Peran Guru dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak Usia Dini: Studi Kasus di SPS Kamboja 47 Sukowono Faridatul Afifah*1. Siti Hamidahtur RofiAoah2 Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah Jember e-mail: 1afifahfaridatul818@gmail. com, 2hamidahsauqi@gmail. Abstrak Keterampilan sosial pada anak usia dini adalah fondasi bagi keberhasilan akademik dan adaptasi sosial mereka di masa depan. Namun, di tengah arus digitalisasi, pengembangan keterampilan ini kerap terabaikan, terutama di PAUD nonformal (SPS). Guru menjadi kunci, bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan yang membentuk perilaku sosial anak melalui interaksi sehari-hari. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran guru dalam mengembangkan keterampilan sosial anak usia dini, menganalisis dampaknya, serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi di SPS Kamboja 47 Sukowono. Menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan aktif melalui keteladanan, pembiasaan perilaku positif, pendekatan dialogis, dan kegiatan kelompok Dampak peran ini terlihat dari peningkatan rasa percaya diri, kemampuan berbagi, kerja sama, komunikasi, dan empati anak, baik di sekolah maupun di rumah. Meski demikian, guru menghadapi hambatan berupa perbedaan karakter anak, keterbatasan sarana, dan keterlibatan orang tua yang belum merata. Penelitian ini menegaskan perlunya strategi adaptif, penguatan fasilitas, dan kemitraan sekolah dan keluarga untuk memastikan pengembangan keterampilan sosial anak berjalan konsisten dan berkelanjutan. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi penguatan praktik pembelajaran sosial-emosional di PAUD nonformal, khususnya di konteks pendidikan anak usia dini. Kata kunci: peran guru, keterampilan sosial. PAUD nonformal (SPS) Abstract Social skills in early childhood are the foundation for their future academic success and social adaptation. However, amidst the digital age, the development of these skills is often neglected, especially in non-formal early childhood education (PAUD). Teachers are key, not only as transmitters of material but also as role JOECES Journal of Early Childhood Education Studies Volume 5. Nomor 2 . Peran Guru dalam Mengembangkan Kereampilan Sosial models who shape children's social behavior through daily interactions. This study aims to describe teachersAo roles in developing social skills among early childhood learners, analyze the impact of these roles, and identify the challenges faced at SPS Kamboja 47 Sukowono. Employing a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document The findings reveal that teachers actively foster social skills through role modeling, positive habit formation, dialogic interactions, and structured group The impact of these practices is reflected in increased self-confidence, sharing behavior, cooperation, communication, and empathy, both at school and at However, teachers face challenges such as differences in childrenAos individual characteristics, limited learning facilities, and uneven parental This study underscores the need for adaptive strategies, improved facilities, and stronger schoolAefamily partnerships to ensure the consistent and sustainable development of childrenAos social skills. The findings contribute to strengthening social-emotional learning practices in non-formal early childhood education, particularly within rural contexts. Keywords: teacher role, social skills, non-formal early childhood education (SPS) PENDAHULUAN Anak usia dini berada dalam fase penting dalam perkembangan di mana mereka mulai berinteraksi sosial yang fundamental, termasuk belajar norma-norma sosial dan keterampilan empati. Penelitian menunjukkan bahwa keterampilan sosial, seperti berbagi, bergiliran, dan bekerja sama, sangat pesat berkembang pada usia 4Ae 6 tahun, yang merupakan periode krusial dalam pembelajaran sosial anak (Rachman and Cahyani 2019. Wahyuni and Sari 2. Interaksi sosial selama fase ini tidak hanya membentuk dasar untuk hubungan interpersonal di masa depan, tetapi juga membantu mengembangkan kemampuan berkomunikasi yang efektif (Wahyuni and Sari 2. Namun, di tengah kemajuan teknologi digital, anak-anak saat ini menghadapi tantangan baru. Mereka cenderung menghabiskan lebih banyak waktu berinteraksi dengan gawai ketimbang dengan teman sebaya. Hal ini menyebabkan kesempatan untuk berlatih keterampilan sosial melalui interaksi langsung menjadi terbatas (Fitriya et al. Hidayatuladkia. Kanzunnudin, and Ardianti 2. Sebuah studi menemukan bahwa interaksi sosial adalah komponen esensial dalam pengembangan keterampilan sosial anak. anak-anak belajar untuk mempraktikkan keterampilan seperti berbagi dan menyelesaikan konflik melalui pengalaman langsung (Ningsih Di Indonesia, misalnya. Survei Nasional PAUD 2022 mencatat bahwa 37% anak usia dini menunjukkan keterampilan sosial yang rendah, dengan banyak dari mereka lebih suka bermain sendiri dan mengalami kesulitan dalam berkolaborasi dengan teman (Cahyaningrum and Diana 2. JOECES Vol. No. Faridatul Afifah. Siti Hamidahtur RofiAoah Dalam konteks pendidikan anak usia dini, peran guru sangat vital dalam memfasilitasi perkembangan keterampilan sosial. Tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, guru juga bertindak sebagai pembimbing karakter dan teladan bagi anak-anak (Wahyuni and Sari 2. Penelitian menunjukkan bahwa melalui suasana belajar yang interaktif yang dirancang dengan baik, guru dapat mengintegrasikan praktik positif dalam pembelajaran, seperti mendengarkan satu sama lain dan menyelesaikan konflik kecil secara kolaboratif (Perdina. Safrina, and Sumadi 2019. Tangse and Dimyati 2. Di Satuan PAUD Sejenis (SPS), meskipun terdapat keterbatasan dari segi fasilitas, ikatan emosional antara pendidik dan anak bisa lebih erat dan berkontribusi pada perkembangan sosial anak yang lebih baik (Yustiaroh. Khofifah, and Sari 2. SPS Kamboja 47 Sukowono. Jember adalah lembaga PAUD nonformal yang memiliki keunikan tersendiri. Berada di lingkungan kantor desa, lembaga ini menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat setempat. Berdasarkan observasi awal anak-anak yang belajar di sini terlihat mandiri, karena sebagian besar orang tua tidak menunggu mereka selama kegiatan berlangsung. Situasi ini membuat anak terbiasa mengurus diri sendiri, mengikuti aturan kelas, dan berinteraksi dengan teman tanpa bergantung pada pendampingan orang tua. Guru di SPS ini memanfaatkan kondisi tersebut untuk membangun keterampilan sosial anak melalui kegiatan berpasangan, diskusi kelompok kecil, dan latihan berbicara di depan temantemannya. Anak diajak untuk menyampaikan pendapat, mendengarkan tanggapan, dan bekerja sama menyelesaikan tugas sederhana, sehingga keterampilan sosial mereka berkembang secara alami. Meski banyak studi tentang peran guru di PAUD, kebanyakan masih fokus pada aspek seperti pembelajaran literasi, bahasa, atau perkembangan kognitif (Ramadhani and Fauziah 2020. Shofa and Watini 2. Riset yang secara spesifik mengamati strategi guru dalam menumbuhkan keterampilan sosial anak di SPS terutama dengan kondisi unik seperti di SPS masih jarang ditemukan. Padahal, konteks SPS berbeda dengan TK formal mulai dari gaya kurikulum hingga keterlibatan orang tua dalam proses belajar (Fauzi 2022. Rahmawati et al. Berangkat dari kekosongan tersebut, penelitian ini hadir dengan tujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam: . peran guru sebagai pendidik dalam mengembangkan keterampilan sosial anak usia dini di SPS Kamboja 47 Sukowono, . dampak peran guru dalam mengembangkan keterampilan sosial anak usia dini di SPS Kamboja 47 Sukowono, . hambatan yang dihadapi guru dalam mengembangkan kemampuan sosial anak di SPS Kamboja 47 Sukowono. 90 JOECES Vol. No. Peran Guru dalam Mengembangkan Kereampilan Sosial Hasil dari penelitian ini diharapkan memiliki dua manfaat utama. Pertama, secara praktis, dapat membantu guru di SPS dan PAUD sejenis merancang kegiatan yang mendukung perkembangan sosial anak, meskipun sarana terbatas. Kedua, secara teoretis, penelitian ini akan memperkaya literatur tentang pendidikan anak usia dini di Indonesia, khususnya dengan menyumbang perspektif tentang peran guru di lembaga nonformal. Dengan begitu, riset ini tidak hanya relevan bagi akademisi, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi peningkatan kualitas pendidikan anak di komunitas. KAJIAN PUSTAKA Peran Guru dalam Pendidikan anak usia dini Peran guru merupakan seperangkat perilaku dan tanggung jawab yang harus dijalankan dalam situasi pembelajaran, dengan tujuan memfasilitasi perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik (Fauziyyah et al. Jannah et al. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi juga pendidik profesional yang bertugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik sesuai standar pendidikan yang berlaku (Dhieni 2. Berbagai pandangan mengemukakan dimensi peran guru. Prey Katz memposisikan guru sebagai komunikator, sahabat yang memberi nasihat, motivator, pembimbing sikap, dan pengembang nilai. Havighurst menambahkan bahwa guru juga berperan sebagai pegawai, kolega, mediator, pengatur disiplin, evaluator, serta pengganti orang tua di sekolah (Fajri et al. James W. Brown menekankan pada penguasaan materi, perencanaan pembelajaran, dan pengendalian proses belajar siswa. Sementara Federasi dan Organisasi Profesional Guru Sedunia menegaskan peran guru tidak hanya sebagai penyampai ide . , tetapi juga sebagai pengubah . dan penggerak nilai-nilai positif . di lingkungan belajar (Astana. Clara, and Pranidhi 2. Secara umum, peran guru mencakup fungsi edukatif, manajerial, sosial, dan Guru menjadi teladan, perancang pengalaman belajar yang relevan, sekaligus pengarah interaksi yang membangun. Dalam kerangka ini, keberhasilan pembelajaran sangat bergantung pada sejauh mana guru mampu menyeimbangkan fungsi-fungsi tersebut secara profesional dan kontekstual (Bredekamp 2. Dalam pelaksanaan tugasnya, guru menjalankan beragam peran yang saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan profesional. Adams & Decey dalam Basic Principles of Student Teaching menguraikan peran guru meliputi: pelajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, perencana, supervisor, motivator, dan konselor. (Sartika and Erni Munastiwi 2. menambahkan peran guru sebagai orang tua yang penuh kasih sayang, teman dan pendengar, fasilitator yang responsif terhadap minat dan kemampuan anak, kontributor pemecahan masalah bagi orang tua, pembangun rasa percaya diri, penggerak proses sosialisasi, pengembang kreativitas, serta pembantu saat Lebih rinci, peran guru dalam pembelajaran meliputi: pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, inovator, teladan, pribadi yang adaptif, peneliti. JOECES Vol. No. Faridatul Afifah. Siti Hamidahtur RofiAoah pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, fasilitator perubahan, pembawa cerita, aktor, emansipator, evaluator, pengelola pengetahuan, dan kulminator yang mengarahkan proses belajar secara bertahap hingga tuntas . an der Wilt. Bouwer, and van der Veen 2. Ragam peran ini mencerminkan kompleksitas tugas guru yang tidak hanya berorientasi pada hasil belajar kognitif, tetapi juga membentuk kepribadian, sikap, dan nilai peserta didik (Ningsih 2. Dengan demikian, peran guru dapat disimpulkan sebagai keseluruhan perilaku, sikap, dan tindakan profesional yang dilakukan untuk menciptakan pengalaman belajar yang efektif, bermakna, dan mendukung perkembangan peserta didik secara optimal. Kualitas dan keberhasilan peran tersebut bergantung pada kompetensi guru dalam mengintegrasikan dimensi pedagogis, sosial, dan emosional dalam praktik sehari-hari. Keterampilan Sosial Anak Usia Dini Keterampilan sosial adalah perilaku yang terdiri dari interaksi positif dengan orang lain dan lingkungan (Lynch and Simpson 2. Penanaman konsep keterampilan sosial dapat dilakukan sedari dini. (Mardliyah. Yulianingsih, and Putri 2. menyatakan bahwa. Auketerampilan sosial adalah keterampilan untuk berinteraksi dalam lingkunganAy. Kemampuan sosial anak usia dini adalah kapasitas anak untuk membangun hubungan positif dengan orang lain, mematuhi aturan sosial, serta berpartisipasi aktif dalam interaksi yang adaptif (Hosokawa et al. Kemampuan ini mencakup perilaku berinteraksi dengan teman sebaya, bekerja sama, mengikuti aturan, memecahkan masalah sosial, dan mengelola emosi saat berinteraksi. (Bierman et al. menyatakan bahwa keterampilan sosial yang berkembang baik pada masa prasekolah berhubungan erat dengan kesiapan sekolah, pencapaian akademik, dan kesehatan mental anak di masa depan. Menurut (Vyyrynen 2. terdapat empat dimensi dalam keterampilan sosial yang meliputi empati, toleransi, kerja sama, dan perilaku adaptif. Empati dan toleransi merupakan dimensi keterampilan sosial yang berkaitan dengan perasaan dan sikap. Sementara itu, kerja sama dan perilaku adaptif merupakan dimensi keterampilan yang erat berkaitan dengan perilaku. Berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan PAUD dalam (Putri et al. indikator kemampuan sosial anak usia dini meliputi: Kemampuan berinteraksi positif dengan teman sebaya, seperti menyapa, terlibat dalam permainan bersama, dan menunjukkan empati. Kemampuan bekerja sama, seperti berbagi mainan, menyelesaikan tugas kelompok, dan memberikan atau menerima bantuan. Kemampuan mengikuti aturan sosial, seperti menunggu giliran, mematuhi kesepakatan kelas, dan bersikap sopan. Kemampuan memecahkan masalah sosial, misalnya mengungkapkan pendapat dengan cara yang tepat dan mencari solusi melalui dialog. Kemampuan mengelola emosi dalam interaksi, seperti mengendalikan kemarahan atau menerima kekalahan dengan sikap positif. 92 JOECES Vol. No. Peran Guru dalam Mengembangkan Kereampilan Sosial Pandangan (Bandura 1. melalui konsep zone of proximal development menekankan bahwa interaksi sosial menjadi medium utama dalam pembelajaran, di mana peran orang dewasa atau teman sebaya yang lebih kompeten sangat penting untuk memfasilitasi perkembangan keterampilan sosial. Guru, dalam hal ini, menjadi pihak yang merancang pengalaman belajar sosial yang terstruktur agar anak dapat menginternalisasi nilai-nilai interaksi yang positif sejak dini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus untuk menggali secara mendalam peran guru dalam mengembangkan keterampilan sosial anak usia dini. Subjek penelitian adalah guru kelas anak usia dini sebagai informan utama, dengan kepala sekolah dan orang tua sebagai informan pendukung. Lokasi penelitian dipilih secara purposif pada lembaga yang memiliki program pembelajaran sosial-emosional, guru berpengalaman minimal dua tahun, dan kegiatan pembelajaran yang melibatkan interaksi aktif anak. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif untuk melihat interaksi guru dan anak secara langsung, wawancara mendalam dengan guru, kepala sekolah, dan orang tua, serta studi dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga dengan triangulasi sumber dan metode, membandingkan informasi dari berbagai sumber dan teknik pengumpulan data. HASIL & PEMBAHASAN Peran Guru Sebagai Pendidik Dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak Usia Dini Di SPS Kamboja 47 Sukowono Hasil penelitian memperlihatkan bahwa guru di SPS Kamboja 47 Sukowono menjalankan peran pendidik secara aktif dalam mengembangkan kemampuan sosial anak usia dini. Wawancara dengan kepala sekolah, ibu Yulia Nur Qomariyah mengungkap bahwa guru dipandang sebagai tokoh utama dalam membentuk kebiasaan sosial positif anak. Kepala sekolah menyampaikan. AuGuru di sini tidak hanya mengajarkan huruf atau angka, tapi juga membimbing anak untuk berbagi, bekerja sama, dan saling menghormati. Kami melihat perkembangan sosial anak itu sama pentingnya dengan perkembangan akademiknya. Ay Pernyataan ini sejalan dengan temuan observasi, di mana guru rutin memulai kegiatan dengan salam, doa bersama, dan sapaan yang ramah, sehingga menciptakan suasana kelas yang inklusif. Dokumentasi RPPH menunjukkan bahwa setiap pertemuan memuat tujuan pembelajaran sosial, seperti Auanak mampu bekerja sama dalam kelompokAy atau Auanak mampu menunggu giliranAy. Temuan ini selaras dengan (Bredekamp 2. yang menegaskan bahwa pembelajaran sosial pada anak usia dini harus dirancang secara terencana dan terintegrasi dalam aktivitas harian. Peran guru juga tampak jelas dalam praktik pembelajaran di kelas. Berdasarkan wawancara dengan guru yakni ibu Sulistiawati, keterampilan sosial yang menjadi fokus meliputi berbagi mainan, bekerja sama, menjaga sopan santun, dan memecahkan masalah bersama. Beliau menjelaskan. AuAnak-anak itu belajar JOECES Vol. No. Faridatul Afifah. Siti Hamidahtur RofiAoah dari apa yang mereka lihat. Kalau gurunya memberi contoh meminta maaf, mereka akan meniru. Ay Observasi menguatkan pernyataan ini bahwa saat anak meminjam mainan temannya, guru membimbing untuk mengucapkan terima kasih dan mengembalikan dengan sopan. Praktik ini sejalan dengan teori belajar sosial (Bandura 1. , yang menyatakan bahwa anak belajar melalui pengamatan dan peniruan perilaku model yang dianggap penting. Guru di SPS Kamboja 47 juga Guru juga memanfaatkan percakapan sebagai sarana membangun keterampilan sosial. Wawancara dengan ibu Hardiyanti selaku guru kelas Gajah, mengungkapkan bahwa mereka sering mengajukan pertanyaan terbuka, memberi kesempatan anak mengemukakan pendapat, dan merespons ide anak dengan positif. Observasi di kelas menunjukkan guru mengajak anak berdiskusi sederhana sebelum memulai permainan kelompok, misalnya tentang pembagian peran dan aturan bermain. Dokumentasi catatan perkembangan anak menunjukkan adanya kemajuan pada indikator Auberani mengungkapkan pendapatAy dan Aumampu mendengarkan temanAy. Temuan ini mendukung penelitian . an der Wilt et al. yang menyatakan bahwa interaksi dialogis dapat meningkatkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi anak usia dini. Berdasarkan temuan ini dapat disimpulkan bahwa guru di SPS Kamboja 47 menjalankan perannya sebagai pendidik dalam aspek sosial melalui keteladanan, pembiasaan, dan kegiatan interaktif yang sudah direncanakan. Strategi yang mereka gunakan menggabungkan pembelajaran langsung, dialog, dan kegiatan kelompok, sehingga anak-anak tidak hanya memahami konsep sosial, tetapi juga mempraktikkannya setiap hari. Sejalan dengan pandangan (Bredekamp 2. , kualitas peran guru menjadi kunci dalam membantu anak membangun dasar keterampilan sosial yang akan mereka bawa hingga jenjang pendidikan berikutnya. Dampak Peran Guru Dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak Usia Dini Di SPS Kamboja 47 Sukowono Dampak dari peran guru di SPS Kamboja 47 terlihat jelas pada perubahan perilaku siswa di kelas. Kepala sekolah ibu Yulia Nur Qomariyah mengatakan bahwa sebagian besar siswa menjadi lebih percaya diri dan mampu berinteraksi dengan teman secara positif. AuAnak-anak yang dulu pemalu sekarang mulai mau mengajak bicara, ikut permainan, bahkan memimpin kelompokAy. Observasi selama beberapa minggu menunjukkan bahwa anak lebih sering terlibat aktif dalam permainan kelompok dan diskusi kelas, bukan hanya menjadi penonton. Hal ini membuktikan adanya perubahan perilaku siswa di SPS Kamboja 47 dalam keterampilan sosial. Sejalan dengan hasil penelitian (Rofiah 2. bahwa dampak pengembangan keterampilan sosial dengan bimbingan guru meliputi: anak mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan, anak lebih bersemangat dalam pembelajaran, guru juga bisa mengasah kemampuan kemandirian emosional anak dengan baik, bisa bekerjasama dengan teman, berinteraksi dan menyelesaikan tugas dengan baik bersama teman. Guru pun merasakan hal yang sama. Sulistiawati selaku guru menuturkan. AuAnak-anak sekarang lebih mau berbagi, mau membantu teman yang kesulitan, dan sudah paham kalau harus menunggu giliran. Ay Pengamatan di kelas menguatkan 94 JOECES Vol. No. Peran Guru dalam Mengembangkan Kereampilan Sosial pernyataan ini bahwa saat bermain peran jual-beli, terlihat anak aktif bersosialisasi dalam memainkan peran. Sebagaimana Dokumentasi berikut: Gambar 1. Siswa memainkan peran sebagai Penjual dan Pembeli yang saling berintekasi Orang tua juga menjadi saksi perubahan ini. Ibu Holip selaku orang tua yang diwawancarai menyebutkan bahwa anak mereka lebih komunikatif di rumah, mau membantu pekerjaan ringan, dan tidak mudah marah jika harus menunggu. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Bierman et al. yang menyatakan bahwa pembelajaran sosial-emosional yang difasilitasi guru berdampak tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga pada perilaku anak di rumah. Secara teoritis, dampak positif ini dapat dijelaskan melalui konsep zone of proximal development (Bandura 1. , di mana guru bertindak sebagai more knowledgeable other yang memandu anak mencapai kemampuan sosial yang lebih Guru di SPS Kamboja 47 memberikan dukungan dengan porsi yang pas yakni cukup untuk memberi arahan ketika anak membutuhkannya, namun tidak berlebihan hingga membuat anak bergantung. Pendekatan ini memberi ruang bagi anak untuk mencoba sendiri, mengambil keputusan, dan belajar berinteraksi secara Berdasarkan temuan ini dapat disimpulkan bahwa peran guru di SPS Kamboja 47 tidak hanya menghasilkan perubahan perilaku di kelas, tetapi juga membentuk kebiasaan sosial positif yang terbawa ke rumah. Peningkatan kemampuan berbagi, kerja sama, komunikasi, dan empati menunjukkan bahwa pembelajaran sosial-emosional yang konsisten mampu memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan anak. Hambatan Yang Dihadapi Guru Dalam Mengembangkan Kemampuan Sosial Anak Di SPS Kamboja 47 Sukowono Meski hasilnya positif, guru di SPS Kamboja 47 menghadapi sejumlah hambatan dalam mengembangkan kemampuan sosial anak. Kepala sekolah ibu JOECES Vol. No. Faridatul Afifah. Siti Hamidahtur RofiAoah Yulia Nur Qomariyah mengungkapkan bahwa perbedaan karakter dan tingkat perkembangan sosial anak menjadi tantangan utama. AuAda anak yang cepat berbaur, tapi ada juga yang butuh waktu lama untuk mau ikut bermain,Ay jelasnya. Observasi di kelas membenarkan hal ini bahwa sebagian anak langsung aktif saat kegiatan kelompok dimulai, sementara yang lain lebih memilih duduk menyendiri atau hanya mengamati. Guru juga menyampaikan kendala pada keterbatasan sarana bermain yang mendukung interaksi sosial. AuKalau media atau mainan kurang, kadang anak jadi Itu malah memicu konflik kecil yang harus segera kita selesaikan,Ay tutur ibu Hardiyanti. Dokumentasi foto kegiatan memperlihatkan bahwa guru sering memodifikasi alat bermain sederhana agar bisa digunakan bersama, seperti mengubah kardus bekas menjadi balok susun atau papan permainan. Strategi improvisasi ini menunjukkan kreativitas guru dalam mengatasi keterbatasan, tetapi tetap memerlukan dukungan fasilitas yang memadai. Berdasarkan observasi, keterlibatan orang tua yang belum merata juga menjadi hambatan. Beberapa orang tua memberikan dukungan pembiasaan di rumah, namun sebagian lainnya menyerahkan sepenuhnya pada guru. Hal ini berdampak pada konsistensi perilaku sosial anak. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Rahmawati et al. yang menekankan bahwa kolaborasi antara sekolah dan orang tua sangat penting untuk keberlanjutan pengembangan keterampilan sosial anak. Dari perspektif teoritis, hambatan ini mencerminkan pentingnya diferensiasi pembelajaran seperti yang dianjurkan oleh (Lynch and Simpson 2. , yaitu menyesuaikan strategi dengan kebutuhan individu anak. Di sisi lain, keterbatasan sarana menunjukkan bahwa pembelajaran sosial yang optimal membutuhkan dukungan lingkungan yang kaya stimulasi (Bredekamp 2. Tanpa sinergi antara guru, fasilitas, dan peran orang tua, pengembangan kemampuan sosial anak tidak akan konsisten. Berdasarkan temuan ini dapat disimpulkan bahwa hambatan yang dihadapi guru di SPS Kamboja 47 terutama berasal dari perbedaan individu anak, keterbatasan sarana pembelajaran, dan kurangnya keterlibatan orang tua. Mengatasi tantangan ini memerlukan strategi adaptif dari guru, penyediaan fasilitas yang memadai, serta komunikasi intensif dengan orang tua agar proses pengembangan keterampilan sosial dapat berjalan berkesinambungan. KESIMPULAN Guru di SPS Kamboja 47 Sukowono memiliki peran sentral dalam mengembangkan keterampilan sosial anak usia dini melalui kombinasi keteladanan, pembiasaan positif, pendekatan dialogis, dan kegiatan kelompok yang terencana. Peran ini berdampak signifikan terhadap perubahan perilaku anak, yang terlihat dari meningkatnya rasa percaya diri, kemampuan berbagi, kerja sama, komunikasi, dan empati, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan guru yang proporsional yaitu cukup memberi arahan tanpa mengurangi kemandirian anak, sehingga mereka dapat mencoba, mengambil keputusan, dan berinteraksi secara mandiri. Meskipun demikian, guru menghadapi 96 JOECES Vol. No. Peran Guru dalam Mengembangkan Kereampilan Sosial tantangan berupa perbedaan karakter anak, keterbatasan sarana pembelajaran, dan keterlibatan orang tua yang belum merata. Hambatan ini menegaskan perlunya strategi adaptif, penguatan fasilitas, dan kemitraan yang lebih erat antara sekolah dan keluarga untuk memastikan pengembangan keterampilan sosial anak berlangsung konsisten dan berkelanjutan. Dengan peran guru yang berkualitas, didukung lingkungan belajar yang kondusif dan kolaborasi semua pihak, keterampilan sosial anak usia dini dapat terbentuk secara optimal sebagai bekal penting untuk keberhasilan di jenjang pendidikan berikutnya dan kehidupan sosial mereka di masa BIBLIOGRAFI Astana. Astri Chintya. Trifena Ruth Clara, and Dharmika Pranidhi. AuPeran Self Efficacy Guru Anak Usia Dini. Ay Education Achievement: Journal of Science and Research 85Ae92. Bandura. Albert. AuSelf-Efficacy: Toward a Unifying Theory of Behavioral Change. Ay Psychological Review 84. :191. Bierman. Karen L. Janet A. Welsh. Cristin M. Hall. Linda N. Jacobson. David L. Lee, and Damon E. Jones. AuEfficacy of the Fast Track Friendship Group Program for Peer-Rejected Children: A Randomized-Controlled Trial. Ay Journal of Clinical Child & Adolescent Psychology 52. :763Ae79. Bredekamp. Sue. Effective Practices in Early Childhood Education. Cahyaningrum. Dayati Erni, and Diana Diana. AuProyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Sebagai Implementasi Kurikulum Merdeka Di Lembaga PAUD. Ay Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 7. :2895Ae2906. doi: 10. 31004/obsesi. Dhieni. Nurbiana. AuStudi Penelusuran Lulusan Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini. Ay Perspektif Ilmu Pendidikan 17(IX):83Ae89. Fajri. Zaenol. Muhammad Yasin. Muhammad Masykur, and Mohammad Wahyu Adi Putra. AuPKM Penyuluhan Peningkatan Profesionalisme Guru PAUD Pada Masa Pendemi Covid-19. Ay GUYUB: Journal of Community Engagement 2. :493Ae508. Fauzi. Achmad. AuImplementasi Kurikulum Merdeka Di Sekolah Penggerak. Ay Jurnal Pahlawa. Vol 18. :20Ae30. Fauziyyah. Desti Fatin. Dadang Sunendar. Sumiyadi Sumiyadi, and Vismaia Sabariah Damaianti. AuMembaca Dunia Anak Dengan Bijak: Peran Guru Dalam Pembelajaran Cerita Anak Realis. Ay Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 7. :5171Ae80. doi: 10. 31004/obsesi. Fitriya. Anita. Ratri Kurnia Pratiwi. Siti Hamidahtur RofiAoah, and Fauziah Firdha. AuIntervensi Pencegahan Bullying Pada Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Keagamaan Di RA Yasynuhu Kabupaten Jember. Ay CHILDHOOD EDUCATION: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6. :29Ae40. Hidayatuladkia. Shella Tasya. Mohammad Kanzunnudin, and Sekar Dwi Ardianti. AuPeran Orang Tua Dalam Mengontrol Penggunaan Gadget Pada Anak Usia 11 Tahun. Ay Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan 5. :363. doi: 10. 23887/jp. Hosokawa. Rikuya. Yuki Matsumoto. Chizuko Nishida. Keiko Funato, and Aki JOECES Vol. No. Faridatul Afifah. Siti Hamidahtur RofiAoah Mitani. AuEnhancing Social-Emotional Skills in Early Childhood: Intervention Study on the Effectiveness of Social and Emotional Learning. Ay BMC Psychology 12. :761. Jannah. Raudatul. Moh Sahlan. Mukaffan Mukaffan, and Siti Hamidahtur RofiAoah. AuMADRASAH TEACHER PROFESSIONALISM DEVELOPMENT STRATEGY BASED ON SUPHISTIC HUMANISM IN THE AGE OF COMMUNITY 5. Ay EDURELIGIA: Jurnal Pendidikan Agama Islam 7. :37Ae46. Lynch. Sharon A. , and Cynthia G. Simpson. AuSocial Skills: Laying the Foundation for Success. Ay Dimensions of Early Childhood 38. Mardliyah. Sjafiatul. Wiwin Yulianingsih, and Lestari Surya Rachman Putri. AuSekolah Keluarga: Menciptakan Lingkungan Sosial Untuk Membangun Empati Dan Kreativitas Anak Usia Dini. Ay Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 5. :576. doi: 10. 31004/obsesi. Ningsih. Elisa Pitria. AuPeran Interaksi Sosial Dalam Pengembangan Keterampilan Sosial Anak Usia Dini: Studi Kasus Di Taman Kanak-Kanak. Ay Journal of Gemilang 1. doi: 10. 62872/tpvbw823. Perdina. Siska. Rien Safrina, and Tjipto Sumadi. AuPeningkatan Kemampuan Sosial Melalui Bermain Kartu Estafet Pada Anak Usia Dini. Ay Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 3. :440. doi: 10. 31004/obsesi. Putri. Anjellie Dasviana. Mutya Istikarani. Lisaryadi Lisaryadi, and Mukhtar Latif. AuKebijakan Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Pendidikan Dasar Dan Menengah. Serta Pesantren. Ay RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business 4. :6010Ae17. Rachman. Selly Puspa Dewi, and Isah Cahyani. AuPerkembangan Keterampilan Sosial Anak Usia Dini. Ay (JAPRA) Jurnal Pendidikan Raudhatul Athfal (JAPRA) 2. :52Ae65. doi: 10. 15575/japra. Rahmawati. Sonia. Fuad Abdullah. Asri Siti Fatimah. Arini Nurul Hidayati, and Yuyus Saputra. AuThe TeacherAos Emotional Management in Indonesian EFL Context. Ay Journal of English Language Studies 6. :195Ae210. Ramadhani. Pahlita Ratri, and Puji Yanti Fauziah. AuHubungan Sebaya Dan Permainan Tradisional Pada Keterampilan Sosial Dan Emosional Anak Usia Dini. Ay Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 4. :1011. 31004/obsesi. Rofiah. Siti Hamidahtur. AuPengembangan Keterampilan Sosial Anak Melalui Model Role Playing yCC eMarket DayyC Di Ra Fitri Mulia Gebang yCCAuPatrang-Jember. Ay Childhood Education: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 3. :80Ae93. Sartika, and Erni Munastiwi. AuPeran Guru Dalam Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini Di TK Islam Terpadu Salsabila Al-MuthiAoin Yogyakarta. Ay Golden Age: Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini 4. :35Ae50. doi: 10. 14421/jga. Shofa. Shofa, and Sri Watini. AuPenerapan Model SIUUL Dalam Meningkatkan Anak Usia Dini Berkebutuhan Khusus Dalam Kemampuan Berbicara. Ay JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan 6. :6994Ae99. 98 JOECES Vol. No. Peran Guru dalam Mengembangkan Kereampilan Sosial Tangse. Uswatun Hasanah Masra, and Dimyati Dimyati. AuPermainan Estafet Untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar Anak Usia 5-6 Tahun. Ay Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6. :9Ae16. 31004/obsesi. Vyyrynen. Pekka. AuThick Ethical Concepts. Ay Wahyuni. Akhtim, and Nevie Fitria Sari. AuPeningkatan Keterampilan Sosial Melalui Metode Bermain Kooperatif Tipe Make A Match Pada Anak Usia Dini. Ay Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6. :6961Ae69. 31004/obsesi. van der Wilt. Femke. Renske Bouwer, and Chiel van der Veen. AuDialogic Classroom Talk in Early Childhood Education: The Effect on Language Skills and Social Competence. Ay Learning and Instruction 77:101522. Yustiaroh. Yustiaroh. Siti Khofifah, and Muthia Sari. AuAnalisis Pengaruh Pembelajaran Kelompok Terhadap Keterampilan Komunikasi Pada Anak Usia Dini Di PAUD Daarussholihin Kota Cilegon. Ay Journal of Education and Pedagogy 1. :54Ae59. doi: 10. 62354/jep. JOECES Vol. No.