Cakrawala Jurnal Ilmiah Bidang Sains ISSN: 2964-075X (Prin. ISSN: 2962-7281 (On Lin. DOI: 10. 28989/cakrawala. Hubungan antara manajemen stres dan ketahanan keluarga Masyitoh Inayati1. Ismatul Izzah1 1,2 Program Studi Psikologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora. UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta Article Info Article history: Received September 30, 2024 Accepted November 28, 2024 Published December 18, 2024 Keywords: Stress Management Family resilience Walsh Family Resilience Questionnaire Yogyakarta ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara manajemen stres dan ketahanan keluarga di Yogyakarta. Subjek penelitian ini adalah laki-laki dan perempuan yang sudah menikah dengan umur 2160 tahun yang berdomisili di Provinsi Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik sampling berupa accidental sampling. Responden berjumlah 111 orang yang mengisi menggunakan google form. Data dikumpulkan menggunakan skala manajemen stres dari teori Robbins dan skala ketahanan keluarga menggunakan Walsh Family Resilience Questionnaire yang telah Teknik analisis statistik yang digunakan adalah teknik analisis Spearman Rho. Hasil uji korelasi memperoleh signifikansi sebesar 0,000 . <0,. artinya semakin tinggi manajemen stres seseorang, maka ketahanan keluarga semakin tinggi. Penelitian ini memiliki sumbangan efektif sebesar 46,9% yang menjelaskan bahwa manajemen stres dan ketahanan keluarga memiliki korelasi, sedangkan 53,1% dipengaruhi oleh faktor lain diluar penelitian. Penulis Korespodensi: Masyitoh Inayati. Program Studi Psikologi. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Jl. Laksda Adisucipto. Yogyakarta. Indonesia 55281. Email: inayatimasyitoh@gmail. PENGANTAR Keluarga ideal adalah keluarga yang mampu menggunakan kemampuan dari kapasitas keluarga yang dimiliki dan bertujuan untuk mendapatkan buah hasil demi tercapainya tujuan keluarga yakni kesejahteraan Sebuah keluarga dengan fondasi yang kuat dapat menghasilkan generasi tangguh. Keluarga yang tangguh ditetapkan oleh landasan pembangun keluarga dengan tujuan tercapainya ketahanan keluarga. Menurut Undang-Undang no. 10 tahun 1992 . tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera mengartikan ketahanan keluarga sebagai keadaan dinamis suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan, mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis serta meningkatkan kesejahteraan lahir, serta mengandung kemampuan fisik material dan psikis mental spiritual untuk hidup mandiri. Pernyataan tersebut juga diperkuat pada Peraturan Daerah (Perd. Kota Yogyakarta Nomor 8 Tahun 2020 tentang pembangunan ketahanan keluarga yang menyatakan bahwa ketahanan keluarga memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik materiil dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin . Walsh menyebutkan bahwa ketahanan keluarga . amily resilienc. digambarkan sebagai adaptasi dan proses koping keluarga sebagai sebuah unit fungsional. Ketahanan keluarga mengacu pada kapasitas keluarga untuk bangun kembali dari kesulitan sehingga menjadi lebih kuat dan berdaya. McCubbin dan McCubbin mengartikan ketahanan keluarga sebagai dimensi dan karakteristik yang membantu keluarga mampu bertahan menghadapi masalah dan perubahan yang terjadi serta mampu beradaptasi selama situasi krisis berlangsung. Kesimpulannya, ketahanan keluarga berarti kekuatan keluarga sebagai sistem fungsional untuk bertahan dan bangkit dari keterpurukan . Setiap keluarga memiliki perjalanan hidup masing-masing dan wajar jika terdapat konflik atau permasalahan di dalamnya. Suatu konflik tidak datang tiba-tiba oleh karenanya Gradianti T. tentang sumber konflik pernikahan diantaranya adalah . patner hidup yang kurang sesuai dengan minat dan https://ejournals. id/index. php/cakrawala/ Masyitoh Inayati. Ismatul Izzah tujuan awal, . susah menerima perbedaan-perbedaan seperti kebiasaan, nilai, dan pendapat, . cara mendapatkan uang dan membelanjakannya, . ketidaksesuaian keinginan dan kebutuhan, . pasangan yang posesif dan cemburuan sehingga kurang diberi ruang, . peran yang kurang seimbang, . masalah anak, . kurangnya dalam hal komunikasi . Perceraian karena konflik dalam rumah tangga yang disebabkan oleh masalah ekonomi dalam bentuk PHK dapat memicu stres dan emosi pada pihak suami yang mencari nafkah karena memikirkan biaya hidup sehari-hari. Selain itu, diperkuat oleh Subardhini bahwa pada umumnya faktor penyebab perceraian terjadi disebabkan oleh konflik dalam rumah tangga karena ketidakseimbangan aktivitas dan waktu bersama, permasalahan ekonomi. KDRT atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga, faktor usia dalam membina rumah tangga serta perubahan pola komunikasi . , . Kemampuan anggota keluarga untuk mengatasi konflik, stres dan krisis dapat diketahui dengan seberapa kuat ketahanan keluarga pasangan atau keluarga tersebut. Selain itu, aspek ketahanan keluarga yang diambil dari tiga domain atau konstruk ketahanan keluarga menurut Walsh pertama yaitu sistem keyakinan . elief syste. dengan sub konstruk memaknai situasi sulit, memiliki pandangan positif dan penuh harap, dan memiliki tujuan transendensi dan spiritual. kedua, pola organisasi . amily organizational pattern. dengan sub konstruk fleksibilitas, memiliki keterhubungan, dan sumberdaya sosial dan ekonomi. dan ketiga, proses komunikasi . ommunication processes/ problem solvin. yang memiliki sub konstruk kejelasan, keterbukaan secara emosional, dan pemecahan masalah yang kolaboratif. Konstruk tersebut merupakan proses kunci dari alat ukur Walsh Family Resilience Questionnaire (WFRQ). , . Faktor-faktor ketahanan keluarga mencakup landasan legalitas, keutuhan keluarga, kemitraan gender, kecukupan pangan dan gizi, kesehatan keluarga, ketersediaan tempat atau lokasi tetap untuk tidur, tempat tinggal keluarga, pendapatan keluarga, pembiayaan pendidikan anak, jaminan keuangan keluarga, keharmonisan keluarga, kepatuhan terhadap hukum, kepedulian sosial, keeratan sosial, dan ketaatan beragama. Pernyataan di atas diperkuat oleh Palupi W. & Devi Y. bahwa stres merupakan sebuah penerimaan yang diliputi perasaan takut atau marah terhadap suatu situasi lalu diungkapkan dengan sikap tak sabaran, rasa frustasi, iri, tidak ramah, depresi, cemas, khawatir, bahkan sikap masa bodoh atau ketiadaan perasaan. Stres tersebut memerlukan penanganan seperti manajemen stres yang merupakan tindakan yang perlu dilakukan keluarga untuk menghilangkan stres. Upaya manajemen stres dapat dilakukan pada keluarga agar mampu membantu penyelesaian masalah dan membantu mempertahankan ketahanan keluarga. Stres mampu diatasi dengan kemampuan manajemen stres yang baik kemudian mendapatkan output ketahanan keluarga dengan komponennya seperti ketahanan psikologis dengan wujud kemampuan dalam mengontrol emosi secara positif, kepedulian pasangan suami istri dan mengatasi masalah non fisik lainnya . Keluarga yang memliki masalah dari berbagai faktor ketahanan dapat memicu stres. Stres dapat diatasi dengan mengatur atau memanajemen stres yang muncul. Manajemen stres menurut Robbins merupakan alternatif pada seseorang dalam mengelola stres yang diterima dengan aspek identifikasi gejala stres, analisis stres, strategi terhindar dari stres, dan coping stress. Sedangkan manajemen stres atau coping stress menurut Lazarus dan Folkman merupakan proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan dengan berbagai sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi penuh tekanan. Manajemen stres merupakan bagian dari strategi koping atau coping stress. Sedangkan strategi koping merupakan perilaku yang terlihat dan atau tidak terlihat yang dilakukan oleh individu untuk mengurangi ketegangan secara psikologis dan kondisi yang penuh stres. Menurut Lazarus & Folkman strategi koping terdiri dari Problem Focused Coping dengan 3 aspek yakni Confrontive Coping . engatasi dengan konfrontati. Seeking Social Support . encari dukungan sosia. , dan Planful Problem Solving . emecahan masalah yang Lalu 5 aspek Emotion Focused Coping (Koping Berfokus pada Emos. yaitu Distancing . enjaga jara. Escape avoidance . enghindarkan dir. Accepting Responsibility . enekanan pada tanggung jawa. Positive Reappraisal . emberi penilaian positi. , dan Self-control . engendalian dir. Stres yang terjadi di rumah tangga dapat dikelola dengan baik dengan kemampuan manajemen stres yang Tekanan, konflik dan permasalahan yang diatasi dengan tepat menjadikan keluarga memperoleh ketahanan keluarga sehingga penyelesaian tersebut dapat menjaga keluarga dari konflik eksternal maupun internal lainnya. Berdasarkan pernyataan di atas, maka bisa dirumuskan permasalahan penelitian ini yakni apakah terdapat hubungan antara manajemen stres dan ketahanan keluarga di Yogyakarta. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik sampling berupa accidental sampling yang telah dilakukan pada bulan Agustus 2022. Penelitian ini relevan dengan penelitian yang berjudul AuPengaruh Manajemen Stres Terhadap Ketahanan KeluargaAy dan menjadi referensi peneliti. Karya tersebut memiliki perbedaan dengan penelitian yang peneliti lakukan. Perbedaan tersebut antara lain seperti usia, lokasi dan alat ukur yang digunakan oleh peneliti sebelumnya. Kemudian metode penelitian ini yakni menggunakan metode ISSN: 2964-075X (Prin. , 2962-7281 (On Lin. Identifikasi Etnomatematika pada Motif Kain Tenun Sumba Barat Daya kuantitatif dengan skala ketahanan keluarga dari Dewi Utari berdasarkan Walsh Family Resilience Questionaire yang sudah diadaptasi berjumlah 32 item dan skala manajemen stres dibuat oleh Resti Rohim berdasarkan dari teori Robbins . yang sudah di try out berjumlah 12 item. Kemudian peneliti menggunakan kedua skala tersebut dan masing-masing skala tersebut merupakan pernyataan dengan empat kategori jawaban. , . Populasi pada penelitian ini adalah suami dan istri dengan rentang umur 21-60 tahun yang berdomisili di Yogyakarta. Data primer yang dikumpulkan melalui kuesioner online atau google form dan sebelumnya telah diberi informed consent dan terdapat karakteristik subjek seperti umur, domisili, usia pernikahan dan agama. Kuesioner yang disebar memiliki empat kategori pertanyaan yakni pilihan jawaban Sangat Sesuai (SS). Sesuai (S). Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS) dengan total 44 item. Aspek ketahanan keluarga disebutkan dalam teori Froma Walsh yakni . sistem kepercayaan. situasi sulit, memiliki pandangan positif, serta memiliki tujuan transendensi dan spiritual, . proses komunikasi. kejelasan informasi, keterbukaan, dan pemecahan masalah yang kolaboratif, dan proses organisasi, fleksibilitas, keterhubungan, dan sumber daya sosial dan ekonomi, untuk memperoleh ketahanan keluarga. Sedangkan, faktor-faktor ketahanan keluarga terdapat pada penjelasan Benzies & Mychasiuk . yakni locus of control, regulasi emosi, sistem kepercayaan, self eficacy, kemampuan coping, pendidikan, keterampilan dan pelatihan, kesehatan, temperamen, dan jenis kelamin. Faktor yang digunakan oleh peneliti yakni yakni kemampuan coping. Sedangkan manajemen stres terdapat aspek-aspek yang digunakan dalam penelitian ini dalam teori Robbins ada 4 aspek yakni identifikasi gejala stres, analisa gejala stres, strategi terhindar dari stres, dan coping stress. HASIL DAN PEMBAHASAN Lokasi penelitian ini berada di Yogyakarta dengan total penduduk yang berstatus menikah sekitar 253 jiwa dan terdapat 111 responden ikut berpartisipasi dalam penelitian ini. Responden laki-laki berjumlah 43 orang dan 68 perempuan. Usia responden paling banyak pada rentang usia 26-30 tahun yakni berjumlah 25 orang. Mayoritas responden beragama Islam yakni berjumlah 88 orang. Usia pernikahan 1-5 tahun paling banyak yakni 39 orang, serta asal responden paling banyak berdomisili Kota Yogyakarta yakni berjumlah 37 orang. Tabel 1. Ketahanan keluarga berdasarkan karakteristik demografi Kategori Demografi Jumlah Subjek Presentase (%) Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia 10,8% 22,5% 7,2% 7,2% 15,3% Status Pernikahan Menikah Agama Islam Kristen Katolik Hindu Budha Usia Pernikahan 1-5 tahun 6-10 tahun 11-15 tahun 16-20 tahun 21-25 tahun 26-30 tahun 31-35 tahun 36-40 tahun Vol 3. No 2. Desember 2024 Masyitoh Inayati. Ismatul Izzah Asal Kabupaten Kota Yogyakarta Bantul Sleman Kulon Progo Gunung Kidul Penelitian ini berfokus pada kriteria demografi keluarga dengan usia pernikahan khususnya pada rentang 1-10 tahun awal pernikahan. Menurut Doss dkk bahwa pasangan dengan usia pernikahan lima tahun akan mengalami berbagai masalah yang timbul dan bagaimana cara pasangan memanfaatkan konflik sebagai sarana untuk memperkuat ketahanan keluarga. Sedangkan pada 6-10 tahun pernikahan cenderung mendapati masalah dalam perbedaan pengasuhan anak, perubahan sikap positif yang hilang setelah lama menikah dan perubahan pola komunikasi antar pasangan . Konflik yang dialami keluarga tentunya di awal usia pernikahan membutuhkan upaya seperti coping dalam upaya menurunkan stres dan masalah pekerjaan dan keluarga dapat diatasi dengan komitmen. Strategi stres juga mampu menurunkan stres dan meningkatkan kualitas pernikahan . , . Kategorisasi subjek penelitian terbagi beberapa kategori berdasarkan kelompok berjenjang. Subjek penelitian ini membagi 3 kategori yakni rendah . , sedang . , dan tinggi . Pada variabel manajemen stres terdapat 12 aitem dengan skor min 12, mean 36, dan max 60 sedangkan pada variabel ketahanan keluarga terdapat 32 aitem dengan skor min 32, mean 96, dan max 160. Berikut tabel deskripsi data statistik skor skala manajemen stres dan ketahanan keluarga yang diperoleh dengan menggunakan aplikasi SPSS 23. 0 for windows. Tabel 2. Deskripsi data statistik skor skala manajemen stres dan ketahanan keluarga Skor Hipotetik Skor Empirik Variabel Jumlah aitem Max Min Mean SD Max Min Mean SD Manajemen Stres Ketahanan Keluarga 21,3 128 Keterangan: Min= Minimal. Mean= Rata-rata. Max= Maximal. SD= Standar Deviasi Selanjutnya, kategorisasi variabel manajemen stres subjek dalam penelitian ini dalam kategori sedang atau setara dengan 100% artinya semua subjek memiliki tingkat manajemen stres yang sedang sehingga perlu meningkatkan kemampuan manajemen stres ketingkat yang lebih tinggi. Berikut tabel kategorisasi skor manajemen stres yang diperoleh. Kategori Tinggi Sedang Rendah Tabel 3. Kategorisasi skor manajemen stres Rumus Jumlah Subjek X > 44 28 < X O 44 X O 28 Jumlah Presentase (%) Sedangkan kategorisasi variabel ketahanan keluarga pada kategori sedang berjumlah 96 subjek atau setara 86,5% dan terdapat 15 subjek atau setara dengan 13,5% pada kategori tinggi. Berikut tabel kategorisasi skor ketahanan keluarga yang diperoleh. Tabel 4. kategorisasi skor ketahanan keluarga Kategori Tinggi Sedang Rendah Rumus X > 117,3 74,7 < X O 117,3 X O 74,7 Jumlah Jumlah Subjek Presentase (%) 13,5% 86,5% Lalu, hasil penelitian ini tentang manajemen stres dan ketahanan keluarga memiliki korelasi positif berdasarkan hasil hipotesis yang sudah dilakukan dengan menggunakan analisis Spearman Rho. Hasil hipotesis dinyatakan diterima karena memiliki nilai signifikansi kurang dari 0,05 yaitu p = 0,000. Hasil sumbangan efektif yang diperoleh sebesar 46,9% artinya manajemen stres sebagai variabel bebas memiliki hubungan yang cukup ISSN: 2964-075X (Prin. , 2962-7281 (On Lin. Identifikasi Etnomatematika pada Motif Kain Tenun Sumba Barat Daya terhadap ketahanan keluarga sebagai variabel tergantung. Berikut tabel hasil uji hipotesis dan uji sumbangan Variabel Manajemen Stres dengan Ketahanan Keluarga Variabel Manajemen Stres dengan Ketahanan Keluarga Tabel 5. Hasil uji hipotesis dan uji sumbangan efektif Nonparametric Sig. Keterangan Correlation p < 0,05 0,709 0,000 Diterima Adjusted R Square Adjusted R Square x Sumbangan Efektif 0,469 x 100% 46,9% Penelitian ini serupa dengan penelitian Diah Ismiati, dkk yang kemudian peneliti replikasi. Penjelasannya menyatakan bahwa terdapat hubungan positif dan memiliki pengaruh sebesar 44% dengan selisih sedikit dengan hasil sumbangsih dalam penelitian ini yang artinya semakin baik manajemen stres yang dilakukan maka semakin baik pula ketahanan keluarga yang dimiliki tiap anggota . Mendukung penjelasan di atas bahwa kemampuan koping seperti manajemen stres diperlukan dalam menyikapi setiap masalah mempengaruhi tingkat tinggi rendahnya stres yang dialami keluarga. Konsep stres keluarga sendiri dijelaskan melalui model stress ABCX oleh Hill yang mana X merupakan krisis keluarga sementara tiga faktor yang memengaruhi krisis keluarga (X) yakni A yang mana merupakan penyebab stres atau kesulitan. B merupakan kemampuan keluarga untuk manajemen stres, dan C merupakan definisi keluarga mengenai stres. Stres perlu segera diatasi agar tidak berkepanjangan dan berdampak negatif khususnya pada masa krisis yang ternyata perlu solusi dalam mengatasinya. Seperti kegiatan manajemen stres dilakukan kepada guru TK dan berhasil mengatasi stres dengan baik dan dapat menjaga psikologis/ perkembangan mental anak dan meningkatkan hasil belajar siswa . Sebelum melakukan manajemen stres menurut Robbins perlu dilakukan seperti identifikasi gejala stres, analisa gejala stres, strategi terhindar dari stres, dan coping stres. Mengidentifikasi sumber stres dapat membantu seseorang mengambil tindakan aktif-positif dan percaya akan kemampuannya . Ketegangan atau stres dalam keluarga yang muncul diyakini berasal dari mindset kemudian memberikan dampak negatif lainnya seperti melemahnya kesehatan dan kesejahteraannya . Selain itu, ketahanan keluarga yakni tentang bagaimana keluarga mampu beradaptasi dengan stres dan kemudian bangkit dari kesulitan selaras dengan penelitian yang menyebutkan bahwa stressor pada single career lebih besar dibandingkan single career yang hanya ayahnya bekerja . Selain itu, ketahanan keluarga diartikan sebagai kemampuan untuk bangkit kembali dari keterpurukan dan menjadi lebih kuat serta berkembang setelah terjadi masa krisis atau kesulitan dan keluarga yang mengalami konflik rentan mengalami stres. Hal ini selaras dengan American Psychological Association (APA) dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) bahwa ketahanan keluarga sebagai proses adaptasi yang baik dalam mengatasi kesulitan, trauma, perubahan, tragedi, ancaman, ketidakpastian dan stres jangka panjang . Menurut Surwanto & Widyawati menjelaskan bahwa faktor pembentuk ketahanan keluarga adalah penerimaan, pengelolaan, dan dukungan. Menerima artinya memahami situasi keluarga, menerima keterbatasan anggota keluarga, dan mengoptimalkan usaha dalam menghadapi tantangan kehidupan. Pengelolaan artinya memiliki pola interaksi dalam hal praktis, emosional, informasi dan finansial pada keluarga. Sedangkan dukungan artinya toleransi terhadap perasaan negatif maupun positif sehingga terjadi kehangatan, kegembiraan, suasana optimis dan rasa nyaman dalam berinteraksi satu sama lain . Sebagaimana jalannya dengan pemikiran Walsh bahwa kemampuan bertahan dan pulih dari krisis maupun kesulitan berjangka panjang adalah definisi dari ketahanan keluarga. Ada tiga komponen yang disebutkan yakni family belief system . emampuan memaknai situasi yang tidak menyenangkan pada keluarg. , organizational patterns . emampuan keluarga yang berfungsi baik dengan saling mendukun. , dan communication process . emampuan dalam hal mengkomunikasikan masalah terkait mengatur dan menyelesaikan konflik antar anggota keluarg. Beberapa penjelasan di atas peneliti menyimpulkan bahwa terdapat upaya untuk meningkatkan manajemen stres seperti melakukan sosialisasi atau eksperimen seperti peningkatan pengetahuan terhadap stres . , penyuluhan dan demonstrasi pengelolaan stres dengan relaksasi dan afirmasi positif . , dan pelatihan teknik manajemen stres . Kemudian untuk mendukung pembangunan kesejahteraan keluarga dalam hal ketahanan keluarga bisa dengan metode konseling medel ABC atau Adversity Belief Consequece yang merupakan konsep inti dari Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT). Selama proses REBT dengan ABC, terapis akan membantu klien untuk mengidentifikasi kesulitan . , memfokuskan keyakinan . atau pada Vol 3. No 2. Desember 2024 Masyitoh Inayati. Ismatul Izzah bagaimana cara mengatasi masalah . roblem solvin. yang ada, dan yang terakhir adalah mengidentifikasi konsekuensi . dari masing-masing pilihan yang ada . , serta meningkatkan dengan mencari dukungan emosi, memelihara komunikasi maupun kegiatan rutin . KESIMPULAN Hasil penelitian di atas disimpulkan bahwa hubungan antara manajemen stres dengan ketahanan keluarga memiliki korelasi positif. Pernyataan tersebut dapat dilihat dari pengujian hipotesis Spearman Rho sebesar 0,000 . <0,. artinya semakin tinggi manajemen stres seseorang, maka ketahanan keluarga semakin tinggi. Sebaliknya, semakin rendah tingkat manajemen stres seseorang, maka ketahanan keluarga juga semakin rendah. Hubungan manajemen stres dan ketahanan keluarga di Yogyakarta memiliki sumbangan efektif sebesar 46,9% dan 53,1% berhubungan dengan variabel lain. Keluarga yang memiliki ketahanan keluarga yang baik tidak hanya disebabkan kemampuannya dalam hal manajemen stres, tetapi terdapat faktor dan variabel lain yan mendukung kemampuan tersebut. Oleh karena itu, peneliti menyarankan bahwa peneliti akademik selanjutnya mampu menganalisis lebih mendalam faktor maupun faktor psikologis lainnya sehingga memperoleh faktor maupun variabel yang sangat berhubungan. Begitupun peneliti non akademik dapat memberikan kolaborasi atau variabel lain sehingga bisa mengembangkan penelitian ini lebih baik lagi. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan mixed method dapat digunakan untuk mengoptimalkan penelitian terkait ketahanan keluarga yang masih relevan diberbagai kondisi. Tujuan dari saran ini adalah untuk menggali lebih dalam mengenai manajemen stres dan ketahanan keluarga serta dalam upaya memberikan sumbangsih penelitian agar semakin berkembang. Saran penelitian selanjutnya ditujukan pada perusahaan dalam rangka mengembangkan kemampuan sumber daya manusia karena dengan meningkatkan manajemen stres yang baik maka performa kerja semakin Sedangkan upaya untuk meningkatkan ketahanan keluarga, perusahaan perlu memberikan kesejahteraan pada karyawan khususnya yang sudah berkeluarga karena pemicu konflik paling sering disebabkan oleh faktor ekonomi. Hal yang paling sesuai dilakukan perusahaan untuk menigkatkan kedua hal tersebut ialah dengan mengadakan layanan konseling, memberikan fasilitas untuk bersantai atau bermain, memberikan layanan kesehatan atau asuransi, menyediakan ruangan khusus ibu menyusui, dan mengadakan program spiritual. DAFTAR PUSTAKA