Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 12. Nomor 2, 2025 pp. P-ISSN: 2355-6633 E-ISSN : 2548-5490 Open Access: https://jurnal. id/index. php/Deiksis/index The Application of Ing Ngarsa Sung Taladha. Ing Madya Mangun Karsa. Tut Wuri Handayani for Indonesian Language Education Students as an Effort to Improve Understanding of the Teaching Profession anisa Asari Dewi, 2audrey Sabrina, 3alya, 4 Rani Hartati Simanjuntak,5 Viva El Kahfi, nadra Amalia 1,2,3,4,5,6Universitas Negeri Medan. Sumatra Utara. Indonesia Corresponding authorAos email: dewiasharii18@gmail. ARTIKEL INFO Article history: Received 08 Juni 2025 Accepted 1 Juli 2025 Published 28 Juli 2025 Keywords: Ki Hajar Dewantara. Teacher Professionalism. Trilogo Education Motto DOI: 10. 33603/deiksis. ABSTRACT This study aims to determine the meaning of KI Hajar Dewantara's three educational mottos, to understand how students as prospective teachers implement these mottos, and to measure teacher professionalism through these This study uses a qualitative descriptive method with interviews as the data collection technique. The subjects in this study are Indonesian Language and Literature Education students as prospective teachers, selected through simple random sampling. The results of this study answer the researcher's curiosity, namely that these educational mottos are more than just slogans. serve as concrete guidelines in building teacher professionalism, particularly in terms of personality. A teacher who can serve as a role model, motivator, and supporter for students will create a learning environment that is not only knowledge-oriented but also focused on character development. Therefore, it is important for prospective educators to familiarize themselves with these principles from an early stage, so that they can later deliver humanistic, inspiring education and produce a generation that is intelligent, competitive, and of noble character. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi masyarakat suatu bangsa. Pendidikan yang berkualitas dapat membentuk sumber daya manusia yang berkualitas pula. Hal yang mendasar perlu menjadi perhatian dalam pendidikan di Indonesia adalah karakter dan kualitas peserta didik. Indonesia telah berupaya mengembangkan kurikulum dalam sistem pendidikan untuk menciptakan generasi yang berkarakter. Salah satu upaya pemerintah dalam menghasilkan peserta didik yang berkarakter adalah mengintegrasikan nilai pancasila dalam pembelajaran sehari-hari, dengan harapan peserta didik dapat menerapkan karakter Pancasila di dalam kehidupannya. Pendidikan karakter semula p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Anisa Asari Dewi, 2Audrey Sabrina, 3Alya, 4 Rani Hartati Simanjuntak,5 Viva El Kahfi, 6Nadra Amalia . DEIKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Vol. PP. ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila (Maulana Aditia & Dewi Anggraeni, 2. Upaya pemerintah diharapkan tidak hanya meningkatkan karakter peserta didik, namun juga pendidik dan tenaga kependidikan. Kenyataannya, kemajuan teknologi menunjukkan masih banyak pelajar Indonesia yang tidak dapat mengimplementasikan pendidikan karakter di dalam kehidupannya. Salah satu kasus yang marak terjadi adalah perundungan, riset Kemendikbudristek tahun 2022 mengungkapkan bahwa 36,31% siswa berpotensi mengalami bullying dan studi PISA menunjukkan bahwa 42% pelajar di Indonesia mengalami kekerasan dan perundungan dalam kurun waktu satu bulan. Perundungan tidak hanya dilakukan pada lingkungan sekolah dan lingkungan bermain, akan tetapi juga dilakukan pada media sosial dengan menyebarkan hate comment atau penyebaran hoax. Kasus tersebut menunjukkan belum berhasil penerapan kurikulum pendidikan karakter di Indonesia. Kegagalan penerapan pendidikan karakter adalah tanggung jawab bersama, terutama bagi pendidik. Secara umum, pendidikan karakter dalam kurikulum nasional Indonesia telah memiliki landasan yang cukup kuat. Namun, dalam praktik pelaksanaannya di lapangan, masih terdapat berbagai aspek yang perlu dibenahi. Beberapa di antaranya meliputi peningkatan kualitas pelatihan bagi guru dan penguatan budaya positif di lingkungan sekolah (Pasaribu et al. , 2. Salah satu upaya peningkatan pendidikan karakter di sekolah adalah dengan menjadi pendidik yang berkarakter juga, dapat dijadikan sebagai tauladan yang baik bagi peserta didik. Hal tersebut tentunya termuat dalam empat kompetensi guru, yakni: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional. Dengan menjadi pendidik yang berkarakter, peserta didik secara tidak langsung mengamati dan meniru karakter gurunya sebagai idola dalam dunia sekolah. Peningkatan kompetensi guru perlu dibiasakan sejak menempuh pendidikan sarjana, sehingga mudah menerapkannya dalam dunia kerja. Sebelum menguasai Teknik mengajar, hendaknya calon guru menguasai terlebih dahulu karakter seorang pengajar yang kompeten. Salah satu karakter yang dapat diterapkan bagi calon pengajar telah p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Anisa Asari Dewi, 2Audrey Sabrina, 3Alya, 4 Rani Hartati Simanjuntak,5 Viva El Kahfi, 6Nadra Amalia . DEIKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Vol. PP. tercantum dalam semboyan pendidikan yang disampaikan oleh KI Hajar Dewantara selaku bapak pendidikan Indonesia, yaitu AuIng Ngarsa Sung Taladha. Ing Madya Mangun Karsa. Tut Wuri HandayaniAy yang berarti AuDi depan memberi contoh, di tengah membangun semangat, dari belakang memberi doronganAy. Makna mendalam dari semboyan ini jika diterapkan dalam dunia pendidikan dengan baik, maka akan terciptalah guru-guru yang memiliki kompetensi. Riset ini berupaya melihat implementasi semboyan tersebut bagi mahasiswa bahasa Indonesia dalam meningkatkan prfesionalisme Guru. Sebelumnya sudah ada riset yang membahas perspektif semboyan pendidikan dalam kurikulum merdeka, seperti riset yang dilakukan oleh (Ruth, dkk. yang berjudul AuPerspektif Semboyan Ing Ngarsa Sung Tuladha. Ing Madya Mangun Karsa. Tut Wuri Handayani dalam Kurikulum MerdekaAy. Hasil dari riset tersebut menunjukkan bahwa seorang pendidik memiliki peran besar dan peran yang sangat penting dalam pendidikan, seorang pendidik memiliki tiga peran sekaligus dalam sistem Among. Sekaligus harus mampu berpikir, berprasaan dan bersikap. Selain itu riset yang dilakukan oleh (Putri & Nasution. , 2. yang berjudul AuImplementasi Trilogi Pendidikan KI Hajar Dewantara Pada SMK Tamansiswa di Kota Tebing TinggiAy. Hasil riset ini menunjukkan bahwa dengan mengimplemntasikan Trilogi pendidikan ini pamong dapat menciptakan suasana tertib dan damai, membentuk siswa yang merdeka . ampu berdiri sendir. , pamong dapat menerapkan prinsip kebebasan, serta guru dapat mengembangkan potensi kodrati anak. Selain itu riset yang dilakukan oleh (Pribadi. Mutakarikah. Putra I. , & Nurhazizah, 2. yang berjudul AuImplementasi Konsep Ing Ngarso Sung Talado. Ing Madya Mangun Karsa. Tut Wuri Handayani Dalam Perspektif Kepemimpinan Kepala SekolahAy. Hasil riset ini menunjukkan Dengan adanya pengimplementassian konsep trilogi pendidikan ini membuat kepala sekolah dalam kepemimpinnya tidak semena-mena karena menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu berada di atas dan dilayani saja tetapi harus bisa menempatkan diri. Ketiga riset tersebut relevan dengan riset yang akan dilakukan oleh peneliti, akan tetapi terdapat beberapa perbedaan riset ini dengan riset terdahulu yaitu, belum ada penelitian yang menggunakan subjek penelitian mahasiswa yang akan menjadi guru menerapkan semboyan pendidikan tersebut. Hal itu yang menjadi kebaruan dalam riset ini dengan riset yang sebelumnya. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Anisa Asari Dewi, 2Audrey Sabrina, 3Alya, 4 Rani Hartati Simanjuntak,5 Viva El Kahfi, 6Nadra Amalia . DEIKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Vol. PP. Terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam riset ini, yakni: mengetahui makna ketiga semboyan pendidikan KI Hajar Dewantara secara mendalam, mengetahui implementasi mahasiswa sebagai calon guru dalam menerapkan ketiga semboyan pendidikan KI Hajar Dewantara saat diperkuliahan, serta mengetahui kompetensi yang dapat dikembangkan melalui ketiga semboyan pendidikan KI Hajar Dewantara. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam dunia pendidikan agar kualitas pengajar lebih baik dan menghasilkan peserta didik yang berkualitas. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam riset ini adalah metode deskriptif kualitatif. Menurut Moleong . , penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami secara menyeluruh fenomena yang dialami oleh subjek penelitian, seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan sebagainya. Pemahaman ini dilakukan melalui deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, dalam konteks alami yang spesifik, dengan memanfaatkan berbagai metode yang bersifat alamiah. Sedangkan. Deskriptif menurut Sugiyono . , adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui keberadaan variabel mandiri, baik hanya satu variabel atau lebih . ariabel yang berdiri sendir. tanpa membuat perbandingan variabel itu sendiri dan mencari hubungan dengan variable lain. Dapat disimpulkan kualitatif deskriptif adalah suatu penelitian yang menjelaskan atau mendeskripsikan apa yang ada di lapangan. Pengumpulan data merupakan suatu tahapan yang dilakukan secara terstruktur untuk memperoleh serta mencatat informasi yang berkaitan dengan tujuan penelitian Dalam ranah penelitian, kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan data yang akurat dan terpercaya, yang kemudian akan digunakan dalam proses analisis guna menjawab hipotesis atau pertanyaan penelitian (Adil et al. , 2. Tahapan ini menjadi bagian penting dalam proses penelitian, karena dari hasil analisis data tersebut akan ditemukan jawaban atau solusi terhadap permasalahan yang sedang diteliti. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam riset ini adalah wawancara dan studi literatur. Wawancara merupakan kegiatan memperoleh informasi salah satu narasumber dengan memberikan beragam pertanyaan yang berkaitan dengan topik riset. Kemudian, hasil dari wawancara yang telah dilakukan ditulis kedalam riset dengan didukung berbagai literatur. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Anisa Asari Dewi, 2Audrey Sabrina, 3Alya, 4 Rani Hartati Simanjuntak,5 Viva El Kahfi, 6Nadra Amalia . DEIKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Vol. PP. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa pendidikan bahasa Indonesia, dengan mengambil sample menggunakan metode simple random sampling Menurut Sugiyono . Simple random sampling adalah metode pemilihan sampel dari populasi yang dilakukan secara acak, sehingga setiap tanpa mempertimbangkan pembagian strata atau kelompok tertentu. Maka dalam riset ini memilih beberapa mahasiswa bahasa Indonesia yang relevan dengan topik riset ini. Kriteria pengambilan sample yaitu, mahasiswa aktif pendidikan bahasa Indonesia serta aktif dalam kegiatan kemahasiswaan di perguruan tinggi untuk mendukung hasil wawancara HASIL DAN PEMBAHASAN Semboyan pendidikan merupakan ungkapan yang dipercaya menjadi landasan kualitas pendidikan di suatu negara. Semboyan biasanya digunakan sebagai pedoman dalam menentukan kebijakan atau kurikulum pendidikan. Semboyan pendidikan dapat berasal dari nilai-nilai budaya, filosofi pendidikan, atau visi-misi lembaga pendidikan itu Hal tersebut sejalan dengan KBBI Semboyan merupakan perkataan atau kalimat pendek yang dipakai sebagai dasar tuntunan . egangan hidu. inti sari suatu usaha dan Semboyan pendidikan negara Indonesia dicetuskan oleh bapak pendidikan Indonesia KI Hajar Dewantara, yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha. Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Berikut merupakan penjelasan secara menyeluruh ketiga semboyan itu dalam perspektif mahasiswa yang menerapkannya dalam kehidupan seharihari. Ing Ngarsa sung Tuladha Ing Ngarsa Sung Tuladha adalah salah satu konsep dalam semboyan pendidikan yang dijelaskan oleh Ki Hadjar Dewantara (Rambitan, 2. Ing Ngarsa sung Tuladha. Ing . Ngarsa . , sung . Tuladha . ontoh/panuta. , maka maknanya: Di depan menjadi contoh atau panutan, ketika menjadi pemimpin atau seorang guru harus dapat memberikan suri tauladan untuk semua orang yang ada disekitarnya (Sari. Sabatini. Darwin, & Sinaga, 2. Guru juga berperan sebagai pemimpin bagi siswa, sebagai pemimpin cara paling mudah memimpin pasukan adalah dengan menjadi teladan baik dalam ucapan, tutur kata, maupun perbuatan sehingga bisa merangsang para bawahan untuk bersikap seperti pemimpinnya. (Marliani & Djadjuli, 2. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Anisa Asari Dewi, 2Audrey Sabrina, 3Alya, 4 Rani Hartati Simanjuntak,5 Viva El Kahfi, 6Nadra Amalia . DEIKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Vol. PP. Nilai Ing Ngarso Sung Tulodo menjadi fondasi utama dalam membangun budaya Prinsip ini menekankan bahwa seorang pemimpin atau figur otoritas sebaiknya menjadi teladan dalam sikap, ucapan, dan tindakan. Keteladanan tersebut tidak hanya menciptakan suasana yang kondusif, tetapi juga mampu menginspirasi dan memotivasi orang lain untuk mengikuti jejak positif yang telah dicontohkan (Turiah. Gunarso, & Soedjono, 2. Sejalan dengan hal tersebut, sebagai guru nantinya seorang mahasiswa pendidikan bahasa Indonesia harus memahami dengan baik, saat dirinya berada di depan harus mampu menjadi contoh atau tauladan yang baik bagi orang-orang disekitarnya. Makna di depan ini dapat di artikan secara luas, bisa jadi ketika memimpin suatu tim, memimpin suatu organisasi, ataupun ketika menjadi pengajar di kelas. Sebagai mahasiswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan beberapa langkah sederhana yaitu, mampu bersikap sopan, menjaga tata bahasa, serta mendisiplinkan waktu, ini merupakan salah satu cara untuk mendisiplinkan diri sendiri sebelum mendisiplinkan orang lain. Tentunya menjadi tauladan yang baik berarti memiliki kepribadian yang baik. Karakter yang baik tidak dibentuk dalam satu malam saja, perlu adanya pembiasaan diri melakukan hal-hal positif yang menjadikan diri mahasiswa lebih baik dari hari ke hari. Sehingga ketika nantinya menjadi seorang guru sudah terbiasa dengan karakter dan budi pekerti yang baik. Guru memegang peranan penting dalam berhasil tidaknya pelatihan karakter sekolah (Pradina et al. , 2. Karakter yang dimiliki seorang guru secara tidak langsung akan menjadi contoh bagi peserta didik, karena peserta didik mengamati kebiasaan yang dilakukan oleh gurunya sebagai sosok teladan. Keteladanan merupakan aspek krusial dalam proses pendidikan, karena peserta didik cenderung meniru perilaku yang mereka lihat secara langsung. Dalam hal ini, guru memiliki peran sentral sebagai figur teladan, mengingat posisinya yang dianggap sebagai panutan kedua setelah orang tua (Karmila & Tarmana, 2. Melalui sikap, tutur kata, dan tindakan sehari-hari, guru memberikan contoh konkret tentang perilaku yang seharusnya ditiru oleh peserta didik. Meskipun menjadi teladan bukanlah tugas yang mudah, hal tersebut merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam menjalankan peran pendidik secara utuh. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Anisa Asari Dewi, 2Audrey Sabrina, 3Alya, 4 Rani Hartati Simanjuntak,5 Viva El Kahfi, 6Nadra Amalia . DEIKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Vol. PP. Seorang pengajar tidak bisa memaksakan ingin menjadi seperti apa peserta didiknya, namun seorang pengajar dapat membentuk karakter peserta didik menjadi lebih baik dengan memberi nasihat, penjelasan yang baik, dan tentunya menjadi tauladan yang Jadi ing ngarsa sung tuladha mengandung makna, sebagai pendidik adalah orang yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan hendaknya mampu menjadi contoh yang baik atau dapat dijadikan sebagai Aucentral figureAy bagi peserta didik. Pendidikan budi pekerti tidak dapat berkembang dalam diri peserta didik dengan sendirinya, oleh karena itu dalam falsafah ini menuntut pentingnya keteladanan yang baik dari pendidik terhadap peserta didik (Ruth. Novia, & Surhayati, 2. Ing Madya Mangun Karsa Ing Madya Mangun Karsa. Ing . Madya . , mangun . Karsa . makna: Di tengah berbuat keseimbangan atau penjalaran, seorang pendidik di tengah-tengah kesibukannya diharapkan dapat membangkitkan semangat terhadap peserta didiknya (Sari et al. , 2. Semboyan "Ing Madya Mangun Karsa" berarti Audi tengah membangkitkan kehendakAy serta memberikan dorongan motivasi. Nilai ini menekankan bahwa seorang guru sejati harus mampu hadir di tengah-tengah siswa, berbaur, dan bekerja sama secara harmonis. Kehadiran guru di antara siswa bertujuan untuk membangun semangat, membangkitkan motivasi, dan menumbuhkan tekad juang bersama demi mencapai tujuan yang diharapkan (Mujahid et al. , 2. Semboyan Ing Madya Mangun Karsa memberikan pesan penting bagi para pendidik untuk turut terlibat secara aktif dalam kehidupan peserta didik. Hal ini mengisyaratkan bahwa guru sebaiknya hadir di tengah-tengah siswa, tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai sahabat atau rekan yang dapat dipercaya. Dengan membangun kedekatan tersebut, guru mampu menumbuhkan motivasi, semangat, dan rasa nyaman dalam proses pembelajaran Nanang dalam (PS Kurnia et al. , 2. Sejalan dengan pendapat tersebut, seorang mahasiswa yang nantinya menjadi seorang guru harus mampu membangkitkan semangat baik terhadap rekan kerjanya maupun peserta Implementasinya dalam kehidupan sehari-hari perlu memberi semangat terhadap diri sendiri terlebih dahulu dengan motivasi atau afirmasi positif setiap harinya, sehingga dapat menularkan semangat kepada orang lain. Penerapannya sebagai mahasiswa harus p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Anisa Asari Dewi, 2Audrey Sabrina, 3Alya, 4 Rani Hartati Simanjuntak,5 Viva El Kahfi, 6Nadra Amalia . DEIKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Vol. PP. saling membantu dan memberi semangat kepada rekan sejawat yang sedang kesulitan, memberi motivasi kepada rekan sejawat, sehingga perkuliahan dapat terlaksana dengan baik hingga akhir. Memberi semangat artinya tidak hanya dari ucapan saja tetapi juga aksi jika diperlukan. Misalnya, dengan memberi bantuan atau fasilitas terhadap rekan yang sedang kesulitan serta memberi umpan balik dari hasil kerja rekan, umpan balik dapat menjadi perbaikan kualitas hasil kerja yang dilakukan juga dapat meningkatkan percaya diri rekan yang telah melakukan suatu pekerjaan. Perlunya impelemntasi dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa agar kelak ketika menjadi seorang guru, dapat memahami bahwa peran pendidik sebagai mitra belajar, pendidik harus peka, aktif, dinamis, dan mampu merespon perubahan yang terjadi dalam proses pembelajaran, terutama dengan situasi dan kebutuahan peserta didik. Dalam konteks ini, pendidik diharapkan untuk berperan sebagai fasilitator dan mitra belajar bagi siswa, bukan hanya sebagai sumber utama informasi dalam proses pembelajaran. Peran guru sebagai fasilitator memberikan dampak positif bagi peserta didik. Awalnya, hubungan antara guru dan siswa bersifat top-down, namun seiring peran ini dijalankan, hubungan tersebut berkembang menjadi kemitraan yang sejajar. Dalam perannya, guru tidak hanya mengasuh, tetapi juga menjalin kerja sama dengan siswa, berperan sebagai pembimbing sekaligus mitra dalam seluruh proses pembelajaran. Pendekatan ini membantu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, demokratis, dan mendorong partisipasi aktif siswa dalam kegiatan belajar mengajar (Sapiti et al. , 2. Ing Madya Mangun Karsa menekankan bahwa pendidik harus berperan sebagai penggerak ide dan gagasan, serta mampu merangsang terciptanya ide dan gagasan di tengah- tengah peserta didik. Dengan demikian, konsep ini menekankan pentingnya peran pendidik dalam membantu peserta didik untuk mengembangkan ide, gagasan, dan kreativitas mereka sendiri (Ruth et al. , 2. Tut Wuri Handayani Semboyan ketiga ini sudah tidak asing didengar, karena terlihat jelas dalam logo kementrian, kebudayaan, riset, dan teknologi serta di berbagai Lembaga pendidikan. Hal tersebut berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0398/M/1977 tanggal 6 September 1977 semboyan tersebut juga dijadikan logo Tut Wuri Handayani atau lambang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Anisa Asari Dewi, 2Audrey Sabrina, 3Alya, 4 Rani Hartati Simanjuntak,5 Viva El Kahfi, 6Nadra Amalia . DEIKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Vol. PP. Tut Wuri Handayani merupakan slogan utama dalam dunia pendidikan Indonesia yang berasal dari filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara (Hermawan & Tan, 2. Tut Wuri Handayani. Tut . Wuri . Handayani . makna: Di belakang membuat dorongan atau mendorong, seorang pendidik diharapkan dapat memberikan suatu dorongan moral dan semangat kepada peserta didik ketika guru tersebut berada di belakang (Sari et al. , 2. Prinsip ini mengajarkan bahwa pendidik harus mampu memberikan dorongan, membimbing, serta mengawasi dari posisi yang mendampingi di belakang, sehingga proses pembelajaran berjalan dengan baik sesuai kebutuhan peserta didik (Sugiyanto. Yusuf-LN. Supriatna, & Budiamin, 2. Tut Wuri Handayani terdiri dari dua kata, yakni Tut Wuri dan Handayani. Tut Wuri berarti memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan dirinya secara mandiri, sedangkan Handayani mengandung makna memberikan bimbingan dan arahan. Dengan demikian, peran guru sebagai pemimpin pendidikan adalah mendampingi peserta didik dalam mengembangkan potensi mereka secara optimal (Ibrahim & Hendriani, 2. Tut Wuri Handayani memiliki makna yang mendalam, sebagai seorang pendidikan diharapkan dapat memberi dorongan dari belakang, bukan memberi paksaan terhadap keinginan peserta didik. Peserta didik diharapkan lebih mandiri dalam mengembangkan kemampuannya karena dorongan dan arahan yang telah diberikan Artinya peserta didik dapat menentukan jalannya sendiri ingin kemana namun tetap memberi bantuan jika peserta didik memerlukannya. Semboyan ini tentunya perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa, dengan mendukung dan memberi dorongan kepada rekan sejawat, dengan berpikir terbuka terhadap berbagai pendapat berbeda yang disampaikan orang lain, menghargai teman untuk berkembang, serta memberi bantuan kepada rekan sejawat. Memberi ajakan terhadap hal yang positif untuk mengembangakn diri dan potensi dengan mengikuti kegiatan seperti mengikuti penelitian, dan berbagai kegiatan lain yang meningkatkan kompetensi diri. Membiasakan implementasi semboyan ini artinya tidak hanya memberi dorongan terhadap peserta didik, namun bertujuan mengembangkan kompentensi yang dimiliki peserta didik dengan memberi arahan dan dukungan yang tepat. Tujuannya p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Anisa Asari Dewi, 2Audrey Sabrina, 3Alya, 4 Rani Hartati Simanjuntak,5 Viva El Kahfi, 6Nadra Amalia . DEIKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Vol. PP. tentunya menghasilkan peserta didik yang focus pada kemampuannya dan melahirkan generasi yang berkarakter. Pengaruh Moto Pendidikan terhadap Profesionalisme Seorang Guru Guru merupakan pendidik profesional yang memegang peran penting dalam jalur pendidikan formal, dengan tanggung jawab utama meliputi mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Tugastugas tersebut akan terlaksana secara efektif apabila guru memiliki tingkat profesionalisme yang memadai, yang tercermin melalui kompetensi, keterampilan, kecakapan, serta kemahiran yang memenuhi standar kualitas dan norma etika tertentu Sudarwan dalam (Munawir. Erindha, & Sari, 2. Profesional memiliki makna ahli dalam suatu bidang. Profesionalisme guru mencerminkan kesadaran dan komitmen yang kuat dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan berdasarkan empat kompetensi utama, yaitu pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Profesionalisme ini mencakup penguasaan materi pelajaran, penerapan metode pembelajaran yang inovatif, kepatuhan terhadap kode etik profesi, serta sikap sabar, jujur, peduli terhadap lingkungan sosial, komitmen terhadap pengembangan diri secara berkelanjutan, dan menjadi teladan dalam moralitas (Hamid. Seorang yang profesional memiliki sejumlah ciri yang membedakannya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Pertama, ia harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat serta kompetensi individu yang mumpuni di bidangnya. Kedua, profesionalisme ditandai dengan adanya sistem seleksi dan sertifikasi yang menjamin Ketiga, interaksi antar sejawat berlangsung dalam semangat kerja sama dan kompetisi yang sehat. Selain itu, seorang profesional juga menunjukkan kesadaran tinggi terhadap tanggung jawabnya, menjunjung kode etik, dan siap menerima sanksi apabila melanggar aturan profesi. Tak kalah penting, ia memiliki semangat juang yang tinggi . dalam menjalankan perannya, serta bernaung dalam organisasi profesi yang mendukung pengembangan karier dan integritasnya (Shafina et al. , 2. Seorang guru dikatakan ahli apabila telah menguasai berbagai kompetensi guru, salah satunya dalam hal ini adalah kompetensi kepribadian, kompetensi ini dapat dicapai melalui implementasi moto pendidikan guna membentuk karakter seorang guru. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Anisa Asari Dewi, 2Audrey Sabrina, 3Alya, 4 Rani Hartati Simanjuntak,5 Viva El Kahfi, 6Nadra Amalia . DEIKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Vol. PP. Karakter seorang guru profesional dapat dilihat dari integritas dan kualitas interaksi yang ia bangun di berbagai lingkunganAibaik di sekolah, di luar sekolah, maupun di tengah Profesionalisme ini diwujudkan melalui kemampuan memberikan layanan pendidikan yang bermakna, memperluas wawasan, serta membimbing dan memotivasi peserta didik dalam berbagai aspek kehidupan (Munawir et al. , 2. Karakter yang dimaksud adalah menjadi guru yang memiliki kedisiplinan yang baik, memiliki ahlak yang mulia, menjaga tutur kata, memberi semangat, memberi fasilitas fisik maupun nonfisik, memberi umpan balik dalam proses pembelajaran, memberi dorongan agar siswa mengulik kompetensinya, membantu menggali kemampuan siswa, serta mampu memberi ide dan gagasan kepada siswa dan mendorong siswa untuk menciptakan ide dan gagasan baru. Menjadi seorang guru yang baik, hendaknya menjunjung tinggi dan mengimplementasikan moto pendidikan yang telah dicetuskan, hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam kompetensi kepribadian. Kepribadian yang baik tidak hanya berpengaruh bagi guru itu sendiri tetapi juga berpengaruh terhadap keberlangsungan pendidikan serta tercapainya tujuan pendidikan karakter yang telah di upayakan pemerintah dalam kurikulum pendidikan karakter. Pentingnya mengimplementasikan moto pendidikan bagi mahasiswa calon pendidik agar terbiasa dengan karakter yang berbudi luhur. Sehingga, ketika menjadi seorang guru kelak hanya beradaptasi dengan lingkungan belajar mengajar saja, dengan membawa ahlak yang mulia. Tentunya tujuan utamanya adalah menciptakan generasi yang berilmu, berkualitas, dan berakhlak. KESIMPULAN Moto pendidikan yang dicetuskan oleh Ki Hajar DewantaraAiIng Ngarsa Sung Tuladha. Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri HandayaniAimerupakan fondasi filosofis yang p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Anisa Asari Dewi, 2Audrey Sabrina, 3Alya, 4 Rani Hartati Simanjuntak,5 Viva El Kahfi, 6Nadra Amalia . DEIKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Vol. PP. mencerminkan peran ideal seorang pendidik dalam setiap tahap pembelajaran. Keteladanan, keterlibatan, serta pemberian dorongan menjadi tiga pilar utama yang membentuk karakter dan tanggung jawab moral seorang guru. Bagi mahasiswa calon pendidik, memahami dan mengimplementasikan semboyan ini bukan hanya sebagai kewajiban akademik, melainkan sebagai proses pembentukan jati diri yang siap menebarkan nilai-nilai positif di tengah lingkungan pendidikan. Lebih dari sekadar slogan, moto pendidikan ini berfungsi sebagai panduan konkret dalam membangun profesionalisme guru, khususnya dalam aspek kepribadian. Seorang guru yang mampu menjadi contoh, penggerak, dan pendukung bagi peserta didik akan menciptakan ruang belajar yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter. Oleh karena itu, penting bagi calon pendidik untuk membiasakan diri dengan prinsip-prinsip ini sejak dini, agar kelak mampu menghadirkan pembelajaran yang humanis, inspiratif, dan mampu mencetak generasi yang cerdas, berdaya saing, serta berakhlak mulia. REFERESI Adil. Liana, et al. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif: Teori dan Praktik. Get Press Indonesia. Aditia. , & Dewi. Pendidikan Pancasila: Sebuah Upaya membangun karakter bangsa Indonesia yang kuat dengan berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Jurnal Kewarganegaraan, 6. , 1647-1659. Arfaiza. Susanti. Fitriani. Caturiasari. , & Wahyudin. Keteladanan Guru Sebagai Sarana Penerapan Pendidikan Karakter Siswa. Jurnal Sinektik, 7. , 24-31. Gunarso. PERAN GURU DALAM IMPLEMENTASI NILAI ING NGARSO SUNG TULODHO UNTUK MEMBANGUN BUDAYA POSITIF DI SMP NEGERI 1 KAJEN. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10. , 1019-1027. Hamid. Profesionalisme guru dalam proses pembelajaran. Aktualita: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 10. , 1-17. Hermawan. , & Tan. Philosophy education:Autut wuri handayaniAy as the spirit of process governance in Indonesia educational organization. Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia, 7. , 100-104. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Anisa Asari Dewi, 2Audrey Sabrina, 3Alya, 4 Rani Hartati Simanjuntak,5 Viva El Kahfi, 6Nadra Amalia . DEIKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Vol. PP. Ibrahim. , & Hendriani. Kajian Reflektif Tentang Etika Guru Dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara Berbalut Filsafat Moral Utilitarianisme: Kajian Reflektif Tentang Etika Guru Dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara Berbalut Filsafat Moral Utilitarianisme. NATURALISTIC: Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, 1. , 135-145. Karmila. , & Tarmana. Penanaman Nilai-Nilai Karakter Islami Melalui Program BPI (Bina Pribadi Isla. di SMPIT Al Khoiriyah Garut. Al-Hasanah: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 6. , 88-96. Konten Rumah Asuh. Dampak Bullying pada Anak dan Peran Kita untuk Mencegahnya. Diakses Juni Tautan https://rumahasuh. org/dampakbullying-pada-anak-dan-peran-kita-untukmencegahnya/ Marliani. , & Djadjuli. Menakar Trilogi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara Di Era Globalisasi. Kebijakan: Jurnal Ilmu Administrasi, 10. , 74-80. Moleong J Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosda karya Bandung Mujahid. S dkk, . Restorasi Kepemimpinan Nasional Berlandaskan Nilai Luhur Budaya Bangsa: Studi Kasus Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara. Webinar Dewan Profesor Universitas Sebelas Maret 2021, 5. , 231-238. Munawir. , & Erindha. Memahami karakteristik guru profesional. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 8. , 384-390. Pasaribu. Tanjung. , & Sari. , . Pendidikan Karakter (Membangun Generasi Berintegritas: Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Nasiona. Jurnal Nakula: Pusat Ilmu Pendidikan. Bahasa dan Ilmu Sosial, 3. , 3024-9945 Pradina. Faiz. , & Yuningsih. Peran guru dalam membentuk karakter disiplin. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3. , 4118-4125. Pribadi. Mutakarikah. , & Nurhazizah. Implementasi Konsep Ing Ngarso Sung Talado. Ing Madya Mangun Karsa. Tut Wuri Handayani Dalam Perspektif Kepemimpinan Kepala Sekolah. Transformasi: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan NonFormal Informal, 10. , 60-67. PS. Fawaid. Zulaicho. , & Al Hamidy. Rekonstruksi Makna Semboyan Ki Hajar Dewantara dalam Praktik Pendidikan Islam. ELBANAT: Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Islam, 11. , 37-51. Putri. Implementasi Trilogi Pendidikan Ki Hajar Dewantara Pada Smk Tamansiswa (Doctoral dissertation. UNIMED). Rambitan. Ing Ngarsa Sung Tuladha. Ing Madya Mbangun Karsa. Tut Wuri Handayani: Methods of Javanese Local Wisdom Used in Christian Religious p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Anisa Asari Dewi, 2Audrey Sabrina, 3Alya, 4 Rani Hartati Simanjuntak,5 Viva El Kahfi, 6Nadra Amalia . DEIKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Vol. PP. Education. 2nd Annual Conference on Blended Learning. Educational Technology and Innovation (ACBLETI 2. , 44Ae48. Ruth. Novia. , & Surhayati. Perspektif semboyan pendidikan ing ngarsa sung tuladha, madya mangun kurikulum merdeka. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran (JRPP), 6. , 3673-3678. Sapitri. Sahwal. Satifah. , & Takziah. Peran guru profesional sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran di sekolah dasar. CaXra: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, 3. , 73-80. Sari. , & Sabatini. Darwin, & Sinaga. Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani: nilai kepemimpinan etnik jawa dan relevansinya dengan trend perkembangan masa depan organisasi pendidikan. GENTA MULIA: Jurnal Ilmiah Pendidikan, 14. , 380-388. Sugiyanto. Yusuf-LN. Supriatna. , & Budiamin. Analisis nilai-nilai karakter dalam Tut Wuri Handayani sebagai asas pendidikan nasional. Jurnal Pendidikan Karakter, 14. , 91-103. Sugiyono. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490