Biopendix. Volume 1. Nomor 1. Oktober 2014, hlm. PERILAKU PEMIJAHAN TERIPANG PASIR (HOLOTHURIA SCABRA) BERDASARKAN FAKTOR LINGKUNGAN (SUHU) DI DESA OHOI LETMAN KECAMATAN KEI KECIL KABUPATEN MALUKU TENGGARA Adolof S. Narayaman Program Studi Pendidikan Biologi E-mail: steve_narayaman Abstract Background: Sea Cucumber (Holothuria scabr. is one of the export commodities from fisheries sector which has decreased production and resource conservation. Spawning sea cucumbers as a first step in the provision of seeds on the cultivation that has been successfully done naturally, but the frequency of spawning is still very low. Method: Treatment of mother of sea cucumber which is selected and taken as sample which is 8 tail and have always active behavior. Mother of sea cucumber then selected by length and weight of sea Result: Spawning behavior displayed by sea cucumbers during spawning based on environmental factors . by raising the temperature . seawater or temperature shock. So at an initial temperature of 27 A C the behavior of sea cucumbers looks very active. Then with an interval of A 30 minutes the temperature increased to 28 A C, seen the behavior shown that the sea cucumbers do the process of elongation of the body, so that the sea cucumber looks different from before Conclusion: Male breeding spawning on the back of the body . , the mother cucumber raises the height of the head or the front of the body . which visible a bulge that then removes the sperm that looks like white smoke in the water. With an interval of 10 minutes a female parent appeared to be in the same temperature and the same breeding method the mature female was removing the Keywords: Behavior spawning, sand sea cucumbers, environmental factors . Abstrak Latar Belakang: Teripang Pasir (Holothuria scabr. merupakan salah satu komoditas ekspor dari sektor perikanan yang sudah menurun produksi dan pelestarian sumber daya. Pemijahan teripang sebagai langkah awal penyediaan benih pada budidayanya yang telah berhasil dilakukan secara alami, tetapi frekuensi pemijahan masih sangat rendah. Metode: Perlakuan induk teripang yang diseleksi dan diambil sebagai sampel yaitu 8 ekor dan memiliki perilaku yang selalu aktif. Induk teripang kemudian diseleksi berdasarkan panjang dan berat teripang. Hasil: Perilaku pemijahan yang ditampilkan oleh teripang pada saat memijah berdasarkan faktor lingkungan . dengan cara menaikan suhu . air laut atau kejut suhu. Maka pada suhu awal 27AC perilaku teripang terlihat sangat aktif. Kemudian dengan selang waktu A 30 menit suhu dinaikan menjadi 28AC, terlihat adanya perilaku yang ditampilkan yaitu teripang melakukan proses pemanjangan tubuh, sehingga teripang terlihat berbeda dari sebelumnya. Kesimpulan: Induk jantan melakukan pemijahan dengan cara bertumpu pada tubuh bagian belakang . , induk teripang mengangkat tinggi kepalanya atau tubuh bagian depan . yang terlihat adanya tonjolan yang kemudian mengeluarkan sperma yang terlihat seperti asap berwarna putih di dalam air. Dengan selang waktu 10 menit terlihat seekor induk betina dengan suhu yang sama dan cara pemijahan yang sama induk betina ini mengeluarkan sel telur. Kata kunci: Perilaku pemijahan, teripang pasir, faktor lingkungan . Adolof S. Narayaman. Perilaku Pemejahan Teripang A 80 Biopendix. Volume 1. Nomor 1. Oktober 2014, hlm. PENDAHULUAN Perairan laut Indonesia kaya dengan berbagai jenis sumber daya hayati. Salah satu komoditas hasil perikanan yang mempunyai nilai ekonomis penting adalah teripang atau ketimun laut. Dengan kondisi alam dan ikilm yang hampir tidak banyak mengalami perubahan sepanjang tahun, maka memungkinkan banyaknya jenis biota ekonomis penting yang hidup di perairan Biota ini dikenal pula dengan nama ketimun laut, sea cucumber (Inggri. , beche de-mer (Pranci. atau dalam istilah pasaran internasional dikenal dengan teat fish. Teripang merupakan salah satu komoditas ekspor dari hasil laut yang perlu segera dikembangkan cara budidayanya. Hal ini diperlukan mengingat nilai ekonomisnya yang cukup tinggi di pasaran luar negeri, namun sampai saat ini sebagian besar produktivitasnya masih sangat tergantung dari alam. Satu jenis teripang yang sudah banyak dibudidayakan di Indonesia ialah teripang pasir (Holothuria scabr. (Martoyo. Hasil penelitian telah ditemukan 3 genus teripang yang terdiri dari 23 spesies dimana baru 5 spesies yang sudah dieksploitasi dan dimanfaatkan serta mempunyai nilai Teripang-teripang tersebut adalah teripang putih atau teripang pasir (Holothuria scabr. , teripang hitam (Holothuria eduli. , teripang getah atau teripang keeling (Holothuria vagabund. , teripang merah (Holothuria vatiensi. , dan teripang coklat (Holothuria marmorat. Dari kelima jenis ini, yang paling diperdagangkan adalah teripang putih atau teripang pasir (Holothuria scabr. Dijelaskan oleh Timbergen . bahwa setiap organisme baik jantan maupun betina pada proses pembiakan sangat terjadi adanya akibat pengaruh musim, waktu-waktu berprilaku sebagai contoh beberapa spesies gerakan-gerakan bermigrasi ke tempat yang sesuai untuk melakukan pemijahan. Faktor lingkungan adalah keadaan / peristiwa yang ikut menyebabkan atau mempengaruhi terjadinya sesuatu (Alwi. Lingkungan diartikan sebagai semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia atau hewan. Lingkungan dapat berupa lingkungan alam, yaitu keadaan . ondisi, kekuata. sekitar yang mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku organisme. Dengan demikian pengetahuan tentang perilaku hewan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Dengan mempelajari kebiasaan hewan-hewan di sekitar, manusia bisa meningkatkan peluang untuk mendapatkan ketersediaan makanan dan tetap menjaga kelestarian hidup. Untuk itu dalam usaha meningkatkan produksi teripang yang di lakukan dengan suatu upaya pembudidayaan yang sesuai dengan kebutuhan nilai ekonomisnya maupun manfaatnya sebagai bahan pangan dan obat-obatan maka, dalam prosesnya dilakukan suatu teknik produksi yang lebih berdasarkan atas faktor lingkungan yaitu suhu, salinitas, pH, dan DO . ksigen METODE Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan 2 . variabel yaitu variabel bebas dan variabel Variabel bebas adalah faktor lingkungan yaitu suhu. Sedangkan variabel terikat adalah perilaku pemijahan teripang pasir (Holothuria scabr. Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah teripang pasir (Holothuria scabr. Penelitian yang dilakukan di Ohoi Letman Kecamatan Kei Kecil ini berlangsung dari bulan mei sampai Proses penyiapan deserhanakan wadah/bak pemeliharaan induk yang diisi dengan air laut sebanyak 300 liter. Kemudian calon induk teripang dari alam diambil sebanyak 25 ekor. Induk terlebih dahulu dipelihara di dalam bak pemeliharaan induk untuk Aklimatisasi . enyesuaian sebelum melakukan kegiatan pemijahan. Proses perlakuan pada induk teripang disederhanakan sebagai berikut: Induk teripang yang diseleksi dan diambil sebagai sampel yaitu 8 ekor dan memiliki perilaku yang selalu aktif. Induk teripang kemudian diseleksi berdasarkan panjang dan berat Induk teripang yang telah diseleksi Adolof S. Narayaman. Perilaku Pemejahan Teripang A 81 Biopendix. Volume 1. Nomor 1. Oktober 2014, hlm. dimasukan ke dalam keranjang yang berjumlah 2 buah keranjang. Masing-masing keranjang diisi 4 ekor teripang dan digantung/dijemur 5-10 cm di bawah permukaan air laut yang berada di dalam Selanjutnya proses pemijahan dilakukan dengan pembersihan pada teripang menggunakan air laut bersih, isi bak dengan air laut yang disaring menggunakan filter bak yang berkapasitas 120 liter, masukan teripang kedalam bak dan proses manipulasi lingkungan dilakukan dengan cara peningkatan suhu air dengan suhu 120C dari suhu awal. Dilakukan pengamatan terhadap perilaku teripang, pengeluaran sperma dan sel telur serta perubahan suhu setelah pemijahan. Proses pemijahan pada manipulasi lingkungan atau perubahan suhu dengan cara pemanasan atau perebusan Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil perlakuan yang dilakukan pada pemijahan teripang ini, terlihat bahwa adanya peningkatan suhu berdasarkan perubahan waktu yang diperoleh dari hasil pengukuran suhu dan waktu hasil pemijahan yang datanya dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Pengukuran Suhu dan Waktu Hasil Pemijahan Teripang Perilaku Teripang Waktu (WIT) Suhu . C) Betina . A) Jantan . C) Aktif Aktif Memanjangkan tubuh Memanjangkan tubuh Mulai mengangkat Mulai tubuh bagian depan tubuh bagian depan ke ke atas Mengangkat tinggi Mengangkat tubuh bagian depan tubuh bagian depan ke sambil mengeluarkan atas Mengeluarkan sel telur Tabel 1 menunjukan bahwa adanya perilaku pemijahan yang tampak dan diperlihatkan oleh teripang jantan dan betina pada saat suhu dinaikan sesuai dengan waktu yang ditentukan yaitu A 30 menit. Untuk lebih jelas lagi mengenai pengukuran suhu dan waktu hasil pemijahan maka dapat dilihat pada paparan grafik 4. Adolof S. Narayaman. Perilaku Pemejahan Teripang A 82 Biopendix. Volume 1. Nomor 1. Oktober 2014, hlm. Grafik 1. Pengukuran Suhu dan Waktu Hasil Pemijahan Pada penelitian yang dilakukan proses perlakuan dimulai pukul 20. 30 WIT malam dengan suhu awal 270C. Perilaku teripang terlihat sangat aktif. Kemudian dengan selang waktu A 30 menit suhu dinaikan dengan cara penambahan air panas yang dimasak sampai mendidih dengan suhu Sebelum air panas dimasukan terlebih dahulu mengambil 1,5 liter air laut yang berada di dalam bak pemijahan dikeluarkan kemudian masukan air panas ke dalam bak pemijahan secara perlahanlahan, sehingga volume air laut yang berada di bak pemijahan tidak berubah namun peningkatan suhu menjadi 280C. Dimana pada pukul 21. 00 dengan suhu 280C, terlihat adanya perilaku yang ditampilkan yaitu teripang melakukan proses pemanjangan tubuh, sehingga teripang terlihat berbeda dari sebelumnya. Suhu 280C ini, merupakan fase persiapan pemijahan. Pukul 21. perilaku teripang terlihat sangat aktif dengan adanya kenaikan suhu menjadi 290C yaitu teripang mulai mengangkat tubuh bagian depan . secara perlahan-lahan ke Dan pada pukul 22. 10 dengan suhu yang masih sama yaitu 290C, terlihat perilaku teripang yang menunjukan perilaku memijah yaitu seekor induk jantan bertumpu pada tubuh bagian belakang . , induk teripang mengangkat tinggi kepalanya atau tubuh bagian depan . yang terlihat adanya tonjolan yang kemudian mengeluarkan sperma. Dengan demikian dapat diketahui bahwa teripang tersebut adalah teripang jantan . ambar pada lampiran 6. Kemudian dengan selang waktu 10 menit yaitu pada pukul 22. dengan suhu masih tetap sama yaitu 290C, terlihat seekor induk teripang mengeluarkan sel telur yang berwarna kuning di dalam air dan teripang tersebut adalah teripang betina . ambar pada lampiran 6. Dengan demikian dalam perlakuan ini terlihat bahwa semakin suhu dinaikan, maka perilaku teripang dapat berubah serta dapat memacu teripang untuk melepaskan sperma dan sel Berdasarkan hasil penelitian, maka teripang memijah dengan ukuran panjang 13-14 cm dan berat 350-400 gram. Ghufran . , dalam penelitiannya menjelaskan bahwa teripang yang dipilih sebagai calon induk harus mempunyai berat minimal 300 gram/ekor dengan panjang antara 22-25 Sedangkan menurut Martoyo . , ukuran ideal calon induk teripang yang sudah siap dipijahkan yaitu memiliki panjang 25-35 cm dan berat 400-600 gram. Pada hasil penelitian yang dilakukan di Ohoi Letman teripang yang diambil sebagai sampel tidak semuanya memenuhi syarat calon induk yang siap dipijahkan. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa tidak semua teripang yang panjang dan beratnya sesuai dengan syarat calon induk teripang yang siap dipijahkan yang dijelaskan oleh peneliti sebelumnya dapat melakukan Namun teripang dengan panjang 13-14 cm dan berat 350-400 gram sudah dapat melakukan pemijahan. Dengan adanya pengaruh lingkungan terhadap proses pemijahan maka ada respon berupa perilaku yang di tampilkan sehingga teknik peningkatan suhu air mengahasilkan hasil pemijahan yang baik yang dilihat dari proses kenaikan suhu dimana, dalam penelitian Adolof S. Narayaman. Perilaku Pemejahan Teripang A 83 Biopendix. Volume 1. Nomor 1. Oktober 2014, hlm. suhu dinaikan 1-20C sudah mendapatkan hasil pemijahan yang dilakukan oleh Sedangkan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Martoyo . , suhu air yang digunakan dalam pemijahan dapat dinaikan 5-70C lebih tinggi dari suhu awal. Ghufran . menjelaskan bahwa manipulasi lingkungan dengan perubahan suhu yang dilakukan dengan menjemur air di terik matahari, direbus atau dengan alat pemanas elektrik. Dengan cara ini suhu air dapat dinaikan 3-40C lebih tinggi dari suhu Hartati . , penelitiannya menunjukan bahwa kejut suhu memberikan rangsangan pemijahan terbaik . %). Tujuan manipulasi lingkungan ini, karena kita ketahui teripang sulit dibedakan jenis KESIMPULAN Suhu 270C yang merupakan suhu awal yang kemudian dinaikan menjadi 280C yang merupakan fase persiapan pemijahan dan suhu 290C merupakan suhu akhir dimana pada suhu ini teripang melakukan Dengan demikian kenaikan suhu berdasarkan waktu yang ditentukan sangat efisien dan singkat untuk memperoleh hasil Suhu keberhasilan pemijahan, namun faktor lingkungan . alinitas, pH. DO) juga mendukung dalam proses pemijahan. Pada memperlihatkan tingkah laku yang spesifik yaitu induk jantan melakukan pemijahan dengan cara bertumpu pada tubuh bagian . , mengangkat tinggi kepalanya atau tubuh bagian depan . yang terlihat adanya tonjolan yang kemudian mengeluarkan sperma yang terlihat seperti asap berwarna putih di dalam air. Dengan selang waktu 10 menit terlihat seekor induk betina dengan suhu yang sama dan cara pemijahan yang sama induk betina ini mengeluarkan sel Diperlukan penelitian lain lebih lanjut tentang tentang proses pemijahan teripang dengan cara kejut suhu. DAFTAR PUSTAKA