ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 3 SEPTEMBER 2024 HUBUNGAN DERAJAT OBESITAS DENGAN DERAJAT HIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS SEI LANGKAI KOTA BATAM Luis Yulia 1 . Mariyaman Tjendera 2 . Nur Ulia Syifani Safitri 3 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam, luisyulia@unuvbatam. 2Fakultas Kedokteran Universitas Batam. tjendera@univbatam. 3Fakultas Kedokteran Universitas Batam, 61120088@univbatam. ABSTRACT Background: Hypertension is a condition characterized by an increase in systolic blood pressure Ou 140 mmHg and diastolic Ou 90 mmHg. There are two risk factors that cannot be controlled, namely, family history, age, and gender, and can be controlled, namely, obesity, stress, smoking, excessive salt consumption, and lack of physical activity. Where obesityis the most common cause found in hypertensive patients. The purpose of this study is to determine the relationship between obesity degrees and the incidence of hypertension. Methods: The method in this study uses observational analysis with a cross sectional The population consists of patients who have been diagnosed with hypertension. The research sample amounted to 394 respondents, obtained by purposive sampling technique and using the slovin formula to determine it. Secondary data was obtained from medical record data and analyzed using univariate, bivariate, and chi-square. Results: The results of the research obtained from the Chi Square test are p-value 000 which means P<0. 05 so that it can be concluded that there is a meaningful Conclusion: Based on the results of the study, it was concluded that there was a meaningful relationship between the relationship between the degree of obesity and the degree of hypertension in hypertensive patients at the Sei Langkai Health Center. Batam City in Keywords: Obesity. Body Mass Index. Hypertension ABSTRAK Latar Belakang: Hipertensi merupakan kondisi yang ditandai oleh peningkatan tekanan darah sistolik Ou140 mmHg dan diastolik Ou90 mmHg. Terdapat dua faktor risiko yang tidak dapat dikontrol yakni, riwayat keluarga, usia, serta jenis kelamin, dan dapat dikontrol yakni, obesitas, stres, merokok,konsumsi garam berlebih, serta kurangnya aktivitas fisik. Dimana obesitas menjadi penyebab yang paling sering ditemukan pada pasien hipertensi. Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan derajat obesitas dengan kejadian hipertensi. Metode: Metode pada penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi merupakan pasien yang telah terdiagnosis hipertensi. Sampel penelitian berjumlah 394 responden, didapatkan dengan teknik purposive sampling dan menggunakan rumus slovin untuk menentukannya. Data sekunder didapatkan dari data rekam medis dan di analisis menggunakan univariat, bivariat, dan chi-square. Hasil: Hasil penelitian yang didapatkan dari uji Chi Square yaitu p-value 0,000 yang berarti P<0,05 sehingga dapat disimpulkan adanya hubungan bermakna. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian didapat Kesimpulan bahwa terdapat hubungan bermakna antara hubungan derajat obesitas dengan derajat hipertensi pada pasien hipertensi di Puskesmas Sei Langkai Kota Batam Tahun 2023. Kata kunci: Obesitas. Indeks Massa Tubuh. Hipertensi Universitas Batam Page 216 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 3 SEPTEMBER 2024 PENDAHULUAN Tekanan Darah Tinggi atau Hipertensi merupakan kejadian Dimana terjadi peningkatan terhadap tekanan darah sistolik (Ou 140 mmH. dan diastolic (Ou 90 mmH. Hipertensi dikategorikan sebagai the silent disease atau pembunuh diamdiam karena penderita tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap hipertensi atau tidak menyadarinya (Perhi, 2019. WHO, Hipertensi masuk kedalam kategori penyakit tidak menular (PTM), dalam laporan WHO beban hipertensi yang menyebabkan penyakit kardiovaskular semakin meningkat dan penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. Menurut laporan tersebut, hanya 54% orang dewasa yang terdiagnosis menderita tekanan darah tinggi, 42% menerima pengobatan, dan hanya 21% yang tekanan darah tingginya Salah satu target global untuk penyakit tidak menular adalah menurunkan prevalensi hipertensi sebesar 33% antara tahun 2010 dan 2030 (WHO, 2023. Kairo, , 2. Menurut data Riskesdas 2018 penyakit kardiovaskular dengan prevalensi tertinggi yaitu, hipertensi 25,8% . dan meningkat menjadi 43,1% . Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Indonesia . prevalensi hipertensi meningkat menjadi 37,2% (Kemenkes. SKI, 2. Berdasarkan data menurut Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau tahun 2021, jumlah penderita hipertensi berumur di atas 15 tahun sebanyak 409. 655, dan pada tahun 2023 berdasarkan hasil Survey Kesehatan Indonesia sebesar 32,6%. Jumlah penderita tertinggi terdapat di Kota Batam sebanyak 235. 689 orang (Dinkes Kepri, 2. Prevalensi menjadi 233. pada tahun 2022 (Dinkes Kepri, 2. Setelah dilakukan survey pendahuluan didapatkan data hipertensi usia Ou 15 tahun terbanyak di Puskesmas Sei Langkai 461 . meningkat 400 . dan terus meningkat ingga 25. Universitas Batam Terdapat dua kategori faktor risiko hipertensi yaitu, faktor risiko yang tidak dapat dikontrol, seperti usia, jenis kelamin. Riwayat hipertensi dalam keluarga, dan komorbiditas seperti diabetes atau gagal ginjal, dan faktor risiko yang dapat diubah, seperti merokok, kurangnya aktivitas fisik, obesitas . , konsumsi alkohol berlebih, konsumsi garam berlebih. Dimana salah satu faktor hipertensi yang sering ditemukan dan dapat diubah adalah obesitas (Kemenkes, 2. Obesitas adalah kondisi medis yang ditandai dengan penumpukan lemak tubuh. Penting untuk dicatat bahwa Body Mass Index (BMI) merupakan salah satu indikator kadar relatif lemak tubuh BMI adalah alat ukur yang umum digunakan untuk menentukan tingkat lemak tubuh seseorang. Status berat badan mengacu pada apakah seseorang memiliki tubuh yang kurus, ideal, atau kelebihan berat badan dan membantu menilai risiko obesitas dan masalah kesehatan karena kekurangan atau kelebihan berat badan (Setiati S. Kemenkes RI, 2. Obesitas yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan beberapa perubahan pada mekanisme tubuh, seperti aktivasi berlebihan sistem saraf simpatik (SNS), renin-angiotensinaldosteron (RAAS), perubahan sitokin yang berasal dari adiposa seperti leptin, resistensi insulin, dan perubahan structural serta fungsional ginjal. SNS yang terlalu aktif, terutama pada ginjal, dimana menghubungkan obesitas dengan kejadian hipertensi (Shariq & McKenzie, 2. Berdasarkan fenomena yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa obesitas dan hipertensi memiliki dampak negatif yang besar pada kehidupan kita. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian guna mengetahui AuHubungan Derajat Obesitas Dengan Derajat Hipertensi Pada Pasien Hipertensi Di Puskesmas Sei Langkai Kota Batam Tahun 2023Ay. Page 217 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 3 SEPTEMBER 2024 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah pasien hipertensi yang dating pertama kali berobat di wilayah kerja Puskesmas Sei Langkai Kota Batam Tahun 2023 sebanyak 25. 650 responden. Kriteria dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua bagian yang membantu untuk mengurangi bias pada penelitian. Kriteria Inklusi . Responden merupakan pasien hipertensi yang pertama kali datang berobat dan belum mendapat terapi . Memiliki BMI Ou 25 . Memiliki TDS Ou 140 mmHg dan TDD Ou 90 mmHg Kriteria Eklusi . Data rekam medis tidak lengkap . Penderita Jumlah sampel yang dipakai sebanyak 394 responden didapatkan dengan teknik purposive sampling dan menggunakan rumus slovin untuk menentukannya. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Derajat Obesitas Pada Pasien Hipertensi Puskesmas Sei Langkai Tahun Tabel 1. Distribusi Frekuensi Derajat Obesitas Obesitas Frekuensi Persentase Obesitas Obesitas Total . (%) Berdasarkan Tabel 1 diketahui dari 394 responden, didapatkan 262 responden . ,5%) mengalami obesitas derajat 1, dan Universitas Batam 132 responden . ,5%) mengalami obesitas derajat 2. Obesitas melibatkan berbagai proses kompleks yang berinteraksi dalam tubuh dimana penyebab utama obesitas adalah ketidakseimbangan antara asupan kalori dan pengeluaran energi. Asupan kalori yang berlebihan, terutama dari makanan tinggi lemak dan gula, dapat menyebabkan penumpukan lemak dalam sel-sel adiposa. Obesitas sering dikaitkan dengan resistensi insulin, dimana sel-sel tubuh kurang responsif terhadap insulin, yang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Jaringan adiposa yang berlebihan, terutama lemak visceral, juga dapat menyebabkan inflamasi rendah kronis, mengeluarkan zat kimia pro-inflamasi yang mempengaruhi metabolisme dan Kesehatan secara keseluruhan (Jin X. , 2. Obesitas juga dapat disebabkan oleh interaksi kompleks dari banyak faktor lingkungan, yang terakhir diyakini menjadi penyebab mendekati peningkatan yang signifikan dalam prevalensi obesitas. Selain itu dapat juga disebabkan oleh makan berlebihan, waktu makan tidak teratur, kurang melakukan aktivitas fisik, pengaruh hormon, dan obat-obatan (Whartin, dkk. , 2020. Fernando. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Novera Herdiani . , dimana 9 responden . ,1%) mengalami berat badan berlebih, 14 responden . ,80%) mengalami obesitas derajat 1, dan sebanyak 3 responden . ,4%) mengalami obesitas derajat 2. Dan berdasarkan data Riskesdas 2018 kasus obesitas di Indonesia sebesar 21,8% dan terjadi peningkatan di tahun 2023 sebesar 23,41% (SKI, 2. Distribusi Frekuensi Derajat Hipertensi Pada Pasien Hipertensi Puskesmas Sei Langkai Tahun 2023 Page 218 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 3 SEPTEMBER 2024 Table 2. Distribusi Frekuensi Derajat Hipertensi Hipertensi Frekuensi Persentase Hipertensi Hipertensi Hipertensi Total . (%) Berdasarkan Tabel 2 diketahui dari 394 responden, didapatkan 160 responden . ,6%) mengalami hipertensi derajat 1, 139 responden . ,3%) mengalami hipertensi derajat 2, dan 95 responden . ,1%) mengalami hipertensi derajat 3. Ada mempengaruhi cardiac output dan resistensi vascular perifer, termasuk asupan garam yang tinggi, faktor genetik, stress, obesitas, dan faktor endotel. Sistem saraf renin-angiotensinaldosteron (RAA), regulasi volume cairan, dan keseimbangan antara hormon aldosteron dan natrium dan cairan tubuh lainnya adalah sistem yang sangat berkontribusi pada peningkatan tekanan Sehingga, bila terjadi secara terus menerus akan mengakibatkan masalah kesehatan yang serius karena dapat berbahaya jika tidak terkendali dan tidak diupayakan pencegahan dini (Andrianto. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Darmatatya, dkk . sebanyak 48,0% responden mengalami hipertensi derajat 1, 35,7% responden mengalami hipertensi derajat 2, dan 16,3% responden mengalami hipertensi derajat 3. Riset yang dilakukan oleh Zhou pada tahun . mengenai tren prevalensi hipertensi di seluruh dunia pada 1990 hingga 2019 peningkatan prevalensi pada laki-laki sebesar 105,6% dan pada perempuan 89,1% sejak 29 tahun terakhir. Sedangkan secara nasional, prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas mengalami peningkatan sebesar 8,31% dalam 5 tahun. Analisis Bivariat Hubungan Derajat Obesitas Dengan Derajat Hipertensi Pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Sei Langkai Tabel 3. Hubungan Derajat Obesitas Dengan Derajat Hipertensi Hipertensi . Hipertensi Hipertensi Hipertensi Total Obesitas Obesitas 150 57,3 91 34,7 21 8,0 Obesitas 10 36,4 74 56,1 132 Total Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa responden dengan obesitas derajat 1 sebanyak 262 . %) orang, dimana diantaranya sebanyak 150 . ,3%) orang mengalami hipertensi derajat 1, sebanyak 91 . ,7%) orang mengalami hipertensi Universitas Batam p-value 0,000 derajat 2, dan sebanyak 21 . ,0%) orang mengalami hipertensi derajat 3. Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Damayanti, dkk. , . dimana responden dengan obesitas derajat 1 pada hipertensi derajat 1 sebanyak 18 Page 219 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 3 SEPTEMBER 2024 ,14%) dengan nilai p-value 0,001 atau p<0,05. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik. RL. diman sebesar 9,73% subjek obesitas 1 mengalami hipertensi derajat 1, dan 3,54% subjek mengalami hipertensi derajat 2. Pada Tabel 3 responden dengan obesitas derajat 2 sebanyak 132 . %) orang, dimana diantaranya sebanyak 10 . ,6%) orang mengalami hipertensi derajat 1, sebanyak 48 . ,4%) orang mengalami hipertensi derajat 2, dan sebanyak 74 . ,1%) orang mengalami hipertensi Hipertensi salah satunya disebabkan karena obesitas. Obesitas adalah faktor resiko lain yang sangat menentukkan tingkat keparahan hipertensi. Pada obesitas dapat meningkatkan jumlah panjangnya pembuluh darah, sehingga meningkatkan resitensi darah yang seharusnya mampu menempuh jarak lebih jauh. Peningkatan resistensi menyebabkan tekanan darah menjadi lebih tinggi. Kondisi ini diperparah oleh sel-sel lemak yang memproduksi senyawa yang merugikan jantung dan pembuluh darah (Kowalski, dalam (Devi dkk. , 2. Hipertensi akibat obesitas disebabkan oleh peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis, aktivasi sistem reninangiotensinaldosteron, dan peradangan kronis. Pada penderita obesitas, penumpukan jaringan adiposa berlebih pada obesitas akan meningkatkan sekresi hormon penekan nafsu makan yaitu leptin dan insulin. Namun peningkatan kedua hormon tersebut terkadang tidak memberikan efek signifikan dalam menekan nafsu makan akibat resistensi (Shariq dan McKenzie. Selain berperan dalam menekan nafsu makan, peningkatan hormon leptin dan insulin juga akan merangsang aktivasi sistem saraf simpatis. Aktivasi sistem saraf simpatis yang dimediasi leptin dan insulin pada pasien obesitas bertujuan untuk menstabilkan berat badan dan memulihkan keseimbangan energi dengan menstimulasi thermogenesis yang dimediasi saraf Universitas Batam Namun peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis pada pasien obesitas juga mempengaruhi air ginjal dan homeostatis serta kontraktilitas jantung sehingga kemungkinan menyebabkan hipertensi (Misch dan Prasanth, 2. Pada hasil uji statistik didapatkan hasil uji chi-square dengan nilai p-value sebesar 0,000 dimana hasil tersebut lebih kecil atau kurang dari P<0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini Ha diterima dan H0 ditolak, yaitu terdapat hubungan antara derajat obesitas dengan derajat hipertensi. Diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Kartika dan Purwaningsih . bahwa ada hubungan yang signifikan antara obesitas dengan kejadian hipertensi di Kecamatan Senen Jakarta Pusat dengan nilai . <0,. menyimpulkan orang yang mengalami obesitas beresiko terkena hipertensi sebesar 2 kali. SIMPULAN Pada penelitian yang telah dilakukan di Puskesmas Sei Langkai dapat disimpulkan sebagai berikut: Sebanyak 66,5% responden mengalami obesitas derajat 1 dan 33,5% responden mengalami obesitas derajat 2. Sebanyak 40,6% responden mengalami hipertensi derajat 1, 35,3% responden mengalami hipertensi derajat 2, dan 24,1% hipertensi derajat 3. Sebagian besar dari responden atau 57,3% mengalami obesitas derajat 1 dengan hipertensi derajat 1 dan 56,1% mengalami obesitas derajat 2 dengan hipertensi derajat 3. Terdapat hubungan antara derajat obesitas dengan derajat hipertensi, dengan p-value 0,000 yang berarti P=<0,05 sehingga dapat disimpulkan adanya hubungan bermakna. Page 220 ZONA KEDOKTERAN VOL. 14 NO. 3 SEPTEMBER 2024 SARAN