Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 8 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Dharmagita Dalam Pelaksanaan Upacara Yajya Di Kecamatan Tegallalang Kabupaten Gianyar (Kajian Filsafat Hind. I Nyoman Piartha Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia inyomanpiartha81@gmail. Abstract Dharmagita in the religious and social life of Hindus is a form of offering sound art as a form of offering. Dharmagita is always present in Hindu religious ceremonies in Tegallalang District, giving the impression that the dharmagita accompanies the yajya. This research aims to examine the use of dharmagita in the yajya ceremony in Tegallalang sub-district. Gianyar district, and to discover the elements of Hindu philosophy contained in dharmagita. In general, this research aims to explore and provide a clear understanding of dharmagita and its use in yajya ceremony in Tegallalang District. Gianyar Regency. Hindu philosophy studies. This research uses three theories, functional structural theory, religious theory, and symbol theory to examine the dharmagita problem in Tegallalang district. This research is qualitative research with a phenomenological approach, which took the research location in the tegallalang sub-district, because it is seen from the phenomenon of socio-religious life in communities located in the transition area between sub-district and rural areas. The data sources in this research use primary data sources and secondary data sources. The results of this research confirm that dharmagita is a form of sound art offered to God in the yajya ceremony, including the god yajya, butha yajya, manusa yajya, pitra yajya, and rsi yajya ceremonies. Hindu philosophy in the dharmagita includes tattwa teachings which emphasize the divine aspect and have implications for increasing the sraddha and bhakti of the people in the yajya ritual. Keywords: Dharmagita. Yajya Ceremony. Hindu Philosophy Abstrak Dharmagita dalam kehidupan sosial religius umat Hindu merupakan bentuk sajian seni suara sebagai wujud persembahan. Dharmagita selalu hadir dalam upacara agama Hindu di Kecamatan Tegallalang, memberikan kesan bahwa dharmagita adalah pengiring yajya. Sejatinya dharmagita adalah sebuah persembahan dalam bentuk sajian seni suara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji penggunaan dharmagita dalam upacara yajya di Kecamatan Tegallalang Kabupaten Gianyar, dan untuk menemukan unsur-unsur filsafat Hindu yang terkandung dalam dharmagita. Penelitian ini menggunakan tiga teori yaitu, teori struktural fungsional, teori religi, dan teori simbol untuk mengkaji permasalahan dharmagita di kecamatan Tegallalang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang mengambil lokasi penelitian di Kecamatan Tegallalang, karena dilihat dari adanya fenomena kehidupan sosial keagamaan dalam masyarakat yang berada pada wilayah transisi antara kecamatan dan pedesaan. Sumber data pada penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sumber data skunder. Data diperoleh dengan menggunakan metode observas, wawancara dengan informan dipilih secara purposive dan studi dokumen. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa dharmagita merupakan bentuk sajian seni suara yang dipersembahkan kepada Tuhan di dalam upacara yajya, meliputi upacara Dewa Yajya. Butha Yajya. Manusa Yajya. Pitra Yajya, dan Rsi Yajya. Filsafat Hindu dalam https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dharmagita meliputi ajaran tattwa yang menekankan aspek ketuhanan, dan berimplikasi pada peningkatan sraddha dan bhakti umat di dalam ritual yajya. Kata Kunci: Dharmagita. Upacara Yajya. Filsafat Hindu Pendahuluan Penghayatan terhadap nilai-nilai Agama Hindu yang bersumber pada kitab suci Weda sangat penting dalam mengatur dan membina kehidupan. Pengamalan ajaran agama pada masyarakat Hindu yang identik dengan upacara yadnya. Yajya dalam agama Hindu bukan hanya dalam bentuk sajian ritual persembahan banten . Namun, yajya mencakup segala bentuk sajian yang dipersembahkan secara tulus ikhlas termasuk sajian dharmagita. Dharmagita merupakan bentuk sajian seni suara yang dilantunkan pada saat berlangsungnya upacara keagamaan. Suara atau bunyi dalam agama Hindu merupakan bagian dari Panca Suara atau Panca Gita. Sudarsana . menyatakan bahwa Panca Gita tersebut yaitu mantra puja pendeta, suara bajra, tetabuhan, kentongan dan kidung. Piartha . menyatakan bahwa Panca Suara meliputi lima bunyi atau suara, meliputi suara genta, suara mantra, suara gong . , suara kidung, dan suara kulkul . Kidung dan mantra merupakan seni yang digolongkan ke dalam seni suara, yang merupakan bagian dari Panca Suara. Inti dari kidung dan mantra adalah suara manusia yang dilantunkan dalam bait dan syair pemujaan. Namun, secara substansi antara kidung dan mantra mempunyai fungsi yang berbeda. Mantra memuat doa dan puja yang bersumber dari kitab suci Veda yang ditujukan kepada Tuhan sebagai doa pemujaan, sedangkan kidung merupakan nyanyian-nyanyian suci/kebenaran sebagai media persembahan kepada Tuhan. Dharmagita terdiri dari empat bagian, diantaranya Sekar Rare . agu anak-ana. Sekar Alit (Pupu. Sekar Madya . , dan Sekar Agung (Kakawin. Sloka. Palawaky. (Sudana, 2. Dharmagita di kecamatan Tegallalang berkembag sangat pesat, seiring dengan geliat pertumbuhan pariwisata. Hal itu terlihat dari bertambahnya data kelompok pasanthian yang tercatat di kecamatan Tegallalang. Selain itu pula dalam segala aktivitas keagamaan yang dilaksanakan pasti selalu berdampingan dengan sajian Namun kecendrungan mayoritas kalangan dewasa dan para orang tua yang paling tertarik untuk belajar dharmagita. Hal itu berbanding terbalik dangan para generasi muda yang nampaknya tidak terlalu tertarik untuk belajar dan melestarikan dharmagita. Sehingga dalam pelaksanaan yadnya sangat jarang di temui para anak muda ikut di perkumpulan pasanthian ataupun ikut melantunkan dharmagita saat upacara keagamaan. Dharmagita pula seolah kehilangan pamor dimata generasi muda jika dibandingkan dengan seni suara yang lainya. Kedudukan dharmagita pula masih membingungkan bagi umat Hindu di kecamatan Tegallalang, apakah merupakan sajian seni suara sakral ataukah profan dan dimana posisinya di dalam upacara keagamaan. Oleh sebagian masyarakat dharmagita dianggap sebagai seni suara yang biasa-biasa saja, yang boleh ada ataupun tidak dalam upacara keagamaan. Pantaslah dharmagita dianggap sebagai pelengkap atau pengiring upacara, karena disebabkan oleh banyaknya masyarakat dan lebih-lebih pelaku dharmagita kurang memahami substansi dharmagita sebagai sebuah yajya. Padahal sesungguhnya dharmagita adalah sebuah yajya atau persembahan itu sendiri sama halnya dengan persembahan banten. Secara filosofis, dharmagita sarat akan simbol-simbol magis yang tercetus dari permainan nada yang melambangkan dewa-dewa Hindu yang digunakan dalam ritual keagamaan melalui kesenian seni suara. Dharmagita disebut pula dengan istilah sekar . Bunga dalam agama Hindu merupakan persembahan utama, selain buah, daun, air dan api. Secara idiologis, dharmagita merupakan sajian seni yang meresap dalam hati https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dan keyakinan umat Hindu di Tegallalang, sebagai representasi rasa bhakti kepada Tuhan. Melalui lantunan irama syair dharmagita diyakini mampu menciptakan suasana hening dan vibrasi alam kedewataan. Dalam upacara yajya, lantunan kidung-kidung suci merupakan bagian dari penerapan ajaran bhakti. Berangkat dari fenomena dan permasalahan tersebut maka, penelitian ini mencoba mengkaji lebih mendalam dengan fakta-fakta dan data terhadap realitas dharmagita dalam pelaksanaan upacara yadnya di kecamatan Tegallalang kabupaten Gianyar dari perspektif filsafat Hindu. Dimana dharmagita sarat akan simbol-simbol agama Hindu yang mengisyaratkan ajaran, pesan moral, dan tuntunan hidup yang diungkapkan dalam bentuk lantunan syair-syair pemujaan. Penelitian ini pula barupaya untuk menempatkan dharmagita pada posisi yang semestinya dengan memberikan pemahaman yang jelas, sehingga dharmagita tidak dianggap hanya sebagai pelengkap atau pengiring upacara semata, namun merupakan sebuah persembahan atau yajya. Metode Metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Jenis penelitian kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologi. Lokasi penelitian ini dilakukan di kecamatan Tegallalang kabupaten Gianyar. Kecamatan Tegallalang dipilih sebagai lokasi penelitian, karena dilihat dari adanya fenomena kehidupan sosial keagamaan dalam masyarakat yang berada pada wilayah transisi antara kecamatan dan pedesaan. Perbedaan tersebut juga berimbas pada perbedaan tingkat pemahaman tentang penggunaan dharmagita dalam upacara yajya. Jenis dan sumber data dalam penelitian ini menggunakan data kualitatif. Sumber data primer dalam penelitian ini merupakan data yang dikumpulkan oleh peneliti di lapangan yang bersumber dari informan yang memahami dharmagita, dan data sekunder dalam penelitian ini berupa artikel, berita atau tulisan-tulisan, baik yang termuat di dalam media cetak, maupun dalam media elektronik . Instrumen peneltian kualitatif adalah human instrument atau manusia sebagai informan maupun yang mencari data dan instrumen utama penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri sebagai ujung tombak pengumpulan data . Penentuan Informan dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan penentuan informan dipilih atas dasar pertimbangan, pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki berkaitan dengan dharmagita dalam pelaksanaan upacara yajya di kecamatan Tegallalang kabupaten Gianyar. Adapun metode pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan studi dokumentasi. Penelitian ini hanya melakukan analisis terhadap data-data yang terjadi di lapangan baik yang berupa data primer maupun data sekunder, sehingga memperoleh hasil yang objektif terkait dengan penelitian dharmagita dalam pelaksanaan yajya di Kecamatan Tegallalang Kabupaten Gianyar. Hasil dan Pembahasan Kedudukan Dharmagita Dalam Kesusastraan Tembang di Bali Dharmagita berasal dari bahasa Sanskerta yaitu dari dua kata dharma dan gita. Dharma adalah kata benda maskulinum yang artinya lembaga, adat, kebiasaan, aturan, kewajiban, moral yang baik, pekerjaan yang baik, kebenaran, hukum, dan keadilan. Sedangkan gita adalah bahasa Sanskerta dalam bentuk perfect passive participle berjenis kelamin netrum yang berarti nyanyian atau lagu (Pemda-Bali, 1995/1. Dharmagita merupakan jenis sastra yaitu sastra gita atau tembang yang memiliki eksistensi sebagai konvensi sastra, konvensi bahasa dan konvensi budaya. Dharmagita terdiri atas, sekar rare, sekar alit, sekar madya, sekar agung. Dharmagita sebagai nyanyian keagamaan bagi umat Hindu yang dipergunakan menyertai kegiatan keagamaan khususnya yang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH berhubungan dengan ritual yajya (Gatriyani, 2. Menurut Sudirga . menguraikan bahwa kata dharmagita berasal dari kata dharma dan gita, dimana dharma artinya kebenaran yang abadi atau ajaran kebenaran yang kekal dan abadi yang bersumber pada kitab suci Veda yang meliputi tattwa, susila dan upacara. Sedangkan kata gita berarti nyanyian atau lagu-lagu suci kerohanian yang sangat luhur. Istilah dharmagita muncul pada tahun 1979 ketika dilaksanakan lomba kekawin, kekidung, yang bertujuan untuk melestarikan tembang atau lagu-lagu keagamaan. Lomba seperti ini dilakukan bersifat lokal, antara lain, lomba tingkat banjar, antar desa bahkan antar instansi maupun antar sekolah. Perlombaan yang bersifat lokal ini mendapat perhatian dari pemerintah dan parisadha. Kegiatan semacam ini selanjutnya dibenahi oleh pemerintah bersama Parisadha secara bertahap sehingga timbullah istilah utsawa dharmagita (Warjana, 1. Dharmagita merupakan salah satu media kesenian yang sangat menunjang dalam pemahaman ajaran agama dan meningkatkan kesadaran rohani (Arini, 2. Seni suara tradisional Bali atau seni tembang versi Bali sering disebut Sekar dalam konteks ini artinya tembang, sekar berarti pula bunga, bunga diartikan indah, menegaskan bahwa bunga memiliki sifat keindahan. Diantara jenis tembang di atas, tiga jenis tembang dimasukkan rumpun dharmagita yaitu. Sekar Alit . Sekar Madya, dan Sekar Agung, merujuk pada tembang yang sering di lombakan dalam utsawa Pupuh (Sekar Ali. Sekar alit, yang biasanya disebut pupuh, biasanya digunakan untuk meenuangkan sebuah cerita. Cerita atau satua yang dituangkan dalam pupuh-pupuh ini biasanya disebut Bentuk nyanyian pupuh diikat oleh aturan pada lingsa, aturan pada lingsa mengandung tiga ikatan yaitu, . jumlah baris dalam tiap pada, . jumlah suku kata dalam tiap baris, . fonem paling akhir dalam tiap baris (Warjana, 1. Di dalam istilah lain unsur yang mengikat aturan pada lingsa adalah guru wilang, guru gatra, dan guru nding-ndong. Guru suara atau yang lebih dikenal dengan istilah guru ding-dong merupakan suara vokal yang ada pada akhir suku kata dari masing-masing baris dalam satu pada . dari sebuah pupuh. Guru suara ini dalam tradisi Jawa Kuna dikenal dengan nama guru ding-dong. Sebab vokal yang menjadi acuan utama dalam suku kata Tidak ada yang menempatkan konsonan dalam hitungan ini, maka vokal menjadi penentu sebuah jenis pupuh. Guru wilang adalah jumlah dari suku kata dalam sebuah baris pada sebuah pupuh. Kesusastraan Bali yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tahun 2006, secara umum ada 10 jenis tembang yang dimasukkan dalam rumpun sekar alit atau pupuh yaitu. Pupuh Pucung. Pupuh Mijil. Pupuh Maskumambang. Pupuh Ginanti. Pupuh Ginada. Pupuh Durma. Pupuh Semarandana. Pupuh Pangkur. Pupuh Sinom, dan Pupuh Dandang Gula. Kidung (Sekar Mady. Kidung adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan puisi-puisi berbahasa Jawa Kuno. Jawa Tengahan, dan Bali Halus. Bahasa Jawa Tengahan atau Jawa Kuno adalah bahasa yang digunakan dalam ceritra-ceritra panji, malat, kisah tentang keagungan kekuasaan raja-raja zaman dahulu. Terkadang ceritera-ceritera tersebut tembangnya memakai pupuh Sinom dan Pangkur, seperti halnya di dalam Lontar Rangga Lawe. Pamancangah Dalem. Oleh karena itu, tembang ini disebut sebagai kidung-kakawin, yang artinya kidung yang mempunyai fungsi sama seperti halnya geguritan dalam sekar alit. Hal ini rupanya meyebabkan tembang-tembang seperti Adri. Demung,Megatruh, dan Gambuh, di daerah Bali dikelompokkan ke dalam kekidungan (Disbud Provinsi Bali. Kidung biasanya dinyanyikan secara kelompok oleh penyanyi pria dan wanita. Dimana dalam pementasannya biasanya diiringi instrument gender wayang. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kidung berasal dari Jawa sekitar abad XVI - XX Masehi (Tim Penyusun, 2. Kidung terdiri dari kawitan yang terdiri dari 2 bait penawak dan penawa. Penawak dan penawa diulang seterusnya sampai selesai. Kidung disebut anyapta windu sebab sering 7 wanda suaranya panjang atau pendek. Dimana kidung dapat digunakan untuk mengiringi serangkaian upacara agama Hindu yang bersifat sakral dimana fungsinya ini lebih bersifat sosial religius. Dimana kidung memiliki fungsi yang khusus dalam mengiringi yajya seperti Dewa Yajya. Manusia Yajya. Rsi Yajya. Butha Yajya dan Pitra Yajya (Tim Penyusun, 2. Sekar Agung (Kekawi. Nyanyian sekar agung diikat oleh guru-laghu dimana guru berarti berat atau panjang sedangkan laghu artinya ringan atau pendek. Bahasanya menggunakan Bahasa Jawa Kuno (Bahasa Pabencanga. Komposisi guru dan laghu dalam kakawin digunakan sebagai entitas yang menentukan dalam memberikan nama metrumnya. Guru merupakan suara panjang, berat, serta alunannya panjang. Sebaliknya, laghu merupakan suara pendek, ringan, serta alunannya lebih pendek (Wirawan, 2. Kekawin juga disebut Wirama Tembang Gede dan Sekar Agung dimana menurut dugaan kekawin digubah di Jawa pada abad IXAeXV sekatar pada abad XVI di Bali tumbuh dan berkembang pesat hingga saat ini khususnya upacara adat dan agama. Kekawin dibacakan dengan pepaosan dan mebebaosan dimana mebaosan adalah kekawin yang diikuti oleh artinya sedangkan mepepaosan adalah kegiatan pembacaan kekawin yang diikuti terjemahan kekawin. Dalam kegiatan mekekawin pemahaman terhadap guru dan lagu sangat penting halnya baik seorang pembaca . sedangkan bagi penerjemah . harus mampu menguasai bahasa Jawa Kuno. Sehingga setiap orang yang melagukan kekawin sangat tergantung pada guru dan lagu (Tim Penyusun, 2. Sekar agung memiliki berbagai macam yaitu Kekawin Girisa. Wangsasta. Merdu Komala. Wirat. Totaka. Sekarini. Wipula. Sragdara. Aswalalita. Sronca. Sardula. Indrawangsa. Pritiwitala. Basanta. Ranjani. Swandewi. Kilayu Menedeng dan Sarini. Sloka Sloka adalah bagian ayat atau bait dari kitab suci yang dibaca dengan menggunakan irama mantra. Isinya mengandung pujaan-pujaan atas kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan beserta manifestasi-Nya yang dapat dalam buku suci Weda maupun Upanisad. Pengambilan suara biasanya dipangkal kerongkongan hingga suara kedengaran bergema kedalam. Pengucapan sloka dapat dilakukan dengan tembang Palawakya. Wirama Sardula Wikridhita, reng Sardula dan Reng Sronco. Kecuali Gayatri yang mempunyai tiga baris yang lain terdiri atas empat baris pembentukan slokanya yaitu: Sloka Gayatri yang terdiri dari 8 suku kata dalam barisnya. Sloka Anustubh yang terdiri dari 8 suku kata setiap barisnya yang ke-4. Sloka yang termasuk Anustubh adalah sloka Gajagatih. Pramanika. Widyumala. Samanika. Sloka Wrlali terdiri atas 9 suku kata pada setiap barisnya. Sloka yang termasuk Wrlali adalah Sloka Bhujanggasisubhrata. Bhujangga. Manimadhyam. Sloka Pangktih terdiri atas 10 suku kata pada setiap barisnya. Sloka yang termasuk Pangktih adalah Twaritagatih. Matta. Rukmawati. Sloka Tristubh terdiri atas 11 suku kata pada setiap barisnya. Sloka yang termasuk Tristubh adalah Indrawajra. Upendrawajra. Dohhakam. Bhramawilasitam. Rathodhata. Salini. Swagata. Sloka Jagati terdiri atas 12 suku kata pada setiap barisnya. Sloka Jagathi terdiri dari sloka wangsasthawila. Indrawangsa. Candrawartma. Jaladharamala. Tamarasam. Totakam. Taramitaksakra. Bhujanggaprayatam. Manimala. Malati dan Wiswadewi. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH e. Palawakya Palawakya di dalam kesusastra Bali adalah termasuk prosa liris. Palawakya sebagai karya sastra yang sengaja di buat seperti puisi, namun sejatinya itu adalah sebuah Untuk yang berjenis prosa, maka cirinya yang paling kental adalah senantiasa berkiblat pada ajaran agama Hindu. Sebagian besar prosa Jawa Kuna, membicarakan para Dewata, roh leluhur dan juga narasi perjalanan dari seorang yang dianggap suci. Lebih jauh mengenai hal ini, maka kita akan menemukan ada banyak nama guru suci, raja-raja besar kuno dan juga narasi tentang heoriknya para Dewata melawan raksasa dalam sebuah prosa Jawa Kuna. Palawakya biasanya digunakan untuk teks-teks prosa . yang kemudian Tehnik pembacaan palawakya biasanya pengambilan suara sama dengan Suara di pangkal lidah agak atas kerongkongan. Intonasi bacaan menekankan pada pemenggalan bacaan pada teks yang dibaca sudah ditangkap maknanya oleh Dalam kaitannya dengan kegiatan keagamaan, palawakya ini dibacakan pada upacara dewa yajya dan pitra yajna, yaitu upacara yang disebut putru atau mamutru. Teks yang dibaca adalah teks Adi Parwa atau Putru. Inilah yang melatar belakangi mengapa Palawakya juga dimasukan sebagai lingkup dharmagita. Dharmagita dalam Upacara Yajya di Kecamatan Tegallalang Dharmagita dalam pelaksanaannya upacara keagamaan merupakan tata hubungan integral antara manusia denga Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam lingkungan. Terciptanya kondisi harmonis ketika masyarakat bisa saling menjaga tata hubungan baik vertikal maupun horisontal. Vertikalnya kepada Tuhan dan Horisontalnya kepada manusia dan lingkungan. Salah satu cara dalam menjaga harmonisasi adalah dengan pelaksanaan upacara yajya. Setiap individu membawa tiga hutang yang harus dibayar selama hidupnya, hutang tersebut adalah Tri Rna. Tri Rna sendiri terdiri dari Dewa Rna yaitu hutang kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kepada para dewa. Pitra Rna yaitu hutang kepada orang tua dan Pitara atau leluhur, dan terakhir Rsi Rna yaitu hutang jasa kepada Rsi atau wali (Darmawan, 2. Upacara agama Hindu di Bali di bedakan atas lima yang disebut dengan Panca Yajya yakni, dewa yajya, bhuta yajya, manusa yajya, pitra yajya dan rsi yajna (Sudarsana, 2. Menurut ajaran agama Hindu dharmagita merupakan yadnya yang tinggi karena selain menyehatkan diri sendiri mampu membahagiakan orang lain dengan mendengarkan suara dharmagita tersebut (Artayasa, 2. Dharmagita Dalam Pelaksanaan Upacara Dewa Yajya di Kecamatan Tegallalang Upacara Dewa Yajya merupakan pemujaan serta persembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi melalui sinar suci-Nya yang disebut dewa-dewi (Putra, 1. Pelaksanaan upacara Dewa Yajya dibedakan atas beberapa jenis, yaitu upacara hari purnama . , tilem . , pagarwesi, tumpek landep, tumpek wariga, galungan, kuningan, tumpek kandang, tumpek wayang, saraswati, siwaratri, nyepi, upacara ngusaba nini, upacara ngusaba desa, upacara melaspas, dan upacara piodalan (Subagiasta, 2. Upacara Dewa Yajya bertujuan untuk memuliakan manifestasi Tuhan dalam wujud personalitas Dewata dengan rangkaian persembahan yang masing-masing mengandung makna dan fungsi. Rangkaian ritual tersebut, kemudian berdampingan dengan dharmagita yang lebih popular dikenal kidung atau mekidung yang merujuk pada suatu aktivitas bernyanyi. Kidung itu sendiri memiliki difinisi yang lebih khusus dari dharmagita secara universal. Pada prnsipnya penggunaan dharmagita dalam semua jenis upacara Dewa Yajya, memiliki tiga struktur yaitu, upacara awal, upacara inti, dan upacara penutup. Rangkaian upacara Dewa Yajya diawali dengan kidung pembuka biasanya menggunakan kidung https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kawitan Wargasari sebanyak dua bait, dilanjutkan dengan kidung Wargasari sebanyak dua bait barulah dilanjutkan dengan kidung pada upacara inti. Kidung pada puncak upacara disesuaikan dengan maksud dan tujuan upacara Dewa Yajya tersebut yang biasanya digunakan Wirama Merdhukomala. Rajani. Totaka dan sebagainya. Umumnya semua jenis upacara yadnya pada upacara puncak dilanjutkan dengan persembahyangan dan memohon tirta amertha. Kidung yang dipergunakan setelah persembahyangan adalah kidung turun tirtha dan dilanjutkan kidug penutup lainnya yang tujuannya untuk mengambalikan manifestasi Tuhan pada kedudukannya semula. Purwaka ning angripta rum, ning wana wukir, kahadang labuh, kartika panedeng ing sari, angayon tangguli ketur, angringring jangga mure (Kidung Kawitan Warga Sar. Terjemahannya: Awal mengubah kehindahan hutan pegunungan, bertepatan dengan musim hujan pada masa Kartika . ekitar bulan Oktober-Nopembe. , masa bunga-bunga sedang mekar, bunga tangguli (Cassia fistul. sedang mekar indah disertai bunga gadung (Dioscore. mekar mengurai (Suarka, 2. Pengandaian akan bunga yang mekar di musim semi, hutan yang indah serta kumbang yang hilir-mudik di atas bunga, merupakan sebuah citra surga yang hendak dibumikan oleh para pemuja tuhan. Tuhan dalam agama Hindu disebut dengan Mahasundara Brahman, yang artinya Pemilik Maha Keindahan yang luar biasa. Hendaknya memohon kepada-Nya haruslah dalam keadaan indah. Menceritrakan keindahan alam, dapat membantu pikiran lebih berada dalam kondisi seimbang dan Sebelum melaksanakan persembahyangan, maka kidung inilah yang dilagukan untuk mengiringi mantra serta doa dari para pinandita atau pandita yang tengah ngarcana Bhatara . emuja Dewata dengan melantunkan mantra suci Ved. Selanjutnya secara umum dilanjutkan dengan kidung Wargasari. Ida ratu saking luhur, kawula nunas lugrane, mangda sampun titiyang tandruh, mangayat Bhatara mangkin, titiyang ngaturang pajati, canang suci lan daksina, sami sampun puput, pratingkah ing saji (Kidung Warga Sari I). Terjemahannya: Para dewata dari angkasa, hamba mohon karuniamu, agar hamba tidak ragu, memujamu sekarang, hamba mengaturkan banten pejati, canang suci dan daksina, semua serba genap, kelengkapan sebagai sesajen upacara itu (Gautama, 1. Kidung di atas, menyatakan tentang sebuah permohonan dari pemuja kepada Tuhan agar Beliau berkenan hadir dalam upacara yang dilangsungkan. Para bhakta . sujud bhakti dengan mempersembahkan sesajen berupa banten pejati, suci, daksina, dan daksina. Dilengkapi dengan dupa atau pasepan yang berisi kemenyan, kayu dewandaru, kayu cendana dan sejenisnya yang beraroma harum, selanjutnya dibakar untuk menghasilkan asap yang berbau harum membumbung tinggi ke angkasa. Keyakinan umat Hindu di Tegallalang bahwa Ida Sang Hyang Widhi Wasa berstana di Kepulan asap dupa dan pasepan membumbung tinggi ke angkasa mampu memanggil Tuhan untuk hadir dan menyaksikan prosesi upacara yang dilaksanakan. Setelah persembahyangan selesai, dilanjutkan dengan prosesi metirta atau diperciki air suci Ida Bhatara. Turun tirtha saking luhur. Tirthan panca dewatane. Wishnu tirtha kamandalu. Hyang iswara Sanjiwani. Mahadewa Kundalini. Hyang Brahma Tirtha Pawitra. Hyang Iswara pamuput. Amerta kinardhi Terjemahannya: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Turunlah air suci dari angkasa, tirta panca dewata, tirta kamandalu dari Dewa Brahman, sanjiwani dari Iswara. Kundalini dari Mahadewa, tirta pawitra dari Wisnu, dan pada akhirnya Dewa Siwa membuat tirta amerta . (Surada. Sehabis persembahyangan dilanjutkan dengan prosesi metirtha atau nunas tirtha Tirtha ini diperciki kepada umat yang habis melakukan persembahyangan dan dilanjutkan dengan mebija. Kidung di atas menyatakan bahwa tirtha itu merupakan tirtha dari Sang Hyang Panca Dewata . ima para dew. Dewa Iswara. Dewa Brahma. Dewa Mahadewa. Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. tirtha kamandalu dari Dewa Brahman, tirtha sanjiwani dari Iswara, tirtha Kundalini dari Mahadewa, tirtha pawitra dari Wisnu, dan tirtha amerta dari Dewa Siwa. Keliama air suci ini menjadi satu dalam tirtha wangsuhpada yang diperciki kepada umat sebagai air kehidupan. Dharmagita Dalam Upacara Manusa Yajya di Kecamatan Tegallalang Dharmagita dalam pelaksanaan manusa yajya, sangat beragam di dalam kehidupan sosial keagamaan Tegallalang. Jenis upacara manusa yajya yang dilaksanakan di Kecamatan Tegallalang secara umum meliputi, upacara magedong-gedongan . , upacara banyi lahir, upacara kepus puser, upacara ngelepas hawon, upacara ngerorasin . pacara 12 har. , upacara tutug kambuhan . pacara 42 har. , upacara nelu bulanin/nyambutin . pacara 3 bula. , upacara telung oton . pacara 3 oto. , upacara tutug kelih (Raja Singa/Rajaswal. , upacara mepandes . otong gig. , dan upacara pawiwahan . Kidung atau Sekar Madya mendominasi dalam upacara manusa yajya. Masyarakat Tegallalang secara umum, menyelenggarakan upacara dengan perasaan suka Baik secara peribadi atau secara kolektif atau berkelompok. Khusus untuk upacara pawiwahan, sekar madya yang dipergunakan adalah kidung Tantri yang memang menggambarkan suasana musim semi. Oleh sebab itulah, mengapa ada banyak sekali, kidung Tantri dipergunakan untuk ritual yang terkesan membawa kebahagiaan bagi manusia, misalnya adalah upacara nyambutin . pacara tiga bulana. , pawiwahan . pacara pernikaha. , matatah . pacara potong gig. dan sebagainya. Berikut ini merupakan kidung tantri dengan mempergunakan bahasa Kawi-Bali. Hal ini justru terbalik dengan kidung (Sekar mady. yang dipergunakan untuk upacara Dewa Yajya, pada upacara metatah . pacara potong gig. yang secara umum memang mempergunakan bahasa Bali Alus Singgih. Wuwusan bhupati, ring patali nagantun Subaga wirya siniwi, kajrihin sang para ratu Salwa ning jambu warsa di, prasama tur Kembang tawon (Kawitan Tantri Bawak I) Terjemahannya: Tersebutlah Sang Prabu di negara Patali, amat termasyur sebagai raja besar, disegani oleh raja-raja lain, di wilayah Jambuwarsa, semuanya siap membayar pajak (Surada, 2. Setelah selesai melantunkan kidung kawitan tantri bawak, dilanjutkan dengan kidung kawitan tantri Panjang. Penggunaan kedua kidung ini di beberapa lokasi di Kecamatan Tegallalang hampir seragam. Terbukti dari hasil survie penelitian dan wawancara, dikatakan kidung ini pada umumnya dipakai untuk mengiringi upacara Manusa Yajya khususnnya upacara potong gigi . Secara umum penggunaan kidung pada upacara manusa yajya lainnya di Kecamatan Tegallalang tidak terlalu https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH banyak yang bisa ditemukan. Secara umum kidung yang dipergunakan adalah kidung kawitan tantri bawak dan tantri panjang pada semua aktivitas upacara manusa yajya. Dharmagita Dalam Upacara Rsi Yajya di Kecamatan Teagallalang Upacara Rsi Yajya adalah bentuk upacara penghormatan dan pemujaan terhadap para Rsi. Yang dimaksud Rsi adalah orang suci yang telah memberi tuntunan hidup untuk menuju kebahagiaan lahir batin, di dunia dan di akhirat (Putra, 1. Di Bali upacara Rsi Yajya diperuntukkan kepada Pandita dan Pinandita Hindu sebagai pemimpin umat dalam Rangkaian upacara Resi Yajya sangat kompleks termasuk di dalamnya adalah upacara penyucian Eka Jati atau Pawintenan. Dalam ruang lingkup yang lebih besar. Resi Yajya sering diartikan sebagai upacara Dwija Samskara atau Dwijati Samskara. Dharmagita di dalam Resi Yajya sering kali penerapannya sama dengan upacara Dewa Yajya. Maka dharmagita yang dipergunakan untuk upacara ini, tentu saja yang memiliki relevansi dengan kebrahmanaan, kepanditaan dan disiplin rohani lainnya. Berikut adalah kidung yang digunakan dalam upacara Dwijati dan Mawinten. Nihan sang polahing tatas wiku Nawang bhumi langit Dija ento warangane Punika tegakan wiku Wulan surya lawan wintang Sampun kawasne ring langit Endi pamating ipun Mwang riuriping banyu asri (Kidung Rara Wang. Terjemahannya: Inilah perilaku yang harus diketahui oleh Wiku, mengetahui rahasia bumi dan langit, dimanakah rahasia itu, itulah yang diilhami oleh Wiku (Brahman. , surya dan juga bintang, sudah seluruhnya diketahui melebihi langit, baik dalam hal kematian, ataupun kehidupan, semuaya terasa indah. Kidung di atas, mempergunakan Bahasa Bali dengan Jawa Tengahan bercampur menjadi satu. Bahasa ini, secara mudah dapat dipahami oleh kebanyakan masyarakat Hindu Bali. Kidung tersebut mengisyaratkan sebuah ungkapan bagi orang yang melaksanakan Resi Yajya, bahwa mereka yang masuk dalam kehidupan kawikon, harus mengetahui rahasia ilmu pengetahuan rohani. Memandang bahwa kehidupan dan kematian adalah sama indahnya. Konteks ini kemudian ditambah kembali oleh beberapa jenis kidung untuk rsi yajna yang sama-sama mempergunakan Bahasa Jawa Tengahan. Kidung tersebut memberikan pelajaran bagi mereka yang hendak menjalani upacara Mereka harus berada dalam kesucian dan senantiasa berbuat kebenaran. Tidak sembarang di dalam bertindak, dan diibaratkan seperti burung angsa yang memilih Mereka akan memakan dengan pilahan yang benar dan hidup dalam kesucian dan kebersihan. Dharmagita Dalam Upacara Pitra Yajya di Kecamatan Tegallalang Upacara Pitra Yajya adalah penyucian dan meralina serta penghormatan kepada orang yang meninggal menurut ajaran agama Hindu (Putra, 1. Meralina merupakan suatu proses merubah wujud dari suatu bentuk sehingga unsur-unsurnya kembali kepada asal semula, dengan sarana menggunakan api pameralina . Penyucian merupakan suatu proses peningkatan penyucian dengan sarana air suci atau tirta. Jenis pelaksanaan upacara Pitra Yajya atau upacara Ngaben adalah upacara Sawa Wedana, upacara Asti Wedana. Upacara Swasta. Upacara Ngelungah, dan upacara Atma Wedana/ Nyekah/ Maligia/ Mukur/ Ngerorasin (Subagiasta, 2. Bagi umat Hindu di Kecamatan Tegallalang sangat meyakini bahwa upacara Pitra Yajya mampu mengantarkan roh leluhurnya ke arah yang lebih baik menuju alam https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kemuliaan. Dharmagita yang dipergunakan dalam Upacara Pitra Yajya adalah seperti. Wirama Sewana Girisa. Kidung dengan Reng Girisa. Pupuh Adri. Ginada Jajar Pikat. Wirama Indrawangsa. Wirama Praharsini, kidung Aji Kembang. Kidung Asti. Wirama Wirat dan sebagainya, disesuaikan dengan prosesi upacara yang berlangsung. Dharmagita yang digunakan lazimnya adalah Wirama Indrawangsa mempergunakan aturan metrum sehingga disebut Puh Indrawangsa. Mamwit Narendraatmaja ring tapowana Maanganjalii ryagraning Indra Parwata Tanwismrtii sangkanikang hayun teka Swaabhaawa sang sajjana rakwa mangkana (Wirama Indrawangsa I) Terjemahannya: Maka berpamitlah Sang Rajaputra (Arjun. pada hutan di pertapaan, menyembahkan di kaki gunung Indrakila itu, tak terkira asal mula kebaikan/ kemuliaan akan tiba, demikian wajah orang yang bersih lahir batin konon. Wirama Indrawangsa di atas sesungguhnya memberikan gambaran tentang kembalinya Sang Atma menuju Sunia Loka, digambarkan seperti halnya Arjuna ketika meninggalkan hutan pertapaan. Burung merak menjerit bagai tangisan hutan menggambarkan tangisan seseorang ketika ditinggalkan oleh orang yang disayangi, lebihlebih ditinggalkan untuk selama-lamanya. Isak tangis dan deraian air mata melukiskan betapa sedihnya orang yang ditinggalkan bagaikan hutan berselimut kabut. Setelah Wirama Indrawangsa dilanjutkan dengan Wirama Praharsini memakai kaidah metrum kidung yang sering disebut Puh Prahaesini. Tunwan manmatha dumilah wineh pradipta. Saksat asta manasija ngawe saharsa. Donyangambila ri sira susatya dewi. Agyangajwa turida raga harsa ri twas (Puh Praharsin. Terjemahannya: Api pembakaran Sang Hyang Smara berkobaran hingga bersinar, seperti Dewa Smara dibikin gembira, itulah jalan untuk menjemput Beliau Sang Dewi yang setia, bermaksud akan memelihara cinta asmaranya berdasarkan rasa sama Wirama Praharsini di atas menggambarkan betapa sedihnya Dewi Ratih ketika ditinggal pergi selamanya oleh Sang Smara suaminya. Sang Dewi memohon kepada Dewa Rudra yaitu manefestasi Siwa sebagai pelebur, supaya suaminya tidak diambil karena rasa cintanya yang besar terhadap Sang suami. Namun. Dewa Rudra tetap melaksanakan tugasnya sebagai pelebur demi terjaganya siklus kehidupan di maya pada Kesedihan seseorang ketika ditinggal meninggal oleh kerabat, sanak saudara, ataupun orang yang dikasihi digambarkan oleh wirama di atas. Hadirnya Dewa Rudra sebagai api yang maha dasyat untuk pembebasan dan mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta. Dharmagita yang dipergunakan di dalam upacara ini, sesungguhnya adalah selalu menggambarkan situasi kondisi alam-alam kematian menurut keyakinan agama Hindu. Maka hal ini bukan hanya menjadi nyanyian suci pengiring prosesi, melainkan juga sebagai cerminan ajaran kepelapsan dalam agama Hindu. Dharmagita Dalam Upacara Bhuta Yajya di Kecamatan Teagallalang Kata Bhuta brarti unsur yang diadakan, yang diciptakan oleh Yang Maha Ada, yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kata bhuta sering dirangkaikan dengan kata kala yang artinya waktu atau energi. Bhuta Kala artinya unsur alam semesta dan kekuatannya (Putra, 1. Ritual Bhuta Yajya pada dasarnya bertujuan untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan energi alam semesta. Dalam pelaksanaannya ada dua jenis upacara Butha Yajya yaitu, . Upacara Butha Yajya yang berdiri sendiri, misalnya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Tawur Kasanga, memulai serta meletakkan dasar pada suatu bangunan, merubah status suatu tempat, dan sebagainya. Butha Yajya yang menyertai upacara-upacara lain misalnya pada waktu perkawinan, penyucian suatu bangunan, piodalan, dan lain-lain (Putra, 1. Penggunaan Dharmagita, baik dalam bentuk kidung ataupun pupuh bahkan wirama senantiasa akan berkaitan langsung dengan kekuatan alam semesta menuju keseimbangan antara Bhuana Agung dengan Bhuana Alit. Lantunan bait dharmagita mampu menciptakan gelombang positif yang berimbas pada harmonisasi alam. Berikut ini beberapa penggunaan Wirama di dalam upacara Bhuta Yajya utamanya dalam caru. Prosesi memanggil Bhuta disebut juga upacara Ngundang Bhuta, yang bertujuan menghadirkan Bhuta pada lokasi upacara. Dharmagita yang digunakan dalam upacara Ngundang Bhuta adalah Puh Jerum, yaitu sebagai berikut: Tangeh anamun turida. Salimur tan kasalimur. Prakerti abayeng dangu. Tumuwuh ta andadi wong. Rasa tan kadi ageman. Marmanira misreng kidung. Tan anuting pupuh basa. Pinahewa de sang wiku (Puh Jerum I) Terjemahannya: Banyak yang diceritakan perihal kesedihan itu, dihibur dan tak terhibur, akan hal perbuatan menyesalkan yang lampau, selama akan menjadi manusia, serasa tak ada pegangan, makanya saya merencanakan, membuat kidung, yang sesuai dengan irama serta bahasanya, yang sudah jelas menimbulkan kekecewaan para wiku . rang suc. (Surada, 2. Puh jerum dipergunakan untuk mengiringi prosesi upacara segala jenis caru dari tingkatan caru Eka Sato sampai pada Tawur. Untuk tingkatan kecil seperti dalam menghaturkan Segehan. Segehan Agung, dan Gelar Sanga tidak memakai pupuh jerum, karena tergolong yajya dalam tingkatan kecil. Umumnya, di Kecamatan Tegallalang penggunaan pupuh jerum dipakai ketika ngundang bhuta . emanggil bhuta kal. untuk hadir dalam upacara Bhuta Yajya tersebut. Puh jerum dilantunkan sampai beberapa bait sampai dilanjutkan dengan prosesi yang lainnya. Filsafat Hindu Yang Terkandung Dalam Dharmagita Aspek ketuhanan di dalam agama Hindu secara garis besarnya menguraikan tiga aspek, yaitu Tattwa. Susila, dan AcAra. Filsafat Hindu dalam dharmagita paling dominan mengacu pada aspek Tattwa. Tattwa berasal dari dua urat kata tat yang berarti hakekat, kenyataan, twa artinya yang bersifat. Jadi. Tattwa artinya hakekat, kenyataan, kebenaran, hakekat dari objek yang kongkrit, sari-sari ajaran (Tim, 2. Menurut Bantas dan Dana . bahwa pokok ajaran agama Hindu terdiri dari lima, yaitu . Brahman (Widh. Tattwa, . Atma Tattwa, . Karmaphala Tattwa, . Punarbhawa Tattwa, . Moksa Tattwa. Pondasi dasar pelaksanaan yajya dalam agama Hindu adalah Tri Guna, yaitu, sattwam, rajas, dan tamas. Teks Wuhaspati Tattwa 14 menyiratkan tri guna tattwa ngaranya sattwam, rajas, tamas yang artinya Tri Guna tattwa itu adalah sattwam, rajas, dan tamas (Tim, 2. Sattwam adalah aspek ketenangan, keikhlasan tanpa pamrih, rajas adalah nafsu dan semangat, dan tamas adalah lamban dan malas. Ketiga guna itu mempengaruhi manusia, demikian pula halnya aktivitas yajya yang dilakukan. Ketiga guna itu menjadi dasar kwalitas yajya yang dilakukan. Aspek filsafat atau kebenaran merupakan landasan dari sebuah persembahan yajya. Sebagaimana tersirat dalam kitab Bhagavadgita berikut AphAlakAnksibhir yajyo vidhiuste ta ijyate yastavyam eceAoti manah samAdhaAya sa sAttvikah (Bhagavadgita XVII. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Terjemahannya: Yajya yang dihaturkan sesuai dengan sastranya, oleh mereka yang tidak mengharapkan buahnya . dan teguh kepercayaannya, bahwa memang sudah kewajibannya untuk beryajya adalah sattwika, baik (Mantra, 1. Sloka di atas, menegaskan bahwa persembahan atau yajya adalah sebuah kewajiban yang dilakukan atas dasar ketulus ikhlasan. Yajya seperti itulah yang disebut sattwika yajya. Sesungguhnya yajya itu hendaknya mengacu pada petunjuk-petunjuk sastra untuk menuju satwika yajya dan bukan rajasika yajya ataupun tamasika yajya. Yajya itu semestinya ada pembagian makanan sisa persembahan . , ada mantramantra pemujaan yang dilantunkan, ada syair-syair pemujaan yang dinyanyikan, dan ada pemberian atau dana punia. Syair-syair pemujaan yang dimaksud adalah chanda atau Dalam pemujaan agama Hindu syair-syair yang dinyanyikan disebut dharmagita. Apa yang tersirat dalam kitab Bhagavadgita di atas mengaskan bahwa hendaknya yajya itu dilaksanakan atas dasar sastra dan didasari ketulus ikhlasan tanpa mengharapkan buahnya, maka sattwikalah persembahan itu. Demikian pula halnya dharmagita dalam pelaksanaan upacara panca yajya di Kecamatan Tegallalang yang selalu berpedoman pada tradisi dan sastra. Dharmagita menjadi sebuah tradisi, secara aplikasi terlihat dalam sebuah pemujaan kehadapan Tuhan. Beliau dipuja sebagai pengayom dan pembimbing secara niskala manusia Bali secara utuh dan menyeluruh. Dalam kitab Veda, hal ini diharuskan sebagai upaya untuk mempertajam intelek dan memohon anugerah ilmu pengetahuan suci. Maka pemujaan terhadap para Dewata, juga dinyatakan sebagai bentuk memohon ketajaman kecerdasan rohani, dalam kitab Yajur Veda. xII. 15, disebutkan: Medhaam me varuno dadaatu Medhaam agnih prajaapatih Medhaam indrasca vaayusca Medhaam dhaata dadaatu me (Yajur Veda. xII. Terjemahannya: Semoga para Dewata seperti Hyang Varuna. Sang Hyang Agni. Sang Hyang Prajapati. Bhatara Indra. Sang Hyang Vayu dan Sang Hyang Data melimpahkan intelek kepada kami (Suryasharma, 2. Berdasarkan uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa dengan demikian seorang yang tengah membaca kakawin, sebelum memulai akan melaksanakan doa terlebih dahulu, sebab ini masuk dalam wilayah kebenaran dan mencari sebuah hakikat dari ilmu pengetahuan menginginkan mempertajam intelek rohani mereka, dengan partikel para dewata. Sebab intelek rohani tidak akan dapat terbuka dengan sembarangan. Perlu sebuah sadhana spiritual yang mantap agar seseorang dapat membuka intelek Dengan demikian Buddhi kecerdasan rohaninya akan tumbuh, dari sanalah muncul sebuah kesadaran akan hakikat yang sejati. Kitab Sama Veda juga memuat beberapa sloka yang menguraikan tentang penggunaan dharmagita dalam ritual keagamaan untuk memuja Tuhan, yaitu Sama Veda I. GAyanti tvA gAyatrano BrahmAnastvA uatakrata udvamuamiva yemire (Sama Veda I. Terjemahannya: Para penyanyi memuji-Mu, mereka yang melantunkan pujian untukMu, para brahmana mengagungkanMu, wahai Sutakratu, seperti sebuah tiang (Griffith. Kitab Sama Veda menempatkan dharmagita sebagai syair-syair pujian kepada Tuhan, yang mengibaratkan Tuhan bagaikan sebuah tiang yang berdiri tegak dan kokoh https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sebagai pelindung semua makhluk. Dewa Indra juga digambarkan bagaikan hutan yang mebesar akibat puji-pujian syair pemujaNya. Nampaklah dalam sloka di atas, pibrasi kidung yang dilantunkan dalam suatu pemujaan, membuat Tuhan menjadi lila . Implikasi Penggunaan Dharmagita Dalam Pelaksanaan Upacara yajya di Kecamatan Tegallalang Kabupaten Gianyar Penggunaan dharmagita dalam penelitian ini berimplikasi pada peningkatan kualitas dan vibrasi upacara Upacara yajya. Lantunan bait dharmagita memberi vibrasi positif dan menambah kekhusukan dalam upacara, juga untuk meningkatkan keyakinan umat dalam menghayati Tuhan dalam segala manifestasinya. Ketika dharmagita utamanya kidung dilantunkan dengan suara yang merdu, mengalun dan mendayu-dayu, akan menimbulkan vibrasi yang berbeda dalam pelaksanaan upacara yajya tersebut. Dharmagita pua berimplikasi pada pengikatan sraddha dan bhakti umat, dengan mendengarkan dharmagita akan menambah keyakinan dalam beragama. Melalui pemahaman dan esensi dharmagita, mampu mengugah hati masyarakat untuk lebih meningkatkan sraddha dan bhakti kepada Tuhan. Ini merupakan sebuah pendekatan estetika yang berusaha memberikan informasi kepada masyarakat luas mengenai ajaran agama Hindu yang terkandung dalam lantunan bait dharmagita. Dharmagita berimplikasi pula untuk meningkatkan solidaritas sosial Aktivitas dharmagita dalam upacara keagamaan secara tidak langsung menyentuh tatanan nilai kebersamaan. Kebersamaan ini semakin kuat ketika ada rasa persamaan dan persaudaraan menjadi satu dalam tujuan. Nilai kebersamaan ini ketika dipupuk dan di tanamkan akan berdampak pada tatanan solidarita sisial. Initi dari pada solidaritas sosial ini adalah beragama dalam kebersamaan. Artinya segala sesuatu dikerjakan bersama secara bergotong-royong demi mewujudkan kepentingan bersama. Kesimpulan Berdasarkan atas hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan dapat di simpulkan bahwa penggunaan dharmagita dalam upacara yajya di kecamatan tegallalang merupakan pengejawantahan dari sikap berketuhanan. Dharmagita merupakan jenis sastra yaitu sastra gita atau tembang yang memiliki eksistensi sebagai konvensi sastra, konvensi bahasa dan konvensi budaya. Dharmagita terdiri atas, sekar rare, sekar alit, sekar madya, sekar agung. Dharmagita sebagai nyanyian keagamaan bagi umat Hindu yang dipergunakan menyertai kegiatan keagamaan khususnya yang berhubungan dengan ritual yajya atau panca yajya. Pemujaan kepada Tuhan dilakukan dengan melantunkan dharmagita sebagai bentuk pembayaran hutang . yang dikenal dengan Tri Rna. Ketiga hulang tersebut dijabarkan dalam sikap pemujaan yaitu upacara yajya atau panca Adapun temuan penelitian berdasarkan data dan analisis data yang dilakukan bahwa dharmagita merupakan cara berketuhanan umat Hindu di kecamatan Tegallalang. Daftar Pustaka