Wacana Kesehatan Vol. No. Juli 2018 E-ISSN : 2541-6251 MODEL PREDIKSI FAKTOR KEJADIAN HIPERLIPIDEMIA PESERTA ASKES DI KECAMATAN METRO TIMUR KOTA METRO PREDICTION MODEL FACTORS OF HYPERLIPIDEMIA EVENTS IN PARTICIPANTS ASKES IN EAST METRO DISTRICT METRO CITY Supardi Akademi Keperawatan Dharma Wacana Metro ABSTRAK Fenomena pada abad ke-20, penyakit serangan jantung dan pembuluh darah telah menggantikan peran penyakit tuberculosis di Indonesia. Penyakit serangan jantung adalah suatu penyakit yang menyebabkan kematian. Hiperlipidemia adalah sebuah masalah kesehatan masyarakat karena berhubungan terhadap tingginya presentase sebuah penyakit dengan kematian koroner dan mengurangi produktivitas. Faktor-faktor penyebab hiperlipidemia adalah umur, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, indeks masa tubuh, aktivitas olahraga, penyakit keturunan, dan pola makan. Objek penelitian ini adalah untuk mengetahui factor-faktor hiperlipidemia yang terjadi pada para peserta Askes di Kecamatan Metro Timur. Metode dari penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan menggunakan rancangan cross sectional, dengan sampel sebanyak 137 responden. Tidak ada hubungan antara umur dengan hiperlipidemia . :0,. , tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan hiperlipidemia . :0,. , tidak ada hubungan antara latar belakang dengan hiperlipidemia . :0,. Terdapat hubungan antara aktivitas olahraga hiperlipidemia . :0,. , terdapat hubungan antara latar belakang penyakit keturunan dengan hiperlipidemia . :0,. , terdapat hubungan antara indeks masa tubuh dengan hiperlipidemia . :0,. , terdapat hubungan antara pola makan/kebiasaan makan dengan hiperlipidemia . :0,. Seseorang yang memiliki resiko hiperlipidemia, mereka harus melakukan pemeriksaan kesehatan darahnya secara berkala, agar kolesterol dalam darah dapat di Keyword : hiperlipidemia. Pola hidup sehat, olahraga secara teratur. ABSTRACT The 20th century phenomenon, heart attack and vein have replaced role of disease of tuberculosis in Indonesia, heart attack is one of deseases whict causes death. Hiperlipidemia is a problem of public health because it relates to high presence of an illness and mortality of coronary and reducing of produktifity. The factors of hiperlipidemia are : age, gender, beckground of study, the indek a pertod of body, sport activity, beckground of heredity disease and custom how to eat. the object of this research is to find out some factors hiperlipidemia as reflected in Kecamatan Metro Timur. Metro. The method of this research is quantitative method because it refers to concern with Cross Sectional model that oecurs to 137 respondents. There is no relation between age and hiperlipidemia . =0,. , there is no relation between gender and hiperlipidemia . =0,. , there is no relation between background of study and hiperlipidemia . =0,. , there is relation between sport activity and hiperlipidemia . =0,. , there is relation between background of heredity disease and hiperlipidemia . =0,. , there is relation between the indek a pertod of body and hiperlipidemia . =0,. , tere is relation between the custom how to eat and hiperlipidemia . =0,. Same one who has got some risk of hiperlipidemia they must have to get blood medical check up routinely periodically, the doctor can control the cholesterol in their blood. Keyword : hiperlipidemia. Healthy habit, exercise routinly. Supardi Wacana Kesehatan Vol. No. Juli 2018 pembangunan kesehatan. PENDAHULUAN Kemajuan E-ISSN : 2541-6251 strategi baru tersebut telah disusun dalam dampak dari pembangunan di negara-negara Pembangunan sebagai-mana Kebijakan dan Berwawasan Gerakan Kesehatan Indonesia menyebabkan perbaikan tingkat sebagai Strategi Nasional menuju Indonesia Sehat 2010 4. Hal ini menjadikan kesehatan masyarakat meningkat, di samping itu terjadi Di Indonesia, penyakit jantung juga pula perubahan pola hidup. Perubahan pola hidup ini yang menyebabkan pola penyakit Data kesehatan rumah tangga berubah, dari penyakit infeksi dan rawan gizi (SKRT) tahun 1996 menunjukan bahwa ke penyakit-penyakit degeneratif, diantaranya proporsi penyakit ini meningkat dari tahun adalah penyakit jantung dan pembuluh darah ke tahun sebagai penyebab kematian. Tahun (Kardiovaskule. dan akibat kematian yang 1975 kematian akibat penyakit jantung hanya Hasil survei kesehatan 5,9 %, tahun 1981 meningkat , menjadi 9,1 nasional pada tahun 2001 menunjukkan %, tahun 1986 melonjak menjadi 16 % dan bahwa 26,3% penyebab kematian adalah tahun 1995 meningkat menjadi 19 %. Sensus pembuluh darah, nasional tahun 2001 menunjukkan bahwa kemudian diikuti oleh penyakit infeksi, kematian karena kardiovaskuler termasuk penyakit jantung koroner adalah sebesar 26,4 jantung dan kecelakaan lalu lintas 11. % 5 dan sampai dengan saat ini PJK juga Menyadari terjadinya perubahan pola merupakan penyebab utama kematian dini penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit pada sekitar 40 % dari sebab kematian laki- laki usia menengah 1. jantung dan pembuluh darah yang terjadi Kondisi Penyakit kardiovaskuler di dinegara-negara maju. Pemerintah Republik Propinsi Lampung tercatat secara berurutan Indonesia dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 Supardi adalah 4719 orang, 6964 orang dan 4736. Wacana Kesehatan Vol. No. Juli 2018 E-ISSN : 2541-6251 menyebabkan kadar LDL-kolesterol di dalam sirkulasi akan semakin meningkat 9. meninggal pada tahun 2008 serta 47 orang Hiperlipidemia merupakan salah satu meninggal pada tahun 2009. faktor resiko penyebab penyakit jantung Selanjutnya laporan Dinas Kesehatan koroner di samping faktor-faktor lain seperti Kota Metro bahwa penyakit kardiovaskuler pada tahun 2007 tercatat 617 orang dan tahun obesitas, stress, gaya hidup, jenis kelamin 2008 tercatat 1189 serta pada tahun 2009 dan diabetes militus. Hiperlipidemia adalah tercatat 392 orang. suatu keadaan yang menunjukkan adanya Hasil program pemeriksaan darah peningkatan lemak darah termasuk kolesterol bagi peserta Askes yang dilakukan di Kota Metro pada tahun 2009 diketahui bahwa lipoprotein-lipoprotein khusus 3. kejadian hiperlipidemia sebanyak 18,5%, dan METODE terdistribusi di Kecamatan Metro Utara 15,8%, di Kecamatan Metro Pusat 20,4%, di Jenis penelitian ini adalah penelitian Kecamatan Timur 22,4%, di Kecamatan Menggunakan rancangan Cross Metro Barat 17,4 %, dan di Kecamatan Sectional. Populasi dalam penelitian adalah Metro Selatan 13,8%. seluruh peserta Askes di Kecamatan Metro Timur baik laki-laki maupun perempuan Kadar kolesterol darah yang tinggi dapat mengendap pada dinding pembuluh darah bagian dalam, dan selanjutnya akan Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan kriteria sebagai berikut : sehingga mengganggu metabolisme sel otot Peserta Askes Kecamatan Metro Timur, laki- Mengkonsumsi makanan tinggi laki maupun perempuan. Mengikuti general kolesterol dan lemak jenuh menyebabkan check up yang dilaksanakan di Rumah Sakit peningkatan kolesterol intrasel, dan akan Mardi Waluyo Kota Metro pada tahun 2010. disimpan sebagai ester kolesterol yang Penelitian dilakukan pada bulan oktober menyebabkan penurunan transkripsi gen 2010 dengan sampel sebanyak 137 orang. Supardi Variable dependen dalam penelitian reseptor High Density-Lipoprotein (HDL) dan menurunkan sintesis LDL. ini adalah: Hiperlipidemia (Kolesterol Total Hal ini Wacana Kesehatan Vol. No. Juli 2018 Tabel 1 Disbtribusi responden menurut umur, jenis kelamin, jenjang pendidikan, aktifitas olahraga. IMT, riwayat keturunan, hiperlipidemia. LDL. HDL, trigliserida, dan Trigliserid. Variabel independen dalam penelitian ini adalah: Usia. Jenis kelamin. Jenjang pendidikan. IMT. Olahraga. Riwayat Kebiasaan E-ISSN : 2541-6251 Pengambilan data kimia darah diambil di RS Variabel Mardiwaluyo Kota Metro, selanjutnya untuk Kelompok umur < 40 tahun 41-45 tahun 46-50 tahun 51-55 tahun >56 tahun Jumlah Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Jenjang pendidikan SLTA Diploma II Strata I Jumlah Aktifitas olah raga Tidak berolahraga Berolahraga Jumlah Indek Masa Tubuh Berlebih Normal/ideal Jumlah Riwayat penyakit keturunan Ada riwayat penyakit Keturunan Tidak ada riwayat penyakit Keturunan Jumlah Kebiasaan makan Tinggi lemak Rendah lemak Jumlah Hiperlipidemia Hiperlipid Tidak hiperlipid Jumlah Kolesterol total Tinggi Rendah/normal Jumlah Trigliserida Tinggi Rendah/normal Jumlah melengkapi data yang diperlukan diberikan kuisioner kepada ibu-bapak dengan cara masing-masing. Selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Chi Square untuk mengetahui hubungan HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik responden Rerata umur responden adalah 49,99 Dari tabel 1 terlihat bahwa jumlah responden dengan umur < 40 tahun sebanyak 12 orang . ,75%), responden dengan umur 41-45 tahun sebanyak 10 orang . ,30%), responden dengan kelompok umur 46-50 ,05%), responden dengan kelompok umur 51-55 tahun sebanyak 39 orang . ,46%), responden dengan kelompok umur 56 tahun keatas sebanyak 28 orang . ,44%). Supardi Jumlah . Persen (%) 8,75 7,30 35,05 28,46 20,44 Wacana Kesehatan Vol. No. Juli 2018 Dari tabel 1 terlihat bahwa usia E-ISSN : 2541-6251 berat badan normal sebanyak 59 orang atau responden < 40 tahun sebanyak 12 orang sekitar 43,1%. ,75%), usia 41-45 tahun sebanyak 10 orang Rerata . ,3%), usia 46-50 tahun sebanyak 48 orang . ,05%) usia 51-55 tahun sebanyak 39 hiperkolesterol sebanyak 51 orang . ,2%) orang . ,46%) dan > 56 tahun sebanyak 28 dan responden sebanyak 86 orang . ,8%) orang . ,44%). tidak memiliki riwayat penyakit keturunan Selanjutnya data usia dikelompokan dalam dua kategorik yaitu memiliki hiperkolesterol. tidak beresiko usia < 45 tahun sebanyak 22 Rerata orang . ,1%) dan beresiko usia > 46 tahun sebanyak 115 orang . ,9%). sebanyak 56 orang . ,9%) dan responden Rerata jenis kelamin adalah perempuan yang mengkonsumsi makanan rendah lemah yaitu sebanyak118 orang . ,1%) dan laki- sebanyak 81 orang . ,1%) laki sebanyak 19 orang . ,9%) Sesuai Dari tabel 1 menunjukkan bahwa pada responden yang memiliki hiperlipidemia jenjang pendidilan SLTA sebanyak 34 orang sebanyak 68 orang . ,6%) dan responden ,8%), yang tidak hiperlipid sebanyak 69 orang pendidikan Diploma II sebanyak 49 orang . ,4%). ,8%), dan jenis pendidikan sarjana strata Dari tabel 1, juga terlihat responden satu sebanyak 54 orang . ,4%) Sesuai yang memiliki kolesterol total > 200 mg/dL sebanyak 23 orang . ,6%) dan responden sebanyak 78 orang . ,9%) responden tidak yang memiliki kolesterol total < 200mg/dL melakukan aktifitas olahraga, dan hanya sebanyak 114 orang . ,2%). Selanjutnya sebanyak 59 . ,1%) responden melakukan responden yang memiliki kadar trigliserida aktifitas olahraga. >150 mg/dL sebanyak 58 orang . ,3%) dan Rerata Indek Masa Tubuh (IMT) responden yang memiliki kadar trigliserida <150 sebanyak 79 orang . ,7%). yakni sebanyak 78 orang . ,9%) memiliki berat badan berlebih, dan yang memiliki Supardi Wacana Kesehatan Vol. No. Juli 2018 Analisis Data E-ISSN : 2541-6251 Usia Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR=0,657, artinya bahwa usia lebih dari 45 tahun bukan merupakan faktor Tabel 2. Distribusi responden menurut usia dan terjadinya terjadinya hiperlipidemia. resiko terjadinya hiperlipidemia. Hasil ini sama dengan hasil penelitian Hiperlipidemia yang dilakukan oleh Sukardi . 2, yang Tidak (<45 tahu. (> 46 tahu. analisis bahwa tidak terdapat hubungan yang Umur Jumlah menemukan frekuensi usia responden banyak berusia lebih dari 45 tahun, dan dari hasil 0,509 Hasil analisis menggambarkan bahwa usia responden < 45 tahun Hasil penelitian ini berbeda dengan yang dilakukan oleh Kamso. Purwantyastuti, . ,1%) dan responden berusia > 45 tahun Juwita . , bahwa lanjut usia tinggal di sebanyak 115 . ,9%). Dari hasil ini terlihat kota padang mempunyai prevalensi 56,1% bahwa variabel usia tidak tersebar merata ke untuk hiperkolesterolemia dan prevalensi dalam dua kategori . sia < 45 tahun dan berusia > 46 tahu. LDL tinggi sebanyak 64,6%. dan hampir seluruh Hasil ini berbeda dengan teori yang responden dalam penelitian ini banyak yang disampaikan oleh Barras dalam Muhammad beresiko terhadap hiperlipidemia Hasil analisis . bahwa biasanya jumlah lemak dalam usia responden dengan terjadinya hiperlipidemia diperoleh bahwa Kondisi ini kemungkinan disebabkan berusia < 45 tahun kejadian hiperlipidemia. Sedangkan responden yang beresiko atau dibandingkan dengan responden laki-laki. berumur > 46 tahun sebanyak 59 . ,3%) Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,509 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang Supardi bertambahnya usia3. ada sebanyak 9 . ,9%) responden yang yang kejadian hiperlipidemia. Wacana Kesehatan Vol. No. Juli 2018 Jenis terjadinya hiperlipidemia dengan kejadian hiperlipidemia. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR=0,870. Tabel 3. Distribusi responden menurut jenis kelamin dan terjadinya hiperlipidemia. Jenis Hiperlipidemia Tidak Hiperlipid Perempuan Jumlah Hasil ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sukardi . , yang Laki-laki E-ISSN : 2541-6251 0,973 dibandingkan laki-laki, dan dari hasil analisis Hasil analisis menggambarkan bahwa signifikan jenis kelamin jenis kelamin laki-laki sebanyak 19 . ,9%) dengan kejadian dan jenis kelamin perempuan sebanyak 116 Hasil ini berbeda dengan pendapat . ,1%). Dari hasil ini terlihat bahwa Freeman dan Junge . bahwa jenis variabel jenis kelamin tidak tersebar merata kelamin laki-laki sampai umur 50 tahun ke dalam dua kategori dan hampir seluruh memiliki resiko 2-3 kali lebih besar responden dalam penelitian ini banyak yang dibandingkan perempuan untuk mengalami berjenis kelamin perempuan yang tidak arteroklorosis oleh kolesterol7. beresiko terhadap hiperlipidemia. Hasil Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh jenis kelamin perempuan lebih banyak responden dengan kejadian hiperlipidemia dibandingkan leki-laki. diperoleh bahwa ada sebanyak 10 . ,6%) laki-laki diatas 50 tahun atau setelah menapous memiliki resiko yang sama dengan laki-laki. Sedangkan responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 58 . ,2%) dengan kejadian hiperlipidemia. Masa maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan jenis kelamin mencegah terbentuknya arteroklerosis. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,973 Supardi Pada wanita usia Wacana Kesehatan Vol. No. Juli 2018 E-ISSN : 2541-6251 Jenjang pendidikan responden dan terjadinya hiperlipidemia Aktifitas olah raga dan terjadinya Tabel 4. Distribusi responden menurut jenjang pendidikan dan terjadinya hiperlipidemia. Tabel 5. Distribusi responden menurut aktifitas olahraga dan terjadinya hiperlipidemia. Jenjang Tidak Hiperlipidemia Perguruan Hiperlipid Total Tinggi SLTA Jumlah Hasil analisis Aktifitas olah raga responden Hiperlipidemia Tidak Hiper Berolah raga Tidak berolah 0,048 Jumlah jenjang pendidikan Hasil analisis menggambarkan bahwa responden dengan terjadinya hiperlipidemia responden yang melakukan aktfitas olahraga diperoleh bahwa ada sebanyak 48 . ,6%) sebanyak 79 . ,7%) dan responden jenjang pendidikan perguruan melakukan aktifitas olahraga sebanyak 58 . ,3%). Dari hasil ini terlihat bahwa Sedangkan yang tidak variabel aktifitas olahraga cukup pendidikan SLTA sebanyak 20 . ,8%) merata ke dalam dua kategori dan lebih dengan kejadian hiperlipidemia. Hasil uji banyak responden dalam penelitian ini statistik diperoleh nilai p=0,299 maka dapat banyak yang melakukan aktifitas olahraga disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang dan tidak beresiko terhadap hiperlipidemia. Hasil kejadian hiperlipidemia. Dari hasil analisis responden dengan kejadian hiperlipidemia diperoleh pula nilai OR=1,637, diperoleh bahwa ada sebanyak 33 . ,8%) bahwa jenjang pendidikan SLTA mempunyai dengan kejadian hiperlipidemia. Sedangkan hiperlipidemia dibanding jenjang pendidikan responden yang tidak berolahraga sebanyak 35 . ,3%) dengan kejadian hiperlipidemia. 1,637 Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,048 Supardi Wacana Kesehatan Vol. No. Juli 2018 E-ISSN : 2541-6251 hubungan yang signifikan aktifitas olahraga meningkatkan kadar HDL-kolesterol. dengan kejadian hiperlipidemia. Dari hasil Manfaat olahraga yaitu meningkatkan analisis diperoleh pula nilai OR=2,121, kerja dan fungsi jantung, paru-paru dan pembuluh darah, yang ditandai dengan. berolahraga mempunyai resiko 2,121 kali denyut nadi istirahat menurun, isi sekuncup untuk terjadi hiperlipidemia dibanding yang tidak berolahraga. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh meningkatkan pembuluh darah kolateral. Supriyono . , yang mengatakan bahwa aktifitas HDL-kolesterol mengurangi arterosklerosis. tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian hiperlipidemia. Indek Masa Tubuh responden dan terjadinya hiperlipidemia bahwa aktifitas olahraga bukan merupakan Tabel 6. Distribusi responden menurut Indeks Masa Tubuh dan terjadinya hiperlipidemia. Hasil ini menguatkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sukardi . IMT ,yang mengatakan bahwa terdapat hubungan yang Berat Berat Jumlah signifikan aktifitas olahraga dengan kejadian Hasil ini juga menguatkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kamso, . 10 Hiperlipidemia Tidak Hiper p-value 0,011 Hasil analisis menggambarkan bahwa aktifitas olahraga dengan kategori sedang responden yang memiliki Indek Masa Tubuh dapat menurunkan kadar kolesterol total berlebih sebanyak 83 . ,6%) dan dalam darah, meningkatkan HDL-kolesterol. memiliki Indek Masa Tubuh normal . Selanjutnya sebanyak 54 . ,4%). Dari hasil ini terlihat Purwatyastuti. Juwita menguatkan hasil penetian yang lakukan oleh Edison . bahwa aktifitas aerobik dapat tersebar merata ke dalam dua kategori dan Supardi variabel Indek Masa Tubuh tidak Wacana Kesehatan Vol. No. Juli 2018 E-ISSN : 2541-6251 lebih banyak responden dalam penelitian ini masuk kategori IMT berlebih dan beresiko terhadap kejadian Dislipidemia di Kota terhadap hiperlipidemia. Padang 10. Hasil analisis antara Indek Masa Tubuh Obesitas menyebabkan hiperlipidemia, diperoleh bahwa ada sebanyak 19 . ,2%) kolesteron endogen per unit berat badan 20% responden Indek Masa Tubuh yang normal dengan kejadian hiperlipidemia. Sedangkan Sedangkan responden yang Indek Masa Tubuh berlebih mekanismenya tidak jelas akan tetapi pada orang yang mengkonsumsi makanan tinggi . ,0%) nilai p=0,011 maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan Indek Masa mengalami peningkatan dan biasanya orang Tubuh yang konsumsi makananya tinggi kalori Dari hasil analisis diperoleh OR=2,655. Hasil uji statistik diperoleh adalah orang obese. Riwayat keturunan responden dan terjadinya hiperlipidemia responden yang Indek Masa Tubuh berlebih mempunyai resiko 2,655 kali untuk terjadi Tabel 7. Distribusi responden menurut riwayat penyakit keturunan dan terjadinya hiperlipidemia dibanding yang Indek Masa Tubuh normal. Hasil penelitian ini berbeda dengan Riwayat Supriyono . , yang mengatakan bahwa IMT berlebih tidak memiliki hubungan yang Tidak ada Ada riwayat Jumlah signifikan terhadap kejadian hiperlipidemia, dan bahwa IMT berlebih bukan merupakan faktor resiko untuk terjadinya hiperlipidemi8. Hasil penelitian ini menguatkan hasil Hasil penetilian yang dilakukan oleh Kamso. Purwantyastuti. Juwita. bahwa IMT Supardi Hiperlipi Tidak Hip p-value 0,000 Wacana Kesehatan Vol. No. Juli 2018 E-ISSN : 2541-6251 Pada sebanyak 11 . ,6%) responden tidak ada hiperlipidemia gene yang mengatur sintesis riwayat penyakit keturunan dengan kejadian protein enzim untuk metabolisme kolesterol. Sedangkan responden yang ada riwayat penyakit keturunan sebanyak 57 Kadar kolesterol dan trigiliserida . ,3%) dengan kejadian hiperlipidemia. tinggi atau dikenal hiperlipidemia familial. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,000 yang diturunkan orang tua pada anaknya. Faktor genetik akan selalu berpose dan hubungan yang signifikan riwayat keturunan dengan kejadian hiperlipidemia. Dari hasil Misalkan ayah atau ibu kita memiliki analisis diperoleh pula nilai OR=7,147, penyakit kolesterol, kemungkinan besar kita artinya bahwa responden yang memiliki tidak bisa lepas dari penyakit yang sama, sebab kita lahir dari hormon dan darah yang resiko 7,147 kali untuk terjadi hiperlipidemia sama (Muhammad, 2. dibanding yang tidak ada riwayat keturunan. Hasil ini menguatkan hasil penelitian Kebiasaan makan responden terjadinya hiperlipidemia yang dilakukan oleh Sukardi . ,yang Tabel 8. Distribusi responden menurut kebiasaan makan dan terjadinya hiperlipidemia. mengatakan bahwa terdapat hubungan yang dengan kejadian hiperkolesterolemia. 2 Tetapi Penelitian ini juga berbeda dengan yang Kebiasaan makan responden dilakukan oleh Supriyono . tidak terdapat hubungan yang signifikan kejadian Rendah lemak Tinggi lemak Jumlah PJK dengan riwayat orang tuanya menderita PJK8. Hiperlipidemia Tidak Hiper 0,002 Hasil analisis menggambarkan bahwa Riwayat penyakit keluarga disini responden dengan kebiasaan konsumsi tinggi dimaksudkan penyakit yang sangat erat lemak sebanyak 56 . ,9%) dan responden dengan konsumsi rendah lemak sebanyak 81 hipertensi dan PJK. Adanya penyakit yang . ,1%). Dari hasil ini terlihat bahwa diderita juga oleh keturunannya menunjukan Supardi Wacana Kesehatan Vol. No. Juli 2018 E-ISSN : 2541-6251 variabel kebiasaan makan cukup tersebar merata ke dalam dua kategori namun lebih mengakibatkan overweight bahkan obesitas, dapat pula secara langsung meningkatkan yang tidak terhadap hiperlipidemia Hasil kadar lemak darah. Lemak jenuh sangat berbahaya bagi responden dengan kejadian hiperlipidemia kesehatan, kelebihan lemak jenuh akan diperoleh bahwa ada sebanyak 31 . ,3%) responden kebiasaan makan rendah lemak dengan kejadian hiperlipidemia. Sedangkan makanan seperti. minyak kelapa, santan, responden dengan kebiasaan makan tinggi minyak jagung, minyak kedelai dan lain-lain lemak sebanyak 37 . ,1%) dengan kejadian Hasil uji statistik diperoleh pemanasan tinggi atau dipanaskan secara nilai p=0,002 maka dapat disimpulkan bahwa berulang-ulang (Muhammad, 2. LDL Lemak jenuh bersumber dari ada hubungan yang signifikan Menurut ornish dalam Muhammad . , mengurangi asupan makanan yang Dari hasil analisis diperoleh mengandung lemak hewani merupakan cara OR=3,141, responden yang memiliki kebiasaan makan tinggi lemak mempunyai resiko 3,141 kali untuk terjadi hiperlipidemia dibanding yang merupakan cara untuk melawan penyakit memiliki kebiasaan makan rendah lemak. pembuluh darah seperti jantung. Hasil penelitian ini senada dengan yang telah dilakukan oleh Kandau . SIMPULAN yang mengatakan bahwa kebiasaan makan Tidak ada hubungan usia dengan kejadian tinggi lemak jenuh berhubungan signifikan Tidak ada hubungan dengan kejadian PJK di Sulawesi utara kelamin dengan kejadian hiperlipidemia . Kebiasaan makan yang salah yaitu Tidak ada hubungan jenjang pendidikan protein hewani dikonsumsi lebih banyak dari hubungan aktifitas olahraga dengan kejadian makanan tinggi serat serta hidrat arang dan Supardi Ada Ada Wacana Kesehatan Vol. No. Juli 2018 AsAoadi Muhammad. Waspadai Kolesterol Tinggi. Bukubiru. Yogyakarta, 2009 Dinas Kesehatan Propinsi Lampung. Profil Kesehatan propinsi Lampung Tahun 2009. Bandar Lampung, 2009 Departemen Kesehatan RI, survey Kesehatan Nasional 2001: Laporan Studi Mortalitas 2001: Pola penyakit penyebab kematian di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta. Grace D Kandau. Kebiasaan makan makanan etnik minahasa di propinsi Sulawesi utara. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol 3. No 2. FK USR Manado, 2009 Mason W Freeman. MD dan Cristine Jungle. Kolesterol Rendah Jantung Sehat. PT BIP Kelompok Gramedia. Jakarta. Mamat Supriyono. Faktor-faktor resiko yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit jantung pada kelompok usia < 45 tahun. Studi kasus di RSUP dan RS Telogorejo Semarang. UNDIP, 2008 Sarwono Waspadji, et. Pengkajian Status Gizi. Studi Epidemiologi. FKUI. Jakarta, 2003 Sujianto Kamso. Purwantyastuti. Ratna Juwita. Dislipidemia pada lansia lanjut usia di kota padang. Makara. Kesehatan. Vol 6 No 2. Jakarta, 2002 Susiana C Lantip R dan Thianti S. Kadar melondiadehid (MDA) penderita penyakit jantung koroner di RSUP Dr. Sarjito Yogyakarta. Mandala of Health, a Sciantific Journal, vol 2, 2006. Ada hubungan Indek Masa Tubuh dengan kejadian hiperlipidemia. Ada hubungan kebiasaan makan dengan kejadian SARAN Kepada masyarakat yang memiliki kebiasaan makan tinggi lemak, kebiasaan tidak pernah melakukan aktifitas olah raga, memiliki Indek Masa Tubuh berlebih dan memiliki riwayat keturunan darah tinggi. PJK, hiperlipidemia, disarankan agar sering melakukan pemeriksaan darah secara rutin sehingga secara berkala dapat dipantau dan diketahui keadaan kimia darahnya. Karena dibandingkan dengan seseorang yang tidak memiliki faktor resiko sebagaimana tersebut di atas. DAFTAR PUSTAKA