KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat November 2024. Vol. 1 No. 2: 33-38 Pemberdayaan Mahasiswa Dalam Praktik Belajar Lapangan Untuk Mengatasi Stunting Di Desa: Pendekatan Terpadu Dan Sinergis Fikri Faidul Jihad1*. Junita Sekar Mayasari2. Agara Citra Ananta3. Shapna Sasdyanti4. Ramadani Safitri Bintang5. Resa Sri Wahyuni6. Depiani Telaumbanua7. Rini Anggraini 8. Jun Musnadi Is9. Maiza Duana10 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Teuku Umar. Aceh Barat. Indonesia https://doi. org/10. 46367/khidmah. Info Artikel Abstrak Riwayat : Dikirim: 24 September 2024 Direvisi: 30 Oktober 2024 Diterima: 20 November 2024 Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengatasi masalah stunting di Gampong Krueng Seumayam melalui program Praktik Belajar Lapangan (PBL) yang melibatkan mahasiswa. Program ini berfokus pada edukasi gizi, penyuluhan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta intervensi langsung seperti pemberian makanan tambahan (PMT) untuk Selain itu, mahasiswa juga dilibatkan dalam pembagian brosur dan pengembangan program berbasis komunitas guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya stunting. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang dan perilaku sehat dalam mencegah stunting. Kolaborasi antara mahasiswa, aparat desa, dan kader posyandu menjadi kunci keberhasilan program ini. Diharapkan, intervensi yang dilakukan dapat menurunkan angka stunting di Gampong Krueng Seumayam secara signifikan dan berkelanjutan. Kata Kunci: Stunting. Pemberdayaan mahasiswa. Praktik Belajar Lapangan. Edukasi gizi. Pemberian makanan tambahan. PHBS Koresponden: Fikri Faidul Jihad fikrifaiduljihad@utu. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. International License. PENDAHULUAN Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang dihadapi Indonesia. Stunting terjadi ketika anak mengalami gangguan pertumbuhan kronis akibat kurang gizi dalam jangka panjang, terutama 000 hari pertama kehidupan. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 30,8%, yang berarti hampir sepertiga anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting. Angka ini berada di atas ambang batas yang ditetapkan oleh WHO, yaitu 20%, yang menunjukkan bahwa stunting di Indonesia sudah masuk dalam kategori masalah kesehatan masyarakat yang serius. Upaya global untuk mengatasi stunting sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDG. , yang menekankan pentingnya pengurangan prevalensi stunting. Pemerintah Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk menurunkan angka stunting menjadi 14% pada tahun 2024, melalui Program Nasional Percepatan Penurunan Stunting (PPS) yang melibatkan berbagai sektor. Stunting memberikan dampak jangka panjang yang signifikan terhadap individu dan masyarakat. Berdasarkan penelitian, anak-anak yang mengalami stunting lebih rentan mengalami keterlambatan dalam perkembangan fisik dan kognitif. Menurut laporan dari WHO, anak-anak dengan kondisi stunting berisiko E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat November 2024. Vol. 1 No. 2: 33-38 lebih tinggi mengalami masalah pembelajaran di sekolah, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi produktivitas mereka di masa dewasa (WHO, 2. Selain itu, individu yang mengalami stunting juga lebih mungkin mengembangkan penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular di kemudian hari. Dari sisi ekonomi, penelitian Bank Dunia mengungkapkan bahwa negara-negara dengan prevalensi stunting yang tinggi bisa kehilangan hingga 10% dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan karena penurunan produktivitas dan meningkatnya biaya perawatan kesehatan (World Bank, 2. Di Indonesia, stunting tidak hanya memperburuk ketimpangan sosial dan ekonomi, tetapi juga menghambat pembangunan sumber daya manusia serta menurunkan potensi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan berbagai langkah untuk menangani masalah stunting melalui program-program nasional lintas sektor. Salah satu program utama adalah Program Nasional Percepatan Penurunan Stunting (PPS), yang bertujuan untuk menurunkan prevalensi stunting hingga 14% pada tahun 2024. Berdasarkan laporan dari Bappenas . , program ini mencakup intervensi spesifik, seperti pemberian makanan tambahan kepada ibu hamil dan balita, serta intervensi sensitif yang mencakup peningkatan akses terhadap air bersih, sanitasi yang layak, dan edukasi tentang Selain itu, program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan organisasi internasional untuk memperkuat implementasi di tingkat komunitas. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berupaya meningkatkan kesadaran serta mendorong perubahan perilaku masyarakat terkait stunting. Meskipun demikian, tantangan dalam pelaksanaan program ini masih ada, terutama di wilayah-wilayah terpencil yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan dan edukasi yang memadai. Perguruan tinggi memainkan peran krusial dalam pengabdian masyarakat, terutama melalui kegiatan yang melibatkan mahasiswa. Salah satu kontribusi signifikan adalah melalui Praktik Belajar Lapangan (PBL), di mana mahasiswa berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah kesehatan, seperti stunting. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa, tetapi juga meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang isuisu kesehatan. Menurut Kemenristek Dikti . , kegiatan pengabdian masyarakat oleh mahasiswa terbukti efektif dalam memperkuat upaya preventif dan promotif di bidang kesehatan. Dalam konteks penurunan stunting, mahasiswa dapat berperan sebagai agen perubahan dengan memperkenalkan intervensi berbasis komunitas, seperti edukasi gizi, pola asuh yang sehat, dan peningkatan akses terhadap layanan kesehatan dasar. Peran ini tidak hanya mendukung upaya pemerintah, tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk lebih aktif menjaga kesehatan mereka secara mandiri. Desa Krueng Seumayam, yang terletak di Kecamatan Darul Makmur. Kabupaten Nagan Raya, menghadapi berbagai tantangan dalam penanganan masalah stunting. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Nagan Raya, prevalensi stunting di desa ini menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, dengan sebagian besar anak di bawah usia lima tahun mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi. Situasi ini semakin diperburuk oleh terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan dan sanitasi yang memadai, serta rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi yang seimbang. Selain itu, faktor ekonomi, seperti rendahnya pendapatan keluarga, turut berkontribusi pada ketidakmampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Dalam konteks ini, diperlukan intervensi yang bersinergi antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat untuk mengatasi masalah stunting secara komprehensif, termasuk melalui edukasi mengenai gizi dan peningkatan akses terhadap layanan kesehatan. Dengan pendekatan ini, diharapkan tercipta perubahan positif yang berkelanjutan dalam kualitas kesehatan anak-anak di Desa Krueng Seumayam. Sinergi dan pendekatan terpadu menjadi kunci dalam upaya penanggulangan stunting di Desa Krueng Seumayam. Pendekatan ini melibatkan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal, untuk menciptakan program yang komprehensif dan berkelanjutan. Menurut penelitian oleh Pusat Penelitian Kesehatan . , intervensi yang melibatkan banyak stakeholder telah terbukti lebih efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat dan memfasilitasi akses terhadap layanan kesehatan. Dalam konteks stunting, sinergi antara program edukasi, pemberian makanan tambahan, dan peningkatan infrastruktur sanitasi sangat penting untuk mencapai hasil yang Mahasiswa yang terlibat dalam Praktik Belajar Lapangan (PBL) dapat berfungsi sebagai agen perubahan yang menghubungkan berbagai inisiatif ini, sehingga memastikan bahwa intervensi yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Dengan demikian, pendekatan terpadu dan kolaboratif dapat memberikan dampak positif yang lebih besar dalam mengatasi masalah stunting dan meningkatkan kesehatan anak di desa tersebut. Tujuan pengabdian ini adalah untuk memberdayakan mahasiswa melalui Praktik Belajar Lapangan (PBL) dalam upaya mengatasi masalah stunting di Desa Krueng Seumayam. Melalui program ini. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat November 2024. Vol. 1 No. 2: 33-38 diharapkan mahasiswa dapat berkontribusi secara langsung dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi yang seimbang dan perilaku hidup sehat. Selain itu, pengabdian ini bertujuan untuk menciptakan intervensi yang berkelanjutan, termasuk edukasi mengenai pola asuh yang baik dan penyuluhan tentang akses terhadap layanan kesehatan. Dengan melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan, diharapkan dapat tercipta rasa memiliki dan tanggung jawab bersama dalam penanggulangan stunting. Melalui upaya kolaboratif ini, pengabdian diharapkan tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, tetapi juga meningkatkan keterampilan dan pengalaman mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari di bangku kuliah ke dalam praktik nyata di METODE Penelitian ini disajikan dalam bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat. Laporan penelitian merupakan hasil pemikiran yang ditulis menggunakan metode studi pustaka, di mana data dikumpulkan melalui kuesioner, serta analisis data dan informasi berdasarkan data sekunder. Tahapan penelitian dilakukan melalui serangkaian kegiatan sebagai berikut: Analisis Awal/Analisis Kebutuhan Identifikasi Masalah melalui kegiatan FGD Persiapan dan pelaksanaan kegiatan Evaluasi Analisis awal . nalisis kebutuha. adalah tahap pengumpulan informasi terkait dengan kebutuhan mitra penelitian. Tahap ini dilakukan melalui diskusi dan ramah tamah dalam kegiatan FGD yang melibatkan mahasiswa dan perangkat Desa Krueng Seumayam, diwakili oleh Kepala Desa. Ketua Tim Penggerak PKK, pihak Puskesmas, para kader Posyandu, dan Kasi Pemerintahan. Informasi yang diperoleh dari analisis awal kemudian dikaji oleh mahasiswa untuk melakukan identifikasi permasalahan. Berdasarkan permasalahan yang telah teridentifikasi, dilakukan serangkaian persiapan untuk melaksanakan kegiatan yang bertujuan mengatasi permasalahan tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Permasalahan stunting tetap menjadi isu krusial dalam bidang kesehatan masyarakat, mengingat prevalensi kasus stunting hingga saat ini belum sepenuhnya teratasi di berbagai daerah, termasuk di Indonesia. Stunting merupakan kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari lingkungan internal maupun eksternal individu. Dari perspektif internal, faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya stunting mencakup pola asuh yang diterapkan oleh orang tua, pemberian ASI eksklusif yang memadai, penyediaan makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang sesuai, serta imunisasi yang tepat waktu. Selain itu, kecukupan asupan gizi, yang meliputi makronutrien dan mikronutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan anak, serta faktor genetik juga memainkan peran penting dalam menentukan risiko stunting. Di sisi eksternal, sejumlah faktor dapat mempengaruhi terjadinya stunting, antara lain tingkat pengetahuan ibu tentang gizi dan kesehatan anak, serta kondisi ekonomi keluarga yang memengaruhi akses terhadap makanan bergizi dan layanan kesehatan. Kesadaran yang rendah mengenai pentingnya gizi seimbang dan pola makan yang tepat dapat mengakibatkan kurangnya asupan nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh optimal. Menyikapi kompleksitas faktor penyebab stunting, tim PBL II Gampong Krueng Seumayam melakukan analisis mendalam untuk mengidentifikasi faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap kejadian stunting pada anak di wilayah tersebut. Dalam prosesnya, dilakukan pembagian kuesioner yang dirancang khusus kepada ibu hamil dan ibu yang memiliki balita, dengan tujuan menggali informasi terkait pola asuh, pemahaman gizi, serta praktik pemberian makanan. Hasil analisis terhadap kuesioner yang telah disebarkan menunjukkan bahwa pengetahuan ibu-ibu mengenai stunting, khususnya terkait dengan pemberian nutrisi yang tepat dan strategi pencegahan, masih sangat terbatas. Setelah mengidentifikasi prioritas faktor penyebab stunting di Gampong Krueng Seumayam, tim PBL II berkomitmen untuk mengatasi masalah stunting melalui pelaksanaan berbagai program kesehatan. Program-program ini akan dirancang dengan pendekatan yang berbasis pada kebutuhan masyarakat setempat dan akan meliputi edukasi tentang pentingnya gizi seimbang, penyuluhan mengenai pola asuh yang baik, serta peningkatan akses terhadap layanan kesehatan dan makanan bergizi. Dengan upaya kolaboratif ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan secara signifikan mengurangi angka stunting di daerah tersebut. Sosialisasi Pemberian Makanan Bergizi kepada Anak E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat November 2024. Vol. 1 No. 2: 33-38 Kegiatan sosialisasi mengenai pemberian makanan bergizi kepada anak bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran para ibu terkait upaya pencegahan dan penanganan stunting. Sosialisasi ini menyampaikan informasi penting mengenai cara efektif menghitung dan memastikan bahwa asupan gizi anak memenuhi kebutuhan yang seimbang. Selain itu, sosialisasi juga menekankan pentingnya mengenal jenis-jenis makanan yang dapat mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, serta bagaimana ibu dapat mendeteksi tanda-tanda awal kekurangan gizi pada anak. Melalui kegiatan ini, diharapkan para ibu dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam memilih dan memberikan makanan yang tepat, sehingga potensi stunting dapat dicegah secara efektif. Keberhasilan kegiatan sosialisasi ini tidak terlepas dari peran aktif aparat Gampong dan para kader posyandu yang turut mendukung penyebaran informasi secara luas. Para kader posyandu berperan sebagai fasilitator yang membantu memastikan para ibu mendapatkan informasi yang tepat dan mendampingi mereka dalam menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh di rumah masing-masing. Selain itu, kolaborasi yang baik antara aparat desa dan kader posyandu menjadi faktor kunci dalam menjamin keberlanjutan program ini, sehingga dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan anak di lingkungan tersebut. Diharapkan, dengan adanya sosialisasi yang terstruktur dan dukungan dari berbagai pihak, prevalensi stunting di daerah tersebut dapat berkurang secara signifikan. Gambar 1. Kegiatan sosialisasi pemberian makanan bergizi kepada anak Pembuatan dan Distribusi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada Balita Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang kaya nutrisi merupakan salah satu intervensi efektif dalam upaya mengatasi masalah stunting pada anak. Dalam proses pembuatan PMT, beberapa aspek penting harus diperhatikan, yaitu kandungan gizi, cita rasa, dan bentuk makanan. Ketiga elemen ini menjadi faktor utama yang memengaruhi daya tarik anak untuk mengonsumsinya. Oleh karena itu, tim PBL II merumuskan dua menu PMT, yaitu puding labu dan keripik beras yang diperkaya dengan ekstrak daun Pemilihan labu dan daun kelor didasarkan pada kandungan kalsium dan zat besi yang dimiliki kedua bahan tersebut, yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan tinggi badan anak. Selain itu, labu dan daun kelor merupakan bahan yang mudah ditemukan di Gampong Krueng Seumayam, sehingga penggunaan bahan-bahan lokal ini juga diharapkan dapat berkontribusi dalam inovasi pangan daerah dan meningkatkan nilai ekonomi produk lokal di wilayah tersebut. Keberhasilan pelaksanaan program PMT ini tidak lepas dari dukungan penuh aparat gampong, kader posyandu, serta partisipasi aktif masyarakat setempat. Peran serta berbagai pihak ini sangat esensial dalam memastikan kelancaran program serta memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesehatan anak-anak di Gampong Krueng Seumayam. Dengan adanya kolaborasi yang solid, program ini diharapkan dapat berjalan secara berkesinambungan dan menjadi model inovasi pemberian makanan tambahan yang efektif dalam mencegah stunting di wilayah tersebut. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat November 2024. Vol. 1 No. 2: 33-38 Gambar 2. Pembuatan dan Distribusi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada Balita Penyebaran Brosur Brosur merupakan salah satu media yang efektif dalam menyebarkan informasi secara luas dan tepat sasaran. Meskipun kegiatan sosialisasi telah dilakukan, upaya tersebut dinilai belum sepenuhnya optimal dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penanganan masalah stunting. Oleh karena itu, tim PBL II mengambil inisiatif untuk mendesain brosur dengan tampilan yang menarik dan memuat informasi yang akurat. Poin utama yang disampaikan dalam brosur tersebut adalah pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah pencegahan stunting. PHBS memainkan peran penting dalam mengubah perilaku yang kurang sehat di masyarakat, seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum memasak dan menyuapi balita, serta mensterilkan peralatan makan anak untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Informasi yang disampaikan dalam brosur ini dirancang dengan jelas dan rinci, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran serta pengetahuan masyarakat terkait upaya pencegahan stunting melalui penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan, dengan penyebaran brosur ini, masyarakat dapat lebih memahami langkah-langkah preventif yang diperlukan untuk menjaga kesehatan balita dan mencegah terjadinya stunting. Gambar 3. Penyebaran Browsur tentang pencegahan stunting KESIMPULAN Stunting atau gagal tumbuh merupakan kondisi di mana pertumbuhan fisik dan perkembangan anak terhambat secara kronis akibat kurangnya asupan gizi yang memadai, terutama selama periode awal pertumbuhan hingga usia dua tahun pertama. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan fokus pada isu stunting sangat berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya stunting, serta memberikan wawasan terkait tanda-tanda stunting, penanganan yang tepat, dan upaya pencegahannya. Program Praktek Belajar Lapangan (PBL) ini melengkapi program Posyandu yang telah berjalan, dengan menekankan pentingnya intervensi berbasis komunitas. Beberapa tantangan yang dihadapi dalam penanganan stunting di Gampong Krueng Seumayam mencakup perlunya pelaksanaan sosialisasi yang berkesinambungan. Untuk mengatasi masalah tersebut, beberapa solusi yang diusulkan antara lain: pelaksanaan sosialisasi dan penyuluhan mengenai stunting, praktik pembuatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), serta transfer pengetahuan dan edukasi kepada ibu-ibu balita tentang pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui media brosur. Upayaupaya ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam mencegah dan mengurangi prevalensi stunting di masyarakat. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat November 2024. Vol. 1 No. 2: 33-38 UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat terlaksana dengan baik. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada aparat Gampong Krueng Seumayam, para kader posyandu, serta masyarakat setempat yang telah berpartisipasi aktif dalam setiap tahap kegiatan. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada tim dosen pembimbing dan seluruh rekan mahasiswa yang telah memberikan bimbingan, motivasi, serta kontribusi nyata dalam pelaksanaan program ini. Tidak lupa, apresiasi yang tulus kami berikan kepada institusi terkait yang telah memberikan kesempatan dan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini. Semoga kerjasama yang baik ini dapat terus terjalin dan memberikan manfaat bagi kemajuan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA