MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Penerapan Model Evaluasi Kurikulum Atkinson di Madrasah Aliyah Negeri 3 Malang Khoirus Sahro Sutiah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Email: khoirussahro123@gmail. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Email: sutiah@gmail. Abstract: This article describes the application of the Atkinson curriculum evaluation model at MAN 3 Malang. Each school's vision and mission must aim for the good of students as the ideals and goals of national education are stated in the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia and Law Number 23 of 2003 concerning the National Education System. Basically the essence of Indonesia's national ideals and goals as stated in the two regulations is to form human beings who are intellectual, believe in God, and have good behavior. However, the current development of cases such as persecution, bullying, and others committed by students shows that the vision and mission of the school is stated to be unsuccessful. Thus, it is very necessary to evaluate the educational curriculum to improve in a better direction. The evaluation model that is very appropriate in this case is the Atkinson educational evaluation model. This evaluation model has a research object that focuses on 3 domains, namely the problems of school planning, the learning process, and the behavior or character of students. Keywords: Atkinson, vision, mission, learning, high school. Abstrak: Artikel ini menjelaskan tentang penerapan model evaluasi kurikulum atkinson di MAN 3 Malang. Setiap visi dan misi sekolah pasti bertujuan untuk kebaikan siswa sebagaimana citacita dan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam UUD NRI 1945 dan UU Nomor 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada dasarnya inti dari cita-cita dan tujuan nasional Indonesia sebagaimana dalam kedua peraturan tersebut ialah untuk membentuk insan yang intelektual, beriman kepada Tuhan, dan mempunyai perilaku yang baik. Namun berkembangnya kasus-kasus dewasa ini seperti penganiayaan, bullying, dan lain-lain yang dilakukan oleh para siswa menunjukkan bahwa visi dan misi sekolah tersebut dinyatakan tidak Dengan demikian, maka sangat dibutuhkan evalusi kurikulum pendidikan untuk memperbaiki ke arah lebih baik. Adapun model evaluasi yang sangat tepat dalam hal ini ialah model evaluasi penddikan atkinson. Model evalusi ini memiliki objek penelitian yang fokus pada 3 domain, yakni problematika perencanaan sekolah, proses pembelajaran, dan perilaku atau karakter peserta didik. Kata kunci: Atkinson, visi, misi, pembelajaran, sekolah menengah. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 PENDAHULUAN Evaluasi kurikulum saat ini memegang peranan penting dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui apakah siswa telah berhasil atau belum mencapai tujuan yang telah 1 Evaluasi kurikulum tersebut harus diselenggarakan secara terstruktur dan sistematis yang sesuai dengan landasan evaluasfi kurikulum sehingga hasilnya akan sesuai dengan kebutuhan intropeksi pelaku-pelaku pendidikan maupun masyarakat pada umumnya. Pemahaman atas dasardasar atau landasan ini sangat penting, jika peneliti mengabaikan satu saja dari dasar-dasar tersebut, maka akan berakibat pada penelitiannya tidak berguna dan juga tidak akan mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Oleh karenanya evaluasi kurikulum ini harus dilakukan secara komprehensif guna mendapatkan hasil yang maksimal. Melalui pemahaman mengenai dasar-dasar atau landasan awal tentang evaluasi kurikulum akan sangat membantu para peneliti dalam merancang evaluasi kurikulum yang sesuai dengan kajian teoritis yang relevan. Proses eksplorasi dasar-dasar atau landasan ini menentukan keberhasilan penulis dalam penelitian yang lebih mendalam. 3 Salah satu dasar-dasar atau landasan ini adalah model evaluasi kurikulum. Model evaluasi kurikulum ini sangat banyak, namun kebanyakan yang paling mudah digunakan ialah model evaluasi kurikulum atkinson. Model evaluasi kurikulum atkinson ini memiliki tiga titik pokok, yakni perencanaan organisasi sekolah yang berkaitan dengan visi dan misi, proses pembelajaran di sekolah, dan perilaku peserta didik. Pada dasarnya ketiga elemen tersebut memiliki kedudukan yang sangat sentral dalam penyelenggaraan pendidikan. Keberhasilan mencetak output ulul albab4 sangat dipengaruhi oleh ketiga elemen tersebut. Visi dan misi sekolah dicetuskan agar sekolah dapat memiliki arah dalam penyelenggaraan pendidikan untuk mencapai cita-cita nasional Indonesia. Cita-cita nasional Indonesia yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan ini termaktub dalam pembukaan konstitusi UUD NRI 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu masih ada cita-cita nasional lain yang tidak tersebut secara eksplisit pembukaan UUD NRI 1945 yang memiliki peranan penting, yakni menciptakan manusia yang berketuhanan yang maha esa dan memiliki kepribadian yang luhur sebagaimana termaktub secara implisit dalam sila 1 dan 2 Pancasila. Nasution. Kurikulum Dan Pembelajaran (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2. Hlm. Berman Hutahaean. AuPengembangan Model Kurikulum Evaluasi Kurikulum Muldimensi Untuk Kurikulum Berbasis Kompetensi,Ay Cakrawala Pendidikan 2, no. : 168Ae86. Wina Sanjaya. Maanajemen Kurikulum (Jakarta: Rawamangun, 2. Hlm. Ciri-ciri seorang yang ulul albab ialah bersungguh-sungguh dalam tholabul Aoilmi, berpegang teguh pada kebaikan, kritis dalam berpikir, berperilaku mulia, dan menyampaikan ilmu yang ia peroleh. Lihat Azizah Herawati. AuKontekstualisasi Konsep Ulul Albab Di Era Sekarang,Ay Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah Dan Studi Keagamaan 3, no. : 123Ae40. Hlm. UUD NRI 1945 MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Selain itu, dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga dijelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi membentuk watak dan peradaban dalam rangkan mencerdaskan kehidupan bangsa yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik supaya menjadi insan yang beriman dan taat kepada Tuhan Yang maha Esa, sehar, berilmu, dan berakhlakul karimah. Oleh karena itu, melahirkan output pendidikan yang inteltual, taat pada tuhan, dan berakhlakul karimah merupakan cita-cita nasional yang diinginkan oleh bangsa Indonesia ini. Namun cita-cita nasional ini hanya merupakan landasan atau hukum dasar belaka. Dengan demikian, negara memberikan seluas-luasnya penyelenggaraan pendidikan kepada lembaga pendidikan asal tidak berhaluan dengan cita-cita nasional penyelenggaraan pendidikan. Namun fakta di lapangan membuktikan bahwa terkadang banyak lembaga pendidikan yang dalam penyelenggaraan pendidikan menghiraukan visi dan misi yang dibangunnya yang menyebabkan hambatan-hambatan yang berpengaruh pada sekolah tersebut maupun masyarakat Seakan visi dan misi yang telah ditetapkan sebelumnya hanya dijadikan pajangan belaka. Adapun contoh dalam hal ini ialah adanya kasus bullying yang dilakukan siswa kepada temannya di SMP Bandung pada pertengahan September 20227 dan kematian santri akibat kekerasan yang dilakukan oleh temannya yang juga santri di Pondok Pesantren Gontor. Ponorogo pada bulan September 2022 kemarin8. Oleh karena itulah maka sangat penting mengevaluasi kurikulum dengan model atkinson ini diberbagai jenis dan tingkatan lembaga pendidikan. Untuk membuktikan penerapan penelitian model evaluasi kurikulum pendidikan atkinson ini, penulis membatasi penelitian pada MAN 3 malang sebagai objek penelitiannya. Penelitiaan seperti ini harus sering dilakukan agar dapat dilihat apakah sekolah atau lembaga pendidikan itu telah sesuai dengan tujuannya atau tidak. Namun sebelum pembahasan lebih lanjut tentang penerapan model evaluasi kurikulum atkinson tersebut, perlu terlebih dahulu dipahami tentang konsep dasar model evaluasi kurikulum atkinson agar penelitian ini sesuai dengan kajian-kajian teroritis yang relevan. METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk jenis campuran penelitian kualitatif dan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif, penulis melakukan metode pengumpulan data melalui wawancara langsung kepada kepala UU Nomor 20 Tahun 2003. Achmad Hafidz. AuViral Aksi Bullying Siswa SMP di Bandung. Korban Ditendang Berkali-kali Sampai PingsanAy. Liputan 6, 20 November 2022, diakses 19 November 2022, https://w. com/citizen6/read/5129791/viral-aksi-bullying-siswa-smp-di-bandung-korban-ditendang-berkali- kalisampai-pingsan Dika Kardi. AuUsai Kasus Gontor. NU Jatim Bentuk Posko Awasi Kekerasan di PesantrenAy. CNN Indonesia. Minggu, 20 November 2022, diakses 25 September 2022, https://w. com/nasional/2022092502404320-852224/usai-kasus-gontor-nu-jatim-bentuk-posko-awasi-kekerasan-di-pesantren MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 madrasah dan waka ketertiban MAN 3 Malang dan melalui observasi pengamatan langsung penulis di MAN 3 Malang. 9 Sedangkan dalam penelitian kuantitatif, penulis melakukan pengumpulan data melalui survei terhadap jumlah monitoring skor siswa MAN 3 Malang semester ganjil tahun ajaran 2022/2023. Pada penelitian kualitatif, analisis penelitian ini dengan mendeskripsikan secara umum sebuah objek penelitian dan menjabarkan domain-domain untuk mengetahui strukturnya serta mencari benang merah yang menggabungkan domain-domain. 10 Sedangkan pada penelitian kualitatif, analisis penelitian ini dengan menggunakan rumus persentase dan hasil perhitungannya 11 Sementara itu dalam menerangkan konsep model evaluasi kurikulum atkinson, penulis memakai studi literatur . ibrary researc. dari berbagai buku dan jurnal ilmiah. Penelitian yang dilakukan oleh penulis juga termasuk jenis penelitian cross section, yakni penelitian yang variabelnya diukur sekali pada periode yang sama. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Evaluasi Kurikulum Pendidikan Menurut Wayan Nurkancana sebagaimana dinukil oleh Mohammad Adnan bahwa evaluasi merupakan suatu kegiatan atau proses guna menentukan nilai atas sesuatu. 13 Adapun pengertian evaluasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah suatu penilaian secara ekonomis dan teknis guna menguji keefektifan atau produktivitas suatu objek. 14 Sementara pengertian evaluasi pendidikan menurut Ralph Tyler sebagimana dinukil oleh Mohammad Adnan adalah suatu kegiatan pengumpulan data guna menentukan sejauh apa, dalam hal bagaimana, dan bagian mana suatu tujuan pendidikan itu telah tercapai. Selain itu, menurut Muhammad Zaini sebagaimana dikutip oleh Mohammad Adnan bahwa evaluasi pendidikan adalah suatu kegiatan dalam mempertimbangkan perlu atau tidak dalam memperbaiki sistem kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Kurikulum secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yang atas 2 kata, yakni curri yang artinya pelari dan curare yang artinya tempat berpacu. Adapun dalam bahasa Perancis, kurikulum Hamid Nasution. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif (Bandung: Tarsito, 2. Hlm. Hardani. Nur Hikmatul Aulia, and Dkk. Metode Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif (Yogyakarta: CV. Pustaka ilmu Group Yogyakarta, 2. Hlm. Muchlis Anshori dan Sri Iswati. Metodologi Penelitian Kuantitatif (Surabaya: Airlangga Press, 2. Hlm. Scott Menard. Longitudinal Research (California: Sage Publications, 2. Hlm. Mohammad Adnan. AuEvaluasi Kurikulum sebagai Kerangka Acuan Pengembangan Pendidikan Islam,Ay AlIdaroh 1, no. : 108Ae129. Hlm. Inda Putri Manroe. Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1st ed. (Surabaya: Greisinda Press Surabaya, 2. Hlm. Mohammad Adnan. AuEvaluasi Kurikulum sebagai. Ay, hlm. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 memiliki arti berlari. Sedangkan dalam bahasa Latin kurikulum disebut dengan courses yang artinya mata pelajaran yang harus ditempuh guna mendapatkan gelar. 16 Adapun pengertian kurikulum secara bahasa sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 Butir 19 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah seperangkat agenda atau rencana dan aturan tentang isi, tujuan, dan bahan pelajaran serta cara yang diterapkan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan aktivitas pembelajaran guna mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. 17 Adapun definisi kurikulum menurut Nana Syaodih Sukmadinata sebagimana dinukil oleh Fuja Siti Fujiawati adalah adalah suatu rencana yang dapat digunakan sebagai pegangan atau pedoman dalam kegiatan pembelajaran. Sedangkan pengertian kurikulum menurut Grayson sebagaimana dikutip oleh Eli Fitrotul Arofah adalah suatu perencanaan yang tersusun secara sistematis dalam bidang studi yang guna mencapai pengembangan strategi pembelajaran yang baik dan tujuan yang telah ditetapkan. Dari paparan tentang definisi evaluasi dan kurikulum diatas, maka dapat diperoleh suatu definisi tentang evaluasi kurikulum yang sangat bervariasi diantara para ahli. Menurut Webster sebagaimana dinukil oleh Mohammad Adnan bahwa evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dalam suatu pengembangan kurikulum yang mempunyai peranan penting, baik dalam penentuan kebijakan pendidikan pada umumnyabataupun dalam pengambilan keputusan pada umumnya yang kemudian hasilnya digunakan oleh para pengembang dan pemegang kebijaksanaan kurikulum . untuk perbaikan dalam pengembangan sistem pendidikan di waktu selanjutnya. Adapun pengertian evaluasi kurikulum menurut Pardomuan N. M Sinambela adalah suatu kegiatan meneliti kembali pada kurikulum yang telah dilaksanakan itu telah sesuai dengan tujuan atau tidak. Adapun pengertian evaluasi kurikulum pendidikan Islam menurut Mashudi sebagaimana dikutip oleh Tri Ari Laksono dan Imania Fatwa Izzulka adalah suatu penilaian terhadap segala hal yang berkaitan dengan kurikulum pendidikan Islam, mulai dari aspek psikologi dan spiritual karena Islam tidak hanya mengedepankan pengembangan anak didik dalam bidang intelektual saja, melainkan juga terhadap pengembangan religius dan akhlak. Adapun pengertian evaluasi kurikulum pendidikan Islam menurut Fitri sebagaimana dikutip oleh Tri Ari Laksono dan Imania Fatwa Izzulka Candra Yudi Hermawan dkk. AuKonsep Kurikulum Dan Kurikulum Pendidikan Islam,Ay Jurnal Mudarrisuna 10, no. : 34Ae44. Hlm. UU Nomor 20 Tahun 2003. Fuja Siti Fujiawati. AuPemahaman Konsep Krikulum Dan Pembelajaran Dengan Peta Konsep Bagi Mahasiswa Pendidikan Seni,Ay Jurnal Pendidikan Dan Kajian Seni 1, no. : 16Ae28. Hlm. Eli Fitrotul Arofah. AuEvaluasi Kurikulum Pendidikan,Ay Jurnal TawadhuAo 5, no. : 218Ae229. Hlm. Mohammad Adnan. AuEvaluasi Kurikulum sebagai. Ay, hlm. Pardomuan N. M Sinambela. AuKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan,Ay Jurnal Generasi Kampus 3, no. : 18Ae42. Hlm. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa terhadap hasil pembelajaran yang dilakukan di madrasah atau sekolah. Sedangkan pengertian evaluasi kurikulum pendidikan Islam menurut Tri Ari Laksono dan Imania Fatwa Izzulka sendiri adalah suatu kegiatan atau proses yang dilakukan dengan pengumpulan informasi yang berhubungan dengan kemajuan atau perkembangan peserta didik agar sesuai dengan tujuan kurikulum pendidikan yang telah Pada dasarnya evaluasi kurikulum pendidikan ini mempunyai 5 objek, diantaranya: Komponen tujuan, komponen tujuan ini selalu berkaitan dengan tujuan pada jenjang yang ada diatasnya yang meliputi tujuan institusional dan kemudian tujuan nasional yang merupakan landasan atau acuan dari seluruh komponen kurikulum. Tujuan dalam hal ini menjadi penting karena menentukan proses berjalannya pendidikan yang dilalui oleh peserta didik, oleh karenanya tujuan dalam hal ini harus telah dirumuskan secara jelas dan menggambarkan apa yang seharusnya dicapai dalam kegiatan pembelajaran. Komponen isi kurikulum, dalam hal ini mencakup seluruh materi yang diterapkan untuk mencapai tujuan kurikulum, baik tujuan institusional maupun tujuan nasional. Komponen isi kurikulum ini dapat meliputi garis-garis besar proses pembelajaran, mata pelajaran, dan lain-lain. Evaluasi terhadap komponen kedua ini pada dasarnya dapat dilakukan menggunakan dua cara, yakni mengevaluasi para peserta didik sebanyak mungkin sesuai tujuan yang telah ditetapkan sehingga memutuhkan waktu yang lama dan mengevaluasi beberapa sampel saja yang mewakili bentuk-bentuk tertentu sehingga mampu meminimalisisir waktu. Komponen strategi pembelajaran, dalam hal ini meliputi penunjang yang dibutuhkan untuk mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Penunjang dalam hal ini seperti pendekatan belajar, metode belajar, dan fasilitas pendidikan yang digunakan dalam proses pembelajaran. Komponen media, yakni sebuah perantara yang berisikan penjabaran atas kurikulum yang dapat membantu peserta didik mencerna pembelajaran, seperti pemberian modul atau buku pelajaran, penyampaian materi melalui LCD proyektor, pembelajaran berprogram, pemutaran video pembelajaran, dan lain-lain. Belajar mengajar, dalam hal ini yang menjadi fokus evalusi yakni seluruh rangkaian pembelajaran dalam proses belajar mengajar yang mencakup perumusan tujuan, metode Tri Ari Laksono and Imania Fatwa Izzulka. AuEvaluasi Pengembangan Kurikulum Pendidikan,Ay Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan 4, no. : 1Ae11. Hlm. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 pembelajaran, pendekatan pembelajaran, pemilihan materi pelajaran, kegiatan belajar, dan lainlain. Selain itu, persyaratan yang harus diperhatikan oleh peneliti dalam mengevaluasi kurikulum pendidikan, yakni: arus berorientasi pada tujuan, artinya tujuan institusional dan tujuan nasional sebagaimana diuraikan diatas merupakan titik utama yang paling menentukan karena yang menentukan proses pembelajaran itu dilakukan. Oleh karena itu, tujuan ini benar-benar harus diperhatikan dan tidak boleh luput dari peneliti karena merupakan landasan atau dasarnya. Harus berkesinambungan, artinya bahwa kegiatan evaluasi ini harus merupakan rangkaian kegitan yang benar-benar saling berkaitan dan terstruktur, yakni urut mulai tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penyimpulan akhir. Harus komprehensif, artinya evaluasi itu harus mencakup semua komponen secara terpadu yang meliputi tujuan, strategi pembelajaran, media pembelajaran, dan lain-lain. Disamping itu, hendaknya dalam mengevaluasi ini juga diiringi pendekatan agar diperoleh informasi yang . Harus berfungsi ganda, artinya kegiatan evaluasi ini bukan hanya untuk pembuatan keputusan di masa mendatang, melainkan juga untuk keperluan bagi sekolah yang diteliti. Harus berorientasi pada kriteria, artinya untuk mendapatkan informasi atas hasil evaluasi hendaknya didasarkan pada suatu kriteria yang telah ditetapkan seperti kriteria sasaran, keterampilan, keserasian, kepercayaan, objektifitas, dan lain-lain. Model Evaluasi Kurikulum Atkinson Model evaluasi kurikulum atkinson merupakan suatu proses penilaian yang diarahkan kepada 3 domain, yakni pertama, struktur, yaitu penilaian yang berkaitan dengan problematika perencanaan sekolah maupun organisasi sekolah. Perencanaan sekolah ini sangat berkaitan erat dengan visi dan misi sekolah yang telah ditetapkan sebeklumnya. Visi dan misi ini bertujuan sebagai pedoman bagi sekolah tersebut agar menjadi terarah. Kedua, proses, yaitu penilaian yang berkaitan dengan proses berlangsungnya pembelajaran di sekolah atau madrasah. Proses pembelajaran ini sangat berkaitan dengan pendekatan-pendekatan kurikulum yang diterapkan oleh sekolah bersangkutan. Ketiga. Pardomuan N. M Sinambela. AuKurikulum Tingkat Satuan . Ay, hlm. Pardomuan N. M Sinambela. AuKurikulum Tingkat Satuan. Ay, hlm. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 produk, yaitu penilain yang berkaitan dengan perilaku peserta didik sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran di sekolah atau madrasah. Penelitian Studi Lapangan Model Evaluasi Kurikulum Atkinson di MAN 3 Malang Madrasah Aliyah Negeri 3 Malang terletak di Jalan Trisula nomor 545. Desa Sumberoto. Kecamatan Donomulyo. Kabupaten Malang. Madrasah ini berdiri pada tahun 1989, saat masih pertama kali berdiri sekolah ini masih berstatus sekolah swasta dengan nama Madrasah Aliyah Fatahillah Darusalam. Kemudian sekolah ini berubah status menjadi sekolah negeri dengan nama MAN Sumberoto pada tahun 2009. Kemudian pada tahun 2017 sekolah ini berganti nama menjadi MAN 3 Malang. Pada tahun 2017 madrasah ini berubah status menjadi madrasah double degree, yakni pencampuran jurusan SMA/MA dan SMK/MAK menjadi satu. Jurusan setara SMA pada tahun 2022 adalah Matematika dan Ilpu Pengetahuan Alam (MIPA). Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Agama. Sementara itu dalam jurusan setara SMK/MAK terdapat Teknik Sepeda Motor (TSM). Teknik Keterampilan Tata Boga (KTB), dan Teknik Desain Grafis (KDG). Pada tahun 2022 madrasah ini memiliki 52 guru dan karyawan dan 546 jumlah siswa. Madrasah ini juga mempunyai ekstrakurikuler yang banyak, seperti futsal, sepak bola, bola voli, bola basket, bulu tangkis, tenis meja, atletik, pencak silat pagar nusa, qiroAoah, banjari, musik band, english club, seni tari, paduan suara, pramuka. OSIS. PMR. PMI. Paskibra. Karya Ilmiah Remaja (KIR), dan bimbingan olimpiade (Fisika. Kimia. Biologi. Matematika. Ekonomi. Geografi. PAI, bahasa Arab, dan bahasa Inggri. Saat ini MAN 3 Malang dipimpin oleh kepala madrasah bernama Drs. SuAoib. Madrasah ini mempunyai visi yakni mewujudkan generasi muslim yang unggul dalam prestasi, terampil serta berwawasan lingkungan. Selain itu madrasah ini memiliki misi sebagai . Menumbuhkan sikap, perilaku, dan amaliah keagamaan Islam. Melaksanakan bimbingan dan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, serta Islami (PAIKEMI) berwawasan IPTEK. Mengembangkan life skills/keterampilan dalam setiap aktivitas pendidikan untuk mengantarkan siswa siap hidup mandiri. Mewujudkan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang mendapatkan kepercayaan dari Madrasah ini juga mempunyai tujuan institusional yakni: Pardomuan N. M Sinambela. AuKurikulum Tingkat Satuan . Ay, hlm. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 . Menumbuhkan prestasi akademik maupun non akademik diberbagai tingkat. Meningkatkan sarana dan prasarana guna menunjang prestasi akademik maupun non akademik. Menciptakan output yang intelektual dan berakhlakul karimah. Analisis Model Evaluasi Kurikulum Atkinson di MAN 3 Malang Seperti telah diurakan pada sub bab pertama, bahwa model evaluasi kurikulum atkinson ini memiliki fokus pada 3 domain, yakni pertama, struktur, yaitu penilaian yang berkaitan dengan problematika perencanaan sekolah maupun organisasi sekolah. Kedua, proses, yaitu penilaian yang berkaitan dengan proses berlangsungnya pembelajaran di sekolah atau madrasah. Ketiga, produk, yaitu penilaian yang berkaitan dengan perilaku peserta didik sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran di sekolah atau madrasah. Berikut analisis domain yang menjadi fokus model evaluasi kurikulum . Struktur Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap bapak Drs. SuAoib selaku kepala madrasah MAN 3 Malang bahwa problematika yang saat ini dialami oleh MAN 3 Malang ialah kurangnya fasilitas untuk pengembangan ekstrakurikuler, menurunnya prestasi akademik, dan non akademik, dan kurangnya output MAN 3 Malang yang melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi. Beliau menuturkan bahwa problematika pertama dan kedua tersebut saling berpengaruh satu sama Kurangnya fasilitas untuk pengembangan ekstrakurikuer, seperti masih belum dibangunnya gedung khusus ekstrakurikuer, belum adanya pelatih yang benar-benar tahu betul tentang ekstrakurikuler, dan lain-lain. Kurangnya ekstrakurikuler tersebut mengakibatkan prestasi akademik maupun non akademik menurun. Hal ini dikarenakan ekstrakurikuler merupakan sarana penunjang yang digunakan oleh siswa sebagai tempat latihan untuk menghadapi ajang-ajang perlombaan di luar, oleh karenanya diperlukan fasilitas-fasilitas yang memadai guna mewujudkan prestasi tersebut. Salah satu penulis yang juga alumni madrasah tersebut juga menuturkan bahwa selama 3 tahun sejak penulis bersekolah di madrasah tersebut, prestasi yang diraih baik akademik maupun non akademik memang menurun. Adapun dari pandangan dari salah satu penulis yang juga merupakan alumni sekolah tersebut bahwa faktor lain yang menjadi kunci menurunnya prestasi tersebut ialah karena tidak adanya regenerasi yang memang dipersiapkan secara komprehensif. Tidak adanya persiapan regenerasi yang dibina dengan baik tersebut sangat berdampak besar bagi tingkat prestasi siswa. Tanpa adanya bakat terampil guru dalam memoles siswanya, maka akan berakibat pula pada tidak atau kurangnya keterampilan dari siswa itu sendri sehingga akan kalah bersaing dengan siswa dari sekolah lain saat ada perlombaan atau kompetisi. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Sementara itu, menurut bapak SuAoib bahwa problematika ketiga ini menjadi problematika yang selalu muncul dan tidak hilang sejak pertama kali madrasah ini didirikan. Sejak pertama kali madrasah ini didirikan, madrasah ini belum pernah mencapai 50% outputnya yang melanjutkan studi di Perguruan Tinggi. Bapak SuAoib menyadari bahwa angka rendahnya siswa yang melanjutkan studi di Perguruan Tinggi tersebut dikarenakan wilayah kecamatan Donomulyo . etak madrasah in. memang termasuk wilayah pesisir yang umumnya SDM nya masih rendah. Hal inilah yang menurut beliau menjadi tanggungjawab guru MAN 3 Malang untuk berjuang memajukan SDM masyarakat kecamatan Donomulyo dengan berusaha mencetak output yang minimal berpendidikan sarjana. Menurut bapak SuAoib, sosialisasi pentingnya kuliah oleh guru dan alumni MAN 3 Malang yang kuliah tidak cukup untuk membuat para siswa tertarik kuliah, harus dibutuhkan pendekatanpendekatan lain seperti bimbingan test masuk kuliah sejak semester pertama kelas XII, bekerja sama dengan pihak lain untuk keperluan beasiswa kuliah, dan lain-lain. Proses Proses pembelajaran di MAN 3 Malang ialah berlangsung setiap hari senin hingga sabtu, untuk hari senin sampai jumAoat mulai pukul 07. 30 WIB, sedangkan untuk hari sabtu mulai 00 WIB. Berdasarkan observasi langsung dari penulis ke madrasah tersebut, pembelajaran di sekolah tersebut selain memang pembelajaran mata pelajaran sebagaimana sekolah lainnya, ada tambahan pembelajaran lain, yakni kebijakan wajib sholat dhuha dan dzuhur berjamaah, membaca surat Yasin sebelum pembelajaran dimulai, bimbingan baca Al-QurAoan (BBA), mendengarkan ceramah atau kultum setelah sholat dhuha selama 15-20 menit oleh perwakilan setiap kelas yang digilir, serta giliran sebagai muadzin di masjid Agung Sumberoto pada setiap kelasnya. Selain itu, pada saat perayaan hari besar Islam seperti Maulud Nabi. Tahun Baru Islam. IsraAo MiAoraj, dan lainlain juga sering dilakukan perlombaan Islami, seperti lomba khutbah, lomba baca kitab, lomba MTQ, lomba adzan, dan lain-lain. Menurut bapak SuAoib selaku kepala madrasah, bahwa pada dasarnya kebijakan pembelajaran keagamaan di luar kelas tersebut mempunyai tujuan penting, yakni untuk menciptakan output yang nantinya tidak hanya pandai dalam hal urusan duniawi semata, namun juga berperan dalam bidang keagamaan di masyarakat nantinya. Menurut beliau bahwa saat ini bimbingan moral dan keagamaan itu sangat penting, banyak orang yang cerdas dan menduduki jabatan tinggi akhirnya terjerumus di jeruji besi karena tidak adanya bimbingan moral dan keagamaan yang mampu mengontrolnya. Beliau menambahkan bahwa moral atau perilaku siswa di dalam kelas maupun lingkungan kelas ini dijadikan penilaian dalam raport, jadi walaupun siswa sangat cerdas bahkan angka nilainya tertinggi MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 di kelas, namun jika ia berperilaku tercela dan sangat mengecewakan, maka madrasah tidak segansegan untuk tidak menaikkan kelas atau mengeluarkannya. Beliau berpendapat bahwa kebijakan dalam bidang moral dan keagamaan yang ketat ini semata-mata agar para siswa terbiasa yang menjadikan kebiasaan di masyarakat. Selain itu, dalam proses pembelajaran. MAN 3 Malang telah menerapkan media pembelajaran modern, yakni telah menerapkan LCD proyektor, sistem e-learning, pembuatan grup kelas via Whats App, pemutaran materi pembelajaran berbasis video via Youtube, dan pembelajaran daring via zoom meeting dalam keadaan tertentu, seperti banjir pada bulan Oktober 2022 kemarin yang melanda daerah Malang Selatan yang juga melanda MAN 3 Malang sehingga pembelajaran dialihkan daring selama seminggu. Dilihat dari media pembelajaran modern tersebut yang juga masih sedikit bersangkut paut dengan media pembelajaran daring yang lebih menekankan pembelajaran berbasis soft ware seperti pandemi Covid-19 tahun lalu, maka dapat dikatakan bahwa sekolah ini menerapkan pendekatan kurikulum teknologis. Pendekatan kurikulum teknologis ini sangat menekankan pada penggunaan teknologi modern sebagai sarana yang meudahkan siswa dalam belajar. Dengan tetap digunakannya pendekatan teknologis ini walapun sudah selesai pandemi Covid-19, maka MAN 3 Malang seakan berpendirian bahwa bencana bukanlah penghambat siswa dalam meraih pendidikan seperti saat keadaan banjir yang melanda MAN 3 Malang Oktober 2022 silam. Perilaku Berdasarkan observasi yang penulis lakukan di MAN 3 Malang secara langsung bahwa siswa MAN 3 Malang sangat ramah kepada orang lain dan memiliki tutur kata yang baik. Selain itu dalam daftar buku skor pelanggaran siswa yang dilihat penulis secara langsung juga mendapatkan hasil bahwa tidak ada satu pun siswa yang mendapatkan skor diatas 30, bahkan menurut bapak Dadin Hidayat. Pd selaku waka ketertiban mengatakan bahwa sejak tahun 2018 hingga 2022 tidak ada siswa MAN 3 Malang yang keluar karena skornya melebihi 100. Menurut bapak Dadin Hidayat bahwa jumlah sedikitnya pelanggar tata tertib madrasah ini menggambarkan keberhasilan para guru dalam mendidik akhlak para siswa. Beliau menuturkan bahwa resep keberhasilan tersebut salah satunya yang paling berperan besar ialah adanya kebijakan-kebijakan wajib madrasah dalam penanaman moral dan spriritual, seperti sholat dhuha dan dzuhur berjamaah, membaca surat Yasin Sutiah. Slamet, dkk. AuImplementation of Distance Learning During The Covid-19 Pandemic in Faculty of Education and Teacher Training,Ay Cypriot Journal of Educational Sciences 15, no. : 1204Ae1214, https://doi. org/10. 18844/CJES. V15I5. Hlm. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 sebelum pembelajaran dimulai, bimbingan baca Al-QurAoan (BBA), mendengarkan ceramah atau kultum setelah sholat dhuha selama 15-20 menit oleh perwakilan setiap kelas yang digilir, serta giliran sebagai muadzin di masjid Agung Sumberoto pada setiap kelasnya. Tabel 1. Skor pelanggaran siswa MAN 3 Malang pada semestaer ganjil tahun ajaran 2022/2023: Jumlah Skor Jumlah Siswa Jumlah Dari data diatas, maka dapat dijadikan persentase sebagai berikut: Jumlah skor 0 = 531/546 x 100 = 97,25 % . Jumlah skor 1-20 = 13/546 x100 = 2,38% . Jumlah skor 21-40 = 2/546 x 100 = 0, 36% Pada dasarnya perolehan persentase jumlah siswa yang tidak melanggar tata tertib yang mencapai 97% ini sangat menakjubkan. Angka persentase ini menunjukkan tingginya tingkat kedisplinan dan ketaatan siswa MAN 3 malang. Disamping itu, dari persentase dan pemaparan oleh Bapak Dadin diatas, maka keberhasilan ketaatan dan ketertiban siswa MAN 3 Malang ini juga dipengaruhi oleh diterapkannya pendekatan kurikulum humanistik, yakni implementasi nilai-nilai tasawuf kepada siswa MAN 3 Malang. Adapun implementasi nilai-nilai tasawuf yang dikembangkan di MAN 3 Malang ini ialah tahapan tasawuf perspektif Imam Al-Ghazali. Adapun tahapan-tahapan tasawuf tersebut ialah takhali, tahalli, dan tajalli. Takhalli merupakan upaya membersihkan diri dari berbagai macam sifat tercela, penyakit hati, dan kotoran yang dapat merusak. Dengan kata lain bahwa takhalli ini ialah fase menyucikan jiwa dari berbagai keburukan sehingga mampu menumbuhkan akhlak dan moral yang terpuji. Praktik takhalli ini biasanya ialah menekankan ibadah-ibadah wajib dan sunnah dengan ketaatan yang tinggi dan mengurangi nafsu sedapat mungkin MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 sehingga akan mengosongkan jiwa dari berbagai sifat-sifat tercela. Di MAN 3 Malang tersebut bentuk implementasi takhalli ialah kebijakan untuk melakukan ibadah shalat dhuha dan dzuhur. Tahalli ialah menghiasi atau mengisi jiwa dengan perbuatan-perbuatan terpuji. Pada dasarnya tahalli ini merupakan kelanjutan dari tahalli, yakni setelah upaya pengosongan jiwa dari perbuatanperbuatan tercela, maka langkah selanjutnya ialah mengisi jiwa yang kosong tersebut dengan kebaikan-kebaikan. Adapun bentuk implementasi tahalli ini di MAN 3 Malang ialah dengan kebijakan bimbingan baca Al-QurAoan, dan membaca surat Yasin sebelum pembelajaran dimulai. Dengan demikian maka dapat ditarik benang merah bahwa antara takhalli dengan tahalli ini merupakan suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan, penerapan takhalli dan tahlili secara beriringan ini semata-mata ialah untuk mewujudkan siswa yang taat dan berakhlak mulia, bukan hanya menonjolkan akademis atau kemampuan intelektual belaka. Selanjutnya ialah tajalli, yakni tersingkapnya cahaya atau nur ghaib setelah proses takhalli dan tahalli. Maksudnya ialah bahwa orang yang telah mencapai tahap takhalli dan tahalli harus dituntut untuk istiqomah didalamnya. Sikap istiqomahnya siswa MAN 3 Malang ini dapat dilihat dari cara mereka menjalankan ibadah dan sikapnya kepada masyarakat. Dari beberapa uraian domain model evaluasi kurikulum atkinson diatas, maka penulis menarik benang merah bahwa pada dasarnya tujuan maupun visi dan misi MAN 3 Malang itu ada sebagiannya yang berhasil dicapai dan ada sebagian lainnya tidap dapat dicapai. Pada dasarnya tujuan maupun visi dan misi MAN 3 Malang tersebut mempunyai titik pokok pada pembentukan siswa yang berprestasi dan berakhlakul karimah atau keseimbangan duniawi dan ukhrawi. Pada sisi pembentukan siswa yang berprestasi yang dalam hal ini terbagi menjadi 2, yakni akademik dan non akademik, mengalami penurunan tiap tahun atau generasinya dikarenakan kurangnya fasilitas dalam pengembangan ekstrakurikuler dan tidak adanya regenerasi yang terstruktur dan baik, maka disini dapat disimpulkan bahwa pada sisi pembentukan siswa yang berprestasi ini belum sepenuhnya terwujud di MAN 3 Malang. Selanjutnya pada sisi pembentukan siswa yang berakhlakul karimah yang dari uraian diatas dinyatakan bahwa siswa MAN 3 Malang memiliki tingkat kesopanan yang tinggi, tutur kata yang baik, tidak adanya siswa yang mendapatkan skor diatas 30, dan tidak adanya siswa yang keluar madrasah dikarenakan skor telah berjumlah 100 sejak tahun 2021 hingga 2022, maka dapat disimpulkan bahwa pada sisi pembentukan siswa yang berakhlakul karimah ini benarbenar terwujud. Nur Yasin dan Sutiah Sutiah. AuPenerapan Nilai-Nilai Tasawuf Dalam Pembinaan Akhlak Santri Pada Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang,Ay Al-Musannif 2, no. : 49Ae68, https://doi. org/10. 56324/almusannif. Hlm. Nur Yasin dan Sutiah Sutiah. AuPenerapan Nilai-Nilai. , hlm. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 KESIMPULAN Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian evaluasi kurikulum merupakan suatu proses penilaian terhadap tujuan, isi, dan hasil proses pembelajaran yang saling berkerkaitan untuk mengukur apakah telah mencapai atau belum tujuan kurikulum yang telah ditetapkan. Pada dasarnya evaluasi kurikulum ini mempunyai 5 objek, yaknikomponen tujuan, komponen isi kurikulum, komponen strategi pembelajaran, komponen media, dan komponen proses belajar Selain itu terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penelitian evaluasi kurikulum, yakni harus berorientasi, harus berkesinambungan, harus komprehensif, harus berfungsi ganda, dan harus berorientasi pada kriteria. Model evaluasi kurikulum atkinson merupakan suatu proses penilaian yang diarahkan kepada 3 domain, yakni pertama, struktur, yaitu penilaian yang berkaitan dengan problematika perencanaan sekolah maupun organisasi sekolah. Kedua, proses, yaitu penilaian yang berkaitan dengan proses berlangsungnya pembelajaran di sekolah atau Ketiga, produk, yaitu penilain yang berkaitan dengan perilaku peserta didik sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran di sekolah atau madrasah. Dalam penelitian model evaluasi kurikulum atkinson di MAN 3 Malang, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya titik pokok tujuan, visi, dan misi MAN 3 Malang adalah untuk membentuk siswa yang berprestasi dan berakhlakhul karimah yang seimbang dalam pemikiran tentang duniawi dan ukhrawi. Namun berdasarkan hasil penelitian, hanya pembentukan siswa yang berakhlakul karimah yang berhasil terwujud karena memang sekolah menggembleng siswa dengan kegiatan wajib di luar kelas dengan hal-hal pendidikan moral dan keagamaan seperti sholat dhuha dan dzuhur berjamaah, bimbingan baca Al-QurAoan (BBA), mendengarkan ceramah atau kultum setelah sholat dhuha selama 15-20 menit oleh perwakilan setiap kelas yang digilir, serta giliran sebagai muadzin di masjid Agung Sumberoto pada setiap kelasnya. Sedangkan untuk pembentukan siswa yang berprestasi tidak terwujud karena masih adanya hambatan-hambatan seperti kurangnya fasilitas dalam pengembangan ekstrakurikuler dan tidak adanya regenerasi yang terstruktur dan baik. DAFTAR PUSTAKA