Nasuwakes: Jurnal Ilmiah Kesehatan P-ISSN: 1978-631-X. E-ISSN: 2655-6723 Vol: 14. No: 2. Nopember 2021 http://ejournal. id/index. php/jn Prevalensi dan Determinan Kejadian Sindrome Metabolik pada Karyawan/ti RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Prevalence and Determinants of The Incidence of Metabolic Syndrome for Employees at RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Fithriany1,*. Nurjannah2. Nizam Ismail2 Abstrak: Persentase penderita sindrom metabolik cukup tinggi Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui prevalensi dan determinan kejadian sindrom metabolik. Penelitian ini merupakan penelitian obsevasional dengan desain penelitian cross-sectional dengan 310 responden di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Analisa data dilakukan dengan menggunakan regresi logistik. Hasil uji analisis bivariat didapatkan ada hubungan antara umur (P-value 0,. , stress kerja sedang (P-value 0,036 ),stress kerja berat (P-value 0,. , beban kerja (P-value 0,. , serta gaya hidup (P-value 0,. dengan kejadian Sindrome Metabolik Hasil analisis multivariat variabel yang dominan kejadian Sindrome Metabolik karyawan/ti RSUDZA adalah umur (P-value 0,. dengan OR 1,22 ,stres kerja sedang (P-value 0,. dengan OR 9,72 dan stres kerja berat (P-value 0,. dengan OR 25,33 menunjukan bahwa responden yang mengalami stress kerja sedang memiliki resiko 9,72 kali sedangkan responden stress kerja berat memiliki resiko 25,33 kali mengalami sindrome metabolik dibandingkan responden yang tidak mengalami stress kerja pada karyawan/ti RSUDZA Kata Kunci: prevalensi. sindrom metabolik Abstract: The high percentage of sufferers becomes a public health problem. The aim of the researcher this study was to the prevalence and determinants of the incidence of metabolic syndrome. This study is an observational with a crosectional design with 310 respondents at RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. The results of the bivariate analysis test showed that there was a relationship between age (P-value 0. , moderate & severed from working (P-value 036 & 0. , workload (P-value 0. , and lifestyle (P-value 0. with the incidence of Metabolic Syndrome. The results of multi variate analysis for all research variables showed that age (P-value 0. OR 1. 22, moderate (P-value 0,. OR 9,72 and severe work stress (P-value 0,. OR 25,33, were the most dominant causes of the occurrence of Metabolic Syndrome in RSUDZA employees Keywords: prevalence. metabolic syndrome hipertrigliseridemia . hipo HiDL . PENDAHULUAN International Diabetes Federation, menyatakan bahwa sindrom metabolik hipertensi . Penelitian adalah sekumpulan faktor risiko yang sering Zahtamal et al2, menyatakan bahwa 24,4% muncul bersamaan antara kenaikan kadar penyakit di kalangan karyawan/ pekerja gula darah, abnormalitas profil lemak, terkait sindrom metabolik. Salah satu faktor tekanan darah tinggi, dan obesitas abdomen. Kriteria Sindrome Metabolik menurut Obesitas timbul karena stres kerja akibat NCEPAeATP beban kerja yang semakin meningkat mengalami 3 dari 5 kriteria yang disepakati, sehingga mengubah pola makan menjadi yaitu: . obesitas sentral . ingkar perut pria tidak sehat, kurangnya melakukan aktifitas >102 cm atau wanita > 88 c. , . fisik/olahraga, i: A1 Corresponding Author: Email fithriany66@gmail. Prodi S2 Magister Kesehatan Masyarakat. Pascasarjana. Universitas Muhammadiyah Aceh. Banda Aceh 2 Prodi S2 Magister Kesehatan Masyarakat. Pascasarjana. Universitas Muhammadiyah Aceh. Banda Aceh Copyright A 2021 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Fithriany. Nurjannah. Nizam Ismail Nasuwakes: Jurnal Ilmiah Kesehatan. Vol: 14. No: 2. Nopember 2021 . rangkaian pertanyaan terkait: Identitas sehingga dapat menimbulkan berbagai responden. Stress kerja. Beban Kerja. Gaya masalah kelainan metabolisme seperti Hidup dan Sindrome Metabolik. Analisa kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, data dilakukan secara univariate, bivariate diabetes, resistensi insulin, obesitas, dan dan multivariate dengan model Logistic Faktor faktor yang dapat mempengaruhi HASIL DAN PEMBAHASAN sindrom metabolik yaitu faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat Faktor yang tidak dapat dimodifikasi adalah: umur, jenis kelamin, genetik & ras, sedangkan faktor yang dapat lingkar pinggang, aktivitas fisik, asupan gizi, kebiasaan merokok, minum alkohol. Penelitian tentang sindrome metabolik di Provinsi Aceh bahkan di Indonesia yang Prevalensi Determinan Sindrom Metabolik karyawan/ti masih sangat sedikit dilakukan. Penelitian ini menganalisis tentang stress kerja, beban kerja serta gaya hidup karyawan/ti RSUDZA Banda Aceh METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain penelitian cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan/ti RSUDZA dari berbagai profesi dengan jumlah 310 Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner yang disebarkan melalui google form. mengalami sindrom metabolik sebesar 5,16 % . Rata rata umur responden yang mengalami sindrom metabolik 55 tahun lebih tinggi dibandingkan rata-rata umur yang tidak mengalami sindrome metabolic 40 tahun. Responden laki-laki sosial ekonomi, psikologi/ stress3. Instrumen Hasil penelitian yang terdapat di tabel 1 Prevalensi dan Determinan Kejadian Sindrome Metabolik pada Karyawan/ti RSUD A. sebanyak 38,39% . Responden yang berprofesi sebagai perawat 37,74 % . lebih banyak dibandingkan distribusi lemak tubuh akan menyebabkan Nakes lain 25,48% . Responden terjadinya peningkatan akumulasi lemak yang bekerja dirawat Inap sebanyak 40% sentral di abdomen yang mengakibatkan . Responden yang mengalami obesitas abdominal atau obesitas sentral stres kerja sedang 53,87% . lebih tinggi yang merupakan faktor utama terjadinya dibandingkan stres kerja ringan 37,74% resiko sindrom metabolik4. dan stres kerja berat 8,39% . Di Indonesia, pada kelompok lanjut Responden yang memiliki beban usia, prevalensi sindrom metabolik sebesar kerja ringan sebanyak 57,74% . 14,9%5. Pada penelitian ini prevalensi Responden yang memiliki gaya hidup sehat sebanyak 60,32% . RSUDZA karyawan/ti Berdasarkan hasil analisis multivariat prevalensi sindrom metabolik sebesar pada tabel 2 menunjukkan bahwa beberapa 5,16%. Rata rata umur yang mengalami variable berhubungan dengan Sindrom sindrom metabolik adalah 55 tahun dan rata- Metabolik, yaitu Umur. Stres Kerja. Beban rata umur responden yang tidak mengalami Kerja dan dan Gaya Hidup. Sedangkan sindrome metabolic adalah 40 tahun. Jenis kelamin, profesi dan unit kerja tidak Selain mempengaruhi sindrom metabolik secara mempengaruhi Sindrome Metabolik pada Umur berhubungan dengan karyawan/ti RSUDZA. Pada analisis data Sindrom Metabolik dengan nilai p-Value 0,000 1,22 menunjukkan bahwa setiap bertambahnya usia akan meningkatkan sindrom metabolik 22 kali. Seiring dengan bertambahnya usia perubahan pada berbagai sistem dalam tubuh sehingga terjadi penurunan berbagai Perubahan yang terjadi dapat berupa peningkatan massa lemak, penurunan massa bebas lemak serta penurunan massa tulang Fithriany. Nurjannah. Nizam Ismail Nasuwakes: Jurnal Ilmiah Kesehatan. Vol: 14. No: 2. Nopember 2021 . ini didapatkan hasil stres kerja dengan Paparan stres kerja dalam waktu lama tingkatan sedang nilai p-value 0. 036 dengan . OR 8. 98, sedangkan stres kerja dengan metabolik lebih dari dua kali . tingkatan berat nilai p-value 0. 021 dengan Penelitian Kivimaki dkk9, menyatakan OR 15,13, hal ini menunjukan responden bahwa semakin lama dan kuat paparan stres yang mengalami stress kerja sedang maka risiko terjadinya sindrom metabolik semakin meningkat. metabolik sebesar 8,98 kali sedangkan responden yang mengalami stress kerja berat memiliki resiko mengalami sindrom metabolik sebesar 15,13 kali dibandingkan dengan stress kerja ringan Beban Sindrome Metabolik pada karyawan/ti RSUDZA. Hasil analisis data beban kerja nilai p-value 0. 036, sedangkan OR 3,19 menunjukan responden yang mengalami National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) menyampaikan mengalami sindrom metabolik sebesar 3,19 sekitar 40% pekerja menyatakan pekerjaan kali dibandingkan dengan beban kerja mereka penuh tekanan pada tingkat yang ekstrim serta laporan dari Attitude in American Workplace VII menyatakan 80% pekerja merasakan stres di pekerjaan mereka dan separuh membutuhkan bantuan untuk mengatasinya6. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyatakan 50,9% perawat di Indonesia dibeberapa provinsi mengalami stres kerja yang antara lain disebabkan oleh beban kerja yang Berdasarkan hasil penelitian dilakukan oleh Chandola, dkk, tentang hubungan stres kerja dan sindrom metabolik 308 orang subyek yang diikuti selama 14 tahun, didapatkan adanya hubungan stres kerja dan risiko sindrom Stres kerja merupakan faktor risiko penting terjadinya sindrom metabolik. Beban kerja merupakan volume dari hasil kerja atau catatan tentang hasil pekerjaan yang dapat menunjukan volume yang dihasilkan oleh sejumlah pegawai dalam suatu bagian tertentu. Beban kerja dapat dilihat dari sudut pandang objektif dan Secara objektif merupakan keseluruhan waktu yang dipakai atau jumlah aktivitas yang dilakukan. Sedangkan secara subjektif merupakan ukuran yang dipakai seseorang terhadap pernyataan tentang perasaan kelebihan beban kerja, ukuran dari tekanan pekerjaan dan kepuasan Beban kerja memiliki pembebanan yang berbeda beda pada setiap individu, pembebanan yang terlalu tinggi akan menggunakan energi yang berlebihan sehingga terjadi overstress, sebaliknya Prevalensi dan Determinan Kejadian Sindrome Metabolik pada Karyawan/ti RSUD A. memungkinkan rasa bosan dan kejenuhan atau understress. Oleh karena itu perlu Pola makan dengan gizi seimbang harus memenuhi kualitas maupun kuantitas dan terdiri dari sumber karbohidrat, sumber diupayakan tingkat intensitas pembebanan yang optimum10. protein hewani dan nabati, lemak serta sumber vitamin dan mineral. Berdasarkan Ada dua faktor yang mempengaruhi Riset Kesehatan Dasar beban kerja yaitu faktor eksternal dan faktor Faktor eksternal merupakan beban mengkonsumsi buah dan sayuran. Saat ini aktivitas fisik karyawan di kantor semakin yang berasal dari luar tubuh pekerja berupa: tugas yang bersifat fisik maupun mental, organisasi kerja serta lingkungan kerja sedangkan faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam tubuh akibat dari reaksi beban kerja eksternal yang berpontensi sebagai stresor. Beban kerja sehari-hari dan tugas kerja malam berkontribusi pada peningkatan risiko sindrom metabolik, yakni kumpulan gejala yang meliputi penumpukan lemak perut, tekanan darah tinggi, resistensi insulin, diabetes tipe 2 dan stroke11. Faktor yang lain yang mempengaruhi Sindrome Metabolik pada karyawan/ti RSUDZA adalah Gaya Hidup. Hasil analisis data Gaya Hidup nilai p value 0. sedangkan OR 3,57 menunjukan responden yang gaya hidup tidak sehat memiliki resiko mengalami sindrom metabolik sebesar 3,57 kali dibandingkan dengan responden yang bergaya hidup sehat. Gaya hidup sehat merupakan gaya hidup dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi kesehatan seseorang, berupa makanan dengan gizi seimbang serta berolahraga secara teratur, tidak merokok dan minum minuman keras3. 93,6% (Riskesda. 12, sedikit hanya 6,5% orang dewasa yang melakukan aktivitas fisik sambil bekerja, dan hanya 20% pekerjaan yang membutuhkan aktivitas fisik. Beberapa faktor perilaku pekerja dalam berkontribusi terhadap timbulnya sindrom Salah satunya adalah faktor pekerjaan yang memicu pekerja cenderung untuk berperilaku sedenteri . idak banyak aktivitas fisi. , pola makan tidak sehat dengan asupan kalori terlalu banyak, perilaku merokok, stres, dan lain-lain. Insiden berhubungan dengan pergeseran gaya hidup akibat pengaruh globalisasi. Gaya hidup masyarakat berubah menuju masyarakat modern dengan pola konsumsi makanan tradisional beralih ke makanan instan13. KESIMPULAN Prevalensi karyawan/ti RSUDZA sebesar 5,16% lebih rendah dibandingkan prevalensi sindroma metabolik dunia sebesar 20Ae25%. Serta prevalensi sindrom metabolik dikalangan karyawan/ pekerja 21,58%. Fithriany. Nurjannah. Nizam Ismail Nasuwakes: Jurnal Ilmiah Kesehatan. Vol: 14. No: 2. Nopember 2021 . Determinan kejadian sindrom metabolik karyawan/ti RSUDZA yang mempengaruhi secara signifikan adalah faktor: umur , stres kerja, beban kerja serta gaya hidup Variabel Jenis kelamin. Profesi. Unit metabolik secara signifikan. UCAPAN TERIMAKASIH