Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 Upaya Transformasi Pendidikan Islam Berdasarkan Paradigma dan Filosofinya Suyudi Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo Abstract This study aims to determine the paradigm of Islamic education based on a philosophical approach. By using the literature review method through steps. editing, organizing, and research findings, this study yields findings that the transformation of Islamic education based on its paradigm and philosophy can be done in the first way, striving to standardize basic values that are maintained and conveyed in an authoritative . manner, assuming that the participants have not been able or immature, in other words he is a beginner. Secondly, the liberal and moderate changes in attitudes, character and intellectuality as liberal groups, with the assumption that students are mature, both physically and intellectually. And thirdly, the fundamental effort to change structure is fundamentally, both social, economic and political as a group of critics, with the assumption that students are those who are mature and wellestablished both intellectually and emotionally. Keywords: transformation. Islamic education, paradigm, philosophy Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui paradigm pendidikan Islam berdasarkan pendekatan filosofis. Dengan menggunakan metode kajian pustaka melalui langkah-langkah. editing, organizing, dan penemuan hasil research, penelitian ini menghasilkan temuan bahwa transformasi pendidikan Islam berdasarkan paradigm dan filosofinya dapat dilakukan dengan cara Pertama, pengupayaan pembakuan nilai dasar yang dipertahankan dan yang disampaikan secara otoritatif . , dengan asumsi bahwa peserta dididk belum mampu atau belum dewasa, dengan kata lain ia adalah pemula. Kedua, pengupayaan perubahan sikap, watak dan intelektualsecara liberal dan moderat sebagaimana kelompok liberal, dengan asumsi bahwa peserta didik sudah dewasa, baik fisik maupun intelektual. Dan ketiga pengupayaan perubahan struktur secara mendasar secara mendasar, baik sosial , ekonomi maupun politik sebagaimana kelompok kritisme, dengan asumsi bahwa M. Suyudi | Upaya Transformasi Pendidikan Islam Berdasarkan Paradigma dan Filosofinya peserta didik adalah mereka yang telah matang dan mapan baik intelektual maupun emosinya. Kata Kunci: transformasi, pendidikan Islam, paradigma, filosofi Pendahuluan Di zaman modern ini pendidikan diuji untuk menunjukan kemampuanya dalam memberikan jawaban dari berbagai macam Diantaranya adalah persoalan mengenai apakah posisi pendidikan sebagai legitimasi untuk melanggengkan struktur sosial yang ada, atau berperan kritis untuk melakukan transformasi menuju dunia kehidupan yang lebih berkeadilan? Di samping itu, dengan munculnya wacana dikotomi ilmu, yaitu ilmu agama dan ilmu umum, maka hal ini juga berdampak pada dikotomi pendidikan agama dan pendidikan umum. Dikotomi ini ternyata telah mengakar pada bangunan dan institusi yang dijadikan tempat kajian dan pengembangan ilmu tersebut. Pencarian paradigma terus diupayakan oleh setiap generasi sesuai dengan problem yang dihadapi. Namun pencarian itu kadang bersifat reaktif dan defensif, yaitu membela sesuatu yang diyakini benar setelah datang tantangan ataupun usaha untuk mempertahankn nilai dasar yng diyakini benar untuk dikembangkan. Problem di atas akan terjawab dengan merekonstruksi pendidikan melalui telaah filosofis sebagai ideologi yang mendasarinya, dan juga menelaah kembali model dan paradigma pendidikan yang telah ada dengan melakukan kajian kritis terhadap konsep yang ada untuk membuat bangunan pendidikan di masa yang mendatang sesuai dengan epistimologi pendidikan itu sendiri dan tantangan zaman yang dihadapi. Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk menulis artikel dengan judul AuUpaya Transformasi Pendidikan Islam Berdasarkan Paradigma dan FilosofinyaAy Hasil Dan Pembahasan Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam Terjadinya dikotomi sistem Au pendidikan agamaAy atau yang lebih dikenal dengan sistem tradisional dan sistem Aupendidikan umumAyatau tersendirikarena dikotomi dua sistem ini akhirnya berlanjut pada 1 Mastuhu. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam (Jakarta: logos,1. , h. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 keberadaan fakultas agama dan umum dalam sebuah lembaga Fakultas agama seolah-olah terkesan berjalan tanpa dukungan IPTEK, sedangkan fakultas umum hadir tanpa sentuhan Upaya untuk mencari paradigma baru sistem pendidikan Islam harus terus dilakukan dengan tidak saja melahirkan sikap reaktif dan defensif seperti tersebut diatas namun juga harus mampu memahami konsep-konsep dasar yang proaktif dan antisipatif terhadap perkembangan masalah yang akan datang. Langkah awal yang dilakukan untuk membangun pendidikan Islam adalah dengan mengetahui sejarah perkembangan pendidikan Islam yang dapat dipetakan menjadi empat Pertama, fase awal. Fase ini merupakan fase pembinaan yang tujuanya adalah untuk menegakan akidah yang berdasarkan pada AlQuran dan Al-Sunnah. Fase ini disebut fase pembinaan yang mencakup masa Rasululloh dan para sahabat-sahabatnya antara tahun 571-661 M. Kerajaan umayyah yang berpusat di Damaskus pada tahun 661M hingga keruntuhanya tahun 705M. Model dan sistem pendidikan pada suatu masyarakat biasanya terpengaruh oleh sistem dan kebijakan politik yang Dalam periode ini, sesuai dengan ciri pemerintahan umayyah yaitu kebijakan yang bersifat arabisme dengan segala kultur dengan segala kultur dan peradaban yang ada pada saat itu, yaitu yang sngat menonjolkan ciri kearaban di mana unsur-unsur Islam yang baru belum tegak dan didominasi oleh kekuasaan politik dan kekuasaan yang ada. Pendidikan yang diselenggarakan di surau . dan di masjid ini lebih dominan pada kegiatan dakwah dan penyiaran agama keberbagai daerah yang dilakukan secara bersaamaan dengan ekspansi kekuasaan, yang kesemuanya berlandaskan pada penuturan Al-Quran dan Hadits. Disisi lain terjadi terjadi perkembangan yang baru yaitu pengembangan budaya tulis yang sebelumnya kurang mendapat perhatian menggantikan budaya Kedua, zaman keemasan. Zaman ini terjadi di dua tempat yaitu pada masa Daulah Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad pada tahun 7501268M, dan Daulah Umayyah yang berpusat di Cordova pada tahun 7111492M. Pada masa kejayaan Baghdad, banyak muncul institusi pendidikan baru seperti lembaga pendidikan formal . , rumah sakit, pabrik persenjataan dan lainAelain, seiring dengan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Hal ini juga ditunjang dengan 2 Ibid, h. 3 Mursyi. Ushul Al-Tarbiyah Al-Islamiyyah (Qahirah: Maktabah Al Nahdhah Al-AoArabiyyah, 1. , h. 4 Hasan Langgulung. Manusia dan Pendidikan (Jakarta: Al Husna Zikra,1. , h. Suyudi | Upaya Transformasi Pendidikan Islam Berdasarkan Paradigma dan Filosofinya munculnya para ulama yang terkenal seperti Imam Abi Hanifah. Imam Malik, dan filsuf- filsuf besar seperti Al- Farabi. Ibnu Sina. Al-Ghazali, dan Kejayaan intelektual pada saat ini di samping ditandai dengan penemuan-penemuan baru juga ditandai dengan penerjemahan karyakarya ilmiah, baik dari bahasa Latin ke Arab, maupun dari Arab ke Latin. Sementara itu, di kerajaan Islam di Barat terutama di Andalusia juga muncul ulama dan filsuf besar yang terkenal seperti Ibnu Bajah. Ibnu Hazm. Ibnu Tufail. Ibnu Arabi dan Ibnu Rusyd yang dengan karya dan pikirannya telah mewarnai peradaban Eropa pada saat Itu. Tetapi setelah kerajaan Islam memasuki masa kemunduran yang di tandai dengan jatuhnya kerajaan Muwahidin di Afrika Utara, maka segala bentuk kemajuan peradaban yang telah dihasilkan, juga mengalami kemunduran, termasuk juga dalam pendidikan. Ketiga, zaman kemerosotan. Setelah jatuhnya kerajaan Muwahidin, muncullah kekuatan kerajaan baru kerajaan Islam Turki Usmani . Sebuah kerajaan baru yang dibangun atas dasar kekuatan . , bukan dari peradaban dan intelektual . Akibatnya perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam kurang mendapat perhatian sebagaimana masa sebelumnya. Kondisi intelektual dunia Islam dibawah Kejayaan Turki Usmani merosot selama hampir empat abad, sampai pada penghujung abad ke-18 muncul dan bangkitlah generasi baru yang menyuarakan kebangkitan dunia Islam. Di antara tokoh-tokohnya adalah Muhammad bin abdul Wahab di Hijaz. Jamaludin Al Afghani dan muhammad Abduh di Mesir. Tokoh yang pertama menghendaki kebangkitan lewat jalan politik, sementara yang kedua menghendaki lewat jalan pendidikan. Keempat, zaman modern yang dimulai sejak abad ke 20 hingga Perjuangan menuju kebangkitan zaman ini diilhami dengan sintesa wacana menuju kebangkitan intelektual tidak lepas dari terciptanya suasana kedamaian. Sementara keman dan kedamaian tidak lepas dari strategi politik dan militer. Pada saat itu dirasakan bersama bahwa kekalahan Turki oleh negara Barat adalah hal politik dan Oleh karena itu. Muhamad Ali sebagai penguasa Mesir mengirim para pelajar untuk belajar ke prancis yang pada saat itu dipelopori oleh Rifaah al-tahthawi. Misi ini akhirnya sangat berpengaruh pada dunia Arab dan dunia Islam pada umumnya sebagai embrio munculnya pergerakan untuk mendobrak kemunduran yang melanda pada saat itu. 5 Ira M. Lapidus. Sejarah Sosial Umat Islam (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2. , h. 6 Ibid, h. 7 Ibid, h. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 Setelah Rifaah al-tahthawi, menyusul jamaludin al-Afghani dengan muridnya Muhamad Abduh yang mendirikan pan-islamisme. Gerakan ini mempunyai visi bahwa kebangkitan ummat tidak akan tercapaikecuali dengan kembali kepada ajaran dan sumber ajaran yang benar, dan satusatunya jalan untuk pembaharuan dan kebangkitan dunia Islam adalah melalui pendidikan. Pendekatan Filosofis Pendidikan Masalah pendidikan selalu terkait dengan kontekstualitas kehidupan manusia sepanjang zaman. Dalam khazanah keilmuan dikenal dua istilah yang cukup populer yaitu pendidikan dan pengajaran. Pada umumnya pendidikan lebih menekan aspek dalam diri manusia. Sedangkan pengajaran lebih banyak bersentuhan dengan aspek luar. Dalam realitasnya, pengajaran lebih banyak mendapat perhatian dari pada pendidikan terutama yang menyangkut administrasi kurikulum Sementara upaya melahirkan manusia yang cerdas, trampil dan bermoral agak terabaikan. Fenomena ini muncul antara lain disebabkan oleh landasan dunia pendidikan yang lebih berstandar pada paham materialisme yang hanya mementingkan sisi luar dari diri manusia dan aliran positivisme yang hanya menekankan link and match dari sebuah produk pendidikan. Disamping itu dari sisi filosofisnya dunia pendidikan menyimpang dari jiwa kemanusiaan yang hakiki hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar pendidikan serta serta kuatnya intervensi kekuasaan dalam dunia pendidikan yang mengakibatkan produk pendidikan lebih banyak melahirkan manusia robot dan mekanis, daripada manusia yang imajinatif, kreatif dan berbudaya. Paradigma Pendidikan Islam Ada beberapa paradigma yang dapat diajukan berkaitan dengan filosofi pendidikan tentang kajian manusia, diantaranya: Paradigma Konservatif Kelompok ini berpendirian bahwa perbedaan masyarakat adalah hukum alam yang harus diterima dan suatu hal yang mustahil untuk dihindari karena merupakan takdir Tuhan. perubahan sosial bukan merupakan hal yang harus diperjuangkan, karena perubahan hanya akan mendatangkan ketidakteraturan dan ketidakstabilan. 8 Ibid, h. 9 Yuahar Ilyas. Pendidikan Dalam Prespektif Al-Quran (Yogyakarta:LPPI, 1. , h. Suyudi | Upaya Transformasi Pendidikan Islam Berdasarkan Paradigma dan Filosofinya Paradigma ini dibangun berdasarkan keyakinan bahwa masyarakat tidak bisa merencanakan perubahan , hanya Tuhanlah yang berkuasa, maka dari itu kelompok ini cenderung menyalahkan subjeknya. Kemiskinan seseorang misalnya, disebabkan bukan oleh kesalahan mereka sendiri, namun berasal dari takdir Tuhan. Maka dari itu, mereka harus sabar menjalani penderitaan tersebut sampai nasib dan takdir merubahnya. Kelompok ini dpat dilihat sebagai kelompok yang sangat mendambakan ketertiban dalam masyarakat serta berusaha untuk menghindari konflik. Dalam perkembanganya, kelompok ini terbagi menjadi dua, yaitu konservatif sekuler dan religius. Kelompok pertama tidak memiliki kepastian religius, meskipun kadang Aekadang memakai istilah religius atau semi religius, namun hanya cendrung untuk mendasarkan posisinya pada perkiraan yang kurang bersifat intuitif atau akal sehat, katimbang mendasarkan pada wahyu dan keimanan. Ada dua corak murni terhadap konservatif sekuler. pertama yang diistilahkan dengan konservatisme non filosofis . ahkan anti intelektua. Kelompok kedua dikenal dengan nama konservatisme filosofis. Tetapi pemetaan tersebut hanya bersifat konseptual yang sulit dibuktikan kelompok kedua, atau konservatif religius mempunyai keyakinan bahwa pendidikan bertujuan meneguhkan cara lama yang lebih baik, berusaha memapankan kembali tolak ukur tradisional dalam berperilaku dan berkeyakinan. Upaya tersebut menjadi sasaran yang universaldalam karya penyelamatan jiwa yang abadi, penyelamatan semacam initermasuk persoalan mematuhi kehendak Tuhan yang telah diwahyukan kepda para utusan-Nya. Mereka Al-Quran pemahamanya hanya memakai sudut pandang harfiyah sebagai kebenaran Mutlak. Nilai moral dikategorikan hitam diatas putih , dan gerakanya mencerminkan gerakan kembali kepada masa silam, yang secara tripikal yang berorientasi ke dunia sesudah kematian. Mereka menentang spekulasi teologis jenis apapun yang mengisyaratkan bahwa intisari kebenaran belum ditentukan secara pasti yang tidak memberikan kepastian. 11 Untuk mengenali kelompok ini, secara umumdapat diberian karakter sebagai berikut: Keyakinan bahwa ilmu pengetahuan alat untuk membangun kembali masyarakat dalam mengejar kembali ketertinggalan moral menuju kesempurnaan seperti yang pernah dialami masa silam. 10 Mansour Fakih. AuSebuah PengantarAy dalam Ideologi- Ideologi Pendidikan (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2. , h. 11 Ibid, h. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 . Menentang pengujian secara kritis terhadap pola keyakinan dan perilaku yang mereka pilih, baik secara diam-diam maupun terangterangan. Manusia adalah agen moral yang menekankan kepada ketaatan terhadap aturan moral yang jelas dan lengkap serta menekankan nilai-nilai patriotisme yang dirumuskan secara sempit. Pendidikan pertama-tama dipandang sebagai proses regenerasi . Memusatkan tujuan asli tradisi serta lembaga kembali kepada masa silam , sebagai orientasi ulang yang bersifat korektif terhadap pandangan mdern yang terlalu menekankan kemoderatan. Menekankan pengenalan kembali cara-cara lama yang telah teruji oleh waktu, yang telah di khayalkan di era yang lalu. Membela gerakan kembali kepada kondisi yang lebih baik yang pernah berlangsung, berdasarkan sistem sosial atau kegamaan yang . Senantiasa melandaskan kepada pikiran yang tersirat atau yang tidak pernah teruji kebenaranya tentang kenyataannya, yang hanya didasarkan pada akal sehat, kepastian intuitif atau keimanan . Kewenangan intelektual tertinggi dibawah kaum yang memiliki keimanan sejati . he true beliver. , dan telah mencapai kecerahan Paradigma Liberal Paradigma ini menekankan pengembangan kemampuan melindungi hak dan kebebasan . , serta meng identifikasi problem dan upaya perubahan sosial secara instrumentaluntuk menjaga setabilitas jangka panjang. Masyarakat dalam pandangan ini tidak pernah lepas dari masalah, tetapi pendidikan dan tugas pendidik tidak ada kaitanya dengan masalah politik dan ekonomi masyarakat. Namun demikian kaum liberal tetap berusaha untuk menyesuaikan pendidikan dengan mengupayakan reformasi baik fisik maupun sistem. Antara kelompok Liberal dan konservatif, keduanya berpendirian bahwa pendidikan adalah a-politik dan excellence yang merupakan target utamanya . kaum liberal beranggapan bahwa masalah pendidikan dan masyarakat adalah dua masalah yang 12 Ibid, h. Suyudi | Upaya Transformasi Pendidikan Islam Berdasarkan Paradigma dan Filosofinya Mereka tidak melihat kaitan pendidikan dalam struktur kelas dan dominasi politik , budaya serta diskriminasi gender. Bahkan pendidikan bagi salah satu aliran liberal yang yakni structural fungtionalisme justru sebagai sarana melembagakan norma dan nilai masyarakat, agar berfungsi secara baik. Pengaruh paham nilai dalam pendidikan, sering mengutamakan prestasi persaingan antar murid, sehingga muncul keharusan untuk merangkingkan untuk menjaring murid terbaik. Positivisme sebagai salah satu paradigma ilmu sosial, menjadi dasar model pendidikan liberal yang berangkat berangkat dari universalitas melalui metode oleh karenanya kelompok ini dipercaya bahwa riset pendididkan harus didekati dengan metode ilmiah yakni objektif dan bebas nilai. Menurut paham ini, tujuan pendidikan secara umum adalah untuk menggalakkan prilaku personal yang efektif. Sementara keberadaan sekolah adalah sebagai lembaga yang menyediakan informasi dan ketrampilan yang diperlukan oleh siswa untuk belajar secara efektif bagi dirinya sendiri serta untuk mengajarkan para siswa bagaimana cara memecahkan masalah praktis lewat penerapan tatacara penyelesaian masalah secara individual maupun kelompok yang didasarkan pada metode ilmiah rasional. Dari paparan tersebut dapat dianalisis bahwa ciri-ciri umum paradigma pendidikan liberal adalah bahwa pengetahuan berfungsi sebagai alatyang digunakan untuk pemecahan masalah secara praktis, yang dijadikan jalan kearah tujuan yang berupa perilaku efektif dalam kepribadian . yang unik pada individu, membangun pemikiran efektif . ecerdasan prakti. , serta mengarahkan kemampuan individu untuk menyelesaikan persoalan secara efektif. Disamping itu pendidikan dipandang sebagai perkembangan dari keefektifan personal yang menekankan perubahan secara tak langsung melalui perkembangan kemampuan individu untuk menyelesaikan penelitian yang dilakukan disandarkan pada sistem eksperimen yang terbuka yang dibangun diatas tatacara pembuktian ilmiah personal yang keputusanya diambil secara demokratis. 13 Mansour Fakih. Sebuah Pengantar. 14 Ibid, h. 15 William F. OAoneil. Ideologi. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 Paradigma Kritis Paradigma kritis adalah sudut pandang yang membela pemusnahan seluruh kekangan kelembagaan terhadap kebebasan manusia, sebagai jalan untuk mewujudkan sepenuhnya potensi manusia yang telah dibebaskan. 16 Bagi kelompok ini pendidikan bertujuan menjaga status quo, sementara kelompok liberal untuk perubahan moderat, makaparadigma kritis menghendaki perubahan stuktur secara fundamental baik dalam politik maupun ekonomi, tempat pendidikan berada. Bagi mereka kelas dan diskriminasi gender dalam masyarakat, juga tercermin dalam dunia pendidikan. Pandamgan ini bertentangan dengan pandangan kelompok liberal dimana pendidikan dianggap lepas dari persoalan kelas dan gender yang ada dalam masyarakat. Dalam prespektif kelompok ini, tugas pendidikan adalah melakukan refeleksi kritis terhadap dominant ideology kearah transformasi sosial, dimana tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakadilan, serta melakukan dekontrusi dan advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil. Pendidikan tidak mungkin bersifat netral, objektif maupun berjarak kepada masyarakat, visinya adalah melakukan kritik terhadap sistem dominan sebagai pemihakan terhadp rakyat kecil yang tertindas untuk menciptakan sistem sosial yang lebih adil. Dengan kata lain tugas utama pendidian adalah memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sitem dan struktur yang tidak adil. Dari para digma pendidikan diatas, diperlukan usaha untuk meletakkan pendidikan dalam proses transformasi ke seluruh sistem perubahan sosial, dan setiap melakukan transformasi, perlu dilakukan analisis stuktural dimana usaha pendidikan memihak dalam struktur Tanpa visi dan pemihakan yang jelas, setiap usaha sulit menjadi institusi kritis yang menuju perubahan. Selain itu paradigma ini juga ber implikasi pada metodologi yang digunakan dalam Salah satu pandangan kritis adalah melakukan transformasi hubungan yang didominasi dan mendominasi , dimana guru menjadi subjek pendidikan, sementara murid sebagai objek pendidikan yang merupakan problem dehumanisasi. dengan kata lain , paradigma pendidikan kritis tidak hanya ingin mentransformasikan pendidikan dengan struktur luarnya , tapi juga bercita-cita 16 Ibid, h. Suyudi | Upaya Transformasi Pendidikan Islam Berdasarkan Paradigma dan Filosofinya mentransformasikan antara relasi knowladge dan power antara pendidik dan anak didik dalam struktur pendidikan yang tersendiri. Bagi kaum kritis, pendidikan dipandang sebagai proses belajar melalui pengalaman sosial. Oleh karenanya, tidak sama dengan persekolahan yang hanya merupakan salah satu corak pendidikan dan perpanjangan tangan penguasa otoriter. Dengan memerosotkan tanggung jawab personal, persekolahan membuat anak didik tidak dapat dididik dalam arti pendidikan sejati. Sekolah bagi negara atau kekuasaan sengaja diciptakan untuk mengatur kebutuhan ciptaanya sendiri , padal kita membutuhkan perubahan lembaga . yang radikal, termasuk . Masyarakat dikembalikan kepada jati diri mereka sendiri, kepada dunia yang disederhanakan yang hubunganya hanya terdiri dari AuAku-EngkauAy ( ITho. yang didasarkan pada kebutuhan yang lebih sedikitatas semangat hidup yang lebih besar. Ciri umum paradigma didalam pendidikan adalah : Adanya anggapan bahwa pengetahuan adalah sebuah keluaran sampingan . y produc. alamiah dari kehidupan sehari-hari. Kepribadian spiritual dianggap sebagai nilai yang melampaui tuntuatan masyarakat manapun. Menekankan pilihan bebas dan menentukan nasib sendiri dalam latar belakang yang waras dan heumanistik yang berorientasi pada . Pendidikan dianggap sebagai fungsi alamiah dari kehidupan seharihari dalam lingkungan sosial yang rasional dan produktif. Memusatkan perhatian pada perkembangan Aumasyarakat pendidikanAy untuk meminimalisir formalitas sekolah dan sekolah formal, dengan mengedepankan paska kesejarahan , dimana manusia mampu berfungsi sebagai makhluk bermoral yang sanggup mengatur dirinya sendiri. Mengupayakan deinstitusionalisasi dan menekankan perubahan dan pembaharuan masyarakat yang tetap lahir. Mendasarkan pada sistem eksperimental yang terbuka. 17 Mansour Fakih. Sebuah Pengantar Dalam Ideologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar , 2. Qalamuna - Jurnal Pendidikan. Sosial, dan Agama | Vol. 11 No. Januari Ae Juni 2019 . Wewenang intelektual ada di bawah orang yang telah mendiagnosa konflik dasar antara kepentingan individu dan tuntutan negara. Penutup Dari tiga paradigma tersebut, jika dikembalikan kepada filosofisnya yang ditelaah dengan kerangka epstimologi . ayany, burhany dan irfan. , maka transformasi nilai tersebut dapat dikelompokan menjadi tiga. Pertama, pengupayaan pembakuan nilai dasar yang dipertahankan dan yang disampaikan secara otoritatif . , dengan asumsi bahwa peserta dididk belum mampu atau belum dewasa, dengan kata lain ia adalah pemula. Kedua, pengupayaan perubahan sikap, watak dan intelektual secara liberal dan moderat sebagaimana kelompok liberal, dengan asumsi bahwa peserta didik sudah dewasa, baik fisik maupun intelektual. Dan ketiga pengupayaan perubahan struktur secara mendasar secara mendasar, baik sosial, ekonomi maupun politik sebagaimana kelompok kritisme, dengan asumsi bahwa peserta didik adalah mereka yang telah matang dan mapan baik intelektual maupun Daftar Pustaka