakikat suatu perkara tanpa merasakan dan mencobanya. Dari sinilah Musa mendorong untuk mengingkarinya. Sampai di sini Musa dan . ita yang mengikuti arahan al-QurAoan in. di hadapan kejadian-kejadian yang tiba-tiba dan berbenturan tanpa mengetahui rahasianya. Sikap kita terhadapnya sama seperti sikap Musa. Bahkan, kita tidak tahu siapa orang yang berperilaku dengan perlakuan-perlakuan yang aneh, dan al-QurAoan pun tidak menginformasikan kepada kita tentang namanya, sehingga semakin gelaplah sisi yang mengitari kita. Sasaran yang ditujukan sebetulnya adalah semata-mata mencontohkan hikmah Ilahiah yang sangat tinggi. Ia tidak mengatur hasil-hasil dekat yang diperoleh atas mukadimahmukadimah yang tampak jelas. Namun, ia menargetkan sasaran-sasaran yang jauh yang tidak tampak oleh mata yang kemampuannya terbatas. Tidak dicantumkannya nama hamba saleh itu selaras dengan kepribadian yang penuh makna dari tokoh yang penuh makna. Dari pertemuan nabi Khidir dan nabi Musa kita dapat mengambil pelajaran bahwa etika dalam belajar itu sangat penting, ketika seorang guru belum menjelaskan lebih baik kita diam dan sabar, mengikuti pelajaran dengan baik dan bersungguh-sungguh. Dan perlu diketahu baha setiap guru mempunyai metode dan cara tersendiri dalam mendidik muridnya guna mencapai tujuan belajar. KESIMPULAN Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari pertemuan antara nabi Khidir dan nabi Musa hal yang paling menonjol adalah sabar, bersungguh-sungguh dalam belajar, beretika dan berakhlaq karimah dalam menuntut ilmu. Hikmah dari pertemuan Nabi Khidir dengan Nabi Musa juga menyampaikan salah satu etika dalam menuntut ilmu . l-QurAoa. adalah bahwa ilmu harus dicari dari sumbernya. Ia harus didatangi walau jauh tempatnya dan kesulitan dalam Dan Nabi Musa mencontohkan bagaimana ia walaupun seorang Nabi pilihan . lul azm. yang sekaligus pemimpin, siap menempuh suatu perjalanan untuk mencari ilmu. Allah mengajarkan manusia dengan kalam-Nya baik yang tersirat maupun yang tersurat, ketika JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 82 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : manusia ingin bertafakur membaca kalam Allah maka manusia itu akan menemukan dimana Allah berada yang pada akhirnya membawa manusia semakin dekat dengan Allah . aAorifatulla. Dalam menuntut ilmu kita harus mengetahui apa itu etika. Baik itu etika terhadap guru, teman maupun terhadap orang lain. Etika sangat penting dalam menuntut ilmu karena agar ilmu yang kita pelajari dapat menjadi berkah. Siapapun yang menjunjung tinggi suatu etika maka orang itu menjadi lebih disegani, karena ia mengetahui adab dan akhlak. Jangan sampai menuntut ilmu tapi tidak menghormati ilmu itu sendiri. Siapapun yang memiliki etika berarti dia sudah menjadi orang yang terdidik, karena etika pada dasarnya memiliki arti akhlaqul karimah dan bersikap sopan dan santun dalam segala kebiasaannya. Setiap pendidik memiliki karakteristik yang berbeda-beda dengan pendidik, baik dari cara penyampaiannya, metodenya pendekatannya, sehingga cara penyampaian materi dan ilmunya pun juga berbeda, tapi tujuannya sama , yaitu menjadikan peserta didiknya belajar dengan sungguh-sungguh, karena kesungguhan dalam belajar adalah kunci keberhasilan. DAFTAR PUSTAKA