Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. 7 No. Juni 2025 http://jurnal. id/index. php/jurnalpepadu/index PENGUATAN NILAI-NILAI LUHUR KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BUGIS MELALUI PENDEKATAN BUTTERFLY EFFECT DAN RIPPLE EFFECT UNTUK PEMBENTUKAN KARAKTER GENERASI Z Sumartan*. Fakhruddin Kurnia. Suriadi. Ari Ayu. Riska Arnas. Andi Sri Kumala Putri P. Auliyah Nurwafiyyah. Jumriah Basri. Muhammad G. Try Heady S. Hamdi M. Daming Universitas Ichsan Sidenreng Rappang. Pangkajene Sidenreng. Indonesia Jl. Jend. Sudirman No. Pangkajene Sidrap Ae Sulawesi Selatan *Korespondensi : martanm50@gmail. Article history : Received : 2 Desember 2024 Revised : 15 Maret 2025 Published : 30 Juni 2025 DOI : https://doi. org/10. 29303/pepadu. ABSTRACT Globalization has had a significant impact on people's lifestyles, including diminishing the younger generationAos appreciation for the noble cultural values of local traditions, such as the Bugis culture in Sidenreng Rappang Regency. This community service program aims to identify and strengthen the noble values of the Bugis local wisdom through the Butterfly Effect and Ripple Effect approaches in shaping the character of Generation Z. Cultural values such as honesty . empu'), intelligence . , propriety . , resilience . , effort . , and the principle of shame . iri') serve as the main foundation implemented in culturallybased educational activities. The Butterfly Effect approach involves key individuals as cultural ambassadors to spread these values through small actions that create a significant impact, while the Ripple Effect spreads positive influence continuously through community-based programs. Through intergenerational mentoring programs, folk tale competitions, traditional art performances, and culture-based skills training, the youth of Sidenreng Rappang are encouraged to apply local values in their daily lives. The results of this community service show that the application of these two approaches can enhance pride in local culture and strengthen the character of Generation Z, making them more resilient in facing the challenges of the times without losing their cultural roots. Keyword: Bugis Culture. Butterfly Effect. Ripple Effect. Character Formation. Generation Z ABSTRAK Globalisasi telah membawa dampak besar terhadap pola hidup masyarakat, termasuk melemahkan penghargaan generasi muda terhadap nilai-nilai luhur budaya lokal seperti budaya Bugis di Kabupaten Sidenreng Rappang. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menguatkan nilai-nilai luhur kearifan lokal masyarakat Bugis melalui pendekatan Butterfly Effect dan Ripple Effect dalam pembentukan karakter Generasi Z. Nilainilai budaya seperti kejujuran . empu'), kecendekiaan . , kepatutan . , keteguhan . , usaha . , dan prinsip malu . iri') menjadi dasar utama yang diimplementasikan dalam kegiatan pendidikan berbasis budaya. Pendekatan Butterfly Effect melibatkan individu-individu kunci sebagai duta budaya untuk menyebarkan nilai-nilai ini melalui tindakan kecil yang berdampak besar, sementara Ripple Effect menyebarluaskan pengaruh positif secara berkelanjutan melalui program-program berbasis komunitas. Melalui program mentoring antar generasi, lomba cerita rakyat, pagelaran seni tradisional, serta pelatihan keterampilan berbasis budaya, generasi muda di Kabupaten Sidenreng Rappang didorong untuk menerapkan nilai-nilai lokal dalam kehidupan sehari-hari. Hasil dari pengabdian ini menunjukkan bahwa penerapan kedua pendekatan tersebut dapat meningkatkan rasa kebanggaan Jurnal Pepadu http://jurnal. id/index. php/jurnalpepadu/index e-ISSN: 2715-9574 Vol. 7 No. Juni 2025 terhadap budaya lokal serta membentuk karakter yang lebih kuat pada Generasi Z, menjadikan mereka lebih tangguh dalam menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan akar budaya mereka. Kata Kunci: Budaya Bugis. Butterfly Effect. Ripple Effect. Pembentukan Karakter. Generasi Z PENDAHULUAN Globalisasi telah membawa berbagai perubahan dalam pola hidup masyarakat, terutama di bidang budaya (Siregar et al. , 2024. Bangun & Kasim, 2. Di satu sisi, globalisasi memperluas akses terhadap informasi, teknologi, dan budaya global yang dapat memperkaya wawasan generasi muda. Namun, di sisi lain, globalisasi juga memiliki dampak negatif, salah satunya adalah penurunan penghargaan terhadap budaya lokal (Jadidah et al. , 2. Fenomena ini terlihat jelas di Kabupaten Sidenreng Rappang. Sulawesi Selatan, di mana mayoritas penduduknya adalah suku Bugis. Budaya Bugis, yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat melalui nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi, kini mulai terancam oleh pengaruh budaya asing dan gaya hidup modern. Nilai-nilai budaya Bugis, seperti lempu . , amaccang . , assitinajang . , agettengeng . , reso . , dan siri' . rinsip mal. , memiliki peran penting dalam membentuk karakter individu dan kolektif masyarakat (Sikki et , 1. Menurut Rahim . , nilai-nilai ini tidak hanya menjadi pedoman moral, tetapi juga berfungsi sebagai alat pengikat solidaritas sosial, membangun rasa tanggung jawab, serta memotivasi masyarakat untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks Generasi Z, nilai-nilai tersebut dapat menjadi landasan kuat untuk membentuk karakter yang adaptif, berintegritas, dan memiliki daya saing global. Namun, kenyataannya, nilai-nilai tersebut kini kurang dipahami dan dihargai oleh generasi muda yang lebih banyak terpapar pada budaya digital dan konsumsi informasi instan. Menurut Yasil . dan Sikki et al. , nilai-nilai budaya tidak hanya berfungsi sebagai landasan dan penopang bagi manusia Indonesia yang lahir dan tumbuh di lingkungan lokal, tetapi juga berperan dalam membimbing mereka untuk mempertahankan kehidupan dan eksistensi di dunia. Selain itu. Praditha dan Wibisana . dan Irmania. Trisiana, dan Salsabila . , memandang nilai-nilai budaya ini juga berfungsi sebagai penyaring terhadap berbagai pengaruh budaya asing yang tidak selaras dengan kepribadian bangsa. Meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya nilai budaya lokal menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan (Hamisa et al. , 2. Pendekatan konvensional dalam memperkenalkan budaya lokal sering kali tidak cukup efektif dalam menarik minat Generasi Z yang cenderung lebih responsif terhadap metode pembelajaran interaktif dan partisipatif (Mubah. Hibatullah, 2. Dalam menghadapi dinamika era globalisasi yang serba cepat, dibutuhkan pendekatan baru yang mampu menjawab tantangan sekaligus sesuai dengan karakteristik generasi masa kini, khususnya Generasi Z. Salah satu pendekatan yang dinilai relevan dan strategis adalah penerapan prinsip butterfly effect dan ripple effect. Prinsip butterfly effect menekankan bahwa tindakan kecil yang dilakukan oleh individu dapat menghasilkan dampak besar dalam jangka panjang (Kolitz et al. , 2019. Alexandra, 2. Konsep ini pertama kali dikenalkan oleh Edward Lorenz, seorang matematikawan dan ahli meteorologi pada tahun 1960-an, untuk menggambarkan bagaimana kepakan sayap seekor kupu-kupu di satu belahan dunia dapat memicu serangkaian peristiwa yang berujung pada terbentuknya badai di belahan dunia lain. Metafora ini menggambarkan bahwa perubahan kecil dalam satu bagian sistem dapat tumbuh dan memengaruhi keseluruhan sistem secara signifikan seiring waktu (Vernon, 2. Sementara itu, ripple effect menggambarkan bagaimana sebuah perubahan dapat menyebar secara bertahap dan luas ke lingkungan sosial, layaknya riak air yang menjalar dari pusat saat sebuah batu dijatuhkan ke permukaan kolam (Cariton & Steven, 2016. Naidu et al. Pendekatan ini menggarisbawahi pentingnya efek berantai dari tindakan positif yang Jurnal Pepadu http://jurnal. id/index. php/jurnalpepadu/index e-ISSN: 2715-9574 Vol. 7 No. Juni 2025 dilakukan oleh individu terhadap komunitas di sekitarnya. Dengan mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut, dapat dibangun strategi yang inovatif dan berkelanjutan dalam pelestarian dan penguatan nilai-nilai luhur budaya Bugis. Dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan oleh individu yang sadar akan pentingnya budaya, dampaknya diharapkan menjalar ke lingkup yang lebih luas, membentuk kesadaran kolektif dalam masyarakat, dan secara khusus memperkuat karakter generasi muda. Adapun tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk menguatkan kembali nilai-nilai utama budaya Bugis sebagai fondasi dalam pembentukan karakter generasi Z. Melalui pendekatan butterfly effect dan ripple effect, diharapkan akan muncul agen-agen perubahan, terutama dari kalangan muda yang inspiratif, yang mampu menularkan nilai-nilai tersebut ke komunitasnya. Program ini juga dirancang untuk membantu generasi muda agar mampu memahami, mengapresiasi, serta mengimplementasikan nilai-nilai budaya Bugis secara kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, nilai-nilai luhur seperti lempu . , amaccang . , assitinajang . , agettengeng . , reso . , dan siriAo . asa malu yang bermartaba. tidak hanya akan terjaga keberadaannya, tetapi juga bertransformasi menjadi kekuatan moral dan sosial dalam membentuk identitas dan karakter generasi muda Bugis yang tangguh di tengah arus globalisasi. METODE PELAKSANAAN KEGIATAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan sistematis dan partisipatif (Afandi et al. , 2022. Sumartan. Wahyuddin, & Suriadi, 2. melalui lima tahapan utama: identifikasi nilai-nilai budaya, intervensi pendidikan, penerapan pendekatan butterfly effect dan ripple effect, serta monitoring dan evaluasi. Nilai-nilai luhur budaya Bugis seperti lempu, amaccang, assitinajang, agettengeng, reso, dan siriAo diidentifikasi melalui studi literatur dan diskusi kelompok terfokus (FGD) (Sugiyono, 2021. Moleong, 2. dengan tokoh adat dan masyarakat. Selanjutnya, intervensi pendidikan dilakukan melalui pelatihan dan lokakarya berbasis budaya bagi generasi muda. Pendekatan butterfly effect diterapkan melalui pembinaan individu kunci sebagai agen perubahan, sementara ripple effect dikembangkan melalui program berbasis komunitas seperti mentoring antar generasi dan pagelaran seni Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengukur efektivitas program dalam memperkuat karakter dan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal. Identifikasi Nilai-Nilai Budaya. Tahap awal ini bertujuan untuk menggali dan memetakan nilai-nilai budaya Bugis yang masih relevan dan dapat diintegrasikan dalam kehidupan Generasi Z sebagai sasaran utama dalam program pengabdian ini. Kelompok Generasi Z ini sering disingkat menjadi Gen Z dan dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai Zoomers yang digunakan untuk merujuk pada anggota Generasi Z, atau orang yang lahir pada akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an (Zoomers. Dalam Merriam-Webster. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat, budayawan, dan masyarakat setempat di Kabupaten Sidenreng Rappang. Informasi ini memperkaya pemahaman tentang nilai-nilai budaya utama seperti lempu' . , amaccang . , assitinajang . , agettengeng . , reso . , dan siri' . rinsip mal. Selain itu, diskusi kelompok terarah . ocus group discussio. dilakukan untuk memastikan kesesuaian nilai-nilai ini dengan konteks kehidupan modern generasi Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, identifikasi ini menjadi pijakan yang kuat untuk merancang program yang tepat sasaran. Intervensi Pendidikan. Setelah nilai-nilai budaya teridentifikasi, langkah berikutnya adalah melibatkan Generasi Z melalui kegiatan pendidikan interaktif. Workshop dan pelatihan dirancang untuk membantu peserta memahami bagaimana nilai-nilai budaya seperti siri' dan reso dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, media pembelajaran interaktif digunakan untuk meningkatkan daya tarik dan efektivitas Beberapa media yang dikembangkan meliputi video edukasi tentang kisah270 Jurnal Pepadu http://jurnal. id/index. php/jurnalpepadu/index e-ISSN: 2715-9574 Vol. 7 No. Juni 2025 kisah inspiratif budaya Bugis, buku saku digital yang merangkum nilai-nilai budaya utama, serta infografis menarik yang mudah diakses melalui platform digital. Media ini dirancang agar sesuai dengan preferensi Generasi Z yang lebih akrab dengan teknologi. Penerapan prinsip Butterfly Effect. Pendekatan butterfly effect diterapkan dengan melibatkan individu-individu kunci, seperti tokoh muda inspiratif, sebagai duta budaya. Mereka didorong untuk menjadi teladan dalam menghidupkan nilai-nilai budaya melalui tindakan kecil namun berdampak besar, seperti mempromosikan perilaku saling menghormati dalam lingkungan digital. Perubahan kecil ini diharapkan dapat menjadi awal dari transformasi yang lebih luas di kalangan Generasi Z, terutama dalam membangun rasa kebanggaan terhadap budaya lokal. Penerapan prinsip Ripple Effect. Pendekatan ripple effect dilakukan dengan mengadakan program-program berbasis komunitas yang bertujuan menyebarkan dampak positif secara Salah satu kegiatannya adalah program mentoring antar generasi, di mana tokoh adat dan orang tua berbagi pengalaman tentang pentingnya nilai budaya Bugis dalam membangun karakter. Selain itu, kegiatan budaya seperti lomba cerita rakyat, pagelaran seni tradisional, dan pelatihan keterampilan berbasis budaya juga diadakan untuk memperkuat rasa solidaritas dan kebersamaan. Jejaring komunitas lokal dan media sosial digunakan sebagai saluran untuk menyebarkan pesan-pesan budaya kepada audiens yang lebih luas, memastikan dampak kegiatan terus meluas. Menurut Muthmainah . , konsep butterfly effect dalam psikologi positif sering kali dikaitkan dengan istilah effervescence atau ripple effect. Konsep ini memiliki peran penting karena menunjukkan bahwa tindakan positif yang dilakukan oleh seseorang dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk turut melakukan tindakan positif serupa. Monitoring dan Evaluasi. Tahap terakhir adalah monitoring dan evaluasi untuk mengukur keberhasilan program. Survei awal dan akhir dilakukan untuk menilai perubahan pemahaman dan apresiasi peserta terhadap nilai-nilai budaya Bugis. Observasi langsung digunakan untuk mengidentifikasi dampak program terhadap pola pikir dan perilaku Generasi Z. Selain itu, wawancara mendalam dengan peserta dan komunitas dilakukan untuk mendapatkan masukan terkait keberlanjutan program. Data yang diperoleh dari proses ini akan digunakan untuk menyempurnakan program di masa mendatang, memastikan bahwa dampak positifnya tetap terjaga. Dengan metode yang terstruktur ini, kegiatan pengabdian masyarakat diharapkan tidak hanya berhasil memperkuat nilai-nilai luhur budaya Bugis, tetapi juga menciptakan generasi muda yang berkarakter kuat, bangga pada budayanya, dan mampu menghadapi tantangan global secara adaptif. Mitra Sasaran Pengabdian: Kelompok Generasi Z dan Masyarakat Umum Lokasi Pelaksanaan: Kabupaten Sidenreng Rappang Waktu: Maret 2025 Ae Juni 2025 Tim Pengabdi: Dosen dari Universitas Ichsan Sidenreng Rappang Ie1. Identifikasi Nilai-Nilai Budaya Ie2. Intervensi Pendidikan Ie3. Penerapan Prinsip Butterfly Effect Ie4. Penerapan Prinsip Ripple Effect Ie5. Monitoring dan Evaluasi Gambar 1. Tahapan pelaksanaan kegiatan pengabdian Jurnal Pepadu http://jurnal. id/index. php/jurnalpepadu/index e-ISSN: 2715-9574 Vol. 7 No. Juni 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan Kesadaran dan Pemahaman Generasi Z atas Nilai-Nilai Budaya Bugis Generasi Z, yang tumbuh di tengah kemajuan teknologi dan digitalisasi (Shing, 2014. Khansa, 2. menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan nilai-nilai budaya lokal di tengah arus globalisasi yang kuat. Mereka adalah generasi dengan akses luas terhadap informasi global (Ribka, 2. , yang berpotensi mengaburkan identitas lokal. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terjadi perubahan signifikan dalam kesadaran mereka untuk mengenali dan menghargai warisan budaya, termasuk budaya Bugis yang ada di Kabupaten Sidenreng Rappang. Sulawesi Selatan. Kesadaran ini bukan sekadar upaya melestarikan tradisi, tetapi juga sebagai cara untuk memperkuat jati diri dan menciptakan harmoni antara modernitas dan nilai-nilai lokal. Gambar 2. Kegiatan pemahaman nilai-nilai kearifan lokal bagi kelompok genenerasi Z untuk mendukung pembangunan karakter bangsa di Aula Kampus Universitas Ichsan Sidenreng Rappang Peningkatan pemahaman terhadap nilai-nilai inti budaya Bugis menjadi salah satu langkah penting dalam perubahan ini. Nilai kejujuran . , misalnya, semakin diapresiasi sebagai landasan moral yang universal dan relevan di berbagai situasi kehidupan. Dalam konteks akademik, lempuAo mendorong Generasi Z untuk menjunjung tinggi integritas dalam proses belajar, seperti menghindari plagiarisme. Di dunia kerja, nilai ini menciptakan budaya profesionalisme yang dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap generasi ini. Selain lempuAo, kecendekiaan . , yang mencakup kecerdasan dan kebijaksanaan, menjadi atribut penting bagi Generasi Z. Mereka menyadari bahwa di era informasi yang serba cepat, kemampuan untuk berpikir kritis, bijaksana, dan berpengetahuan luas sangatlah dibutuhkan. Nilai ini diterapkan dalam pengambilan keputusan sehari-hari, terutama ketika harus memilih antara berbagai pilihan yang ditawarkan oleh dunia modern. Generasi Z belajar untuk tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga menggunakan kebijaksanaan budaya mereka sebagai Nilai kepatutan . juga terus dikedepankan sebagai prinsip dalam menjaga harmoni sosial. Di tengah individualisme yang seringkali muncul dalam masyarakat modern, assitinajang mengingatkan Generasi Z akan pentingnya menghormati norma sosial dan menjaga hubungan yang harmonis dengan keluarga, teman, dan komunitas. Hal ini terlihat dalam berbagai kegiatan komunitas, di mana Generasi Z masyarakat Bugis Sidenreng Rappang mulai aktif terlibat dalam acara tradisional, upacara adat, hingga kegiatan sosial yang mempererat solidaritas Jurnal Pepadu http://jurnal. id/index. php/jurnalpepadu/index e-ISSN: 2715-9574 Vol. 7 No. Juni 2025 Keteguhan . dan usaha . adalah dua nilai lainnya yang menjadi pondasi kuat bagi Generasi Z Bugis dalam meraih tujuan mereka. Di era yang penuh tantangan dan ketidakpastian, agettengeng mengajarkan mereka untuk tidak mudah goyah dalam menghadapi tantangan hidup. Keteguhan ini disandingkan dengan semangat kerja keras . , yang mendorong Generasi Z untuk terus berinovasi, beradaptasi, dan mengejar prestasi di berbagai bidang. Dalam dunia startup atau kewirausahaan, misalnya, nilai reso terlihat dalam usaha mereka mengembangkan bisnis berbasis kearifan lokal, seperti makanan khas Bugis atau produk kerajinan tangan. Tidak kalah pentingnya, prinsip malu . memainkan peran kunci dalam membentuk karakter Generasi Z Bugis. SiriAo bukan hanya tentang menjaga harga diri pribadi, tetapi juga tanggung jawab terhadap keluarga dan komunitas. Dalam kehidupan sehari-hari, siriAo tercermin dalam sikap mereka yang selalu berusaha menunjukkan perilaku terhormat, baik di ruang publik maupun digital. Nilai ini menjadi filter bagi Generasi Z dalam menggunakan media sosial secara bijak, menghindari konten yang merusak citra diri, dan mempromosikan hal-hal positif yang mencerminkan budaya mereka. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya Bugis ke dalam kehidupan modern. Generasi Z tidak hanya berhasil melestarikan tradisi, tetapi juga membuktikan bahwa budaya lokal mampu berjalan beriringan dengan kemajuan zaman. Kesadaran ini menjadikan mereka generasi yang tidak hanya kompeten secara global, tetapi juga tetap kokoh berakar pada identitas lokal yang kuat. Mereka menjadi bukti bahwa budaya tradisional, ketika diterapkan dengan bijak, dapat menjadi modal sosial yang memperkaya perjalanan hidup di era modern. Implementasi dan Pemaknaan Nilai-Nilai Budaya Bugis dalam Kehidupan Sehari-Hari Implementasi nilai-nilai budaya Bugis seperti kejujuran . , kecendekiaan . , kepatutan . , keteguhan . , usaha . , dan prinsip malu . dalam kehidupan sehari-hari memberikan dampak yang signifikan terhadap pembentukan karakter individu, khususnya di kalangan Generasi Z. Nilai-nilai ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga panduan moral dan etika yang mampu memperkuat identitas lokal di tengah gempuran Generasi Z, dengan berbagai tantangan era digital dan globalisasi, memiliki peluang besar untuk menjadikan nilai-nilai ini sebagai fondasi yang kuat dalam menjalani kehidupan. Nilai Kejujuran (Lemp. Dikatakan, "Aju maluru-e mi riala parewa bola. " (Dalam tutur lisan masyarakat Bugi. Arti dari petuah tersebut yakni, hanya kayu lurus yang digunakan untuk struktur dan konstruksi rumah. Struktur bangunan rumah panggung khas Bugis yang saling berhubungan harus dibentuk melalui sifat-sifat yang 'melurus', seperti aliri . ilar vertika. dan aratong & pattolo . alok induk horizonta. : aliri, aratong, dan pattolo adalah parewa bola . tuktur dan konstruksi bangunan rumah Bugi. yang saling mengikat sehingga mampu menopang bebanbeban yang ada dengan kokoh. Konsep pemikiran ini memandang jika susunan dan hubungan antar bagian-bagian suatu bangunan tidak terbentuk dari sesuatu yang 'melurus', maka sebenarnya bangunan yang membentuk struktur kompleks pun berpotensi akan mudah runtuh atau hancur. Makna pesan "maluru/malompu" mempunyai arti "jujur". Dalam hal ini, dimaknai bahwa kepemimpinan harus dijunjung tinggi dengan nilai kejujuran, agar apa yang dibangun dapat bertahan, atau bertahan lama, juga kejujuran akan membawa banyak kebaikan. Dalam sebuah pepatah, "Kejujuran adalah sesuatu yang mahal. " Dalam pandangan Islam, kejujuran merupakan aspek moral yang mempunyai nilai positif dan baik. Kata 'jujur' mengandung arti kata 'kebenaran' dalam segala situasi dan keadaan. Berperilaku jujur akan membawa kepada kebaikan, "Sesungguhnya kejujuran itu membawa pada kebaikan dan kebaikan itu membawa . ke surga dan orang yang membiasakan dirinya berkata benar . sehingga ia tercatat disisi Allah sebagai orang yang benar. " (HR Bukhari dan Musli. Dalam Islam, kejujuran dikenal dalam beberapa bentuk, yaitu shiddiq al-qalbi . ujur nia. shiddiq al273 Jurnal Pepadu http://jurnal. id/index. php/jurnalpepadu/index e-ISSN: 2715-9574 Vol. 7 No. Juni 2025 hadits . ujur dalam ucapa. shiddiq al-amal . ujur dalam segala perbuatanny. shiddiq al-wa'd . ujur dalam menepati janjiny. dan shiddiq al-hall . ujur pada segala hal yang dilakukanny. (Al-Ghazali dalam Amin, 2. Dikatakan, "Uwappasongongngi makkatonni ri lima-e akkatonniang: iyanaritu mammulanna, ada tongong-e. maduanna, lompu-e. matollunna, gottong-e. maoppana, sipakatau-e. malimanna, mappesona-e ri Pawinru' Seuwa-e. " (Aku memesankan berpegang pada lima pegangan: yaitu pertama, perkataan yang benar. kedua, kejujuran. ketiga, keteguhan pada keyakinan. keempat, saling menghargai sesama manusia. kelima, berserah diri kepada Sang Pencipta Yang Maha Es. Ae (Dalam tutur lisan masyarakat Bugi. Kejujuran . misalnya, menjadi prinsip dasar dalam menjaga integritas, baik dalam hubungan sosial maupun profesional. Dalam kehidupan sehari-hari, lempuAo terlihat dari bagaimana Generasi Z menjunjung tinggi kejujuran dalam tindakan dan ucapan mereka. Di dunia pendidikan, nilai ini diwujudkan dengan menghindari plagiarisme dan menjunjung tinggi nilai kerja keras. Di tempat kerja, lempuAo membantu menciptakan lingkungan yang transparan dan penuh kepercayaan, sehingga mampu meningkatkan kualitas hubungan kerja. Nilai Kecendikiaan (Amaccan. Dikatakan. AuIyapa wodding riala parewa ri tana-e, bottuanna makkatonni adoq, nabolaipi oppa-e uangonna. Seuwani, kanawa-nawapi. maduanna, malompupi. matollunna, waranipi. maoppana, sogipi. Naiya tanranna ongkae nawa-nawanna, oppatoi uangongnna. Seuwani, matau-e ri Puang Seuwa-e. maduanna, matau makkada ada maja'. matollunna, matau mangkau maoppana, matau mala cokka. Naiya tanranna malompu-e, oppa to ritu uangongna. Seuwani, pugau'-i gau' makkatutu. maduanna, pugau'-i gau' patuju. matollunna, pugau'-i gau' maoppana, pugau'-i gau' tongong-tongong. Naiya tanra-tanranna to warani-e, oppa to ritu. Seuwani, tommatau ripariolo. maduanna, tommatau riparimonri. matollunna, tommatau mengkalinga kareba. maoppana, tommatau mita bali. Naiya tanranna tosogi-e, oppatoi ritu. Seuwani, tokkuranni nawa-nawanna. maduanna, tonnakurangi pappebali ada. matollunna, masagenai ri sininna gau'-e. maoppana, tonnakurangi ri sininna pattujung-e. Ay (Dalam tutur lisan masyarakat Bugi. Penjelasan: Yang dapat diangkat menjadi pemangku . dat - huku. di negara adalah mereka yang mempunyai empat hal. Pertama, mempunyai pikiran yang baik. kedua, jujur. keempat, kaya. Orang berpikiran yang baik . mempunyai empat tanda, yaitu pertama, takut kepada Allah. kedua, takut mengucapkan kata-kata buruk. ketiga, takut mengakui apa yang bukan miliknya. keempat, takut mengambil hasil penipuan. Sedangkan kejujuran mempunyai empat tanda, yaitu pertama, berhati-hati dalam bertindak. kedua, mengambil tindakan atau perbuatan yang benar. ketiga, melakukan perbuatan yang baik. bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan. Ada empat tanda orang berani, yaitu pertama, tidak takut untuk didorong ke depan . kedua, tidak takut diposisikan di belakang . ketiga, tidak kaget mendengar kabar . abar baik dan kabar buru. keempat, tidak takut menghadapi musuh. Tanda orang kaya juga ada empat, yaitu pertama, ia tidak kehabisan kedua, ia tidak kehabisan jawaban . ketiga, mampu melakukan berbagai hal. keempat, tidak kekurangan inisiatif dalam cara yang baik. Nilai kecendekiaan . , yang mencerminkan kecerdasan dan kebijaksanaan, sangat relevan dalam membantu Generasi Z menghadapi derasnya arus informasi. Dalam kehidupan sehari-hari, amaccang diwujudkan melalui kebiasaan berpikir kritis dan membuat keputusan yang bijak berdasarkan pemahaman yang mendalam. Generasi Z menggunakan nilai ini untuk memilah informasi yang valid dari yang tidak, sehingga mereka mampu bertindak berdasarkan data dan pengetahuan yang benar, bukan hanya opini semata. Jurnal Pepadu http://jurnal. id/index. php/jurnalpepadu/index e-ISSN: 2715-9574 Vol. 7 No. Juni 2025 Nilai Kepatutan (Assitinajan. "Assitinajang" merupakan konsep penting dalam budaya Bugis yang berasal dari kata tinaja, yang bermakna "cocok, sesuai, pantas, atau patut. " Konsep ini mengandung prinsip kepatutan, yakni menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Dalam Lontara Bugis, ajaran ini diwujudkan dalam ungkapan: "duduki kedudukanmu, tempati tempatmu," yang mengajarkan setiap individu untuk memahami dan menjalankan perannya secara tepat dalam kehidupan Prinsip ini berkaitan erat dengan nilai adat yang disebut adeAowari . dat pembedaa. , yang bertujuan untuk memastikan segala sesuatu berada pada tempatnya. Rahim . menegaskan bahwa tindakan mengambil sesuatu dari tempatnya untuk diletakkan kembali pada tempat yang benar merupakan bentuk nyata dari perbuatan mappassitinajaAisebuah praktik yang mencerminkan kepatuhan terhadap tatanan yang semestinya. Nilai assitinajang tidak hanya menjadi pedoman etika dalam relasi sosial, tetapi juga berfungsi sebagai dasar bagi keharmonisan dan keseimbangan dalam kehidupan. Dalam praktiknya, asitinajang terlihat dalam sikap menghormati peran dan posisi individu dalam keluarga, masyarakat, maupun organisasi. Misalnya, seorang pemimpin harus memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengayom, sementara anggota masyarakat lain menjalankan peran mereka sesuai kapasitas masing-masing. Dengan menempatkan segala sesuatu sesuai dengan porsinya, prinsip ini menciptakan keharmonisan yang berkelanjutan di tengah Selain itu, assitinajang juga memiliki relevansi dalam konteks modern, seperti pengelolaan sumber daya atau pembagian tanggung jawab dalam organisasi. Ketika nilai ini diterapkan, setiap individu didorong untuk menghormati aturan dan norma yang berlaku, sekaligus memastikan keadilan dan kesesuaian dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, assitinajang tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga prinsip universal yang relevan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ranah tradisional maupun modern. Kepatutan . , yang mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan dalam hubungan sosial, sangat berperan dalam membentuk sikap saling menghormati di antara Generasi Z. Dalam interaksi sehari-hari, assitinajang mendorong mereka untuk bersikap sopan, menjaga etika komunikasi, dan menghormati norma sosial. Nilai ini sangat membantu dalam membangun hubungan yang harmonis di tengah masyarakat yang semakin heterogen. Nilai Keteguhan (Agettengen. Dikatakan. AuTaro ada, taro gauAoAy (Meletakkan perkataan, meletakkan tindaka. - (Dalam tutur lisan masyarakat Bugi. Masyarakat Bugis dikenal sebagai salah satu suku yang teguh memegang adat dan budaya sebagai pedoman hidup. Keteguhan ini tercermin dalam prinsip Autaro ada taro gauAy, yang secara tersirat menggambarkan pentingnya keteguhan hati dan konsistensi antara ucapan dan tindakan. Prinsip ini tidak hanya menjadi landasan moral, tetapi juga menjadi cerminan dari komitmen untuk menjaga kehormatan diri dan kepercayaan orang lain. Dalam budaya Bugis, nilai agettengengAiyang berakar pada keteguhan hati dan kejujuranAimenuntut agar setiap tindakan dilandasi dengan kebenaran dan integritas. Hal ini mencakup komitmen untuk menepati janji, karena janji yang dibuat dianggap sebagai hutang moral yang harus dipenuhi, seperti ungkapan Augenggam sampai terlunasi. Ay Nilai ini mengajarkan masyarakat Bugis untuk tidak mudah goyah oleh godaan atau tekanan, melainkan berpegang teguh pada prinsip hingga tujuan tercapai. Keteguhan tersebut mencerminkan integritas pribadi yang menjadi pondasi dalam membangun hubungan yang kokoh baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan Dengan menerapkan nilai agettengeng, masyarakat Bugis menunjukkan bahwa kekuatan moral dan komitmen terhadap kebenaran adalah pilar utama dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Keteguhan . merupakan salah satu nilai inti dalam budaya Bugis yang memiliki peran penting sebagai prinsip hidup, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan Jurnal Pepadu http://jurnal. id/index. php/jurnalpepadu/index e-ISSN: 2715-9574 Vol. 7 No. Juni 2025 dan dinamika kehidupan. Dalam konteks Generasi Z, yang tumbuh di era modern dengan perubahan cepat dan dunia yang penuh ketidakpastian, nilai agettengeng menjadi pegangan yang kokoh untuk menjaga konsistensi terhadap nilai-nilai yang diyakini. Nilai ini membantu Generasi Z mengembangkan keberanian untuk mempertahankan pendirian di tengah derasnya tekanan sosial, tantangan profesional, maupun godaan untuk berkompromi dengan prinsip mereka demi keuntungan sesaat. Lebih dari itu, agettengeng juga menjadi sumber kekuatan mental dalam menghadapi kegagalan. Nilai ini mengajarkan mereka untuk melihat kegagalan bukan sebagai akhir dari perjalanan, tetapi sebagai bagian dari proses pembelajaran yang harus dilalui dengan Dengan demikian, agettengeng tidak hanya memberikan keberanian untuk berdiri teguh, tetapi juga membangun semangat pantang menyerah, menjadikan mereka individu yang tangguh dan mampu bertahan dalam situasi sulit. Nilai ini selaras dengan tantangan zaman modern yang menuntut keteguhan hati dan ketekunan sebagai kunci keberhasilan. Nilai Usaha (Res. Dikatakan, "Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata" (Hanya kerja keras disertai sikap pantang menyerah yang akan mudah mendapatkan limpahan Rahmat dan Berkah dari Tuhan Yang Maha Es. Ae (Dalam tutur lisan masyarakat Bugi. Prinsip AuResopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewataAy yang bermakna "Hanya kerja keras disertai sikap pantang menyerah yang akan mudah mendapatkan limpahan rahmat dan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa," merupakan salah satu nilai luhur masyarakat Bugis yang menekankan pentingnya usaha tanpa henti. Nilai reso, yang berakar pada semangat kerja keras dan pantang menyerah, menjadi fondasi moral dan etos kerja yang kuat, terutama bagi Generasi Z. Dalam konteks kehidupan modern, nilai ini memotivasi Generasi Z untuk terus berjuang mengatasi berbagai tantangan, baik dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari. Dalam praktiknya, nilai reso terlihat dalam upaya mereka menyelesaikan tugas dengan dedikasi tinggi, belajar keterampilan baru untuk beradaptasi dengan kebutuhan zaman, atau bahkan menciptakan peluang ekonomi melalui inovasi. Sebagai contoh. Generasi Z Bugis telah mulai memanfaatkan teknologi digital untuk melestarikan dan mempromosikan budaya lokal. Mereka mengembangkan usaha kreatif seperti menjual kuliner khas secara daring, memproduksi konten multimedia tentang seni tradisional, atau membangun jaringan komunitas untuk memasarkan kerajinan tangan. Melalui pendekatan ini, nilai reso tidak hanya menjadi semangat pribadi tetapi juga motor penggerak perubahan sosial, yang menghubungkan tradisi dengan Lebih jauh lagi, nilai reso mengajarkan Generasi Z untuk tidak menyerah meskipun menghadapi kegagalan. Dalam setiap langkah, mereka memahami bahwa proses perjuangan adalah bagian dari jalan menuju keberhasilan. Prinsip ini tidak hanya membantu mereka membangun kepribadian yang tangguh, tetapi juga menciptakan dampak positif bagi masyarakat luas, menjadikan nilai reso relevan dan aplikatif dalam membangun masa depan yang lebih baik. Nilai Rasa Malu (SiriA. SiriAo merupakan adat kebiasaan yang telah hidup dan melembaga dalam kehidupan masyarakat Bugis sejak zaman dahulu hingga sekarang, terutama masyarakat Bugis di Kabupaten Sidenreng Rappang. Nilai ini memiliki makna yang kompleks dan mendalam, menggambarkan keadaan manusia sebagai makhluk bermartabat. Dalam tradisi Bugis, siriAo dianggap sebagai inti identitas kemanusiaan, sebagaimana tertuang dalam pepatah AuSiri'e mi riaseng tauAy, yang berarti "hanya karena siriAo seseorang disebut manusia. " Makna ini juga ditegaskan oleh pepatah lain. AuSiri'e mi ri onroang ri linoAy, yang bermakna "hanya karena siriAo kita hidup di dunia. " Dengan demikian, siriAo tidak hanya menjadi pedoman moral, tetapi juga sumber motivasi dalam menjalani kehidupan. Secara praktis, siriAo adalah rasa harga diri yang mendorong individu untuk menjaga kehormatan pribadi, keluarga, dan komunitasnya. Dalam budaya Bugis, seseorang yang kehilangan siriAo dianggap kehilangan martabat dan keberadaannya sebagai manusia. Hal ini Jurnal Pepadu http://jurnal. id/index. php/jurnalpepadu/index e-ISSN: 2715-9574 Vol. 7 No. Juni 2025 menjelaskan mengapa siriAo menjadi elemen penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Bugis, mulai dari interaksi sosial, penyelesaian konflik, hingga pengambilan keputusan. Menurut Rahim . , siriAo muncul dalam diri seseorang ketika ia melanggar nilai-nilai utama kemanusiaan. Perasaan ini tidak hanya bersifat pribadi tetapi juga berdimensi kolektif, karena pelanggaran terhadap siriAo dapat menurunkan martabat keluarga dan masyarakatnya. Oleh karena itu, siriAo mendorong setiap individu untuk menjaga perilaku dan tindakannya agar tetap sesuai dengan norma dan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi. Lebih dari sekadar konsep budaya, siriAo menjadi landasan yang mengikat komunitas Bugis untuk hidup dalam harmoni, bermartabat, dan berintegritas. Prinsip malu . , yang berakar pada harga diri dan tanggung jawab moral, menjadi benteng bagi Generasi Z dalam menjaga perilaku mereka, baik di dunia nyata maupun dunia digital. Dalam kehidupan sehari-hari, siriAo mengajarkan mereka untuk menghindari tindakan yang merugikan nama baik keluarga atau komunitas, serta selalu berusaha menunjukkan sikap terhormat. Prinsip ini juga mendorong mereka untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, misalnya dengan menghindari konten negatif dan mempromosikan hal-hal yang positif. Implementasi nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya memperkaya karakter Generasi Z, tetapi juga menjadi jembatan yang memperkokoh hubungan antargenerasi. Generasi Z mampu menjadikan nilai-nilai budaya Bugis sebagai sumber inspirasi untuk mengatasi berbagai tantangan modern sekaligus menjaga identitas budaya. Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai ini, mereka menunjukkan bahwa budaya lokal seperti budaya Bugis tetap relevan dan dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensinya. Hal ini tidak hanya membuktikan bahwa nilai-nilai budaya memiliki daya tahan, tetapi juga menunjukkan bahwa budaya lokal adalah bagian integral dari solusi untuk tantangan global. Intervensi Pendidikan untuk Pelestarian Nilai Budaya Bugis Intervensi pendidikan menjadi salah satu strategi penting dalam melibatkan Generasi Z untuk mengenal, memahami, dan mengaplikasikan nilai-nilai budaya Bugis seperti kejujuran . empu'), kecendekiaan . , kepatutan . , keteguhan . , usaha . , prinsip malu . iri') dalam kehidupan sehari-hari. Setelah nilai-nilai budaya ini teridentifikasi, upaya edukasi diarahkan pada pendekatan yang interaktif dan relevan dengan karakteristik Generasi Z yang tumbuh di era digital. Pendekatan ini bertujuan untuk menghubungkan nilai-nilai tradisional dengan kebutuhan dan preferensi modern mereka, sehingga budaya lokal dapat tetap hidup sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kegiatan pendidikan dirancang dalam bentuk workshop dan pelatihan yang bersifat Dalam workshop ini, peserta diajak untuk mengeksplorasi makna dan relevansi nilainilai budaya melalui diskusi kelompok, simulasi, dan studi kasus. Misalnya, mereka dapat menganalisis situasi di mana nilai siriAo digunakan untuk menjaga kehormatan keluarga atau bagaimana reso dapat diterapkan dalam konteks profesional. Melalui pengalaman langsung ini, peserta tidak hanya memahami secara teori, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Untuk meningkatkan daya tarik dan efektivitas pembelajaran, berbagai media pembelajaran interaktif dikembangkan. Video edukasi, misalnya, menampilkan kisahkisah inspiratif dari tokoh masyarakat Bugis yang berhasil menerapkan nilai-nilai siriAo dan reso untuk meraih kesuksesan. Buku saku digital juga disediakan sebagai panduan praktis, merangkum nilai-nilai utama budaya Bugis dalam format yang mudah dipahami dan diakses kapan saja. Selain itu, infografis yang menarik dan informatif dibuat untuk menjelaskan konsepkonsep budaya secara visual, sehingga sesuai dengan kebiasaan Generasi Z yang lebih menyukai konten visual di platform digital seperti Instagram. TikTok, atau YouTube. Jurnal Pepadu http://jurnal. id/index. php/jurnalpepadu/index e-ISSN: 2715-9574 Vol. 7 No. Juni 2025 Gambar 3. Kegiatan Workshop "Menggali Relevansi Nilai Budaya Bugis dengan Nilai Islam", di SMK N 3 Sidenreng Rappang Tidak hanya itu, platform digital juga digunakan sebagai media penyebaran edukasi secara luas. Aplikasi seluler yang dirancang khusus untuk mengajarkan nilai-nilai budaya Bugis, kuis interaktif berbasis budaya, serta forum daring untuk diskusi lintas generasi menjadi alat yang efektif untuk memperkuat dampak dari intervensi pendidikan ini. Dengan pendekatan holistik ini. Generasi Z tidak hanya diajak mengenal budaya, tetapi juga diberdayakan untuk menjadi agen pelestari nilai-nilai luhur Bugis di tengah tantangan globalisasi. Pada akhirnya, intervensi pendidikan yang interaktif dan berbasis teknologi ini tidak hanya berfungsi sebagai media pelestarian budaya, tetapi juga sebagai upaya membangun identitas yang kuat bagi Generasi Z, yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar budaya lokal mereka. Penerapan Butterfly Effect dalam Pelestarian Budaya Lokal Pendekatan butterfly effect diterapkan untuk menciptakan perubahan sosial yang signifikan melalui langkah-langkah kecil namun strategis. Dalam konteks pelestarian budaya lokal di Sidenreng Rappang, pendekatan ini memanfaatkan potensi individu-individu kunci, seperti tokoh muda inspiratif, yang memiliki pengaruh besar di komunitas mereka maupun di ruang digital. Tokoh-tokoh ini dipilih bukan hanya karena prestasi atau keterampilan mereka, tetapi juga karena kemampuan mereka untuk menjadi teladan dalam menghidupkan nilai-nilai budaya Bugis melalui tindakan sederhana yang berdampak luas. Gambar 4. Seleksi mahasiswa ana' dara malebbi'-kallolo magarettaAo tahun 2025, berlangsung di Universitas Ichsan Sidenreng Rappang Jurnal Pepadu http://jurnal. id/index. php/jurnalpepadu/index e-ISSN: 2715-9574 Vol. 7 No. Juni 2025 Sebagai duta budaya, mereka didorong untuk menerapkan nilai-nilai seperti siriAo . arga dir. , reso . saha kera. , dan assitinajang . dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, mereka mempromosikan perilaku saling menghormati di lingkungan digital dengan menyebarkan konten positif yang merefleksikan nilai-nilai tersebut, seperti kutipan inspiratif dalam bahasa Bugis, cerita tentang tokoh-tokoh lokal yang menjunjung tinggi budaya, atau video pendek yang menunjukkan praktik budaya sehari-hari. Tindakan kecil ini, meskipun terlihat sederhana, dapat memicu resonansi yang lebih besar karena Generasi Z cenderung terhubung melalui platform digital dan terpengaruh oleh figur-figur yang mereka anggap relevan. Selain itu, para duta budaya ini juga dilibatkan dalam kegiatan komunitas, seperti workshop, seminar, dan festival budaya. Dalam kegiatan ini, mereka berperan aktif sebagai fasilitator yang mengajarkan pentingnya nilai-nilai budaya dalam membentuk karakter generasi muda. Misalnya, mereka berbagi pengalaman pribadi tentang bagaimana nilai reso membantu mereka mencapai tujuan hidup atau bagaimana penerapan siriAo menjaga integritas mereka dalam berinteraksi di dunia nyata maupun digital. Dengan pendekatan ini, pesan budaya tidak hanya disampaikan secara verbal, tetapi juga melalui contoh nyata yang mudah diterapkan oleh generasi muda. Lebih jauh lagi, pendekatan butterfly effect ini diharapkan mampu menciptakan efek domino di kalangan Generasi Z di Kabupaten Sidenreng Rappang. Ketika individu-individu kunci ini berhasil memengaruhi lingkup kecil, dampaknya dapat meluas ke komunitas yang lebih besar, menciptakan gelombang transformasi sosial yang memperkuat kebanggaan terhadap budaya lokal. Sebagai contoh, tokoh muda yang memulai gerakan berbasis budaya di media sosial dapat menginspirasi pengikut mereka untuk melakukan hal serupa, seperti mengenalkan bahasa Bugis kepada teman-teman mereka atau mengenakan pakaian tradisional dalam acara Pada akhirnya, pendekatan butterfly effect ini bukan hanya tentang melestarikan nilainilai budaya, tetapi juga tentang menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Dengan menanamkan rasa kebanggaan terhadap budaya lokal melalui langkah-langkah kecil yang konsisten. Generasi Z diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang membawa warisan budaya Bugis ke masa depan, sekaligus menjadikannya relevan dalam era modern. Penerapan Ripple Effect dalam Pelestarian Budaya Bugis Pendekatan ripple effect bertujuan untuk menciptakan dampak positif yang meluas dan berkelanjutan melalui program-program berbasis komunitas yang melibatkan berbagai lapisan Prinsip dasar dari pendekatan ini adalah bahwa perubahan kecil yang dimulai dari satu titik dapat menyebar dan memengaruhi area yang lebih luas, dengan menghasilkan efek domino yang memperkuat kebanggaan dan pemahaman terhadap nilai budaya Bugis. Programprogram yang dirancang tidak hanya berfokus pada pengenalan nilai-nilai budaya, tetapi juga pada penciptaan ruang kolaboratif di mana berbagai generasi dapat saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Salah satu kegiatan utama dalam penerapan ripple effect adalah program mentoring antar generasi, yang menghubungkan tokoh adat, orang tua, dan generasi muda. Dalam program ini, tokoh adat dan orang tua berperan sebagai mentor yang berbagi pengalaman mereka tentang bagaimana nilai-nilai budaya Bugis, seperti siriAo . arga dir. , reso . saha kera. , dan assitinajang . , telah membentuk karakter dan identitas mereka. Mentor memberikan contoh nyata tentang bagaimana mereka menjaga tradisi dan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, serta tantangan yang mereka hadapi dalam mempertahankan budaya di tengah perkembangan zaman. Melalui cerita dan pengalaman mereka, generasi muda tidak hanya belajar tentang sejarah dan kebiasaan, tetapi juga menyadari relevansi nilai-nilai budaya ini dalam konteks modern, seperti dalam dunia kerja, pendidikan, dan kehidupan sosial. Proses mentoring ini membuka ruang dialog antar generasi, menciptakan pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya melestarikan budaya sekaligus mengadaptasinya dengan cara yang sesuai dengan perubahan zaman. Jurnal Pepadu http://jurnal. id/index. php/jurnalpepadu/index e-ISSN: 2715-9574 Vol. 7 No. Juni 2025 Gambar 5. Pergelaran seni pakaian adat tradisional Bugis bagi generasi Z di Kampus Universitas Ichsan Sidenreng Rappang Selain itu, kegiatan budaya lainnya, seperti lomba cerita rakyat, pagelaran seni tradisional, dan pelatihan keterampilan berbasis budaya, menjadi wadah untuk menumbuhkan rasa solidaritas dan kebersamaan di kalangan masyarakat. Lomba cerita rakyat, misalnya, memungkinkan generasi muda untuk menggali kembali kisah-kisah rakyat yang penuh dengan pesan moral dan nilai budaya. Pagelaran seni tradisional, seperti tari-tarian Bugis dan pertunjukan musik lokal, tidak hanya memperkenalkan keindahan seni, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjaga keberagaman budaya melalui ekspresi seni. Pelatihan keterampilan berbasis budaya, seperti pembuatan tenun Bugis atau kerajinan tangan, memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mempelajari keterampilan tradisional yang berharga, yang juga dapat dijadikan peluang ekonomi bagi mereka di masa depan. Semua kegiatan ini dirancang untuk membangun rasa kebanggaan terhadap budaya lokal dan memperkuat hubungan sosial dalam komunitas. Jejaring komunitas lokal, baik melalui organisasi adat maupun kelompok-kelompok masyarakat lainnya, juga dimanfaatkan sebagai saluran untuk menyebarkan pesan-pesan budaya kepada audiens yang lebih luas. Media sosial menjadi platform penting dalam memperluas jangkauan dampak dari kegiatan-kegiatan budaya ini. Generasi muda yang terlibat dalam program-program budaya tidak hanya belajar dan berpartisipasi secara langsung, tetapi mereka juga menjadi agen perubahan dengan membagikan pengalaman dan pengetahuan mereka kepada teman-teman atau pengikut mereka di media sosial. Hal ini membantu menciptakan gelombang kesadaran yang meluas mengenai pentingnya nilai-nilai budaya Bugis, terutama di kalangan generasi muda yang lebih terhubung dengan dunia digital. Misalnya, video-video dokumentasi lomba cerita rakyat atau potongan pertunjukan seni tradisional dapat dibagikan secara viral, menarik perhatian audiens yang lebih besar, dan menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya mereka. Melalui pendekatan ripple effect, diharapkan bahwa dampak dari setiap kegiatan budaya tidak hanya dirasakan oleh individu yang terlibat langsung, tetapi juga dapat menyebar ke seluruh masyarakat Kabupaten Sidenreng Rappang dan bahkan meluas ke luar daerah. Pesan-pesan budaya ini tidak hanya bertahan dalam jangka pendek, tetapi juga dapat tumbuh dan berkembang melalui saluran-saluran yang lebih luas, baik itu di komunitas lokal maupun di dunia maya. Dengan demikian, program berbasis komunitas ini menjadi strategi yang efektif dalam memperkuat rasa kebanggaan terhadap budaya lokal, menjaga keberlanjutan warisan budaya Jurnal Pepadu http://jurnal. id/index. php/jurnalpepadu/index e-ISSN: 2715-9574 Vol. 7 No. Juni 2025 Bugis, serta menciptakan ikatan sosial yang lebih kuat di kalangan masyarakat. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian, dapat disimpulkan bahwa penguatan nilai-nilai luhur kearifan lokal masyarakat Bugis melalui pendekatan Butterfly Effect dan Ripple Effect merupakan strategi yang efektif dalam membentuk karakter Generasi Z yang berintegritas, adaptif, dan berakar pada budaya lokal. Pendekatan ini berhasil menggerakkan individu-individu kunci sebagai agen perubahan dan menyebarkan dampak positif melalui kegiatan berbasis komunitas yang partisipatif, seperti mentoring antar generasi, lomba cerita rakyat, serta pelatihan keterampilan berbasis budaya. Generasi muda didorong untuk tidak hanya memahami, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai budaya seperti lempu, amaccang, assitinajang, agettengeng, reso, dan siriAo dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat identitas budaya lokal di tengah arus globalisasi, tetapi juga membangun jejaring sosial yang mendukung keberlanjutan program dalam jangka panjang. SARAN Berdasarkan hasil pengabdian, beberapa saran untuk pengembangan lebih lanjut adalah sebagai berikut: Perluasan Program: Diperlukan lebih banyak program berbasis budaya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk pelibatan lebih banyak pihak dalam peran sebagai mentor, seperti tokoh agama, tokoh pemuda, dan pelaku seni lokal. Penggunaan Teknologi: Program ini dapat diperluas dengan memanfaatkan platform digital untuk mendistribusikan nilai-nilai budaya Bugis, seperti pembuatan aplikasi atau website yang memuat video edukasi, artikel, dan dokumentasi kegiatan budaya yang dapat diakses oleh generasi muda. Kolaborasi Antar Sektor: Untuk meningkatkan dampak, perlu adanya kolaborasi lebih erat antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan yang berfokus pada pelestarian budaya dan pembentukan karakter Generasi Z. Evaluasi Berkala: Agar program ini lebih efektif, disarankan untuk melakukan evaluasi berkala terhadap dampak yang ditimbulkan, baik dari sisi peningkatan pemahaman nilai budaya maupun perubahan perilaku peserta, sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih kepada Universitas Ichsan Sidenreng Rappang, khususnya Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM), atas dukungan yang sangat berarti dalam keberhasilan pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat Kabupaten Sidenreng Rappang. DAFTAR PUSTAKA