PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Email : pintoe@utu. Volume 2 | Nomor 2 | Desember 2024 e-ISSN: & p-ISSN: Doi Submitted: 13/09/2024 Accepted: 29/12/2024 Published: 31/12/2024 Meningkatkan Sinergiritas dan Percepatan Penurunan Stunting dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Desa Lipat Kajang. Aceh Singkil Rizka Amanda1*. Zihan Fazira2. Sarmila Putri3. Sri Lathifah4. Anarida5. Maman Riski2. Nani Nurkhalifa6. Iwan Doa Sempena7 1Program Studi Teknik Mesin. Fakultas Teknik. Universitas Teuku Umar 2Program Studi Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi. Universitas Teuku Umar 3Program Studi Teknik Informasi. Fakultas Teknik. Universitas Teuku Umar 4Program Studi Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Teuku Umar 5Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Teuku Umar 6Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Teuku Umar 7Program Studi Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Teuku Umar Email Korespodensi: rizkaamanda33@gmail. ABSTRAK Stunting merupakan masalah kesehatan yang kompleks di Indonesia yang memengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak-anak, terutama akibat kekurangan gizi kronis. Untuk mengatasi masalah ini, program pengabdian masyarakat oleh mahasiswa Universitas Teuku Umar dilakukan di Desa Lipat Kajang. Kecamatan Simpang Kanan. Kabupaten Aceh Singkil. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai pencegahan stunting melalui PemberianMakanan Tambahan (PMT). Melalui serangkaian pelatihan dan edukasi, terjadi peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan masyarakat dari 20% menjadi 80%, dan keterampilan dari 30% menjadi 90%. Program ini juga mendapat respons positif dari masyarakat, khususnya para ibu, yang merasakan manfaat dari makanan olahan yang mudah dipraktikkan dan efektif dalam mencegah Hasil program ini menunjukkan bahwa edukasi berkelanjutan dan intervensi yang terkoordinasi dapat secara efektif meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak-anak di desa Dengan demikian, diperlukan perluasan program ini ke wilayah lain untuk memperluas Kata kunci: Stunting. PMT. gizi seimbang. kesehatan anak. ABSTRACT Stunting is a complex health issue in Indonesia that affects the physical growth and cognitivedevelopment of children, primarily due to chronic malnutrition. To address this issue, a community service program by students of Universitas Teuku Umar was conducted in LipatKajang Village. Simpang Kanan District. Aceh Singkil Regency. The program aimed to enhance community knowledge and skills in stunting prevention through the provision of Supplementary Feeding (PMT). Through a series of training and education sessions, there was a significant increase in community knowledge from 20% to 80%, and skills from 30% to 90%. The program also received positive feedback from the community, especially from mothers who found the prepared foods easy to implement and effective in preventing stunting. The results of this program demonstrate that sustained education and coordinatedinterventions can effectively improve the health and well-being of children in the village. Therefore, the expansion of this program to other areas is necessary to broaden its impact. Keywords: Stunting. PMT. child health. PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Amanda et al PENDAHULUAN Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat prevalensi stunting yang cukup tinggi dibandingkan negara-negara berpendapatan menengah lainnya adalah Indonesia. Jika masalah ini tidak ditangani, dapat berdampak negatif pada kinerja pembangunan Indonesia, mencakup pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan Anak-anak yang lahir sehat dan mendapatkan pendidikan berkualitas berpotensi menjadi generasi yang mendukung kesuksesan pembangunan negara. Sebaliknya, stunting dapat menyebabkan penurunan IQ anak Indonesia sebesar 10Ae15 poin, berdampak pada prestasi akademik yang buruk, dan diperkirakan membuat mereka memperoleh pendapatan 20% lebih rendah di masa depan, yang pada gilirannya dapat memperburuk kemiskinan dan mengancam masa depan generasi mendatang [Latifa, 2. Stunting pada anak-anak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang paling penting di Indonesia. Masalah ini sangat serius karena berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit dan kematian, obesitas, serta penyakit tidak menular di masa depan. Stunting juga dapat menyebabkan pertumbuhan fisik yang terhambat, perkembangan kognitif yang buruk, serta rendahnya produktivitas dan pendapatan di kemudian hari. Dengan kata lain, stunting dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan. [Paramashanti et al. , 2. Menurut Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 37,2%. Pemantauan Gizi Tahun 2016 menunjukkan angka prevalensi sebesar 27,5%, sementara WHO menetapkan batas normal stunting adalah di bawah 20%. Hal ini mengindikasikan bahwa sekitar 8,9 juta anak di Indonesia, atau 1 dari 3 anak, mengalami stunting. Selain itu, lebih dari sepertiga anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia memilikitinggi badan di bawah rata-rata. [Kementerian Desa. Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, 2. Ada beberapa penyebab stunting pada anak balita, yang dapat dikategorikan menjadi dua kelompok: faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor langsung meliputi kekurangan nutrisi pada ibu, kehamilan pramatang, pemberian makanan yang tidak memadai, kurangnya ASI eksklusif, serta infeksi. Sementara itu, faktor tidak langsung meliputi aspek pelayanan kesehatan, pendidikan, kondisi sosial budaya, dan sanitasi lingkungan. [WHO 2. Menurut penelitian Verawati Simamora tahun 2019, stunting pada anak disebabkan oleh berbagai faktor, baik langsung maupun tidak langsung. Faktor langsung sering kali terkait dengan kurangnya asupan gizi dan adanya infeksi, sedangkan faktor tidak langsung mencakup rendahnya pendidikan dan pengetahuan ibu, kondisi ekonomi keluarga, status gizi, serta sanitasi air dan lingkungan. Kekurangan gizi, termasuk stunting, sering menjadi perhatian di banyak negara berkembang, bersama dengan masalah seperti underweight, wasting, dan defisiensi mikronutrien [Rizka, 2. Penanganan stunting adalah satu dari beberapa prioritas pembangunan nasional yang tercantum dalam RPJMN 2020-2024 dengan target penurunan angka stunting sebesar 11,8% pada tahun 2024. Fokus utama dalam penanganan stunting oleh Kementerian Kesehatan RI adalah memberikan intervensi gizi spesifik yang diberikan pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) [Wigati et al. , 2. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, dijelaskan bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang diakibatkan terjadinya kekurangan gizi kronis serta terjadinyainfeksi yang telah berulang, yang dapat dilihat dengan adanya kelainan pada PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Amanda et al tinggi atau panjang badan kurang dari standar yang telah ditetapkan oleh menteri kesehatan [Rahman et al. , 2. Untuk menurunkan stunting secara efektif, diperlukan strategi yang tepat guna menyelaraskan dan mengintegrasikan seluruh proses, mulai dari perencanaan, penganggaran, hingga pemantauan program pemerintah. Hal ini melibatkan koordinasi berbagai sumber daya secara konvergen. Selain itu, pendekatan intervensi harus terkoordinasi dengan baik, terintegrasi, dan sejalan dengan target serta indikator strategikonvergensi yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Penelitian terkait Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai upaya percepatan penurunan stunting menunjukkan bahwa pendekatan berbasis pangan lokal dapat membantu mengatasi stunting dengan meningkatkan ketersediaan makanan bergizi yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Misalnya, di Sumatera Utara. PMT dengan bahan lokal tak hanya meningkatkan asupan nutrisi tetapi juga melibatkan edukasi gizi, sehingga ibu dan keluarga bisa lebih mandiri dalam penyediaan makanan sehat bagi balita. PMT di wilayah ini diberikan setiap hari, termasuk setidaknya satu kali dalam seminggu berupa makanan lengkap untuk mendukung pemahaman tentang pola makan seimbang. Penelitian di Puskesmas Gunung Kaler. Tangerang, menunjukkan bahwa PMT yang mengandung kalori dan protein tinggi berdampak pada peningkatan tinggi dan berat badan balita stunting. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kepatuhan terhadap aturan konsumsi PMT serta pengawasan posyandu. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang bervariasi karena adanya tantangan, seperti keterbatasan sumber daya dan keikutsertaan masyarakat yang belum merata. Penelitian di Ngawi menunjukkan bahwa PMT dapat membantu mengurangi kasus stunting melalui peningkatan status gizi anak. Penggunaan bahan pangan lokal menjadi fokus utama sebagai bagian dari edukasi dan intervensi PMT dalam meningkatkan pemenuhan gizi anak, yang kemudian berdampak positif pada perkembangan fisik dan kognitif. Penelitian yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara menggunakan PMT berbahan lokal untuk mengurangi angka Program ini bertujuan untuk mendorong kemandirian keluarga dalam penyediaan makanan bergizi dengan memanfaatkan bahan pangan setempat. Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan berbasis pangan lokal efektif meningkatkan ketersediaan gizi di tingkat keluarga. Program "Temukan. Obati. Sayangi Balita Stunting" (TOSS) di Garut menggunakan PMT berbasis susu dan telur, yang diberikan pada anak usia 6-23 bulan. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan status gizi anak setelah program, dengan evaluasi menggunakan metode antropometri untuk melihat perubahan berat dan tinggi badan anak-anak penerima. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji strategi yang diterapkan oleh Desa Lipat Kajang dalam percepatan penurunan stunting serta pencapaian indikator dalam aksi konvergensi penurunan stunting yang telah dilaksanakan di Desa Lipat Kajang. METODE Pada tahap ini lokasi pelaksanaan praktik pembuatan makanan pencegahan stunting dilakukan di salah satu rumah warga desa Lipat Kajang. Kecamatan Simpang Kanan. Kabupaten Aceh Singkil. Program ini adalah salah satu langkah dari pengabdian kami kepada masyarakat melalui kelompok kkn. Kegiatan musyawarah atau diskusi bersama yang melibatkan berbagai pihak untuk membahas masalah stunting dan PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Amanda et al mencari solusi dalam menurunkan angka stunting di suatu wilayah. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Dalam rembug stunting, biasanya melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah daerah, tenaga kesehatan, masyarakat, serta organisasi nonpemerintah. Tujuannya adalah untuk melakukan identifikasi masalah, merancang program intervensi, serta memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program yang Ini juga menjadi forum untuk berbagi pengalaman, strategi, dan praktik terbaik dalam penanganan stunting. Kegiatan ini sangat penting karena stunting tidak hanya berdampak pada kesehatan anak, tetapi juga pada perkembangan kognitif dan produktivitas di masa depan. Dengan adanya rembug stunting, diharapkan solusi yang tepat dapat ditemukan dan diterapkan untuk mengatasi masalah ini secara efektif. Adapun Langkah-langkah Participatory Action Reseacrh (PAR) ini terdapat tiga, untuk melihat contohnya ada pada gambar 1 bagan aliran dibawah ini. Perencanaan dan Refleksi Pengamatan dan Evaluasi Pelaksanaan Program Gambar 1 Bagan Alir kegiatan PAR Perencanaan Dan Refleksi Langkah pertama adalah melakukan rembug stunting yang dimana langkah pertama dalam pelaksanaan rembug stunting perencanaan, sosialisasi mengenai stunting, dan pengumpulan data. Bentuk tim yang akan bertanggung jawab untuk mengorganisir rembug stunting. Tim ini biasanya terdiri dari perwakilan pemerintah daerah, dinas kesehatan, kader posyandu, tokoh masyarakat, dan pihak terkait lainnya. Kemudian kumpulkan data mengenai kondisi kesehatan balita di wilayah tersebut, seperti status gizi, tinggi badan, dan berat badan. Data ini bisa diperoleh dari posyandu. Puskesmas, atau survei lapangan. Setelahnya lakukan analisis terhadap data yang telah dikumpulkan untuk memahami penyebab stunting di wilayah tersebut. Ini termasuk melihat faktor-faktor seperti sanitasi, pola makan, akses terhadap layanan kesehatan, dan pendidikan ibu. Gambar 2 Perencanaan Rembug Stunting PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Amanda et al Pengamatan dan Evaluasi Langkah kedua yaitu dilakukannya pengamatan atau pengontrolan manfaat produk bagi masyarakat, apalagi terutama terhadap balita. Tahap ini jugadilakukan pengamatan terhadap kandungan produk yang dibuat agar bisa memiliki kandungan gizi yang baik untuk pencegahan stunting. Gambar 3 Diskusi Bersama Anggota Kelompok Pelaksanaan Program Langkah ketiga yaitu tahap pelaksanaan program yang meliputi sebagai Pelaksanaan Posyandu di Desa Lipat Kajang. Kec. Simpang kanan. Kab. Aceh Singkil Proses pelaksanaan Posyandu yang bertujuan untuk Pemeriksaan Kesehatan. Imunisasi. Pemberian Makanan Tambahan. Penyuluhan Kesehatan. Pencatatan dan Pelaporan. Posyandu melibatkan kader kesehatan yang terlatih serta bekerja sama dengan tenaga medis dan masyarakat setempat. Pelaksanaan Posyandu bertujuan untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak-anak. Gambar 4 Pelaksanaan Posyandu di Desa Lipat Kajang. Kec. Simpang Kanan. Kab. Aceh Singkil PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Amanda et al Proses Pembuatan sekaligus Pembagian Makanan Tambahan (PMT) Proses pembuatan dan pembagian makanan tambahan (PMT) yang bertujuan untuk untuk menyediakan nutrisi tambahan yang dapat melengkapi asupan harian. Produk ini dirancang untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran, baik dengan mendukung sistem kekebalan tubuh, kesehatan jantung, tulang, maupun membantu pemulihan setelah sakit. Selain itu, makanan tambahan juga berfungsi untuk mengatasi kekurangan gizi yang dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti defisiensi vitamin atau mineral Pada masalah ini kami membuat dan membagikan makanan tambahan kepada bayi, balita, dan ibu hamil. Gambar 5 Bahan dan proses pembuatan sekaligus pembagian PMT HASIL DAN PEMBAHASAN Program kerja mahasiswa Universitas Teuku Umar di bidang sosial bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan para ibu mengenai pentingnya Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil. Kegiatan ini berfokus pada peran penting PMT dalam mendukung tumbuh kembang ibu hamil dan balita, memperkuat daya tahan tubuh mereka, serta menyediakan olahan makanan dari tahu, kentang, bakso dengan kuah kacang yang cocok untuk ibu hamil dan balita dikarenakan Olahan tahu, kentang, dan bakso dengan kuah kacang memiliki beberapa manfaat. Tahu dan bakso mengandung protein yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan otot serta jaringan tubuh ibu hamil dan balita, kentang merupakan sumber karbohidrat yang memberikan energi untuk aktivitas sehari-hari ibu hamil maupun balita, dan kuah kacang bermanfaat untuk menjaga kesehatan pencernaan serta untuk kesehatan jantung Karena kacang tanah mengandung lemak tak jenuh tunggal dan tak jenuh Kemudian olahan bubur untuk bayi yang terbuat dari pisang, santan, roti, dengan cara pembuatannya dihaluskan terlebih dahulu kemudian dikukus didalam panci, sebagai makanan pendamping ASI (MPASI) yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan energi dan gizi yang tidak dapat dipenuhi oleh ASI saja. MPASI juga dapat membantu bayi belajarmakan dan mengembangkan kebiasaan makan yang baik. PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Amanda et al Gambar 6 Beberapa makanan PMT yang telah di olah untuk diberikan kepada masyarakat Alur pembuatan makanan pencegahan stunting ini dilakukan pada salah satu rumah warga di desa Lipat Kajang. Kecamatan Simpang Kanan. Kabupaten Aceh Singkil. Aceh. Indonesia. Setelah diberikan penjelasan mengenai fungsi, vitamin dan manfaat lainya, selanjutnya kami membagikan satu persatu makanan yang telah dibuat untuk disantap Bersama keluarga. Sekitar 90% para ibu-ibu yang merupakan peserta dari pelatihan ini percaya akan kualitas serta manfaat akan makanan ini, dan para peserta memberikan pendapat yang positif terhadap pelaksanaan kegiatan kami ini. Makanan olahan yang kami lakukan sangat disukai oleh warga desa Lipat Kajang, selain mudah didapatkan dan pembuatannya yang praktis, makanan ini juga sangat sehatdikonsumsi dan sangat baik untuk balita maupun ibu hamil agar menujang Untukmenghindari stunting, sangat penting dilihat dari segi makanan terlebih dahulu apalagi untuk anak-anak usia 1 tahun keatas, dengan bertambahnya usia anakanak maka kebutuhan sudah pasti ikut bertambah dan makanan yang bergizi perlu dilihat agar nutrisi dan pemberian makanan yang lebih mudah diserap tubuh lebih banyak untuk tumbuh kembang anak secara optimal. Gambar 7 Proses Pengolahan Makanan Untuk Ibu Hamil Gambar 8 Proses Pengolahan Makanan Bayi PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Amanda et al Gambar 9 Proses Olahan Makanan Pencegahan Stunting Dalam proses pembuatan makanan, sangat penting melibatkan ibu-ibu dan masyarakat di Desa Lipat Kajang. Hal ini karena ibu-ibu memiliki keahlian dalam memasak dan bisa berperan dalam meningkatkan asupan nutrisi anak-anak. Ibu-ibu diajak untuk memasak bersama sambil diberikan edukasi mengenai berbagai bahan makanan dan kandungan nutrisinya, agar mereka lebih paham dalam memilih makanan yang sehat dan berkualitas untuk keluarga mereka. Gambar 10 Pembagian makanan (PMT) Dalam pelaksanaan pembagian makanan, salah satu warga Desa Lipat Kajang turut Diharapkan, melalui kegiatan berbagi makanan ini, dapat mendukung upaya mengurangi kasus stunting yang terjadi di desa lipat kajang. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menambah pengetahuan masyarakat Desa lipat kajang, sehingga mereka lebih memperhatikan nutrisi dan tumbuh kembang anak-anak, agar kita semua bisa terbebas dari masalah stunting. Melalui kegiatan PMT, orang tua lebih sadar akan pentingnya kesehatan dan gizi anak. Ini juga mendorong partisipasi aktif masyarakat PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Amanda et al dalam kegiatan kesehatan dan gizi di lingkungan mereka. Program PMT merupakan langkah strategis dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat, terutama dalam mengatasi masalah stunting dan kekurangan gizi pada anak-anak di Indonesia. Gambar 11 Bidan Posyandu Turut Memberikan Edukasi Kepada Warga Desa Lipat Kajang Gambar 12 Grafik Peningkatan pengetahuan hasil pelatihan Sebelum dilaksanakan pelatihan dan penyuluhan terkait stunting dan pentingnya pemberian makanan tambahan (PMT), tingkat pengetahuan dan keterampilan masyarakat relatif rendah, yaitu masing-masing persentase berada di 20% dan 30%. Namun, setelah dilaksanakannya pelatihan, terjadi peningkatan yang signifikan, dengan pengetahuan masyarakat meningkat menjadi 80% dan keterampilan meningkat menjadi 90%. Grafik ini menunjukkan bahwa pelatihan dan edukasi yang diberikan kepada masyarakat sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman mereka tentang pentingnya nutrisi dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dalam mencegah stunting pada anak- anak. Selain itu, hal ini juga menandakan bahwa masyarakat menjadi lebih terampil dalam menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan. PINTOE: PENGABDIAN TEUKU UMAR Amanda et al SIMPULAN DAN SARAN Program pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Teuku Umar di Desa Lipat Kajang berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pencegahan stunting melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Sebelum pelatihan, tingkat pengetahuan dan keterampilan masyarakat relatif rendah, namun setelah pelatihan, terjadi peningkatan signifikan dengan pengetahuan masyarakat mencapai 80% dan keterampilan mencapai 90%. Program ini juga mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat, terutama ibu-ibu, yang merasa makanan olahan yang diajarkan bermanfaat dan mudah diimplementasikan untuk mencegah stunting pada anak-anak mereka. Diharapkan agar program Program edukasi dan sosialisasi tentang gizi seimbang dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) perlu dilanjutkan dan diperluas ke desa-desa lain di Kecamatan Simpang Kanan. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan seperti bidan dankader posyandu harus diperkuat, dan pemerintah desa diharapkan aktif mendukung dengan menyediakan bahan makanan dan memfasilitasi pelatihan tambahan untuk memastikan keberlanjutan program. DAFTAR PUSTAKA