Jurnal Pengabdian Abhinaya (JPA) Vol. No. April 2026, pp. Literasi Keuangan Dasar sebagai Langkah Preventif Perilaku Konsumtif pada Anak-Anak Pedesaan Deni Wahyudi*1. Ahmad Zaenal Wafik2. Jumaedi3. Siti Hamdiah Rojabi4. Ida Ayu Putri Suprapti5. Satria Darmanysah6. Honey Alya7 1,2,3,5,6,7Program Studi S1 Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Mataram 4Program Studi D3 Pariwisata. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Mataram *e-mail: wahyudideny131104@gmail. com1, azaenal_wafik@unram. id2, m. jumaedi@staff. id3, rojabish@unram. putriunram@unram. id5, satriadarmansyah19@gmail. com6, alyahoney061@gmail. ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Transisi ekonomi digital yang merambah kawasan pedesaan membawa dampak signifikan terhadap pergeseran gaya hidup, tidak terkecuali pada anak-anak. Minimnya edukasi finansial dari lingkungan keluarga menjadikan mereka rentan terhadap perilaku konsumtif dini dan mismanajemen Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menanamkan literasi keuangan dasar sebagai langkah preventif guna membentuk karakter cerdas finansial sejak usia dini. Berlokasi di TPQ AlAbbasiyah. Dusun Sira Lauq. Desa Sigar Penjalin. Kabupaten Lombok Utara, kegiatan ini menggunakan metode fun learning partisipatif yang terbagi ke dalam tiga tahapan: . Pra Kondisi melalui permainan edukatif . Interactive Storytelling untuk membedakan konsep kebutuhan dan keinginan. Refleksi dan Apresiasi yang diwujudkan melalui pembagian celengan target sebagai komitmen menabung. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan naratif dan bermain sangat efektif dalam menurunkan ketegangan kognitif anak, sehingga mereka mampu memahami nilai kerja keras dan skala prioritas. Lebih jauh, integrasi materi ekonomi dasar dengan nilai-nilai spiritual keagamaan di ekosistem TPQ . eperti larangan berbuat mubazi. terbukti memperkuat internalisasi materi. Disimpulkan bahwa penanaman literasi keuangan melalui pendekatan kultural-religius di tingkat akar rumput merupakan strategi esensial untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi dan mewujudkan sumber daya manusia desa yang mandiri secara ekonomi. Received Maret 26, 2026 Revised April01, 2026 Published April 02, 2026 Kata kunci Literasi Keuangan. Fun Learning. Anak Pedesaan. Perilaku Konsumtif This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. Corresponding Author: Deni Wahyudi. Program Studi S1 Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Mataram. Indonesia Emai: wahyudideny131104@gmail. PENDAHULUAN Literasi keuangan sering kali disalahpahami sebagai keterampilan kompleks yang baru dibutuhkan saat seseorang sudah dewasa dan berpenghasilan. Padahal, pemahaman tentang nilai uang, konsep menabung, dan pengelolaan pengeluaran adalah keterampilan hidup . ife skil. fundamental yang mutlak ditanamkan sejak usia dini . , . , . Di tengah arus modernisasi dan konsumerisme yang semakin masif, anak-anak yang tumbuh tanpa fondasi literasi keuangan yang kuat akan sangat rentan terhadap mismanajemen finansial di masa depan. Journal homepage: https://journal. id/index. php/jpa Jurnal Pengabdian Abhinaya (JPA) Oleh karena itu, mengenalkan konsep keuangan dasar kepada anak-anak bukanlah sekadar mengajarkan cara menghitung uang, melainkan sebuah upaya sadar untuk membentuk pola pikir, disiplin diri, dan rasa tanggung jawab terhadap sumber daya yang mereka miliki . , . , . Urgensi ini menjadi semakin krusial dan kompleks ketika kita melihat konteks anak-anak yang tumbuh dan tinggal di wilayah pedesaan. Saat ini, desa-desa di Indonesia tengah mengalami masa transisi ekonomi yang sangat cepat, bergeser dari sistem ekonomi subsisten atau agraris tradisional menuju ekonomi berbasis uang tunai dan digital. Anak-anak desa kini berhadapan langsung dengan realitas ekonomi yang lebih terbuka. Sayangnya, transisi struktural ini sering kali tidak dibarengi dengan edukasi finansial yang memadai dari lingkungan keluarga. Sebagian besar orang tua di pedesaan masih harus berfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan belum memiliki literasi keuangan yang cukup untuk diwariskan secara terstruktur kepada anak-anaknya . , . , . Lebih jauh lagi, perkembangan internet telah meruntuhkan batas geografis antara desa dan kota, membawa akses layanan keuangan digital langsung ke genggaman anak-anak desa. Mereka kini terpapar oleh gaya hidup konsumtif melalui media sosial, godaan transaksi mikro . icro-transactio. dalam game online, hingga kemudahan menggunakan dompet digital. Tanpa adanya pemahaman yang memadai tentang batasan dan manajemen finansial, anak-anak ini sangat berisiko mengadopsi kebiasaan boros. Terburuknya, di kemudian hari mereka bisa menjadi target empuk dari jebakan layanan keuangan digital yang eksploitatif, seperti pinjaman online . ilegal atau gaya hidup paylater dimanatrennya kini semakin merangsek ke masyarakat pedesaan. Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, mengajarkan literasi keuangan kepada anak-anak desa adalah salah satu strategi intervensi yang paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Ketika anak-anak diajarkan cara mengelola uang saku, menyisihkan sebagian untuk ditabung, dan merencanakan keuangan yang sederhana, mereka sesungguhnya sedang dilatih untuk memiliki visi jangka panjang . Pola pikir ini sangat penting untuk merubah budaya ekonomi keluarga yang mungkin sebelumnya berprinsip "habis untuk hari ini", menjadi generasi yang kelak mampu merencanakan modal usaha, mendanai pendidikan lanjutan, dan melakukan investasi produktif yang dapat mengangkat taraf hidup keluarga mereka. Selain membangun kemandirian materi, edukasi keuangan sejak dini juga berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter, terutama untuk menumbuhkan rasa empati dan penghargaan terhadap jerih payah orang Dengan memahami bahwa uang diperoleh melalui kerja kerasAiyang di pedesaan sering kali berarti kerja fisik yang berat di ladang, sawah, atau di lautAianak-anak akan belajar untuk lebih bijak membedakan antara "kebutuhan" yang esensial dan sekadar "keinginan" yang impulsif. Pemahaman ini akan membentuk karakter anak yang tangguh, tidak mudah menuntut hal-hal di luar kemampuan ekonomi keluarga, dan justru menjadi lebih kreatif dalam memanfaatkan potensi lokal di sekelilingnya . , . , . , . Kondisi dan kerentanan struktural tersebut tercermin secara nyata pada keseharian anak-anak santri di TPQ Al-Abbasiyah. Dusun Sira Lauq. Desa Sigar Penjalin. Kabupaten Lombok Utara. Meskipun anak-anak di wilayah ini secara rutin mendapatkan pembinaan moral dan spiritual yang baik di TPQ, minimnya paparan edukasi finansial dari lingkungan keluarga membuat mereka tetap rentan terhadap kebiasaan jajan impulsif dan pengelolaan uang saku yang tidak terarah. Memanfaatkan ekosistem TPQ Al-Abbasiyah sebagai wadah sosialisasi literasi keuangan karenanya menjadi sebuah pendekatan yang sangat strategis. Di tempat ini, konsep kecerdasan finansial tidak hanya diajarkan sebagai keterampilan ekonomi dasar, tetapi juga dapat dikontekstualisasikan langsung dengan nilai-nilai religius yang sudah mereka pelajariAiseperti larangan berbuat boros . dan anjuran untuk menyisihkan harta untuk masa depan. Integrasi nilai inilah yang diharapkan mampu menjadi solusi akar rumput yang tangguh untuk mengatasi masalah rendahnya literasi keuangan di Dusun Sira Lauq. Literasi Keuangan Dasar sebagai Langkah Preventif Perilaku Konsumtif pada Anak-Anak Pedesaan (Deni Wahyud. Jurnal Pengabdian Abhinaya (JPA) Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui sosialisasi literasi keuangan bagi anakanak desa ini hadir bukan sekadar sebagai agenda penyuluhan biasa, melainkan sebagai sebuah langkah antisipatif dan pemberdayaan yang strategis. Melalui pendekatan yang menyenangkan, interaktif, dan disesuaikan dengan realitas keseharian di desa, kegiatan ini bertujuan untuk mengisi ruang kosong edukasi finansial di tingkat keluarga dan sekolah. Membekali anak-anak desa dengan kecerdasan finansial sejak dini adalah bentuk investasi sosial. kita sedang menyiapkan fondasi sumber daya manusia yang mandiri, berdaya tahan tinggi, dan siap menjadi motor penggerak kesejahteraan ekonomi desanya di masa depan. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Dusun Sira Lauq. Desa Sigar Penjalin. Kabupaten Lombok Utara, spesisfiknya di TPQ TPQ Al-Abbasiyah yang memiliki peserta didik sekitar 50 Kegiatan pengabdian juga kami rangkaikan dengan bantuan meja bagi peserta didik agar memudahkan proses belajar anak-anak di TPQ Al-Abbasiyah. Metode pelaksanaan lebih menekankan pendekatan belajar partisipatif yang menyenangkan . un learnin. Pendekatan fun learning . elajar yang menyenangka. merupakan kunci utama ketika akan melakukan sosialisasi literasi keuangan kepada anak-anak, terlebih di lingkungan pedesaan . , . , . , . Anak-anak cenderung cepat bosan jika dihadapkan pada metode ceramah satu arah. Melalui fun learning, kita mengubah konsep keuangan yang abstrak . eperti inflasi, tabungan, atau skala priorita. menjadi pengalaman nyata yang bisa mereka sentuh, rasakan, dan mainkan . , . Pelaksanaan Kegiatan Pra-Kondisi Interactive Storytelling Refleksi dan Apresiasi Gambar 1. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Berdasarkan gambar 1, tahapan pelaksanaan pengabdian meliputi 3 . tahapan, antara lain . Tahap Pra Kondisi. Tahap Interactive Storytelling. Tahap Refleksi dan Apresiasi. Tahap Pra Kondisi Pada tahapan ini bertujuan untuk menurunkan ketegangan dan membangun kedekatan emosional antara tim pengabdian dan anak-anak. Jika anak sudah merasa nyaman, mereka akan lebih terbuka menerima Oleh karena itu, pendekatan awal dilakukan melalui permainan interaktif edukatif yang ringan serta sesi perkenalan dua arah yang menyenangkan. Melalui aktivitas pencair suasana . ce breakin. tersebut, antusiasme dan fokus belajar anak-anak dapat terbangun secara alami sebelum mereka diajak memasuki pemaparan materi inti. Tahap Interactive Storytelling Pelaksanaan pengabdian tidak dilakukan dengan memberikan definisi kaku tentang apa itu uang dan segala jenis turunannya. Akan tetapi menggunakan cerita yang lekat dengan keseharian mereka di desa untuk menjelaskan konsep dasar ekonomi. Misalnya, tim menyajikan kisah tentang seorang anak desa yang berusaha menyisihkan uang untuk membeli perlengkapan sekolah, alih-alih menghabiskannya untuk kesenangan sesaat. Melalui pendekatan naratif yang partisipatif ini, anak-anak dapat lebih mudah memahami nilai kerja keras sekaligus membedakan antara kebutuhan dan keinginan tanpa merasa sedang Literasi Keuangan Dasar sebagai Langkah Preventif Perilaku Konsumtif pada Anak-Anak Pedesaan (Deni Wahyud. Jurnal Pengabdian Abhinaya (JPA) Tahap Refleksi dan Apresiasi Tahapan ini bertujuan sebagai ruang konsolidasi makna, di mana anak-anak dibimbing untuk menginternalisasi kembali nilai-nilai moral dari setiap keputusan finansial yang mereka buat selama proses Melalui dialog interaktif yang empatik, tim mengajak peserta mengevaluasi pengalaman mereka terkait prioritas kebutuhan, sekaligus memberikan afirmasi positif dan penghargaan atas keberhasilan mereka menyisihkan uang untuk ditabung. Validasi emosional di akhir kegiatan ini sangat krusial untuk mengunci memori psikologis yang menyenangkan, sehingga motivasi intrinsik anak untuk terus menerapkan kebiasaan cerdas finansial dapat tumbuh subur dan berkelanjutan dalam kehidupan nyata mereka di desa. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di TPQ Al-Abbasiyah berjalan dengan lancar dan mendapat sambutan yang sangat antusias dari anak-anak santri serta pengurus setempat. kegiatan ini secara khusus dirancang menggunakan pendekatan fun learning untuk menghindari kesan menggurui. Berikut hasil dan pembahasan untuk masing-masing tahapan dalam kegiatan pengabdian ini. Tahap Pra-Kondisi Tahap pra kondisi terbukti menjadi fondasi krusial dalam keberhasilan seluruh rangkaian acara. Pada awalnya, anak-anak santri cenderung menunjukkan sikap pemalu dan pasif, mengingat kehadiran tim pengabdian dianggap sebagai sosok asing di lingkungan mereka. Namun, melalui serangkaian permainan edukatif . ce breakin. yang melibatkan aktivitas fisik dan konsentrasi dasar tentang angka, ketegangan psikologis tersebut berhasil dicairkan. Gambar 2. Pengkondisian Peserta Secara akademis, tahap ini berfungsi untuk menurunkan affective filter . ilter emosiona. pada anak-anak. Ketika suasana hati mereka gembira dan merasa aman, ruang kognitif mereka menjadi lebih terbuka untuk menerima informasi baru. Kedekatan emosional yang terbangun pada tahap ini membuat anak-anak tidak lagi menganggap kegiatan ini sebagai "pelajaran sekolah" yang kaku, melainkan sebuah arena bermain bersama. Hal ini sangat penting dalam konteks anak-anak pedesaan, di mana pendekatan personal dan keakraban kultural jauh lebih efektif dibandingkan instruksi formal satu arah. Tahap Interactive Storytelling Tahap ini merupakan inti dari proses transfer nilai literasi keuangan dasar. Alih-alih menjelaskan teori ekonomi seperti inflasi atau manajemen kas, tim pengabdian membawakan cerita interaktif tentang tokoh imajinatif lokal . isalnya seorang anak petani/nelaya. yang dihadapkan pada godaan membeli jajanan Literasi Keuangan Dasar sebagai Langkah Preventif Perilaku Konsumtif pada Anak-Anak Pedesaan (Deni Wahyud. Jurnal Pengabdian Abhinaya (JPA) berlebih atau top-up game online, versus impiannya membeli perlengkapan sekolah baru. Selama sesi bercerita, tim secara aktif melontarkan pertanyaan pemantik kepada anak-anak, seperti "Apakah mainan ini benar-benar dibutuhkan hari ini?" atau "Apa yang terjadi jika uangnya dihabiskan semua sekarang?" Gambar 3. Sosialisasi Literasi Keuangan dengan Pendekatan Strorytelling Hasil dari tahap ini menunjukkan respons kognitif yang luar biasa. Anak-anak mampu secara spontan membedakan konsep "kebutuhan" dan "keinginan". Lebih jauh lagi, karena kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan TPQ, tim pengabdian berhasil mengontekstualisasikan literasi keuangan dengan nilai-nilai religius yang telah anak-anak pelajari. Penjelasan bahwa perilaku konsumtif dan menghamburkan uang adalah bentuk mubazir . indakan yang tidak disukai agam. membuat anak-anak lebih mudah menginternalisasi materi. Integrasi antara kecerdasan finansial makro dan nilai spiritual mikro inilah yang menjadi temuan paling bermakna dalam mencegah perilaku konsumtif dini di lokasi pengabdian. Tahap Refleksi dan Apresiasi Tahap terakhir diisi dengan evaluasi ringan, afirmasi positif, dan pemberian apresiasi. Tim pengabdian mengajak anak-anak duduk bersama untuk merefleksikan kembali moral dari cerita yang telah disampaikan. Mayoritas anak-anak dapat menyimpulkan dengan bahasa mereka sendiri bahwa menyisihkan uang jajan untuk ditabung adalah perbuatan yang hebat dan membantu meringankan beban orang tua. Gambar 4. Apresiasi Peserta Sebagai bentuk apresiasi, tim memberikan reward . adiah meja belajar untuk setiap ana. Secara psikologis, apresiasi fisik dan verbal ini berfungsi sebagai positive reinforcement . enguatan positi. Validasi yang diberikan oleh tim pengabdian memberikan kebanggaan tersendiri bagi anak-anak desa, sekaligus mengunci memori emosional mereka terhadap kegiatan ini. Meja belajar yang mereka dapat juga sebagai Literasi Keuangan Dasar sebagai Langkah Preventif Perilaku Konsumtif pada Anak-Anak Pedesaan (Deni Wahyud. Jurnal Pengabdian Abhinaya (JPA) symbol bahwa anak-anak harus belajar dengan sungguh-sungguh, termasuk belajar soal bagaimana mengelola uang yang dimiliki. Gambar 5. Foto Bersama Tim Pengabdian dengan Peserta KESIMPULAN Secara keseluruhan, hasil observasi partisipatif selama ketiga tahapan tersebut mengonfirmasi bahwa pendekatan fun learning sangat efektif diterapkan pada ekosistem pedesaan dan TPQ. Anak-anak tidak hanya pulang dengan membawa pemahaman baru mengenai nilai uang, tetapi juga dibekali dengan pola pikir preventif yang akan menjadi tameng mereka dalam menghadapi godaan gaya hidup konsumtif di era transisi ekonomi digital saat ini. Lebih dari sekadar kecakapan finansial, keberhasilan mengintegrasikan materi ekonomi dengan nilai-nilai spiritual di TPQ Al-Abbasiyah membuktikan bahwa institusi pendidikan keagamaan akar rumput memiliki potensi strategis sebagai wadah pemberdayaan karakter generasi muda. Agar dampak positif ini tidak berhenti sebatas seremonial kegiatan, sinergi berkelanjutan dari para pengajar, tokoh masyarakat, dan khususnya orang tua di rumah sangatlah dibutuhkan untuk terus merawat kebiasaan menabung yang telah diinisiasi. Pada akhirnya, penanaman literasi keuangan sejak usia dini ini merupakan investasi sosial jangka panjang yang esensial untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi, sekaligus langkah awal dalam mencetak sumber daya manusia desa yang mandiri, berdaya tahan tinggi, dan siap menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. ACKNOWLEDGMENTS Terima kasih kepada seluruh panitia Dies Natalis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram, termasuk juga kepada para donatur yang telah berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada Sebagai disclaimer, kami juga menggunakan AI dalam penulisan artikel ini dalam bentuk diskusi redaksi penyusunan latar belakang dan editing tahapan pelaksanaan pengabdian. REFERENSI