TERAPI MUSIK KLASIK TERHADAP KECEMASAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA DI RUMAH SAKIT PELNI JAKARTA Abstrak STUDI KASUS Balqis Halwa Rifqanti Buntar Handayani2* Sri Atun Wahyuningsih3 1Departemen Jiwa dan Komunitas. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia 2Departemen Jiwa dan Komunitas. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia 3Departemen Jiwa dan Komunitas. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia *Korespondensi: Buntar Handayani email: handayanibuntar@akper-pelni. Kata Kunci: Gagal Ginjal Kronik Terapi Musik Klasik Tingkat Kecemasan Latar Belakang: Kecemasan merupakan suatu tanda yang memperingatkan tentang adanya ancaman disertai respons perasaan takut, memungkinkan individu mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman seperti persaingan, bencana yang berdampak pada kesehatan fisik maupun mental. Kecemasan dapat terjadi pada individu yang mengalami ketidakstabilan emosi dalam suatu tindakan yang berdampak pada kualitas hidup mereka, seperti penderita penyakit degeneratif. Terdapat cara untuk menurunkan kecemasan yaitu dengan farmakologi dan nonfarmakologi, salah satu tindakan untuk menurunkan kecemasan dengan nonfarmakologi yaitu dengan meditasi berupa mendengarkan musik klasik Beethoven, yang dapat memberikan ketenangan dan kenyamanan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan rancangan studi kasus. Kuesioner penelitian ini menggunakan skoring HARS (Hamilton Anxiety Rating Scal. , lembar observasi sebelum dan sesudah, dan SOP terapi musik klasik. Penelitian ini dilakukan dalam 4 kali pertemuan setiap jadwal hemodialisa dengan durasi 30 menit. Hasil: Penelitian pada kedua responden menunjukkan penurunan tingkat kecemasan. Terbukti adanya penurunan skor tingkat kecemasan setelah dilakukannya terapi musik klasik Beethoven pada responden I yaitu skor 25 . ecemasan sedan. menjadi 18 . ecemasan ringa. , dan pada responden II skor 27 . ecemasan sedan. menjadi 14 . ecemasan Ringa. Kesimpulan: Terjadinya penurunan tingkat kecemasan pada pasien GGK yang menjalani hemodialisa dengan kecemasan setelah diberikan terapi musik klasik Beethoven selama 4 kali pertemuan sesuai jadwal hemodialisa. Saran dari penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi durasi penggunaan terapi musik klasik Beethoven dan dapat meningkatkan pengetahuan terkait intervensi. Diterima: 03 Juli 2025 Diperbaiki: 17 Juli 2025 Dipublikasikan: 31 Juli 2025 E-ISSN Sitasi artikel ini: Rifqanti. Handayani. , & Wahyuningsih. Terapi Musik Klasik Terhadap Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Di Rumah Sakit Pelni Jakarta. Volume 2 . , 25-33. https://journal. id/index. php/jkpp PENDAHULUAN Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang sering disebut dengan Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan penyakit degeneratif yang telah mencapai tahap akhir dan tidak dapat disembuhkan . (Kovesdy, 2. Penyakit ini menyebabkan hilangnya struktur fungsi ginjal, dan ketidakmampuan untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit (Cahyani et al. , 2. Angka kejadian GGK meningkat setiap tahun di dunia sebesar 9,1% (Kovesdy, 2. World Health Organization (WHO) tahun 2019, melaporkan 1,2 juta orang mengalami kematian akibat penyakit GGK, yang merupakan 15% dari populasi (Aditama et al. , 2. Perhimpunan Nefrologi Indonesia . melaporkan terdapat 12,5% orang di Indonesia menderita GGK. Provinsi DKI Jakarta berada di urutan ke-10 dalam hal jumlah penderita GGK Jurnal Keperawatan Degeneratif. Volume 1. Issue 2. Juli 2025 Rifqanti. Handayani. , & Wahyuningsih. A . e-ISSN: 3089-34337 sebesar 4,0% (Kemenkes RI, 2. Usia penderita GGK bervariasi dari tingkat prevalensi tercatat pada usia 45-54 tahun sebesar 5,64%, usia 55-64 tahun sebesar 7,21%, dan usia 65-74 tahun sebesar 7,48% (Kemenkes RI, 2. Penatalaksanaan untuk penderita GGK adalah dengan terapi hemodialisa dan transplantasi ginjal, di dunia yang menjalani terapi hemodialisa sebesar 0,041% dan trasplantasi ginjal sebesar 0,011% (Kovesdy, 2. Di Indonesia, penderita GGK yang menjalani terapi hemodialisa sebesar 19,3%, dan DKI Jakarta menduduki penderita terbanyak yang menjalani terapi hemodialisa yaitu sebesar 3,87% (Kemenkes RI, 2. Penatalaksanaan hemodialisa terdapat 2 cara pemasangan yang pertama penderita menggunakan CDL (Catheter Double-Lume. jangka panjang . ong ter. atau jangka pendek . hort ter. , dan yang kedua yaitu AV shunt atau Cimino (Lisnaw ati, 2. Penderita GGK yang menjalani hemodialisa akan mengalami banyak perubahan fisiologis maupun psikologis, yang berdampak pada kualitas hidup mereka dan seringkali menyebabkan kecemasan dan depresi (Jayanti & Sartika, 2. Karena kecemasan yang berlebihan disertai dengan respons yang tidak nyaman dan tidak terkendali terhadap sesuatu dapat menyebabkan perilaku yang tidak biasa, seperti panik tak terkendali atau bahkan bertindak tidak rasional dalam kehidupan sehari-hari, yang perlu diperhatikan (Fadhilah et al. , 2. Kelemahan fisik seperti kelelahan, gangguan tidur dan istirahat, masalah dengan eliminasi, dan masalah sirkulasi seperti pusing, kram pada kaki, anemia, dan edema (Cahyanti et al. , 2. Perubahan yang terjadi pada aspek psikologis dapat beragam mulai dari kesedihan, rasa putus asa, ketakutan berlebihan, memerlukan dukungan dari keluarga atau orang terdekat, dan bahkan mengalami gangguan kecemasan (Nurfajri & Widayati, 2. Terdapat masalah di dalam diri seseorang atau kecemasan dapat ditunjukkan oleh sesuatu yang lain, seperti kecewanya seseorang ketika yang diharapkannya tidak terjadi (Akbar et al. , 2. Kecemasan dapat muncul di mana saja dan kapan saja, seperti saat mengalami bencana, menderita penyakit kronis, sedang dalam proses penyembuhan dari penyakit, mengalami peristiwa yang merugikan atau ditinggalkan oleh orang tersayang (Wijaya et al. , 2. Salah satu cara untuk mengatasi kecemasan adalah dengan memberinya teknik distraksi seperti mendengarkan musik dengan didapatkan mengurangi kecemasan dan mengatasi masalah fisik, psikologis, kognitif, dan sosial (Kurniasih & Saputro, 2. Musik memiliki sifat universal yang membuat pendengarnya merasakan ketenangan dan kenyamanan yang dinilai dapat mempengaruhi suasana hati, dari bunyi, ritme, nada, dan alunan yang terkandung di dalamnya dapat mengaplikasi pikiran, memulihkan, menjaga kesehatan fisik, emosional, spiritual dan mental (Kurniasih & Saputro, 2. Riset penelitian yang dilakukan oleh Girsang et al . menunjukkan bahwa kecemasan pada pasien menurun dari yang cemas berat menjadi sedang. Penelitian Jayanti & Sartika . , dengan mendengarkan jenis musik klasik Beethoven yang menunjukkan hasil signifikan menurunkan tingkat kecemasan yang membuat ketenangan bagi pendengar. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Lina et al . setelah pemberian terapi musik klasik Beethoven terdapat penurunan kecemasan pada pasien. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah pentingnya pemberian terapi musik klasik Beethoven untuk menurunkan tingkat kecemasan terhadap pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di Rumah Sakit Pelni Jakarta. JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 RIFQANTI. HANDAYANI. , & WAHYUNINGSIH. e-ISSN: 3089-34337 METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pelaksanaan penelitian ini berlokasi di ruang Hemodialisa Rumah Sakit Pelni Jakarta dan berlangsung selama 4 kali pertemuan setiap jadwal HD responden dari tanggal 05 Agustus sampai 16 Agustus 2024 dengan durasi terapi yaitu 30 menit setiap pertemuannya. Populasi yang digunakan yaitu pasien yang memiliki diagnosa medis gagal ginjal kronik yang dirawat di Rumah Sakit Pelni Jakarta dengan sampel sebanyak 2 responden. Kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu berjenis kelamin laki-laki, berusia 40 sampai 60 tahun, responden yang menjalani HD < 2 tahun, mengalami kecemasan ringan dengan skor HARS 14-20 dan kecemasan sedang dengan skor HRAS 21-27, serta tidak mengalami gangguan pendengaran. Kriteria ekslusi dalam penelitian ini yaitu, responden yang tidak menyukai musik klasik dan responden yang tidak sadarkan diri. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, lembar wawancara, lembar kuesioner HARS (Hamilton Anxiety Rating Scal. , lembar observasi pre dan post, dan SOP terapi musik klasik. Teknik pengumpulan data yang digunakan dibagi menjadi 3 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan terminasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat. Etika Etika penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu, autonomy, beneficience, justice, nonmaleficience, veracity, fidelity, confidentiality, accountability. Nomor etik penelitian ini adalah 034/UPPM-ETIK/VI/2024. HASIL Responden I Gambar 1. Pengukuran Tingkat Kecemasan Pada Responden I Sebelum Dan Sesudah Pemberian Terapi Musik Klasik Beethoven Sumber: Data Primer . Berdasarkan gambar 1 memperlihatkan skor HARS observasi tingkat kecemasan sebelum dan setelah intervensi terapi musik klasik Beethoven. responden I telah dilakukan intervensi selama 4 kali pertemuan dan sebelum dilakukan intervensi penerapan terapi musik klasik Beethoven mendapatkan hasil skor skala HARS 25 kecemasan sedang, setelah intervensi skor HARS menjadi 24 dengan kecemasan sedang. Pertemuan ke-2 dengan skor skala HARS 24 dengan tingkat kecemasan sedang menjadi skor skala HARS 23 dengan tingkat kecemasan sedang. Pada pertemuan ke-3 dengan skor skala HARS 21 dengan tingkat kecemasan sedang menjadi skor skala HARS 20 dengan tingkat kecemasan ringan. Pertemuan terakhir JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Rifqanti. Handayani. , & Wahyuningsih. A . e-ISSN: 3089-34337 yaitu ke-4 dengan skor skala HARS 19 dengan tingkat kecemasan ringan menjadi skor skala HARS 18 dengan tingkat kecemasan ringantanda dan gejala perilaku kekerasan menggunakan lembar observasi Hasil penelitian adalah temuan-temuan yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan. Responden II Gambar 2. Pengukuran Tingkat Kecemasan Pada Responden I Sebelum Dan Sesudah Pemberian Terapi Musik Klasik Beethoven Sumber: Data Primer . Berdasarkan grafik diatas tingkat kecemasan responden II sebelum dilakukan intervensi penerapan terapi musik klasik Beethoven mendapatkan hasil skor skala HARS 27 kecemasan sedang pada pertemuan ke-1, setelah dilakukan intervensi terapi musik klasik Beethoven menjadi skor skala HARS 26 kecemasan Pertemuan ke-2 dengan skor skala HARS 24 dengan tingkat kecemasan sedang menjadi skor skala HARS 23 dengan tingkat kecemasan sedang. Pada pertemuan ke-3 dengan skor skala HARS 20 dengan tingkat kecemasan ringan menjadi skor skala HARS 19 dengan tingkat kecemasan ringan. Pertemuan terakhir yaitu ke-4 dengan skor skala HARS 17 dengan tingkat kecemasan ringan menjadi skor skala HARS 16 dengan tingkat kecemasan ringan. PEMBAHASAN Usia Karakteristik responden pada penelitian ini berada pada usia dewasa hingga masuk lanjut usia, yaitu responden I dengan usia 60 tahun dan responden II 45 tahun. Penelitian ini menjelaskan bahwa semakin meningkat usia, maka semakin tinggi resiko terkena penyakit kronis seperti gagal ginjal kronik, hal ini sejalan dengan penelitian Komariyah et al . yang menyatakan bahwa penyakit kronis muncul dan berkembang pada usia dewasa, karena sel-sel tubuh melemah seiring bertambahnya usia, termasuk jumlah nefron yang berfungsi pada ginjal, sehingga gagal ginjal kronik lebih sering terjadi pada usia dewasa hingga lansia. Tingkat kecemasan yang diderita responden II berusia 44 tahun yaitu dengan skor HARS 27 . ecemasan sedan. dan responden I berusia 60 tahun dengan skor HARS 25 . ecemasan sedan. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa usia yang lebih muda lebih mudah mengalami kecemasan dibandingkan usia yang lebih tua, dimana sejalan dengan JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 RIFQANTI. HANDAYANI. , & WAHYUNINGSIH. e-ISSN: 3089-34337 penelitian Rahman et al . bahwa pasien yang lebih muda daripada orang yang lebih tua dianggap rentan mengalami kecemasan, dan dapat dilihat jumlah skor HARS tiap responden. Jenis kelamin Responden I dan II berjenis kelamin laki-laki yang sudah menikah, menurut Rahman et al . bahwa gagal ginjal kronis pada orang dewasa dan lansia dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti gaya hidup yang tidak sehat, konsumsi suplemen energi yang berlebihan, kurang minum air putih, dan merokok, maka laki-laki lebih rentan terhadap gagal ginjal kronis karena perempuan lebih memperhatikan kesehatan mereka, menjaga pola hidup sehat dan juga lebih patuh terhadap penggunaan obat yang diperlukan. Ini juga sejalan dengan studi Komariyah et al . bahwa akibat faktor biologis seperti hormon dan perilaku hidup yang tidak sehat, laki-laki lebih rentan terhadap penyakit kronis, yang menunjukkan bahwa mayoritas pasien GGK adalah laki-laki. Kecemasan pada penelitian ini diderita oleh laki-laki dimana tanggung jawab laki-laki yang menafkahi keluarga dan menjadi tulang punggung bagi keluarga, hal ini tidak sejalan dengan penelitian Dame et al . yang menyatakan bahwa wanita lebih rentan mengalami kecemasan karena saat menghadapinya, wanita lebih sulit untuk mencari jalan keluarnya, sementara laki-laki masih berpikir rasional dalam menanggapi sesuatu persoalan sehingga wanita lebih mudah rentan mengalami cemas. Menurut penelitian dari Aulia & Slametiningsih . menyatakan bahwa pada pasien hemodialisa, tidak ada perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin dalam hal tingkat kecemasan. namun, lakilaki terkadang masih mampu menghadapi reaksi berbahaya, sedangkan wanita dianggap lebih peka dan mampu menggunakan perasaannya. Pendidikan Berdasarkan dengan tingkat pendidikan yang dimiliki responden yaitu responden II berpendidikan terakhir S1, dan responden I berpendidikan terakhir SMA/SMK sederajat. Penelitian menunjukkan bahwa penyakit gagal ginjal kronis dapat diderita baik dengan responden pendidikan yang tinggi maupun yang rendah yang tidak mempunyai kesadaran awal saat memiliki riwayat penyakit, hal ini tidak sejalan dengan Dame et al . yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan angka kesakitan adalah tingkat pendidikan, yang dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, seperti pemeliharaan kesehatan. semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, diharapkan keterpaparan terhadap penyakit juga akan menurun. Penelitian ini sejalan dengan Agustyowati et al . menyatakan bahwa meningkatnya jumlah pasien GGK disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melakukan pemeriksaan diri secara dini, pada tahap awal, pasien tidak merasakan keluhan khusus. Penelitian ini tentang kecemasan bahwa individu yang pendidikan tinggi maupun tidak, akan sama saja mengalami Menurut W. Stuart . menyatakan bahwa tingkat pendidikan juga mempengaruhi kecemasan seseorang dengan tingkat pendidikan yang rendah lebih cenderung mengalami kecemasan karena sulit berpikir logis dan menangkap informasi baru, termasuk tidak mampu menjelaskan masalah yang ada. Hal ini tidak sejalan dengan JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Rifqanti. Handayani. , & Wahyuningsih. A . e-ISSN: 3089-34337 penelitian Aulia & Slametiningsih . bahwa pendidikan tinggi akan memberikan pengetahuan yang luas yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku yang positif sehingga responden dapat menerima kondisi mereka. Pekerjaan Status pekerjaan yang dilakukan responden I yaitu tidak bekerja dan responden II sebagai karyawan swasta, terdapat hubungan antara pekerjaan dan penyakit gagal ginjal kronis, karena responden yang tidak bekerja akan mengalami pergerakan yang kurang pada kesehatan dirinya sementara yang bekerja akan lebih beresiko kehilangan pekerjaannya. Hal ini sejalan dengan Aulia & Slametiningsih . yang menyatakan bahwa individu yang bekerja akan menempatkan mereka pada risiko kehilangan pekerjaannya karena melemahnya jondisi tubuh dan fungsi psikososial dari dampak penyesuaian GGK. Sedangkan yang tidak bekerja akan berkurangnya pergerakan atau kontribusi pada kesehatannya baik fisik maupun psikologis, yang dapat membuat mereka rentan terhadap penyakit. Tingkat kecemasan dengan status pekerjaan juga berpengaruh dimana responden yang tidak bekerja akan mengalami risiko ekonomi sulit, sedangkan responden yang bekerja akan memiliki dukungan sosial yang besar dan ekonomi yang lebih baik. Hal ini juga sejalan dengan Aulia & Slametiningsih . menyatakan bahwa individu yang memiliki pekerjaan akan memiliki dampak yang sangat peting, yaitu pekerjaan dapat menjadi dukungan sosial, menambah kontribusi terhadap kualitas dan kepercayaan diri yang lebih tinggi. Lama terapi Responden I dan II menjalani HD selama 1 tahun lebih dan mengalami kecemasan sedang yang dimana kedua responden sedang berapa tahapan yang beradaptasi terhadap hemodialisa dan sejalan dengan Puspanegara . bahwa pasien yang masih baru menjalani terapi hemodialisis merasa cemas yang dimana melihat darah yang ada di selang kateter dialisa, suara alarm mesin dialisa yang berbunyi dan cemas karena penasaran sampai kapan penyakitnya diatasi. Dan juga sejalan dengan Agustyowati et al . menyatakan bahwa pasien yang baru menjalani hemodialisa mungkin mengalami kecemasan sedang hingga panik sebagai akibat dari proses terapi yang begitu lama karena keyakinan bahwa terapi HD dapat menyembuhkan penyakitnya. Dukungan keluarga Responden I mengalami penurunan skor kecemasan 18, responden II mengalami penurunan skor kecemasan 16. Hal ini membuktikan bahwa responden I dan II mengalami penurunan kecemasan dikarenakan mempunyai sistem pendukung yang adekuat dari keluarga. Dukungan keluarga yang baik dapat mendukung proses pengobatan dan terapi HD, yang akan membantu segala sesuatu dalam pengobatan baik fisik maupun psikologis. Hal ini sejalan dengan Agustyowati et al . bahwa dukungan keluarga dapat mempengaruhi hubungan yang kuat antara keluarga dan status kesehatan anggotanya dimana peran keluarga sangat penting dalam memberikan pasien merasa percaya diri, optimis untuk sembuh, meningkatkan rasa cinta karena merasa dirinya tidak berjuang sendirian. Akses hemodialisa Akses hemodialisa pada responden I menggunakan CDL Short Term, dan responden II menggunakan AV Shunt (Cimin. Pada penelitian ini menyatakan bahwa pada akses cimino akan dilakukan penusukan setiap hemodialisa, dan JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 RIFQANTI. HANDAYANI. , & WAHYUNINGSIH. e-ISSN: 3089-34337 CDL dapat terjadinya kecemasan mendengar suara mesin. Hal ini sejalan dengan Puspanegara . bahwa pasien dengan akses Cimino maupun CDL akan merasa cemas saat penusukan melihat darah yang ada di selang kateter dialisa, suara alarm mesin dialisa yang berbunyi dan cemas karena penasaran sampai kapan penyakitnya diatasi. Kecemasan Peneliti membuktikan setelah dilakukan pemberian terapi musik klasik Beethoven terjadi penurunan tingkat kecemasan yang dibuktikan pada kuesioner HARS, pada responden I dengan skor 25 (Kecemasan Sedan. menjadi skor 18 (Kecemasan Ringa. , responden II dengan skor 27 (Kecemasan Sedan. menjadi skor 16 (Kecemasan Ringa. Responden mengalami perubahan dari kecemasan sedang menjadi ringan. Hal tersebut berarti terdapat pengaruh terapi musik klasik Beethoven terhadap tingkat kecemasan pada pasien GGK yang menjalani hemodialisa di Rumah Sakit Pelni Jakarta. Dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi musik klasik Beethoven ini sangat efektif dalam menurunkan tanda dan gejala kecemasan dan menurunkan tingkat kecemasan pada responden gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. KESIMPULAN Penerapan intervensi terapi musik klasik Beethoven terbukti efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani hemodialisa. Berdasarkan hasil pada dua responden, terjadi penurunan signifikan tingkat kecemasan dari kategori sedang menjadi ringan. Responden I mengalami penurunan skor HARS dari 25 menjadi 18, sedangkan responden II dari skor 27 menjadi 16. Intervensi ini menunjukkan potensi besar sebagai terapi nonfarmakologis dalam penanganan kecemasan pada pasien GGK. Oleh karena itu, terapi musik klasik Beethoven disarankan untuk terus dikembangkan dan digunakan dalam praktik keperawatan sebagai bentuk pendekatan holistik yang mendukung kenyamanan dan ketenangan psikologis pasien. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti mengucapkan terima kasih kepada responden dan para pihak yang terlibat dalam penelitian ini. PERNYATAAN BEBAS KONFLIK KEPENTINGAN Tidak terdapat konflik kepentingan yang timbul pada saat melakukan penelitian ini. PENDANAAN Penelitian ini tidak dibayai oleh pihak manapun dan menggunakan dana pribadi. KONTRIBUSI PENULIS Balqis Halwa Rifqanti: Penulis utama, konseptualisasi, metodologi, analisis, dan referensi Buntar Handayani: Menghasilkan ide, konseptualisasi, analisis formal, dan kurasi data. Sri Atun Wahyuningsih: Validasi, analisis formal, dan kurasi data JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Rifqanti. Handayani. , & Wahyuningsih. A . e-ISSN: 3089-34337 ORCID Balqis Halwa Rifqanti ORCiD ID: Tidak tersedia Buntar Handayani ORCiD ID: 0000-0001-9452-8807 Sri Atun Wahyuningsih ORCiD ID: 0009-0005-7316-0130 REFERENSI