Journal for Science and Religious Studies Vol. 2 No. DOI: 10. Visionary Leadership Model of School Principals in Improving the Quality of Education in Elementary Schools Model KeAemimpinan Visioner Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar Khilma Amil Diana Affiliasi: Universitas Islam NegeriK. Abdurrahman Wahid Pekalongan Email Corresponding: khilmaamildiana@gmail. Abstract Research Background: his study examines the implementation of visionary leadership in Indonesian elementary schools, a context where educational quality remains uneven despite a high national enrollment rate. Although visionary leadership is recognized as a transformative approach capable of driving long-term school improvement, its application at the elementary levelAiparticularly in resourcelimited environmentsAihas not been sufficiently explored. Methods: Using a qualitative case study design, data were collected through in-depth interviews, classroom observations, and documentation analysis involving principals, teachers, and staff in a public elementary school known for successfully applying visionary leadership. Data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model to identify thematic patterns and contextual dynamics. Key Findings: Visionary leadership strengthens school culture, enhances teacher professionalism, improves learning quality, and encourages collective ownership of the schoolAos direction. However, challenges persist, including resistance to change, limited managerial literacy, inadequate facilities, and inconsistent stakeholder support. Contribution: The literature by highlighting the specific conditions, strategies, and adaptations required for visionary leadership to function effectively at the elementary levelAian area previously underrepresented in research. It also provides a contextualized understanding of how visionary leadership can be realistically enacted amid socio-cultural constraints and resource limitations. Conclusion: The success of visionary leadership depends on sustained communication, collaborative vision-building, capacity development, and systematic support from educational authorities. Strengthening practical, context-based leadership training and stakeholder involvement is essential to improving the quality of elementary education. Keywords: Visionary Leadership. Principal. Education Quality. Elementary School Abstrak Latar Belakang: Penelitian ini mengkaji implementasi kepemimpinan visioner di sekolah dasar Indonesia, sebuah konteks di mana kualitas pendidikan masih tidak merata meskipun tingkat pendaftaran nasional tinggi. Meskipun kepemimpinan visioner diakui sebagai pendekatan transformatif yang mampu mendorong perbaikan sekolah jangka panjang, penerapan kepemimpinan ini di tingkat sekolah dasarAiterutama di lingkungan dengan sumber daya terbatasAibelum cukup dieksplorasi. Visionary Leadership Model. (Khilma Amil Dian. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies Metode: Menggunakan desain studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, pengamatan di kelas, dan analisis dokumen yang melibatkan kepala sekolah, guru, dan staf di sebuah sekolah dasar negeri yang dikenal berhasil menerapkan kepemimpinan visioner. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman untuk mengidentifikasi pola tematik dan dinamika kontekstual. Temuan utama: Kepemimpinan visioner memperkuat budaya sekolah, meningkatkan profesionalisme guru, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan mendorong kepemilikan bersama terhadap arah sekolah. Namun, tantangan tetap ada, termasuk resistensi terhadap perubahan, keterbatasan literasi manajerial, fasilitas yang tidak memadai, dan dukungan pemangku kepentingan yang tidak konsisten. Kontribusi: Literatur ini menyoroti kondisi spesifik, strategi, dan penyesuaian yang diperlukan agar kepemimpinan visioner dapat berfungsi secara efektif di tingkat sekolah dasarAisebuah bidang yang sebelumnya kurang mendapat perhatian dalam penelitian. Literatur ini juga memberikan pemahaman kontekstual tentang bagaimana kepemimpinan visioner dapat diimplementasikan secara realistis di tengah batasan sosial-budaya dan keterbatasan sumber daya. Kesimpulan: Kesuksesan kepemimpinan visioner bergantung pada komunikasi yang berkelanjutan, pembangunan visi secara kolaboratif, pengembangan kapasitas, dan dukungan sistematis dari otoritas pendidikan. Penguatan pelatihan kepemimpinan yang praktis dan berbasis konteks serta keterlibatan pemangku kepentingan sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar. Kata kunci: Kepemimpinan Visioner. Kepala Sekolah. Mutu Pendidikan. Sekolah Dasar PENDAHULUAN Pendidikan dasar memegang peran penting dalam membentuk karakter serta kemampuan akademik anak. Kualitas pendidikan di tahap ini memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sumber daya manusia di masa depan. Di era perubahan yang cepat, seorang pemimpin sekolah harus memiliki visi yang jelas, mampu menggerakkan komunitas sekolah, serta beradaptasi dengan tantangan yang ada. Menurut data BPS . , tingkat partisipasi sekolah anak usia 7Ae12 tahun di Indonesia mencapai 99,47%, menunjukkan akses yang luas terhadap pendidikan dasar. Indeks Pendidikan Nasional (IPM) menunjukkan bahwa daerahdaerah 3T masih tertinggal secara signifikan dalam aspek mutu pembelajaran, keterampilan dasar siswa, dan manajemen sekolah. Kepemimpinan visioner merupakan pendekatan yang berfokus pada pencapaian tujuan jangka panjang melalui inovasi dan kerja sama yang solid. Kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan ini tidak hanya menjalankan administrasi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang menginspirasi seluruh warga sekolah untuk maju bersama (Rahmi Implementasi kepemimpinan visioner di sekolah dasar sering kali tidak berjalan efektif. Hal ini terjadi karena pendekatan tersebut kerap dianggap terlalu ideal untuk diterapkan di lingkungan sekolah yang memiliki keterbatasan fasilitas Visionary Leadership Model. (Khilma Amil Dian. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies serta minim dukungan pelatihan manajerial bagi kepala sekolah. Selain itu, hambatan juga muncul dari resistensi guru terhadap perubahan, terutama ketika komunikasi internal tidak berlangsung dengan baik. Hasil kajian Nor dan Suriansyah . menunjukkan bahwa kepemimpinan visioner secara signifikan meningkatkan hasil belajar siswa dan profesionalisme guru, namun menghadapi tantangan seperti resistensi terhadap perubahan dan keterbatasan fasilitas, membutuhkan dukungan dari para pemangku kepentingan. Menurut Dian Tri Wibawani, dkk . implementasi kememimpinan visioner terletak pada pendidikan guru dan pemahaman masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan implementasi kepemimpinan visioner di sekolah dasar sangat bergantung pada kesiapan sumber daya, kualitas dukungan pelatihan, efektivitas komunikasi, serta keterlibatan para pemangku kepentingan dalam mengatasi resistensi dan keterbatasan yang ada. Beberapa penelitian terdahulu telah membahas pengaruh kepemimpinan visioner dalam konteks pendidikan, seperti studi oleh Putri, dkk. yang menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan ini efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di SMP Islam Ar-Rochmah. Begitu pula penelitian Maulana . menegaskan bahwa kepemimpinan visioner dapat meningkatkan daya saing lembaga pendidikan Islam di jenjang menengah. Selanjutnya, studi oleh Rahmadani . menemukan bahwa efektivitas manajemen sekolah sangat dipengaruhi oleh gaya kepeminpinan sekolah. Sementara itu, penelitian oleh Wibawani, dkk . mengungkap bahwa kepemimpinan visioner berperan dalam memperkuat kolaborasi guru dan masyarakat serta meningkatkan efektivitas program peningkatan mutu sekolah. Namun, sebagian besar penelitian masih berfokus pada jenjang menengah dan atas, serta dilakukan di sekolah dengan sumber daya relatif memadai. Inilah yang menjadi gap dalam penelitian-penelitian tersebutAi belum banyak kajian yang secara spesifik mengeksplorasi implementasi kepemimpinan visioner pada jenjang sekolah dasar, khususnya dalam konteks keterbatasan sumber daya dan tantangan nyata di lapangan. Oleh karena itu, kebaruan . dari penelitian ini terletak pada dua aspek utama: pertama, fokus khusus pada konteks sekolah dasar yang seringkali terabaikan dalam kajian kepemimpinan visioner. dan kedua, pendekatan kritis terhadap bagaimana model kepemimpinan ini dapat diterapkan secara realistis di tengah keterbatasan sarana, literasi manajerial, serta kondisi sosial kultural yang Visionary Leadership Model. (Khilma Amil Dian. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies melekat di sekolah dasar Indonesia. Penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada penguatan teori kepemimpinan pendidikan, tetapi juga menyajikan pendekatan kontekstual yang dapat dijadikan acuan strategis oleh kepala sekolah dan pengambil kebijakan dalam mengembangkan praktik kepemimpinan yang lebih transformatif, adaptif, dan berorientasi masa depan di tingkat pendidikan dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menilai pelaksanaan kepemimpinan visioner oleh kepala sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di tingkat sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian adalah kepala sekolah, guru, dan staf di salah satu sekolah dasar negeri yang dinilai berhasil menerapkan kepemimpinan visioner. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. PEMBAHASAN Karakterisik Kepemimpinan Visioner Kepemimpinan visioner merupakan salah satu model kepemimpinan yang menekankan pada pentingnya visi jangka panjang, imajinasi strategis, dan kemampuan untuk menginspirasi anggota organisasi agar bersama- sama bergerak menuju tujuan kolektif. Dalam konteks pendidikan, khususnya di sekolah dasar, kepala sekolah sebagai pemimpin visioner bukan hanya menjalankan tugas administratif, melainkan juga bertindak sebagai motor penggerak yang mampu memprediksi arah perubahan pendidikan dan mengarahkan seluruh warga sekolah untuk beradaptasi serta berkembang (Raprap dkk. Banyak penelitian Indonesia memberikan bukti yang kuat untuk konsep ini. Arif Hidayat dkk, . mendefinisikannya sebagai kemampuan untuk secara kolaboratif merumuskan dan melaksanakan tujuan organisasi. Herbie P. Pelealu dkk. menyoroti bahwa pemimpin visioner terampil dalam mengidentifikasi peluang masa depan dan menciptakan tujuan yang jelas. Fairus Athiyah dkk. menggambarkannya sebagai kepemimpinan yang berfokus pada merancang skenario masa depan yang Menurut Nanus . Kepemimpinan visioner merujuk pada kemampuan seorang pemimpin untuk membangun dan menyampaikan gambaran masa depan yang realistis, meyakinkan, dan menarik bagi organisasi. Seorang pemimpin Visionary Leadership Model. (Khilma Amil Dian. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies visioner mampu membayangkan arah yang ingin dicapai tanpa mengabaikan Visi dikomunikasikan dengan jelas, tetapi juga diwujudkan dalam langkah-langkah Dalam konteks sekolah dasar, kepemimpinan visioner tercermin melalui kepala sekolah yang merumuskan visi bukan sekadar sebagai slogan, melainkan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam perencanaan pembelajaran, pengembangan kompetensi guru, dan pembentukan budaya sekolah. Di lingkungan sekolah dasar, hal ini terlihat dari bagaimana kepala sekolah mampu menyusun visi yang tidak hanya bersifat sloganis, tetapi benar-benar dijadikan dasar dalam Karakteristik utama dari kepemimpinan visioner meliputi orientasi masa depan, keberanian mengambil risiko, keterbukaan terhadap inovasi, kemampuan membangun budaya kolaboratif, dan kecakapan dalam memotivasi individu maupun kelompok (Napisah dkk. Kepala sekolah visioner tidak hanya mematuhi kebijakan, melainkan menciptakan arah kebijakan sekolahnya sendiri yang disesuaikan dengan potensi dan tantangan lokal. Mereka mampu membaca peluang, menilai kelemahan internal, serta menetapkan strategi pembaruan yang Selain itu, kepala sekolah visioner mampu menumbuhkan nilai-nilai kepemimpinan yang transformatif, seperti integritas, pelayanan, dan komitmen pada pengembangan individu. Pemimpin pendidikan yang sukses adalah mereka yang tidak hanya berfokus pada hasil akademik, tetapi juga pada pengembangan sistem dan kapasitas sekolah secara menyeluruh (Anis Afifah 2. Di sinilah peran pemimpin visioner sangat menonjol: membangun sekolah sebagai komunitas belajar yang progresif dan inklusif. Salah satu karakteristik unik dari kepemimpinan visioner adalah kemampuannya menjaga keseimbangan antara perubahan dan Di satu sisi, kepala sekolah visioner mendorong inovasi dan di sisi lain, mereka menjaga nilai-nilai dasar pendidikan dan budaya lokal agar tetap menjadi Kepemimpinan visioner sangat dibutuhkan dalam situasi perubahan kurikulum, kebijakan pemerintah, atau pergeseran teknologi yang masif dalam Untuk mewujudkan peran sebagai pemimpin visioner, kepala sekolah harus memiliki serangkaian kompetensi inti yang saling berkaitan. Pertama. Kemampuan merumuskan visiAemisi strategis yang realistis dan sesuai konteks sekolah menuntut Visionary Leadership Model. (Khilma Amil Dian. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies kepala sekolah visioner untuk tidak sekadar menerima visi secara top-down, tetapi menyusunnya secara kolaboratif berdasarkan kebutuhan nyata sekolah, potensi guru dan siswa, serta dinamika lingkungan (Utami dkk. Kedua. Kemampuan inspiratif berarti memotivasi warga sekolah agar merasa memiliki visi bersama, tidak hanya melalui pidato atau instruksi, tetapi lewat keteladanan, komunikasi yang menyentuh, serta konsistensi antara ucapan dan tindakan. Pemimpin yang mampu menggerakkan dari dalam akan lebih efektif membentuk budaya sekolah yang tangguh dan positif. (Mudatsir 2. Ketiga, kepala sekolah visioner harus memiliki kompetensi kolaboratif (Utami dkk. , membangun jaringan kerja sama baik di internal sekolah maupun dengan pihak eksternal seperti orang tua, komite, dinas pendidikan, dan komunitas lokal. Kemampuan ini menjadikan visi bukan milik pribadi kepala sekolah, tetapi hasil kesepakatan dan semangat kolektif yang memudahkan implementasi program. Keempat, adalah kompetensi reflektif dan adaptif, yakni kemampuan melakukan evaluasi terus-menerus terhadap proses dan hasil kepemimpinan, serta kesiapan untuk menyesuaikan arah strategi sesuai kondisi lapangan (Fahreza Yogiya Pramanda dan Budi Priyatmono 2. Kepala sekolah visioner tidak bersikukuh pada satu model, tetapi terbuka terhadap pembaruan jika dianggap lebih efektif untuk mencapai tujuan. Kompetensi lainnya mencakup pengambilan keputusan berbasis data, pemanfaatan teknologi dalam manajemen sekolah, serta komitmen terhadap pembelajaran sepanjang Semua kompetensi ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling mendukung dalam menciptakan kepemimpinan yang berdaya ubah dan berorientasi masa Menurut Devita Sandi dkk, implikasi dari kepemimpinan yang berorientasi pada masa depan dapat melahirkan inovasi dalam menghadapi perubahanperubahan, membuat strategi-strategi yang dapat tetap menjamin mutu pendidikan dan guru (Sindy Ninthia dkk. Demikian, kepala sekolah visioner selalu adaptif terhadap perkembangan sekaligus perubahan zaman. Perbandingan dengan Gaya Kepemimpinan Lainnya Kepemimpinan visioner memiliki perbedaan mendasar dibandingkan dengan gaya kepemimpinan lainnya seperti kepemimpinan birokratis, transaksionalis, (Sabarudinnur Dalam kepemimpinan birokratis, kepala sekolah lebih berfokus pada pelaksanaan aturan dan tata kelola administratif secara ketat. Gaya ini menekankan kepatuhan terhadap struktur, prosedur, dan hierarki, namun sering kali menghambat fleksibilitas serta Visionary Leadership Model. (Khilma Amil Dian. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies kreativitas dalam pengambilan keputusan dan inovasi sekolah. Berbeda halnya dengan kepemimpinan transaksional, yang berlandaskan pada sistem penghargaan dan hukuman. Kepala sekolah dengan gaya transaksional cenderung menjalankan hubungan formal dengan guru dan staf berdasarkan pencapaian target-target tertentu (Fayzhall dkk. Meski mampu menjaga stabilitas organisasi, pendekatan ini jarang membangun keterlibatan emosional atau semangat kolektif jangka panjang karena hubungan antara pemimpin dan pengikut bersifat transaksional semata (Bass dan Avolio 1. Sementara itu, kepemimpinan transformasionalis menekankan perubahan dan pemberdayaan individu, serta memiliki kemiripan dengan kepemimpinan visioner (Basuki dkk. Namun, perbedaan utamanya terletak pada orientasi visi. Kepemimpinan transformasionalis lebih berfokus pada perubahan dalam diri individu dan organisasi, sedangkan kepemimpinan visioner memiliki fokus yang lebih kuat pada pencapaian visi jangka panjang organisasi secara kolektif dan strategis. Adapun kepemimpinan instruksional berpusat pada peningkatan kualitas pembelajaran melalui pengawasan terhadap praktik mengajar, penggunaan data akademik, dan pengembangan profesional guru (Mala dkk. Maula dan Hidayatullah 2024. Walean. Koyongian, dan Sabudu 2. Meskipun penting, pendekatan ini sering bersifat sempit karena hanya menyasar aspek pengajaran, sementara kepemimpinan visioner lebih menyeluruh dan mencakup pengembangan budaya organisasi, hubungan komunitas, dan pengelolaan inovasi. Dengan transformasionalis, kejelasan arah dari instruksional, serta fleksibilitas yang tidak dimiliki oleh gaya birokratis dan transaksional. Inilah yang menjadikannya sebagai pendekatan yang paling sesuai untuk menjawab tuntutan perubahan pendidikan di era modern. Secara sederhana dan dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini menunjukkan perbedaan mendasar antara kepemimpinan visioner dan berbagai bentuk kepemimpinan non-visioner di sekolah. Kepemimpinan visioner berfokus pada penetapan arah jangka panjang melalui visi yang menginspirasi, memotivasi, dan membangun komitmen kolektif. Hubungan dengan guru dan staf bersifat kolaboratif, sehingga mendorong kreativitas, inovasi, serta pengembangan budaya sekolah secara menyeluruh. Sebaliknya, kepemimpinan non-visioner lebih menekankan aturan, prosedur, target, atau aspek teknis pembelajaran, sehingga Visionary Leadership Model. (Khilma Amil Dian. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies hubungan kerja cenderung formal dan inovasi menjadi terbatas. Dampaknya, perubahan yang dihasilkan bersifat parsial dan tidak menyentuh pengembangan organisasi secara komprehensif seperti yang dicapai melalui kepemimpinan Aspek Kepemimpinan Visioner Fokus Utama Menetapkan mengarahkan visi jangka panjang organisasi. Pendekatan Kepemimpinan Menginspirasi, membangun komitmen kolektif terhadap tujuan masa depan. Peran Pemimpin Menginspirasi, sekolah yang maju. Hubungan Kolaboratif Guru/Staf semua pihak dalam mewujudkan visi. Inovasi Mendorong kreativitas dan perubahan strategis jangka panjang. Dampak pada Mendorong kemajuan Sekolah kualitas belajar, dan Kepemimpinan Non-Visioner (Birokratis. Transaksional. Transformasional. Instruksiona. Birokratis: fokus pada aturan dan Transaksional: rewardAe Transformasional: perubahan individu. Instruksional: peningkatan pembelajaran. Birokratis: struktural dan rigid. Transaksional: formal dan berbasis Transformasional: Instruksional: supervisi dan data akademik. Mengatur, membina guru hanya pada aspek Formal, struktural, atau terbatas pada target dan aturan. Inovasi terbatas karena terikat aturan atau fokus yang sempit. Berdampak pada area tertentu saja, seperti administrasi, disiplin, atau Tabel 1: Implementasi Kepemimpinan Visioner di Sekolah Dasar Implementasi kepemimpinan visioner dalam konteks sekolah dasar dimulai dari bagaimana kepala sekolah menyusun dan menyampaikan visi pendidikan secara jelas, inspiratif, dan kontekstual. Visi tidak hanya diposisikan sebagai simbol administratif dalam dokumen sekolah, tetapi harus menjadi panduan strategis yang membentuk arah dan semangat seluruh kegiatan pendidikan. Kepala sekolah visioner cenderung aktif menyosialisasikan visi melalui berbagai forum seperti rapat dewan guru, kegiatan pembinaan, serta melalui media komunikasi digital seperti Visionary Leadership Model. (Khilma Amil Dian. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies grup WhatsApp atau website sekolah. Penyampaian visi dilakukan secara berulang dan konsisten agar tertanam dalam pola pikir guru, staf, siswa, bahkan orang tua. Studi menunjukkan bahwa penyampaian visi yang komunikatif dan melibatkan partisipasi seluruh warga sekolah akan meningkatkan rasa memiliki . terhadap visi tersebut dan memperkuat loyalitas terhadap arah perubahan (Nadeem Kepala sekolah yang visioner memulai kepemimpinan efektif dengan satu poin utama, yaitu merumuskan visi sekolah secara partisipatif bersama guru dan komite sekolah. Pendekatan ini penting karena keterlibatan kolektif yang mampu membangun rasa memiliki dan komitmen bersama terhadap arah jangka panjang Menurut penelitian Ika Alifiyah, dkk,. bahwa Seorang kepala sekolah yang visioner memulai kepemimpinan yang efektif dengan merumuskan visi sekolah secara partisipatif dengan guru dan staf, menggunakan analisis SWOT, dan menerapkannya melalui berbagai kegiatan dan perilaku yang mendorong komitmen kolektif dan pengembangan karakter. Selain itu, kepala sekolah yang visioner juga mampu mengaitkan visi dengan realitas konkret, misalnya dengan mengintegrasikan nilai-nilai visi ke dalam program literasi, proyek penguatan profil pelajar Pancasila, atau pelatihan guru berbasis kebutuhan lokal (Utami dkk. Penyampaian visi juga ditopang oleh komunikasi kepemimpinan yang efektif. Pemimpin visioner harus memiliki keterampilan komunikasi persuasif, simbolik, dan adaptif. Dalam praktiknya, kepala sekolah yang sukses menyampaikan visi adalah mereka yang dapat menyesuaikan gaya komunikasi dengan latar belakang pendidik yang beragam, serta mampu menyampaikan pesan secara inspiratif melalui cerita, refleksi, dan contoh nyata. Dengan demikian, penyampaian visi dalam kepemimpinan visioner bukanlah aktivitas sesekali, melainkan proses komunikasi strategis yang dilakukan secara terus-menerus, bermakna, dan Keberhasilan implementasi visi sangat bergantung pada konsistensi pemimpin dalam menjadikan visi sebagai landasan semua tindakan sekolah, bukan sekadar dokumen formal (Mahmudah dkk. Salah satu ciri paling menonjol dari kepemimpinan visioner adalah peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran . nstructional leade. Kepala sekolah tidak hanya berfokus pada administrasi dan manajemen, melainkan aktif mengarahkan kualitas pembelajaran melalui pendampingan guru, supervisi akademik, dan pengambilan keputusan kurikuler. Kepala sekolah visioner Visionary Leadership Model. (Khilma Amil Dian. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies memahami bahwa mutu pendidikan ditentukan oleh kualitas interaksi belajarmengajar di kelas. Oleh karena itu, mereka terlibat dalam merancang program peningkatan kompetensi guru yang berkelanjutan, seperti pelatihan berbasis kebutuhan, komunitas belajar guru (KKG), dan coaching teaching. Kepemimpinan pembelajaran yang efektif terjadi saat kepala sekolah mampu menjembatani visi sekolah dengan strategi pengajaran yang relevan, kontekstual, dan adaptif. Implementasi keterlibatan kepala sekolah dalam analisis hasil belajar siswa, perencanaan pengajaran, hingga refleksi pembelajaran. Kepala sekolah visioner tidak segan masuk ke kelas, mengamati praktik guru, memberikan umpan balik konstruktif, dan merancang perbaikan pembelajaran berbasis data. Studi oleh Taufik dan Sauri . menyebutkan bahwa keterlibatan kepala sekolah dalam aktivitas akademik secara langsung mampu meningkatkan semangat guru dan konsistensi terhadap standar mutu pembelajaran. Selain itu, pemimpin visioner mendorong inovasi pembelajaran melalui integrasi teknologi, penguatan pembelajaran terdiferensiasi, dan pengembangan model tematik yang kontekstual. Kepala sekolah juga memfasilitasi budaya reflektif di kalangan guru agar tercipta pembelajaran yang dinamis dan relevan. Kepala sekolah harus menjadi lead learner pemimpin yang juga terus belajar dan tumbuh bersama guru. Dengan mengambil peran sebagai pemimpin pembelajaran, kepala sekolah visioner menciptakan sistem pendidikan yang tidak hanya fokus pada kepatuhan administratif, tetapi juga pada peningkatan kualitas pedagogi yang berkelanjutan. Peran ini menjadikan kepala sekolah sebagai agen utama dalam membangun mutu pendidikan dari dalam ruang kelas. Pengaruh Kepemimpinan Visioner terhadap Mutu Pendidikan Kepemimpinan visioner merupakan salah satu gaya kepemimpinan yang berfokus pada mengaktualisasikan visi masa depan yang jelas dan membawa perubahan yang positif (Firdaus dkk. Dalam konteks kepemimpinan visioner, visi dan misi memiliki peran penting karena menjadi fondasi arah, strategi, dan motivasi dalam suatu organisasi atau institusi pendidikan seperti sekolah dasar. Visi berfungsi sebagai petunjuk arah secara terarah untuk meraih tujuan-tujuan yang telah dirumuskan. Sementara misi berfungsi sebagai penjabaran tujuan atau langkah-langkah yang harus dicapai. Seorang pemimpin atau kepala sekolah harus Visionary Leadership Model. (Khilma Amil Dian. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies bisa menyelaraskan antara kebijakan dengan visi dan misi agar tidak keluar dari tujuan yang telah ditetapkan. Visi dan misi dijadikan sebagai tolok ukur dalam merumuskan kebijakan, strategi, dan pembaharuan yang dirancang oleh pemimpin visioner atau kepala Agar mencapai visi dan misi yang efektif, kepala sekolah harus mengkomunikasikan visi kepada stakeholders agar tercipta kesatuan pemahaman bagi seluruh anggota (Basuki dkk. Pemimpin visioner tidak hanya bertanggung jawab menyusun visi dan misi secara kontekstual saja, akan tetapi juga mendorong perubahan dan menanamkan budaya kerja agar dapat meningkatkan mutu pendidikan (Putri dkk. Dengan merumuskan visi yang tepat, maka dapat mempermudah suatu organisasi dalam menghadapi tantangan yang dihadapi dan dapat mencetak perubahan yang lebih baik serta maksimal. Dalam kepemimpinan visioner terdapat beberapa karakteristik utamanya yaitu pemimpin visioner mampu memiliki pandangan jangka panjang, artinya tidak hanya fokus pada permasalahan saat ini saja, tetapi juga memikirkan dan merancang transformasi kedepannya. Mampu merumuskan visi dan misi yang jelas, pemimpin visioner mampu menyusun visi yang inspiratif, kreatif, dan jelas sehingga dapat dipahami oleh seluruh pihak stakeholders. Mampu berkolaborasi dengan membangun budaya partisipatif, mampu memotivasi dan mendorong orang lain untuk bekerja keras serta bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Menjalin hubungan yang efektif, pemimpin visioner dapat menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dengan menjalin komunikasi terbuka, saling menghargai, sehingga tercipta kepercayaan yang dapat memperkuat kerja sama tim ((Annisa dan Muttaqin 2. Hubungan kepemimpinan Visioner dengan Peningkatan Mutu Pendidikan Kepemimpinan visioner berperan penting dalam menentukan mutu proses belajar Pemimpin visioner tidak hanya sebagai administrator, melainkan juga sebagai agen perubahan yang mampu mendorong transformasi mutu pendidikan yang lebih baik. Hubungan antara kepemimpinan visioner dan mutu pendidikan sangat berkaitan, karena keduanya saling memengaruhi dan memperkuat dalam mencapai tujuan yang ditentukan. Untuk mengetahui mutu pendidikan pada suatu institusi itu dapat dilihat dari aspek yang ada, apakah memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) atau tidak. Visionary Leadership Model. (Khilma Amil Dian. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies Peningkatan kualitas pendidikan sangat bergantung pada konstribusi guru dan tenaga kependidikan . sebagai pelaku utama dalam pendidikan. Strategi profesionalisme guru dan staf. Profesionalisme yang dimaksud berupa sikap, komitmen, dan kemampuan guru serta staf dalam menjalankan tugas-tugasnya secara optimal. Sebagai kepala sekolah, dapat menginspirasi guru dan staf melalui program pengembangan kompetensi guru seperti menyediakan pelatihan-pelatihan, workshop, dan sebagainya. Kepala sekolah juga perlu memperhatikan sarana dan prasarana untuk mendukung tercapainya tujuan. Dapat diterapkan dengan mengalokasikan anggaran sekolah sesuai kebutuhan, seperti menyediakan perangkat teknologi yang mendukung pembelajaran berbasis digital. Sehingga pembelajaran yang dilaksanakan menjadi lebih efektif, karena terjadi peningkatan terhadap kinerja guru dan motivasi belajar siswa. Prestasi siswa dalam akademik maupun non-akademik juga dapat menjadi acuan keberhasilan suatu lembaga pendidikan (Maulana 2. Hal ini biasanya diukur dari hasil belajar siswa, capaian nilai ujian sekolah, asesmen sekolah, dan berbagai kompetensi akademik Kepala pembelajaran melalui penguatan strategi pembelajaran, pemanfaatan teknologi, serta menyediakan program-program unggulan akademik. Selain itu, kepala sekolah juga perlu menyadari pentingnya pengembangan aspek non-akademik. Dalam pelaksanaannya dapat diterapkan dengan menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler yang variatif dan bermakna serta menyediakan fasilitas berupa ruang yang dapat digunakan siswa untuk menyalurkan bakat, minat, dan keterampilan sosial mereka. Pencapaian prestasi akademik dan non-akademik yang optimal membutuhkan integrasi antara berbagai komponen di sekolah. Pemimpin visioner tidak hanya fokus pada hasil saja, melainkan juga memperhatikan proses dan lingkungan belajar yang mendukung. Dengan arah yang jelas, dan fokus pada potensi setiap siswa, sekolah dapat menjadi tempat untuk tumbuh sudah Sehingga sekolah mampu menghasilkan lulusan yang unggul untuk masa depan, baik secara intelektual atau moral Peran Dinas Pendidikan dalam Implementasi Kepemimpinan visioner Dalam penerapan kepemimpinan visioner terdapat beberapa tantangan atau hambatan yang sering terjadi. Masih banyak kepala sekolah yang menggunakan Visionary Leadership Model. (Khilma Amil Dian. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies pendekatan administratif dan berorientasi pada rutinitas bukan pada perubahan. Ketika terjadi perubahan, guru dan staf sering kali merasa tidak yakin terhadap inisiatif baru dari kepala sekolah dan menyebabkan penolakan atau sikap defensif terhadap perubahan yang akan dilakukan. Selain itu juga terdapat tantangan lain yaitu terbatasnya sumber daya yang memadai, baik dari segi anggaran, infrastruktur, maupun SDM (Amanah. Nurlaeli, dan MaAoshum 2. Misalnya, tidak semua guru memiliki kompetensi yang sama untuk mendukung penerapan dalam pembelajaran berbasis digital. Dinas Pendidikan dapat merumuskan kebijakan kepada kepala sekolah untuk berinovasi, misalnya membantu kepala sekolah mengembangkan program yang relevan dengan visi misi sekolah. Dinas pendidikan juga dapat menyelenggarakan program pengembangan profesional kepala sekolah dan guru yang berfokus pada kepemimpinan transformatif, manajemen perubahan, dan penggunaan teknologi Pendidikan. Selain itu, dinas pendidikan juga dapat menyediakan sistem pendampingan berkelanjutan melalui pengawasan sekolah. Salah satu strategi kunci dalam memperkuat implementasi kepemimpinan visioner di sekolah dasar adalah penguatan pelatihan kepala sekolah yang berbasis Selama ini, banyak pelatihan kepala sekolah bersifat teoritis dan kurang memberikan ruang untuk pembelajaran kontekstual yang sesuai dengan tantangan nyata di lapangan (Suminto. Ramdani Harahap, dan Zulqurnaini 2. Pelatihan berbasis praktik menekankan pendekatan "learning by doing", di mana kepala sekolah tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga dilibatkan dalam simulasi, studi kasus, dan proyek perencanaan strategis. Pelatihan yang efektif harus mencakup lima elemen utama: berpusat pada praktik nyata, berbasis kolaborasi, dilandasi oleh umpan balik berkelanjutan, berlangsung dalam siklus panjang, dan dikaitkan langsung dengan peningkatan hasil belajar siswa. Dalam konteks Indonesia, penguatan pelatihan kepala sekolah melalui program seperti on-the-job training, mentoring antar kepala sekolah berpengalaman, dan program pembelajaran berbasis komunitas menjadi sangat relevan. Model pelatihan berbasis praktik juga dapat memanfaatkan pendekatan lesson study dan coaching. Lesson study memungkinkan kepala sekolah terlibat langsung dalam siklus perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi pembelajaran di kelas (Fauziah dkk. Sementara itu, coaching untuk kepala sekolah membantu membangun kapasitas kepemimpinan melalui pendampingan Visionary Leadership Model. (Khilma Amil Dian. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies reflektif dan diskusi dua arah yang fokus pada pengembangan personal dan Selain itu, pelatihan harus dikaitkan dengan kebutuhan riil sekolah. Pelatihan yang kontekstual dan berbasis data lapangan lebih mampu menjawab tantangan aktual seperti resistensi perubahan, keterbatasan sarana, serta rendahnya motivasi guru. Maka dari itu, pelatihan perlu didesain fleksibel dan berbasis need assessment, serta melibatkan narasumber yang tidak hanya akademisi, tetapi juga praktisi pendidikan di lapangan. Dengan pelatihan berbasis praktik yang terstruktur, kepala sekolah akan lebih siap menjalankan peran visioner mulai dari menyusun visi strategis, memimpin perubahan, membangun kolaborasi, hingga menciptakan budaya sekolah yang berorientasi mutu dan inovasi. SIMPULAN Penelitian ini menemukan bahwa kepemimpinan visioner memiliki pengaruh yang signifikan dalam mendorong peningkatan kualitas pendidikan di sekolah Kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan visioner mampu menghadirkan visi yang jelas dan inspiratif, meningkatkan profesionalisme guru, memperkuat Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan seperti resistensi terhadap perubahan, keterbatasan sumber daya, dan kesenjangan kompetensi pendidik. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan memperkuat pemahaman mengenai pentingnya kepemimpinan visioner sebagai model kepemimpinan yang relevan untuk menghadapi tuntutan perubahan pendidikan Secara praktis, penelitian ini menegaskan perlunya strategi penguatan kapasitas kepemimpinan melalui pelatihan, pemanfaatan teknologi, dan kemitraan yang dapat diterapkan oleh sekolah dasar untuk meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya didasarkan pada studi literatur sehingga tidak mencakup data empiris langsung dari lapangan. Selain itu, cakupan kajian lebih menyoroti konteks umum sekolah dasar sehingga belum menggambarkan variasi kondisi di setiap daerah atau tipe sekolah. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan pendekatan lapangan dan analisis konteks yang lebih spesifik diperlukan untuk memperkuat temuan. Visionary Leadership Model. (Khilma Amil Dian. Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies REFERENCES