Evina Anggrainy D KETEPATAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) OLEH IBU DI RUMAH BERSALIN MITRA ANANDA PALEMBANG TAHUN 2018 Devina Anggrainy Dencik Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang. Indonesia Jalan Syech Abdul Somad No 28, 22 Ilir. Kec Bukit Kecil Palembang Email . devinacans352@gmail. Abstrak Makanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi, diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan untuk memenuhi kebutuhan gizi selain ASI. MP-ASI berupa makanan padat atau cair diberikan secara bertahap sesuai dengan usia dan kemampuan pencernaan Pada usia 6-24 bulan ASI hanya menyediakan A kebutuhan gizi bayi. Dengan menggunakan desain penelitian survey analitik. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi 6-12 bulan di Rumah Sakit Bersalin Mitra Ananda Palembang yang berjumlah 52 responden. Sampel dalam penelitian ini adalah accidental sampling yaitu ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan yang berjumlah 52 responden di RS Bersalin Ananda Mitra Palembang tahun 2019. Dari 52 responden, responden yang memberikan ASI Eksklusif tepat waktu dalam pemberian MP-ASI 30 responden . ,7,%), yang tidak tepat waktu sebanyak 22 responden . ,3%). Dari 52 responden yang memberikan ASI eksklusif yang benar dalam pemberian MP-ASI sebanyak 30 responden . ,7%) dan yang tidak tepat dalam memberikan MP-ASI sebanyak 22 responden . ,3%). Di atas responden yang memberikan MP-ASI, jumlah ibu bekerja dengan jenis yang tepat dalam pemberian MP-ASI sebanyak 16 . ,7%) dan jenis yang salah sebanyak 6 responden . ,3%). Terdapat 15 . ,0%) ibu yang tidak bekerja pada jenis MP-ASI yang tepat dan ibu yang tidak memiliki jenis MP-ASI yang tepat . ,0%). Diharapkan petugas kesehatan di Rumah Sakit Bersalin Mitra Ananda dapat memberikan informasi tentang pentingnya pemberian MP ASI pada bayi. Kata kunci . MP ASI ( Makanan pendamping ASI ) Abstract Complementary foods (MP-ASI) are foods or drinks that contain nutrients, given to infants or children aged 6-24 months to meet nutritional needs other than breast milk. MP-ASI in the form of solid or liquid food is given in stages according to the age and digestive ability of the baby. \ By using an analytical survey research design. The population in this study were mothers who had babies 6-12 months in the Mitra Ananda Maternity Hospital in Palembang totaling 52 respondents. The sample in this study was accidental sampling, namely mothers with babies aged 6-12 months totaling 52 respondents in the Ananda Mitra Maternity Hospital in Palembang in 2019. Above of 52 respondents, respondents who gave timely exclusive breastfeeding in giving MP-ASI were 30 respondents . ,7%), who were not on time were 22 respondents . ,3%). From 52 respondents who gave exclusive breastfeeding which was the right way in giving MPASI as many as 30 respondents . ,7%) and those who were not right in giving MP-ASI were 22 respondents . ,3%). Respondents who did not give Exclusive ASI the right way in giving MP-ASI as much as 1 . 9%) and the incorrect way as many as 16 respondents . 1%). Above of the respondents giving MP-ASI, the number of working mothers with the right type in giving MP-ASI is 16 . 7%) and the wrong type is 6 respondents . 3%). There were 15 . 0%) mothers who did not work in the right type of MPASI and those who did not have the right type . 0%). It is expected that health workers at Mitra Ananda Maternity Hospital can provide information about the importance of providing of giving MP ASI for babies. Keywords : ASI complementary food ( MP ASI ) Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Evina Anggrainy D PENDAHULUAN Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dini (< 6 bula. di Indonesia menurut Survey Kesehatan Dasar Indonesia pendamping ASI usia 0-1 bulan sebesar 9,6%, pada usia 2-3 bulan sebesar 16,7% dan usia 4-5 bulan sebesar 43,9%. Sedangkan pemberian makanan pendamping ASI terlambat (>6 bula. hanya sebagian kecil ibu yang memberikan MP-ASI pada bayi diatas usia 6 bulan (Kumalasari,2. Salah satu hak dasar anak adalah gizinya harus terpenuhi. Salah satu upaya untuk meningkatkan kesehatan dan gizi anak sebagimana kesepakatan internasional seperti Konvensi Hak Anak adalah memberikan makanan yang terbaik bagi anak usia dibawah 2 tahun. Untuk mencapai hal tersebut. Strategi Nasional Peningkatan Pemberian ASI dan MP-ASI yang tepat bagi bayi 0-24 bulan, yaitu mulai menyusu dalam 1 jam setelah lahir, menyusu secara eksklusif sampai usia 6 bulan, memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) mulai usia 6 bulan dan meneruskan menyusu sampai 2 tahun (Irianto,2. Pemberian ASI dapat membentuk perkembangan emosional karena dalam dekapan ibu selama disusui, bayi bersentuhan langsung dengan ibu sehingga mendapatkan kehangatan, kasih sayang dan rasa aman. 80% perkembangan otak anak dimulai sejak dalam kandungan sampai usia 3 tahun yang dikenal dengan periode emas, oleh karena itu diperlukan pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan dan dapat diteruskan sampai anak berusia 2 tahun. Hal tersebut dikarenakan ASI mengandung protein, karbohidrat, lemak, dan mineral yang dibutuhkan bayi dalam jumlah yang seimbang (Kemenkes, 2. Kurang gizi pada bayi bukan semata-mata disebabkan oleh kekurangan Beberapa faktor lain yang menjadi penyebab yaitu pemberian MP-ASI yang tidak adekuat dan penyapihan yang terlalu Masalah pemberian MP-ASI yang tidak tepat juga terjadi di Desa Sekarwangi, dimana ada ibu yang memberikan MP-ASI pada anak 6-12 bulan hanya dengan memperhitungkan variasi yang diberikan (Nuraini, 2. Pemberian MP-ASI berkontribusi pada perkembangan optimal seorang anak bila dilakukan secara tepat. Oleh karena itu, peranan seorang ibu dalam keluarga adalah sangat penting dalam MP-ASI. Penanganan yang baik yang dilakukan oleh ibu dalam pemberian MP-ASI kepada bayinya berpotensi untuk mencapai bayi yang sehat baik dalam pertumbuhan dan Namun kenyataannya masih banyak terjadi masalah pemberian MP-ASI pada bayi dan hal tersebut didasari oleh banyak faktor terutama dari faktor perilaku ibu sendiri. Periode pemberian MP-ASI pada bayi tergantung sepenuhnya pada perawatan dan pemberian makanan oleh ibunya. Oleh karena itu, pengetahuan dan sikap ibu sangat berperan karena pengetahuan tentang MP-ASI dan sikap yang baik terhadap pemberian MP-ASI akan menyebabkan seorang ibu mampu menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi oleh bayinya. Semakin baik pengetahuan gizi ibu maka ia akan semakin memperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang diperolehnya untuk dikonsumsi oleh Pada keluarga dengan pengetahuan tentang MP-ASI yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi anak balita karena ketidaktahuan ibunya (Bahri, 2. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian pada ibu dengan Pemberian ASI eksklusif di Rumah Bersalin Mitra Ananda Palembang tahun 2018 didapatkan 52 orang responden, yang melakukan pemberian ASI Ekslusif sebanyak 40 orang, dan yang tidak memberikan ASI Ekslusif sebanyak 12 orang. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Evina Anggrainy D Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Ketepatan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Oleh Ibu Di Rumah Bersalin Mitra Ananda Palembang. Tujuan penelitian ini untuk diketahuinya hubungan pemberian ASI ( MP ASI ) oleh ibu di Rumah Bersalin Mitra Ananda Palembang Tahun 2018. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan bersifat kuantitatif menggunakan metode penelitian survei analitik. Rancangan penelitian ini menggunakan cross sectional. variabel sebab atau risiko . yaitu umur, paritas pendidikan, pekerjaan dan variabel . yaitu ketepatan pemberian MP-ASI. Waktu dan Tenpat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Bersalin Mitra Ananda Palembang Tahun Target/Subjek Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi 6-12 bulan di Rumah Bersalin Mitra Ananda Palembang sebanyak 52 responden. Sampel dalam penelitian ini accidental sampling. Prosedur Penelitian ini menggunakan kuisoner yang dibagikan kepada ibu-ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan di Rumah Bersalin Mitra Ananda Palembang. Data. Instrumen. Tehnik Pengumpulan Data Data menggunakan data primer karena dilakukan wawancara secara langsung kepada responden dengan menggunakan kuesioner. Tehnik Analisis Data Analisis data yang digunakan pada penelitian ini ada 2 yaitu analisis univariat dan bivariat. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Analisa ini dilakukan untuk mengetahui adanya hubungan antara variabel dependen yaitu ketepatan pemberian MP-ASI dengan variabel independen yaitu umur, paritas, pendidikan, pekerjaan. Uji statistic yang ChiSquare menggunakan komputerisasi dengan tingkat kemaknaan = 0,05. CI= 95% bila p value< artinya ada hubungan yang bermakna antara variabel dependen dan variabel independen dan bila p value> = 0,05 berarti tidak ada hubungan antara variabel dependen dan variabel independen. Hubungan Antara Umur Dengan Ketepatan Waktu Dalam Pemberian MPASI Di Rumah Bersalin Mitra Ananda Palembang Tahun 2018. Pada penelitian ini dilakukan uji ChiSquare dengan batas kemaknaan = 0,05 CI Jika p value< = 0,05 artinya ada hubungan bemakna antara variabel dependen dan variabel independen dan bila p value> = 0,05 berarti tidak ada hubungan antara kedua variabel tersebut. Berdasarkan tabel diatas responden pemberian MP-ASI, ibu yang umurnya tidak beresiko yang tepat waktu dalam pemberian MP-ASI sebanyak 23. ,7%) dan tidak gtepat waktu sebanyak 10 responden . ,3%). Ibu yang umurnya beresiko yang tepat waktu dalam pemberian MP- ASI sebanyak 7 . ,8%) dan yang tidak tepat waktu sebanyak 12 responden . ,2%). Dari hasil uji statistik Chi-square diperoleh nilai p value 0,02 lebih kecil dari 0,05 hal ini menunjukkan bahwa ada Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Evina Anggrainy D hubungan bermakna antara umur ibu dengan ketepatan waktu pemberian MP-ASI. Berdasarkan nilai OR 3. 943 berarti umur ibu yang tidak beresiko mempunyai 943 kali terhadap ketepatan waktu pemberian MP-ASI dibandingkan dengan umur ibu yang beresiko. Hubungan Antara Paritas dengan Ketepatan Waktu Pemberian MPASI ASI di Rumah Berasalin Mitra Ananda Palembang Tahun 2018 Pada penelitian ini dilakukan uji ChiSquare dengan batas kemaknaan = 0,05 CI 95%. Jika p value< = 0,05 artinya ada hubungan bemakna antara variabel dependen dan variabel independen dan bila p value> = 0,05 berarti tidak ada hubungan antara kedua variabel tersebut. Berdasarkan tabel diatas dari responden pemberian MP-ASI, paritas ibu yang tidak beresiko yang tepat waktu sebanyak 24 responden . ,6%) dan tidak tepat waktu sebanyak 11 responden . ,4%). Ibu yang paritasnya beresiko yang tepat waktu dalam pemberian MP-ASI sebanyak 6 . ,3%) dan yang tidak tepat waktu sebanyak 11 responden . ,7%). Dari hasil uji statistik Chi-square diperoleh nilai p value = 0,02 lebih kecil 0,05 hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara paritas dengan ketepatan waktu pemberian MP-ASI. Hubungan Antara Pendidikan dengan Ketepatan Pemberian MPASI di Rumah Bersalin Mitra Ananda Palembang tahun 2018 Berdasarkan tabel diatas dari responden pemberian MP-ASI, ibu yang memiliki pendidikan tinggi yang tepat waktu dalam pemberian MP-ASI sebanyak 27 responden . ,0%) dan tidak tepat waktu sebanyak 9 responden . ,0%). Ibu yang memiliki pendidikan rendah yang tepat waktu dalam pemberian MP-ASI sebanyak 3 . ,8%) dan yang tidak tepat waktu dalam pemberian MP-ASI sebanyak 13 . ,3%). Dari hasil uji statistik Chi-square diperoleh nilai p value 0,00 lebih kecil 0,05 hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara pendidikan dengan ketepatan waktu pemberian MP-ASI. Berdasarkan nilai OR 13. berarti pendidikan ibu yang tinggi baik mempunyai peluang 13. 000 kali terhadap ketepatan waktu pemberian MP-ASI dibanding pendidikan ibu yang rendah. Hubungan Antara Pekerjaan dengan Ketepatan Waktu Pemberian ASI di Rumah Bersalin Mitra Ananda Palembang tahun 2018 Pada penelitian ini dilakukan uji Chi-Square dengan batas kemaknaan = 0,05 CI 95%. Jika p value< = 0,05 artinya ada hubungan bemakna antara variabel dependen dan variabel independen dan bila p value> = 0,05 berarti tidak ada hubungan antara kedua variabel tersebut. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Evina Anggrainy D Berdasarkan tabel diatas dari responden pemberian MP-ASI, ibu yang bekerja yang tepat waktu dalam pemberian MP-ASI sebanyak 16 . ,7%) dan tidak tepat waktu sebanyak 6 responden . ,3%). Ibu yang tidak bekerja yang tepat waktu dalam pemberian MP-ASI sebanyak 14 . ,7%) dan yang tidak tepat waktu sebanyak 16 responden ( 53,3%). Dari hasil uji statistik Chisquare diperoleh nilai p value 0,054 lebih besar 0,05 hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara pekerjaan ibu dengan ketepatan waktu pemberian MP-ASI. PEMBAHASAN Umur Ibu Berdasarkan tabel diatas dari responden pemberian MP-ASI, ibu yang umurnya tidak beresiko yang tepat waktu dalam pemberian MP-ASI sebanyak 23. ,7%) dan tidak gtepat waktu sebanyak 10 responden . ,3%). Ibu yang umurnya beresiko yang tepat waktu dalam pemberian MP- ASI sebanyak 7 . ,8%) dan yang tidak tepat waktu sebanyak 12 responden . ,2%). Berdasarkan nilai OR 3. 943 berarti umur ibu yang tidak beresiko mempunyai peluang 3. 943 kali terhadap ketepatan waktu pemberian MP-ASI dibandingkan dengan umur ibu yang Untuk mengubah perilaku individu perlu mengidentifikasi individu tersebut terlebih dahulu. Identifikasi ini dapat dengan karakteristik individu seperti umur, jenis kelamin, pendidikan dan sebagainya (Abdullah. Dari segi produksi ASI ibu Aeibu yang berusia 19-23 tahun lebih baik dalam menghasilkan ASI dibandingkan dengan iu yang berusia lebih tua. Primipara tahuncenderung tidak menghasilkan ASI yang cukup ( Pudjiadi, 2009 ). Idealnya umur 20-30 tahun merupakan rentang usia yang aman untuk berproduksi dan pada umumnya ibu pada usia tersebut memiliki kemampuan laktasi yang lebih baik daripada yang berumur lebih dari 30 tahun (Roesli, 2. Pendidikan Berdasarkan tabel diatas dari responden pemberian MP-ASI, ibu yang memiliki pendidikan tinggi yang tepat waktu dalam pemberian MP-ASI sebanyak 27 responden . ,0%) dan tidak tepat waktu sebanyak 9 responden . ,0%). Ibu yang memiliki pendidikan rendah yang tepat waktu dalam pemberian MP-ASI sebanyak 3 . ,8%) dan yang tidak tepat waktu dalam pemberian MP-ASI sebanyak 13 . ,3%). Dari hasil uji statistik Chi-square diperoleh nilai p value 0,00 lebih kecil 0,05 hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara pendidikan dengan ketepatan waktu pemberian MP-ASI. Berdasarkan nilai OR 13. 000 berarti pendidikan ibu yang tinggi baik mempunyai peluang 000 kali terhadap ketepatan waktu MP-ASI pendidikan ibu yang rendah. Menurut Hidayat . yang dikutip dari Firmansyah . bahwa pendidikan merupakan penuntun manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan yang dapat digunakan sehingga dapat meningkatkan kualitas Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Evina Anggrainy D Pendidikan mengubah pengetahuan, pendapat dan konsep-konsep, mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan kebiasaan yang baru responden yang masih memakai adat istiadat kebiasaan (Abdullah. Hasil penelitian Hastuti pada tahun 2006 pemberian ASI eksklusif lebih tinggi pada ibu yang berpendidikan tinggi . ,3%) . ,2%). (Abdullah, 2. Pekerjaan Berdasarkan tabel diatas dari responden pemberian MP-ASI, ibu yang bekerja yang tepat waktu dalam pemberian MP-ASI sebanyak 16 . ,7%) dan tidak tepat waktu sebanyak 6 responden . ,3%). Ibu yang tidak bekerja yang tepat waktu dalam pemberian MP-ASI sebanyak 14 ( 46,7%) dan yang tidak tepat waktu sebanyak 16 responden ( 53,3%). Dari hasil uji statistik Chisquare diperoleh nilai p value 0,054 lebih besar 0,05 hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara pekerjaan ibu dengan ketepatan waktu pemberian MP-ASI Pekerjaan sesuatu aktifitas rutin yang dilakukan ibu yang mempunyai bayi guna memperoleh pendapatan. Pasal 83 UU NO. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan menyatakan bahwa buruh/pekerja anaknya masih menyusui harus diberi menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja. Yang dimaksud dengan kesempatan yang patut disini adalah waktu yang diberikan kepada pekerja untuk menyusui bayinya, serta ketersediaan tempat yang sesuai untuk melakukan kegiatan tersebut. Menurut Salvina menyatakan bahwa 59,7 persen ibu yang bekerja hanya memberi ASI 4 kali dalam sehari, sementara jika pada waktu siang hari diberikan susu formula oleh keluarga atau pengasuh. Menurut Roesli . , menyatakan bahwa bekerja bukan alasan untuk ASI eksklusif, pemberian ASI eksklusif merupakan hal yang terbaik bagi bayi. KESIMPULAN Kesimpulan Dari hasil penelitian diperoleh dari 52 responden di Rumah Bersalin Mitra Ananda Palembang tahun 2018 sebagai Ada hubungan antara umur dengan ketepatan waktu dalam pemberian MP-ASI. Ada hubungan antara paritas dengan ketepatan waktu dalam pemberian MP-ASI. Ada hubungan antara pendidikan dengan ketepatan waktu dalam pemberian MP-ASI ASI. Tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan ketepatan waktu pemberian MP- ASI. Saran Diharapkan Pemberian Makan Pendamping ASI (MP-ASI) dapat di berikan penyuluhan rutin kepada ibu Ae ibu yang berada baik di Rumah Bersalin. Puskes atau tempat Kesehatan yang laoin, agar para ibu dapat memberikan makanan secara tepat sehingga tumbang pada bayi juga dapat berkembang dengan baik. DAFTAR PUSTAKA