BESTARI: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnalstkipmelawi. id/index. php/JBPK E-ISSN: 2746-8062 The Effect of the Think-Pair-Share and Problem-Based Learning Models on the Indonesian Language Learning Outcomes of Fifth-Grade Students at SDN 169 Sadar Nur Hikmah*1. Abdul Wahid2. Rahma Ashari Hamzah3 1,2,3 Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Islam Makassar Abstract This study aims to determine the effect of the think pair share and problem based learning models on the Indonesian language learning outcomes of fifth-grade students at SDN 169 Sadar. The research design used is a non-equivalent control group design. The research sample was 15 Data collection techniques were tests, observation and documentation. The results of descriptive analysis obtained that the Indonesian language learning outcomes of students before the use of the think pair share and problem based learning models were in the sufficient category with a frequency of 1 student . 66%) with an average value of 60-69. While the Indonesian language learning outcomes after the use of the think pair share and problem based learning models were in the very good category with a frequency of 14 students . 33%) with an average value of 90-100. Thus, it can be concluded that there is a significant influence of the use of the think pair share and problem based learning models on the Indonesian language learning outcomes of fifth-grade students at SDN 169 Sadar as evidenced by a significance value of 0. with a significance level of 0. Keywords: Think Pair Share and Problem Based Learning. Indonesian Language Learning Outcomes Submitted: 3 March 2026. Reviewed: 14 March 2026. Accepted: 14 April 2026 DOI: 10. 46368/bjpd. Pengaruh Model Think Pair Share dan Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SDN 169 Sadar Abstrak Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh model think pair share dan problem based learning terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas V di SDN 169 Sadar. Desain penelitian yang digunakan ialah non-eqiuvalent control group design. Sampel penelitian sebanyak 15 orang. Teknik pengumpulan datanya tes, observasi dan dokumentasi. Hasil analisis deskriptif diperoleh bahwa hasil belajar bahasa Indonesia siswa sebelum penggunaan model think pair share dan problem based learning berada pada kategori cukup dengan frekuensi sebanyak 1 siswa . ,66%) dengan nilai rata-rata 60-69. Sedangkan hasil belajar bahasa Indonesia setelah penggunaan model think pair share dan problem based learning berada pada kategori baik sekali dengan frekuensi sebanyak 14 siswa . ,33%) dengan nilai rata-rata 90-100. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang cukup signifikan penggunaan model think pair share dan problem based learning terhadap hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas V SDN 169 Sadar dibuktikan dengan nilai signifikansi 0,003 dengan taraf signifikansi 0,05. Kata Kunci: Think Pair Share dan Problem Based Learning. Hasil Belajar Bahasa Indonesia Corresponding Author: Nur Hikmah,nh557951@gmail. Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Islam Makasar. Sulawesi Selatan. Indonesia 145 |Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Nur Hikmah et. PENDAHULUAN Pendidikan formal yang berlangsung secara berjenjang merupakan suatu upaya pengembangan kemampuan peserta didik yang diharapkan dapat dimanfaatkan guna kepentingan Bangsa dan Negara. Hal ini dengan tegas dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional . 3 :. (Wahid & Afni, 2. Tujuan pendidikan adalah untuk membekali para siswa dengan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dengan sukses di komunitas mereka, untuk meningkatkan dan memperbaiki kualitas hidup mereka sendiri, dan untuk memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan dan kemajuan negara dan masyarakat mereka. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan, riset, dan teknologi (Kemdikbudriste. terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan di indonesia melalui berbagai program. Salah satunya adalah profil pelajar pancasila yang menjadi bagian dari program sekolah penggerak. Program ini bertujuan mewujudkan visi pendidikan yang modern, berdaulat, dan mandiri, sekaligus mendorong transformasi sekolah agar mampu mengembangkan hasil belajar siswa secara menyeluruh serta meningkatkan kualitas pendidikan (Cappa et al. , 2. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang menyediakan kesempatan belajar dan siswa dapat memperoleh pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis mencapai tarif hidup atau kemajuan yang lebih baik. Pendidikan diharapkan tidak hanya membentuk manusia yang bermartabat, tetapi juga mampu menjadi pilar peradaban bangsa yang bermartabat (Wahid. Afni, 2. Guru dapat berkreasi dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi sebagai sumber belajar, media belajar, dan proses kegiatan belajar-mengajar. Guru di era milenial harus melek teknologi. Pembelajaran dengan topik yang kontekstual sejatinya akan membantu dalam memudahkan peserta didik untuk memahami berbagai masalah yang ada kemudian mencari solusi dengan sebaik baiknya (Wahid & Afni, 2. Pemanfaatan teknologi harus dimanfaatkan oleh guru dalam proses pembelajaran, apakah sudah berpengalaman ataukah guru belum berpengalaman agar siswa dapat menguasai dan mengungkapkan kembali materi tersebut menggunakan bahasa sendiri tetapi memiliki makna yang sama (Wahid. A & Dkk, 2. Semua mempunyai tangung jawab yang sama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sesuai amanat UUD 1945. Kesempatan belajar dan siswa dapat memperoleh pendidikan Model ini menghubungkan pembelajaran dengan permasalahan nyata melalui berpikir, berpasangan dan mempresentasikan sehingga siswa dapat mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kerja sama, dan pemecahan masalah. Selain itu, model pembelajaran think pair share dan problem based learning sejalan dengan prinsip pendidikan karakter dalam kurikulum merdeka yang menekankan penguatan profil pelajar Pancasila. Profil ini menggambarkan identitas peserta didik Indonesia sebagai pembelajar sepanjang hayat, berdaya saing global, dan berkarakter sesuai nilai-nilai Pancasila (Ashari Hamzah,2. Pendidikan juga di artikan sebagai usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau dengan cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat sistem pendidikan harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan lokal, nasional dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan terencana, terarah dan kesinambungan (Hamzah, n. 146 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 The Effect of the Think-Pair-Share and Problem-Based Learning Models on the Indonesian Language Learning Outcomes of Fifth-Grade Students at SDN 169 Sadar Berdasarkan hasil observasi di SDN 169 Sadar Kabupaten Bone pada tanggal 7 Juli 2024 ditemukan permasalahan bahwa kurangnya pemahaman siswa terutama kelas V, pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Hal ini tercermin hasil penilaian tengah semester (PTS), yang telah dilakukan data hasil belajar siswa pada saat PTS dilaksanakan. Tercatat hanya 5 siswa yang berhasil memeroleh nilai KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajara. dari 15 siswa yang sesuai dengan KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajara. , yaitu 33,33% dari total jumlah siswa. Sementara itu, terdapat 10 siswa atau 44,44% yang memperoleh nilai di bawah KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajara. Nilai yang dicapai oleh siswa yang memenuhi KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajara. berada pada nilai 70 dan 70 ke atas, sesuai dengan batas ketuntasan yang telah ditetapkan. Hal ini juga terlihat dari nilai raport siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia hanya beberapa siswa yang mencapai ketuntasan yaitu 75 dan 75 ke atas, sesuai dengan batas ketuntasan yang telah ditetapkan, dan beberapa siswa yang belum mencapai ketuntasan perlu dilakukan pengajaran yang lebih oleh guru agar siswa tersebut lebih paham dan mengerti mengenai materi yang diajarkan. Penelitian ini difokuskan pada siswa dan guru kelas V yang masih membutuhkan pemahaman lebih lanjut terkait model pembelajaran think pair share dan model pembelajaran problem based learning yang jarang digunakan sebelumnnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran think pair share dan model pembelajaran problem based learning terhadap hasil belajar pada mata pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone. Penelitian ini merujuk pada studi sebelumnya yang menemukan bahwa model pembelajaran think pair share dan model pembelajaran problem based learning berdampak positif terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas V. Melalui penelitian ini diharapkan diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai model pembelajaran think pair share dan model pembelajaran problem based learning, baik dalam meningkatkan hasil belajar maupun dalam pemecahan masalah. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan berkontribusi pada pengembangan strategi pembelajaran yang inovatif sekaligus mendukung tujuan pendidikan nasional untuk mencetak generasi unggul dan berdaya saing global. Berdasarkan paparan latar belakang tersebut di atas, peneliti bermaksud meneliti lebih lanjut dengan judul AuPengaruh Model Pembelajaran Think Pair Share dan Model Pembelajaran Problem Based Lerning Terhadap Hasil Belajar pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone. Ay Dalam penelitian ini peneliti berfokus pada tujuan yaitu untuk mengetahui adakah pengaruh model think pair share dan problem based learning terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperiment Design. Menurut Hartono . , dikatakan Desain Eksperiment mempunyai variabel kontrol tetapi tidak digunakan sepenuhnya untuk mengontrol variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan November 2025. Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone. Tempat tersebut dipilih dengan beberapa pertimbangan. Di antaranya waktu, biaya, dan keberadaan yang mempermudah peneliti memperoleh data. Di samping itu tempat 147 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Nur Hikmah et. lokasinya mudah terjangkau oleh peneliti, sehingga sangat memungkinkan peneliti untuk melakukan penelitian di lokasi tersebut. Desain penelitian yang digunakan adalah Non-Equivalent Control Group Design di mana desain ini terdapat pretest, sebelum peneliti memberi perlakuan, dan posttest setelah peneliti memberi perlakuan, kemudian membandingkan dua model pembelajaran. Pengukuran perlakuan melibatkan satu kelas . elas yang diberi perlakua. yaitu kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone sebanyak 15 Teknik pengambilan sampel yang digunakan oleh peneliti adalah Simple Random Sampling berupa sampel sederhana. Prosedur penelitian ini terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan dan analisis data. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi tes dan dokumentasi. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar tes, lembar observasi, dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini yaitu analisis statistik deskriptif dan inferensial. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone. Dengan perlakuan dua model pembelajaran yang berbeda kepada 15 orang siswa. Penelitian ini dilakukan sebanyak 14 kali pertemuan dengan dua model pembelajaran yang berbeda di kelas yang sama yaitu di kelas V. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adakah pengaruh model pembelajaran Think Pair Share dan model pembelajaran Problem Based Learning terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar . retest dan posttes. yang terdiri atas 20 butir soal pilihan ganda. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan Hasil Observasi Aktivitas Guru Hasil Observasi Model Pembelajaran Think Pair Share Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap aktivitas Guru dalam menerapkan model pembelajaran Think Pair Share, terjadi peningkatan yang signifikan pada proses Observasi ini bertujuan untuk menilai efektifitas Guru dalam mengelola Pertemuan II, guru mendapat skor 31 dari 21 atau sekitar 65%, yang termasuk kategori rendah. Guru masih terlihat kesulitan dalam menerapkan model pembelajaran Think Pair Share. Pada pertemuan i, skor guru naik menjadi 36 dari 21 atau sekitar 75%, yang masuk kategori Guru mulai memperbaiki pembelajaran dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa. Pada pertemuan IV, skor guru meningkat lagi menjadi 41 dari 21 atau sekitar 85%, yang termasuk kategori baik. Pada tahap ini, guru sudah terlihat lebih terarah dalam mengatur langkahlangkah pembelajaran. Pada pertemuan V, skor guru naik lagi menjadi 45 dari 21 atau sekitar 93%, yang sudah masuk kategori sangat baik. Hasil ini menunjukkan bahwa guru telah menguasai penerapan model pembelajaran Think Pair Share dengan sangat baik. 148 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 The Effect of the Think-Pair-Share and Problem-Based Learning Models on the Indonesian Language Learning Outcomes of Fifth-Grade Students at SDN 169 Sadar Hasil Observasi Model Pembelajaran Problem Based Learning Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap aktivitas Guru dalam menerapakan model pembelajaran Problem Based Learning, terjadi peningkatan yang signifikan dalam pelaksanaan pembelajaran. Observasi ini bertujuan untuk menilai efektifitas guru dalam mengelola Pada pertemuan II, guru mencapai skor 30 dari 19 atau sekitar 70%, yang masuk kategori Guru masih terlihat kesulitan dalam menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning. Pada pertemuan i, skor guru naik menjadi 33 dari 19 atau sekitar 72% yang masuk kategori Guru mulai memperbaiki pembelajaran dengan cara memberikan masalah kepada siswa untuk dipecahkan bersama-sama. Pada pertemuan IV, skor guru meningkat menjadi 38 dari 19 atau sekitar 79% yang masuk kategori baik. Pada tahap ini, guru sudah terlihat lebih terarah dan mengerti dalam menerapkan langkah-langkah pembelajaran. Pada pertemuan V, skor guru naik lagi menjadi 42 dari 19 atau sekitar 90% yang masuk kategori baik sekali. Pada tahap ini, guru terlihat sudah menguasai langkah-langkah pembelajaran dengan baik, dari awal sampai akhir. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Hasil Observasi Model Pembelajaran Think Pair Share Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan terhadap aktivitas siswa selama penerapan model pembelajaran Think Pair Share, terlihat adanya peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan, keaktifan, kemandirian, keberanian dalam berpendapat dan berdiskusi. Pada pertemuan II, skor siswa mencapai 35 dari 16 aspek yang dinilai, dengan persentase 68% yang termasuk dalam kualifikasi rendah. Hasil ini menggambarkan bahwa siswa belum mampu menerapkan langkah-langkah model pembelajaran Think Pair Share secara mandiri dan sistematis. Pada pertemuan i, sudah mulai ada perkembangan. Siswa tampak lebih bersemangat membaca teks yang diberikan, beberapa siswa mulai aktif bertanya dan mencoba menyampaikan pendapat sederhana kepada teman kelompoknya. Masuk pada pertemuan IV, skor siswa meningkat menjadi 40 dari 16 aspek yang dinilai dengan presentase 80% yang termasuk dalam kualifikasi baik. Peningkatan ini menunjukkan bahwa siswa mulai memahami alur berpikir dengan baik. Pada pertemuan V, skor siswa meningkat menjadi 46 dari 16 aspek yang dinilai dengan presentase 95% yang termasuk dalam kualifikasi baik sekali, hasil ini menggambarkan bahwa siswa telah mampu menerapkan langkah-langkah model pembelajaran Think Pair Share secara mandiri dan sistematis. 149 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Nur Hikmah et. Hasil Observasi Model Pembelajaran Problem Based Learning Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan terhadap aktivitas siswa selama penerapan model pembelajaran Problem Based Learning, terlihat adanya peningkatan yang signifikan dalam keterampilan berpikir kritis, analitis, dan pemecahan masalah pada siswa. Pada pertemuan II, siswa memperoleh skor 29 dari 19 aspek yang dinilai dengan presentase 60% yang termasuk dalam kualifikasi rendah. Pada pertemuan i, siswa memperoleh skor 35 dari 19 aspek yang dinilai dengan presentase 70% yang termasuk dalam kualifikasi cukup. Masuk pada pertemuan IV, siswa memperoleh skor 40 dari 19 aspek yang dinilai dengan presentase 90% yang termasuk dalam kualifikasi baik. Pada pertemuan V, skor siswa meningkat menjadi 57 dari 19 aspek yang dinilai dengan presentase 100% yang termasuk dalam kualifikasi baik sekali. Pretest Hasil belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone. Sebelum Diterapkan Model Pembelajaran Think Pair Share dan Problem Based Learning. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SDN 169 Sadar Kabupaten Bone mulai tanggal 15 Oktober- 6 November 2025, maka di peroleh data-data melalui instrumen sehingga dapat diketahui hasil belajar Bahasa Indonesia berupa nilai dari kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone. Data pretest dan posttest hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone sebagai berikut: Tabel 1 Uji Deskriptif Pretest Sumber: IBM SPSS Statistick Version 26 150 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 The Effect of the Think-Pair-Share and Problem-Based Learning Models on the Indonesian Language Learning Outcomes of Fifth-Grade Students at SDN 169 Sadar Tabel 1 menunjukkan hasil analisis statistik deskriptif untuk nilai pretest pada dua model pembelajaran, yaitu model pembelajaran Think Pair Share dan model pembelajaran Problem Based Learning. Jumlah peserta valid pada model pembelajaran Think Pair Share sebanyak 10 orang, sedangkan pada model pembelajaran Problem Based Learning sebanyak 15 orang. Tabel 2 Uji Deskriptif Posttest Normality Test Normality Test (Shapiro-Wil. Statistic 0,6763889 0,15 Source : Processed data in 2025 151 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Nur Hikmah et. Tabel 3 Tingkat Kategori Hasil Belajar Pretest Model Pembelajaran Pair Share Kategori Baik Sekali Baik Cukup Rendah Sangat Rendah Jumlah Pretest Frekuensi Persentase Sumber: IBM SPSS Statiscik Version 26 Tabel 4 Tingkat Kategori Hasil Belajar Pretest Model Pembelajaran Problem Based Learning Kategori Pretest Frekuensi Persentase Baik Sekali 2 Baik 3 Cukup 4 Rendah 5 Sangat Rendah Jumlah Sumber: IBM SPSS Statiscik Version 26 Tabel 5 Tingkat Kategori Hasil Belajar Posttest Model Pembelajaran Pair Share Kategori Baik Sekali Baik Cukup Rendah Sangat Rendah Jumlah Posttest Frekuensi Persentase Sumber: IBM SPSS Statiscik Version 26 152 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 The Effect of the Think-Pair-Share and Problem-Based Learning Models on the Indonesian Language Learning Outcomes of Fifth-Grade Students at SDN 169 Sadar Tabel 6 Tingkat Kategori Hasil Belajar Posttest Model Pembelajaran Problem Based Learning Kategori Baik Sekali Baik Cukup Rendah Sangat Rendah Jumlah Posttes Frekuensi Persentase Sumber: IBM SPSS Statiscik Version 26 Tabel 7 Uji Normalitas Sumber: IBM SPSS Statistick Version 26 Tabel 8 Uji Homogenitas Sumber: IBM SPSS Statistick Version 26 153 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Nur Hikmah et. Tabel 9 Uji T (Independent Sample Tes. Sumber: IBM SPSS Statistick Version 26 PEMBAHASAN Aktivitas Siswa Dalam Proses Pembelajaran Melalui Model Pembelajaran Think Pair Share dan Model Pembelajaran Problem Based Learning Di Kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone. Aktivitas siswa mengalami peningkatan yang signifikan setelah penerapan kedua model. Model pembelajaran Think Pair Share juga dapat disebut dengan berpikir, berpasangan, dan berbagi. Metode ini merupakan metode dalam pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi peserta didik. Degan menggunakan metode ini, diharapkan dapat mengubah pembelajaran yang monoton menjadi lebih efektif dan menyenangkan (Rukmini, 2. Dalam model pembelajaran Think Pair Share, siswa diberikan pertanyaan atau masalah yang harus mereka pikirkan secara individu, siswa harus berpikir tentang jawaban atau solusi yang tepat. Kemudian siswa berdiskusi dengan pasangan mereka untuk membandingkan jawaban atau solusi yang telah mereka temukan, siswa harus berbagi ide dan memecahkan masalah bersama, setiap pasangan membagikan hasil diskusi mereka kepada seluruh kelas. Temuan ini sejalan dengan pendapat Hasan dan Abidin . yang menyatakan bahwa siswa harus mempresentasikan jawaban atau solusi yang telah mereka temukan. Pada model pembelajaran Problem Based Learning, siswa diberikan masalah yang harus mereka pecahkan dan mereka harus mengidentifikasi apa masalahnya dan apa yang harus mereka lakukan, siswa mencari informasi yang relevan dengan masalah yang harus mereka pecahkan. Mereka dapat menggunakan berbagai sumber, seperti buku atau internet, kemudian siswa mengembangkan hipotesis tentang apa yang mungkin menjadi solusi untuk masalah tersebut. Hal ini sesuai denga teori Saraswati dan Wawan . Siswa menguji hipotesis dengan melakukan eksperimen, mengumpulkan data, dan menganalisis hasil, kemudian siswa mengambil keputusan tentang apa yang harus mereka lakukan berdasarkan hasil analisis mereka, serta siswa merefleksikan proses pembelajaran mereka dan mengevaluasi apa yang mereka pelajari. Oleh karena salah satu hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru adalah bagaimana memahami kedudukan model sebagai salah satu komponen dalam pendidikan yang dapat menciptakan pembelajaran yang efektif (Triono Djonomiarjo, n. 154 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 The Effect of the Think-Pair-Share and Problem-Based Learning Models on the Indonesian Language Learning Outcomes of Fifth-Grade Students at SDN 169 Sadar Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone Dalam Penerapan Model Pembelajaran Think Pair Share dan Model Pembelajaran Problem Based Learning Di Kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui serangkaian uji pretest sebelum perlakuan dan posttest setelah penerapan model pembelajaran, untuk mengetahui sejauh mana peningkatan pemahaman siswa setelah diterapkan model pembelajaran yang lebih interaktif. Penelitian ini berfokus pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone. Pada model pembelajaran Think Pair Share, hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan yang signifikan. Hasil belajar siswa merupakan prestasi yang dicapai siswa secara akademis melalui ujian dan tugas, keaktifan bertanya dan menjawab pertanyaan yang mendukung perolehan hasil belajar tersebut (Agustin et al. , n. Diskusi dalam kelompok ahli dan kelompok asal membantu memperdalam pemahaman siswa terhadap materi. Proses saling mengajar antar siswa membuat konsep lebih mudah dipahami dan diingat dalam jangka panjang. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Andres dan Julian . , yang menyatakan bahwa kedua model terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone. Pengaruh Model Pembelajaran Think Pair Share dan Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone, diperoleh gambaran bahwa pengaruh model pembelajaran Think Pair Share dan model pembelajaran Problem Based Learning memberikan dampak positif dan signifikan terhadap peningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa. Hasil tersebut diperoleh melalui perbandingan nilai pretest dan posttest, observasi aktivitas siswa dan guru, serta respon siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Temuan ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Frank Lyman dan Mary Budd Rowe pada tahun 2016, yang menyatakan bahwa model pembelajaran Think Pair Share berfokus pada keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan mendorong siswa untuk berpikir kritis dan Dan memungkinkan siswa untuk berpikir secara mandiri dan analitis tentang topik yang sedang dipelajari serta berpartisipasi dalam proses pembelajaran, tidak hanya siswa yang aktif tetapi juga berbagi ide dan pendapat mereka dengan teman-teman mereka. Model pembelajaran think pair share mampu memberikan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dalam merespon suatu pertanyaan (Riska Dewi Handayani, n. Secara keseluruhan, hasil penelitian di SDN 169 Sadar Kabupaten Bone mengonfirmasi pendapat para ahli bahwa model pembelajaran Think Pair Share maupun model pembelajaran Problem Based Learning sama-sama efektif dalam meningkatkan hasil belajar, keterlibatan, serta motivasi siswa. Hal ini sejalan dengan teori-teori dari Frank Lyman. Mary Budd Rowe. Barrows. Tamblyn. Spencer Kagan. John Savery, yang menempatkan keaktifan, kolaborasi, dan pemecahan masalah sebagai inti dari proses pembelajaran yang bermakna. 155 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Nur Hikmah et. Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Antara Siswa Yang Diajar Dengan Model Pembelajaran Think Pair Share dan Siswa Yang Diajar Dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning Di Kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone Hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua model pembelajaran berpengaruh positif terhadap hasil belajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, namun memiliki keunggulan masingmasing. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Ismail dan Hisyam . , yang menyatakan bahwa model pembelajaran Think Pair Share lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama dan berbagi pengetahuan serta partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Sementara model pembelajaran Problem Based Learning lebih unggul dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan pemecahan masalah siswa. Uji statistik juga menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran Think Pair Share dan yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning. Meskipun demikian, kedua model sama-sama memberikan kontribusi positif yang besar terhadap peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini sejalan dengan pendapat Ahmad dan Zaini . yang menyatakan bahwa pembelajaran yang menekankan kerja sama, kolaborasi, dan pemecahan masalah mampu menciptakan proses belajar yang lebih bermakna dibandingkan metode konvensional. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Think Pair Share dan model pembelajaran Problem Based Learning terbukti efektif dalam peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone. Kedua model tersebut mampu mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah dan kerja sama, serta menciptakan suasana belajar yang interaktif dan menyenangkan. SIMPULAN Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian, dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar Bahasa Indonesia siswa sebelum penerapan model pembelajaran berada pada kategori cukup. Sedangkan, hasil belajar Bahasa Indonesia siswa sesudah penerapan model pembelajaran, berada pada kategori baik sekali. Dengan demikian, terdapat pengaruh yang signifikan penerapan model pembelajaran terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas V SDN 169 Sadar Kabupaten Bone. DAFTAR PUSTAKA