JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https:/doi. org/10. 36769/jiqta. KODIFIKASI TAFSIR SASTRA KLASIK: STUDI BIBLIOGRAFIS Achmad Zubairin STAI Asy-Syukriyyah alzuber82@gmail. Munawar STAI Asy-Syukriyyah munawar@asy-syukriyyah. Abstrak: Al-Qur`an sebagai kitab suci umat islam, merupakan salah satu peradaban, yaitu dari beradaban realitas/konteks ke peradaban teks, sehingga harus ditelusuri konteks seputar diturunkannya al-Qur`an dan kemukjizatan sastrawi teks al-Qur`an. Para penafsir sejak masa klasik sampai modern, tidak pernah meninggalkan analisa bahasa/sastra dalam tafsirnya, hal ini karena medan semantic dalam al-Qur`an sangat dalam dan luas sekali. Tulisan ini akan mencoba menemukan mutiara-mutiara yang terkandung dalam keindahan sastra al-Qur`an. Diawali dari penelusuran historitas sastra arab pra-islam, bagaimana sastra arab mengalami transformasi dengan mengikuti perkembangan zaman. Tulisan ini juga memotret perjalanan teorisasi sastra arab dalam tafsir al-Qur`an. Sehingga dapat dideteksi distingsi antara sastra al-Qur`an dan sastra lainnya. Kata Kunci : Tafsir Sastra Klasik. Teori Sastra Arab Abstract: The Qur'an as the holy book of Muslims, is one of civilizations, namely from civilized reality/context to text civilization, so it must be explored the context surrounding the revelation of the Qur'an and the literary miracles of the Qur'anic text. The interpreters from classical to modern times, have never left the analysis of language/literature in their interpretation, this is because the semantic field in the Qur'an is very deep and very broad. This paper will try to find the pearls contained in the beauty of the literature of the Qur'an. Starting from the search for the history of pre-Islamic Arabic literature, how Arabic literature underwent a transformation by following the times. This paper also depicts the journey of theorizing Arabic literature in the interpretation of the Qur'an. So that it can detect the distinction between the literature of the Qur'an and other literature. Keyword: Interpretation of Classical Literature. Arabic Literary Theory AA A aC AaO uA/ A O OAU A aU AoI caUoeaN uoa o A A A. A A. A o a ouaA aC C cE oI OUa c oIAU a iA U A e iA/ AoE oI iI U uui u i ui aiA A oaOE N i eo U O A. AOo I aE e oI Un U o UA A ue AO Uc oEAU A c U eo U a Uc aA. Ae aE oIA A o ouA. a i O Uc e i oIA U A e N i A. A E oacUi UA A ue U o c Iia oI O AA A Oi icAUA oi c ouA:Aua iA JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 | 98 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir E-ISSN : 2828-7339 DOI : https:/doi. org/10. 36769/jiqta. Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 PENDAHULUAN Tulisan ini akan mengkritisi pernyataan Montgomery Watt yang mengatakan bahwa alQur`an adalah buku yang susunan redaksi dan maknanya tidak sistematis. 1 Seakan-akan topic pembahasan dalam suatu surah tidak memiliki kesatuan tema. Setidaknya, disini dibutuhkan analisa dari sisi relasi-tekstual . 2, ataupun teori putus-sambung . ashl-wash. Tulisan ini akan mendiskusikan juga pendapat Nasr Abu Zayd yang mengatakan bahwa belum ada yang bisa menunjukan letak kemukjizatan al-Qur`an dari sisi sastra, para ulama seperti al-Byqilyniy hanya menjelaskan secara global tentang bentuk kemukjizatan al-Qur`an. Al-Byqilyniy dalam karyanya IAojyz al-Qur`an belum memperinci secara tegas distingsi antara al-Qur`an dengan karya sastra lainnya. Selama ini yang banyak dibahas Aetermasuk pertunjuk dari ayat-ayat al-Qur`an- lebih terfokus kepada lemahnya bangsa arab (AoAj. untuk mengungguli sastra al-Qur`an, bukan pada hal kemukjizatan al-Qur`an (IAojy. 3 Oleh karena itu menurutnya, para penafsir dituntut untuk membuktikan bahwa al-Qur`an memiliki kemukjizatan al-Qur`an dari sisi sastra, yang oleh Amin Al-Khyli disebut Kitab Sastra Arab terbesar (Kitab al-Arabiyyah al-A'zha. Tulisan ini juga akan mendiskusikan pendapat Jhon Wansbrough yang mengatakan bahwa al-quran di turunkan di mesopotamia (Ira. , argumentasi yang dikemukakannya adalah bahwa audiens yang diajak bicara adalah orang-orang filusuf bukan kafir quraisy mekah. Menurutnya, ayat Aa e a O aE a n nA a a AaO aaEA e A a a a aa Aadalah merupakan perdebatan filsafat Plato tentang penghidupan kembali setelah kematian. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan dengan upaya pencarian referensi kepustakaan yang berkaitan dengan pokok bahasan yang dibahas secara deskriptif. Studi konsep atau literatur dilakukan dengan cara mengkaji secara kritis dan cermat literatur yang relevan dengan pokok bahasan yang akan dipelajari dan dianalisis. Montgomery Watt. BellAos Introduction to the QurAoan (Edinburg: Edinburg University Press, 1. , xi. Adrika Fithrotul Aini. AuKesatuan Surat Al-QurAoan Dalam Pandangan Salwa MS El-Awwa,Ay SYAHADAH: Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman 3, no. Abu Zayd. Mafhum Nash Dirasah fii Ulum Qur`an (Cairo: Markaz Tsaqafi Arabiy, 1. Amiin al-Khulli. Manaahij Tajdiid fii Nahwi wal Balaghah wal Tafsir wal Adab (Cairo: Darul MaAorifah, 1. Yaasin . :79 John wansbrough. Quranic Studi Sources and Methods of Scriptural Interpretation (New York: Prometheus Book, 2. , 77. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 | 99 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https:/doi. org/10. 36769/jiqta. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptifinterpretatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan. Data yang diperoleh adalah deskriptif naratif tentang Kodifikasi Tafsir Sastra Klasik: Studi Bibliografis. Sebagai penelitian kepustakaan, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi, dengan mengambil data dari berbagai literatur yang relevan. PEMBAHASAN Geneologi dan Perkembangan Sastra Arab Sebelum membahas tentang sastra arab dan mengklarifikasi pendapat Wansbrough, perlu ditelusuri seputar sejarah Bangsa Arab itu sendiri. Siapa dan bagaimana keterkaitannya dengan bangsa dan bahasa lainnya. Secara garis besar. Bangsa Semit 7 . eturunan Sam bin Nuh As. ) terbagi tiga: Pertama: Bangsa Semit Timur dengan bahasa resminya bahasa Akkadiyah . emiliki dua varian bahasa: Babilonia dan Asyuriya. Kedua: Bangsa Semit Barat Laut dengan bahasa resminya bahasa KanAoan 8 dan Aram 9. Ketiga: Bangsa Semit Barat Daya dengan bahasa resminya bahasa Ethopia (Habasya. 10 Sehinga bahasa-bahasa yang termasuk dalam rumpun bahasa Semit diantaranya, bahasa Akadiyah (Babylonian-Assyria. Aramiyyah. KanAoyniyyah (Phoenicia dan Ibriyy. , bahasa Arab. Yaman klasik, dan Habasyah (Abyssini. 11 Hampir semua bahasa-bahasa ini sudah punah, kecuali bahasa arab. Dari rumpun bangsa Semit ini-lah, muncul dan semakin berkembang keturunan bangsa Arab. Bangsa Arab sendiri terbagi menjadi dua: Arab Asli (By`ida. 13 dan Arab Pendatang (MustaAoriba. 14 Adapun secara letak geografis. Jazirah Arab pra-islam terbagi kepada : Syam Schlozer dan Eichorn merupakan dua orang ahli bahasa dari Jerman yang pertama menggunakan istilah ini pada awal abad delapan belas. Lihat Abdul MutaAoali. Signifikansi kajian bahasa semit, hal. Bahasa KanAoan terbagi dua: KanAoan selatan dengan bahasa Ugaritik dan Fenik. KanAoan utara dengan bahasa Ibrani. Bahasa Aram terbagi tiga: Aram MurabbaAo. Nabtea (Siriac/Siryan. Tadmiri. Ibnu Rawandhy Hula. AuGENEALOGI ORTOGRAFI ARAB (Sebuah tinjauan Historis: Asal-usul. Rumpun Bahasa dan Rekaman Inskrips. ,Ay A Jamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab 9, no. : 29Ae33. Abdul MutaAoali. AuSignifikansi Kajian Bahasa Semit dalam Linguistik Arab,Ay Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Humaniora 1, no. : 119. Wildana Wargadinata dan Laily Fitriani. AuSastra Arab Masa Jahiliyah dan IslamAy (UIN Maliki Press, 2. , 27. Diantaranya ialah Kaum Aad dan Tsamud. Lihat Ibnu Jarir ath-Thabari. Tarikh Rusul wal Muluk, 1 (Cairo: Darul MaAoarif, 1. , 618Ae26. Keturunan dari Nabit dan Qaidzar yaitu dua orang putera Nabi Ismail As. Lihat. Abu Fida` Ibnu Katsir. Qashash Anbiya`, vol. 1 (Makkah: Maktabah Thalib Arabiy, 1. , 295. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 | 100 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https:/doi. org/10. 36769/jiqta. agian utara Asia: Syiria. Palestin. Hijaz . agian barat Asia: Saudi Arabi. Najd . agian timur Asia: Bahrain. Jordani. Yaman . agian selatan Asi. Berdasarkan fakta sejarah tersebut, maka pendapat Wansbrough yang menganggap bangsa arab berasal dari bangsa sumeria di Mesopotamia menjadi sesuatu yang logis, 16 hanya saja terkait diturunkannya al-Qur`an, menurut penulis belum ditemukan bukti arkeologis yang menyebutkan lokasi diturunkannya al-Qur`an selain di Mekah atau Madinah. 17 Begitupula berdasarkan lokasi dimana Nabi SAW berdomisili, menunjukan bahwa Mekah dan Madinah adalah tempat al-Qur`an diturunkan. Walaupun tidak bisa dipungkiri, dari apa yang Al-Suyythi temukan pada beberapa redaksi ayat al-Qur`an yang berasal dari bahasa non-arab (Aoaja. , menjadikan topic tentang sastra al-Qur`an tetap relevan untuk didiskusikan. A ca aU aa e a aEA a A eaE a AIblaAoi dari bahasa AIa uacUa aA Habasyah/Ethopia artinya minum. A na aO au o a e a nCA a AA a cA a aA aOa eAIstabraqin dari bahasa Persia artinya sutra tebal. Aa oA a aA a a a a iAAsfyra dari bahasa Siryani/Nabtea artinya kitab-kitab Berikut ini beberapa kosakatanya : yang tebal. AOA n A aOa a a aUa a a au au aAIshry dari bahasa Siryani/Nabtea artinya perjanjian denganku. A eaE a a a a a ea a a cAal-yamm dari bahasa Ibrani artinya laut. A a a aeae ea au ua c aO a a iAIllan dari bahasa Nabtea artinya Nama Tuhan. AOA aA a a aO aOcaA a A a ac a nABiyaAoun dari bahasa Persia artinya tempat suci. U aA aO aao a aec aOe aa aUa e a oeATatbyra dari bahasa Siryani/Nabtea artinya binasa. a I aaIA aA ca c a enAJibti dari bahasa Siryani/Nabtea artinya nama setan. a A aO ARabbyniyn a aA caIa aO a eA dari bahasa Siryani atau Ibrani artinya para agamawan. A a aA A ARahmyn dari bahasa Ibrani artinya Pengasih, dll. Terkait dengan hal tersebut, al-Juwaini menilai wajar jika dalam ayat al-Qur`an ada beberapa kosakata yang merupakan bahasa serapan dari non-arab (Aoaja. , argumentasi yang dikemukakannya ialah bahwa Allah swt ketika menjanjikan balasan kebaikan atau ganjaran keburukan dengan sesuatu yang menyenangkan dan mudah dibayangkan akal manusia, seperti surga dan neraka, atau dengan jenis makanan dan minuman yang nikmat atau sebaliknya, maka Ali Junaidi. Tarikh Adab Jahiliy (Cairo: Maktabah Dar Turats, 1. , 13. Wildana Wargadinata dan Laily Fitriani. AuSastra Arab Masa Jahiliyah dan IslamAy (UIN Maliki Press, 2. , 26. Teori ayat Madaniyyah dan Madaniyyah memperkuat pendapat tersebut. Lihat Abdul Shabur Syahin. Tarikh alQur`an (Cairo: Nahdhah Masr. ), 24. Jalaludin Al-Suyuthi, al-Muhadzdzab fiima waqa`a fil Qur`an minal MuAoarrab (Saudi Arabia: Shunduq Ihya Turats Islami. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 | 101 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https:/doi. org/10. 36769/jiqta. pesan tersebut sampai kepada audiens dengan baik. Dimana para ahli sastra manapun tidak mampu untuk memilih kosa kata yang tepat untuk menggambarkan hal-hal tersebut dalam suatu 19 Hal berbeda dikemukakan al-Jurjani, ia beranggapan bahwa ayat-ayat gharib tersebut dapat mengurangi nilai sastra. Sejarah sastra Arab dikelompokan kepada tiga: . sejarah kemunculan sastra arab, i. sejarah para ahli sastra arab, . sejarah karya-karya sastra arab. Periode kemunculan sastra arab terbagi menjadi empat: 1. sastra arab kuno . l-adab alarabiy al-qady. terbagi lagi menjadi dua: sastra jahiliyah. -622 m. ) dan sastra islam. 750 m. sastra arab berkembang . l-adab al-arabiy al-muwalla. terbagi dua: sastra abbasiy . -1258 m. ) dan sastra andalusiy . -1492 m. sastra arab yang tersisihkan . l-adab alarabiy al-minha. dari tahun 1258-1798 m. sastra arab modern . l-adab al-arabiy al-jady. terbagi dua: fase kebangkitan . 8-1900 m. ) dan fase penyempurnaan. Adapun perihal sejarah penyair Arab Jahiliy, terbagi enam kategori: penyair badawi . aitu sha' ylik/penyair dari kalangan fakir dan ghair Sha'ylik/penyair dari kalangan papan ata. , penyair bangsawan, 23 penyair istana atau penyair komersil, penyair filsuf . , penyair religi . , dan penyair perempuan. Al-Khyli memiliki klasifikasi tersendiri tentang hubungan antara ilmu sastra dan disiplin ilmu lainnya, seperti filsafat, teologi . , dan logika . : 1. Sastrawan yang juga filosof, seperti: Sahal bin Harun, al-Jyhizh. Qudymah bin JaAofar. Abdul Qyhir al-Jurjani, al-Zamakhsyyri, al-Sakkyki. SaAoadudin al-Taftizyni, al-Busthymi. Hasan Syalabiy. Isham alIsfirayni. Sastrawan murni, di abad ke-1 dan 2 hijriyah, diantaranya: Al-Barmakiy JaAofar bin Yahya. Sahal bin Harun, al-Jyhizh, al-Mubarrad. Di abad ke-3, diantaranya: Abdullah bin al-MuAotaz . Abu Ahmad Askari . Abu Hilal Askari . Di abad ke-4, muncul para ahli sastra yang juga ahli teolog . , seperti: Ali bin Isa al-Rimyniy . , alByqilyni . Abad ke-5. Abdul Qyhir al-Jurjyni . Ibnu Atsir . Abad ke-7, muncul sastrawan yang juga ahli logika . , seperti Abu YaAoqub al-Sakkykiy . Jalaludin Al-Suyuthi, al-Muhadzdzab fiima waqa`a fil Qur`an minal MuAoarrab (Saudi Arabia: Shunduq Ihya Turats Islami. , 63. Abdul Qahir al-Jurjani. Dala`il IAojaz (Cairo: Maktabah al-Khanji, 1. , 397. al-Khulli. Manaahij Tajdiid fii Nahwi wal Balaghah wal Tafsir wal Adab, 96. Wargadinata dan Fitriani. AuSastra Arab Masa Jahiliyah dan Islam,Ay 2018, 23. Seperti Umru al-Qais . -504 M. ) dengan syair al-muAoallaqatnya. Cahya Buana. AuSimbol-simbol keagamaan dalam syair jahiliyah,Ay 2014, 86. al-Khulli. Manaahij Tajdiid fii Nahwi wal Balaghah wal Tafsir wal Adab, 100Ae106. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 | 102 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https:/doi. org/10. 36769/jiqta. Secara umum hasil karya penafsiran klasik corak sastra dapat diklasifikasikan tiga: . tentang mikro-struktur al-Qur`an, i. tentang stilistika al-Qur`an, dan . semantik al-Qur`an. Hasil karya sastra al-Qur`an diantaranya Ibnu Anbariy . 577 m. ) menulis 130 karya 27 Al-Jyhizh ( w. 868 m. ) menulis 360 karya 28 dan dia merupakan tokoh yang dikenal mempopulerkan Ilmu al-MaAoyni. 29 Ibnu al-MuAotaz 30 . 296 h. ) tokoh yang memperkenalkan Ilmu al-BadiAo dengan judul karangannya yang sama . l-BadiA. Al-Sadysiy (Abad 2 h. mengarang al-MaAoyni. Abu Hytim al-Sijistyni . 200 h. ) mengarang al-Fashyhah, al-Mubarrad . 283 h. ) mengarang al-Balyghah. Al-Farra` . 207 h. ) mengarang MaAoyni al-Qur`an. AlSakkakiy mengarang Miftyh al-Ulym. Muqytil bin Sulaiman mengarang al-Asybyh wa alNazhy`ir. Ada pula karya yang berjudul Majyz al-Qur`an, yang dikarang oleh Abu Ubaidah . 207 h. Karya ini merupakan karya pertama dalam menafsirkan al-Qur`an dengan corak sastra, lebih tepatnya ilmu Bayan. Namun karya ini masih sangat sederhana, makna al-Qur`an yang mengandung makna majaz ditafsirkan secara umum saja, ini terlihat pada penafsiran a , ayat ini mengandung majaz, namun Abu Ubaidah hanya merujuk AA a A Ua aa auEaua a aA a AO a aEA kepada syair Umrul Qais dalam MuAoallaqytnya, padahal pembahasan tentang majaz modern, sebenarnya mencakup kaidah-kaidah dan batasan yang lebih lengkap lagi. Klasifikasi Balaghah al-Qur`an Sebelum memasuki pembahasan seputar Balaghah al-Qur`an. Nasr Abu Zayd telah membagi kemukjizatan (IAojy. al-Qur`an menjadi tiga: kemukjizatan ekstra teks . erasal dari luar tek. , kemukjizatan intra teks . ermasuk fase kodifikasi tek. , dan kemukjizatan bahasa teks . intaksis aya. 32 Dan ketiga hal tersebut merupakan satu kesatuan yang harus dimunculkan dalam rangka untuk menunjukkan kemukjizatan al-Qur`an (IAojy. Menurutnya, perbedaan al-Qur`an dengan sastra arab adalah, bahwa sastra (Balagha. al-Qur`an merupakan Setiawan. AuAl-QurAoan dalam Kesarjanaan Klasik dan Kontemporer: Keniscayaan GeisteswissenschaftenAy,Ay Jurnal Studi Al-QurAoan 1, no. 1 : 83. Abu Barakat al-Anbariy. Nuzhatul Alibba` fii Thabaqaat Adibba` (Jordania: Maktabah al-Mannar, 1. , 6. Abu Utsman Al-Jaahizh. Rasa`il Jahizh (Beirut: Dar Kutub Ilmiyyah, 2. Ilmu mengenai dasar-dasar dan kaidah untuk mengetahui cara penyesuaian kalimat terhadap konteksnya agar serasi dengan tujuan yang dikehendaki penutur. Lihat al-Khulli. Manaahij Tajdiid fii Nahwi wal Balaghah wal Tafsir wal Adab, 122. Merupakan salah seorang Khalifah Dinasti Abbasiah. Thaha Husain dalam al-Khulli. Manaahij Tajdiid fii Nahwi wal Balaghah wal Tafsir wal Adab, 110. Abu Zayd. Mafhum Nash Dirasah fii Ulum Qur`an, 146Ae153. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 | 103 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https:/doi. org/10. 36769/jiqta. bagian/jenis dari sastra arab itu sendiri. 33 Oleh karena itu ia berpendapat bahwa terjadi perbedaan sudut pandang ketika memahami perihal rahasia kemukjizatan al-Qur`an (IAojy. dan kelemahan bangsa arab (AoAj. dihadapan al-Qur`an. 34 Pendapat ini sebenarnya telah disampaikan secara tegas oleh al-Jurjani, bahwasannya jenis tantangan . yang diberikan al-Qur`an kepada bangsa arab adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan pemahaman kelompok MuAotazilah seputar lafazh dan makna. 35 Satu-satunya titik temu dari perbedaan pendapat antara kelompok Ahlu Sunnah dan MuAotazilah menurut penulis adalah penjabaran Qadhi Abdul Jabbar ketika menjelaskan unsur-unsur kesusastraan . dari suatu kalimat kepada tiga hal: pemilihan kata . , peletakan kata . , dan perubahan pada akhiran suatu kata (IAora. 36 Unsur-unsur ini setidaknya bisa dijadikan standarisasi dalam sastra arab untuk kemudian menjadi distingsi antara sastra al-Qur`an dan karya sastra arab Makanya seorang Musailamah al-Kadzab tidak mampu menandingi redaksi/lafazh alQur`an. Selanjutnya penulis akan merujuk kepada Abdul Qyhir al-Jurjyni . 471 h. ) untuk mengklasifikasikan Balaghah al-Qur`an, dengan dua karyanya Asryr al-Balyghah dan Daly`il al-IAojyz, dua buah karya yang melengkapi kekurangan karya-karya disiplin ilmu balaghah sebelumnya yang masih sangat sederhana. Dirinya memulai perumusan batasan-batasan sastra al-Qur`an, ia mengklasifikasikan Balaghah menjadi tiga: Ilmu MaAoani. Ilmu Bayan dan Ilmu BadiAo. Ilmu MaAoani terbagi empat: Khabar-Insya . erita-karanga. Qashar . FashlWashl . utus-sambun. , dan yajaz . edaksinya ringkas, maknanya panjan. Ilmu BadiAo terbagi dua: Muhsinat lafzhiyyah . eindahan redaks. Muhsinat MaAonawiyyah . eindahan makn. Ilmu Bayan terbagi tiga: Tasybih . IstiAoarah . , dan Kinayah . Teorisasi Sastra dalam Tafsir Klasik Terkait dengan kandungan pembahasan dalam Balaghah al-Qur`an, penulis merujuk diantaranya kepada buku Majyz al-Qur`an, yang dikarang oleh Abu Ubaidah . 207 h. salahsatu karya pertama dalam bidang Tafsir al-Qur`an corak sastra. Abu Zayd, 147. Abu Zayd, 151. al-Jurjani. Dala`il IAojaz, 387. Abu Zayd. Mafhum Nash Dirasah fii Ulum Qur`an, 147. Ali al-Jarim dan Mushtafa Amin, al-Balaghah al-Wadhihah al-Bayan al-MaAoani al-BadiAo (Cairo: Darul MaAoarif,). JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 | 104 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https:/doi. org/10. 36769/jiqta. Diantara beberapa tema dalam ilmu Balaghah ialah Majaz. Majaz didefinisikannya sebagai cara bangsa arab mengungkapkan isi hati mereka yang disertai penjelasan struktur . 38 Abu Ubaidah juga mensyaratkan pemahaman audien terhadap kata/kalimat yang terhapus . lliptic/mahdzu. pada tasybyh balygh . ajaz level tertingg. aA eaE a a aA, ia menjelaskan bahwa makna a A a aO aA Misalnya pada ayat A a a auia a caU a ua aa au A aAeaE a a aA, ini a A a aO aA ayat diatas seolah ada kata A eoaE Ayang terhapus setelah kalimat A a A yang dinamakan Majyz al-Ikhtishyr . ajaz ringka. Serupa dengan Abu Ubaidah, al-Kisa`I juga melakukan hal yang sama, ia memasukan elemen kemanusian dalam ranah bahasa, bahasa al-Qur`an ia jadikan wilayah yang thinkable, misalnya pada ayat AU nA a AOaa aOIa a aO a ao a ac a acEaia a a a caUaia a a n aOA, a frasa A( ocAmenungg. sejatinya memiliki unsur kata yang terhapus . lliptic/mahdzu. yaitu A( OAsuami merek. Kedua hal yang dilakukan al-Kisa`I dan Abu Ubaidah kemudian disebut oleh al-Jahizh dengan prinsip ekonomi kata` (Ithna. Begitu juga dengan tasybyh, tamtsyl dan istiAoyrah dalam suatu ayat, juga hanya dimaknai secara sederhana oleh Abu Ubaidah, misalnya pada ayat AA a A au ai n aeUaoaia a Ayang dimaknai hanya dengan `kematian`, yang apabila dibandingkan dengan taste . sastra arab itu sendiri, sangat memungkinkan untuk dianalisa secara istiAoyrah pada kata aA ae aUoaiAyang tidak hanya sekedar diartikan dengan `merasakan`, namun bisa dimaknai `merasakan dengan segenap jiwa dan raga`. Akan tetapi, setidaknya dirinya merupakan yang pertamakali mempelopori tasykhish 41 dalam al-Qur`an, seperti ketika memaknai ayat A aua au A a Ai eaEa aa a aae aA a n aA a A( Adhamir/ kata ganti untuk manusi. digunakan kepada AiA aA( aAsemu. dimana kata ea Pergeseran pemahaman arti Majaz dialami berikutnya oleh al-Farra` dalam karyanya MaAoyni al-Qur`an. Menurutnya. Majaz merupakan suatu makna yang melampaui . , sebagaimana yang ia contohkan pada ayat A a a a A a c aAea aa a ac an A, menghubungkan kerugian . kepada perniagaan . merupakan pemaknaan yang berlebihan dan makna yang melampaui . Disini al-Farra` dianggap telah mengembangkan Majaz sebagai seni Nasr Abu Zayd. Al-Ittijah al-AoAqliyyah fii al-Tafsir (Cairo: Markaz Tsaqafi Arabiy, 1. , 96. Abu Zayd, 101. Nurkhalish Setiawan, 86. Yaitu menghubungan sifat manusia kepada benda atau hewan dan sering disebut juga IstiAoarah. Abu Zayd. Al-Ittijah al-AoAqliyyah fii al-Tafsir, 102. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 | 105 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https:/doi. org/10. 36769/jiqta. memaknai yang lebih jauh. Walaupun dirinya tidak secara eksplisit menyebutkan istilah IstiAoyrah, namun dalam memaknai suatu ayat tidak lepas dari nilai sastra permisalan . zauq IstiAoyri. yang seakan-akan hidup. Begitu juga yang dilakukan oleh Mujahid pada ayat, a aO a eNuA a aA a aea aO a a A a A eaoaa aE aA AaO auaIa a ua u a aA Ao a a aO a aU aia A a Aa aa a uu a a aA, kata A uAyang bermakna dasar `buah`, diartikan olehnya dengan emas dan perak, yang secara semantic, tidak ada relasi medan semantic antara keduanya, karena masing-masing memiliki makna denotatif dan konotatif masing-masing, disini Mujahid melakukan peralihan makna dasar ke makna relasional berdasarkan konteks ayat secara keseluruhan, apa yang ia lakukan merupakan embrio penafsiran susatra al-Qur`an. Tema yang juga menarik untuk didiskusikan adalah tentang putus-sambung . ashl Dengan tema ini . ashl-wash. , setidaknya akan menjadi pintu masuk untuk membantah pendapat M. Watt diatas yang mengatakan bahwa susunan redaksi al-Qur`an tidak sistematis. Sanggahan atas pendapat tersebut, sebenarnya juga bisa melalui tema relasi-tekstual . lmu munasaba. , namun karena dirasa kurang relevan dengan topik tulisan ini, maka penulis hanya akan memberikan sanggahan dari sisi teori Fashl-Washl. Al-Maraghi mendefinisikan Fashl-Washl dengan : UA OocO u uii uoa OA UEe e UaAUA O oUaUAU cO UEeA AO ua U ai uaA AuIlmu tentang letak kata/kalimat yang bersambung atau terpisah, dan tatacara meletakan huruf sambung (A )OApada tempatnya atau membuangnya. Ay Kata/kalimat yang bersambung . menurut al-Jurjani terbagi dua : yang bisa dianalisa perubahan bentuk kata/kalimat (IAora. nya dan yang tidak dapat dianalisa IAorab-nya. Sedangkan kata/kalimat yang terpisah . ada 5 posisi: Pertama. Kamal al-ittishal, yaitu terjadi pada dua kalimat yang memiliki hubungan makna secara sempurna, dimana kalimat kedua dapat ditempatkan pada kalimat pertama seperti pada tempatnya sendiri. 46 Dalam hal ini, kalimat kedua memiliki tiga peran yaitu sebagai pengganti . , penjelas . dan Nurkhalis Setiawan, 87. Ahmad Mushthafa al-Maraghi. Ulum al-Balaghah (Berut: Dar Kutub Ilmiyyah, 2. , 146. Al-Jurjani, 148-149. Khathib al-Qazwainiy, al-Idhah fii Ulum al-Balaghah (Libanon: Dar Kitab Lubnaniy, 1. , 220. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 | 106 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https:/doi. org/10. 36769/jiqta. , contohnya: Aea a a c a au ai aa a a a a aO aA Kedua. Kamal al-inqithaAo yaitu terjadi pada dua kalimat yang berbeda secara sempurna, hal ini terjadi dalam dua keadaan: Ketika salah satu kalimat berupa kalam khabar atau insya`, baik secara lafadz dan makna atau e A a a a e au A hanya makna saja. 48 Contohnya: a A aI a ee a a a a a c a aoa au n au a aA a AaO aa auaIa a aA a a A aoA49 Ketiga: Syibh kamal al-ittishal yaitu terjadi pada dua kalimat, dimana kalimat kedua aAE aOIA mempunyai hubungan yang kuat dengan kalimat pertama, karena berperan sebagai jawaban a A aO aa e aca a cA51. Keempat dari pertanyaan kalimat pertama 50, contohnya A e aA Aa a acc A a A a a A a Aa au I iA e o A aiA : Syibh kamal al-inqithaAo yaitu terjadi pada satu kalimat yang sebelumnya terdapat dua kalimat pendahulu, dimana kalimat tersebut dapat digabungkan pada salah satu dari dua kalimat tersebut, sebab masih terdapat munsabah . Namun penggabungan dengan Aoathaf akan menyebabkan rusaknya makna yang dimaksud. Kelima : Tawassuth baina al-kamalain yaitu terjadi pada dua kalimat yang memiliki munasabat, namun terdapat penghalang, dimana keduanya tidak boleh digabungkan dengan Aoathaf, sebab tidak dimaksudkan untuk menyamakan hokum, contoh: a A a a oa aA# aA a aEa a a ee uaa aUa au ua aa a a a oa a aOIA 52 A ca aA a AaOuaa aa e uaa A Fashl-Washl merupakan salahsatu bentuk kesusastraan al-Qur`an, ketika al-Qur`an memutus topic/tema . dalam satu ayat atau surah misalnya, sesungguhnya al-Qur`an sedang menunjukan keindahan ayat itu, pembaca seolah dituntun untuk menguasai makna ayat yang bernilai sastra secara utuh, hasil pemaknaan tersebut, bisa digunakan selanjutnya untuk kebutuhan pembaca bahkan penafsir sekalipun, ada yang memanfaatkannya untuk penafsiran corak hokum, corak sains, corak social kemasyarakatan, dll. Dalam tema Fashl-Washl, al-Jurjani tampaknya memiliki perbedaan metodologi dengan al-Sakkaki, hal ini disebabkan salahsatunya dari latarbelakang kedua tokoh Balaghah tersebut. Metodologi yang digunakan Al-Jurjani diantaranya menghindari penggunaan istilah-istilah filsafat, ia juga tidak melakukan pengklasifikasian kecuali hanya sedikit, dirinya sangat Ath-Thariq . :7 Abu YaAoqub Al-Sakkaki. Miftah al-Ulum (Berut: Dar Kutub Ilmiyyah, 1. , 109Ae10. Al-AAoraf . : 82. Munir Sulthan. Balaghah Kalimah wal Jumlah wal Jumal (Iskandariah: Mansya` MaAoarif, 1. , 204. Yusuf . :53 al-Baqarah . :14-15 Sulthan. Balaghah Kalimah wal Jumlah wal Jumal, 193. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 | 107 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 2 | Juli - Desember 2022 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https:/doi. org/10. 36769/jiqta. bergantung kepada taste . sastra dalam penjelasannya. Sedangkan metodologi yang digunakan al-Sakkaki sangat berbeda. KESIMPULAN Menelusuri penafsiran corak sastra di masa klasik, dapat dikelompokan menjadi tiga: tentang mikro-struktur al-Qur`an, seperti karya-karya: Hamzah al-KisyAoy . Nadr Syumayl . Aby Ziyyd al-FarryAo . , al-Zajjyj . tentang stilistika al-Qur`an, seperti Mujahid bin Jabir . semantik al-Qur`an, seperti : al-Jahizh . 869 m. Adapun penafsir pertama yang berhasil mengkodifikasikannya adalah SaAoid bin Jubair . 64 h. ) meskipun belum lengkap. Sedangkan al-Farra . 207 h. ) merupakan yang pertamakali mengkodifikasikan tafsir dengan lengkap dan terpisah dari hadis. Dan Ibnu Jarir al-Thabari adalah yang pertamakali mengkodifikasikan tafsir lengkap dengan tarjih . eterangan riwayat hadi. dan iAorab . eterangan semanti. Teori Fashl-Washl setidaknya menjadi salah satu jawaban dari pertanyaan besar seputar ketidak teraturannya redaksi atau makna dalam al-Qur`an. Bahwasannya suatu makna dari dilalah al-Qur`an, merupakan bentuk relasi dinamis antara pembaca dan al-Qur`an, dengan keistimewaan (IAoja. yang tidak dimiliki oleh syair-syair arab jahiliy maupun syair modern. DAFTAR PUSTAKA