Muhammad Mudzakkir Perkembangan Kajian Teoritis Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu ISSN 2656-7202 (P) ISSN 2655-6626 (O) Volume 4 Nomor 2. Juli-Desemmber 2021 DOI: https://doi. org/10. 35961/perada. PERKEMBANGAN KAJIAN TEORITIS DAN TIPOLOGI TAFSIR DI MESIR Muhammad Mudzakkir STAI Nurul Iman Bogor Jawa Barat muhammadmudzakkir99@gmail. ABSTRAK Perkembangan tafsir dari masa ke masa memiliki sejarah yang panjang dan corak yang berbedabeda serta memiliki ciri khas tersendiri sehigga mencapai bentuknya seperti dapat kita saksikan sekarang ini. Mesir adalah salah satu Negara yang manjadi rujukan dalam hal keilmuan diantaranya kajian tafsir pasca keruntuhan Bagdad. Tulisan ini menggunakan library research dengan menggunakan metode analisis deskriptif unutuk mengungkap dan memaparkan pembentukan tafsir, metode-metode yang digunakan dalam penanfisran serta menemukan tipologi Secara preodik Jika dikelompokkan perkembangan tafsir dari awal Islam hingga era modern khususnya di wilayah Mesir dapat kita bagi menjadi tiga periodik. penyusunan , klasifikasi, dan pembaharuan. Dari tiga proses tahapan ini, muncul ragam tafsir dan mengalami perkembangan seiring waktu. pada fase awal kajian tafsir masih berorientasi pada aspek riwyyah yang berhaluan pada penafsiran Abdullah bin Abbas. kemudian pada fase berikutnya yaitu tahap pengembangan penafsiran sudah mulai mengelaborasi aspek riwyyah dengan diryyah yang menjadikan kajian bahasa sebagai fokus utama dan pada fase ketiga adalah pembaharuan studi tafsir sehingga muncul perspektif melalui metode yang lebih objektif dan menjadi rujukan dari setiap masalah-masalah sosial yang melanda umat Islam. Dari sinilah mulai bermunculan perkembangan tafsir berikutnya. The development of interpretation from time to time has a long history and different styles and has its own characteristics so that it reaches its shape as we can see today. Egypt is one of the countries that has become a reference in terms of scholarship, including the study of interpretation after the collapse of Baghdad. This paper uses library research using descriptive analysis methods to uncover and describe the formation of interpretations, the methods used in interpretation and to find a typology of interpretation. By preodic If we group the development of interpretation from the beginning of Islam to the modern era, especially in the area of Egypt, we can divide it into three compilation, classification, and updating. From these three stages of process, various interpretations emerge and develop over time. in the early phase of the study of interpretation, it was still oriented to the riwyyah aspect which was oriented to the interpretation of Abdullah bin Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Mudzakkir Perkembangan Kajian Teoritis Abbas. then in the next phase, namely the development stage of interpretation, it has begun to elaborate on the riwyyah aspect with diryyah which makes language studies the main focus and in the third phase is the renewal of the study of interpretation so that perspectives emerge through more objective methods and become a reference for any social problems that plague the Ummah. Islam. This is where the development of the next interpretation begins. Kata Kunci: Tafsir Mesir. Timur Tengah. Mesir Modern PENDAHULUAN Berbicara tafsir maka tidak diragukan lagi bahwa tafsir memiliki sejarah yang panjang yang berlangasung dari era klasik hingga era modern. Sejatinya perkembangan tafsir dimulai sejak zaman rosullah SAW sebagai orang yang pertama menyampaikan dan mengeuraikan maksud-maksud alQurAan dan menjelaskan wahyu-wahyu Allah yang diturunkan kepadanya. Pada masa itu tak seorang pun dari sahabat yang berani al-QurAan. Muhammad masih berada ditengah-tengah Nabi Muhammad mema-hami alQurAan secara global dan terparinci dan adalah keawajiban bagi beliau untuk menyampaikan dan menjelaskan kepada Sahabat. Setelah nabi wafat para sahabat mulai mengambil peran dalam mengajarkan dan menjelaskan al-QurAan sehingga menjadi rujukan umat sebagai tempat bartanya dalam memahami dan mempelajari al-QurAan dengan kata lain para sahabat mulai berani menafsirkan al-QurAan sesuai keilmuan dan pemahaman mereka yang diterima dari rasulullah SAW. Model penafsiran yang digunakan oleh para sahabat dalam menafsirkan al-QurAan normatif dan penuh kehati-hatian, contohnya jika menemukan ayat mujmal mereka menggunakan ayat yang mubayyan, kedua mereka menafsirkan ayatayat al-QurAan dengan apa yang mereka 1 M. Quraish Shihab dan Harun Nasution. Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh: Kajian Maslah Akidah dan Ibadat. Jakarta: Penerbit Paramadina, 2002, hal. terima dari Nabi, dan jika mereka tidak menemui penjelasan atau penafsiran ayat dari hadist maka mereka akan berijtihad dengan pemahaman mereka terhadap alQurAan. Tafsir adalah kebutuhan mendasar ketika muncul permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam dalam memahami kandungan Al-QurAan sebagai pedoman Begitu pula halnya ketika kondisi umat Islam di Mesir, terutama pada masa awal Islam masuk ke wilayah tersebut, penjelasan dan pengajaran al-QurAan menjadi salah satu kebutuhan maka tafsir menjadi salah satu solusi yang mutlak diperlukan. Gubernur Mesir pertama dari ke khilafahan Islam Amr ibn al-AyC, setelah berhasil menguasai Mesir dari kekuasan Bizantium, dianggap sebagai orang yang berjasa dalam menyebarluaskan tafsir Al-QurAan dari Nabi SAW, pada masa awal Islam di negeri Selain AAmr, tercatat sejumlah sahabat yang juga pernah melakukan perlawatan ke Mesir yang juga turut serta mengembangkan tafsir tersebut, semisal Aby Ayb al-AnyrO. Utbah ibn al-Nusarr dan beberapa sahabat lainnya. Dari para sahabat ini, bermunculan tybiAyn Mesir yang meriwayatkan dan menyebarkan tafsir-tafsir Nabi tersebut, semisal. Abd al-Raumyn ibn ajrah al-Khawlyny. Al ibn Rabyu alLakhmy, dan tybiAyn lainnya. Di antara negara-negara Islam yang turut memberikan andil dalam perkembangan khazanah intelektual Islam. Mesir nampaknya sangat layak untuk mendapatkan apresiasi tersebut. Sejak kemunduran Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Mudzakkir Perkembangan Kajian Teoritis Baghdad setelah mendapat invansi dari Bagdad. Mesir selalu menjadi kiblat perkembangan dunia Islam, terutama setelah tampilnya para reformis semisal Muuammad AAbduh . 1905 M. ) dan Rashd RisA . 1935 M. Karena itulah, tidak mengherankan jika di negara ini, kajian tafsir AlQurAan menjadi salah satu diskursus keilmuan yang turut mewarnai peta pemikiran Islam Mesir. Perkembangan seperti itu terus berlangsung sampai saat ini. Selain itu, nampaknya juga perlu ditegaskan bahwa pelacakan terhadap kajiankajian tafsir Mesir hanya terfokus pada karya-karya yang diproduksi oleh para sarjana atau mufasir yang berkebangsaan Mesir, yang menulis dan mempublikasikan karya mereka di negara tersebut, dan memang dianggap oleh publik sebagai karya tafsir, baik yang ditulis lengkap 30 juz seperti tafsir F eilAl al-QurAAn karya Sayyid Qub . 1966 M. ) 2 ataupun yang belum lengkap karena mufasirnya wafat sebelum sempat menyelesaikannya seperti tafsir al-ManAr karya Muuammad Rashd RisA . ) 3 ataupun karya tafsir yang ditulis dua orang karena salah seorang mufasirnya wafat dan dilanjutkan oleh mufasir lainnya seperti tafsir JalAlayn karya JalAl al-Dn al-Mauall . 864 H. ) dan JalAl al-Dn al-Suy . PERKEMBANGAN KAJIAN TEORITIS TAFSIR DI MESIR Sejarah mencatat bahwa Islam pertama kali masuk ke Mesir pada masa 2 Sayyid Qub. Tafsir fi Zilalil Quran. Beirut: Dyr al-Shuryq, 1992. 6 volume. 3 Muuammad Rashd RisA. Tafsir Al-Mannar. Beirut: DAr al-Fikr, t. Tafsir al-Manr ini berjumlah 12 volume. kekhalifahan Umar ibn al-Khayb4 di bawah komando panglima AAmr ibn al-AyC pada tahun 18 H. Dalam pasukan AAmr ibn al-AyC terdapat beberapa sahabat yang memiliki catatan Al-QurAan. Di antara para sahabat tersebut ada Abdullyh ibn SaAd ibn Aby Syrah. AUqbah ibn AyCmir. AbdullAh ibn AAmr ibn AyC. Ghurfah ibn Arith al-Kindy, dan Wardan . udak AAm. Setelah Mesir bergabung dalam wilayah kekuasaan khalifah AUmar, beberapa sahabat yang tergabung dalam barisan pasukan menetap di Mesir. Mereka mengajarkan Al-QurAan dan maksud-maksud yang terkandung di dalamnya pada warga Mesir sebelum muhaf AUthmAn resmi diterbitkan5 Pada awal masa Islam tepatnya setelah wafatnya nabi Muhammad SAW, terutama pada masa-masa-awal Islam dimana wilayah semakin luas , maka kebutuhan umat akan tafsir pun menjadi salah satu tuntutan yang mutlak dan utma. Melihat keadaan saat itu, maka kebutuhan terhadap tafsir muncul ketika umat Islam kesulitan dalam memahami kandungan Al-QurAan sebagai pedoman hidupnya. Begitu pula halnya kondisi umat Islam di Mesir, terutama pada fase-fase awal Islam masuk ke wilayah tersebut, tafsir pun menjadi salah satu tuntutan yang mutlak diperlukan. Dalam hal ini. AAmr ibn al-A, sebagai gubernur Mesir, dianggap sebagai orang yang turut berjasa dalam menyebarluaskan tafsir Al-QurAan dari Nabi saw. Pada awal masa Islam di negeri tersebut. Selain AAmr, tercatat sejumlah sahabat yang juga pernah melakukan perlawatan ke Mesir yang juga turut serta mengembangkan tafsir tersebut, 4 Nyir al-Anyry, al-Mujmal f Tyrykh Mir alNueum al-Siyysiyah wa al-Idyriyyah. Kairo: Dyr alSyuryq, 1993, hal. 5 Al-Barr. Al-QurAyn wa AUlymuh f Mir 20 H Ae 358 H, hal 13. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Mudzakkir Perkembangan Kajian Teoritis semisal Ab Ayyb al-AnAr . 51 H. Utbah ibn al-Nusarr . 84 H. ), dan sahabat Dari para sahabat ini, bermunculan tAbiAn Mesir yang meriwayatkan dan menyebarkan tafsir-tafsir Nabi tersebut, semisal. Abd al-RaumAn ibn ajrah alKhawlAn . 83 H. AAl ibn RabAu alLakhm . 114 H. ), dan tAbiAn lainnya. Pada fase berikutnya, terutama pasca AAmr sebagai gubernur dan digantikan oleh Uqbah ibn ,Amir . 58 H. ), kajian tafsir terus mengalami perkembangan. Tercatat beberapa orang sahabat selain. Uqbah yang sangat concern terhadap tafsir Al-QurAan, semisal. Abd Allah ibn. Amr ibn al-A . 56 H. Abd AllAh ibn. Abbys . 68 H. yang dikenal sebagai tokoh yang memunculkan aliran tafsir Mekkah, hingga tAbiAyn yang juga merupakan murid Ibn AbbAs sendiri, semisal MujAhid ibn Jabar . 103 H. Ikrimah ibn Ab Jahl . 105 H. dan Hanash ibn. Abd Allyh al-SanAyny . 100 H. Namun ditegaskan lebih lanjut oleh Khyrshyd, bahwa tafsir pada periode awal Islam Mesir ini sangat bersifat kondisional, hanya muncul pada peristiwa tertentu, riwayat-riwayatnya pun masih terpencarpencar dan belum terkodifikasi, meskipun hal ini setidaknya mengindikasikan betapa tingginya semangat umat Islam ketika itu dalam mempelajari dan memahami AlQurAan. 6 Hal yang senada juga dituturkan oleh al-QaEn bahwa tafsir pada fase ini memang belum memasuki era tadwn, karena fase kodifikasi tafsir baru dimulai setelah abad ke-2 H. Tafsir masih merupakan bagian dari hadis, belum mengambil bentuknya sendiri. Karena itulah tidak mengherankan jika. Abd al-Raumyn 6 Abd AllEh Khyrshyd al-Barry, al-QurAEn wa AUlymuh f Mir 20 H. -358 H. Mesir: DEr al-MaAErif, 1969, hal 278. Muuammad dalam al-TafsEr al-Nabawy-nya menyatakan bahwa untuk pelacakan terhadap tafsir dalam berbagai kitab keislaman, seperti kitab tafsir, hadis, srah, ilmu al-QurAan, dan kitab-kitab lainnya. Dari sederet mufasir dari kalangan sahabat dan tAbiAyn ini, terlihat dengan jelas dominasi madrasah tafsir Mekah yang menjadi cikal bakal tumbuh berkembangnya gerakan tafsir di Mesir ketika itu yang pada gilirannya memunculkan madrasah tafsir Mesir. Ibn. Abbys, yang disebut-sebut sebagai tokoh mufasir mazhab Mekkah ini, dicatat oleh. Abd Allah Khyrshyd pernah dua kali melakukan perlawatan ke Mesir. Dari Ibn. Abbys tersebut, tafsir mazhab Mekkah ini dikembangkan oleh dua muridnya yang terkenal, yaitu Mujyhid, yang pernah riulah ke Mesir pada pertengahan abad ke-1 H. 60-62 H. dan Ikrimah yang juga singgah ke negeri tersebut dalam perjalanannya menuju daerah Maroko. CORAK PENAFSIRAN MESIR ERA KLASIK HINGGA MODERN Corak Tafsir Bil MaAotsur Sebagaimana dijelaskan oleh AlFarmawi, tafsir bil maAtsur disebut pula tafsir bi-riwayah mendasarkan pada penjelasan al-qurAan itu sendiri, penjelasan rasul, penjelasan para sahabat melalui ijtihatnya dan aqwal tabiAin9 Tafsir bil maAtsur adalah metode penafsiran dengan cara mengutip atau mengambil Abd al-Raum Muuammad, al-Tafsyr alNabawy. KhayAisuh wa Maydiruh, diterjemahkan oleh Rosihan Anwar dengan judul Penafsiran al-QurAan Perspektif Nabi Muhammad saw. Bandung: Pustaka Setia, 1999, hal 27. 8 Abd Allyh Khyrshyd al-Barr, al-QurAAn wa AUlymuh fy Mir 20 H. -358 H. Mesir: Dyr al-MaAyrif, 1969, hal. 9 Hasbi Ash-Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-QurAan /Tafsir. Jakarta: Bulan Bintang, 1980. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Mudzakkir Perkembangan Kajian Teoritis rujukan pada Al-QurAan, hadist nabi, kutipan sahabat serta tabiAin. Jadi, bila merujuk pada definisi diatas, ada empat otoritas yang menjadi sumber penafsiran. Pertama: AlQuran yang dipandang sebagai penafsir terbaik terhadap Al-Quran itu sendiri. Kedua: otoritas hadist nabi yang memang berfungsi sebagai penjelas Al-Quran. Ketiga: otoritas pejelasan shahabat yang dipandang sebagai orang yang banyak mengetahui AlQuran. Keempat: otoritas penjelasan tabiiAin yang dianggap orang yang bertemu langsung dengan sahabat. Metode ini mengharuskan mufasir menelusuri shahih tidaknya riwayat yang digunakannya. Tafsir Bil MaAtsur telah ada sejak zaman sahabat. Sedangkan menurut istilah para ulama mendefinisikan tafsir bil maAtsur diantaranya, menurut MannaA Al-Qaththan, tafsir bil maAtsur adalah tafsir yang berdasarkan kutipan-kutipan menafsirkan Al-QurAan dengan Al-QurAan. Al-QurAan dengan Hadits Nabi yang berfungsi untuk menjelaskan Kitab Allah, dan juga dengan perkataan sahabat karena merekalah yang lebih mengetahui kitab Allah atau dengan apa yang dikatakan tokoh-tokoh besar tabiAin karena pada umumnya mereka menerimanya dari para sahabat Menurut Muhammad Al-Zarqani, tafsir bil maAtsur adalah penafsiran ayat Al-QurAan dengan ayat Al-QurAan. Al-QurAan dengan Sunnah Nabi, dan para sahabat10 Sedangkan menurut Muhammad Husein Adz-Dzahabi, tafsir bil maAtsur adalah penafsiran yang bersumber ayat Al-QurAan dengan ayat AlQuram, dengan Hadits nabi, perkataan sahabat dan juga tabiin, termasuk dalam kerangka tafsir riwayat meskipun mereka tidak secara langsung menerima tafsir dari Rasullullah SAW Muhammd Al-Zarqani. Manahil Irfan Fi Ulum Al-QurAan, hal. Dalam hal ini, masa penafsiran sahabat di awal abad pertama yang dipelopori AAmr ibn al-A, sebagai gubernur Mesir, dianggap sebagai penafsiran yang bercorak tafsir bi al-MaAtsur selain beliau ada beberapa orang sahabat yang turut berjasa dalam menyebarluaskan tafsir bi al-MaAtsur Tercatat sejumlah sahabat yang juga pernah melakukan perlawatan ke Mesir yang juga turut serta mengembangkan tafsir tersebut, semisal Aby Ayyb al-AnEry . 51 H. Utbah ibn al-Nusarr . 84 H. ), dan sahabat lainnya. Dari para sahabat ini, tAbiAyn Mesir meriwayatkan dan menyebarkan tafsir-tafsir Nabi tersebut, semisal. Abd al-RaumAn ibn ajrah al-KhawlEny. AAl ibn RabAu alLakhmy, dan tAbiAn lainnya. Pada fase berikutnya, terutama pasca AAmr sebagai gubernur dan digantikan oleh Uqbah ibn Amir . 58 H. ), kajian tafsir terus mengalami perkembangan. Tercatat beberapa orang sahabat selain. Uqbah yang sangat concern terhadap tafsir Al-QurAan, semisal. Abd Allah ibn. Amr ibn al-C Abd AllAh ibn. Abbys yang dikenal sebagai tokoh yang memunculkan aliran tafsir Mekkah, hingga tAbiAyn yang juga merupakan murid Ibn AAbbAs sendiri, semisal MujEhid ibn Jabar. Ikrimah maula Ibn Abbas dan Hanash ibn. Abd Allyh al-SanAyny. Corak Tafsir Lughowi Menelaah secara bahasa, maka tafsir lugawi terdiri dua kata yaitu tafsir dan lugawi. Tafsir yang akar katanya berasal dari a bermakna keterangan atau penjelasan. Kemudian lafal tersebut diikutkan wazan AAEA yang berarti menjelaskan atau menampakkan Dengan demikian, tafsir adalah membuka dan menjelaskan pemahaman kata-kata dalam Alquran. Sedangkan lugawi berasal dari akar kata A EOAyang berarti gemar atau menetapi sesuatu. Manusia yang gemar Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Mudzakkir Perkembangan Kajian Teoritis dan menetapi atau menekuni kata-kata yang digunakannya, maka kata-kata itu disebut Berdasarkan itu, maka yang dimaksud dengan lugawi adalah kata-kata yang digunakan, baik secara lisan maupun tulisan. Adapun yang dimaksud dengan tafsir lugawi adalah tafsir yang mencoba menjelaskan makna-makna Alquran dengan menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan. Atau lebih simpelnya tafsir lugawi adalah menjelaskan Alquran melalui interpretasi semiotik dan morfologis, leksikal, gramatikal dan Contoh dalam penafsiran corak lugawi ini dapat kita lihat pada tafsir Jalalain karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin asSuyuthi, ketika menafsirkan surat Al-Araaf ayat 3 dan 4. Berdasarkan itu, apabila seseorang yang ingin menafsirkan Alquran mengetahui bahasa yang digunakan Alquran yaitu bahasa arab dengan segala selukbeluknya, baik yang terkait dengan nahwu, balaghah dan sastranya. Dengan mengetahui bahasa Alquran, seorang mufassir akan mudah untuk melacak dan mengetahui makna dan susunan kalimat-kalimat Alquran sehingga akan mampu mengungkap makna di balik kalimat tersebut. Lebih jauh, bahkan Ahmad Syirbasyi menempatkan ilmu bahasa dan yang terkait . ahwu, saraf, etimologi, balagah dan qira. sebagai syarat utama bagi seorang mufassir. 12Di sinilah, urgensi bahasa akan sangat tampak dalam penafsirkan Alquran. Analisis Penafsiran dan pemikiran terhadap Alquran tidak akan bisa dilakukan tanpa bahasa karena bahasalah yang 11 Abu al-Husain Ahmad bin Faris. Maqayis alLughah. Bairut: Dar al-Fikr Jilid 4 hal. 12 Abd Muin Salim. Metodologi Tafsir. Sebuah Rekonstruksi Epistimologis. Orasi Pengukuah Guru Besar dalam Rapat Senat Luar Biasa IAIN Alauddin Ujung Pandang, 1999 hal 34. mengantarkan dan menghubungkan antara kandungan makna lafal dengan lafal yang Tanpa bahasa, analisis pemikiran tidak akan berarti apa-apa. Oleh karena itu, peran dan pengaruh dari tafsr lugawi tentu akan mencakup sekian banyak aspek atau corak penafsiran Contoh dalam penafsiran lughowi ini dapat kita lihat pada tafsir Jalalain karya Jalaluddin al- Mahali dan Jalaluddin al-Suyuthi. Aa ac aa eO aI e a eI a aE aEa eO aE eI a cI eI ac ac aE eI aOaE a ac aa eO aI eI eaO aI eN a eO aE aO a aA aACa aEO eUE acI aa acE a eOIA AuIkutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu ikuti pelindung selain Dia. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran. Ay Imam Jalalain mengemukakan Aue acaa eO aIA A Ay a eI a aE aEa eO aE eI acI eI ac ca aE eIAKatakanlah kepada mereka ( ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari tuhanm. yakni al-QurAan A ( aOaE aac aa eOAdan janganlah kamu mengikut. maksudnya jangan kamu menjadikan A ( aI eI eaO aI eNAselainNy. selain Allah A ( a eO aEOa a aAsebagai pelindungmu ) yang kamu tati untuk bermaksiat kepada Allah SWT- aACa aEO eUE acI aa acE a eOIA ( Amat sedikitlah kamu mengambil pelajara. dengan memakai Ta atau Ya. mengambil pelajaran darinya. Lapaz tazakkarun dibaca dengan meng-idghom-kan huruf A Akedalam AA. Menurut salah satu qirat di baca tadzakkarun , sedangkan huruf A IAadalah tambahan yang diadakan untuk memperkuat makna sedikit, sedikat artinya menjadi amat sedikit. Corak Tafsir al-Adabiy al-IjtimyAoi (Sosial-Kemasyarakata. Kata Al-Adabiy merupakan bentuk mashdar dan kata kerja dari aduba berarti Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin asSuyuthi. Tafsir Alquran Al-Azim, cet VI. Al-Haramain: 2007, jilid 2,hal 621. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Mudzakkir Perkembangan Kajian Teoritis tatakrama dan sopan santun. Sementara kata al-IjtimyAiy berarti menyatukan sesuatu dan juga dapat diterjemahkan kemasyarakatan. Maka, secara etimologial-adabi al-IjtimyAiy adalah penafsiran yang lebih menekankan kepada sastera budaya dan kemasyarakatan Sedangkan secara terminologi corak tafsir adabiy al-IjtimyAiy adalah memahami ayat-ayat alQurAan dengan cara menyebutkan ungkapan-ungkapan al-QurAan secara teliti lalu menjelaskan makna-makna yang dimaksud oleh al-QurAan tersebut dengan menggunakan keindahan gaya bahasa sehingga menjadi menarik ke tika membacanya. Kemudian para mufasir menghubungkannya nash-nash alQurAan yang sedang dikaji sesuai dengan kondisi sosial dan sistem budaya yang ada pada masyarakat Menurut alDzahaby yang dimaksud dari corak tafsir adabiy al-IjtimyAiy adalah merupakan corak penafsiran al-QurAan dengan menjelaskan atau mengungkap ayat-ayat al-QurAan berdasarkan ketelitian ungkapanungkapan dan disusun dengan menggunakan bahasa yang lugas dan menekankan tujuan pokok turunnya al-QurAan, lalu diaplikasikan dengan kehidupan sosial. Corak penafsiran ini muncul karena ketidakpuasannya para mufasir yang menganggap bahwa penafsiran al-QurAan selama ini hanya didominasi oleh tafsir yang menitikberatkan pada nahwu, bahasa dan perbedaan mazhab, baik dalam bidang ilmu kalam, ushul fiqh, sufi, fiqh, dan lain sebagainya. Kemudian kitab tafsir yang menggunakan corak penafsiran al-Adabiy alIjtimaAi adalah kitab tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, kitab Tafsir al-QurAan karya Syaikh Ahmad alMaraghi dan kitab Tafsir alQurAan al-Karim karangan Syaikh Mahmud Syaltut. Corak Tafsir AoIlmi (Ilmu/Scienc. Tafsir Ailmi adalah penafsiran ayat-ayat al-QurAan dengan melakukan pende-katan ilmiah atau mengkaji ayat-ayat al-QurAan Ayat-ayat al-QurAan yang ditafsirkan dalam corak ini adalah ayat-ayat kauniyah . entang kealama. Corak tafsir seperti ini memberi peluang yang luas bagi mufasir dalam mengembangkan ilmu pengetahuannya ataupun berbagai potensi keilmuan yang ada dan akan di bentuk dalam al-QurAan. Perlu diketahui ketika menggunakan corak penafsiran ini adalah berpegang pada hakikat ilmiah yang dapat dijadikan sebagai rujukan maupun sandaran, tidak memaksakan diri dalam memahami nash dan tidak sembarangan dalam menakil nash dengan suatu makna yang diinginkan Tetapi hanya mengambil makna sesuatu dengan pertolongan bahasa dan terkandung dalam ungkapan tanpa ada paksaan dan sesuai dengan hubungan Kitab-kitab tafsir yang menggunakan corak penafsiran ini adalah kitab alJawahir fi Tafsir al-QurAan karangan Thanthywi Jawhari . 7-1358 H) terdiri 13 jilid, 26 juz dan 6335 halaman, kitab al-Tafsir al. Dapat diketahui bahwa corak penafsiran ini muncul seiring dengan berkembang dan kemajuannya ilmu pengetahuan saat ini dan terdapat suatu usaha bagi para pengkaji tafsir untuk memahami ayat-ayat al-QurAan yang sejalan dengan perkembangan ilmu. TIPOLOGI DALAM KAJIAN TAFSIR DI MESIR Dari pemetaan yang penulis lakukan terhadap perkembangan kajian tafsir di Mesir sejak abad klasik hingga modern, paradigma dalam penafsiran, dilihat dari pendekatan-pendekatan yang digunakan para mufasir sejak kemunculan mereka dalam era kemunculan hingga era pembaharuan dan bahkan sampai pada era kontemporer sekarang. Dengan kategorisasi pendekatan studi Islam penulis dapat memetakan secara historis metodologis Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Mudzakkir Perkembangan Kajian Teoritis pendekatan-pendekatan yang digunakan para ulama tafsir dalam karya-karya tafsir mereka dalam dua tipologi. yaitu normatif dan deskriptif. Dari era pembentukan sampai era klasifikasi tafsir-tafsir yang muncul di Mesir masih berada dalam tataran normatif dengan didominasi pendekatan-pendekatan riwEyah meskipun telah mulai bergerak pada aspek dirEyah-nya. Kajian-kajian tafsir dalam dua fase terkesan kental dengan muatan-muatan teologis dan cenderung subjektif, sangat tergantung mazhab dan keilmuan yang dimiliki mufasirnya. Pada era pembentukan, tafsir-tafsir yang muncul menggunakan pendekatan normatif dengan berorientasi pada riwayat-riwayat berupa hadis-hadis nabi maupun pernyataan para sahabat, sehingga dapat dinyatakan bahwa paradigma penafsiran pada fase ini adalah al-tafsr al-maAthyr. Sementara pada fase kodifikasi, meskipun masih dengan pendekatan normatif, karyakarya tafsir yang berkem-bang tidak hanya berorientasi pada aspek riwyyah, tetapi sudah mulai mengelaborasi aspek dirEyah, dengan kajian bahasa sebagai fokus utamanya, sehingga paradigma penafsiran pada fase ini adalah al-tafsyr al-lughawy yang pada gilirannya mengilhami sebagian mufasir belakangan pada abad modern untuk mengembangkannya menjadi corak sastra atau al-tafsyr al-adaby. Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa pada kedua fase kajian-kajian berkembang di Mesir secara umum -dengan menggunakan kategorisasi masih berada dalam tahap pra-ilmiah karena lebih didominasi pendekatan normatif. Namun dalam dua fase inipun dapat dinyatakan telah terjadi pergeseran paradigma, terlebih sejak kemunculan mazhab tafsir Mesir pada abad ke-2 H. Seperti yang diungkap Khyrshyd sebelumnya, ketika pada fase takwn kiblat tafsir-tafsir Mesir umumnya berhaluan Mekkah dengan tersebarnya murid-murid Ibn Abbys di berbagai wilayah Mesir, pada fase tadwyn ini, mazhab Mekkah tidak lagi menjadi satu-satunya aliran yang mendominasi tafsir-tafsir Mesir, tetapi sudah menjadikan aspek bahasa sebagai kajiannya sebagaimana yang terlihat dari karya tafsir alNauys hingga al-Sharbyny. Selanjutnya pada fase pembaharuan, studi tafsir telah memulai babak baru dengan hadirnya para mujaddid tafsir yang dipelopori AAbduh dan muridnya Rashyd Ridy dengan pendekatan baru yang lebih objektif dan lebih memposisikan Al-QurAan sebagai sumber hidayah sekaligus sebagai problem solving terhadap masalah-masalah sosial yang melanda umat Islam. Pendekatan inilah yang disebut dengan pendekatan Audeskriptif Auyang membuang jauh-jauh subjektivitas keagamaan dan mengusung nilai-nilai kritis ilmiah dalam studi agama. Dengan pendekatan ini. Al-QurAan akan dapat lebih, membumi karena bersentuhan langsung persoalan kemasyarakatan dan karena itulah dapat dinyatakan bahwa pada fase ini, paradigma penafsirannya adalah al-tafsr al-ijtimyy. Meskipun demikian, pada perkembangan berikutnya bermunculan paradigma-paradigma baru sebagaimana pembacaan Jansen bahwa trend penafsiran lain yang berkembang selain alijtimAA adalah al-adab dan al-Ailm. Dari sini pula akan terlihat sejauh mana posisi kajian Mesir perkembangan sangat pesat, dari pendekatan yang sebelumnya masih normatif-teologis, pendekatan yang desktiptif-kritis. KESIMPULAN Mesir adalah satu wilayah keilmuan Islam, disana juga menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya kajian-kajian keislaman Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Desember 2021 http://ejournal. id/index. php/perada Muhammad Mudzakkir Perkembangan Kajian Teoritis khususnya dibidang tafsir. Berbagai karya gemilang para ulama dibidang tafsir dari era klasik sampai era modern sekarang ini layak untuk dikaji dengan segala kelebihan dan Hal ini menununjukan tingginya minat umat Islam di Mesir dalam mengkaji dan mempelajari al-QurAan sebagai way of life Dengan demikian, maka sudah selayaknya jika karya-karya tafsir Mesir tersebut secara berkesinambungan harus dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya sehingga karya-karya tersebut tidak usang ditelan masa, apalagi rusak dan hilang sebagaimana yang pernah terjadi pada fase-fase awal kemunculan tafsir di Mesir. Hal ini tentunya akan menyulitkan generasi ulama belakangan dalam melacak kitab-kitab tafsir yang pernah ada dan mungkin akan ada anggapan bahwa generasi sekarang belum dapat sepenuhnya melindungi dan khazanah dan warisan keilmuan Islam klasik. DAFTAR PUSTAKA